Chapter IX

"Hyung, aku tidak seharusnya merasa seperti itu kan?…."

.

.

Baekhyun berbaring dengan kedua tangan masih sibuk dengan ponselnya. Malam kian larut, namun Baekhyun masih mencoba terjaga karena pesannya yang belum terjawab sejak kemarin. Baekhyun tahu benar bagaimana kebiasaan Chanyeol, tak mungkin ia berjauh-jauh dengan ponselnya, apalagi dengan kondisi berada di luar kota seperti ini. Kalau tidak ada teman biasanya dia akan bermain game, menelepon atau sekedar menghabiskan waktu untuk membalas pesan dari member. Ketidakbiasaan ini membuat Baekhyun bertanya-tanya, apakah Chanyeol memang sangat sibuk disana? Apakah ia sedang berjalan-jalan dan lupa membawa ponselnya? Ataukah sekarang dia sudah tertidur karena lelah? – Apakah dia baik-baik saja disana, apa yang dilakukannya sekarang, apakah dia sudah makan… Baekhyun tak hentinya berpikir, ia genggam ponselnya kemudian ia tempelkan di dada, berharap sewaktu-waktu ponselnya akan bergetar dengan membawa pesan yang sangat ia tunggu-tunggu.

.

"Baekhyun-ah? Baek, sudah pagi, bangunlah."

Baekhyun mengerjapkan mata, dilihatnya sekitar dengan matanya yang masih setengah terbuka. Ia meregangkan otot badannya kemudian mendudukkan tubuhnya. Dilihatnya Jongdae yang sedang berjalan menuju ke ranjang Chanyeol yang berada di seberang. "Umm… Kau… Kenapa disini?"

"Karena pintu kamarmu terbuka semalaman." Jongdae menjawab seadanya, ia mengangkat tumpukan bantal milik Chanyeol kemudian menaruhnya kembali, seperti ada sesuatu yang dicari.

"Kau mencari sesuatu?"

"Um…" Jongdae mengangguk sekali, diangkatnya selimut bercorak papan catur yang berada di pojok ranjang Chanyeol, kemudian mengangguk pelan begitu sebuah charger berwarna putih terlihat disana.

"Jongdae-yah, kau sedang apa?"

"Tidak… Chanyeol sepertinya meninggalkan charger nya disini. Ternyata benar."

Baekhyun terdiam sesaat. Ia tahan Jongdae yang hendak berjalan keluar kamar.

"Jongdae-yah, apa Chanyeol yang memintamu memeriksa kesini?"

"Um." Jongdae mengangguk. "Kenapa?"

"Ah… Tidak…. Tidak apa-apa." Baekhyun mengangguk, membiarkan Jongdae pergi, ia raih ponsel yang terletak tidak jauh dari bantalnya. Hembusan nafasnya berat saat ia melihat ponselnya masih belum mendapatkan tanda notifikasi pesan masuk.

.

.

Baekhyun mengaduk-aduk mie ramen di hadapannya dengan tatapan kosong. Mungkin sejak dua puluh menit lalu. Ia kini sedang duduk sendiri di sebuah area toko serba ada, duduk di salah satu meja bundar di bawah payung, tak henti-hentinya menghela nafas panjang kemudian membuangnya, semilir angin malam yang dingin bahkan seakan tak terasa.

Hatinya merasa tak tenang beberapa hari ini, Baekhyun sadar itu. Ia alihkan perhatiannya ke tempat latihan dan menghabiskan waktu disana, namun tidak berhasil. Sempat juga ia memutuskan untuk pergi menonton film, namun juga tak berhasil, seharian ini tak banyak kegiatan yang bisa ia nikmati, makanpun tak selera, Baekhyun tahu ini berlebihan, tapi ia tak bisa memungkiri, ia tak bisa membohongi diri sendiri.

