DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

WARNING : TYPO'S, GAJE, ABAL, ALU CEPAT,HANCUR BERANTAKAN, IDE PASARAN, no EYD, dll.

PAIRING : HYUUGA HINATA & UZUMAKI NARUTO

LITLE : FOREVER TOGETHER

GENGRE : ROMANCE

.

.

PS : INI SAMBUNGAN CHAP 1 , KARNA ADA KESALAHAN JADI DI BUAT JADI CHAP 2. PADAHAL CHAP 1 PUN PENDEK.


"Apa yang terjadi?", bisik siswi bersurai merah dengan kaca mata membingkai mata indahnya , pada teman sebangku-nya.

"Aku tidak tau Karin , saat aku kembali dari ruang guru suasana kelas sudah mencekam seperti ini. Dan aku juga tak tau sejak kapan Kakashi-sensei berada di sana. Tau-tau dia sudah mengeluarkan aura tak mengenakan begitu, seperti ingin memakan kita semua", jawab Gadis dengan warna surai Indigo.

"Tau begini aku lebih memilih bolos saja tadi , ya kan Hinata", yang di tanyain langsung menganguk setuju.

"Eh...memang nya kau tadi ke mana?, kenapa lama sekali masuk nya?".

"Kenapa juga kau tak mengajak ku dan Sakura", ucap Hinata masih dengan nada berbisik-nya.

"Tidur di UKS", jawab Karin tanpa merasa bersalah. Padahal Hinata sudah melotot mendengarnya. Ia juga kan ingin ikut. Tapi setelah di pikir-pikir sepertinya tak mungkin , tadi kan ia di kurung di ruang guru.

"UZUMAKI, HYUUGA jika kalian masih ribut kalian boleh keluar", suara tegas dengan nada mengerihkan itu terdengar membuat semua penghuni kelas terkesiap kaget.

Salahkan mereka semua juga di suruh duduk diam , malah melamun dengan pikiran melalang buana.

"Gome sensei..."ucap Karin dan Hinata berbarengan. Hinata dan Karin merigis malu menjadi pusat perhatian . Padahal mereka berdua di tambah Sakura selalu menjadi pusat perhatian semua murid di kelas-nya, alasanya satu karna mereka bertiga tukang bikin rusuh.

.

.

.

.

Hinata menghela nafas lelah sembari memperhatikan sekeliling-nya yang seperti-nya juga tengah bosan. Ini sudah setengah jam dari Hinata dan Karin di tegor tadi , tapi sampai sekarang suana kelas tidak berubah sama sekali.

Yang artinya Kakashi-sensei masih diam di depan kelas dengan tatapan mengintimidasi dan siswa-siswi lainya hanya terdiam membisu.

'Kalau tidak belajar kenapa tak di suruh pulang saja sih?'.

Satu pertanyaan itu yang kini memenuhi kepala-kepala cantik dan tampan penghuni kelas.

"Sssttttt Karin .., sepertinya Kakashi-sensei memang ada affeir dengan Kuda poni kita", Hinata sudah sangat bosan hingga ia nekad memulai gosip lagi dengan Karin.

Apalagi setelah ia memperhatikan tatapan intimidasi dari Kakashi-sensei lebih dominan pada sahabat kuda poni-nya A.K.A Sakura.

"Kurasa juga begitu, apalagi Kakashi-sensei sering menahan Sakura di kantor-nya", Karin langsung menangapi ucapa Hinata.

Jangan salahkan ia , dia juga bosan menunggu kegiatan yang tak kunjung datang.

"Setelah ini kita introgasi Sakura", Hinata berucap lagi dengan pandangan mengarah ke arah Sakura yang tengah duduk sembari menundukan kepala-nya.

"Percuma sudah dari kelas satu kita bertanya , tapi tak pernah di jawab-nya",Karin ikut-ikutan memandang ke arah Sakura dan Kakashi-sensei secara bergantian.

Mendengar ucapan Karin barusan , Hinata kembali menghela nafas. ya benar Sakura tak akan memberi tau meski aku dan Karin lelah menayakan-nya.Tunggu lulus sekolah katanya. Dan itu artinya setahun lagi.

"Karin kita selidiki saja kalau begitu",Kali ini Hinata lupa menahan suara-nya. Hingga seluruh murid kembali menatap ke arah-nya.

Tin-tong-ting-tong...

Baru saja Kakashi-sensei ingin membuka mulut-nya. Namun di urungkan-nya karna sudah keduluanan suara bel.

"selamat ",Ucap Hinata lega. Hampir saja ia di sembur lagi .

