Chapter IV

"Ini pasti sakit …."

"Iya, rasanya sakit…

Sakit sekali…."

.

.

Suara seperti benturan suatu benda dengan meja kayu terdengar samar-samar dari arah dapur, Sehun yang sedang melintas terpaksa memelankan langkahnya, diintipnya ruangan yang tak penuh akan cahaya tersebut, hanya remang dari ruang sebelahnya yang menjadi sumber cahaya, Sehun mengarahkan tangannya ke dinding, meraba ujung dinding dimana ia bisa menemukan tombol on off lampu.

"Hyung? Baekhyun hyung?" Sehun memastikan setelah ruangan menjadi terang sepenuhnya, berjalan mendekati seseorang yang bertubuh tak lebih tinggi darinya, dari tempatnya berdiri, Sehun hanya bisa melihat sosok dengan sweater abu-abu dan berambut coklat sedang berdiri memunggunginya.

"Hyung?" panggil Sehun lagi, ia menyandarkan badannya di samping Baekhyun, mendapati Baekhyun yang sedang mengiris bawang dengan muka memerah, wajahnya menunduk sehingga poninya yang lumayan panjang nyaris menutupi kedua kelopak matanya. "Hyung, kau menangis?"

Baekhyun menyeka mukanya dengan lengan sweaternya, hidungnya memerah, kemudian ia menghentikan kegiatannya sesaat. "Iyah, bawangnya pedas di mata."

"Malam-malam begini untuk apa mengiris bawang?"

"Untuk memasak besok."

"Huh?" Sehun ingin bertanya lagi, namun ia urungkan mengingat Baekhyun nampaknya sedang dalam suasana hati kurang baik, ia memutuskan untuk diam sejenak, melihat Baekhyun melanjutkan lagi kegiatan mengiris bawangnya, dan seketika ia baru menyadari pula bahwa terdapat luka goresan di jari telunjuk Baekhyun. "Hyung? Kau terkena pisau? Jarimu berdarah."

Kedua tangan Baekhyun terhenti, dilihatnya jari tangannya yang Sehun bahas tadi, benar juga, darah segar mengalir dari luka gores di ujung jari telunjuk kirinya, dan Baekhyun entah kenapa baru menyadarinya juga. "Iyah, jariku berdarah." katanya datar.

"Sebentar kuambilkan obat dulu." Sehun berujar sebelum melesat pergi dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa kotak p3k.

Mereka berdua duduk di kursi, tangan Baekhyun diletakkan Sehun di tepi meja makan, sembari merawat lukanya, Sehun sesekali mencuri pandang ke wajah Baekhyun. Matanya masih memerah, namun pandangannya agak kosong kalau Sehun boleh bilang, sepertinya pikiran Baekhyun sedang kemana-mana saat ini.

"Kok bisa tidak sadar kalau terkena pisau sih?" Sehun bertanya, mencoba peruntungan seandainya Baekhyun mendengar dan mau menanggapinya.

"Mungkin karena lupa menyalakan lampu, jadi tak terlihat." Baekhyun menjawab, setelah sekian detik.

"Lagian kenapa tidak dinyalakan?"

"Kupikir tak perlu, aku masih bisa melihatnya sih." gumam si rambut coklat, sekarang menunduk, memandangi jarinya yang sedang diberi antiseptik.

Sehun tak lagi berceloteh, ia terdiam ketika meneteskan obat merah dengan hati-hati, karena mungkin akan terasa perih, terlebih ia tahu benar kalau Baekhyun tak tahan sakit, tersenggol sedikit saja dia biasanya akan menjerit.

Si dongsaeng mengecek mimik muka Baekhyun, masih menunduk, seperti tak merasakan apa-apa meskipun cairan merah kini tengah mengikuti alur goresan di kulitnya yang sedikit terbuka, Sehun menunduk sedikit dan meniup jari Baekhyun pelan. "Ini pasti sakit…" gumamnya.

"Iya… rasanya sakit…" meskipun hanya seperti bisikan, Sehun masih bisa mendengar apa yang Baekhyun katakan. "Sakit sekali…" tambahnya tanpa melihat luka di jarinya.

.

.