"Maaf, apa kursi ini tidak dipakai?" seorang lelaki menanyai, menyentuh kursi di depan Baekhyun yang memang saat itu dalam keadaan kosong, Baekhyun sempat terkejut kemudian mengangguk, tersenyum sembari mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk mempersilahkan lelaki tersebut. "Terimakasih…" ujar lelaki itu kemudian, membawa pergi kursi yang baru didapatnya untuk diletakkan di meja seberang. Baekhyun mengikuti gerak lelaki itu, yang dengan senyum merekah membawa kursi itu untuk seorang wanita berambut pendek yang sedang berdiri di dekat meja, mungkin kekasihnya, lelaki itu meletakkan kursi yang baru ia dapat dengan hati-hati, bahkan sempat mengibas permukaan kursi dengan tangannya, ia kemudian mempersilahkan wanita itu duduk.

Manis sekali, Baekhyun membayangkan bagaimana bahagianya wanita itu, memiliki seseorang yang begitu perhatian, meskipun itu hanya mengambilkan sebuah kursi, melihat apa yang dilakukan lelaki itu pasti si wanita akan merasa sangat senang. Baekhyun kembali melempar pandangan ke hadapannya, melihat mie nya yang pasti sudah dingin, diaduknya mie itu sekali lagi, kemudian dengan sumpit ia mengarahkannya ke mulut. Rasanya berbeda, entah kenapa, ia bisa merasakan bumbu yang terlalu asin, dan kuah yang terlalu banyak, telur yang tidak tercampur rata.

"Kenapa rasanya menjadi aneh…" ia berujar lirih. "Bagaimana Chanyeol biasa membuatnya, huh?"

.

.

Kedatangan pesawat domestik seharusnya dijadwalkan pukul tujuh malam. Baekhyun sengaja mengintipnya dari ponsel sang manager ketika mereka bertemu di dorm tadi siang. Maka ketika jam menunjukkan pukul enam, Baekhyun tak henti-hentinya mondar-mandir di kamarnya. Ia merapikan bed cover, memasang gorden baru yang baru saja ia ambil dari laundry tadi pagi, mengganti bunga dalam vas bening yang entah kapan ia taruh di meja belajar dekat ranjangnya. Ia juga menyemprotkan parfum ruangan, membuka jendela agar udara segar masuk, mengepel lantai, juga membersihkan kolong.

Ia sekali lagi mengecek ponsel yang kini ia letakkan di tepi kasurnya. Waktu menunjukkan pukul 6.30, Baekhyun kemudian berjalan menuju ranjang seberang, diusapnya selimut berwarna putih beraksen hitam yang senada dengan warna sprei, kemudian ia usap juga dua tumpukan bantal yang tersandar di headboard sebelum mengambil salah satunya kemudian mendekatkannya ke wajah, ia hirup dalam-dalam bantal yang sedang dipeluknya, aromanya mengingatkannya pada shampo yang biasa Chanyeol gunakan, mint segar.

"Oh, hyung?" Baekhyun sempat terkejut ketika manager hyung memunculkan diri di ambang pintu, ia letakkan bantal yang ia pegang kemudian berlari menghampiri managernya tersebut. "Kok sudah pulang? Mana Chanyeol?"

"Hm? Dia sudah dijemput temannya, soalnya langsung pulang ke apartemen temannya itu…"

Baekhyun hanya terdiam kemudian, ia ber-oh singkat sebelum si manager pamit untuk meninggalkan dorm sebentar, dengusannya terdengar jelas saat ia berjalan kembali menuju ranjangnya sendiri. Hatinya mencelos saat menyadari bahwa malam ini ranjang di seberangnya akan kosong, lagi.

.

Jam bundar yang tergantung di dinding tak hentinya Baekhyun pandangi, bahkan hampir sepuluh kali dalam kurun waktu satu menit. Ia memang terduduk di depan televisi yang menyala saat ini, yang kebetulan menayangkan acara berita, namun tak sekalipun Baekhyun tampak memperhatikannya, meliriknya-pun tidak.

"Kau tidak tidur?" Minseok menepuk bahu Baekhyun, dilihatnya dongsaengnya yang terlihat lelah namun masih berusaha terjaga tersebut. "Kau kelihatan tidak baik akhir-akhir ini." Minseok akhirnya mengambil tempat di samping Baekhyun, mendudukkan tubuhnya. "Kau ada masalah?"

