Chapter 4
Rupanya keinginanku untuk bisa menonton pertandingan Quidditch Oliver tidak bisa terlaksana secepat yang kukira. Karena sehari sebelum pertandingan dilangsungkan, ibuku jatuh sakit dan harus dirawat di StMungo. Sebagai anak, tentunya aku harus menemani ibuku. Aku juga cuti dari pekerjaanku sampai ibuku sembuh. Sementara itu, aku merasa sangat tidak enak pada Oliver. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya ketika menyadari aku tidak datang. Aku cemas sekali kalau-kalau dia marah.
"Tidak usah dipandangi terus, Kat," tegur Elmyra suatu hari. Saat itu ibuku sudah sembuh total dan sudah kembali ke rumah, jadi aku bisa kembali bekerja.
"Benar kata Elmyra, jangan dipandangi terus," timpal Ferige, "Coba kalau waktu itu kau mau memberikan tiket itu padaku—"
"Ferguson!" tukas Elmyra, memelototi cowok itu.
Aku menghela napas dan memasukkan perkamen kecil itu ke saku jubahku sebelum kembali berkonsentrasi mencatat barang-barang apa saja yang hampir habis.
Hari ini toko sepi sekali. Bukan hanya toko kami saja yang sepi, tapi seluruh Diagon Alley benar-benar sepi. Bahkan beberapa toko tutup. Sebenarnya tidak mengherankan, karena hari ini ada pertandingan pertama liga Quidditch setelah pertandingan percobaan the Tornados melawan Puddlemere United beberapa hari yang lalu. Semua orang pastilah sedang menonton pertandingan atau mendengar siarannya melalui siaran radio. Fergie sendiri menyetel radio kayu tua besar di toko keras-keras dan bersorak gila-gilaan saat tim kesayangannya mencetak gol. Elmyra mengeluh keras-keras mengenai ini.
"Bisa dikecilin sedikit tidak sih? kau tidak tuli kan?" omelnya pada Fergie yang hanya menyeringai.
Mr Flummers sendiri sedang menonton pertandingan bersama keluarganya.
Tapi keesokan harinya pastilah kebalikan dari hari sebelumnya. Orang-orang akan membanjiri Diagon Alley, terutama di toko-toko yang menjual pernak-pernik Quidditch, seperti toko tempatku bekerja. Seminggu sebelumnya, kami sudah mempersiapkan segalanya, memesan stiker, lencana, panji-panji, kaus, jubah dan segala embel-embel tim Quidditch yang ikut bertanding di Liga.
Aku berangkat kerja lebih pagi keesokan harinya. Udara dingin menggigit katika aku keluar dari rumah. Musim gugur tahun ini memang benar-benar parah. Hampir setiap hari hujan disertai angin. Aku lega sekali ketika sampai di Leaky Couldron. Rumah minum itu benar-benar hangat.
"Pagi, Kat!" sapa Tom, si pelayan bar tua, seperti biasa.
"Pagi, Tom," balasku, tersenyum. Aku memandang berkeliling Leaky Couldron. Masih begini pagi tapi bar kecil itu sudah ramai. Celoteh bernada riang terdengar dimana-mana. Dari yang kudengar, hampir semua membicarakan pertandingan hari sebelumnya.
Hatiku mencelos ketika tertangkap oleh mataku, sosok Oliver Wood duduk sendirian di sudut. Dia tampak lelah dan murung. Ada sebotol besar Wiski Api dan gelas besar di meja di depannya.
Aku ragu-ragu, apa aku harus menghampirinya sekarang? Meminta maaf karena tidak memenuhi undangannya atau sekedar menyapanya. Tapi bagaimana kalau dia benar-benar marah padaku? Karena aku sudah menyia-nyiakan tiket pemberiannya—tiket itu pastilah tidak murah harganya.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya. Aku menarik napas panjang sebelum berjalan mendekati mejanya.
"Hai," sapaku.
Oliver mendongak. Sejenak kami bertatapan sebelum dia mengalihkan padangannya dariku. "Kau," hanya itu yang dia ucapkan sebagai balasan, sama sekali tidak tersenyum. Oliver menuangkan cairan dalam botol ke gelasnya dan menegaknya banyak-banyak.
Aku berdiri saja di depannya, menggigit bibir. Ya ampun, Oliver sepertinya memang benar-benar marah padaku.
