Chapter 6
"Kat, kau terlambat!" seru Elmyra mencela dari balik meja kasir. Dia memelototiku sampai matanya seakan nyaris keluar dari rongganya.
Aku hanya mengumamkan maaf sambil tersenyum dan segera ke bagian belakang toko untuk menyimpan tasku, menyapa Fergie dan Mr Flummers yang keheranan dan bersiap melakukan pekerjaanku seperti biasa. Aku begitu bahagia sehingga tidak menghiraukan omelan Elmyra sesudahnya.
"Kau ini kenapa sih?" tanya Elmyra keheranan setelah puas memarahiku. "Kuperhatikan kau senyum-senyum terus dari tadi. Dan matamu bengkak!"
"Sesuatu yang luar biasa sudah terjadi, Ell," jawabku sambil tertawa. Sementara tanganku yang sudah terbiasa, membungkus jubah seragam tim Pride of Portree untuk penyihir pria bertampang bingung di atas meja konter.
"Terimakasih sudah berkunjung," kata Elmyra ramah pada pria itu ketika dia menyorongkan beberapa keping uang untuk membayar jubahnya. Ell kembali memandangku ketika pria itu pergi, "Nah, apa sesuatu yang luar biasa itu?" tanyanya penuh selidik. Tapi kemudian matanya melebar ketika dilihatnya aku masih tersenyum penuh arti. "Ooooh..."
Aku terkikik. Wajahku memerah.
"Apakah ada hubungannya dengan Keeper Puddlemere United itu?" tanya Elmyra, nyengir.
Aku menggigit bibir untuk menahan cengiran yang lebih lebar dan mengangguk.
"Oooh!!" Elmyra memekik. Rupanya dia sudah melupakan kekesalannya atas keterlambatanku. "Apa yang terjadi?"
Dan aku menceritakan segalanya yang terjadi semalam dan pagi ini pada Elmyra yang mendengarkan dengan antusiasme berlebihan. Dia memekik dan tertawa.
"Oh, selamat, sayang…" ucapnya setelah aku mengakhiri ceritaku. "Apa dia akan datang sore ini? Untuk menjemputmu, atau mengajakmu makan malam?"
"Kurasa hari ini tidak, Ell. Dia harus istirahat. Mungkin besok atau lusa..." kataku riang.
"Makan siang!!!" Fergie baru saja kembali dari membeli makan siang. Tangannya yang kurus menenteng bungkusan cokelat.
"Oh, tidak! Jangan Hotdog lagi!" teriak Elmyra.
"Bukan Hotdog kok," kata Fergie cemberut sambil membeliak pada Elmyra, mengacung-ngacungkan bungkusannya. "Ini Hamburger!"
"Yah, itu sih sama saja..." Elmyra memutar bola matanya sementara aku tertawa.
Aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
"Dia datang! Dia datang!" pekik Elmyra, melongokkan kepalanya di pintu menuju bagian belakang toko.
Aku yang sedang membereskan bagian barang-barangku langsung terlonjak kaget. "Apa yang datang?"
"Oliver Wood!" seru Elmyra tak sabar. "Cepatlah, Kat!" Dia menghilang lagi ke toko.
Aku buru-buru bergerak mendekati cermin yang dipasang di salah satu sudut, merapikan rambutku. Dadaku berdebar-debar. Malam ini Oliver berjanji menjemput dan mengantarku pulang. Mungkin kami akan makan malam dulu sebelumnya. Kami sudah pernah pulang bersama-sama, tapi tetap saja aku merasa gugup.
"Dia sudah menunggumu…" Elmyra muncul lagi di pintu, nyengir.
"Bagaimana?" tanyaku gugup sambil merapikan pakaianku.
"Cantik," sahut Elmyra. "Cepatlah,"
Aku mengangguk, menyambar tas dan mantel bepergianku dari gantungan mantel dan bergegas menemui Oliver.
Dia sedang melihat-lihat sapu sambil mengobrol seru dengan Fergie yang sedang bersiap menutup toko ketika aku keluar. Dia tampak gagah dan tampan seperti biasa.
"Oliver?" sapaku agak terengah, gugup.