'thaks good bel', ucap Hinata dalam hati kegirangan.

.

.

.

"Oke kalian boleh pulang , Dan kita akan berjumpa tiga minggu lagi di kelas dan suasana yang berbeda",Selesai mendengar suara berat dari arah depan , semua murid langsung membereskan barang-barang mereka.

Suasana yang tadi-nya sepi-sunyi dan senyap berubah seketika menjadi berisik. semua murid membereskan barang mereka sembari mengobrol satu sama lain yang menjadikan suasana kelas seperti suara lebah.

"Haruno Sakura ...kau tetap di tempat, ada yang ingin sensei bicarakan denganmu", suara Kakashi-sensei menghentikan kegiatan murid seketiga.

Mereka memandang Sakura dan Kakashi sensei secara bergantian. Namun tak sampai lima detik mereka melanjutkan kegiatan-nya. Bahkan lebih cepat setelah melihat tatapan intimidasi dari arah depan yang makin mengerihkan.

"Ssstttt...Karin benar kan yang aku katakan tadi ",Selesai mengatakan itu Hinata langsung mengadu kesakitan sembari mengelus pundak-nya.

"Dasar Piranha makanya jangan suka gosip",Sakura tersenyum puas sesaat setelah menimpuk pundak Hinata dengan kamus tebal di tangan-nya.

Karin yang ada di dekat meraka tertawa melihat tingkah aneh kedua sahabat-nya. Entah kenapa meski ia sering melihat tingkah mereka ini tetap saja itu terlihat lucu di mata-nya.

"Kau mau juga Mata kuda " Karin langsung mengeleng . Sedang Hinata dan Sakura tertawa.

"Bey Kuda poni , kami duluan ya ", ujar Karin dan langsung mengandeng tangan Hinata.

"Baik-baik ya dengan calon suami",Wajah Sakura langsung memerah mendengar bisikan Hinata. Sedangkan Hinata dan karin langsung kabur sembari tertawa puas.

Bahkan Sakura dapat mendengar suara tawa mereka meski sudah jauh.

"Jadi bisa jelaskan tidur di mana kau semalam?", Kakashi-sensei tiba-tiba bertanya tepat di samping teliga Sakura.

"Aku menginap di tempat Hinata , sensei...ehh Nii-san", Sakura menjawab gugup dan langsung memperbaiki pangilan-nya setelah mendapat pelototan dari Kakashi.

Melihat Kakashi menganguk . Sakura mengela nafas lega . 'Hampir saja', ucap nya dalam hati.

.

.

.

Telihat dua orang gadis yang berbeda warna rambut tengah berjalan sembari mengobrol hal-hal yang tak penting sembari tertawa.

"Kenapa.?",Karin bertanya heran pada Hinata saat tiba-tiba saja menghentikan langkahnya . membuat Karin juga ikut berhenti.

"Kau kenapa Hinata ?", Karin makin heran melihat wajah Hinata yang menyerigai. Lucu saja Hinata menyerigai namun bukan-nya seram , malah terlihat aneh dengan kaca mata yang menghiasi mata-nya itu.

Hinata masih belum menjawab pertanyaan dari Karin. Ia masih diam dengan tatapan mengarah ke segerombolan anak lelaki yang memakai pakaian olahraga dan tengah berjalan.

"Kau tunggu di sini", ucap Hinata setelah melihat segerombolan anak itu pergi.

Tampa menunggu balasan dari Karin , Hinata langsung melangkan meningalkan Karin yang berteriak memangil-mangil nama-nya.

.

.

.

"HAI...TAMPAN", Hinata berteriak di depan pintu lapangan basket indor. Membuanya langsung menjadi pusat perhatian semua penghuni lapangan.

Mereka mengerutkan dahi heran melihat kelakuan absur Hinata. Namun sedetik kemudian mereka kompak berteriak setelah mendengar ucapan terakhir Hinata.

"RASAKAN MEMBALASAN KAMI".

BRAAKKK...

Hinata berteriak sembari membanting pintu dan menguncinya dari luar. Ia tersenyum puas akan hasil kerja-nya.

"Hinata buka pintu-nya".

"Wooyy Laverna ...,buka ngak".

Mendengar teriakan dari dalam Hinata hanya tertawa puas. Enak saja main nyuruh buka sembarangan, Ia tak akan mau melakukanya.

Biar saja mereka rasakan membalasan dari-nya atas kelakuan mereka tiga hari yang lalu. Tentu saja Hinata masih mengigat ,tiga hari yang lalu anak perempuan kelas 2C di kerjain habis-habisan.

