Chapter 1

Belakangan ini cuaca sedang tidak bagus. Hampir setiap hari turun hujan disertai angin dan wabah flu berjangkit dimana-mana. Tidak mengherankan kalau toko ramuan menjadi sangat laris beberapa hari belakangan. Aku sendiri sudah beberapa kali ke sana.

Hari itu lagi-lagi hujan turun, meski tidak selebat biasanya. Tapi tetap saja orang-orang enggan untuk keluar rumah, termasuk aku. Aku sebenarnya malas sekali bepergian, tapi apa boleh buat, aku harus bekerja. Lagi pula badanku bisa pegal-pegal kalau tidak kerja.

Muggle-Muggle berseliweran di jalanan di pinggiran kota London dengan wajah setengah tersembunyi di dalam syal dan mantel mereka. Aku berjalan pelan di antara mereka, merapatkan mantel panjangku. Aku sengaja berangkat kerja berjalan kaki melalui Londonnya Muggle karena rumahku memang berada di perumahan Muggle tidak jauh dari Leaky Couldron yang merupakan pintu masuk menuju Diagon Alley. Yah, aku memang bekerja di salah satu toko di sana, tepatnya di toko Peralatan Quidditch Berkualitas.

Aku memang tidak tahu banyak mengenai Quidditch dan aku juga tidak bisa bermain Quidditch. Tapi olahraga itu punya kenangan tersendiri untukku. Maka setelah aku lulus dari Hogwarts beberapa tahun yang lalu, aku memutuskan untuk bekerja di toko yang menjual peralatan Quidditch. Berhubung ayah salah satu temanku adalah pemilik toko itu, jadi aku tidak terlalu kesulitan mendapatkan pekerjaan di sana. Mungkin orang menganggap pekerjaanku remeh, tapi aku sangat menyukai pekerjaanku.

Seperti biasa, saat cuaca buruk seperti saat itu, rumah minum Leaky Couldron tampak lengang. Tom, penyihir tua ompong pelayan bar itu sedang mengelap gelas-gelasnya ketika aku masuk.

"Berangkat kerja, Kat?" sapanya ramah.

"Iya," jawabku seraya melipat payungku dan mengetuknya dengan tongkat sihirku, payungku langsung lenyap.

"Tidak mampir dulu? Aku punya sesuatu yang lezat untuk menghangatkan badan," tawar Tom.

Aku menggeleng kecil, "Terimakasih banyak, Tom," tolakku sopan. "Tapi aku sedang buru-buru. Mr Flummers pasti akan ngomel-ngomel kalau aku terlalu lama bolos kerja." Kulihat Tom tampak agak kecewa. "Tapi lain kali aku pasti mampir," aku menambahkan sebelum melanjutkan perjalananku ke Diagon Alley.

Seperti di Leaky Cauldron, Diagon Alley juga tampak lengang. Meski tidak separah saat Kau Tahu Siapa muncul lagi beberapa tahun yang lalu. Saat itu hampir setiap hari Diagon Alley kosong melompong. Orang-orang ketakutan dan tidak berani keluar rumah. Tapi sekarang keadaan sudah kembali seperti semula dengan hancurnya penyihir paling hitam dan paling jahat itu.

"Kat!" seru Mr Flummers dengan ekspresi terkejut ketika melihatku datang. "Kau seharusnya jangan bekerja dulu kalau masih sakit," ujarnya cemas. Mr Flummer adalah manager toko tempatku bekerja. Dia pria paruh baya berwajah ramah dengan perawakan tinggi dan gemuk.

Aku tersenyum, "Aku sudah baikan, Mr Flummers. Lagi pula badanku bisa pegal-pegal kalau tidak kerja," sahutku riang.

Mr Flummers menggembung saking senangnya, "Oh, kebetulan sekali. Kita sedang mendapat order besar dari Puddlemere United. Mereka memesan tujuh Nimbus 2007 dan beberapa set peralatan Quidditch. Kau bisa membantu Elmyra menyusun daftar pesanannya di belakang. Oh, dia akan senang sekali kau kembali! Dia stress sekali. Manager Puddlemere United sangat cerewet, kau tahu. Mereka menginginkan yang terbaik."

"Oke, Mr Flummers," aku bergegas ke bagian belakang toko dimana Elmyra Martin, rekan kerjaku, sedang sibuk dengan setumpuk daftar. Dia mengangkat wajah dari daftarnya ketika mendengarku masuk.

"Kattleen!" serunya senang. "Kau sudah sembuh?"

"Seperti yang kau lihat," kataku cerah. Aku melepas mantelku dan meletakkannya di gantungan bersama mantel Elmyra.

