Chapter III

"Suasana hatiku sedang tidak enak…."

"Mungkin kau hanya sedang cemburu…"

.

.

"Mau rasa apa?" tanya Chanyeol sembari menyambar goodie bag yang dibawa Baekhyun, disangkutkan di lengan kirinya sendiri setelah ia membenahi tas ransel di punggungnya, tangan kanannya sibuk memilih-memilih deretan mie instan yang dijual di toko serba ada. Menunjuk-nunjuk beberapa varian rasa dan merk yang Baekhyun biasa makan.

"Yang seperti biasanya saja." yang lebih pendek menyahut, melihat-lihat puding yang terletak tak jauh dari rentetan mie instan yang dipajang.

Mereka berjalan beriringan menuju kasir sekitar lima menit kemudian. Meskipun Chanyeol terlihat banyak membawa barang bawaan, dengan tangan kanan membawa dua mie instan sekaligus, serta tangan kiri yang penuh dengan goodie bag, namun ketika Baekhyun hendak membantunya membawakan salah satu barangnya, Chanyeol menolak, seperti biasa ia akan tersenyum kemudian menggeleng 'Biar aku saja' katanya.

Pun begitu saat ia berjalan ke area luar dan menuju microwafe untuk memasak mie mereka (sekarang toko serba ada sudah menyediakan banyak fasilitas seperti microwafe dan alat pembuat kopi), ia akan dengan profesional membuka mie yang terbungkus mangkuk aluminium foil, meletakkannya di microwafe dengan hati-hati kemudian menyetelnya.

"Mau tambah telur? Sosis?" tanyanya pada Baekhyun.

"Dua-duanya boleh."

"Oke, tunggu disini sebentar."

Bukan kali pertama, tapi setiap Chanyeol menawarinya sesuatu, melakukan hal kecil untuknya, seperti mengambilkan apa yang ia inginkan dan kembali tak lebih dari satu menit, membuat Baekhyun tersenyum kecil. Diawasinya mie yang mulai berasap dan melembek, dan ketika ia mengambil sepasang sumpit untuk mengaduk, sebuah tangan besar menyentuhnya.

"Hati-hati, sini biar aku yang aduk."

Lagi-lagi, Chanyeol menyambar apa yang ia pegang, membuat Baekhyun mendengus kecil kemudian melangkah ke samping memberi ruang untuk si yang lebih tinggi.

"Sosisnya masih di panggangan depan… telur nya satu… Bumbu… Cabai setengah bungkus…" Chanyeol menggumamkan satu per satu apa yang ia lakukan, seperti sudah tahu benar apa yang disuka dan tidak disuka Baekhyun, ia melakukan hal yang sama dengan mie yang satunya, melirik jam tangannya sebelum menepuk bahu Baekhyun "Sebentar kuambil sosisnya." ujarnya sambil berlari. Seperti biasanya pula Baekhyun akan melanjutkan apa yang sudah Chanyeol kerjakan, menunggui kuah mie berbuih dan mengangkatnya setelah Chanyeol sudah tiba di sampingnya kembali. "Duduk disana yah?" katanya, memimpin arah dan haluan.

.

Sebenarnya bukan ide mereka untuk keluar malam setelah latihan, tapi karena Baekhyun terlanjur janji akan menemani Sehun berbelanja, dan tiba-tiba di tengah jalan Sehun bertemu teman lamanya sehingga mereka memilih untuk bernostalgia dan bercakap-cakap bersama, Baekhyun yang canggung akhirnya memilih menelepon Chanyeol, menanyainya apakah ia sedang sibuk atau tidak, dan sebelum Baekhun meneruskan, Chanyeol sudah membalasnya dengan 'Kau dimana?' dan beberapa saat kemudian Chanyeol sudah muncul saja di hadapan Baekhyun. Kebetulan Chanyeol juga sedang bosan dan bilang butuh udara segar, jadilah mereka memilih toko serba ada dekat sungai Han untuk dijadikan tempat tujuan, dengan mie ramen dan soda sebagai pelengkap, mereka duduk di salah satu bangku panjang yang disediakan di area sekitar toko, udara malam menyelimuti mereka, dengan pemandangan malam sungai Han dan lampu kerlap kerlip di sekitar tepiannya.

