Chapter V

"Aku belum percaya kalau itu benar.

Meskipun jutaan orang mengatakan 'ya', tidak akan membuatku percaya,

Kecuali aku mendengarkannya langsung darimu."

"Iya, itu memang benar."

.

.

Hiruk pikuk manusia yang sedang bercengkerama dan mengobrol terlihat di sebuah restoran Barbeque yang lumayan besar. Meja-meja telah dipenuhi makanan dan minuman. beberapa orang terlihat bergerombol dengan teman-teman dekatnya. Para pelayan sibuk berjalan kesana kemari untuk memenuhi pesanan. Baekhyun dan beberapa membernya terlihat memenuhi salah satu ujung ruangan, memilih meja persegi untuk ditempati. Ia melihat beberapa member dari Shinee dan Super Junior memenuhi meja sebelah, diliriknya salah satu meja yang masih cukup kosong, ia memilih untuk berpindah ke meja tersebut setelah menyenggol dan berbisik pada Suho yang duduk di sampingnya.

Baekhyun menyapa dua orang staff yang kebetulan menempati meja kosong yang ia tuju, mendudukkan pantatnya dan menghitung kira-kira masih berapa orang lagi yang bisa bergabung dengannya, sepertinya tiga orang, Baekhyun akhirnya duduk bersila, mengeluarkan ponselnya ketika lelaki jangkung berambut hitam memasuki ruangan.

"Chanyeol!" Baekhyun melambaikan tangan, membuat si tinggi menoleh kemudian menghampirinya. Baekhyun menggeser duduknya, memberikan Chanyeol tempat, kemudian bergeser lagi untuk memberikan satu ruang lagi di samping Chanyeol.

"Jauh sekali? Sini deketan." Chanyeol berujar, menganggukkan kepala kepada dua orang staff dihadapannya. Ia mengangguk juga pada seorang pelayan yang menaruh botol soju dan gelas kecil di hadapannya, ia kemudian dengan cepat menaikkan tangannya, memberikan tanda agar si pelayan tidak menuangkan minuman, karena memang Chanyeol tidak minum alkohol. "Kok tidak gabung dengan yang lain?" tanya Chanyeol sembari melepas jaket tebalnya, ia lempar begitu saja ke pojokan.

"Lihat tuh sudah penuh." Baekhyun menjawab seadanya, pandangan ia alihkan ke pintu kemudian ke layar ponsel.

Mungkin sekitar satu jam kemudian, acara dimulai dengan sambutan dan kata-kata semacam perpisahan yang diucapkan sang pemilik acara, ternyata Jay sunbaenim, yang memang akan berangkat militer esok harinya. Acara selanjutnya adalah makan-makan yang ditunggu semua tamu, semua makan dengan khidmat, dengan selingan obrolan sana-sini, beberapa member super junior bahkan mulai menenggak alkohol dan bercerita lucu sana-sini, member exo-pun turut andil dalam membuat lelucon.

Baekhyun masih dengan mata yang tertuju ke pintu, akhirnya mengambil nafas lega ketika seseorang membuka pintu dan melihat ke dalam ruangan dengan wajah agak bingung. Baekhyun melambaikan tangan, bangkit berdiri sembari menyenggol bahu Chanyeol.

"Hey…" Saebyul menyapa, Baekhyun terkekeh melihat bagaimana Chanyeol nampak terkejut, namun akhirnya tersenyum pasrah, ia menggeser duduknya, memberikan Saebyul tempat duduk. Baekhyun yang awalnya mengantar akhirnya mengambil jaket dan ponselnya, berjalan menuju meja membernya kemudian memberi kode kedipan ke arah Chanyeol.

"Baek? Siapa?" Suho menyenggol lengan Baekhyun, pandangannya terarah pada meja Chanyeol.

"Teman…" Baekhyun menjawab, lagi ia menyambar gelas kaca berisi soju.

