Chapter VII
"Hyung, kau mencintainya?"
"Tidak mungkin ada seseorang yang tak jatuh cinta pada Byun Baekhyun"
.
.
Saat itu musim dingin bulan desember. Chanyeol melihat seseorang berperawakan kurus dengan langkah kecil dan wajah yang sedikit ditekuk, berjalan takut-takut menuju ruang daftar trainee di tempat ia biasa latihan. Untuk seukuran laki-laki dia memang bisa dibilang mungil, saat itu rambutnya berwarna hitam kelam dan poninya dibiarkan sedikit agak panjang. Jaket yang ia kenakan terlihat agak besar, mungkin memang ukurannya satu size lebih besar dari ukuran tubuhnya. Sepatu putihnya agak lusuh, dan tas ransel hitam yang ia bawa, Chanyeol sempat melihat bekal makan dan botol air minum pernah keluar dari sana.
Dilihat dari postur, sepertinya anak yang Chanyeol lihat itu jarang berolahraga. Chanyeol mengasumsikan mungkin ia tidak mendaftar audisi untuk dance, Chanyeol juga berpikiran mungkin bukan pula untuk akting, karena dia kurang ekspresif, maka Chanyeol menebak-nebak, mungkin untuk vocal? Saat itu Chanyeol memutuskan untuk mengintip di ruang latihan vocal, dan benar saja, pertama kali mendengar anak itu bersenandung, Chanyeol langsung merasa ada yang tidak beres dengan telinganya. Merdu sekali. Batinnya di kala itu.
Anak itu adalah pekerja keras, demikian pendapat Chanyeol. Ia melihat bagaimana sepatu putih anak itu semakin lusuh dan goresan-goresan halus mulai terlihat di sisi kanan kirinya. Bahkan jahitan di bagian tungkainya mulai sedikit terbuka. Chanyeol sedikit mencari tahu kenapa bisa begitu, hingga suatu malam ia sempat melewati ruang latihan dance, disana lampu masih menyala dengan terang benderang, dan suara musik masih mengalun. Anak itu tak berhenti latihan hingga malam berganti pagi.
Setelah beberapa bulan menjadi trainee, biasanya beberapa anak akan dikelompokkan, dalam satu kelompok akan ada satu senior yang akan bertanggung jawab penuh atas semua yang terjadi. Misalnya untuk latihan dan lainnya, bahkan untuk teman curhat sekalipun. Biasanya senior akan mengajari beberapa hal, termasuk selain tentang subjek latihan, misalnya saja bagaimana menarik hati para instruktur, karena memang pada dasarnya menjadi idol adalah bagaimana menarik perhatian orang. Chanyeol pernah saja diajari, lebih tepatnya diberi tips agar wajahnya terlihat lebih cerah sepanjang waktu, atau bagaimana seharusnya tatanan rambutnya yang pas saat ini, pelan-pelan Chanyeol akan diajari juga bagaimana cara make-up yang simple dan ke dokter mana seharusnya ia pergi agar kulitnya terlihat segar. Untunglah Chanyeol mendapati senior yang dapat memberinya tips-tips jitu, dan keberuntungan tersebut tak ingin ia simpan sendiri, ia ingin membaginya dengan beberapa orang, termasuk anak yang beberapa kali menarik perhatiannya. Saat itu ia hendak menghampiri anak itu, namun betapa terkejutnya ia melihat bagaimana anak itu telah bertransformasi bahkan sebelum ia menjulurkan tangannya untuk berkenalan. Rambutnya tak lagi hitam panjang, raut wajahnya tak lagi kusam, sebaliknya, rambut coklat gelap halus yang bergoyang karena angin, kulit putih yang selama ini tersembunyi, mata indah cerah dan bibir merah muda tipis yang luar biasa cantik ketika tersenyum. Manis sekali. Pekik Chanyeol saat itu.
Banyak orang yang mengatakan bahwa jangan pernah mengambil kesimpulan hanya dengan melihat penampilan luar saja, Chanyeol-pun memegang teguh pepatah itu, meskipun ia telah menganggap bahwa lelaki yang selama ini menarik perhatiannya adalah calon teman yang baik untuknya, namun Chanyeol tak langsung saja memutuskan demikian. Ia akhirnya memutuskan untuk berkenalan dengan lelaki itu, mereka berjabat tangan untuk pertama kali di depan ruang dance di sore hari setelah latihan selesai. "Baekhyun. Byun Baekhyun." ia melafalkan namanya dengan jelas seakan dirinya adalah anak lima tahun yang baru bisa mengeja. Aneh memang, namun Chanyeol langsung terkekeh dengan hal kecil tersebut, dibalasnya perkenalan Baekhyun dengan "Kalau aku Park Chanyeol." entah kenapa suaranya berubah, seperti sedang menghadapi anak usia tiga tahun? Lucu sekali, mereka terkekeh hanya dengan percakapan singkat tersebut, Chanyeol tak hentinya mengumpat dalam hati betapa lucu dan imutnya seseorang di hadapannya itu, dan di tengah kesibukannya menyelami pikirannya sendiri, ia baru saja sadar bahwa Baekhyun sedang mendongak, menatapnya lekat-lekat. "Ada apa? Ada yang aneh dengan wajahku?" Baekhyun tidak menjawab sesaat, ia tersenyum, tersipu lebih tepatnya, kemudian berujar. "Tidak… Hanya saja… Kau keren sekali kalau sedang tersenyum." mendapat jawaban seperti itu Chanyeol hanya bisa terbengong, kemudian dengan lagi menyunggingkan senyum miringnya, ia balas menjawab. "Yah… Bagaimana yah, takdirku sih jadi orang ganteng." yang kemudian dibalas dengan decihan dan sikutan oleh Baekhyun di lengan kirinya.