Baekhyun tak menjawab beberapa saat, hanya mengambil nafas panjang, ia menoleh ke arah Minseok kemudian. "Hyung, kalau seseorang, yang adalah teman baikmu, tiba-tiba tidak membalas chat-mu, tidak menerima teleponmu, lalu mendiamkanmu, apa yang akan kau lakukan?"

Minseok sempat mengedipkan mata, ia berpikir sejenak setelahnya. "Tentu saja aku akan menanyainya, kenapa, ada apa, mungkin seperti itu."

"Tapi kalau temanmu tidak memberi kesempatan untuk bertanya, bahkan menghindarimu, apa yang kau lakukan?"

"Tentu ada sesuatu hal yang terjadi, atau mungkin dia memang sibuk, kalau memang ada sesuatu sebaiknya minta bantuan teman lain yang dekat dengannya…"

"Hyung, maukah kau membantuku?" tanya Baekhyun tiba-tiba disertai dengan genggaman di lengan Minseok, membuat yang lebih tua terkejut. "Tolong tanyakan pada Chanyeol kenapa dia marah padaku?"

"Huh?" Minseok tak bisa menutupi wajah kagetnya, ia melihat ke arah mata Baekhyun dengan mata menyipit. "Uh… Kalau dengan Chanyeol sih, kau bisa bertanya sendiri. Lagipula kita kan satu dorm, besok juga kau bisa melihatnya."

"Tapi dia bahkan tidak pernah pulang. Dia tidak juga mengangkat teleponku, chatku satu-satunya yang tidak pernah dibalas olehnya. Sepertinya dia sedang marah tapi aku tidak tahu apa salahku."

Kembali Minseok memasang wajah berpikir, ia tepuk bahu Baekhyun kemudian. "Baiklah, besok coba kutanyakan." katanya dengan senyuman ringan. "Sudah ya? Kalau begitu pergilah tidur, juga jangan terlalu memikirkan ini sampai lupa makan begitu."

"Hm?"

"Kau melewatkan makan siang dan malam-mu kan? Sudah makan dulu sana."

Baekhyun hendak menjawab, namun apa yang Minseok katakan memang benar, semenjak Chanyeol tak pulang ke dorm, ia jarang makan tepat waktu, dan terakhir ia makan sesuatu adalah saat dia makan roti panggang dan susu tadi pagi.

.

.

"Ini." Baekhyun agak terkejut ketika sebuah sandwich ukuran sedang diletakkan di hadapannya. Chanyeol masih memakai hoodie hitamnya, masih memakai topi dan ransel. "Jangan sampai lupa makan. Nanti sakit."

Baekhyun merasa seperti masih setengah sadar, ia mendongak melihat Chanyeol yang dengan secepat kilat sudah membalikkan tubuhnya hendak pergi, Baekhyun sontak bangun dari duduknya dan meraih lengan Chanyeol.

"Chanyeol-ah, mau kemana?"

"Keluar." Chanyeol membalikkan badan dipandangnya tangan Baekhyun yang menggenggam lengannya, membuat si lelaki yang lebih pendek melepaskan tangannya pelan-pelan.

"Sejak kembali dari Jeju kau tidak pernah pulang ke dorm. Kau kemana saja?"

"MQ hyung. Ada yang kulakukan disana dan ada beberapa hal yang mau kuurus."

Baekhyun terdiam, ia pandang wajah Chanyeol yang tidak secerah biasanya. "Sibuk sekali yah?"

"Memangnya kenapa?"

Baekhyun terdiam lagi. Benar apa yang diutarakan Chanyeol, kalau dipikir-pikir itu hak Chanyeol untuk mau pulang atau tidak, mau pergi kemana. Kalau ditanya seperti itu, tentu saja tidak ada jawaban yang bisa diutarakan Baekhyun.

"T-tidak apa-apa… Tapi…" Baekhyun melihat ke arah lain, Chanyeol terdiam menunggunya. "Apa… Ada sesuatu hal? Apa kau marah padaku?"

"Tidak." Chanyeol menjawab cepat. "Kalau tidak ada yang lain lagi aku mau pergi dulu. MQ hyung menungguku."

