Chapter II

.

.

"Seandainya aku yang pergi, bagaimana?"

"Itu nggak mungkin, dan nggak akan kubiarkan terjadi."

.

.

Waktu berjalan sangat cepat, itulah yang terkadang terlintas di kepala Baekhyun. Entah saat ia sedang menunggu pesanan kopi di coffee shop langganannya, atau ketika sedang melihat hujan di balik jendela, atau ketika ia sedang melihat wajah damai sahabatnya, Chanyeol, yang sedang tertidur pulas seperti saat ini.

.

Saat itu musim dingin, ketika Baekhyun memantabkan niat untuk mendaftar sebagai trainee di SM entertaintment. Saat itu ia hanya berbekal niat dan uang saku tak lebih dari sepuluh ribu won, dan tas ransel yang tersangkut di punggungnya. Ia berjalan canggung, menunduk kepada semua orang di sepanjang jalan koridor, berdiri di barisan paling ujung atau mencari tempat yang hampir dipojokan, ia sungguh bukan tipe orang yang gampang bergaul, mengucapkan sepatah dua patah kata saja sudah sangat sulit menurutnya. Ia juga mengingat bagaimana para senior memandangnya dengan tatapan aneh, mungkin hanya perasaannya saja tapi itu benar-benar membuatnya kalut, seakan dihampiri oleh preman sekolahan tukang perampas uang jajan adik kelas.

Baekhyun ingat betul kalau setiap trainee akan mengikuti kelas seperti dance, vocal, acting, datang setiap hari sepulang sekolah dan pulang malam hari. Baekhyun juga tak lupa kalau setelah beberapa bulan beberapa trainee akan dikelompokkan dan akan melakukan latihan bersama. Saat itulah Baekhyun akhirnya menemui beberapa macam teman-teman baru, meskipun semuanya saling tukar sapa dan mengenalkan diri, Baekhyun masih saja merasa asing, masih merasa dirinya sendirian di tempat ketat dan penuh aturan itu, sampai suatu saat ia ingat betul seseorang yang bukan dari kelompoknya datang dan menyapanya, memberikan senyuman lebarnya sembari menyodorkan tangan mengajak berjabat tangan 'Hai, namaku Chanyeol' anak itu berucap, untuk sepersekian detik, membuat Baekhyun mematung dan bengong, 'a-aku Baekhyun' balasnya singkat.

.

Hari-hari masih seperti biasanya, gedung yang Baekhyun datangipun masih sama, hanya saja suasana hati Bakehyun-lah yang sedikit berubah. Ia berangkat dengan riang, setiap derap-derap langkah kaki menjadi ringan, senyumnya merekah, kini ia tak takut lagi untuk memasuki kelas, tak juga takut untuk memandang teman sesama trainee, ataupun kakak senior. Seseorang bernama Chanyeol yang ia temui sebelumnya yang membuatnya demikian, mengajaknya mengobrol santai, menggosipkan si kakak senior "A" yang dulunya berambut hitam licin berponi pinggir, membeberkan kalau anak trainee paling keren di kelasnya sebenarnya takut cicak, atau hal lain yang tanpa sadar membuat Baekhyun lupa akan ketakutannya.

'Pasti akan seru kalau kau sekelompok denganku.' suatu saat Baekhyun berujar, dan disambut dengan senyuman hangat oleh Chanyeol. 'Semoga itu bisa terjadi.' tambahnya sesaat kemudian.

Entahlah itu karena doa dua anak polos yang memang memohon dengan tulus atau hanya karena beruntung saja, bulan berikutnya, Baekhyun mendapati kalau teman kelompoknya ada perubahan, ia harap-harap cemas, dan saat ditulis di papan pengumuman bahwa seseorang bernama 'Chanyeol' dimasukkan di kelompoknya, saat itu juga Baekhyun langsung berlari dan memeluk bocah yang lebih tinggi darinya itu.

'Kita sekelompok! Kita sekelompok!' pekiknya girang, dan sensasi itu kembali dengan luar biasa kurang lebih dua tahun kemudian, saat ia dan Chanyeol dimasukkan di grup yang sama untuk debut.

.

.

Ia tidur di sofa ruang tamu, kakinya panjang melebihi panjang sofa dan membuat pergelangan kakinya menggantung di tepi, ia masih memeluk boneka coklat besar yang ia gunakan sebagai bantal sekaligus, mulutnya sedikit terbuka, bahkan sweater hitamnyapun belum terlepas.

