Chapter VI
"Apa kira-kira sekarang Taeyeon noona sudah pulang, ya?"
"Kau bisa meneleponnya jika penasaran." Sehun menyahut.
"Um? Ah, tidak…. Nanti aku mengganggu."
.
.
Sehun melepas sandalnya di samping slipper hitam milik Chanyeol yang terletak sembarang di atas sepetak area yang ditumbuhi rumput segar. Ia merangkak menaiki tangga sempit yang memang sebenarnya didesain untuk anak-anak. Butuh waktu lima detik untuknya mencapai puncak menara taman bermain yang cukup sempit dan hanya bisa disinggahi dua orang dewasa dengan badan berhimpitan. Ia berhenti sejenak, melihat area kosong di sampingnya, ia dudukkan pantatnya disana, berdeham pelan sampai seseorang yang bersembunyi di dalam menara sempit tak lagi memunggunginya.
"Malam ini dingin, yah." Sehun memulai percakapan, ia melirik Chanyeol, mengganti posisi dengan bersandar pada sisi menara dimana ia bisa melihat Sehun dari dalam sana. Sehun tebak Chanyeol harus merunduk dan kerja keras agar bisa memasuki dalam menara yang bahkan pintunya hanya sebesar pintu rumah-rumahan anjing tersebut.
"Iyah, dingin." balas Chanyeol sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku hoodie hitamnya.
"Kau butuh waktu sendiri? Haruskah aku pulang?" Sehun bertanya, menghargai jika Chanyeol memang ingin ditinggal sendiri. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan, setelah susah payah ia menenangkan Suho, kali ini giliran si bayi raksasa ini yang harus coba ia tenangkan.
"Jangan pergi." Chanyeol menjawab, kini melipat dua kakinya, kemudian memeluknya di depan dada. "Temani aku di sini."
Keheningan melanda, Sehun menatap teman satu grupnya dalam diam, tak biasanya si happy virus ini menunjukkan wajah sedihnya, memandangnya saja membuat hati Sehun sakit.
"Baekhyun hanya sedang tidak beruntung—" Sehun berujar, membuat Chanyeol mengangkat kepalanya sedikit, kemudian kembali menopangkan dagu di lututnya sendiri. "Manager menasehatinya seharian, ditambah Suho hyung yang juga memarahinya semalaman di dorm. Sekarang dia terlihat kacau, dia mungkin tidak akan pulang sampai besok saat kita harus berangkat ke airport pagi-pagi."
Chanyeol tak menyahut, pandangan ia alihkan ke luar, dimana ia bisa melihat taman luas yang sepi dan beberapa jenis mainan anak, serta jalan yang sepi, lampu jalan yang menyala dengan terang dan beberapa serangga yang terbang berputar-putar di bawahnya.
Chanyeol menghela nafas.
"Aku juga kaget, baru tahu kalau dia berkencan dengan Taeyeon noona. Dia sama sekali tidak cerita."
"Dia juga tidak bercerita padaku." kata-kata pertama yang keluar dari mulut Chanyeol setelah sekian lama diam. Ia mengambil nafas panjang kemudian. "Aku tidak marah karena hubungannya, hanya saja aku merasa dikhianati sebagai teman. Menyedihkan sekali."
Sehun terdiam, sengaja memberikan waktu seandainya Chanyeol mau meneruskan atau mau mengutarakan isi hatinya. Ia tekuk kakinya di depan dada, meniru apa yang Chanyeol lakukan. "Hyung, saat ini bukan saat yang tepat untuk menyesali apa yang terjadi. Kris hyung keluar dengan masih meninggalkan permasalahan dengan SM. Baekhyun saat ini menjadi sorotan, disalahkan sana sini karena jumlah fans di fancafe menurun drastis, kecaman dari pihak-pihak yang entah sebenarnya apa mau mereka, ini seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, sebaiknya kita tidak membebani mereka juga."
Chanyeol bernafas berat, ia pejamkan mata sesaat, membayangkan apa yang terjadi hari ini membuatnya lelah, ingin rasanya ia mengubur diri saja dan pura-pura tak tahu apa-apa.
"Hyung, besok aku ada jadwal pagi. Sepertinya aku harus pulang dan istirahat…." Sehun mengakhiri kalimatnya, bersiap merangkak menuruni tangga. "Sampai ketemu di dorm, hyung."
.
.