Suho hanya ber-oh saja, kemudian kembali menujukan perhatian kepada salah satu member super junior yang kini entah bermaksud memberikan lagu perpisahan untuk Jay sunbaenim tapi terkesan seperti stand up comedy, gelak tawapun pecah saat Heechul memberi kecupan untuk Jay di sana-sini.

Keributan mulai mereda, beberapa orang mulai meninggalkan restoran satu per satu, dari kejauhan Baekhyun dapat melihat Chanyeol membantu Saebyul berdiri, membantu memakaikan mantel untuknya, kemudian memandang Baekhyun sesaat sebelum mengajak wanita di sisinya pergi. Baekhyun membalas senyuman Chanyeol dengan mengangkat gelasnya sembari mengangguk, setelah kedua sejoli itu lenyap di balik pintu, Baekhyun perlahan menurunkan gelasnya, setengah minumnya ia tenggak habis, ajakan Suho untuk pulang terdengar samar, namun itu tak menghentikannya untuk kembali membuka tutup botol soju kelimanya.

"Kau kuat minum ya?" seseorang menanyai, sepertinya seorang wanita, Baekhyun tak yakin benar apa yang ia lihat, ia hanya mengangguk saja, menunjukkan rasa hormatnya karena ia tahu orang-orang di sekelilingnya hampir semuanya adalah sunbaenim.

"Yah…" jawab Baekhyun singkat.

"Kalau ada party lagi kau bisa datang. Aku juga suka minum, kalau kita datang bersama sepertinya menyenangkan."

Baekhyun tak benar-benar memandang lawan bicaranya sedari tadi, yang ia pandangi hanyalah bibir gelasnya, kini entah kenapa kepala beratnya begitu mudah diangkat, dilihatnya orang yang ada di hadapannya, ia menyibakkan rambut coklat panjangnya, jemarinya bermain-main di antara anak rambutnya kemudian menyelipkannya di belakang telinganya yang berwarna pucat kemerahan.

"Oh, nee… Taeyeon noona…"

"Jangan memanggilku noona. Taeyeon saja…" ujarnya tersenyum manis.

.

.

.

Tak banyak yang Chanyeol bahas setelah kejadian di pesta barbeque beberapa minggu lalu itu. Selain karena Baekhyun yang tampaknya tak begitu banyak bertanya lagi, juga karena jadwal latihan merekapun yang semakin intens saja. Mereka sedang menyiapkan untuk album baru saat itu, Baekhyun banyak menghabiskan waktu di studio rekaman, begitu pula yang lain, latihan hampir lima belas jam sehari, sisanya untuk acara off air dan rekaman, begitu seterusnya sampai tak ada waktu bahkan untuk istirahat sekalipun.

Sesekali Chanyeol bertegur sapa dengan Baekhyun, mungkin saat mereka sedang berpapasan di dorm, namun tak banyak yang mereka bicarakan, Baekhyun banyak diam akhir-akhir ini, mungkin sebulan ini bisa dibilang. Sebenarnya Chanyeol ingin lebih banyak lagi bercerita, namun apa daya, sebelum ia datang ke dorm terkadang Baekhyun sudah tertidur duluan, terkadang Baekhyun yang tak pulang seharian, merekapun mulai jarang berkomunikasi, mungkin hanya lewat chat saja, atau sebatas telepon apabila Baekhyun bisa dihubungi.

Seperti kecepatan cahaya saja, waktu berjalan dengan tidak terasa. Bulan-bulan sibuk persiapan comeback telah terlewati, beberapa member juga telah mengganti style dan gaya rambut mereka, Chanyeol mengecat rambutnya menjadi merah gelap sedangkan Baekhyun menghitamkan kembali rambut coklatnya. Hari-hari melelahkan terbayar sudah namun jadwal yang padat juga siap menanti, comeback dan konser, fansign serta acara off air tentu akan menjadi rutinitas yang tak terelakkan.

