Chapter 2

Entah mengapa sejak hari itu aku jadi sering sekali bertemu Oliver Wood. Kadang-kadang dia sedang minum sendirian di Leaky Couldron saat aku berangkat kerja, lain waktu dia mengunjungi toko tempat kerjaku untuk melihat-lihat. Dan tidak jarang juga kami berpapasan di jalan saat aku sedang membeli makan siang—Mr Flummers melarang Fergie yang membeli makan siang lagi karena dia sudah muak dengan hot dog.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang dilakukan Oliver di Diagon Alley? Apa dia tidak latihan bersama timnya? Bukankah liga Eropa sebentar lagi akan diadakan? Bukannya aku tidak senang bertemu dengannya, sebaliknya malah, aku sangat senang bisa terus melihatnya. Rasanya seperti kembali ke masa lalu saat kami masih di Hogwarts.

"Halo, Kat," sapa Oliver suatu sore. Aku mengangkat wajah dari catatanku dan jantungku serasa melompat ke leher melihat wajahnya yang tersenyum.

Aku dengan gelagapan memandang berkeliling toko sebelum menjawab, "Oh, hai," Hanya ada Fergie—yang sedang mengawasi lap-lap menggosok etalase berdebu—dan aku di toko. Elmyra tidak masuk kerja karena flu berat dan Mr Flummers sedang berada di kantornya seperti biasa.

"Tokonya sepi ya?" kata Oliver sambil menyandarkan diri di konter.

"Sudah sore soalnya," kataku berusaha terdengar biasa. "Kalau siang pasti ramai."

"Oh," Oliver mengangguk. "Tapi kau kelihatannya masih sibuk," dia menunjuk catatan yang sedang kuperiksa.

"Sebenarnya tidak," sahutku sambil menutup catatan di tanganku. "Aku hanya memeriksa ulang catatan barang yang masuk dan yang keluar, memastikan semuanya benar."

"Wah wah," Oliver terkekeh. "Aku tidak tahu kalau berdagang bisa begitu rumit."

"Supaya tidak rugi," kataku, tertawa. Oliver ikut tertawa bersamaku. "Ngomong-ngomong, kau sedang apa di sini?" tanyaku beberapa saat kemudian.

"Aku baru saja mengunjungi teman lama. Kau tahu kan Sihir Sakti Weasley? Toko itu milik temanku," jawab Oliver.

"Oh ya, aku tahu. Toko itu milik si kembar Weasley kan? Kudengar tokonya laris sekali," kataku.

"Memang," sahut Oliver, "Tokonya benar-benar bagus soalnya. Kau pernah ke sana?"

"Tentu. Siapa sih orang di Diagon Alley ini yang belum pernah ke sana?" kataku terkekeh. "Cowok yang di sana itu," aku menunjuk Fergie yang masih membersihkan etalase sambil bersenandung kecil, "Sering sekali ke sana dan dia suka menjahili kami semua dengan barang-barang yang dibelinya di sana. Pernah satu kali dia baru kembali dari toko itu kemudian menawariku permen, dan setelah aku memakannya aku langsung mimisan banyak sekali. Benar-benar bikin geger. Lain kali aku harus berhati-hati kalau dia memberiku macam-macam lagi…" Oliver tertawa terbahak-bahak.

"Oi! Ada yang ngomongin aku di sana?" teriak Fergie tanpa diduga, membuat kami berdua terlonjak.

"Sori, Fergie!" aku balas berteriak ke seberang ruangan dengan wajah merona merah sementara Oliver masih tertawa-tawa geli. Mengherankan sekali bagaimana Fergie bisa mendengar dari jarak yang cukup jauh seperti itu mengingat telinganya yang tertutup rambut keritingnya yang super tebal seperti bulu anjing pudel.

"Kudengar sebentar lagi liga akan dimulai," kataku pada Oliver setelah tawanya mereda.