"Kau tidak ingat tujuanmu menjadi seorang artis? Pikir dan renungkan itu kembali. Kau pikir apa tujuan seorang entertainer? Membuat sensasi? Bersenang-senang? Kita semua ada disini untuk bekerja, untuk bisnis dan untuk hidup! Sekarang aku tanyai, siapa yang dengan sudi membeli album kalian kalau tidak fans? Mereka-lah yang membeli album, mengantri tiket, membeli merchandise dan membayar mahal untuk mendapat tanda tangan kalian.
Baekhyun, kau dan teman-temanmu sekarang sedang ada di masa emas, dimana kalian ada maka fans mengikuti, apa yang kalian jual mereka beli. Oleh karena itu jaga sikapmu, kalian pikir gampang membuat itu semua? Kalian pikir sepuluh atau dua puluh tahun lagi fans akan bersorak begitu kalian muncul? Pikirkan lagi!
Sekarang hampir separuh fans meninggalkan fancafe, kau tahu itu? Saham managemen menurun dan kau bisa bertanggungjawab akan itu semua? Bisa? Tidak kan? Lagi-lagi kami yang harus menanggung akibatnya.
Sekarang kembalilah ke dorm. Pikir baik-baik apa yang telah kau lakukan. Aku tidak menerima kalau ada entah berita dating atau sampah apalagi, yang kalian perlu lakukan adalah latihan dan bekerja keras. Ingat ucapanku itu."
.
Chanyeol tak kuasa menggerakkan otot kakinya, pembicaraan manager-nim luar biasa keras hingga terdengar sampai keluar ruangan. Ia rekatkan punggungnya ke dinding, menunggu hingga terdengar suara pintu terbuka kemudian tertutup kembali. Suara langkah pelan terdengar mengiringi degup jantung Chanyeol yang berdetak lemah, ia sungguh menyesal harus mendengar semua itu, hatinya sakit, apalagi membayangkan seseorang yang mendapat bentakan itu langsung di depan mata.
.
Baekhyun jatuh sakit setelah mereka mengadakan konser di China dan Jepang. Sempat ia harus istirahat total dan terpaksa meng-cancel semua jadwal yang telah diatur sebelumnya. Keadaan tak menjadi tambah baik saat itu, memang sebagian fans masih memberikan dukungan untuk Baekhyun, namun tak sedikit pula yang berubah menjadi haters bahkan tak lagi peduli lagi.
"Baek?" Baekhyun merasa bahunya ditepuk, ia menyingkirkan lengannya yang sedari tadi menutupi mata, ia arahkan pandangannya ke wajah sahabatnya yang sepertinya masih dilapisi make-up, tatanan rambut merahnya juga masih bau hair spray menyengat. "Bangun dan makanlah, kubawakan bubur tadi." ujar Chanyeol lembut disertai dengan senyum ramahnya.
Hati Baekhyun berdesir seperti ombak yang memecah laut kemudian menyapu seluruh lapisan pasir di tepian.
Dua tangan besar membantunya duduk, kemudian dengan sigap ia membuka plastik penutup mangkuk, meraup sedikit bubur putih dengan sendok yang ia bawa, kemudian mengarahkannya mendekati bibir Baekhyun. "Kau harus banyak makan agar cepat sembuh." ujarnya setelah Baekhyun berhasil melahap satu suapan.
Chanyeol tak banyak bicara setelah itu, hanya melanjutkan menyuapi Baekhyun dalam diam. Baekhyun tak ada keinginan pula untuk mengajak bicara, kepalanya terlalu pening, mungkin karena stress dan jadwal yang padat, badannya terasa menggigil padahal suhu badannya cukup panas.
"Sudah." Baekhyun berkata, Chanyeol menatapnya kemudian tersenyum, menghentikan seluruh aktifitasnya kemudian merogoh air mineral dari dalam tas ranselnya, tak lupa ia merentangkan badan dan tangannya yang panjang untuk meraih obat yang terletak di meja belajar tak jauh dari ranjang Baekhyun. "Sekarang minum obatnya dulu, setelah itu kau boleh lanjutkan tidur…"
Chanyeol mengecek empat macam pil dalam plastik yang berbeda, ia baca benar-benar, seingatnya satu jenis obat hanya boleh diberikan kalau suhu badan Baekhyun masih meninggi. Ia meraih tangan lelaki di sampingnya kemudian meremasnya pelan, mengecek apakah masih demam. "Hmm… Masih demam tidak sih?" tak yakin dengan suhu tangan, Chanyeol mendekatkan badannya, kemudian menempelkan telapak tangannya ke dahi Baekhyun, sebelumnya ia sibakkan poni panjang Baekhyun dengan tangan satunya. "Sepertinya sudah tidak…."