Malam itu Chanyeol pulang ke dorm dengan diantar manager. Tangannya membawa bungkusan yang sepertinya isinya bermacam-macam tablet dan sebotol obat. Ia sesekali memegangi keningnya, nampaknya ia baru saja pulang dari dokter, Jongdae yang baru saja pulang dari acara radio langsung menemani Chanyeol dan membantu memapahnya menuju kamar.

"Hufff… Pening sekali kepalaku…" erang Chanyeol, begitu mendapati ranjang ia langsung mendaratkan kepalanya ke bantal. "Boleh ambilkan aku air?"

Jongdae langsung saja melesat mengambilkan sebotol air, ia membantu Chanyeol membuka tiga macam tablet satu per satu, ia juga membukakan tutup botol saat Chanyeol bangkit duduk.

"Makanya, sudah tua jangan main hujan-hujanan…" Jongdae mengkritik, membuat Chanyeol yang hendak menelan pilnya mengernyitkan dahi. "Yah… yah… telan dulu obatmu, baru protes—"

Suara pintu kamar mandi terbuka, Baekhyun keluar sembari mengusap-usap kepalanya dengan handuk. Matanya menemui mata Chanyeol, namun segera ia berpaling dan melenggang pergi ke luar kamar.

"Gara-gara Baekhyun juga tuh." protes Chanyeol setelah berhasil menenggak habis seluruh pilnya. "Dia bilang mau menyusulku di taman, tapi ternyata dia tidak datang. Percuma aku menunggunya di tengah hujan selama berjam-jam sampai sakit begini."

"Huh? Baekhyun tidak kesana?" Jongdae mengernyitkan dahi, melihat pintu keluar kemana Baekhyun melesat kemudian memandang Chanyeol lagi. "Iya?"

"Huum." Chanyeol mengangguk, menghabiskan sisa air yang tinggal setengah. "Awas saja kalau kapan-kapan dia minta tolong dibawakan payung, kubiarkan saja dia."

Jongdae seperti hendak mengatakan sesuatu, namun ia mengatupkan kedua bibirnya kembali, memilih diam sebelum akhirnya membantu Chanyeol untuk beristirahat kembali.

.

.

Aku mencintaimu…

Aku… Juga….

Maukah kau menjadi kekasihku?

Tentu….

"Oh, lihat betapa mudahnya alur cerita drama-drama televisi untuk ditebak. Lagipula gampang sekali mereka menyatakan cinta. Setelah itu mereka akan ada masalah, lalu putus, yang wanita akan menangis meronta-ronta beberapa bulan, kemudian ia akan bertemu laki-laki tampan lagi, kemudian ia akan mengulang kata-kata yang sama lagi, mudah sekali…"

"Baek, sepertinya kau terlalu banyak mengomentari, kenapa kau lihat kalau akhirnya dikomentari begitu?" ujar Chanyeol yang baru saja mendudukkan pantatnya di sofa dekat Baekhyun. "Kenapa tidak diganti saja channelnya?"

"Malas."

Chanyeol hanya tersenyum, disambarnya remote tv yang terletak di sudut sofa, ia mengganti-ganti channel sembari mencondongkan badannya ke samping… "Duh." Chanyeol tersungkur karena Baekhyun menghindarinya. "Baek, kenapa kau menghindar?"

"Kau mau apa?"

"Bersandar—"

"Bersandar di sofa sana." jawab Baekhyun dengan ketusnya. "Berhenti bermanja-manja padaku, aku bukan ibumu."

"Kali ini apalagi? kau marah kenapa lagi? Karena drama?"

"Iya. Seenaknya saja mengganti channel tv yang sedang kutonton…"

"Baek—Yah, kau juga kemarin punya salah padaku tahu. Kau tak ingat kau membuatku sakit karena menunggu dua jam di tengah hujan huh. Kenapa kau tidak bilang kalau tak bisa datang? Tahu begitu aku bisa telepon taxi saja—"

Baekhyun memutar tubuhnya, kini benar-benar menghadap Chanyeol dengan wajah yang lumayan serius. "Aku harus meluruskan ini yah."

Chanyeol tak punya pilihan lain selain diam, ia membiarkan Baekhyun menjelaskan.