Baekhyun adalah orang yang sensitif. Begitu yang Chanyeol rasa. Ia sebenarnya gampang menangis, ia gampang terenyuh dan hatinya begitu lembut. Seringkali mereka menemui orang yang kurang beruntung, atau ketika melihat tayangan yang menunjukkan bagaimana bermacam-macam jenis manusia dan beberapa diantaranya ada yang mengalami kehidupan yang berat, Baekhyun biasanya akan terdiam sesaat, wajahnya begitu sedih. Namun ia seringkali tak menunjukkan itu semua. Ditutupinya semua itu dengan gurauan-gurauan dan senyum serta tawa riangnya. Untuk orang yang pertama kali bertemu, pasti beranggapan kalau Baekhyun itu jutek, dan sedikit sombong, tapi sebenarnya dia itu sangat baik dan perhatian, ia sangat peduli dengan orang sekitar, apalagi dengan sahabatnya, Chanyeol pernah juga mengalami sakit di tengah latihan, dan bagaimana cara Baekhyun mengomelinya dan menyerangnya dengan jutaan kalimat pedas sembari memijit keningnya, membuat Chanyeol berpikir, Baekhyun memberikan perhatiannya tak seperti kebanyakan orang, ia bisa menunjukkan kasih sayangnya dengan cara sendiri, dengan cara yang selalu Chanyeol suka.
.
.
Aroma parfum wanita begitu asing di indra penciuman Chanyeol, disingkirkannya selimut milik Baekhyun yang ia rasa merupakan seumber dari wangi seperti bunga-bunga tersebut. Ia lebih suka aroma Baekhyun yang biasanya, vanilla atau strawberry, itu lebih bisa menenangkan pikiriannya.
Chanyeol tak ingat benar apa yang telah ia lakukan, seingatnya ia menarik selimut dari ranjangnya untuk menutupi tubuh sahabatnya, kemudian kepalanya berat, terlelaplah ia dengan pipi dan hidung tertempel di bahu si lelaki yang lebih pendek, kepalanya ikut naik turun seirama dengan ritme nafas Baekhyun.
.
"Chanyeol-ah?" pipinya ditepuk, Chanyeol merasa masih sedikit pening, ia membuka mata sesaat kemudian, wajah Baekhyun samar-samar menyambutnya. "Bangun, sudah pagi." dari nada bicaranya Baekhyun sepertinya sudah jauh lebih baik. Chanyeol membangunkan badannya sendiri, matanya sungguh sulit untuk dibuka namun ia berusaha, ia bernafas berat sambil melihat sekitar, menguap lebar-lebar ketika jemari Baekhyun merapikan rambutnya yang sudah seperti rumput belakang sekolahan. "Seperti bau alkohol? Kau minum?" tanya Baekhyun dengan menaikkan wajahnya agar bisa mengendus sekitar leher Chanyeol.
"Uh?" refleks, Chanyeol menarik kepalanya ke belakang. Matanya tertuju pada hidung Baekhyun yang mengendus, kemudian bibir merah mudanya, entah kenapa memandangnya membuat Chanyeol berpikir apa saja yang telah bibir itu sudah ucapkan dan dapatkan setelah Baekhyun mempunyai kekasih saat ini, berkata manis, mengucapkan kata cinta, memanggil nama kekasihnya dengan panggilan sayang 'Tangeoo', kini bibir itu tak lagi hanya untuk berbicara, untuk cemberut, untuk dimajukan jika Baekhyun menginginkan sesuatu untuk dipenuhi, untuk dijilat jika terasa kering, untuk diberi lip balm agar wajahnya tampak fresh, sekarang, mungkin, bibir itu sudah merasakan bagaimana hangatnya mendapatkan kecupan dari seseorang yang telah menjadi kekasihnya, bagaimana bibir itu menempel di bagian kulit wajah halus seorang wanita yang kini menjadi idaman hatinya—"Maaf, aku tidak sadar, ketiduran di sini semalam." tidak seperti biasanya, Chanyeol tidak terkekeh, ia tidak merasa ingin tersenyum melihat sosok sahabatnya itu, tidak ada ketenangan yang biasa muncul ketika melihat Baekhyun, sebaliknya, hatinya seperti terasa sakit, sakit melihat Baekhyun dan semua miliknya yang selama ini diam-diam Chanyeol kagumi.
.