Di tengah kesibukan itu, saat Chanyeol terduduk diam sembari menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dan coordi noona sedang sibuk menata rambutnya, ia sempat melirik Baekhyun, beberapa pertanyaan berkeliling di kepalanya, kemana Baekhyun pergi sampai ia harus pulang pagi di akhir pekan, siapa temannya yang sering ia telepon akhir-akhir ini, bagaimana suasana hatinya saat ini, atau, tidakkah ia ingin menanyai Chanyeol tentang sesuatu hal? Misalnya saja, Saebyul, yang dulu sering Baekhyun ungkit-ungkit bahkan hampir tiga kali sehari.

.

.

"Baek?" sapa Chanyeol ketika mereka berjalan menuju tempat latihan bersama.

"Oh, yah?" yang lebih pendek menyahut, menyimpan ponselnya ke dalam saku. "Ada apa?"

"Sibuk sekali… Chat dengan siapa?" ujar Chanyeol dengan nada menggoda, ia menyentuh lengan Baekhyun dengan sikunya.

"Teman…" jawab Baekhyun singkat. Langkahnya sedikit dipercepat, Chanyeol merasakan itu, ia pun membandingi langkah Baekhyun, dengan sedikit berlari kecil, ia berusaha untuk menjaga jaraknya agar dekat dengan temannya itu.

"Baek, pulang nanti, kita tidak ada jadwal lagi kan, mau menemaniku makan di luar?"

Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Bisa dibilang itu ajakan, tapi Baekhyun lagi-lagi mengeluarkan ponselnya, memandangi layarnya yang bergetar. "Lihat nanti ya." Ujarnya tanpa melihat si jangkung.

"Oh… Baiklah… Tapi, kalau kau sibuk tidak usah dipaksakan sih."

"Nanti kan? Umm… Sebentar ya, aku angkat telepon dulu." Baekhyun memilih berhenti di salah satu belokan koridor, sedangkan Chanyeol memperlambat langkahnya. Ia akhirnya berhenti juga, tak jauh dari salah satu ruangan di mana biasanya staff dan manager keluar masuk.

Dari sana ia bisa melihat Suho baru saja keluar dengan raut wajah yang susah dibaca. Nampaknya sang leader baru saja kena omelan atau berita kurang baik dari manager.

"Hyung?" sapa Chanyeol, setengah berlari menuju Suho yang kini terpaksa terhenti di posisinya. "Ada apa?"

"Manager baru saja memberitahuku… Kita ada pertemuan mendadak setelah ini."

"Huh?" Chanyeol mengernyitkan dahi, menatap Suho penuh tanya.

"Semuanya ke ruang latihan dance, ada beberapa hal yang mau disampaikan instruktur dance."

"Dance nya diganti hyung?"

"Bukan dance… Tapi formasi…" Suho menunjukkan raut muka sedih campur kesal. "Kris…. Instruktur sudah membuat formasi baru untuk menutupi posisi kosong Kris."

.

Media banyak lalu lalang mulai hari itu, setelah pernyataan resmi SM mengenai keluarnya salah satu member, begitu banyak hal terjadi, buruk tentunya. Saham dilaporkan menurun drastis, banyak issue atau kabar burung tanpa konfirmasi beredar, seluruh staff dan member terkena imbasnya, tentu saja seluruh pihak, bahkan Kris yang telah resmi keluar juga harus mengurus semuanya melalui hukum. Ia memang sudah absen beberapa hari sebelum pernyataan dikeluarkan, bahkan barang-barangnya sudah banyak yang dipindahkan kembali ke China. Pada saat itu, suasana bisa dibilang kacau, belum lagi fans yang benar-benar kecewa, dan pastinya semua member adalah orang-orang yang paling bisa merasakan betapa beratnya saat itu. Meskipun mereka tidak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan media, tidak berarti mereka pura-pura tidak peduli, mereka juga secara mental merasakan tekanan yang luar biasa. Secara profesional mereka kehilangan salah satu member yang juga mendukung kesuksesan exo, secara kekeluargaan mereka kehilangan salah satu hyung yang sudah tumbuh bersama, merasakan asam manis perjuangan bersama.