"Bagus. Kau bisa membantuku mengurusi pesanan ini," dia mengulurkan perkamen panjang yang sejak tadi dikerjakannya padaku. "Setelah itu kita bisa mencocokkannya dengan barang-barang yang di sana itu," dia menunjuk tumpukan dus di pojok ruangan. "Pastikan barang-barang itu dalam keadaan sempurna, Kat. Kemarin manager Puddlemere United datang untuk melihat pesanannya dan dia menemukan jahitan salah satu sarung tangan keeper pesanannya lepas. Cowok itu marah besar dan meminta kita memeriksa ulang semuanya," Elmyra mengeluh, "Benar-benar menyebalkan orang itu."

"Tak masalah. Er—bagaimana dengan sapu—"

"Oh, sapunya oke," potong Elmyra. "Kenapa tidak pesan Firebolt tipe baru saja sekalian!" omelnya. "Dan mereka akan datang lagi sore ini. Jadi lebih cepat kita menyelesaikan ini semua lebih baik. Ngomong-ngomong kemana sih si Fergie? Katanya mau beli makanan. Lama sekali…"

Ferguson Hope adalah rekan kerjaku yang satu lagi. Cowok jangkung ceking dengan rambut keriting lebat. Penampilannya mengingatkanku pada benda kecil yang biasa digunakan Muggle untuk menyalakan api.

Ferguson datang ketika aku dan Elmyra sedang sibuk memeriksa barang-barang pesanan.

"Makan siang!" serunya pada kami. "Kat! Kau sudah sembuh nih?"

Aku menoleh memandangnya, "Halo, Fergie. Aku sudah sembuh."

"Akhirnya datang juga kau!" sembur Elmyra dari atas kotak besar berisi Quaffle, "Jangan bilang kau ngeceng dulu di toko sebelah!"

Fergie langsung mengikik seperti cewek. "Tak perlu marah begitu dong," sahutnya ceria seraya meletakkan bungkusan yang dibawanya di meja. "Kan aku sudah bawakan hot dog untuk makan siang. Untung saja aku tadi belinya lebih, kalau tidak Kat tidak kebagian makan siang."

"Hot dog lagi? Seperti tak ada makanan lain saja," Elmyra memutar-mutar bola matanya. Fergie nyengir lebar. Fergie memang suka sekali dengan makanan Muggle yang satu itu dan dia selalu membelinya untuk makan siang kami di toko.

"Oh ya, tadi aku melihat manager Puddlemere United dan salah satu pemainnya di Leaky Couldron, sedang minum. Sepertinya mereka akan kemari," kata Fergie mengagetkan Elmyra.

"Katanya mereka baru akan datang sore," teriak Elmyra panik. "Kami belum selesai dengan ini semua!"

"Tenang saja, Ell. Kita pasti akan menyelesaikannya," kataku menenangkan.

"Kat benar," kata Fergie dengan mulut penuh hot dog. "Ayo mulai!"

Dan kami pun mulai kembali bekerja. Memeriksa kotak demi kotak berisi peralatan dan seragam Quidditch, memastikan semuanya dalam keadaan sempurna.

"Jangan sentuh kotak Golden Snitch itu!" bentak Elmyra pada Fergie ketika cowok itu akan mengetukkan tongkat sihirnya ke kotak kecil berisi Golden Snitch. "Kalau kau sampai melepaskan snitch-snitch itu seperti kemarin, aku akan memasakmu jadi hot dog." Fergie menarik kembali tongkatnya, dengan bersungut-sungut berbalik untuk menyihir tumpukan seragam Quidditch masuk ke dalam salah satu dus.

Baru seminggu yang lalu Fergie secara tak sengaja melepaskan satu kotak penuh snitch. Bola-bola kecil itu beterbangan di toko, membuat Mr Flummers marah besar. Karena tak satu pun dari kami berbakat menjadi seeker, maka kami menghabiskan waktu seharian penuh untuk menangkapi kembali snitch-snitch itu. Aku masih ingat saat pulang dari toko, badanku memar di sana sini karena kami menggunakan mantra panggil, mantra pembeku dan mantra-mantra lain untuk menangkap snitch. Dan karena mereka sangat gesit, mantra yang kami lontarkan malah mengenai teman sendiri atau barang lain. Aku sendiri mendapatkan benjol sepesar telur ayam di kepala karena tertimpa Quaffle. Pokoknya saat itu toko benar-benar dibikin heboh.

"Anak-anak!" seru Mr Flummers saat kami sedang menyelesaikan sentuhan terakhir pekerjaan kami. "Mereka sudah datang. Apa semua sudah selesai?"