"Oliver, soal yang kemarin… aku benar-benar minta maaf. Aku ingin sekali datang, tapi—"
"Sudahlah, Kat," selanya sambil mendengus keras. "Pergilah. Aku sedang ingin sendirian."
"Tapi—"
"Kubilang pergi saja!" bentaknya membuatku terkejut. Keterkejutanku pastilah tergambar jelas di wajahku karena Oliver menambahkan lebih lunak, "Sori, Kat. Aku sedang ingin sendirian sekarang. Bisa tolong tinggalkan aku, please?"
Aku mengangguk singkat dan pergi. Aku benar-benar ingin menangis saat itu. Dia marah. Oliver pastilah sangat marah padaku, sampai membentakku seperti itu. Atau mungkin… kata suara lain dalam kepalaku, dia begitu bukan karena kau. Mungkin ada persoalan lain yang membuatnya seperti itu, tapi bukan kau.
Aku mendengus pelan, merasa geli pada diriku sendiri. Mungkin memang bukan karena aku. Memangnya siapa aku sampai kedatanganku ke pertandingannya begitu penting? Aku bukan siapa-siapanya, hanya seorang penjaga toko yang kebetulan sering dikunjunginya. Itu saja, tidak lebih. Mendadak aku menyadari kalau aku terlalu tinggi berangan-angan.
Tidak. Tidak boleh, aku menegur diriku sendiri. Kau tidak boleh terlalu mengharapkannya, Kattleen. Kalau dia tidak membalas perasaanmu, kau akan sakit sendiri!
Yeah, benar. Berhenti berkhayal dan kembali pada kenyataan!
Aku pergi ke toko dengan langkah lebih ringan, bersiap menghadapi hari yang sibuk. Tapi tetap saja, bayangan Oliver dan pandangannya yang dingin pagi itu menggangguku terus.
"Aku bertemu Oliver Wood tadi pagi di Leaky Couldron," aku memberitahu Elmyra siangnya saat kami sedang istirahat makan siang sementara tugas kami digantikan beberapa orang karyawan paruh waktu. "Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik. Dia murung dan er—sedikit emosional,"
"Wood yang pemain Puddlemere United itu?" tanya Elmyra.
Aku mengangguk seraya menggigit potongan sandwich tunaku.
"Kenapa ya kira-kira?" katanya, mengerutkan alisnya yang diukir.
"Oooh…" kata Fergie keras, membuatku dan Elmyra terlonjak. "Mungkin karena Quidditch,"
"Bisa tidak sih kau tidak mengagetkan orang?" tukas Elmyra jengkel.
"Apa yang terjadi, Fergie?" tanyaku penasaran.
"Tahu kan, waktu pertandingan uji coba Puddlemere United melawan The Tornados kemarin, PU kalah telak. Yeah, menurutku pantas saja, karena mereka menggunakan Keeper dan Seeker baru yang seharusnya menjadi pemain cadangan," papar Fergie, pura-pura tidak mendengar protes Elmyra.
"Temanmu itu main sebagai apa di PU? Chaser?" Fergie menanyaiku.
"Keeper," jawabku muram. Sekarang aku paham kenapa Oliver bisa sampai begitu marah.
"Oh," kata Fergie, mendadak salah tingkah. Dia melahap hotdognya dalam satu gigitan besar. "Tapi tidak usah risau, Kat. Karena itu hanya pertandingan pemanasan dan tidak masuk hitungan pertandingan inti. Jadi PU masih punya peluang," ujarnya setelah menelan hotdognya dangan susah payah.
"Fergie benar, Kat," kata Elmyra setuju. Fergie memberinya tatapan tak percaya, seolah Elmyra telah memberinya pujian setinggi langit. Tumbeeeen…
Yeah, mungkin karena itu Oliver bersikap seperti tadi. Dia pasti merasa telah mengacaukan pertandingan pertamanya.
Seharian toko benar-benar penuh. Orang-orang berdesakan dan berebut pernak-pernik Quidditch. Pengunjung baru berkurang saat sudah gelap. Aku lega sekali ketika akhirnya pengunjung terakhir membayar lencana dan miniatur sapu yang dibelinya.
"Huff… akhirnya selesai juga!" seru Elmyra seraya memijit-mijit tangannya yang pegal.
"Hari ini aku benar-benar capek!" keluh Fergie keras-keras sambil mengacak rambut kribonya.
