You never see the way I look into your eyes
You never realize the love I feel inside
Pain and sorrow that haunting me
Cause words are left unsaid….
.
- Confession –Afgan-
.
.
ps. Lagu ini menemani Author nulis chapter ini, dapet banget feelnya
happy reading ^^
.
.
.
Chapter VIII
"Aku memang bodoh soal cinta"
.
.
"Aduh… Kenapa pengacara Jjang tidak mengejarnya saja…" wanita paruh baya tak henti-hentinya mengomel, masih berada di sofa dengan bantal di pangkuannya, mengomentari tiap adegan yang muncul di televisi.
Hari ini Chanyeol pulang ke rumah. Schedule kosong untuk tiga hari, Chanyeol memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Ia tersenyum melihat ibunya yang marah-marah karena drama yang seingat Chanyeol sudah ditonton sekitar lima kali, dengan membawa coklat panas ia berjalan menuju ruang keluarga dimana ibunya berada.
"Eomma~ Nonton apa sih…" Chanyeol memilih duduk di lantai, menaruh mug di meja sebelum menyandarkan kepalanya di pangkuan ibunya, nada bicaranya yang manja tidak begitu sesuai dengan suara bassnya, tapi ia tak peduli, ia usapkan kepalanya seperti anak kecil, membuat wanita bernama Lee young mee itu tersenyum, ia menepuk-nepuk kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
"Tidurmu nyenyak? Dapat libur berapa hari, hm?" dielusnya rambut lembut Chanyeol yang kini berwarna coklat.
"Tiga hari…" Chanyeol bergumam. Ia sangat lelah jujur saja, meskipun jarak rumahnya tak cukup jauh dan tidak menghabiskan waktu berjam-jam, namun menyetir sendiri tanpa mendapat cukup tidur tentu saja membuat Chanyeol masih merasakan pegal sana-sini. Ia sampai rumah sekitar empat jam lalu, tiga jam ia sempatkan untuk istirahat.
"Kau lelah? Mau pergi ke tempat massage?"
Chanyeol belum menjawab. Ia hanya memejamkan mata, menikmati belaian lembut sang ibu lumayan menenangkan pikirannya, setidaknya, seluruh beban di hatinya terasa terlupakan sejenak.
"Eomma, boleh aku meminta sesuatu?"
"Hm? tentu saja. Katakan apa itu?"
"Aku ingin masakan buatan eomma. Bolehkah?"
Sang ibu terkekeh, diusapnya kepala anaknya dua kali lebih cepat dengan gemas, membuat rambutnya teracak. "Tentu saja boleh, nak. Kau mau makan apa? Hm?"
"Aku ingin bubur dan sup ayam…"
"Hm? Tumben… Apa kepalamu sedang sakit?"
"Tidak eomma… Hatiku yang sedang sakit."
"Huh? Ha ha, kau ini…" Chanyeol terdiam menanggapi ibunya yang terkekeh setelah mendengar jawabannya yang memang hanya seperti gurauan.
.
Seperti anak baik dan penurut, Chanyeol menghabiskan seporsi penuh sup dan bubur yang ibunya buatkan. Ia bahkan menuangkan sisa sup dari mangkuk langsung ke mulutnya, dengan bersemangat ia mengambil segelas penuh air yang terletak di samping piring kosongnya, menenggaknya habis kemudian menghembuskan nafas lega sambil mengelus perutnya.
"Kau benar-benar makan dengan lahap." sang ibu memuji, membereskan piring dan sisa-sisa makanan, kemudian segera menuju wastafel untuk mencucinya. "Hatimu benar-benar sedang sakit?"
Chanyeol berhenti bermain dengan ponselnya, ia letakkan kembali smartphone seri terbaru miliknya itu di atas meja. "Sekarang sudah tidak lagi, berkat masakan eomma."
Sang ibu tertawa pelan, kembali menghampiri anaknya kemudian memilih duduk di kursi tepat di samping putranya itu. "Kalau memang ada masalah tidak apa-apa bercerita. Memangnya ada apa?"
