Chapter 3
Seminggu sesudahnya, Oliver tidak pernah muncul lagi di Diagon Alley. Kuakui kalau aku sangat merindukannya. Setiap aku melongok ke luar toko, aku selalu berharap melihat punggungnya yang tegap di antara para pengunjung. Aku bertanya-tanya dalam hati apa dia sedang berlatih bersama timnya untuk menghadapi kejuaraan Quidditch yang sebentar lagi akan digelar? Ya, pastilah begitu… Dan aku sudah tidak sabar untuk menonton pertandingan pertamanya melawan the Tornados. Mudah-mudahan Mr Flummers mau memberiku cuti…
"Hayo, ngelamun lagi," goda Elmyra mengagetkanku. Tiket yang sedang kupegang sampai meluncur jatuh dari tanganku.
"Elmyra!" semburku sebal seraya buru-buru mengambil kembali tiketku dari lantai berdebu. Rekan kerjaku itu hanya terkikik geli.
"Habis, kalau tidak ada pembeli kerjaanmu hanya bengong saja memandangi kertas kecil itu," ujarnya sambil tersenyum nakal.
"Sori deh," kataku seraya memasukkan kembali tiketku ke saku rokku. "Sebaiknya sekarang kita beres-beres, toko sudah mau tutup," aku melirik ke jam dinding di atas pintu menuju ke bagian belakang toko.
"Benar juga, tapi kemana perginya si Fergie? Jangan bilang dia ngeceng di toko sebelah lagi."
Sedetik kemudian Fergie muncul dengan cengiran super lebar di wajahnya.
"Dari mana saja kau?" teriak Elmyra pada Fergie.
"Jalan-jalan," jawab Fergie enteng.
"Kau digaji bukan untuk jalan-jalan, tahu!" tukas Elmyra.
Fergie hanya cengar-cengir sambil menggumamkan maaf. Fergie mendekati etalase sambil mengeluarkan gombal kotornya yang biasa.
"Pakai tongkat sihirmu!" bentak Elmyra lagi, tepat pada saat Mr Flummers muncul dari kantornya. Fergie buru-buru menggunakan kesempatan itu untuk mengadu.
"Ini nih, Sir, Elmyra ngomel-ngomel melulu," adunya seraya mengerucutkan bibir seperti anak gadis yang sedang ngambek.
"Habis Fergie kerjanya tidak benar sih, Sir…" sergah Elmyra marah.
Namun Mr Flummers hanya tertawa sampai tubuhnya yang besar berguncang, "Sudah-sudah, kalian ini kerjanya hanya bertengkar terus seperti kucing dan anjing saja. Contoh dong, Kattleen—" dia menunjukku, "Tenang, kalem, ramah—" aku merasakan wajahku memerah, "Semua pengunjung senang padanya. Elmyra, coba kurangi kebiasaanmu marah-marah. Bisa-bisa pelanggan kita kabur ketakutan. Dan Ferguson, kau sebaiknya lebih serius bekerja, kalau tidak gajimu akan kupotong—"
"Yah, Sir! Jangan gitu dong…" protes Fergie sementara Elmyra terkikik puas.
"Ya sudah," kata Mr Flummers seraya melirik arlojinya, "Sudah terlalu sore, sebaiknya kita tutup sekarang saja. Lagi pula sudah tidak ada pengunjung lagi kan?" dia melirik keluar pintu. Jalanan Diagon Alley memang sudah nyaris kosong dan toko-toko lain juga bersiap untuk tutup.
Kami bergegas membereskan segala sesuatunya, kertas-kertas bon, barang-barang yang berantakan setelah dilihat-lihat pembeli…
"Selamat sore, belum tutup kan?" tanya sebuah suara di pintu.
Kami semua menoleh, dan mendapati Oliver Wood sedang berdiri di ambang pintu, memakai mantel cokelat panjang dan rambutnya agak basah. Rupanya di luar sedang gerimis. Aku merasakan jantungku berdegup aneh lagi.
"Belum tutup kok," sambar Elmyra cepat sambil mendekati Oliver. Rupanya dia ingin menunjukkan kalau dia juga bisa ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Sir?"
"Oh," kata Oliver agak kaget, "Saya membutuhkan sarung tangan keeper…"
"Mari saya antar," sahut Elmyra agak terlalu antusias. Dia cepat-cepat membongkar-bongkar salah satu rak—yang sudah dibereskan Fergie dengan susah payah—untuk mencari barang yang dimaksud. Fergie mengawasinya dengan mulut menganga dan dia tampak kesal.
"Ini sarung tangan keeper terbaik kami, Sir," kata Elmyra promosi, "Sangat kuat dan awet, dilapisi kulit sapi—eh, maksud saya kulit naga terbaik… bla bla bla…"
Sementara Elmyra melayani Oliver, aku bergegas membantu Fergie untuk merapikan kembali rak yang sudah diacak-acak Elmyra.
"Biar aku saja, Fergie," kataku seraya mencabut tongkat sihirku dan mengayunkannya ke barang-barang yang berserakan. Mereka langsung masuk dengan patuh ke dalam rak dan membuat tumpukan rapi. "Nah, beres."