Awalnya anak lelaki kelas Hinata mengatakan akan mentraktir mereka semua sebagai perpisahan kenaikan kelas. Dan Hinata menjadi orang yang paling semangat mendengar kata traktir.

Namun semangat Hinata dan semua siswi kelas-nya luntur seketika saat mereka sudah berada di dalam kolam renang. "Gimana makanan-nya enak kan",itu lah kata yang sampai sekarang masih tergiang-ngiang di pikiran Hinata.

"Ada apa ini ?",Hinata langsung balik badan saat mendengar suara dari arah belakang-nya. Dan wajah Hinata langsung memasang senyum lima jari-nya saat menemukan Sai dan tiga orang anak kelas-nya yang memakai seragam basket.

"Hehehe tidak-tidak...tidak ada apa-apa kok",Hinata menjawab sembari beringsut menjauh sedikit demi sedikit.

" SAI...TAHAN LAVERNA SATU ITU DIA MENGURUNG KAMI DI SINI",Mendengar teriakan dari dalam Hinata langsung kabur sebelum Sai dan ketiga temanya sadar.

"Karin lari...",Hinata berteriak sembari berlari di ikuti Karin di samping-nya.

"Apa yang kau lakukan bodoh...",susah payah Karin mengeluarkan suaranya. Dan Hinata hanya tertawa tampa menjawab.

.

.

.

Mereka masih berlari di sepanjang koridor sekolah . Mengabaikan berpasang-pasang mata yang melihat mereka dengan tatapan aneh.

Umpatan-umpatan dari arah belakang masih dapat di dengar Hinata dan Karin . Yang artinya mereka masih dalam bahaya.

Bruukkk...

Awww...

Hinata menubruk dan jatuh menimpah sesuatu yang lumanyan keras. Mengusap kepala-nya yang sakit Hinata mencoba bangkit dari entah apa yang di timpah-nya.

"HINATA...BERHENTI KAU",Teriakan dari arah belakan langsung membuat Hinata bangun terduduk.

"Mau ke mana kau?",Hinata merasakan cekelan di tangan-nya dengan kuat dari orang yang di timpah-nya.

"Uhhh maaf-kan aku , aku harus segera pergi",ucap Hinata panik saat Sai sudah mulai mendekat.

"Tidak bisa kau harus tanggu jawab",Hinata menatap mata biru orang yang di tabraknya dengan pandangan memohon.

"Plesea...",Hinata memohon namun orang yang di tabrak-nya tadi masih terpesona dengan keindahan mata Hinata hingga ia tak bisa mengalihkan tatapan mata-nya dari mata Hinata.

"Aawww...".

"Maafkan aku .",Hinata memohon maaf lagi setelah ia mengigit tangan yang mencekalnya itu hingga terlepas. Rekor terbaru bagi Hinata yang biasa-nya ia hanya mengigit orang yang yang di kenalnya atau paling tidak orang yang mengangunya. Tapi kini Hinata mengigit tanggan orang yang jelas-jelas tak punya salah padanya. Dan karna kebiasaan itulah sahabat Hinata memangilnya piranha.

"Aduhhh sekali lagi maafkan aku",ucap Hinata lagi sembari berlari saat mendengar teriakan lelaki bermata biru itu sekali lagi saat ia tak segaja menginjak tangan-nya.

Ceroboh dan tukang buat masalah memang tak pernah lepas dari seorang Hyuuga Hinata.

.

.

"Naruto-kun kau tak apa?",Mendengar nama-nya di panggil barulah Naruto mengalihkan mata-nya dari arah Hinata berlari tadi.

"Aku tak apa Shion",ucap Naruto sembari bangun dan mengambil kunci di samping-nya . Naruto memperhatikan kunci itu dengan kening berkerut, seingatnya ini kunci lapangan Indor , kenapa ada di sini.

"Sasuke...bisa kau mengantar Shion, aku ada urusan mendadak".

"Tentu saja bisa",Naruto menyegit heran mendengar jawaban Sasuke yang terlampau semangat. Tapi ia mengabaikanya saja , dan memilih berlari ke arah menghilangnya Hinata tadi.

"NARUTO...KUNCI-NYA...SIAL...".

Sai mengupat saat ia melihat Naruto yang berlari kencang , serta membawa kunci lapangan basket Indor. Sai dan ketiga teman-nya sudah lelah berlari dan mereka harus berlari lagi demi sebuah kunci pintu.

.

.

.

.

TBC...

THANKS TO REVIEW :

Alinda504,Kyuun47,Guest,Wales,Andromeda Arundhati, Dita,Uzumakisrhy.