"Sedikit lagi, Sir," jawabku dari sebelah kotak berisi pelindung lutut yang sedang kuperiksa. "Reparo," kataku seraya mengetuk salah satu pelindung yang retak dengan tongkat sihirku. Pelindung itu langsung kembali seperti baru. "Nah, sudah selesai!"

"Bagus," kata Mr Flummers. "Fergie, aku ingin kau mengambil pernak-pernik Quidditch pesanan kita di tempat biasa."

"Oke, Sir!" seru Fergie senang. Ngomong-ngomong Fergie memang selalu senang kalau disuruh keluar, soalnya dia bisa sekalian melihat cewek cantik yang ditaksirnya yang bekerja di toko stasionary di sebelah toko kami. Dia bergegas keluar setelah menyambar sisa hot dog yang tadi ditinggalkannya di meja.

"Elmyra, sebaiknya kau saja yang menemui manager Puddlemere United itu," perintah Mr Flummers pada Elmyra. Tampaknya Mr Flummers juga kurang menyukai manager tim itu, siapa pun dia. Elmyra langsung mengeluh, tapi dia tidak membantah, segera keluar menemui tamu kami. "Dan kau, Kat. Kau bisa membantuku di depan. Ada anak-anak bandel yang mencoba merogoh etalase sapu. Aku tahu kau pandai menangani anak-anak nakal," Mr Flummers tersenyum padaku.

"Baiklah, Sir," dan aku segera menyusul Elmyra ke bagian depan toko. Tapi sepertinya anak-anak yang dimaksud Mr Flummers sudah pergi. Di depan etalase sapu hanya ada seorang pria jangkung yang sedang melihat-lihat model sapu Firebolt tipe terbaru dengan sangat tertarik.

"Maaf, Miss," kata seorang wanita paruh baya dari depan konter. "Aku ingin membeli sarung tangan keeper ini," wanita itu menunjuk sebuah sarung tangan keeper yang dipajang di etalase.

"Oh, yang itu?" aku bergegas mengambilkan barang yang dimaksud dan membawanya ke konter. "Sarung tangan yang bagus, Madam. Sangat kuat," ujarku ramah.

"Untuk putraku. Dia bermain Quidditch di Hogwarts sebagai keeper," wanita itu berkata seraya mengambil kantung uangnya.

Entah mengapa pikiranku langsung melayang ke keeper Hogwarts lain beberapa tahun yang lalu. Keeper yang sempat singgah di hatiku, bahkan sekarang pun masih. Aku bertanya-tanya sendiri, bagaimana kabarnya sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia masih bermain Quidditch seperti dulu? Dimanakah kau gerangan, Oliver Wood?

"Miss?" suara wanita tadi membuyarkan lamunanku. "Berapa harga sarung tangan ini?"

"Oh, maaf. Harganya—harganya… er—sepuluh, sepuluh Galleon," jawabku agak tergagap. Wanita itu mengangsurkan sepuluh keping emas sementara aku membungkus sarung tangan yang dibelinya.

Aku menghenyakkan diri di kursi di belakang konter setelah wanita tadi pergi. Aku ini kenapa sih? Apa karena pengaruh ramuan yang kuminum sebelum berangkat kerja tadi pagi? Aku menarik napas panjang, mencoba menetralisir perasaanku yang mulai tidak karu-karuan. Aneh sekali, kenapa aku merasa seperti Oliver berada di dekatku?

Aku mengedarkan pandang berkeliling toko; agak sepi karena hari sudah mulai sore hanya ada seorang pria gemuk pendek sedang berbicara sangat cepat kepada Elmyra—dia pastilah manager Puddlemere United—dan pria yang sedari tadi masih mengamati etalase sapu, memunggungiku.

Apa aku hanya berkhayal atau memang benar? Rasanya aku mengenal punggung pria yang berdiri di depan etalase itu. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat untuk mengusir pikiran gila itu dari benakku. Tapi aku masih belum bisa mengalihkan perhatianku pada punggung pria itu. Dan aku tersentak ketika pria di depanku itu akhirnya berbalik.

"Oliver Wood?" aku menyeletuk. Pria itu menoleh padaku.

"Apa aku mengenalmu?" tanyanya sambil tersenyum ramah.

"T—tentu saja. Kita dulu er—sama-sama di Hogwarts," jawabku gugup. Oh, ini kejadiannya hampir mirip dengan waktu dulu, aku sedang memikirkannya dan tiba-tiba saja dia muncul di hadapanku.

"Oh, pantas saja aku seperti sudah mengenalmu," ujarnya seraya mendekati konter. Aku merasakan jantungku mulai berdegup kencang dan wajahku sekarang pasti sudah semerah tomat. "Kau dulu dimana?" tanyanya.