"Sudah lama tidak kesini yah." Chanyeol berujar, membenahi hoodie hitamnya, memastikan kanan kirinya aman, ia duduk bersila di ujung sebelah kiri bangku panjang, Baekhyun duduk dengan posisi sama di ujung sebelah kanan, makanan mereka letakkan di tengah. "Jadi ingat masa trainee."

Baekhyun mengangguk setuju, hendak menyahut obrolan Chanyeol saat panas kuah mie menyapu lidahnya, ia terbatuk, Chanyeol dengan sigap memberinya sekaleng soda, miliknya yang sudah terbuka tutupnya, refleks. "Makanya hati-hati…"

Baekhyun masih terbatuk, meneguk soda yang ia pegang pelan-pelan, mengambil nafas pelan dan membuangnya. "Panas sekalihhh…" ujarnya dengan mulut terbuka dan lidah sedikit terjulur, Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah temannya, menyambar kembali minuman yang Baekhyun kembalikan padanya, meneguknya sekali sebelum menaruhnya di posisi semula. "Padahal cabainya kutuang setengah, apa masih pedas?"

"Bukan pedas, tapi panas." Baekhyun menanggapi.

"Iyasih." Chanyeol akhirnya menaruh kembali mie yang ada dihadapannya, memutuskan untuk menunggu sebentar sampai suhunya menurun. "Omong-omong pergi dengan Sehun kenapa tidak mengajakku?"

"Oh, habis mendadak…"

"Tapi kan kau tahu aku juga sedang menganggur."

"Soalnya kan Sehun yang mengajak, kukira dia memang sedang ingin pergi berdua saja denganku. Kalau aku yang mau pergi tentu saja aku akan mengajakmu, meskipun tidak menganggur tetap akan kuseret."

"Baiklah… Baiklah…" celotehan Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh.

Banyak yang mereka bahas malam itu, dari persiapan comeback sampai selera bermusik Chanyeol yang agak berubah beberapa terakhir ini. Baekhyun banyak mendengarkan kala itu, menanggapi di saat Chanyeol mendongeng tentang lirik lagu yang sedang ia tulis, serta ikut tertawa ketika Chanyeol mengutarakan gurauan-gurauan di sela ceritanya. Malam itu benar tak berbintang, namun Baekhyun merasa sekitarnya berasa terang, mungkin karena Chanyeol di hadapannya dengan wajah sumringah dan kekanakan.

Mungkin sekitar satu jam setelah mereka menyelesaikan menu mie mereka dan beralih menyambar kudapan serta pudding yang sempat Chanyeol beli sebelum membayar di kasir tadi. Baekhyun mendapati smartphone-nya bergetar. Ia menggigit sendok pudingnya, merogoh saku dan mendapati sebuah pesan terpampang di layar ponsel, sebuah pesan dari Sehun, mengingatkan waktu dan menyuruh pulang.

"Ah, baru sadar kalau sekarang sudah hampir pagi." Baekhyun berujar, meneruskan suapan terakhir pudding strawberry-nya. Ponsel ia kembalikan ke dalam saku, ia mengusap kaus lengan pendeknya sesaat sebelum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Pulang, yuk?"

Chanyeol mengangguk, menghabiskan pudding rasa pisangnya kemudian membersihkan sisa-sisa makan malam mereka dengan cepat, memasukkan wadah mie kosong dan kaleng soda ke dalam plastik besar kemudian menuju ke tempat sampah kering tak jauh dari tempat mereka. Baekhyun juga beranjak bangun dari tempat duduk, memutar tubuhnya untuk menyusul ketika sesuatu yang hangat terlungkup di bahunya.

"Pakai saja." Baekhyun hendak menjawab, tapi Chanyeol sudah keburu memasangkan hoodie hitam ke kepalanya. "Jangan sampai sakit. Nanti manager-nim memarahiku lagi—" sambil mengomel, Chanyeol membantu Baekhyun memasukkan tangannya ke lengan hoodienya, ukuran tubuh Baekhyun yang kecil membuat baju yang ia pakai terlihat agak besar, lengannya terlalu panjang sekitar lima-enam centi.

