Chapter 1

.

.

"Aku mungkin tak punya ingatan yang cukup baik.

namun anehnya,

aku selalu ingat tiap patah kata yang pernah kau ucapkan."

.

.

Bunyi alarm hampir memenuhi seluruh ruangan dini hari itu, membuat dua orang yang bersembunyi di balik selimut hangat menggeliat tak nyaman. Salah satu lengan panjang akhirnya meraih si penyebab suara, mematikan deringan bising dengan mengetuk layar ponsel sebelum menggeliat sekali dan mendorong tubuhnya untuk bangun terduduk.

"Ini… Masih… Jam… pagi…belum…" lelaki berambut coklat tua yang berada di samping kedengaran mengomel, menarik selimutnya untuk menutupi ujung kepalanya. Ia masih ingat betul dua jam lalu ia baru selesai mandi dan menenggelamkan kepalanya di bantal, tapi tak ingat betul kenapa harus menyetel alarm sedini ini, ini bahkan bukan musim pertandingan sepak bola yang tayangnya setiap tengah malam.

Si rambut hitam yang sudah terduduk di sampingnya menguap sekali, memperhatikan layar ponsel dan menoleh ke samping, menekuk badannya hingga berjarak cukup dekat dengan lelaki di sampingnya. "Baek~ Baekhyunee… Ayo bangun…" bisiknya pelan, menepuk-nepuk yang Chanyeol asumsikan bahwa itu pundak temannya. "Baek—"

"Hmm~" Baekhyun membalas seadanya, ia bersumpah, ia yakin ini masih jam tiga pagi dan ia tak habis pikir kenapa Chanyeol harus membangunkannya di pagi buta begini.

"Katamu kau ingin makan sushi yang paling segar di Jepang, eoh?" masih dengan suara serak, Chanyeol menanyai temannya yang masih enggan membuka selimutnya itu. "Baek—"

"Lain kali saja—" gumam Baekhyun. "Masih ngantuk~" tambahnya, dengan erangan manja di tiap akhir kata.

.

.

Salmon, Unagi, Nato.

Jangan protes! Kalau mau yang lain harusnya kau ikut denganku tadi.

Kupikir akan sedikit menyenangkan memakan sushi denganmu di hari terakhirku di Jepang, tapi sepertinya kau lebih sayang bantalmu itu.

Aku harus pergi ke Macau pagi-pagi, baru dikabari manager semalam, sepertinya akan lima atau enam hari di sana.

ps: Tolong simpankan boneka rilakuma-ku, aku lupa membawanya karena kau memeluknya semalam. Thx.

-PCY

.

.

Baekhyun berkedip cepat, membaca memo pendek yang terletak di atas kotak bungkusan yang ternyata berisi macam-macam sushi favorit nya. Ia baru sadar kalau dini pagi tadi Chanyeol membangunkannya untuk ini, ia baru sadar juga kalau tempo hari ia pernah mengatakan kalau suatu saat ia ada kesempatan ke Jepang lagi, ia ingin sekali-kali makan sushi fresh yang paling terkenal di Jepang, yang menurut kabar adanya cuma sampai jam empat pagi.

"Masih ingat saja, aku saja sudah lupa." gumamnya sambil membuka bungkusan yang ada di depannya dengan senyum merekah.

Baekhyun mengerucutkan bibir, memperhatikan kepulan asap dari dalam cangkir porselen di hadapannya dengan pandangan meratapi. Berkali-kali ia membuka dan mengunci kembali layar ponselnya, seperti anak gadis yang sedang ngambek dengan kekasihnya.

Ping! lagi-lagi suara dentingan tanda ada notifikasi, dengan cepat baekhyun menyabet ponselnya, namun dengan cepat pula ia mendengus kecewa, kembali ia lempar gadget itu ke atas meja – tak terlalu keras tentunya – dengan muka ditekuk dan kedua alis yang hampir menyatu.