Baekhyun kemudian hanya bisa menatap punggung Chanyeol yang berjalan menjauh. "Hati-hati…" lanjutnya begitu si tinggi sudah lenyap dari pandangan.

.

.

Orang bilang kita tidak akan tahu betapa berharganya suatu hal sebelum kita kehilangan sesuatu tersebut. Begitu Baekhyun sempat pikir ketika ia berada di kamarnya, sendirian, hanya suara detak jarum jam yang terdengar, semuanya terasa sepi, hening dan membuat pikiran Baekhyun seakan kosong dan tak berfungsi.

Ada perasaan aneh ketika Baekhyun dihadapkan dengan keadaan seperti ini. Memori-memori lama tiba-tiba saja layaknya gulungan film yang berputar kembali di otaknya. Biasanya ia tak sendiri di kamar ini, biasanya sosok Chanyeol akan selalu menemani, bercerita panjang lebar dan suara gelak tawanya akan memenuhi ruangan sampai larut, terkadang Chanyeol akan mulai memainkan gitar dengan diiringi suara bass beratnya, atau terkadang Baekhyun-lah yang mengiri petikan gitarnya dengan lagu ballad yang terkadang sampai dirinya sendiri bisa terbawa emosi, terkadang Chanyeol akan mengajaknya bermain kartu, lalu berakhir dengan coretan bedak di wajah keduanya. Biasanya Chanyeol yang berinisiatif mengajak keluar untuk makan….

Ketika menyadari hal kecil tersebut hilang, Baekhyun sadar bahwa sebenarnya Chanyeol memiliki tempat tersendiri di kehidupannya, Chanyeol dan semua hal kecil yang dilakukannya, itu bukanlah kecil, itu tidaklah sedikit.

"Jongdae-yah, boleh telfonkan Chanyeol untukku?" Baekhyun tahu dia sedang sedikit mengganggu ketenangan ruang tamu yang saat itu dihuni oleh Jongdae, Sehun dan Minseok.

"Hm? Sebentar… Memang ponselmu kenapa?"

"Tolong telfonkan saja." Baekhyun meninggikan suaranya. Ia tahu bahwa memang sedari tadi ia memasang wajah marah, tak kaget bila Jongdae nampak terkejut melihatnya. "Halo? Kau dimana? Ini aku Baekhyun."

Jongdae hanya mematung, masih dengan posisi berdiri, ia menoleh ke arah Minseok dan Sehun yang duduk bersila di karpet.

"Untuk malam ini pulanglah. Kita perlu meluruskan beberapa hal. Kutunggu kau pulang. Atau aku akan menyusulmu. Tidak apa-apa kau tidak bilang dimana kau sekarang, aku akan tetap keluar dan mencarimu."

Jongdae nampak sedikit terkejut, nada bicara Baekhyun tak seperti biasanya, suara-nya berubah serius.

"Kalau kau laki-laki temui aku!"

"Yah… yah…" akhirnya Jongdae mengambil satu langkah maju, ia rebut ponsel yang sedang Baekhyun bawa, Sehun dan Minseok pun juga mulai meluruskan punggung mereka. "Ada apa kalian ini… Halo, Chan—"

"Sini berikan padaku!" Baekhyun melangkah maju, meraih ponsel yang kini Jongdae bawa. Mereka sempat saling tampik beberapa kali, membuat Sehun dan Minseok ikut berdiri, Minseok berjalan dan langsung menenangkan Baekhyun.

"Sudah kututup telfonnya… Ada apa sebenarnya ini, eoh? Baek, jaga emosimu, kau ini kenapa sih marah-marah begitu? Kalau ada masalah bicarakan baik-baik, bukan seperti itu caranya."

"Kalau temanmu mendiamkanmu tanpa kau tahu alasannya, meskipun kau sudah minta maaf dan minta penjelasan tapi dia tetap bersikap dingin padamu, menurutmu apalagi yang akan kau lakukan hah?" Baekhyun berujar panjang lebar, dengan suara tinggi dan nafas tersengal, iya sadar seandainya saja Minseok tidak menghentikannya mungkin ia sudah menangis.