"Kerja bagus, anak-anak!" gelegar Mr Flummers senang.
Dalam sepuluh menit kami semua sudah bersiap untuk pulang. Kami tidak ingin berlama-lama di toko, pinginnya cepat-cepat sampai di rumah, makan malam dan langsung naik ke ranjang dan tidur. Hari yang sangat melelahkan.
Seperti biasa, aku pulang melewati Leaky Couldron. Kali ini bar itu sudah tidak seramai paginya. Tom sedang membereskan cangkir-cangkir yang bertebaran di meja. Dengan lambaian tongkatnya, cangkir-cangkir itu terangkat dari meja dan melayang patuh ke bar, berdentang keras ketika mendarat.
Aku terkejut sekali ketika melihat ke sudut tempat Oliver duduk paginya, dia masih ada di sana! Menelungkup lemas di meja. Aku bergegas mendekatinya.
"Oliver?" kataku seraya menepuk bahunya.
Oliver mengerang sedikit, mengangkat kepalanya dari lengannya yang terlipat. Matanya tidak fokus dan dia menyeringai menyeramkan ketika melihatku. Aroma keras Wiski Api menguar dari mulutnya.
"Kattleen," ujarnya parau sambil mengulurkan tangan menyentuh wajahku. "Akhirnya kau datang… Aku sudah menunggumu lama… Pertandingannya sudah selesai dari tadi… hik!" dia mulai cegukan.
"Oliver, kau mabuk," kataku cemas.
Tapi tampaknya dia tidak mendengar ucapanku karena dia terus bicara dengan suara yang makin lama makin tak jelas, "Aku mengacaukan pertandingan, Kat… hik! Kebobolan… hik! Dua puluh gol… hik!" sekarang air mata mengalir di wajahnya. "Dan kau tidak datang!" teriaknya mendadak marah. Oliver mencengkeram kedua lenganku dan mengguncang tubuhku keras sekali sampai kepalaku pusing. "Kau sudah janji akan datang tapi kau tidak datang!"
"Oliver, tenanglah dulu. Kau sudah benar-benar mabuk!" aku berusaha melepaskan cengkeraman Oliver pada lenganku.
"Aku menunggumu lama, Kat…" bisiknya parau sebelum akhirnya ambruk.
"Tom, tolong bantu aku!" teriakku panik pada si pelayan bar. Tom tergopoh-gopoh mendekat sementara aku menahan tubuh Oliver supaya dia tidak terjatuh ke lantai.
Tom membantuku memapah Oliver, membawanya ke salah satu kamar kosong. Kami membaringkannya di tempat tidur. Dia tampak sangat kacau, wajahnya merah padam dan rambutnya berantakan. Mendadak rasa bersalah yang amat sangat melandaku. Benarkah yang dia katakan tadi? Bahwa dia menungguku? Atau dia tadi hanya merancau?
"Apa kau punya tonik untuk menghilangkan mabuk atau sejenisnya, Tom?" tanyaku pada si pelayan bar.
Tom mengangguk dan bergegas keluar kamar. Aku menarik kursi ke dekat tempat tidur Oliver dan duduk, memandangi wajahnya yang tampak letih. Oliver, aku sungguh-sungguh minta maaf… batinku sedih. Tak lama kemudian, Tom kembali dengan membawa sebotol tonik yang kuminta.
"Trims, Tom," ucapku, menerima botol tonik dari Tom.
"Apa kau juga mau menginap di sini?" Tom menanyaiku.
"Entahlah. Lihat nanti," ujarku datar. Sekali lagi Tom mengangguk dan berbalik pergi.
Aku membuka botol tonik yang tadi kuminta dari Tom. "Oliver, minum ini. Kau akan lebih baik…" kataku seraya mendekatkan botol itu ke bibir Oliver. Tapi dia yang setengah sadar hanya menggerutu tak jelas dan memalingkan wajahnya, lalu tertidur.
Aku menghela nafas sambil menutup kembali botol yang kupegang, meletakkannya di meja samping tempat tidur. Oliver memang butuh tidur sekarang. Mudah-mudahan besok dia sudah jauh lebih tenang. Aku menaikkan selimutnya sampai ke dagu.
Beberapa lama aku hanya duduk di sisinya, aku tidak tega meninggalkannya sekarang. Apalagi dia tampak kacau begitu…
Bersambung…