Chanyeol terdiam beberapa saat, ia lempar pandangannya ke arah lain. "Tidak kok eomma, hanya… Suasana hatiku sedang tidak enak akhir-akhir ini…"
Sang ibu tersenyum, menatap anaknya mengerti, ia tepuk pundak Chanyeol pelan. "Jangan biarkan dirimu terbebani, jangan dipikir terlalu serius. Kalau kau butuh teman cerita ada eomma disini, eomma akan mendengarkanmu."
Chanyeol tersenyum, disentuhnya tangan ibunya yang masih berada di pundaknya. Begitu hangat. "Iya eomma, jangan khawatir, aku tidak apa-apa."
Ibunya tersenyum, membuat Chanyeol ikut tersenyum, entah kenapa melihatnya membuat energi Chanyeol bertambah. "Eomma, aku ingin jalan-jalan ke taman dekat rumah."
"Baiklah… Mau membawa bola basket?"
"Oh iya tentu saja."
.
Dengan jaket hitam dan celana pendek selutut, Chanyeol sibuk mendribble bola basketnya kesana kemari, sesekali membuat dunk atau melempar bolanya asal. Terkadang si bola membentur papan dan terlempar sekian meter jauhnya, membuat Chanyeol terbirit mengejarnya kemudian kembali ke area lapangan kembali.
Mungkin Chanyeol terlalu asik dengan kegiatannya sampai tak sadar langit sudah menjadi gelap, mungkin ia baru mau berhenti sekitar tiga jam kemudian, saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Chanyeol memutuskan untuk istirahat. Ia duduk di tepi lapangan, bola ia letakkan di samping, kedua tangan kini sibuk memeriksa ponsel. Ia geser ke atas bawah melihat-lihat notif pesan, rasanya gatal ingin membuat panggilan untuk seseorang, ia tak berusaha menahan diri lagi, melakukannya hanya membuat sakit hatinya sendiri, ia tekan nomor Baekhyun saat itu dengan gerakan ringan, jujur saja ia agak kecewa begitu telinganya mendapati hanya nada sambung kemudian suara celotehan operator.
"Halo, hyung, dimana?" akhirnya Chanyeol memilih menghubungi orang lain. Manager hyung adalah pilihan keduanya, siapa lagi orang yang mengetahui seluruh keberadaan member kalau bukan hyung berperawakan kurus itu, ia tempelkan ponselnya ke telinga dengan baik karena suara agak ribut dari seberang.
"Oh, aku sedang berada di hotel di daerah Gangnam, sebentar-sebentar." sepertinya si manager melangkah ke tempat yang agak sepi, ia lanjutkan percakapan begitu suara ribut tidak lagi terdengar. "Aku sedang di bar yang ada di dalam hotel, makanya agak berisik."
"Hah? Di bar? Hotel?"
"Iyah… Produser Amerika membuat pesta untuk kesuksesan album SNSD. Ia membuat semacam pesta disini."
"SNSD sunbaenim yang pesta? Lalu kenapa hyung ada disitu?"
"Aku mengantar Baekhyun saja…"
Seketika mulut Chanyeol terhenti berkata, ia sempat diam beberapa detik sebelum melanjutkan. "Apa member lain ada yang ikut? Lalu dimana dia sekarang? Tadi kuhubungi kenapa tidak aktif?"
"Member lain tidak ikut, hanya Baekhyun saja karena mungkin Taeyeon mengundangnya. Ah, iya, tadi kulihat dia pergi dari bar, dia terlalu banyak minum sepertinya."
"Pergi? Kemana?"
"Terakhir kulihat dia naik lift."
"Dia sedang mabuk? Kenapa tidak dibawa pulang?"
"Yah…" suara manager terkekeh pelan dari sana. "Tidak mungkin aku melakukannya, Baekhyun kan sudah ada yang menemani…"
Chanyeol merasa darahnya meluap hingga menuju puncak kepalanya.
.
.
"Tidakkah kita seharusnya memberitahu Chanyeol?" Sehun bertanya, ia terduduk di kursi kemudi dengan kedua tangan masih menempel di setir, ia menoleh ke arah Jongdae yang berada di samping. Mereka berdua berada di dalam mobil yang masih berada di parkir apartemen
"Menurutku tidak usah, biarkan dia berada di rumah. Dia butuh menenangkan pikiran."