"Waktu itu aku sudah datang, tapi tidak mungkin aku tiba-tiba menyela obrolanmu dengan… Mantan pacarmu, kan? Aku melihat kalian berdua, aku sebelumnya minta maaf karena membuatmu kehujanan… Tetapi, apa kau benar-benar mendengar usulanku untuk balikan sama dia?"

Seketika ekspresi Chanyeol berubah, menghindari tatapan Baekhyun yang luar biasa seriusnya. "Sudahlah Baek, jangan dibahas."

"Jangan begitu. Aku minta maaf lagi kalau aku sok ikut campur, tapi aku benar-benar ingin tahu, kau balikan lagi dengannya? Kalau iya aku mendukungmu, itu saja, tapi kalau seandainya sesuatu terjadi, boleh aku tahu apa itu? Ini memang terdengar aneh, aku tidak mau mencampuri urusan percintaanmu tapi entah kenapa aku hanya ingin membantu. Aku melihat ada yang ganjil saja, kalau beberapa hari lalu kau sering bertelepon dengan senyum-senyum sendiri, kulihat sekarang tidak lagi, kau ada masalah?"

Chanyeol mendengus, sepertinya topik ini tidak begitu membuatnya antusias, tetapi wajah Baekhyun yang sungguh-sungguh membuatnya menyerah. "Kami nggak balikan kok."

"Kenapa?"

"Tidak tahu juga…"

"Mungkin kau yang salah menyampaikannya, atau bagaimana? Mau kucoba bantu?"

Lagi-lagi Chanyeol memasang wajah seperti tidak percaya. "Sudahlah Baek, kau ini kenapa—"

"Nggak apa-apa, serius. Aku cuma ingin membantu."

"Baek—"

"Kau tahu jadwal kita padat kan? Kau tahu kita ini sangat capek baik fisik ataupun pikiran. Aku rasa aku tak boleh membiarkan pikiranku kacau. Jujur saja aku merasa bersalah membuatmu menunggu dan kehujanan, sebagai gantinya aku ingin membantumu. Yah mungkin hanya dengan ini. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan mengobrol, itu saja. Aku janji tidak akan membuat semuanya tambah rumit. Serius aku hanya ingin membantu."

Chanyeol mendengus, sengaja, namun sepertinya Baekhyun tidak mengindahkan, tetap saja ia memasang wajah serius, tanpa ada pilihan lain, akhirnya Chanyeol membuka obrolan tentang mantan pacarnya, Park Saebyul, yang sebenarnya sudah lama ia tidak bertegur sapa, namun si tinggi itu akhirnya mengaku kalau akhir-akhir ini Saebyul menghubunginya lagi, Chanyeol kira itu adalah pertanda kalau ia ingin merajut hubungan kembali. Kemarin saat di taman, mereka bertemu, Chanyeol rasa tidak ada yang berubah dari Saebyul, begitu juga perasaannya, Chanyeol memberanikan diri untuk bertanya tentang bagaimana keadaan Saebyul saat ini, tak terkecuali statusnya, Saebyul bilang dia tidak memiliki kekasih, namun saat Chanyeol mengajak bicara tentang hubungan spesial antara mereka berdua, Saebyul terkesan menghindar atau mengalihkan pembicaraan, begitu kira-kira Chanyeol membuat kesimpulan tentang kejadian kemarin.

Baekhyun sebagai pendengar hanya mengangguk dengan menerawang, ia usap dagunya dengan telunjuk dan ibu jari, sok berpikir. "Ah, begitu…" ia berujar. "Yah, jangan menyerah dulu, coba saja lagi! Kapan kira-kira kau bertemu lagi dengannya?"

Chanyeol masih sedikit terbengong. "Umm… Entahlah… Hey, tidak usah terlalu dipikirkan, lagipula aku tidak terlalu memikirkan ini, pacaran bukan prioritas utamaku, Baek…"

"Aku tahu… Tapi… Hey, aku merasa tidak enak sudah membuatmu kehujanan dan sakit. Ini benar-benar kesalahanku, jadi biarkan aku menolongmu…" Baekhyun mengatupkan kedua tangannya, memohon dengan mengerucutkan bibirnya. "Ayolah… Lagipula ini tidak akan susah… Tenang saja, aku punya banyak teman wanita aku rasa aku bisa mengatasi yang satu ini…"

Chanyeol lagi-lagi mendengus, disipitkannya matanya yang sudah sipit, kemudian mengangguk pelan. "Oke… Nanti kuhubungi dia..."