"Trims, Kat. Kau yang terbaik," kata Fergie pelan, supaya Elmyra tidak dengar. "Dari pada dia itu, ngomel-ngomel melulu sepanjang waktu… Memangnya salahku apa diomeli melulu? Aku kan hanya keluar untuk mengecek barang atas perintah Mr Fummers. Sok ngebos banget dia itu… padahal Mr Flummers juga tidak segalak itu," gerutunya. "Memang sih tadi aku mampir-mampir dulu…" dia menambahkan, nyengir.
"Jangan ngomong begitu ah," tegurku dengan tawa tertahan.
"Aku ambil yang ini saja. Berapa harganya?" aku bisa mendengar Oliver berkata dari konter.
"Nah, anak-anak, apa semua sudah beres?" gelegar Mr Flummers yang beru saja muncul kembali dari kantornya, membuat kami semua terlonjak. "Oh, ada pelanggan rupanya," ujarnya sopan pada Oliver yang mengangguk sambil tersenyum padanya.
"Fergie, Kat, kalau kalian tidak keberatan, aku mau pulang duluan. Aku sudah janji pada istriku untuk pulang lebih cepat hari ini," kata Mr Flummers padaku dan Fergie.
"Tidak apa-apa, Sir," kataku sambil tersenyum, "Silakan Anda pulang duluan. Jangan kecewakan istri Anda,"
Mr Flummers membalas tersenyum padaku sebelum berkata pada Oliver yang sedang membayar sarung tangannya di konter, "Semoga Anda puas, Sir!"
"Tentu, terimakasih," sahut Oliver ramah.
Mr Flummers mengangguk pada kami untuk yang terakhir kalinya sebelum keluar dari toko dan menghilang di balik gerimis.
Aku berjalan mendekati konter untuk mengambil tasku.
"Hai, Kat," sapa Oliver ketika aku melewatinya.
"Hai," balasku sopan.
Elmyra melempar pandang padaku dan Oliver bergantian dengan seringai aneh di wajahnya seraya memasukkan koin emas yang diangsurkan Oliver padanya ke kotak di bawah meja kasir.
"Kat, aku pulang duluan ya. Jangan lupa kunci pintunya dengan mantra tujuh lapis yang biasa," kata Elmyra setelah menyambar tasnya sendiri.
"Oke," kataku singkat.
"Sepi seperti biasa, Kat?" ujar Oliver.
"Oh, tunggu saja sampai anak-anak Hogwarts sedang liburan!" sambar Fergie keras dari pintu. Rupanya dia juga sudah bersiap pulang. "Kalian semua akan berdesak-desakkan seperti ikan sarden dalam kaleng di toko kami—"
"Ayo, pulang!" potong Elmyra keras seraya menarik Fergie keluar toko dan keduanya juga menghilang.
"Er—toko sudah tutup…" kataku pelan.
Oliver tertawa kecil sebelum menjawab, "Oh yeah, apa kau sedang mengusirku?"
"Bukan—bukan begitu maksudku…" sahutku cepat-cepat.
"Kita bisa pulang bersama kan?" kata Oliver.
"Tapi aku lewat Leaky Cauldron, rumahku ada di perumahan Muggle dekat sini soalnya," kataku dengan wajah merona.
"Tidak apa-apa," sahut Oliver tersenyum, "Aku akan mengantarmu. Tidak baik seorang gadis jalan sendirian saat sudah gelap."
"Um… baiklah," kataku akhirnya. Wah… Oliver mau mengantarku pulang… Apa aku sedang bermimpi? Kalau iya, aku tidak ingin bangun… Aku cepat-cepat ke bagian belakang toko untuk mengambil mantelku dan mengikuti Oliver keluar.
"Sepertinya hujan tambah deras saja," ujarnya.
"Ya," sahutku pelan seraya mengetuk kenop pintu toko dengan tongkat sihirku dan merapalkan matra yang diajarkan Elmyra padaku saat aku baru bergabung. Pintu langsung terkunci. Ketika aku menoleh kembali, Oliver sudah memproduksi sebuah payung besar dari udara kosong dengan tongkat sihirnya.
"Yuk," katanya sambil menarik tanganku ke dekatnya. Kami berpayung bersama ke Leaky Cauldron. Dia baru melepaskan tanganku ketika sampai di rumah minum kecil itu. Berbeda dengan di Diagon Alley yang sudah nyaris kosong, rupanya di Leaky Cauldron cukup ramai. Tom, si pemilik bar sedang bertengkar heboh dengan seorang nenek sihir ompong yang rupanya menolak membayar minumannya.
Di jalanan Muggle di luar Leaky Cauldron juga sudah lengang, langit sudah mulai gelap, hanya beberapa mobil saja yang lewat dan beberapa orang yang tampaknya terburu-terburu ingin sampai ke rumah. Sebaliknya, aku dan Oliver berjalan santai sambil mengobrol di bawah naungan payung Oliver. Rupanya dia tidak kelihatan selama seminggu ini karena berlatih bersama timnya dan meninjau tempat yang akan digunakan untuk pertandingan nanti.
Ingatanku langsung melayang ke kenangan beberapa tahun yang lalu. Waktu itu juga seperti ini, kami berpayung bersama, hanya saja kali ini kami tidak diam-diaman seperti dulu dan Oliver yang memegang payungnya, bukan aku.
"Tahu tidak, rasanya aku pernah mengalami yang seperti ini. Tapi kapan ya?" kata Oliver kemudian.
Aku hanya mengulum senyum mendengar kata-katanya.
Bersambung...