"Kali ini benar-benar tak akan kuangkat!" umpatnya, melipat kedua lengan di depan dada, namun sayangnya, sepuluh detik kemudian gadget itu bergetar lagi. "Huh? Kali ini aku ngga akan tertipu, ngga akan!" gerutunya, meskipun akhirnya lima detik kemudian ia meraih benda bergetar itu dan mengetuk layarnya sekali.

"Yobboseyo~" sapa yang berada jauh di sana.

"…." Baekhyun tak menjawab, masih memasang ekspresi kesal.

"Senyum dong~ Jangan cemberut gitu~" lanjut seseorang di seberang sana seakan bisa melihat mimik Baekhyun saat ini.

"Kau ini pergi ke Macau atau ke Afrika sih?!" Terdengar suara terkekeh di seberang. "Yah! Aku sedang tidak bercanda! Kau bilang dalam dua hari kau akan mengabari, ini sudah hari ketiga! Senang sekali membuat orang khawatir."

"Heheh, maaf maaf…." suara tawa di seberang mereda. "Aku tidak tahu jadwalnya akan sepadat ini, sehabis schedule aku langsung ke hotel kemudian tidur, maaf deh…"

Baekhyun mendengus.

"Sudah makan?"

Baekhyun terdengar menarik nafas. "Sudah…" jeda beberapa saat. "Terimakasih juga sushi-nya. Lain kali kita bisa pergi bersama kalau kau mau. Maaf kemarin waktu di jepang membuatmu pergi sendirian pagi-pagi buta."

"…." tak ada jawaban.

"Chanyeol?" Baekhyun melihat layar ponselnya sebelum menempelkannya kembali ke telinganya. "Halo?"

"Oh, ya ya. Maaf tadi diajak bicara manager. Ada apa? Oh sushi itu? Tak masalah… Lain kali kita makan sushi dari supermarket saja."

"Hm? Kapok ya?" terdengar nada kecewa dari kalimat Baekhyun.

Suara candaan dari seberang telepon menghilang. "Nggak kok… Salahku juga sih, lain kali aku akan memberitahumu dulu kalau mau mengajak. Ok?"

Baekhyun tersenyum.

"Baek?"

"Hm?"

"Mau warna merah atau hitam?"

"Huh?"

"Aku sedang jalan-jalan mencari souvenir, sekalian lihat-lihat earphone. Kalau tidak salah earphone kesayanganmu sudah tidak berfungsi kan? Ini ada yang mirip sekali dengan punyamu."

"…."

"Baek?"

"T-terserah..."

"Jangan gitu dong… Ini permintaan maaf karena telah membuatmu khawatir…"

"Merah deh… Hitam aku sudah punya."

"Baiklah…"

.

.

Baekhyun menghela nafas panjang, pandangannya tertuju pada cermin besar dengan pantulan gambar dirinya yang sedang sibuk mengatur dasi di sela-sela kerah kemeja putihnya. Sesekali ia melirik jam yang terletak di sisi kiri ruangan, pikirannya terbagi antara jadwalnya sendiri yang sudah harus berangkat sepuluh menit lagi agar tidak terlambat dan jadwal kedatangan pesawat yang sempat Chanyeol kirimkan tadi pagi.

Seandainya saja hari ini ia tidak ada jadwal, atau seandainya saja jadwalnya satu jam lebih lambat dari sekarang, mungkin ia akan memilih untuk ikut dengan manager untuk menjemput Chanyeol. Namun sayang, apa mau dikata, dengan berat hati Baekhyun harus mengakhiri sesi berkaca-nya, memastikan penampilannya nampak baik-baik saja sebelum menyambar sepatu hitam licin yang sudah disiapkan manager untuk kemudian melesat meninggalkan dorm.