"Yas!" Baekhyun memekik girang, ditepuknya bahu Chanyeol hingga tubuhnya sedikit tersungkur ke depan. "Kalau berhasil jangan lupa traktir aku ya!"

Chanyeol terkekeh kemudian mengangguk.

.

.

Minggu pagi. Akhirnya Chnayeol menemukan hari yang tepat dan tempat yang memungkinkan untuk berjanjian dengan Saebyul. Tak lupa juga dia memberitahu Baekhyun. Rencananya Baekhyun akan menemui Saebyul juga namun karena ada jadwal sebelumnya jadi terpaksa ia menemui Saebyul setelah jam 11 siang. Chanyeol memberitahu Saebyul tentang Baekhyun dan rencananya, setelah mendapat persetujuan, barulah Chanyeol menghubungi Baekhyun melalui pesan singkat.

Coffee shop tempat mereka berjanjian berada di salah satu gedung tak jauh dari tempat baekhyun membawakan acara radio. Di sana terdapat ruang VIP dan ruang yang bisa dipesan khusus untuk beberapa orang saja. Chanyeol sengaja memilih ruang khusus, tentu saja karena sekarang dia tidak bisa menggunakan tempat umum seenaknya, untuk antisipasi kalau-kalau saja ada media atau sesaeng fans.

Mereka mengobrol tidak lama, Chanyeol berkali-kali meminta maaf karena dia harus pergi sebelum Baekhyun bisa datang. Jujur saja dia juga ada schedule, dan Saebyul tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, dia tersenyum ramah saat Chanyeol beranjak pergi, dan menunggu beberapa menit untuk menunggu Baekhyun.

Mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas menit, Saebyul mendengar kenop pintu berputar, kemudian sosok lelaki kecil memasuki ruangan. Baekhyun menggunakan sweater putih dan celana hitam, sneaker putih dan kacamata bundar.

"Hai, Saebyul-shii…" sapanya sembari memilih duduk di hadapan wanita berambut coklat bergelombang tersebut, kacamata ia lepas kemudian ia letakkan di meja. "Sudah lama menunggu?"

"Tidak kok…" Saebyul menjawab, lembut namun dengan nada ceria, Baekhyun balas tersenyum, memandangi wanita di depannya.

Baekhyun sudah bisa menebak, tipe wanita yang Chanyeol suka pasti yang ceria, supel namun anggun, menyenangkan dan bisa bergaul dengan siapa saja. Wajahnya sangat manis, dari caranya tersenyum dan bertutur sapa dia kelihatan baik, cerdas, terkadang juga bisa membuat lelucon-lelucon yang tentu saja membuat Baekhyun tertawa….

"Umm… Seharusnya Chanyeol berusaha lebih keras…"

"Um?"

"Dia seharusnya harus merasa sangat beruntung, tisak usah banyak protes dan menjagamu dengan baik… Kalau wanita sebaik dirimu memutuskan untuk pergi, mutlak itu kesalahannya…"

"Ah…" Saebyul menggeleng, melihat ke lain arah kemudian kembali melihat Baekhyun. "Kami sudah sepakat… Jadi kurasa tak apa-apa…"

"Ya… Mungkin tak apa-apa…. Itu yang Chanyeol sering ucapkan…" Baekhyun menghindari tatapan wanita di hadapannya. "Tapi setahuku tidak seperti itu…" kali ini dia kembali melihat lawan bicaranya. "Maaf sebelumnya, mungkin ini terdengar sangat tidak sopan, aku minta maaf sekali… Apa kesalahan Chanyeol begitu besar? Kalau boleh tahu, apa dia berselingkuh, atau kenapa?"