"Kau gimana?" Baekhyun bertanya, merentangkan kedua tangan ke atas saat Chanyeol menarik ujung hoodienya kebawah.

"Santai saja, aku pakai kaos panjang." Chanyeol menjawab, menarik tubuh Baekhyun ke arahnya dan merangkul pundaknya, untuk kemudian berjalan bersama ke arah parkir toko.

.

.

Bertahun-tahun Baekhyun menjadi roommate Chanyeol, tidak sering Baekhyun merasa sangat jengkel kepada si jangkung. Karena Chanyeol memang jarang dan hampir tidak pernah membuatnya kesal. Tapi kali ini sepertinya tidak, Chanyeol yang biasanya sampai dorm langsung membersihkan diri ke kamar mandi, memastikan barang bawaanya lengkap, atau langsung memeriksa kulkas beserta isinya untuk memutuskan membuat apa untuk cemilan malam, malah dengan santainya bermain-main dengan ponsel di sofa ruang tamu selama mungkin hampir dua jam. Sebelah kakinya bertengger di atas sandaran sofa, satunya terjulur begitu saja, kedua tangan sibuk mengutak-atik ponsel, tersenyum-senyum sendiri setelah membalas –Mungkin- Chat atau semacamnya, bahkan ketika Baekhyun mengingatkannya untuk mandi sejak satu jam yang lalu, si tinggi rambut hitam itu hanya menjawab 'Ya' tapi kemudian tidak beranjak sedikitpun.

Melihat Chanyeol yang seperti itu, Baekhyun mengasumsikan bahwa berita yang ia baca tempo hari – Chanyeol balikan dengan mantan pertamanya – Itu bisa jadi benar.

"Murung terus? Kenapa?" Minseok berkomentar, sudah sekian menit ia memperhatikan Baekhyun yang sedang memperhatikan Chanyeol, oke mungkin ini sedikit rumit namun pada intinya Minseok tahu benar suasananya. "Ada apa?"

"Itu. Lihat itu bagaimana si tuan muda Park bersantai dengan kaki di atas seperti dorm dan seisi Korea Selatan ini milik kakek buyutnya."

Minseok terkekeh. "Yang lain juga biasanya bermain ponsel seperti itu kau tidak marah, dan tidak peduli."

"Tapi ini sudah larut, kamarnya juga belum dibereskan, masalahnya aku ini roommate nya, barangnya masih berserakan di ranjangku, mau kubuang tapi aku masih berperikemanusiaan."

"Ha ha, seram sekali." Minseok tidak meneruskan lagi, ia hendak beranjak karena memang dari awal ia hanya mengambil botol airnya yang berada di meja ruang tamu.

"Hyung. Menurutmu berita Chanyeol balikan dengan mantan pacarnya itu, benar?"

"Huh?" Minseok akhirnya melihat Baekhyun, kemudian melihat Chanyeol yang lagi-lagi merekahkan senyum yang seakan-akan kedua ujung bibirnya menempel sampai ke telinga kiri-kanannya. "Bisa jadi, sih."

Minseok kembali menoleh ke arah Baekhyun karena si lawan bicara tak merespon lama, hatinya sedikit menyesal karena Baekhyun memasang wajah dua kali lebih muram dari sebelumnya.

"Baiklah aku tidur saja."

"Hm? Katanya masih ada barang-barang Chanyeol. Apa mau tidur di tempatku?"

"Tidak ah, aku bisa tidur di karpet atau meja belajar."

"Lho?"

"Tidak apa-apa hyung, aku mau masuk dulu. Lebih baik aku cepat tidur, aku capek, suasana hatiku juga sedang tidak enak."

"Capek?" Minseok menoleh ke arah Chanyeol sebelum menoleh ke arah kiri dimana ia bisa melihat Baekhyun memasang earphone di ponselnya. "Mungkin kau hanya sedang cemburu." ujarnya.

.

.

Baekhyun melempar gulungan hoodie hitam besar ke arah tempat keranjang cucian dengan sembarangan, tak begitu keras memang, tapi cukup membuat seonggok kain tebal itu mendarat dengan berantakan, lengan panjang bertuliskan Supreme itu bahkan tergantung di bibir keranjang.