"Baekhyun-ah, tunggu sebentar yah." sang manager menepuk bahu Baekhyun, mengisyaratkan dengan menunjukkan telapak tangan agar Baekhyun berhenti di tempat. Si rambut coklat sontak terdiam kaget, berkedip-kedip saat menyadari mobil SUV yang biasa ia naiki tidak berada di tempat seperti biasanya, ia memutar tubuh dan mendapati sang manager bercakap melalui ponsel, kemudian mengarahkan pandangan ke jalan dimana mobil hitam bergerak mendekati.

Baekhyun mengikuti gerak mobil, sampai akhirnya berhenti sekitar tiga meter darinya, suara mesin masih menyala saat pintu mobil tiba-tiba menggeser terbuka, memperlihatkan sosok tinggi dengan jaket hitam tebal serta syal merah melingkar di sekitar lehernya. "Baekhyunee~" suara berat menyapa telinganya membuat Baekhyun membuka mulutnya pelan, namun belum sempat ia mengeluarkan suara, pandangannya sudah tertutup oleh syal merah halus, ia melangkah mundur dua langkah saat Chanyeol memeluknya seperti anak lima tahun yang habis ditinggal ibunya seminggu, sungguh lucu.

"Huh?" Baekhyun memicingkan mata, memundurkan kepalanya agar bisa melihat Chanyeol dengan benar. "Kok sudah pulang? Katamu kau sampai jam dua siang?"

"Heheh, maaf… Aku salah baca schedule nya…"

Baekhyun melirik tajam.

"Maaf… maaf…." Chanyeol terkekeh, memamerkan gigi-gigi putihnya sebelum merangkul sahabatnya itu kembali. "Huff… Padahal ini cuma lima hari, kenapa rasanya seperti lima tahun?" ujarnya sambil menepuk-nepuk belakang kepala Baekhyun, merasakan Baekhyun yang juga memberikan tepukan pelan di bahunya.

.

.

Terkadang aku hanya ingin tahu tentang dirimu

apa yang ada dalam kepalamu

apa yang ada dalam pikiranmu

bagaimana perasaanmu….

.

Bukan suatu rahasia, apabila jika ada suatu masalah, maka semua member akan berbicara dengan Suho, sang leader yang pastinya bisa membantu member entah apapun itu – Mungkin keuangan juga akan terdaftar di list. Namun pada suatu siang, saat Chanyeol telah selesai melakukan sesi photoshootnya, ia sempat melirik Kris, leader dari sub-grup Exo-M, memilih berbicara dengan Luhan di tempat yang menurutnya sedikit sepi dan terjarak dengan member lain. Ia awalnya tak begitu menghiraukan, namun setelah dua tiga kali mendapati pemandangan yang sama, Chanyeol tahu bahwa ada sesuatu hal yang telah terjadi dan ia berpikir-pikir apakah sebaiknya ia sedikit turut campur akan hal itu.

"Chan~" Chanyeol menoleh, mendapati Baekhyun menatapnya lurus, entah kenapa, sedari tadi telinganya yang cukup besar itu tidak seratus persen berfungsi, mungkin karena pikirannya sedang kemana-mana. "Mikirin apa?"

Chanyeol menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum pada lelaki di sampingnya yang membalasnya dengan muka cemberut. "Ga apa-apa…"

"Ga apa-apa gimana? Lihat nasimu yang terus kau aduk bermenit-menit itu, jijik tau, mau makan ga sih?"

"Huh?" Chanyeol menunduk, mendapati menunya yang… Yah, mirip seperti apa yang dikatakan Baekhyun tadi.

"Sudah sadar? Kalau memang nggak nafsu makan, mending kita pergi saja, aku sudah selesai."

"Yah yah, Baek, tega sekali… Lagipula sandwich-mu kan belum habis…"

"Ini?" Baekhyun mengangkat sandwich-nya yang tinggal sekali suap, mengarahkannya ke mulut Chanyeol yang setengah terbuka, menyuapi si jangkung yang memasang muka melongo. "Sudah habis kan?" Baekhyun melompat turun dari kursinya, menjilat sisa saus di jari tengahnya sambil lalu. "Ayo pulang."