.
Dua atau tiga bulan terlewati dengan kegiatan rutin yang masih harus dijalani member. Meskipun masa promo telah usai, namun jadwal individu masih penuh dan hanya sesekali mereka bisa merasakan hangatnya selimut atau santainya menonton tv dengan baik, dan untuk Chanyeol, ia sangat bersyukur karena jadwal padat membuatnya lebih sering menjalani aktifitas di luar, berangkat pagi kemudian pulang malam, banyak kegiatan yang dilakukan membuat otaknya lebih banyak berpikir, dan untuk sementara, mengenyampingkan permasalahan hatinya.
Sore yang damai, Chanyeol berpikir sembari memandangi pemandangan di luar, renteten bangunan di sepanjang jalan yang mobilnya lalui. Si tinggi itu melihat ponsel yang sedari tadi ia genggam, mengecek pesan, beberapa pesan masuk hari ini, dari teman dan kerabat, ada juga pesan tidak penting dari jasa telekomunikasi, Chanyeol menggeser ke atas layar smartphone-nya, nama Baekhyun tertera di antara rentetan pesan masuk, tertanggal 12 Agustus, yang berarti itu sekitar satu bulan yang lalu, sebuah pesan singkat menanyai kapan pulang, pesan yang lucu memang, Chanyeol tersenyum kecil, diketuknya notif berisi pesan tersebut, kalau diingat benar-benar, memang semenjak malam Chanyeol minum itu dia tidak lagi sering menghubungi Baekhyun, baik secara langsung atau melalui telepon, alasan utamanya sibuk tentu saja, karena jadwal dan yang lain, tapi kalau dipikir benar, Chanyeol tentu tahu apa yang dirasakannya, perasaannya masih kalut, membayangkan apabila ia berada di dorm dan mendengar Baekhyun sedang menelepon kekasihnya, melihat Baekhyun sedang dijemput Taeyeon malam-malam untuk pergi berkencan di waktu senggang…
"Hyung, apa aku ada jadwal lagi setelah ini?" Chanyeol bertanya lagi pada manager.
"Tidak. Kau free sampai lusa."
Baru kali ini, Chanyeol merasa tidak begitu senang dengan jawaban yang didengarnya.
.
.
"Baru pulang?" jujur saja Chanyeol terkejut ketika Baekhyun menghampirinya di dapur, ia sedang tengah membuat kopi ketika Baekhyun memasuki ruangan dengan menggunakan kaus putih dan celana piyama biru. Ia berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol air dari sana, meneguknya sambil berjalan ke meja makan. "Sudah makan belum?"
Dulu, seandainya Baekhyun bertanya seperti itu, Chanyeol tanpa pikir panjang akan menjawab dengan nada menggoda 'Uh, manisnya~ Kalau aku belum makan, kau mau suapi?' lalu Baekhyun akan memasang wajah masam sambil berdecih, kemudian Chanyeol akan mengejarnya sambil tertawa, menyeretnya ke dapur kembali lalu mendudukannya 'Belum, ini mau masak, mau makan apa? Biar kubuatkan sekalian' Chanyeol selalu berakhir dengan menjadi chef dadakan setiap kali Baekhyun mengajak bicara soal makan, dan sejujurnya yang paling Chanyeol suka adalah ketika Baekhyun duduk tenang di belakangnya, menemaninya yang sedang sibuk dengan spatula dan penggorengan, dengan sesekali memberikan pujian betapa wanginya masakan Chanyeol saat itu.
"Chanyeol-ah?" lagi Baekhyun menanyai, dihampirinya si jangkung yang kini masih mematung di tempatnya, yang terdengar hanya suara dentingan sendok beradu dengan gelas porselen. "Kau mendengarku?"
"Sudah." Chanyeol menjawab, tubuhnya refleks mundur satu langkah ketika Baekhyun berjalan mendekatinya.
"Oh…" Baekhyun hanya mengangguk. Ia menatap datar gelas yang ada di hadapan Chanyeol, biasanya sahabatnya itu akan membuat Mocca, Machiatto, atau semacamnya, tak sering ia melihat Chanyeol meminum kopi hitam pekat yang Baekhyun rasa itu adalah Americano. Seingatnya Chanyeol tak terlalu suka pahit, dan ia baru tersadar sesaat kemudian bahwa sudah lama ia tak mengobrol dengan sahabatnya itu. Sudah sebulan lebih rasanya, dan apakah selama sebulan itu selera Chanyeol juga berubah? "Tak biasanya kau membuat Americano. Tidak ditambah susu?"
Baekhyun bisa melihat Chanyeol memberhentikan gerakan mengaduknya, ia terdiam sesaat sebelum menatap kedua mata Baekhyun. "Tidak."
"Oh… Susunya habis?"
"Tidak."
"Umm…" Baekhyun hanya mengangguk, dilihatnya Chanyeol yang kini sudah tak memandangnya, kepalanya menunduk lagi ke bawah, kembali mengaduk kopinya. "Biasanya kan kau suka mocca, atau machiatto… Seleramu berubah?"