"Baek, duduk dulu, kesini…" Minseok yang memegang bahu Baekhyun akhirnya terpaksa mendudukkan Baekhyun, ia usap bahu Baekhyun pelan. Sehun ikut terduduk, Jongdae masih berdiri dengan wajah frustasi.

"Aku sudah berusaha sabar beberapa hari ini. Aku akui memang salah, tapi Chanyeol sangat menjengkelkan, seenaknya saja bersikap begitu, dia begitu egois—"

"Egois katamu?" Jongdae membalas, ia buka mulutnya, tak terdengar apa-apa hanya helaan kemudian hembusan nafas kasar, ia keheranan mendengar apa yang Baekhyun sudah ucapkan. Egois? Seandainya saja Baekhyun sadar apa yang telah dilakukannya, menyakiti perasaan Chanyeol, meskipun ia tahu Baekhyun tidak sadar melakukannya, tapi Jongdae masih tetap tak terima, dalam hati ia sangat marah, tidak suka dengan Baekhyun, bagaimanapun, Baekhyun-lah yang berada di pihak salah sekarang ini, apa yang telah ia lakukan pada Chanyeol, membuatnya tertekan, bahkan Chanyeol harus pergi dan menyendiri, Chanyeol yang Jongdae kenal selalu ceria dengan mood yang selalu baik, bisa sampai begitu, Jongdae merasa Baekhyun sudah kelewatan kali ini, ingin ia berteriak di hadapan mukanya dan menjelaskan semuanya, menceritakan bagaimana Chanyeol dengan wajahnya yang ditekuk menungguinya yang sedang entah bersenang-senang macam apa di dalam kamar hotel sana, kenapa dia tidak sadar juga, ingin rasanya ia menghajar Baekhyun saat ini, membenturkan kepalanya agar ia sadar, agar ia melihat Chanyeol dan perasaannya.

"Aku tahu posisimu. Aku tahu kau jengkel karena Chanyeol bersikap begitu. Tapi tidakkah kau berpikir kenapa dia berubah begitu, kau harus introspeksi diri juga."

"Aku tahu, kalian semua sekarang berpihak padanya. Aku tahu aku memang pengacau, aku yang membuat grup dihujat dimana-mana, aku yang salah, semuanya karenaku. Hanya karena aku tertangkap kamera dengan Taeyeon, tapi haruskah aku menerima balasan seburuk ini? Kalian semua membenciku karena ini? Bahkan Chanyeol membenciku karena aku yang hampir menghilangkan separuh dari fans—"

"Ini bukan karena itu!"

"Lalu apa? Haruskah aku berlutut di depan SM dan di depan ratusan fans, kalian mau aku melakukan apalagi?"

"Tak bisakah kau peka sedikit?! Bukan karena itu masalahnya— Aish!" Jongdae mengacak rambutnya frustasi. Ia berpikir keras bagaimana menjelaskan ini semua pada Baekhyun. Chanyeol menghindar bukan karena itu semua, bahkan jika Baekhyun dibenci seluruh populasi manusia Jongdae percaya Chanyeol akan tetap berteman dengannya, titik permasalahannya bukan itu—"Aku pergi." Jongdae menyerah, ia hentakkan kakinya pergi menjauhi ruangan yang kini terasa menggerahkan itu.

.

.

Minseok tahu dongsaengnya dalam keadaan tak baik malam itu. Ia segera berjalan keluar dorm, jalan-jalan kecil ia lewati, menuju yang entah kemana kakinya membawa pergi. Seandainya saja Baekhyun tak meninggalkan ponselnya di kamarnya, mungkin pencariannya tak akan selama ini. Namun Minseok tak berhenti, dengan kedua tangan yang disimpan di dalam saku celana, ia telusuri jalan setapak, dilihatnya taman yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon maple, Minseok berjalan mendekati seseorang yang duduk di ayunan dengan kepala ditekuk.

"Baekhyun-ah?" Baekhyun menoleh, raut wajahnya sungguh masam, Minseok kemudian memilih duduk di ayunan samping kanan sang dongsaeng. "Perkataan Jongdae tadi… Jangan terlalu dipikirkan… Dia hanya emosi…"

Baekhyun hanya menghela nafas panjang, ia masih memandangi gundukan pasir yang berada tak jauh di hadapannya. "Memang rasanya sedih mendengar Jongdae berteriak begitu… Tapi bukan itu yang dari tadi kupikirkan."