"Ravenclaw," jawabku pelan.

"Aku di Gryffindor," sekarang Oliver sudah berdiri di depan konter.

"Aku tahu," sahutku pelan. Aku melihatnya tersenyum lagi, membuatku semakin gugup.

"Siapa namamu?" tanyanya.

"K—Kattleen Handerson. Tapi orang-orang biasa memanggilku Kat," kataku tergagap. "A—Apa… Apa kau masih bermain Quidditch?" aku bertanya.

"Oh, yeah. Sekarang aku main di Puddlemere United, sebagai keeper cadangan. Tapi kuharap sebentar lagi aku bisa jadi keeper tetap," dia kedengaran sedikit berpuas diri. Tapi kurasa itu cocok dengan reputasinya dulu sebagai keeper handal Gryffindor.

Aku tidak tahu harus bekata apa selain, "Hebat…"

"Trims," Oliver tertawa kecil. "Jadi… kau bekerja di sini, Kat?"

"Ya," aku berpaling, memandang kemana saja asal tidak memandang Oliver. Memandang wajahnya membuatku merasa serbasalah. Di sisi lain toko, aku bisa melihat Elmyra melempar cengiran padaku saat dia membawa si manager cerewet ke bagian belakang toko untuk melihat barang pesanan.

"Kuharap manager tim kami tidak merepotkan kalian," Oliver berkata ketika punggung si manager baru saja menghilang di balik pintu.

"Eh?" kataku bego.

"Yeah," lanjutnya terkekeh. "Dia kadang-kadang memang agak berlebihan, tapi aslinya baik kok. Aku juga begitu saat masih menjadi kapten tim Gryffindor. Aku ingin semuanya sempurna."

Aku tidak tahu harus berkata apa, maka aku diam saja, memainkan ujung lengan sweterku. Kami terdiam beberapa saat. Oliver sekarang asyik melihat-lihat pernak-pernik berbagai tim Quidditch. Aku beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.

Oh, penampilannya tidak banyak berubah dari yang dulu, hanya saja sekarang dia lebih jangkung dan terlihat lebih dewasa. Dia masih sama gagah dan tampannya seperti dulu.

"Kau suka nonton Quidditch, Kat?" tanya Oliver beberapa saat kemudian.

"Oh, yeah, aku suka sekali…"

Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku karena manager Puddlemere United baru saja muncul dari pintu dan berkata keras-keras, "Bagus sekali! Benar-benar bagus. Coba dari kemarin seperti ini, kami tidak perlu bolak-balik kemari," pria itu mengarahkan matanya yang kecil menonjol pada Elmyra, tapi tampaknya dia cukup puas. "Ayo, Oliver, kita pergi sekarang. Oh," dia menoleh lagi pada Elmyra, "Jangan lupa kirimkan barang-barang itu ke kantor kami besok pagi." Pria kecil itu berbalik dan pergi meninggalkan toko.

"Sampai jumpa, Kat," ucap Oliver sebelum berbalik mengikuti managernya.

Sesaat aku masih terpaku di tempatku, menatap punggung Oliver yang baru saja menghilang di balik pintu kaca, sampai suara Elmyra membuyarkan lamunanku.

"Ehem ehem,"

Aku buru-buru menoleh dan mendapati rekan kerjaku itu nyengir lebar padaku. "Apa?" tanyaku pura-pura heran.

"Siapa sih cowok tadi? Kelihatannya akrab sekali," katanya sambil mendudukkan diri di kursi di sebelahku.

"Oh, dia. Cuma teman lama kok," sahutku.

"Teman apa teman nih? Kok caramu memandangnya agak—"

"Elmyra!" aku merasakan wajahku memanas lagi. Elmyra hanya terkikik.

"Tapi dia cakep juga kok. Pemain Quidditch ya?" tanyanya setelah kikiknya mereda.

"Yeah," jawabku singkat. "Nah, bagaimana tadi?"

Sejenak Elmyra mengernyit memandangku, kemudian menjawab, "Bagus, cowok cerewet itu puas dengan barang pesanannya. Untung saja, sebab kalau dia masih tidak puas juga, aku bakal bolos kerja besok. Dan kau, jangan mengubah topik pembicaraan…" dia menambahkan galak.

Elmyra menghabiskan waktu sepanjang sore menggodaiku mengenai Oliver, membuatku jengah. Untung saja Fergie datang di tengah interogasi superlama dan menjengkelkan dari Elmyra tentang seberapa dekat aku dan Oliver saat masih sama-sama di Hogwarts dulu.

Bersambung...