Hal ini membuat member menjadi agak sensitif, mereka cukup tenang memang, namun terkadang perselisihan muncul. Di satu sisi ada yang mendukung keputusan Kris, di sisi lain tak sedikit keluhan muncul, seandainya Kris tidak keluar, seandainya dia mau sedikit saja bersabar, seandainya… Seandainya…

.

.

Suho pernah mendengar sebuah mitos, bila hal buruk telah terjadi, biasanya akan ada hal buruk lainnya yang akan menyusul. Beberapa orang bilang bad omen. Memang tak terklarifikasi kalau itu benar, dan Suho benar-benar tak berharap hal seperti itu adalah benar. Suatu kepercayaan yang aneh memang, namun Suho acapkali menemui hal tersebut menimpa dirinya, seperti pada saat ia jatuh dari sepeda saat dulu masih berusia lima tahun, kemudian mainannya sempat hilang ketika ia sampai rumah, begitupun ketika besoknya ia berangkat sekolah, ia sempat tertinggal bis sekolah sehingga masuk telat. Saat ia dewasa, hal serupa kembali terjadi, saat itu ketika menghadiri acara musik di China, ketika kyungsoo mengalami cedera kaki sampai harus berjalan terseok-seok dan sempat dirawat di rumah sakit di sana, kemudian saat perjalanan pulang, suara emas Chen sempat hilang beberapa saat padahal akan ada acara live show yang harus dihadiri, kemudian Chanyeol yang juga terkenda demam tinggi. Ketidakberuntungan yang datang bertubi-tubi adalah hal yang paling dibenci Suho, dan di saat seperti ini, seandainya saja ada ramuan mujarab yang bisa menghilangkan itu semua, ia lebih baik berkorban meminumnya meskipun besoknya ia harus masuk rumah sakit.

Di pagi buta, deringan teleon memecah kesunyian. Suho dengan tertatih menggapai ponsel yang dengan bodohnya ia letakkan di meja, mungkin efek kelelahan di malam sebelumnya, ia menekan tombol hijau, dan sebelum ia sempat menyapa, sang manager dengan suara berat dan dingin memberi aba 'Buka akun pencarian sekarang. Lihat apa yang Baekhyun lakukan di saat yang tepat seperti ini.'

Sang leader seperti seorang sersan, langsung menjalankan begitu mendapat perintah, ia buka situs pencarian dan mengetik nama membernya dengan terburu, hanya pada akhirnya mengeluarkan dengusan kekecewaan. Ia langsung mengusap keningnya dengan mata tertutup, kemudian ponsel berdering lagi. 'Managemen akan membuat pernyataan, pastikan dia bersiap di ruangan sebelum jam 10'. Baru kali ini Suho merasa di titik paling ia tak berdaya, kaki dan punggungnya terasa berat, seakan membawa beban berpuluh-puluh ton, seandainya saja beban itu memang ada, ingin rasanya ia melemparnya dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.

.

Tak butuh waktu lama, baru lima menit setelah Suho mengetuk pintu kamar Baekhyun, keadaan langsung menjadi suram. Suho tak menjelaskan apapun, hanya meminta Baekhyun bersiap untuk menghadap manager. Saat itu Chanyeol yang ikut terbangun belum berani menanyakan apapun, membaca situasi, ia mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi melalui ponselnya.

Telinganya memerah saat melihat bagaimana foto Baekhyun dan Taeyeon tertangkap kamera tersebar dimana-dimana.

"Baek, tolong jelaskan padaku—" Chanyeol bertanya dengan gigi atas bawahnya yang terkatup, ia telah memasang kuda-kuda, sengaja menunggu Baekhyun di depan pintu kamar mandi, begitu Baekhyun keluar, langsung saja ia sodori pertanyaan. "Baek—" lengan Baekhyun diraih dengan keras, si lelaki yang lebih kecil menarik tangannya paksa.

"Tolong lepaskan, aku buru-buru."

Chanyeol bernafas melalui mulutnya yang terbuka, lengan sahabatnya ia lepaskan, dan ia biarkan ketika Baekhyun menyambar jaketnya kemudian pergi.