"Bwhaek,, phwu-phwunggu…" ujar Chanyeol dengan mulut penuh.

.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Baekhyun masih sibuk mengamati layar ponselnya sambil menyandarkan bahu lelahnya di tumpukan bantal. Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka menyapa telinganya, dan aroma khas shampo seperti mint memenuhi seluruh ruangan, ia menghitung dalam hati, sampai lima, dan ia merasakan matras ranjangnya bergerak, kemudian ia menghitung lagi, tak sampai tiga detik kemudian merasakan handuk lembut menyandar dengan kasual di bahunya dan beberapa helai rambut basah menyentuh pipinya.

"Membaca apa hm?" Baekhyun bisa mendengar suara berat di sisi telinganya, hembusan nafasnya juga, Baekhyun hanya menghela nafas pelan saat kepala yang bersandar di pundaknya sedikit memiring untuk mengintip apa yang terpampang di layar ponselnya.

"Mau tau saja." Baekhyun memiringkan ponselnya, menjauhi jarak pandang si pengintip, ia hendak menggeser tubuhnya saat sebuah lengan panjang melingkar di perutnya, menahannya agar tak bergerak.

"Sorry sorry sorry. Oke oke aku ngga akan ngintip, tapi jangan bergerak, begini saja…" Chanyeol mengeratkan tangannya. "Begini sangat nyaman, jangan bergerak, ya?"

Baekhyun hanya bisa kembali ke posisinya dengan dengusan pelan.

"Chan?"

"Hm?"

Baekhyun melirik dari sudut matanya, memandangi Chanyeol yang masih dengan posisi sama, dengan kedua mata tertutup dan ritme nafas pelan. "Kau tidak mau cerita sesuatu padaku?"

"Hm?"

"Beberapa kali kau bengong. Tidak biasanya. Barangkali mau cerita sesuatu?"

Chanyeol mendadak menegakkan kepalanya, memandang lawan bicaranya. "Umm… Aku… Beberapa kali melihat Kris hyung, sepertinya membicarakan sesuatu dengan Luhan, entahlah mungkin aku terlalu berlebihan tapi bagaimana ya—"

"Oh itu…" Baekhyun mengangguk, Chanyeol memiringkan kepalanya tak mengerti. "Aku sudah dengar kabarnya, tapi belum tau pasti."

Chanyeol masih mengedip tak mengerti.

"Kabarnya Kris hyung menemui pengacara beberapa hari lalu. Tidak tau sih apa yang dibicarakan. Tapi sepertinya, menyangkut soal managemen, soal karir…" Baekhyun menghentikan kalimatnya, mendapati Chanyeol yang mulai mengernyitkan dahi. "Tapi belum pasti juga sih…"

"Ini akan rumit…." Chanyeol menggumam, menggosok-gosokkan handuknya yang sedari tadi hanya menggantung di kepala. "Bagaimana yah…"

"Semua orang punya pilihan. Apalagi soal karir semacam ini." Baekhyun memberi jeda. "Ini kan pekerjaan, kalau cocok ya lanjut, kalau tidak, boleh saja keluar, kan?" Baekhyun mengakhiri kalimatnya, menjelaskan dengan teori yang logis.

"Iya sih. Tapi bagaimana dengan fans? Penggemar pasti sedih…" sahut Chanyeol, berhenti mengusap kepalanya, kemudian menggantungkan handuknya di leher.

"Jangan langsung berasumsi gitu juga sih." Baekhyun membenahi posisi duduknya, kembali menatap layar ponsel. "Kau sendiri membuat penggemarmu galau dengan berita baru huh."

"Heh? Berita apa lagi?"

"Yang waktu itu, pacar pertama atau apalah. Kau ketemuan lagi dengannya kan? Mengaku saja."