"Chanyeol…?"
"Hm?" perlahan, Chanyeol menurunkan tangannya. "Yah?"
"Kau sudah tidak marah padaku?"
Chanyeol berkedip, mulutnya setengah terbuka untuk beberapa detik, kemudia ia tarik kedua bibirnya melengkung ke atas. "Tidak, kok."
"Maafkan aku."
"Sudahlah." kembali Chanyeol menujukan perhatiannya pada obat-obat di hadapannya. "Kau sudah terlalu banyak minta maaf, aku sampai bosan mendengarnya." ujarnya dengan diikuti gelak tawa pelan.
"Mereka bilang, hubunganku berjalan tiga bulan… Itu tidak benar." Baekhyun berujar, dengan memandang ke bawah. "Tiga bulan yang lalu kami baru dekat, dan sebulan setelahnya barulah resmi pacaran…"
Chanyeol ber-oh menanggapi pernyataan Baekhyun. Ditatapnya wajah Baekhyun yang kini masih pucat, dengan mata merah dan sayu yang Chanyeol tidak begitu suka melihatnya, dia rindu melihat mata bersinar dan bibir tipis penuh canda tawa yang selalu Baekhyun pamerkan.
"Sudahlah, jangan dipikirkan…"
"Aku menceritakannya agar kau tidak salah paham dan marah padaku lagi. Dan aku ingin mengklarifikasi bahwa aku dan Taeyeon baru jalan dua bulan, agar kau tak salah informasi…"
Chanyeol tersenyum, tulus sekali, ia mengangguk kemudian mengelus pipi Baekhyun yang masih dipenuhi keringat dingin.
Tepat di saat yang sama terdapat suara di pintu kamar, Baekhyun dan Chanyeol menoleh, mendapati objek yang dibicarakan muncul.
"Ah, Chanyeol-sii… Maaf…" Taeyeon menundukkan kepala, kemudian menatap Baekhyun khawatir. "Pintunya terbuka, jadi…"
"Ah, iya noona…" Chanyeol bangkit berdiri, wajahnya menunjukkan raut sedikit terkejut. "Silahkan, tadi aku membantu Baekhyun minum obat, dia masih sakit…"
Taeyeon memberikan senyum kepada Chanyeol, kemudian kembali menatap Baekhyun yang masih berwajah pucat. Langkahnya ragu ketika akan berjalan mendekati ranjang, Chanyeol-pun buru-buru berjalan menjauh dan mempersilahkan Taeyeon untuk masuk. "Silahkan, noona… Umm… Noona mau minum apa? Biar aku ambilkan."
"Ah, tidak usah repot-repot, aku tidak akan lama kok…"
"O-oh, baik noona… Kalau begitu aku permisi dulu…" Chanyeol menjawab sebelum melangkah pergi.
.
.
Mendengus, Chanyeol meraih mug berisi mocca dingin di hadapannya. Dipandangnya pintu kamarnya yang tertutup saat itu, dengan seseorang yang asing yang masih berada di dalam sana, Chanyeol tak bisa menghindari untuk membayangkan bermacam-macam hal yang mungkin terjadi di balik pintu tertutup itu.
Sial. Bahkan minuman manis tak membuatnya menjadi lebih baik.
Setelah menenggak habis minumannya, tak ada pilihan lain, Chanyeol beranjak pergi. Ia memakai sneakers birunya kemudian memutar kenop pintu, seseorang terdengar setengah berlari menyusulnya.
"Hyung, mau kemana? Boleh aku pergi denganmu?" Itu suara Sehun, Chanyeol tak memberi jawaban panjang, hanya anggukan singkat dan membiarkan Sehun berjalan mengikutinya.
.
Restoran ramen menjadi tempat tujuan mereka. Sehun sengaja memesan sebotol soju juga untuk menemani makan ramen, meskipun ia tahu Chanyeol tidak minum. Ia hanya ingin melepas penat, sebotol soju adalah hal pertama yang terlintas di benaknya setelah mendapati esok ia tidak ada jadwal terlalu pagi.