"Tidak juga."
Baekhyun merasakannya, jawaban dingin yang diberikan Chanyeol, mungkin dia memang sedang capek, seharian dia di luar dengan jadwal padat, Baekhyun berusaha menstabilkan mood-nya, ia atur nafasnya sehingga terdengar lebih santai. "Oh iya, karena akhir-akhir ini kita jarang ketemu juga sih, mungkin karena jadwalmu yang padat jadi aku kurang tahu seleramu berubah jadi seperti apa—"
"Aku sebenarnya tidak terlalu sibuk." Kali ini Chanyeol yang berkata. "Bukannya kau yang sibuk?"
Baekhyun yang hendak mengeluarkan kata-kata terpaksa menutup kedua bibirnya, ia mengikuti pergerakan Chanyeol yang saat ini memutar tubuh untuk menghadapnya.
"Jadwalku tetap sama, bahkan kau bisa melihat jadwalku setiap saat kalau kau mau, kau bisa mendapatkannya dari manager-nim, yang memang satu kantor, satu apartemen, dan setiap hari bisa kita temui. Bahkan kau bisa langsung bertanya padaku jika kau mau. Tapi kau tidak bertanya. Kau punya kegiatan sendiri kan? Jadi kalau kita tidak banyak ngobrol bukan karena jadwalku yang padat, tapi memang kau yang tidak mau tahu."
Entah kenapa, Baekhyun merasa jawaban Chanyeol bukanlah jawaban yang begitu enak didengar, bahkan Baekhyun tidak paham kenapa pertanyaan singkatnya memancing jawaban yang begitu panjang begini. Diurungkannya niatnya untuk membalas jawaban itu, ia tahu kalau sepertinya Chanyeol tak begitu mendukung hubungannya dengan Taeyeon, amarahnya ia tahan, berusaha memahami bahwa sahabatnya memang mungkin sedang tidak dalam kondisi baik saat ini. "Bukan begitu maksudku… Oke, iya aku mengerti, memang sebaiknya aku tidak menanyakan apa-apa dulu, maaf aku mengganggumu—"
"Aku tidak pernah mengatakan kalau kau pengganggu—"
Chanyeol hampir saja meninggikan suaranya, bersamaan dengan itu terdengar bunyi ponsel yang bergetar dari dalam saku celana Baekhyun. Lelaki itu langsung merogoh sakunya, membalik tubuhnya untuk kemudian menjawab telepon yang seketika membuat Chanyeol berdecih benci.
'Kututup dulu telfonnya…' Chanyeol mendengar Baekhyun berujar sebelum membalik badannya kembali lalu maju satu langkah untuk mendekat.
"Ini dari Baekbom hyung—" entah kenapa Baekhyun merasa ingin menjelaskan, setelah percakapan tadi Baekhyun tak ingin Chanyeol berasumsi bahwa yang ia terima barusan adalah telepon dari Taeyeon. "Ini benar-benar dari Baek—"
"Ya sudah, memangnya kenapa kau harus menjelaskan itu padaku?"
"Kupikir kau akan mengira ini dari… Taeyeon, mungkin?"
Chanyeol bernafas kasar, ia sendiri tidak tahu kenapa, rasanya seperti ada sesuatu yang menancap tepat di dadanya, dengan segera ia menghentakkan kaki, mencoba pergi.
"Chanyeol-ah, kenapa? Kau marah padaku? Kenapa lagi?" Baekhyun menahan sahabatnya itu, ia meraih apa saja bagian tubuh Chanyeol, saat itu hanya ujung kaus lengan panjang si tinggi yang bisa ia raih. "Kukira kau sudah memaafkanku. Asalkan kau tahu, tak masalah semua orang menghujatku dan memusuhiku, asalkan kau tidak—" Baekhyun merasa genggamannya ditarik keras, Chanyeol kemudian memutar badan untuk menatapnya, dengan pandangan marah yang sepertinya baru kali ini ia lihat selama lebih dari lima tahun ia mengenal Chanyeol.
"Begitu? Apa aku selalu menjadi daftar urutan manusia terakhirmu?"
Baekhyun mengerutkan dahi, tak mengerti, iapun hanya bisa menggeleng. "Bukan begitu—"
"Sudahlah. Mungkin kau benar, aku sedang capek, aku tadi hanya ingin minum kopi, mencoba barangkali saja dengan kopi kepalaku bisa terasa lebih baik, tapi kau tiba-tiba datang, lalu… Sudahlah." Chanyeol tak sempat melihat lagi, ia mengambil langkah pergi.
"Tunggu, aku tak bermaksud begitu tadi. Chanyeol-ah!"
Chanyeol tak menoleh, ia berjalan kesal menuju pintu, dua langkah entah kenapa terasa seperti dua ratus langkah, ia benar-benar kesal dengan perkataan Baekhyun, meskipun ia tahu Baekhyun berusaha sangat sabar untuknya, namun amarah dan perasaannya sedang tidak bisa ditoleransi saat ini, ia hanya ingin pergi, itu saja, dan kalau Baekhyun saat ini mengejarnya, ia benar-benar bersumpah tidak akan menggubrisnya.