Minseok memilih diam, ia tunggu Baekhyun melanjutkan kalimatnya. "Kenyataan kalau Chanyeol tak mau bicara lagi padaku adalah yang paling menyedihkan…"

Yang lebih tua ikut mengambil nafas panjang, ia menggerakkan badannya hingga ayunan bergerak pelan ke depan-belakaang, ia melihat Baekhyun masih memasang wajah datar. "Kukira dalam kasus ini kau memang sedikit egois… Biasanya seseorang yang sudah mempunyai kekasih akan sedikit lupa pada temannya. Kau dan Chanyeol sudah seperti magnet utara dan selatan, menempel terus, kupikir aku mengerti bagaimana reaksi Chanyeol saat tahu kau sudah punya kekasih sekarang ini, dia akan sedikit menjauh, memberimu waktu agar leluasa dengan kekasihmu. Tapi kau juga ingin dia tetap dekat denganmu. Itu sedikit mustahil…"

"Begitukah?" Baekhyun mendengus lagi, ia melihat ke arah Minseok sesaat sebelum memandang ke depan lagi. "Apakah aku memang sebegitu tidak peka?" Baekhyun menunduk, dimainkannya pasir yang ada di sekitar sepatunya. "Hyung, sejujurnya aku sangat bingung pada perasaanku sendiri… Selama ini aku merasa ada pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tahu jawabannya… Aku dan semua member, kita semua berteman dan sangat dekat, sudah seperti keluarga, Chanyeol pun begitu, dia adalah temanku dari masa trainee, aku mengenalnya jauh lebih lama dibandingkan dengan member lain, aku sudah terbiasa dengannya, dengan semua sifatnya, kebiasannya…

Begitu mendengar dia dekat dengan mantannya aku merasa aneh, sebenarnya bukan salahnya, salahku sendiri yang sudah terlalu terbiasa bersama dengannya, aku merasa kesal, sedikit, mungkin bisa dikatakan cemburu." Baekhyun terkekeh sendiri. "Betapa anehnya aku, kenapa aku harus cemburu pada sahabatku yang sedang bahagia itu?"

Minseok belum menanggapi, ia dengarkan Baekhyun meneruskan.

"Aku bertemu dengan Taeyeon tak lama setelah itu, sepertinya semuanya terjadi tiba-tiba, dan sangat terburu-buru. Seperti aku sedang hampir jatuh dan tak ada pilihan lain kecuali pegangan pada seutas tali, bisa dikatakan seperti itu, kami juga jadian tanpa mengenal satu sama lain terlebih dahulu…

Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa dengan Chanyeol, terkadang saat aku bersama Taeyeon, aku memikirkan Chanyeol, aku tidak sengaja membandingkannya pula, kau tahu kan aku tidak mempunyai sahabat dekat kecuali dia? Mungkin karena itu secara tidak sadar, saat aku pergi makan, saat aku menonton film, meskipun bersama Taeyeon, terkadang pikiranku teringat pada Chanyeol…"

Minseok menelan sesuatu di tenggorokan keringnya, pandangannya terlempar ke arah lain sesaat, ia menggenggam pegangan ayunan sebelum menoleh ke arah Baekhyun lagi. "Memang… Apa yang kau pikirkan tentang Chanyeol?"

Baekhyun memandang ke udara, nafasnya yang terhembus membentuk kepulan uap di sekitar mulutnya.

"Taeyeon dan Chanyeol sangatlah berbeda… Taeyeon beraroma wangi, kulitnya halus, dan tubuhnya kecil. Ketika aku memeluknya rambutnya mengenai pipiku, kepalanya akan bersandar di bahuku, kedua lengannya akan mengalung di leherku dan tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping, tapi Chanyeol berbeda, ketika aku memeluknya, tangan besarnya akan mengusap kepalaku, badannya tinggi sehingga aku bisa menyandarkan kepalaku di bahunya, tubuhnya tak berwangi parfum, tapi beraroma khas, yang anehnya aku suka, ketika kepalaku berada di bahunya aku akan bisa menghirupnya, kalau dipeluk Chanyeol, aku akan merasa sangat terlindungi…

Dipeluk Chanyeol rasanya hangat sekali, dan membuatku merasa aman, lalu biasanya dia akan tertawa di dekat telingaku, atau berkata dengan suara bassnya, yang kalau mendengarnya membuat hatiku tenang."