"Tolong berikan aku segelas." tiba-tiba Chanyeol berujar. Sehun sempat tak yakin dengan apa yang ia dengar, namun Chanyeol mengambil gelas kecil kemudian menyodorkannya membuat Sehun refleks meraih botol di sampingnya kemudian membantu menuangkan ke gelas milik Chanyeol.
"Tumben hyung?"
"Mau coba saja." Chanyeol menjawab. Ia memandangi gelas berukuran kecil yang ada di tangannya, untuk peminum awam satu teguk saja cukup membuat Chanyeol menutup kedua matanya erat, ia mendesis keras begitu cairan bening berhasil melewati kerongkongannya.
Benar memang apa kata orang, minum adalah yang terbaik apabila ingin mengeluarkan isi hati yang susah diungkapkan. Chanyeol memang masih sadar, namun kepalanya menjadi ringan dan badannya menghangat. Ia memutuskan tak melanjutkan minum, ia memutar-mutar gelas di tangannya sebelum membuka percakapan.
"Apa kira-kira sekarang Taeyeon noona sudah pulang, ya?"
Sehun terdiam, melihat Chanyeol yang sepertinya hanya berbicara pada dirinya sendiri.
"Ah, harusnya tak perlu kukhawatirkan Baekhyun, bahkan disana sudah ada kekasihnya. Dia pasti sudah dirawat dengan baik. Ada bonus plus plus lagi." kemudian dia terkekeh.
"Kau bisa meneleponnya jika penasaran." Sehun menyahut.
"Um? Ah, tidak…. Nanti aku mengganggu."
Hening untuk sesaat.
"Sehun, tidak terasa yah, Baekhyun-ku sudah punya pacar sekarang…"
"Kau cemburu?"
Pertanyaan Sehun membuat Chanyeol menoleh. "Tentu saja tidak, kenapa aku harus cemburu kalau temanku bahagia. Suatu saat pasti aku akan mendapat pacar sendiri, yah paling tidak aktris kalau begitu…"
"Bukan cemburu seperti itu.. Baekhyun dan Taeyeon… Apa kau cemburu pada salah satunya?"
Chanyeol terdiam, ia tak lagi memandang Sehun. "Apa sih yang kau katakan…. Aku memang pernah bilang mengagumi Taeyeon noona sebagai member SNSD, tetapi aku tidak sampai begitu…"
"Bukan Taeyeon… Seandainya itu Baekhyun?" Hanya hembusan nafas panjang Chanyeol yang terdengar, Sehun tertawa kecil kemudian melanjutkan. "Ini benar-benar lucu. Aku pergi dengan dua orang dengan masalah dan ekspresi yang sama. Suasananya juga mirip seperti ini lho."
Chanyeol menoleh ke arah Sehun dengan wajah penuh tanda tanya. "Maksudmu?"
"Waktu itu aku juga yang menemani Baekhyun minum." Sehun menerima tatapan Chanyeol. "Waktu itu setelah kau mengantar pulang teman wanitamu selesai acara pesta perpisahan Jay hyung. Baekhyun mengajakku kesini juga."
"A-aku tidak mengerti."
"Aku pikir dia sedang bercanda. Dia membicarakanmu semalaman, tak berhenti minum sampai habis lima botol soju. Dia bilang kau sudah mendapat pacar, oleh karena itu dia juga harus mencari pacar juga, katanya untuk menyembuhkan hatinya yang sakit karena ditinggalkan olehmu." Sehun terkekeh. "Lucu sekali."
Chanyeol membuang tatapannya ke meja, lagi ia menuangkan soju ke dalam gelasnya kemudian menenggaknya sekali teguk. "Kenapa dia bodoh sekali." suaranya bergetar. "Ini semua salah paham, kenapa sih dia itu menjengkelkan sekali."
Sehun menatap Chanyeol kembali. "Maksudmu?"
"Aku tak berpacaran dengan siapapun sampai detik ini. Aku tidak balikan dengan Saebyul!" entah kenapa Chanyeol berteriak, kepalanya dua kali lebih berat, dan Sehun tahu bahwa sebaiknya ia segera memapah Chanyeol pergi karena Chanyeol mulai meraih botol soju lagi dan lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author note:
Big thanks buat yang uda mau nambahin Review,
AfifAmo, ByunJaehyunee,Lywoo,Rinpcy614,
author seneng bangetlho kalo ada yang mampir di review,
teheee,
gumawoooo