Baekhyun tersenyum, menutupi tubuh panjang Chanyeol dengan selimut sebelum memutuskan untuk duduk di karpet dan menyenderkan bahunya di meja pendek di belakangnya. Memandangi teman yang sedang tidur memang sedikit aneh, apalagi jika itu adalah teman sesama lelaki, mungkin orang lain akan berpikiran yang tidak-tidak, tapi apa peduli Baekhyun, buatnya Chanyeol sudah seperti keluarga sendiri, bahkan mungkin keberadaanya bisa dibilang lebih dari keluarganya sekalipun yang dapat ia temui hanya tiga empat kali dalam setahun, baginya Chanyeol adalah seseorang yang lebih dari teman, sahabat, atau apalah itu, mungkin jika ia harus menomori membernya, mungkin Chanyeol-lah yang berada di urutan pertama.

Ketika ia sakit, sahabatnya itulah yang sudah pasti akan merawatnya, membelikan obat malam-malam atau keluar di pagi buta untuk membelikannya makan sudah pernah Chanyeol lakukan untuknya. Terkadang Baekhyun bahkan tidak menyadari kalau Chanyeol menemaninya semalaman saat ia terbaring sakit sampai harus opname di rumah sakit, atau pada saat suasana hatinya sedang tak enak, Chanyeol selalu ada di sampingnya, menjadi pendengar, menghibur, mengajaknya jalan, atau setidaknya memberikan pesan singkat untuk menyemangati ketika mereka kebetulan sedang terpisak jarak.

Meskipun di satu sisi, terkadang Baekhyun sempat merasakan iri dengan temannya itu. Jangan singgung soal tinggi badan, tentu saja Baekhyun iri melihat betapa tinggi temannya itu, menurutnya tubuh tinggi memiliki banyak keuntungan daripada orang bertubuh pendek, mau ambil apa saja gampang, mau nonton keributan juga tinggal jinjit, ga perlu loncat-loncat seperti Baekhyun yang bertubuh pendek. Iri karena Chanyeol pandai sekali bermain musik, gitar, drum, apa saja, entahlah tapi menurut Baekhyun lelaki yang bisa main alat musik itu tampak luar biasa keren, dan romantis. Sekali genjreng saja mungkin jutaan wanita di luar sana sudah sibuk mencari ember kesana kemari, mau meleleh. Iri karena dia memiliki kepribadian yang ceria sehingga banyak orang yang menyukainya, tidak terhadap orang seumuran saja, kepada hoobae dan sunbae, bahkan trainee-trainee baru cepat sekali mengenal Chanyeol, tidak kaget pula kalau Chanyeol mempunyai banyak list kontak artis-artis terkenal, baik idol atau aktor dan aktris.

Baekhyun benar-benar iri akan itu semua.

"Ummh—" gumaman Chanyeol membuat Baekhyun terkesiap, ia bertumpu pada telapak tangan kirinya kalau-kalau Chanyeol bergerak bangun, ia bersiap untuk bangkit juga, tapi sepertinya suara tadi hanya erangan biasa karena setelahnya deru nafas Chanyeol mulai terdengar teratur.

Baekhyun kembali duduk ke posisi semula.

.

.

.

.

"Tumben…" Baekhyun yang sedang mengiris paprika terkejut saat suara berat Chanyeol menyapa telinganya. Ia menoleh ke kanan, mendapati Chanyeol yang sedang mengurungnya dari belakang, satu tangan Chanyeol menyentuh bahu kirinya dan satunya lagi bertumpu pada meja. "Mau membuat apa?"

"Apa yah, sosis, paprika, sama seperti yang biasa kau buat." Baekhyun menjawab seadanya, tersenyum kecil ketika merasa dagu Chanyeol menempel di bahunya, ia sedikit menggeser tubuhnya tapi Chanyeol justru menenggelamkan wajahnya di leher Baekhyun seperti anak kecil. "Chan~" desis Baekhyun tak nyaman.

"Tega sekali meninggalkan aku sendirian, kedinginan semalaman."

"Huh?" Baekhyun mengerutkan dahi, sekarang menatap Chanyeol dengan pandangan tak terima. "Meninggalkan gimana?"

"Tidur dengan kau pandangi itu rasanya hangat tahu, sehangat selimut yang kau berikan padaku—" Chanyeol nyengir, terkekeh melihat Baekhyun yang masih berkedip-kedip tak mengerti. "Ya kan?"

"Jadi, semalam kau tidak benar-benar tidur eoh?"

Chanyeol meringis lugu.