Oliver menoleh dari Nimbus 2007 keluaran terbaru dan menatapku. "Kat, kau… cantik," katanya.
"Trims," wajahku merona. Aku memang sengaja menggenakan setelan Muggle terbaikku. Yah, terbaik yang bisa kupikirkan—karena selera berpakaianku sangat buruk—berupa blus terusan berbunga-bunga kecil selutut berwarna merah. Dan aku juga hanya menjepit rambutku yang cokelat madu di belakang poniku. Menurut Elmyra penampilanku terlalu sederhana untuk makan malam romantis.
"Kita pergi sekarang?" tanyanya kemudian.
"Yah," aku melirik Elmyra dan Fergie, meminta izin non-verbal, sambil mengenakan mantel panjangku.
"Ya ya… kalian pergi sajalah," kata Elmyra sambil mengintip di luar toko. "Ah, sayang sekali sekarang sedang hujan. Yah, cuaca memang kadang tidak bisa diajak kompromi," lanjutnya.
"Tapi kadang-kadang, justru suasana seperti ini yang mendukung kan?" celetuk Fergie sementara dia mengelap rak-rak berdebu dengan gombalnya yang biasa. Seringai menghiasi wajah jahilnya. Elmyra mengikik tertahan.
Aku dan Oliver bertukar pandang, salah tingkah.
"Nah," kata Oliver setelah dia menyihir sebuah payung besar dari udara kosong. "Kita pergi, Kat?"
Aku mengangguk, lalu menoleh pada kedua rekan kerjaku, "Aku pergi dulu kalau begitu. Selamat malam semua..."
"Malam," balas Elmyra dan Fergie berbarengan.
Dan kami berdua pun keluar menembus hujan. Tangan Oliver yang besar dan hangat menggandeng tanganku.
"Ada restoran Muggle yang enak sekali di dekat sini. Kau mau kan?" tanyanya saat kami melewati Leaky Couldron.
"Terserah kau saja," jawabku. Kemana saja kau membawaku, Oliver, aku akan ikut denganmu.
Kami berhenti sebentar untuk menyapa Tom, si pelayan bar, sebelum melanjutkan perjalanan kami.
Jalanan di luar Leaky Couldron sudah sepi. Hanya beberapa mobil Muggle yang berseliweran dan satu dua Muggle yang tampaknya sedang terburu-buru, wajah mereka setengah tersembunyi di balik mantel.
Tapi kami tidak terburu-buru. Cuaca buruk bukan masalah bagiku, asal dia ada berada di dekatku, asal dia menggenggam tanganku seperti ini, aku akan tahan melewati cuaca seburuk apa pun.
"Minggu depan Puddlemere United akan bertanding. Apa kau—"
"Aku akan datang," jawabku segera sebelum Oliver menyelesaikan pertanyaannya. "Kali ini aku akan datang, Ollie. Aku janji."
"Benar?" Oliver menatapku, senyumnya merekah.
Aku mengangguk, membalas senyumnya. Aku tidak akan pernah lagi melewatkan pertandinganmu, Oliver.
Oliver mengulurkan lengannya dan merengkuh bahuku. Pelukannya menghangatkanku, membuatku merasa aman.
"Aku mencintaimu, Kat..." bisiknya di telingaku. Dan saat dia mengatakan itu, aku merasa dunia hanya berisi kami berdua.
"Aku… aku juga mencintaimu," ucapku setelah sunyi agak lama.
Oh, Merlin… aku mengatakannya! Aku mengatakannya pada akhirnya! Aku tak percaya!! Setelah sekian lama…
Oliver semakin mempererat pelukannya. Oh, ternyata dunia jauh lebih indah dari yang kubayangkan... Aku mencintainya dan dia membalas perasaanku. Apa ada hal lain yang lebih membahagiakan dari itu?
Dan sekali lagi hujan jadi saksi kami. Hanya saja, kali ini aku tidak cuma berdiam diri menatapnya. Aku sudah menemukan keberanianku. Dan kebahagiaanku. Dan cintaku…
When
you say you love me…
Do
you know how I love you?
The End