"Chanyeol!"
Tanpa melihat belakang, Chanyeol meneruskan langkah, ia bisa mendengar derap-derap kaki Baekhyun tengah mengejarnya.
"Chan—"
"Apa sih?!"
Chanyeol menghentakkan lengannya yang hendak diraih Baekhyun, suara porselen jatuh terdengar kemudian, nyaring, suara cipratan air juga terdengar keras, Chanyeol tak tahu jelas apa yang terjadi, yang ia tahu ia baru sadar bahwa Baekhyun mengejarnya dengan membawa kopinya, dan tanpa sengaja Chanyeol pasti menampiknya sehingga gelas porselen itu jatuh ke lantai dan pecah berpeking-keping.
"Baekhyun?" Chanyeol memekik khawatir, yang ia bisa lihat hanya Baekhyun menggenggam pergelangan tangan kanannya sendiri, sepertinya kopi panas menumpahi telapak tangannya. Chanyeol luar biasa panik, ia berlari kembali mendekati Baekhyun, pecahan porselen di lantai tak ia hiraukan, ia raih tangan Baekhyun yang sepertinya memang melepuh.
"Jangan sentuh!" Baekhyun setengah berteriak, entah karena teriakannya atau karena suara gelas pecah tadi, akhirnya memancing beberapa member untuk datang menuju ke dapur. "Baik aku pergi. Maaf mengganggumu." ujarnya sambil lalu, menerima bantuan Minseok yang saat itu langsung masuk sambil menanyai.
Chanyeol hanya bisa diam, tak bisa lagi mengungkapkan kata-kata, baru kali ini hatinya terasa berat, merasa bersalah sekaligus kesal, dan luar biasa sakit mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
"Kenapa? Kalian bertengkar? Kenapa lagi?" Sehun menanyai, sambil melihat sekeliling, bekas tumpahan kopi dan pecahan gelas di sana sini.
"Iya, ada apa?" Jongdae yang berdiri di belakang Sehun juga ikut menanyai, melihat Chanyeol kemudian menariknya sedikit ke arah samping agar tak berdiri tepat di atas pecahan-pecahan gelas yang berserakan.
"Tolong lihat saja Baekhyun." Chanyeol menjawab masih dengan memandangi pintu. "Aku ceroboh tadi, tidak tahu dia sedang membawa kopi, tangannya pasti melepuh."
Sehun dan Jongdae sempat bertukar pandang sebelum melihat lagi ke arah si jangkung, Jongdae angkat bicara. "Iya, tapi kau coba lihat dulu kakimu, jangan-jangan kena pecahan gelas…"
"Aku tidak apa-apa, pergi dan tolong lihat keadaan Baekhyun…"
.
.
Sang dokter keluar dari kamar Baekhyun, berjalan sambil berbicara dengan sang leader. Suho menundukkan kepalanya kemudian membukakan pintu untuk lelaki tua yang berkacamata dan berjas putih tersebut, di belakangnya terlihat manager-nim yang juga ikut keluar dengan membawa kunci mobil.
Chanyeol terdiam, namun tangannya masih sibuk menempel-nempelkan kapas yang sudah diberi antiseptik di sekitar luka gores di jari kakinya. Tadi begitu ia berjalan menghampiri Baekhyun ternyata kakinya sempat terkena pecahan gelas, tentu saja tak begitu dalam, mungkin luka Baekhyun-lah yang lebih parah, Chanyeol tak bisa berhenti memikirkan itu.
"Sudah? Malam ini kau tidur di sini. Atau di kamarku. Biarkan Baekhyun istirahat dengan baik. Jangan berani-beraninya mengganggunya dulu atau kukunci kau di luar." Suho berkata, dengan berdecak pinggang, kembali ia pasang wajah sebal seperti ketika ia mengomeli Chanyeol sejak dua jam yang lalu. Chanyeol seperti hanya setengah mengindahkan semua perkataan Si leader. Ia menutup botol antiseptik sebelum akhirnya meluruskan kakinya hingga memenuhi sofa.
"Aku di sini saja."
"Bagus. Lagian kalian meributkan apa sih? Apa kalian tidak ingat umur? Kau dua puluh tiga tahun, Park Chanyeol, sekedar mengingatkan barangkali kau memang lupa."
"Hyung, aku sudah mengalah tidur di sini. Tak bisakah aku tidur sekarang? Kepalaku sakit…"
"Kaki dan kepalamu saja yang sakit? Kau tak tahu seluruh organ dalamku sakit?"
"Baik… Baik… Maafkan aku."
Suho akhirnya berjalan menjauh, sembari menghela nafas berat tentunya, ditinggalkannya Chanyeol dengan segala kekalutannya, yang sesekali dengan mata sedihnya menatap pintu kamarnya yang tertutup
.