Dan tentu saja saat itu Chanyeol yang masih menyikat giginya di depan wastafel hanya terbengong, melihat nasib hoodie nya yang malang kemudian menatap Baekhyun yang berjalan sambil lalu secara bergantian.

"Baek?" Chanyeol memanggil setelah keluar dari pintu kamar mandi, ia mengusap bibirnya yang basah dengan ujung kaus panjangnya, menghampiri Baekhyun yang tampak sibuk melipat pakaian di tepi ranjang. "Hey—"

Baekhyun tak menyahut, sepertinya sengaja, ia melanjutkan pekerjaannya tanpa melihat Chanyeol yang telah duduk di lantai dekat kakinya, mungkin karena ranjang Baekhyun penuh pakaian berantakan yang belum dirapikan jadi Chanyeol memilih duduk di bawah.

"Baek? Kau kenapa?"

Chanyeol mendongak, memastikan Baekhyun benar-benar sedang sibuk dan tidak menyahut sapaannya karena tak mendengar, ia mencondongkan kepalanya sedikit ke kiri namun Baekhyun membuang muka ke arah kanan, begitu Chanyeol hampir melakukannya sekitar tiga kali. "Baek? Kau marah padaku? Ada apa?"

"Nggak kok." jawab Baekhyun singkat, masih sibuk melipat pakaiannya.

"Iya tuh… Lihat keningmu berkerut-kerut…"

"Tidak lihat? Aku sedang melipat pakaian, bukan sedang marah." akhirnya si rambut coklat melihat ke bawah, benar-benar memandang si tinggi yang kini duduk di dekat kakinya.

Hanya dengan sekali lihat Chanyeol tahu benar kalau sahabatnya itu memang sedang gondok.

"Umm… Terus kenapa tadi melempar jaketku?" tanya si tinggi pelan, mencoba sabar.

"Memang harus gimana memasukkan baju kotor? Membawanya dengan nampan?"

Chanyeol berkedip. Benar juga sih.

"Tapi kan kau bisa menaruhnya pelan-pelan… Kenapa tadi dilempar?"

"Kan itu baju kotor. Lagipula itu sangat bau sekali."

Chanyeol mengerutkan dahi. "Bau? Seingatku waktu kau memakainya kau bilang suka baunya." dia memberi jeda. "Lagipula kan kau sendiri yang memilihkan pewangi pakaian untukku—"

Baekhyun mengambil nafas kasar, alis matanya hampir menyatu dan Chanyeol terpaksa membungkam mulutnya. "U-uh, maaf deh… Kau marah ya? Kenapa? Aku punya salah?"

"Tidak, kau tidak salah, tuan Park tidak pernah salah, aku yang salah karena sudah melempar jaketmu, maaf." Baekhyun menjawab dengan menekan setiap katanya membuat Chanyeol semakin terbengong.

"Baek… Oke maaf deh, maaf aku tidak tahu aku salah apa, tapi jangan ngambek gitu dong~" kini Chanyeol yang berujar, meengusap-usap kaki Baekhyun yang berada di dekatnya. "Kalau ngambek nanti cantiknya hilang lho…"

"Aku ini lak-laki. Dan aku tidak cantik. Lebih cantik juga mantan pacarmu it—"

Ups

"Ah…" Chanyeol membuka mulutnya, hampir menyahut tetapi Baekhyun keburu bangkit, dengan membawa tumpukan baju ia melesat pergi.

.

.

"Masih marah?"

Baekhyun bergidik, terkejut ketika tiba-tiba saja Chanyeol sudah muncul saja di hadapannya. Akhir-akhir ini jujur saja Baekhyun mencoba menghindari si jangkung, sehabis latihan mereka langsung kembali ke dorm dan Baekhyun cepat-cepat menuju kasurnya tanpa menunggu Chanyeol, dan saat paginya sebelum Chanyeol bangun, sebisa mungkin Baekhyun bangun mendahului, dan pergi lebih awal tentunya. Namun kali ini terpaksa mereka harus bertatap muka karena shooting CF yang harus dilakukan semua member.