Saebyul nampak tak yakin, sepertinya ragu dan bingung mau menjawab apa. "Ah, a-aku tidak bermaksud apa-apa sih, seandainya kau tidak mau cerita ya tidak apa-apa, dan… Um… Chanyeol sama sekali tidak menyuruhku kok, dia tidak tahu tentang ini, dia juga tidak pernah memaksaku, aku hanya ingin tahu saja. Itu saja. Yah… Karena dia temanku…"

Si wanita terdiam sesaat, dengan senyum akhirnya ia berujar. "Tidak kok, dia bukan tipe laki-laki yang akan berselingkuh—"

"Iya aku tahu—Ah, maaf, maaf Saebyul-shii…" Baekhyun tanpa sadar menyahut, dengan cepat ia mempersilahkan Saebyul untuk melanjutkan.

"Dia baik, sangat baik… Dia juga sangat berkomitmen, sejauh ini Chanyeol adalah laki-laki paling baik yang pernah kutemui… Yah… Mendekati sempurna kalau bisa dibilang...

Aku bertemu dengannya saat masih sekolah, kami berteman lama, waktu itu aku hanya menganggapnya sebagai teman, sampai pada saat pesta perpisahan, akhirnya dia mengungkapkan perasaannya padaku, lalu akhirnya kami pacaran.

Saat itu aku tahu kalau dia juga menjadi trainee, dia berbakat dan mempunyai banyak teman. Aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, aku mendukungnya, semua berjalan dengan baik… Sampai akhirnya aku melihatnya muncul di televisi, aku baru mengetahui kalau dia akhirnya berhasil debut."

"Umm… dari sini sepertinya aku bisa menyimpulkan bahwa semuanya baik-baik saja, kalian pasangan yang cukup serasi menurutku… Lalu… Apa masalahnya?" kali ini Baekhyun bertanya.

"Karena dia terlalu sibuk, mungkin?"

Baekhyun terdiam.

"Mungkin ini terdengar egois… Aku tahu Chanyeol sangat sibuk, dia mempunyai pekerjaan yang… Yah, mungkin Baekhyun-shii tau sendiri… Seharusnya aku bisa lebih pengertian… Tapi… Aku hanyalah orang biasa, aku seperti orang-orang pada umumnya—"

"Maksudnya?"

"Pertama-tama aku turut senang, mempunyai kekasih seorang publik figur, aku senang banyak yang mengenal Chanyeol… Namun lama-lama itu menjadi melelahkan.

Tentang kesibukannya, terkadang kami hanya bisa bertemu sebulan sekali, kemudian dua bulan sekali… Intensitas kami bertemu lama-lama menurun. Kemudian tentang sesaeng fans yang sedikit banyak mengenaliku, beberapa juga banyak yang mengetahui akun pribadiku. Awalnya aku bisa cuek, namun kelamaan ada yang keterlaluan, sampai aku tidak bisa mentolerir….

Suatu saat Chanyeol pernah mengatakan padaku, dengan susah payah ia menjelaskan, bahwa hubungan atau statusnya itu merupakan hal yang sangat sensitif. Pada intinya dia tidak ingin orang-orang tahu. Saat itu aku setuju dan menyanggupinya.

Namun, aku mulai memikirkan ini juga, terkadang aku ingin pergi dengan Chanyeol ke suatu tempat, pantai, atau kemana, dengan tenang. Aku juga ingin berfoto dengannya kemudian mempostingnya, seperti pasangan-pasangan lain… Banyak hal yang tidak bisa kulakukan bila aku terus bersamanya—"

"Tapi Chanyeol masih mencintaimu." potong Baekhyun. "Tidakkah kau masih mencintainya juga?"

"Benar…. Tapi…"

"Tidak bisakah kau berkorban sedikit lagi untuknya?" Saebyul terdiam, menatap Baekhyun dengan semburat ketulusan di bola matanya. "Apakah tidak bisa? Sedikit saja… Dia sangat menyukaimu. Dia bisa saja melakukan apa saja untukmu… Dia… Terlihat sangat senang mendapatkan pesan darimu, tak berhenti tersenyum saat bertelepon denganmu…"

"Iya… Makanya aku bilang aku terlalu egois. Aku menginginkan lebih, lebih lagi dan sesuatu yang sedikit menuntut. Dia memang bisa melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya, dia memang begitu… Namun terkadang ada beberapa hal yang dia terpaksa tidak bisa…"

"Saebyul, kalau aku boleh bilang, kau sangat beruntung. Bahkan di luar sana mungkin terdapat banyak orang yang bahkan tidak bisa menyatakan perasaan pada orang yang disukainya, banyak orang patah hati karena orang yang dicintainya mencintai orang lain dan semacamnya—"

"Baekhyun-shii."

