Chapter 5

Tok tok tok…

Siapa sih yang mengetuk pintu pagi-pagi begini? Ah, mungkin Mum…

Tok tok tok…

"Sebentar lagi Mum…" gerutuku sambil membuka mataku yang terasa berat. Sejenak aku bengong, aku bukan sedang tidur di kamarku. Dan aku juga tidak tidur di tempat tidur, aku terduduk di kursi dengan kepala menelungkup ke tempat tidur. Ah, aku pasti tertidur semalam saat sedang menunggui...

Oliver? Dia masih tertidur. Aku merasakan bahuku terasa berat. Rupanya tangan Oliver menggeletak di bahuku. Aku memindahkan tangannya hati-hati dari bahuku ke sisi tubuhnya sebelum beranjak ke pintu.

"Pagi, Tom," sapaku mengantuk pada Tom yang berdiri di ambang pintu, membawa nampan berisi teko berisi air dan piala.

"Pagi," balasnya ramah. "Ah, rupanya kau juga menginap semalam?"

"Aku ketiduran," kataku agak malu seraya minggir, memberi Tom jalan untuk masuk ke dalam kamar.

"Begitu… Dia belum bangun?" Tom berjalan masuk.

Aku menoleh memandang Oliver di tempat tidur. "Belum. Er… jam berapa sekarang?"

"Sudah hampir jam sembilan," jawab Tom sambil meletakkan nampannya di meja di samping tempat tidur Oliver.

"Astaga! Aku harus ke toko sekarang!" sahutku panik. Aku bergegas menyambar tasku di sisi tempat tidur. Tapi sebelum aku sempat meninggalkan kamar, Oliver bersuara.

"Kattleen..." suaranya serak dan mengantuk.

Gerakanku terhenti. Aku menoleh. Oliver sudah bergerak sekarang, perlahan membuka matanya. Tapi langsung mengernyit sambil menutupi matanya dengan tangan karena silau. Tempat tidurnya memang berada tepat di bawah jendela, tempat satu-satunya sumber cahaya matahari berasal.

"Oh, dia sudah bangun," seru Tom. Dia menoleh padaku, "Kau yakin mau pergi, Kat?" tanyanya sambil tersenyum.

Aku menggigit bibir, bingung apakah aku akan meninggalkan Oliver di sini dan segera berangkat kerja atau menungguinya dengan resiko dimarahi oleh Mr Flummers?

"Kalau begitu sebaiknya aku pergi. Bar sudah mulai ramai..." ujar Tom sebelum pergi meninggalkan kamar.

"Kat..." suara Oliver membuyarkan lamunanku.

Kali ini tanpa ragu aku menghampirinya, duduk di sisi tempat tidurnya. "Oliver?" aku membantunya duduk.

"Di mana aku?" tanyanya sambil memandang berkeliling dengan bingung sebelum akhirnya memandangku. "Kat?"

"Kau ada di Leaky Couldron," kataku sambil menuangkan air ke piala dan menyorongkannya pada Oliver. "Semalam kau mabuk berat."

"Semalam?" katanya bingung. Wajahnya berkerut seperti menahan sakit. Tangannya terangkat ke kepalanya. "Kepalaku sakit sekali... seperti terhantam Bludger..."

"Sepertinya kau sudah menegak Wiski Api terlalu banyak," aku mengambil botol tonik yang diberikan Tom semalam. "Minum ini dengan air, Oliver..."

Oliver menurut. Dia menegak tonik dalam botol itu sampai habis, meminumnya bersama air yang kuberikan padanya.

"Terimakasih," ucapnya sambil mengembalikan piala dan botol kosong itu padaku yang langsung meletakkannya di atas meja.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyaku cemas.

"Sudah lebih baik," jawabnya sambil tersenyum samar. Tapi tiba-tiba matanya melebar menatapku seperti baru menyadari kehadiranku. "Kattleen? Sedang apa kau di sini?"

"A—aku... aku—" kataku tergagap.

"Kau menungguiku di sini semalaman?" Oliver bertanya.

"Yeah... Aku hanya—"

Kata-kataku terputus karena Oliver tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya.

"O—Oliver..." gagapku. Wajahku memanas dan aku segera dilanda kecemasan. Bagaimana kalau dia sampai bisa merasakan gedupan jantungku??

"Maafkan aku, Kat. Aku pasti sudah merepotkanmu, sudah membuatmu cemas..." katanya selagi dia memelukku.

"Kau mabuk sekali semalam. Aku hanya tidak tega meninggalkanmu sendirian,"

Oliver semakin mempererat pelukannya. "Aku kacau sekali, Kat..."

Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar sekarang. Namun kemudian dia melepaskan pelukannya dan aku bisa melihat matanya basah.

"Aku sudah mengacaukan pertandingan—" Oliver mengulangi kembali apa yang sudah dikatakannya padaku semalam—dalam keadaan mabuk—"Aku tidak tahu apakah mereka akan memecatku setelah ini."

Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya, jadi aku hanya mengulurkan tanganku dan menggenggam tangannya. Dia balas meremas tanganku, memaksakan senyum.

"Mereka tidak akan memecatmu," kataku pada akhirnya setelah sunyi lama, "Kau pemain hebat. Aku sudah menyaksikan permainanmu selama bertahun-tahun saat kita di Hogwarts..."

Oliver menatapku, tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum. Membuatku gugup. Aku menarik kembali tanganku dari genggamannya.

"Dan... yah, yang kemarin itu kan hanya pertandingan uji coba. Kau masih punya kesempatan untuk membuktikan diri sebagai Keeper hebat," aku menambahkan tanpa memandangnya, melainkan mengalihkan pandangan pada lututku.

"Kau tidak datang kemarin, Kat..." kata Oliver pelan.

Aku semakin tertunduk, merasa bersalah.

"Maaf..." ujarku, lebih pelan dari sebelumnya. "Ibuku sakit dan aku harus menungguinya di StMungo. Karena itulah aku tak bisa datang."

"Begitu..."

"Apa kau marah?" tanyaku takut-takut, teringat bagaimana ekspresi Oliver semalam. Saat dia mabuk...

Sejenak, Oliver tidak menjawab. Tapi kemudian aku merasakan sentuhan pada daguku. Oliver telah memaksaku menengadahkan wajah memandangnya. Wajahnya yang tampan tersenyum. Wajahku merona. Dia terrasa begitu dekat.

"Aku tidak marah, aku mengerti," ujarnya lembut sambil tersenyum. "Tapi tahukah kau, Kat, kehadiranmu ke pertandinganku berarti segalanya untukku. Aku sangat ingin kau hadir."

Aku mengerjap. Kurasakan wajahku memanas. Hei, aku sedang tidak bermimpi kan?

"Er—memangnya kenapa, Oliver?" tanyaku sambil menatap matanya lekat-lekat, mencoba menemukan adanya kesungguhan di sana. Atau kebohongan... Gombal... Aku tak ingin berharap terlalu tinggi, walaupun aku sudah memimpikannya lama sekali. Semenjak aku di Hogwarts.

Aku mendengar Oliver tertawa kecil, tapi dia belas menatapku. "Yeah, aku juga tidak begitu mengerti. Tapi kurasa aku sudah jatuh cinta padamu, Kattleen..."

Like the sound of silence calling
I hear your voice and suddenly
I'm falling, lost in a dream
Like the echoes of our souls are meeting
You say those words and my heart stops beating
I wonder what it means
What could it be that comes over me?
At times I can't move
At times I can hardly breath

When you say you love me
The world goes still, so still and silent
When you say you love me
For a moment, there's no one else alive

You're the one I've always thought of
I don't know how, but I feel sheltered in your love
You're where I belong
And when you're with me if I close my eyes
There are times I swear I feel like I can fly
For a moment in time
Somewhere between the Heavens and Earth
And frozen in time, Oh when you say those words…

Jantungku serasa berhenti berdetak ketika Oliver mengucapkan kata-kata itu. Udara seakan menyusut, aku tak bisa bernapas. Telingaku berdengung. Suara ramai orang-orang di luar kamar mendadak lenyap. Yang tersisa hanyalah gaung suara Oliver, "Aku sudah jatuh cinta padamu, Kattleen..."

"Kau sedang bercanda, Oliver..." akhirnya aku menemukan suaraku kembali, meskipun terdengar aneh. "I—Iya kan?"

Oliver tersenyum lembut seraya meraih kembali tanganku—kali ini keduanya—menggenggamnya erat dan membawanya ke dadanya.

"Aku serius, Kat. Aku pun tidak mengerti karena kejadiannya begitu tiba-tiba. Yang kurasakan saat melihatmu, saat dekat denganmu, saat aku mengunjungi tempat kerjamu, seolah aku sudah mengenalmu lama. Aku tidak mengerti, Kat. Aku jatuh cinta padamu dan yang kuinginkan adalah kau selalu dekat di sisiku."

Mataku memanas. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.

Aku juga mencintaimu, Oliver. Jauh sebelum ini. Mungkin itulah yang membuatmu merasa mengenalku, meskipun kau baru menyadari kehadiranku sekarang...

"Kat? Kau masih di sini kan?" Oliver mengguncang tanganku.

Air mataku tumpah. Aku menggigit bibir. Tubuhku gemetar menahan isakan.

"Kattleen, ada apa?" kata Oliver terperanjat. Dia mengulurkan kedua tangannya menghapus air mata di pipiku.

Aku terisak semakin keras. Aku tak mengerti… Aku bahagia, saking bahagianya sampai terasa menyesakkan. Saat berikutnya aku sudah tenggelam dalam pelukan Oliver sekali lagi, dan menumpahkan tangis bahagia di dadanya.

Bersambung...

Pakai lirik lagu "When You Say You Love Me"-nya Josh Groban dari album Closer. I luv this romantic song so much.

Gyaaa... picisan gak sih? Bukan orang yang romantis sih...