"Bukannya sebaiknya kita setidaknya memberitahunya?"
Jongdae terdiam, berpikir, kemudian menoleh dan mengambil nafas panjang. "Kalaupun dia diberitahu, apa yang sekiranya bisa ia lakukan? Pada akhirnya dia cuma bisa pasrah. Memangnya dia bisa datang kesana dan membubarkan pestanya lalu menyeret Baekhyun pulang?"
Sehun mendengus. "Tapi setidaknya dia harus tahu…"
Jongdae ikut mendengus, memandang keluar jendela mobil. "Kenapa pula kita harus terjebak di posisi sulit begini…."
.
.
Chanyeol sadar bahwa ia benar-benar mengganggu, tapi itu bukanlah masalah utama pada saat itu. Jantungnya masih berdegup menggila ketika sang manager mengungkapkan berada dimana dan sedang apa Baekhyun sekarang, memikirkannya saja membuat emosinya kian tak terkontrol. Ia berjalan dengan terburu menuju hotel, menyetir seperti orang gila, menempuh perjalanan hanya kurang dari satu jam dari Gangdong-gu, rumahnya, menuju Gangnam, dan bahkan masih berlari ketika sampai di lobi hotel. Ia mengatur nafas begitu melihat siluet managernya di antara kerumunan orang yang sedang menikmati musik dengan membawa minuman di lantai dansa bar, ia meraih tangan manager kemudian mengajaknya keluar.
"Hyung, ini tidak benar! Kenapa kau biarkan Baekhyun pergi dengan keadaan mabuk? Kemana dia sekarang?"
Sang manager, nampak sedikit terkejut, menepuk bahu Chanyeol agar yang lebih muda sedikit bisa mengontrol emosinya. Ia ajak Chanyeol menuju ke tempat yang lebih sepi. "Kau ini kenapa? Bukankah kau juga sedang pulang ke rumah?"
"Itu tidak penting! Kemana Baekhyun sekarang?"
"Hey, Baekhyun bukan anak kecil lagi. Besok dia tidak ada jadwal dan dengan alasan apa aku melarangnya minum? Dia naik ke atas sejam yang lalu."
"Kemana?" Chanyeol tau suaranya lebih tinggi dari biasanya, ia cengkeram bahu manager dengan kedua tangannya.
"A-aku tidak tahu pasti, Ji chan-shii yang tadi mem-booking kan kamar—"
Ji chan hyung? Manager SNSD? Chanyeol mengerutkan keningnya begitu nama itu disebut. "Nomor berapa?"
"Chanyeol. Sadarkan pikiranmu. Kau mau kesana lalu mendobraknya begitu?"
"Berapa?!" Chanyeol mencengkeram lebih kuat, membuat manager yang tak lebih tinggi darinya itu mendesis kesakitan.
"Lantai 15… kamar nomor 1501 atau 02 aku tidak ingat…"
Chanyeol berlari masih seperti orang kesetanan, dia menuju lantai 15 seperti apa yang managernya katakan, ia menelusuri koridor dan menghentikan derap langkahnya begitu pintu dengan nomor 1501 terpampang di hadapannya. Pandangannya teralihkan ke pintu sebelah yang bertuliskan 1502, nafasnya bergerak teratur kemudian, meskipun kakinya masih mondar-mandir di antara dua kamar itu.
.
.
Mobil adalah tempat terakhir yang Chanyeol bisa tuju. Ia terduduk di kursi kemudi dengan kepala bertumpu pada setir. Yang terdengar hanya hembusan nafas dari mulutnya sendiri, kemudian suara ketukan di jendela yang membuat kepalanya terangkat lima detik kemudian.
Chanyeol bisa melihat Jongdae dan Sehun berdiri di sisi kanan mobilnya. Jongdae tak henti-hentinya mengetuk kaca jendela, ia tekan tombol hingga kunci pintu mobil terbuka, dua detik kemudian Jongdae melesat masuk dan mendudukkan diri di samping kanannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Jongdae menanyai, Chanyeol tidak menjawab, kembali ia tempelkan keningnya di setir. "Ayolah, kenapa kau ini, dan kenapa juga kau memarkir mobilmu disini? Apa karena di seberang sana ada mobil Taeyeon?"