"Se-semalam itu, sehabis aku kasih selimut—"

Chanyeol meringis lebih lebar lagi.

"Yah!Park Chanyeol!"

Dan Baekhyun harus menggarisbawahi bahwa Chanyeol itu selain luar biasa sempurna baiknya, juga luar biasa sempurna menyebalkannya.

.

.

Minggu-minggu ini, Chanyeol sedikit memperhatikan sang leader yang entahlah kenapa menurutnya agak sering menunjukkan wajah stress nya. Meskipun tak berniat untuk nguping atau mencuri dengar para staff-staff yang menggosip, namun Chanyeol dapat mendengar desas desus kalau salah satu member akan out dari grup.

Ini bukanlah kabar burung sepertinya, mendapati bagaimana Suho sedikit menampik pertanyaan 'ada apa hyung?' 'kau kenapa' sudah menunjukkan kalau memang ada sesuatu yang tidak beres. Chanyeol menimbang-nimbang apakah seharusnya ia bertanya atau tidak, takut akan memperkeruh suasana, namun di sisi lain ia sebenarnya ingin tahu juga apa yang sebenarnya terjadi membuatnya cukup kepikiran, sesekali wajah bengong dan nampak tidak fokus saat diajak bicara tergambar jelas, seperti saat dia sedang bersiap istirahat setelah seharian beraktifitas dengan jadwal padat, setelah keluar dari kamar mandi dengan handuk masih tergantung di kepala, beberapa kali ia telat menjawab ketika ditanyai.

"Chan?"

"Eung?" Chanyeol menoleh, agak menggeser duduknya saat Baekhyun datang menghampiri dan memilih duduk di sisi kanannya. "Iya?"

"Aku memanggil namamu empat kali huh." ujar Baekhyun. "Ada apa sih? Masih mikirin Suho hyung?"

"Iya… um… Iyasih, tapi tidak juga…. Umm…"

"Lalu?"

Kali ini Chanyeol benar-benar memutar tubuhnya ke arah Baekhyun, mengangkat kedua kakinya di ranjang, melipatnya lalu mencondongkan badannya ke depan. "Kalau berita itu benar… Tidakkah kita sebaiknya bicarakan ini baik-baik? Kita berkumpul bersama, atau paling tidak kita bicarakan dengan dua atau tiga orang, tidakkah sebaiknya kita tahu duduk permasalahannya, mencoba mencari solusi, atau apalah itu? Daripada diam-diam begini, jadinya kita saling diam, pura-pura tidak tahu… Kan jadi tidak enak."

"Lagian itukan belum tentu benar—"

"Nggak akan tahu itu benar atau tidak kalau tidak ada yang mau memastikan—"

"Memang apa yang mau kau pastikan?"

Chanyeol terdiam. Benar juga, apa pula yang ia ingin pastikan, ia hanya bisa tertegun dengan pertanyaan Baekhyun, berpikir dalam hati jawaban apa yang cocok untuk diucapkan saat ini.

"Kalau memang Kris hyung…" akhirnya Baekhyun menyebut nama yang sedari tadi seakan disensor selama pembicaraan mereka. "—Berkeputusan seperti itu… Dia pasti punya alasan tersendiri. Dan mungkin saja dia lebih baik tidak membicarakan ini dengan kita." lanjutnya seraya menunduk.

Chanyeol terdiam juga, hanya suara detik jam yang terdengar, untuk beberapa saat mereka seakan tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai Chanyeol mengeluarkan kata pertamanya. "Baek?" panggilnya.

Baekhyun menoleh, melihat ekspresi Chanyeol yang masih seperti anak kecil ingin mendapat penjelasan tentang duluan mana ayam atau telur yang muncul di muka bumi ini.

"Hm?"

"Kalau Kris hyung benar-benar out… Bagaimana?"

Baekhyun terdiam sebentar, menatap ujung kakinya yang ia ayunkan ke depan belakang dengan bergantian. "Pasti akan ada hal seperti itu di sebuah grup, dari zaman H.O.T sunbaenim kan?" Baekhyun mengangkat kepalanya, menerawang. "Karena ada sesuatu hal, yang memang sebaiknya seperti itu—"

"Tapi tidakkah itu bisa dibicarakan? Bukankah kalau kita terbuka akan ada jalan keluarnya."