.

.

Berita terlanjur tersebar. Ponsel manager-nim tak henti-hentinya berdering, mungkin media atau beberapa otang sekedar ingin mengkonfirmasi apa yang memang sebenarnya telah terjadi, meskipun pihak SM telah mengklarifikasi karena telah mendapat info akurat dari si objek berita. Saat itu si leader SNSD juga dipanggil, sama-sama dengan Baekhyun yang harus menghadap ke ruangan manager. Kekacauan mungkin memang terjadi di luar sana, dua kali lipat lagi bisa ditemui di media sosial.

Kaki kanan Chanyeol tak berhenti menghasilkan nada ketukan penuh amarah. Ia lipat dua tangannya di depan dada, memilih duduk di salah satu kursi tunggu di ujung koridor penghubung antara ruangan latihan dan pintu keluar. Ia tak henti-hentinya mendengus kesal. Yakin Baekhyun tak menampakkan diri di dorm, setelah latihan ia sengaja menunggu di tempatnya, sebuah tempat strategis yang ia yakin semua orang harus melewatinya jika ingin keluar atau masuk.

Derap-derap langkah bisa ia dengar dengan baik, Chanyeol pun sudah siap dengan kuda-kuda dan rentetan dialog di kepala, ia menyeruak saat siluet Baekhyun muncul di pandangan, ia berdiri di hadapan temannya yang memasang wajah tak kalah kusut dari dirinya itu.

"Baek kau harus jelaskan padaku."

"Apa? Kau mau mem-bash ku juga? Si orang yang memperkeruh suasana?"

Berdecak pinggang, Chanyeol memandang tajam lelaki mungil yang ada di hadapannya. "Bukan begitu. Aku cuma mau kau menjelaskan."

"Menjelaskan apa?"

"Itu, itu semua—" Chanyeol menarik nafas kasar, berusaha mengontrol emosi. "Jadi selama ini kau diam karena itu semua? Aku tidak sedang ingin rebut denganmu, aku hanya ingin penjelasan, kau temanku, ini sangat membuatku kesal. Kau sudah tiga bulan ini berhubungan dengan Taeyeon?"

"Kenapa kau jadi sinis begitu?" Tak kalah emosi, Baekhyun mendongakkan kepalanya. "Aku juga punya kehidupan sendiri. Jangan dikira hanya kau saja yang bisa berkencan, aku juga. Hanya saja aku sedang sial, aku kepergok dan kau tidak!"

"Aku sedang tidak membahas itu, Baekhyun. Aku hanya sedang kecewa karena aku, sahabatmu, baru tahu itu semua melalui berita dari internet dan itu membuatku kesal. Aku membiarkanmu mencampuri urusan pribadiku, kau tahu semuanya, tapi—dengan bertingkah begini kau seperti tak menganggapku teman!"

"Kenapa kau berteriak padaku?"

"Aku tidak berteriak, Baek!"

"Kau sama saja dengan yang lain, aku muak! Aku sudah dibilang penambah kekacauan, aku sendiri juga tak tahu harus berbuat apa, kau tidak menolong malah seperti ini, kau sudah keterlaluan!" dengan amarah yang masih menggebu, Baekhyun siap mengambil langkah, namun lengannya ditahan oleh Chanyeol. "Lepaskan!"

"Tidak, kita harus meluruskan ini, aku tidak suka caramu menjawabku, dan aku juga belum selesai bicara!"

"Bicara apalagi?! Oke aku akan minta maaf padamu juga— Juga pada orang-orang kalau perlu aku akan berlutut pada mereka untuk kesalahan yang sebenarnya bukan mutlak karenaku."

"Bukan itu Baek, aku tak peduli apa kata orang dan aku hanya ingin mendengar darimu, apakah itu semua benar? Kau berkencan dengan Taeyeon?"

Baekhyun tak menatap sang lawan bicara, ia tarik kasar lengannya yang dicengkeram Chanyeol. "Iya." jawabnya singkat sambil melangkah pergi.

.

.

.