"Iya." akhirnya Chanyeol mengangkat kepala, melihat ke depan namun dengan pandangan kosong. "Aku tidak bisa menyusul. Tidak bisa menghentikannya juga. Apalagi yang bisa kulakukan selain menunggu?"
"Chanyeol-ah." Suara Jongdae terdengar parau, seperti tak ada tenaga melihat Chanyeol dan keputusan bodoh yang diambilnya "Ayolah kita pulang saja. Sudah cukup kau tahu apa yang Baekhyun lakukan di dalam sana—"
"Aku akan menunggu."
Jongdae hanya bisa termangu, ia menghembuskan nafas melalui mulut melihat Chanyeol yang berubah menjadi makin keras kepala. "Pulang dan lihatlah dirimu sendiri di depan cermin. Kau pasti akan menangis melihatnya—"
"Lalu apa yang bisa kulakukan? Apa yang harus kulakukan sekarang?" kembali menundukkan kepalanya, Chanyeol tak berusaha lagi untuk menahan tangisnya, tidak lagi.
.
.
Chanyeol terduduk di depan lemari besarnya, mengeluarkan beberapa potong pakaian dan memasukannya ke dalam tas ransel hitam miliknya, beberapa peralatan mandi juga sudah ia masukkan. Ia bersyukur di tengah kacaunya perasaanya kini, ia mendapat jadwal untuk ke Jeju, hanya untuk lima hari memang, photoshoot dan shooting untuk iklan sebenarnya hanya dua hari, namun tiga hari jadwal kosong ia pakai untuk menetap sementara di Jeju saja. Ia meminta manager hyung membooking-kan hotel, juga menyewakan mobil disana.
Ia hanya ingin menenangkan hatinya. Memberitahu hanya kepada Sehun dan Jongdae semalam, bahwa ia butuh waktu beberapa saat untuk menyendiri. Menjelaskan pada dua sahabatnya itu bahwa hal terburuk yang menimpa dirinya adalah memiliki masalah dengan teman satu grup, terlebih satu kamar, luka di hati Chanyeol kembali terbuka begitu melihat wajahnya lagi, juga saat mendengar suaranya, ia mengatakan seandainya saja ia dan Baekhyun tak tinggal bersama, mungkin akan lebih mudah untuk melupakan semua yang sudah terjadi, maka dengan alasan itu ia meminta persetujuan dari Sehun dan Jongdae, serta membantunya untuk tidak mengatakan apapun pada member lain terlebih Baekhyun.
Malam itu ia menyelesaikan berkemasnya dengan cepat, diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia pastikan ia sudah meninggalkan dorm sebelum Baekhyun datang. Pagi besok jadwal penerbangannya, dan Chanyeol sudah meminta izin MQ hyung, teman dan partnernya bermusik, untuk menginap di apartemennya malam ini.
.
.
"Dimana sih dia…" gumaman Baekhyun membuat Minseok menoleh. Mereka berada di ruang tamu sekarang, keduanya menduduki sofa, duduk berdampingan, sedangkan Jongdae dan Sehun duduk di karpet bawah, sibuk memainkan game. "Hyung, kau tahu dimana Chanyeol sekarang?"
Minseok berhenti mengetik di ponselnya, ia luruskan punggung yang sedari tadi menyender di sofa. "Hm? Ini aku sedang chat dengannya. Dia masih di Jeju-do kan?"
"Um?" Baekhyun melihat ponselnya kemudian menoleh kembali ke arah Minseok. "Benarkah? Tapi kenapa dia tidak membalas chatku…"
"Begitukah?"
Baekhyun hanya terdiam kemudian, memandangi ponselnya yang belum menunjukan ada notif satupun, ia mengambil nafas panjang sembari menopang dagu. "Sudah seharian dia tidak membalas chatku…." Baekhyun membuang nafasnya pelan. "Aku kangen sekali padanya…"
Jongdae dan Sehun hanya bertukar pandang, begitu pula Minseok yang kini hanya bisa mengerucutkan bibir.
.
.
.
.
.
.
.
.