"I-iya?"

"Tapi Chanyeol juga sudah menyetujui ini…"

"Mungkin karena kau yang meminta… Kalau kau berubah pikiran dan menemuinya lagi, kurasa dia akan—"

"Tapi aku tidak bisa…"

"Kumohon cobalah."

Saebyul hanya bisa terdiam. Bukan karena ia tidak setuju, namun bagaimana Baekhyun memandangnya dengan penuh harap, bagaimana Baekhyun bersungguh-sungguh… "Baekhyun-shii?"

"Ya?"

"Kenapa kau melakukan semua ini?"

Baekhyun terbengong sesaat, menutup kedua bibirnya pelan. Sejujurnya ia juga tak tahu bagaimana harus menjelaskan. "C-chanyeolie… Kau tahu dia cukup populer? Sejak sekolah mungkin? Kalau dia mau tentu saja dia bisa tebar pesona dan mendapat pacar baru. Tapi kurasa dia sangat menyukaimu, semenjak putus darimu dia tidak lagi menjalin hubungan… Dia bilang sih tidak sempat karena sibuk, tapi… Kurasa memang dia masih menyukaimu, dan—"

"Bukan begitu, maksudku…" tak yakin, Saebyul memandang Baekhyun lekat-lekat. "Kau melakukan ini semua. Kenapa?"

Beberapa detik keheningan tercipta, Baekhyun masih merangkai kata, seandainya ada alasan lebih tepat yang bisa ia utarakan… "Kan dia temanku. Hehe… Setidaknya aku merasa senang kalau dia senang. Selama ini dia tidak cerita banyak tentangmu, tapi melihatmu sekarang aku bisa tahu… Ah, lagipula kalau ini berhasil aku bisa dapat traktiran gratis darinya!" Baekhyun meninggikan suaranya, terkekeh jenaka. "Makanya tolong pertimbangkan lagi yah? Chanyeol sekarang juga lebih tampan kan daripada dulu? Bukannya aku mengatainya kalau dulu dia jelek sih, tapi yah, tolonglah…"

Saebyul menaikkan sudut bibirnya, lengkungan senyumnya sangat cantik dan merekah, entah dari kapan Baekhyun merasa bahwa terkadang dunia tidak adil, melimpahkan seluruh keberuntungan kepada sesuatu yang telah sempurna.

"Baekhyun-shii, tapi aku—"

"Tak apa, aku tidak menyuruhmu dan tak akan memaksamu. Aku hanya meminta tolong untuk memikirkan kembali… Yah, dimulai dengan memikirkan yang bagus-bagus tentang Chanyeol mungkin? Tidakkah itu sangat mudah? Heheh, itu saja mungkin… Dan… Maaf juga telah menyita banyak waktumu. Minggu depan kami ada jadwal kosong, kami ada kumpul bersama di salah satu restoran, salah satu sunbae satu manajemen kami mengadakan pesta sebelum ia pergi militer, banyak teman yang membawa kerabat, mungkin kau bisa datang juga, bilang saja aku yang mengundangmu—"

"Baekhyun-shii?"

"Tak apa, hanya makan-makan saja kok… Yah?" Baekhyun tersenyum. "Tolong… Kali ini lakukan ini untukku…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wahhh terimakasih yang udh kasih dukungan buat Chu lewat review :' jadi terharu *usapingus

btw makasih juga yg udah mau muncul di review daniel424, byunokta, guest, erry-shii, dearodultdeer, cbhschanbaek614, baekhyeol,

*maaf kalau ada salah penulisan nama dan gelar (?)

niatnya mau update besok2 tapi karena chingudeul kasih semangat jai cepet bgt deh heheh

btw author ini org sby loh, hehe

(kmrn ada yg tanya via pm) kalo mau kenalan bole2 bingit, pm bolee

maaciihh

chanbaek, saranghaja!