"Ti-tidak." jawab Baekhyun dengan tidak melihat Chanyeol.

"Kalau begitu kenapa tidak duduk di sampingku saat di mobil tadi?"

"Memangnya harus duduk di sampingmu biar kelihatan tidak marah? Oke nanti pulang aku duduk di sampingmu."

"Tuh kan…"

Baekhyun masih sibuk saja dengan isi tasnya – Yang sebenernya tidak terlalu penting – Mengeluarkan ponselnya untuk kemudian memasukkannya kembali, atau sibuk mengecek make up dan rambutnya padahal coordi noona sudah siap dengan sederet alat make up wajah dan rambut.

"Baek, kudengar kau marah karena aku sibuk dengan ponselku terus yah?" Chanyeol berujar, mengintip wajah Baekhyun yang kini sedang mengarah ke taman dimana mereka akan melakukan shooting. "Aku sedang tidak pacaran dengan siapa-siapa kok."

"Kau pacaran juga ngga apa-apa, apa hubungannya denganku."

"Kau marah begitu."

"Aku tidak marah. Berhenti menggangguku. Kau tahu Minseok hyung dari tadi pagi mengataiku terus gara-gara kau terus bertingkah aneh seperti ini."

"Mengatai bagaimana?"

"Ya dibilang perselisihan rumah tangga-lah, kita sedang marahan-lah."

"Memang begitu kan?"

"Huh?" Baekhyun akhirnya menampakkan wajah kesalnya, plus dengan lipatan-lipatan di dahi. "Enyah kau sana."

"Aku ngga akan bisa pergi kalau kau masih ngambek begitu." Chanyeol akhirnya memasang wajah memelas. "Aku merasa seperti seorang suami yang bersalah pada istrinya dan tidak mendapat jatah makan malam seminggu tahu."

"Huh? Aku bukan istrimu tahu."

"Iyasih, tapi rasanya mirip seperti itu."

"Sudahlah. Aku tidak marah kok. Suasana hatiku saja yang sedang tidak enak. Aku tidak mood akhir-akhir ini. Jadi berhenti membuntutiku, berhenti minta maaf." Baekhyun menyipit. "Berhenti juga menganggap aku istri, nanti ada yang marah."

"Ada juga kau yang marah, Baek."

"Tidak kok."

"Kalau gitu sini peluk dulu."

"Tidak mau."

"Berarti masih marah, tuh."

"Kau tahu kalau di ujung sana ada kolam tuh?"

Chanyeol menggeleng, menanggapi pertanyaan Baekhyun. "Tidak tahu."

"Mau kuceburkan di sana?"

Chanyeol setengah menganga, ia kemudian menggaruk belakang kepalanya sebelum melirik jam tangan, ia menoleh ke kanan kiri, menanyakan kepada manager kapan shooting akan dimulai, sang manager menjawab sekitar tiga puluh menit lagi, Chanyeol kemudian menggenggam tangan Baekhyun dan mengajaknya berjalan.

"He-hei, mau kemana?" tanya Baekhyun yang sedang berjalan tertatih-tatih karena terseret si jangkung.

"Ayo ke kolam. Katanya mau menceburkanku di sana?"

"Yah! Kau serius?"

Chanyeol tidak menjawab, ia terus berjalan sampai mendapati semak-semak rimbun yang tepat di baliknya terdapat kolam besar, pepohonan besar mengelilingi kubangan penuh air dan bunga-bunga lily tersebut.

"Nah, sudah sampai, sekarang ayo ceburkan aku." Chanyeol berhenti di tempat, berbalik untuk menghadap si yang lebih pendek. "Kalau menceburkanku membuatmu merasa lebih baik, tak apa, lakukan saja."

Baekhyun terdiam. Bola mata cokelatnya seperti bersinar memantulkan sinar mentari yang saat itu tengah terik tepat di atas kepala, rambut cokelatnya bergoyang karena tertiup angin, perlahan ia mendongak setelah sekian menit menunduk, sebelum sorot matanya menemui sang lawan bicara, tubuhnya tahu-tahu sudah didekap dua lengan besar.