Sehun terbangun sekitar pukul tiga dini hari, hendak mengambil air minum ketika ia lihat sofa telah kosong padahal terakhir ia dengar Chanyeol akan menempatinya untuk tidur. Ia berjalan pelan-pelan melintasi ruang tamu, kakinya mengarahkannya menuju ke kamar dimana Baekhyun biasa tidur, seperti telah mengetahui bahwa Chanyeol akan berada di sana.
Chanyeol memang berada di sana (Sehun mengintipnya dari celah pintu yang kebetulan terbuka sedikit), menekuk kakinya hingga tingginya hampir sejajar dengan ranjang, ia usap punggung tangan Baekhyun yang kini terbalut perban dan terletak di atas dada, wajahnya sangat tenang ketika kepalanya menunduk untuk mengecup area yang baru saja ia sentuh – Merupakan adegan mencuri ciuman paling manis yang Sehun penah lihat seumur hidupnya.
.
.
Beruntung tak ada jadwal penting selama tangan Baekhyun masih cidera, dan selama itu pula Suho masih mengecam Chanyeol untuk tidak mendekati Baekhyun kecuali mereka berdua sudah sanggup untuk berjabat tangan dan berpelukan di depan kedua mata Suho. Sayangnya keduanya tak nampak ingin melakukannya, Chanyeol-pun masih merasa tak enak pada Baekhyun, si lelaki mungil itu masih enggan menyapanya, mungkin butuh waktu beberapa hari lagi, dan selama itu Chanyeol hanya bisa menunggu dan bersabar.
Suatu sore yang sibuk seperti biasanya, set mereka untuk photoshoot untuk salah satu majalah adalah jadwal terakhir mereka di hari itu. Chanyeol telah selesai untuk pemotretan individu, kemudian ia memilih untuk menuju kursi tunggu saat staf mulai mengarahkan member lain untuk berfoto. Selanjutnya adalah Baekhyun, Chanyeol hanya bisa memandang, lumayan jauh jaraknya, untungnya masih bisa menangkap jelas bagaimana Baekhyun biasa berpose untuk pemotretan, ia memiringkan kepala, tersenyum, saat ada jeda ia akan menjulurkan lidah untuk membahasi bibirnya, kemudian tersenyum geli kalau fotografer memujinya, Chanyeol akan suka melihat bagaimana Baekhyun menggigit bibirnya malu ketika ia membuat kesalahan sendiri, ataupun ketika telapak tangannya menutupi bibirnya saat ia tertawa.
.
"Aku yakin tak salah lihat. Begitu semalam aku melihatnya." Sehun berujar, mengarahkan pandangan ke lawan bicaranya, Jongdae.
"Aku juga tahu itu. Sepertinya Chanyeol masih tidak sadar juga."
"Aku harap Chanyeol akan segera sadar, melihatnya saja – Uh, hyung?" Sehun mendongak, kemudian menggeser duduknya, saat itu ruang tunggu sebelah ruang pemotretan agak sepi, jadi ia memutuskan untuk beristirahat sebentar dengan Jongdae yang memang sudah menyelesaikan sesei photo nya juga. "Hyung kau di sini?" tanya Sehun lagi pada Chanyeol yang baru menghampirinya dan kemudian langsung duduk di antara Jongdae dan Sehun.
"Tentu saja aku harus datang, karena namaku dibawa-bawa. Ada apa?" Chanyeol menjawab, melihat Sehun dan Jongdae bergantian. "Apa yang kalian bicarakan dengan membawa-bawa namaku, huh?"
Sehun terdiam, melirik Jongdae dari ujung matanya, ia kemudian memandang Chanyeol yang masih memasang wajah tak begitu bersemangat, kemudian ia memutar tubuhnya sedikit ke kiri agar bisa menghadap hyungnya itu.
"Hyung, ini aku dan Jongdae sedang membahas… Kalau akhir-akhir ini kau dan Baekhyun jadi tidak begitu akur. Menurutku semenjak rumor Baekhyun tersebar…" Sehun membuat jeda. "Apa… Ini hanya perasaanku saja atau bagaimana?"
"Iya. Sebelumnya kalian tidak pernah seperti ini. Memang sih, saat ini banyak yang tidak suka dengan Baekhyun, tapi setauku kau temannya, bukannya teman akan saling mendukung? Atau, memang ada sesuatu hal yang kau sebenarnya tahu itu tidak baik untuk Baekhyun? Apa ada sesuatu yang membuat kalian berselisih paham?" Jongdae menambahi.
Chanyeol nampak berpikir sesaat, ia menunduk lesu, memainkan jemari tangannya sendiri. "Aku sendiri tidak tahu. Suasana hatiku memang sedang tidak enak saja. Aku kurang tahu juga dengan hubungan mereka, dan Taeyeon noona juga sepertinya baik, tidak ada masalah dengan mereka, aku saja mungkin yang bermasalah dengan diriku sendiri."
Ketiganya terdiam, Jongdae akhirnya meneruskan percakapan.
"Lalu, kenapa kau semalam sampai seperti itu? Pasti ada alasannya kenapa kau bertengkar sampai tangan Baekhyun luka seperti itu—"
"Kalau itu tidak sengaja." suara Chanyeol sedikit meninggi. "Itu benar-benar tak disengaja, mana mungkin aku marah sampai melukai Baekhyun? Aku hanya tak melihat dia membawa kopi panas, aku sedang memunggunginya waktu itu…"
"Lalu kenapa kau marah?" Kini giliran Sehun.