"Ya," jawabnya singkat sambil menatap langsung ke mataku. Oh, aku sangat berharap dia tidak melakukan itu.

"A—apa kalian tidak latihan?" aku bertanya gugup.

"Tentu saja kami latihan," bantah Oliver. "Hanya saja—tidak setiap saat. Kami tidak ingin kehilangan banyak tenaga sebelum pertandingan pertama kami."

"Begitu…" kataku seraya menunduk memandang catatanku lagi, menghindari menatap matanya.

"Pertandingan percobaan akan diadakan dua minggu lagi. Puddlemere United melawan The Tornados, mungkin nanti aku akan main. Kau mau nonton?" tanya Oliver.

"Aku tidak punya tiket," gumamku, masih tidak memandang Oliver.

"Aku sudah siapkan," katanya seraya merogoh saku mantelnya, mengeluarkan secarik tiket pertandingan dan mengangsurkannya padaku. "Kuharap kau bisa datang, Kat."

"Terimakasih," aku mengambil tiket itu dengan tangan sedikit bergetar. "Kau baik sekali. Akan kuusahakan datang."

"Aku benar-benar berharap kau bisa datang," Oliver berkata dengan nada membujuk. Mau tak mau aku mendongak menatapnya dan mendapatinya sedang menatapku. Wajahku sekarang pastilah sudah semerah tomat ranum.

"Masih ada waktu dua minggu lagi untuk membujukku kan?" gurauku sekenanya. Aku tahu gurauanku sama sekali tidak lucu, tapi Oliver tersenyum menanggapinya.

"Benar juga," katanya. "Er—sudah terlalu sore, aku harus segera kembali ke markas. Ada rapat pemain."

"Oh, baiklah," kataku nyengir.

"Jam berapa biasanya kau pulang?" dia menanyaiku.

"Oh, tidak pasti. Tapi biasanya kami pulang saat jam makan malam," jawabku.

"Oke. Sampai jumpa kalau begitu, Kat."

"Bye."

Dan dia berbalik pergi. Begitu dia menghilang di balik pintu, aku langsung menghembuskan napas panjang sambil memegangi dadaku, mengembalikan detak jantungku ke normal lagi. Setiap ada Oliver Wood, jantungku sering sekali berjumpalitan tidak jelas di tempatnya.

"Oi, Kat. Jangan bengong saja di situ! Bantuin dong…" protes Fergie sambil masih berkutat dengan lap-lap kotornya.

"Iya, sebentar," sahutku seraya bergegas meninggalkan konter dan menghampirinya. "Ck! Sama saja bohong kalau kau menggunakan lap kotor itu. Bukannya bersih tapi malah tambah kotor… Bego banget sih!"

"Enak saja mengataiku bego," sergah Fergie pura-pura kesal. "Kau sendiri apa, cuma ngobrol saja dengan cowok Puddlemere United tadi. Siapa sih dia? Cowokmu?"

"Dia bukan cowokku, Fergie yang baik…" kataku pura-pura tak peduli—meskipun wajahku merona lagi—sambil mencabut tongkat sihirku dan mengayunkannya ke lap-lap yang dipegang Fergie. Lap-lap itu langsung bersih seperti baru dicuci. "Nah, lanjutkan pekerjaanmu," dan aku berjalan kembali ke konter.

"Hei, bantuin dulu dong…" teriak Fergie.

"Pakai tongkat sihirmu, Fergie," kataku jemu, "Tongkat itu bukan buat pajangan saja kan? Makannya kalau punya otak jangan ditutupi saja pakai rambut."

"Kau kedengarannya seperti Elmyra," kata Fergie cemberut. Aku tertawa kecil. Kalimat terakhirku tadi memang kalimat yang sering diucapkan Elmyra untuk menggoda Fergie.

Bersambung...

A/N : Sihir Sakti Weasley, masih aku tulis milik si Kembar Weasley. Soalnya masih gak rela kalo nulis hanya milik George Weasley. Huhu...