"Jangan marah lagi padaku, kau membuatku stress saja." bisik si yang lebih tinggi, menarik tubuh Baekhyun sampai kepalanya bersandar di bahu lebarnya.

"Lepaskan—" Baekhyun hendak melawan, namun ia tahu usahanya akan sia-sia ketika Chanyeol mengeratkan kedua tanggannya.

"Nggak akan sampai aku dimaafkan."

"Dari awal aku tidak pernah marah kok—"

"Bohong—"

"Chanyeolie—"

"Baekhyunie—"

Sia-sia sudah semua perjuangan Baekhyun, pipinya memerah, suhu saat itu memang lumayan menghangat, tapi bukan itu saja, oh, apakah itu karena Chanyeol yang memanggilnya dengan suara berat itu, yang memang jujur saja sudah sekian hari ia tidak mendengarnya, entahlah, tapi Baekhyun akhirnya menyerah, dinaikkannya kedua lengannya, membalas perlakuan Chanyeol.

"Baiklah. Maafkan aku juga."

.

.

"Sudah baikan nih?" Itu seperti suara Jongdae. Baekhyun menoleh, mendapati si lead vocal yang memang benar saja bertengger di sofa tak jauh dari tempat Baekhyun sibuk dengan tas ranselnya. Baekhyun berdecak, heran entah mengapa ia dan Chanyeol yang sedang bertengkar itu terdengar seperti berita Kate middelton dan Pangeran Harry yang akan bercerai.

"Apaan sih." Baekhyun menjawab singkat, menyambar payung di pojok ruangan yang sepertinya lupa Chanyeol bawa. Hari ini roommate-nya itu ada kegiatan di luar, Baekhyun awalnya tak berniat menyusul namun langit yang berubah warna sempat membuatnya berpikir. Karena Chanyeol keluar tidak untuk pekerjaan maka Baekhyun berfikir mungkin tak akan ada staff yang akan mengikutinya, apalagi memayunginya, lagipula Baekhyun juga sedang tidak ada kegiatan, maka ia memutuskan untuk pergi menyusul Chanyeol sekalian mampir ke minimart dekat dorm.

"Hahah, beruntung sekali si Chanyeol, kalau aku punya pacar sepertimu mungkin akan kuawetkan saja, manis sekali sih." Jongdae melanjutkan, membuat Baekhyun menyeringai sambil membuka pintu dan pamit keluar.

.

Baekhyun berjalan menyusuri jalan setapak, hoodie ia pasang benar-benar supaya wajahnya tak dikenali orang-orang yang lewat. Ia menoleh ke kanan kiri, memastikan jalan yang ia ambil benar, sekali lagi ia mengecek ponselnya, membaca kembali pesan yang sempat Chanyeol kirimkan beberapa saat lalu. Langkah-langkah kecilnya membawanya ke sebuah tempat yang banyak ditanami pohon-pohon maple, dengan warna oranye di sekeliling, Baekhyun lebih memasuki tempat dimana ada ayunan dan pagar-pagar kayu pendek pembatas taman.

Disana ia memelankan langkah, sempat ia mengeluarkan ponsel dan hendak memencet tombol hijau untuk membuat panggilan, namun tangannya berhenti, dari jauh ia bisa mengenali sosok tinggi dengan jaket dan celana hitam, Baekhyun sedikit tak yakin, namun saat ia berjalan ke samping, ia yakin benar, bahwa itu adalah orang yang ia cari, Chanyeol, yang sedang berdiri, ternyata sedang tidak sendiri, ia bersama dengan seseorang yang bertubuh lebih pendek, dengan rambut panjang coklat bergelombang.

Chanyeol sedang memegang kedua tangan wanita yang ada di depannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

ps. Mohon Maaf Lahir Dan Bathin Chu ucapin untuk semua yang merayakan Idul Fitri, kkk.

Oke mungkin ga banyak yg review cerita ini, tapi Chu harap semua bisa menikmati hehe.

Maaf juga kalo ceritanya Geje, masih belajar.

Big Thanks to segelintir orang yang udah mau capek-capek mereview, erry-shii, claraaa, Shineexo, Pungqi. semoga masih mau review terus(?)

Chanbaek, saranghaja!