"Aku juga tidak tahu!
Keheningan tercipta sesaat.
"Hyung kau mencintainya?" Sehun berujar, membuat Chanyeol dan Jongdae mematung, keduanya menoleh ke arah Sehun hampir bersamaan.
"Tentu saja aku mencintainya, aku juga mencintai kalian…"
"Bukan seperti itu." Sehun meneruskan, bayangan apa yang dilakukan Chanyeol untuk Baekhyun semalam kembali di kepalanya. "Bukan seperti kau mencintai kami, tapi seperti Taeyeon mencintai Baekhyun…"
Atmosfer berubah, suhu di sekitar tubuh Chanyeol tahu-tahu berubah pula, ia melihat ke arah lantai dimana ada meja kecil di sampingnya. "Tidak ada orang yang tak jatuh cinta pada Byun Baekhyun." ujarnya lirih.
Sehun tak tahu harus berkata apa, begitu pula Jongdae, hanya ritme nafas yang terdengar, ketiganya duduk dalam diam, menyelami pikiran masing-masing, terlebih Chanyeol mulai benar-benar mencerna kalimat yang diutarakan Sehun. Benarkah ia mencintai Baekhyun? Cinta macam apa? Mereka sudah hidup bersama selama bertahun-tahun, mereka berteman baik, latihan bersama, bahkan mandi bersama saat trainee dulu, tak ada secuilpun dari Baekhyun yang Chanyeol tak tahu, begitu pula sebaliknya. Semua sifat Baekhyun, semua yang ia sukai dan tidak. Mereka sudah seperti keluarga. Susah senang bersama, semuanya, lalu apa benar dia akan jatuh cinta dengan orang yang sudah dianggapnya keluarga? Chanyeol yakin itu bukan cinta yang Sehun maksud, pasti bukan, Chanyeol yakin dalam hatinya, namun hatinya kembali goyah, ditanyainya dirinya sendiri, tentang kenapa hatinya menjadi kalut ketika Baekhyun sudah memiliki kekasih, bukankah itu semua adalah akar dari semua permasalahan ini? Hati chanyeol terasa aneh ketika melihat Baekhyun bersama Taeyeon, tapi kenapa?
"Chanyeol-ah, aku teringat sesuatu hal yang seharusnya aku ceritakan padamu." Jongdae berujar tiba-tiba, membuyarkan lamunan Chanyeol. "Sebelumnya aku sempat membicarakan ini dengan Sehun sih…"
"Apa?"
"Kau tahu, tak hanya kau yang berubah di sini. Baekhyun juga."
"Um?"
"Kau ingat waktu kau meminta Baekhyun menjemputmu di taman dengan membawa payung? Waktu itu kau pulang dengan basah kuyup kemudian badanmu demam." Jongdae membalas tatapan Chanyeol. "Kau bilang kau kesal padanya karena tidak jadi datang kan? Sebenarnya… hari itu Baekhyun benar-benar sudah berangkat dengan membawakanmu payung… Dia pulang beberapa menit sebelum kau datang… Dan dia… juga sama basah kuyupnya denganmu." Jongdae meneruskan saat Chanyeol mengusap rambutnya ke belakang dengan helaan nafas panjang. "Kudengar saat itu kau sedang bersama dengan wanita. Lalu Baekhyun melihat kalian berdua. Kurasa itulah yang membuat Baekhyun tidak jadi menemuimu. Tapi sepertinya dia tidak bercerita padamu tentang hal itu makanya aku diam saja."
"Dan juga…" Sehun manyahut. "Kau ingat sepulang barbeque party Jay hyung dulu? Kau mengantar teman wanitamu pulang kan? Setelah itu aku minum dengan Baekhyun semalaman, kukira dia hanya bercanda ketika dia bilang dia akan mencari pacar secepatnya agar hatinya tak sakit karena kau sudah punya pacar... Tapi ternyata dia memang tidak bercanda."
Chanyeol mengambil nafas panjang mendengarkan cerita Sehun. Dipandanginya ujung sepatunya, ia berujar lirih. "Benarkah ini semua berawal karena kesalahpahaman itu?" ia menoleh ke arah Jongdae kemudian Sehun. "Serius. Aku bahkan benar-benar tidak balikan dengan Saebyul –
.
"Sudah aku turun di sini saja…"
"Hah? Tidak sekalian kuantarkan sampai ke apartemen?"
"Tidak usah. Lagipula ini sudah dekat…" Saebyul tersenyum. "Chanyeol-ah, boleh aku mengajakmu bercerita sedikit?"
"Um… Boleh… Ada apa?"
"Kau tahu tidak, cerita cinta menyedihkan kedua setelah Romeo and Juliet?"