"Tidak semua orang bisa seperti itu kan, tidak semua masalah juga bisa dibicarakan, ada pula yang sebaiknya disimpan sendiri—"

"Contohnya?" Kali ini Baekhyun terdiam, kembali menunduk melihat ujung jari kakinya yang kini terdiam tak terayun. "Contohnya apa?" Chanyeol mengulangi, membuat Baekhyun menoleh.

"Tidakkah kau punya rahasia?" Giliran Chanyeol yang terdiam. "Ada kan?"

"Rahasia—" Chanyeol membuat jeda, menghindari mata Baekhyun yang menatapnya lekat-lekat. "Ya… setiap orang pasti punya."

"Lalu kenapa masih bertanya." Baekhyun meneruskan. "Dan kita tidak bisa menyalahkan Kris hyung untuk itu…."

Suara tarikan nafas panjang terdengar, Chanyeol akhirnya menyerah, memang benar saja apa yang dikatakan Baekhyun, tapi hatinya tetap saja merasa ada yang tidak benar, sampai kapan akan seperti ini, berlagak seolah tak ada apa-apa, Chanyeol bukanlah tipikal lelaki yang sabaran dan menengadah menunggu waktu, kalau ada bola kenapa tidak dikejar, kalau ada masalah kenapa tidak diselesaikan—

"Seandainya… Yang akan out itu aku, bagaimana?" tiba-tiba Baekhyun bertanya, suaranya pelan, seperti gumaman lembut, tapi cukup kuat untuk membuat Chanyeol bergidik.

"Huh? Apa-apaan? Kau sedang tidak bercanda kan?—"

"Kan seandainya…" kini Baekhyun menoleh, mendongak beberapa derajat untuk mempertemukan pandangannya ke kedua mata Chanyeol.

"Itu nggak mungkin, dan nggak akan kubiarkan terjadi." ujar Chanyeol mantab. "Lagipula dengan alasan apa—"

"Kalau bicarakan alasan, pasti ada…"

"Tidak boleh. Tidak ada yang boleh pergi, kita ini satu grup, baru juga masih seumur jagung, kau kan sudah janji akan berjuang bersama, sampai titik darah penghabisan."

"Memangnya kenapa aku tak boleh pergi?" Baekhyun kembali mengarahkan pandangannya ke ujung kakinya.

"Ya… Ya nggak boleh saja, kalau kau pergi, siapa yang jadi main vocal?"

"Masih ada Chen dan Kyungsoo—"

"Tidak-tidak, apa sih yang kaubicarakan?"

"Kan memang begitu… Kalau aku pergi grup juga tidak akan kenapa-napa…"

"Tapi aku yang kenapa-napa."

Suara Chanyeol seperti tercekat dan itu tidak terdengar seperti main-main, kontan Baekhyun menoleh lagi ke arah roommate-nya itu, kembali mendapati Chanyeol memasang wajah serius, dua kali dari sebelumnya. "Berjanji padaku jangan ulangi kata-kata seperti tadi—"

"Memangnya kenapa?"

"Membayangkannya saja aku tidak mau—" Chanyeol kini yang menghindari tatapan Baekhyun. "Siapa yang akan jadi roommate-ku? Kau setidaknya lebih peduli padaku daripada member lain, aku merasa paling cocok denganmu, pokoknya… Kalau kau tidak ada semuanya pasti akan berbeda."

"Tapi kan kau gampang akrab dengan orang lain, kau bisa menjadi teman setiap orang yang kau temui, kayaknya seperti itu—"

"Tetap saja ada yang kurang!" entah kenapa Chanyeol merasa ia menaikkan nada bicaranya, ia mencelos sesaat, merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa menjadi sentimen dengan pembicaraan yang tidak jelas ini, ia bersiap memasang wajah kesal saat Baekhyun bergerak maju dan memeluk tubuh dinginnya.

"Maaf deh… Sebaiknya kita istirahat saja, semoga besok semuanya menjadi lebih baik." kata Baekhyun sambil menepuk bahu Chanyeol pelan. "Sudah, kita tidur saja." ujarnya sebelum mengambil langkah kemudian beranjak menuju ranjangnya.

"Kau harus bertanggung jawab, sudah membuatku bad mood begini." Chanyeol menggerutu.

"Huh?"

"Kesini, kalau suasana hatiku buruk aku justru tidak bisa tidur."

"Terus?"

"Temani sampai aku bisa tidur."

"Huh?"

"Cepat atau aku akan mengganggumu sampai kau tak bisa tidur juga yah."

"Iyah iyah…" Baekhyun memutar langkahnya, kembali menuju ranjang yang empunya masih memasang wajah ngambek.

.

.

.

.