"Huh? Apaan sih? Kapan ketemunya? Aku kan sibuk terus, aku bahkan—" Chanyeol tiba-tiba mengangkat sebelah ujung bibirnya nakal. "Fans yang sedih atau kau yang cemburu nih~?"

"Huh?" Baekhyun menoleh sewot. "Yasudah terserah deh, sebaiknya ga usah bahas lagi, malas jadinya."

"Yah yah yah, Baek, maaf deh…" Chanyeol terkekeh pelan. "Nggak kok, itu nggak benar… Apaan juga."

Baekhyun terdiam sesaat, mengendurkan urat tegang di wajahnya, lagi-lagi jarinya memainkan layar ponsel. "Tetapi kalau saja…. Seandainya saja cinta pertamamu itu mengajak ketemuan lagi, apa kau mau?"

Terdengar suara dengusan pelan, Baekhyun mengasumsikan Chanyeol mungkin sedang berpikir sambil memutar bola matanya yang besar itu. "Tidak tahu."

Baekhyun mengerucutkan bibir, mungkin membuat monolog dalam hati yang ia tak ingin seotang pun tahu. Ia mengambil nafas panjang saat tiba-tiba kalimat 'Menurutmu bagaimana?' terdengar di telinganya. "Hm?" Ia menoleh tak yakin ke arah Chanyeol.

"Bagaimana menurutmu?" Chanyeol mengulangi.

"Kenapa harus tanya pendapatku?"

"Yah… Mungkin saja kau bisa memberi saran… Aku sendiri tak tahu harus menjawab apa kalau kau tanya begitu."

"Emm, itu kan tergantung perasaanmu." Baekhyun menjawab asal, lagi-lagi menghindari tatapan Chanyeol yang tertuju padanya. "Kalau kau masih ada perasaan ya balikan saja ga apa-apa."

"Tapi perasaanku… Bagaimana kalau ada perasaan lain yang tumbuh?" kalimat Chanyeol sontak membuat Baekhyun menoleh. "Iyah. Seandainya saja, ada perasaan… Tapi untuk orang lain…"

"Huh? Kau sedang ada perasaan pada orang lain? Sekarang? Kau jatuh cinta? Siapa?"

"Tenang tenang…." Chanyeol terkekeh lagi, mendapati temannya yang menanyai seperti kereta itu membuatnya geli. "Nggak tau jugasih, entah ini cinta, suka, atau… Aku kurang tahu, bingung."

Baekhyun mendengus kecewa, lagi-lagi ia menunduk dan memperhatikan ponselnya. "Kalau nggak yakin begitu mending balikan saja sama cinta pertamamu. Lebih baik kau punya pacar, daripada bimbang begitu—"

"Kau…." Chanyeol memotong kalimat Baekhyun. "Kenapa kau peduli sekali dengan urusan percintaanku? Kau sedang—Sedang tidak jatuh cinta padaku juga kan?"

BUGH! Sebuah bantal melayang menghantam kepala Chanyeol. "Adu-duh…" Chanyeol mengusap kepalanya pelan.

"Sekali-kali serviskan kepalamu itu! Makanya jangan kebanyakan makan MSG jadinya keruh kan itu kepala." protes Baekhyun.

"Habis… Kau mewawancaraiku seperti sesaeng fans saja, aku sendiri ngga ambil pusing soal seperti itu…"

"Yaudah deh terserah mau kau balikan sama cewek itu, mau kau pacaran sama kambing, aku ngga perduli, aku mau mandi saja!" Baekhyun beranjak, menampik tangan Chanyeol yang hendak meraihnya.

"Kalau aku mau pacaran denganmu, masa tetap nggak perduli hm?" tanya Chanyeol menggoda. "Baek~"

"Tau ah! Ngga mau dengar lagi!"

"Baek, seriusan ayo kita pacaran saja!"

"Pacaran saja sana sama anak sapi!"

Chanyeol terkekeh melihat Bakehyun yang berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki menuju kamar mandi.

.

.