"Umm…" Chanyeol nampak berfikir, ia matikan mesin mobilnya agar suara bising tak mengganggu kerja otaknya, namun nampaknya memang pertanyaan itu terlampau sulit dijawab bahkan dengan suasana hening sekalipun. "Aku bukan penggemar Shakespeare atau semacamnya, kalau ditanya seperti itu sepertinya aku tidak terlalu tahu. Kenapa?"
Saebyul berdeham, masih tersenyum. "Romeo dan Juliet tak bisa bersatu karena ditentang masing-masing keluarga. cerita kedua yang paling menyedihkan adalah tentang sebagian orang yang tak bisa bersatu karena masalah dengan batinnya sendiri." Chanyeol masih memasang wajah tak mengerti, ia kedipkan matanya dan memasang telinganya baik-baik untuk mendengar kelanjutan penjelasan Saebyul. "Aku pernah mendengar, sepasang kekasih yang memutuskan untuk mengakhiri kisah cinta mereka, si wanita terdiam dan memunggungi si pria, setelah sang wanita mengajaknya untuk putus, si pria hanya diam dan menerima itu semua. Si wanita berpikir, mungkin memang si pria sudah tak mencintainya lagi, ia diam karena sang lelaki terus berjalan menjauhinya, dan bahkan tidak berjalan kembali. Sang pria juga berpikir demikian, ketika ia menyetujui ia akan putus dengan si wanita dan tak akan menemuinya lagi, ia mengira itulah yang benar-benar diinginkan si wanita, si pria membuat pemikiran sendiri, bahwa wanitanya tak mencintainya lagi, saat itu tak ada lagi tangisan dari si wanita, tak ada kata penolakan, maka sang pria berjalan menjauh, mengasumsikan bahwa si wanita akan bahagia tanpanya. Si wanita menangis saat itu, namun tak ia perlihatkan, ia hanya berdiam, sakit hati merasakan kekasihnya pergi. Mereka putus dengan mengira pasangan mereka sudah tidak mencintai mereka lagi. Begitu kira-kira."
Chanyeol mengangguk dengan mulut setengah terbuka, ia pandangi setir mobilnya kemudian, mendengar Saebyul meneruskan. "Banyak waktu kita habiskan dengan membuat asumsi sendiri, kalau saja kita mau bertanya dan melihat keadaan sekitar, kita pasti akan tahu apa yang sebenarnya telah terjadi."
"Memang apa yang sebenarnya terjadi?" akhirnya Chanyeol balik bertanya.
"Minggu lalu aku berbicara dengan Baekhyun." Saebyul tersenyum. "Ia memohon agar aku mau balikan denganmu."
"Huh?" Chanyeol mengerutkan dahi. "Dia asal bicara saja… Apa sebegitunya dia ingin mendapat traktiran sampai melakukan hal seperti itu?"
"Karena dia kira dengan balikan denganku, maka akan membuatmu bahagia." Jawaban Saebyul membuat Chanyeol terdiam. "Memang kau benar akan bahagia kalau balikan denganku?" Lagi Chanyeol hanya terdiam, melihat keluar mobil, suasana sangat sepi saat itu, ia beruntung karena melalui jalan yang merupakan bukan jalan utama. "Kurasa jawabannya tidak. Dan kau harus mengatakannya pada Baekhyun."
Udara di sekitar seakan menipis, Chanyeol menundukkan kepalanya dalam, entahlah tapi kini seakan kepalanya menjadi kosong.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat bagaimana orang sangat tulus memohon. Kau tahu bagaimana cara Baekhyun berbicara padaku saat itu? Setelah bertemu dengannya, aku berpikir bahwa Baekhyun itu, antara tipe teman yang baik…. Atau memang dia… Benar-benar menyukaimu."
"Apa sih yang kau bicarakan…" Chanyeol berkata, nadanya sedikit terkejut dengan kekehan tawa pelan seakan mendengar candaan yang tidak lucu. "Darimana kau tahu kalau Baekhyun menyukaiku?"
"Dari insting wanita-ku." Saebyul tersenyum, dipandangnya lelaki di sampingnya. "Kau harus mulai belajar mengetahui perasaanmu sendiri. Jangan sampai pada akhirnya kau tidak sadar ada yang luar biasa berharga di depan matamu. Kalau kau sudah mendapatkan jawabannya, temuilah dia, hidup ini cuma sekali, jangan disia-siakan.
Pergi dan temuilah dia, ungkapkan jika memang ada sesuatu yang ingin kau ungkapkan."
.
.
– "Tapi keadaan sudah berbeda… Dengan adanya Taeyeon sekarang… Apa yang bisa aku kulakukan?" lirih Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Big thx again buat yang nambahin review guest, anggi, shinta, FlashMrB
makasihhh banget ^^
Author minta saran nihh... Plot mau dipercepat apa slow aja?
Kalo slow nanti bakal ada problem dulu antara Baek sm Chan yang lumayan ribet,
kalo fast plot nanti problem nya dibikin dikit, trus dibikin cepet chanbaek fall in love nya biar cepet enaena(?)
kkk thx yang uda mau denger cuap-cuap ga penting author yaakkk
lavvttt yuuu :* :*