Lagi Minseok menghela nafas, kali ini dengan ekspresi yang dia sendiri bingung harus memasang ekspresi macam apa.

"Hyung, aku tidak seharusnya merasa seperti itu kan? Aku tahu, tapi… Aku sudah merasakan berpisah dengan keduanya. Aku tidak bersama Taeyeon, tapi aku tak apa-apa, hari-hariku masih seperti biasa, aku masih makan dan pergi latihan dengan baik, tapi begitu tanpa Chanyeol…

Semuanya begitu aneh, kalau aku bilang aku tidak apa-apa jelas itu bohong, pikiranku tidak tenang, kau tahu apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini? Aku tidak sadar kalau aku tidak makan seharian, aku pergi kemana-mana tapi pikiranku seperti tidak fokus, ponsel tak hentinya kulihat, jam juga tak hentinya kulihat, aku juga tak mengerti kenapa begini…"

"Kau… Tunggu, apa kau bilang berpisah dengan Taeyeon itu, yang kau maksud adalah putus?"

Baekhyun terdiam, ia memandang wajah Minseok dengan tatapan kecewa. "Iya, sejujurnya kami sudah putus…"

"Um… Seandainya Jongdae mendengar ini dia mungkin akan dua kali lebih kesal padamu." Minseok menggeleng kepalanya. "Bagaimana kau bisa putus dengannya padahal kau sudah sejauh itu dengannya?"

"Sejauh… Bagaimana?"

Minseok tahu ia kelepasan bicara, ia pasang wajah yang sedikit memelas. "Um… Hampir semua member sudah tahu… Malam itu Jongdae dan Sehun mengikutimu ke pesta di hotel… A-aku… Maaf tapi kami bermaksud bagaimana…" Minseok kemudian menstabilkan suaranya. "Tapi apa kau tidak keterlaluan, setelah membawanya ke hotel kau tidak seharusnya putus dengannya…"

Baekhyun menunduk lagi, nampaknya kali ini ia tidak berniat menyimpan sesuatu lagi. "Sehari setelah malam itu Taeyeon memutuskanku… Dan aku tahu aku layak mendapatkan itu… Karena aku memang telah menyakitinya."

"Me-menyakiti?"

"Malam itu… Kami memang membooking kamar hotel, dan aku dalam keadaan mabuk berat… Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diri saat itu dan aku sangat menyesalinya…

Seingatku aku hanya menutup mata sepanjang waktu karena kepalaku sangat berat. Aku memasuki kamar hotel dengan bantuannya, aku mendengar pintu ditutup dan kurasakan dia menuju ke arahku. Aku tidak ingat jelas apa yang terjadi saat itu, aku hanya merasakan dia mendorong tubuh kami, sampai jatuh ke ranjang.

Aku tidak ingat apa-apa kecuali aku menahan tubuhnya dengan tubuhku, saat itu tak seharusnya aku minum, tak seharusnya aku mabuk, karena aku menjadi seperti orang bodoh, aku tak bisa berpikir dengan otak yang jernih… Aku saat itu, menahan tubuh Taeyeon lalu mengatakan sesuatu…. Ah, aku benar-benar menyesal telah mabuk saat itu… Aku sangat merasa bersalah…"

"Memang kau mengatakan apa?"

"Hyung, kau tahu orang mabuk akan membuat orang berkata jujur…?"

"Yah… Lalu, apa yang kau katakan?"

"Saat itu aku melihat Taeyeon dan bilang…

Aku mencintaimu…

.

.

Chanyeol-ah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Big thx again buat cintyaarum104, cbaf, shenshey27, sehunboo17, guest, semuanyaaa

makasih banget uda ikutin ff receh ini :'

Lavv yuuu all ^^