Chapter X
"Masih tidak yakin?"
.
.
Ini sudah ketiga kalinya, Chanyeol menghasilkan nada off tune karena kunci gitar yang salah, lagi ia mendengus, dan MQ hyung yang berada di sampingnya hanya bisa melirik dari sudut matanya.
"Um… mau istirahat dulu? Kuambilkan soda, atau apa?" MQ hyung siap bangkit berdiri, namun Chanyeol menggeleng, mengisyaratkan MQ hyung untuk duduk kembali.
"Tidak tidak, aku sedang kurang mood saja sepertinya." Chanyeol menjawab, kembali mengusap kening kemudian mengusap rambutnya ke belakang.
"Baiklah…" MQ hyung mengangguk. Ia mengetuk-ngetuk ujung kursi yang ia duduki dengan jari telunjuknya. "Kau benar-benar kelihatan frustasi akhir-akhir ini. Ada masalah serius?" Lagi Chanyeol menghela nafas, ia tampak bingung untuk memulai pembicaraan. "Kartumu tertelan mesin ATM? Kau sedang terlilit hutang?"
Chanyeol melirik tajam, MQ hyung hanya bisa nyengir. "Oke-oke, maaf aku bercanda di momen yang salah."
Keheningan melanda sesaat, Chanyeol kemudian menaruh gitar akustiknya, memutar kursinya ke arah hyung yang berada di sampingnya tersebut. "Hyung, sebenarnya aku ada masalah dengan seseorang, aku mengaku kalau ini bukan salahnya, tapi salahku sendiri yang memang mempunyai mood buruk akhir-akhir ini. Tapi kami terlanjur diam-diaman, aku juga beberapa hari ini menghindarinya. Aku sebenanrnya tidak ingin terus-terusan seperti ini, ini membuatku tidak nyaman sih, tapi… Aku bingung harus bagaimana."
"Oh…" MQ hyung mengangguk, dilipatnya dua tangannya di depan dada. "Kalau begitu belikan dia parcel buah lalu pergi minta maaf padanya."
"Hyung…" mata Chanyeol menyipit lagi, ia mendesis kesal.
"Ya habisnya kau ini… Lagipula masalah dengan siapa sih, sampai membuat badmood berhari-hari begitu?"
Chanyeol menggembungkan pipi, kemudian ia mainkan tuts piano di hadapannya dengan asal. "Dengan Baekhyun."
"Oh…"
"Kau tidak kaget hyung?"
"Tidaklah. Justru kaget kalau kau ada masalah dengan yang lain." MQ hyung kemudian meluruskan kakinya, punggungnya menyandar santai di kursi kemudian memutar-mutarnya ke kanan dan ke kiri. "Memang masalah macam apa? Sejak rumor dia dengan Taeyeon beredar, memang nampaknya kau jadi selalu murung sih."
Chanyeol menoleh, melihat heran ke arah MQ hyung. "Memang kelihatan seperti itu?"
"Iyalah. Siapa juga yang tidak melihatnya. Kau dan Baekhyun berteman akrab, lalu Baekhyun sekarang punya pacar, lalu kalian jadi renggang. begitu kan?" Chanyeol kembali memandangi piano di hadapannya, berpikir. "Terang saja seperti itu. Kau dan Baekhyun pergi selalu bersama-sama, kau selalu perhatian padanya dan dia terlihat begitu bergantung padamu, kalian saling melengkapi satu sama lain, orang lain yang tidak paham pasti menganggap kalian berdua itu berpacaran."
"Apaan sih?"
"Nah lalu sekarang dia jadian dengan Taeyeon, kau tidak ada teman bermain lagi, kau jadi badmood. Kata lainnya kau sedang cemburu tuh."
"Begitukah?" Chanyeol merespon akhirnya, ia usap dagunya kemudian. "Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan agar mood-ku kembali baik, hyung? Juga biar aku dan Baekhyun tidak diam-diaman lagi?"
"Pergi temui Baekhyun suruh dia putus dengan Taeyeon lalu berpacaran denganmu saja."
"Hyung, kau belum pernah dihantam gitar mahal?"
"Oh oh, jangan dihantamkan, berikan saja padaku, tolong tanda tangani sekalian biar bisa kulelang buat exo-L, lumayan bisa buat beli mobil."
Chanyeol pergi dengan kaki dihentak-hentakkan.
.
.
Minggu pagi dan tak ada jadwal apapun, Chanyeol sedang menyetir dan tanpa sadar ia mengikuti jalan menuju restoran pasta milik ibunya yang berada di kawasan Gangdo-gu. Ia sebelumnya sudah menghubungi ibunya lewat telepon, ibunya mengatakan akan berada di restoran hari ini untuk mendekorasi beberapa spot, Chanyeol akhirnya memutuskan pergi untuk menghilangkan kebosanannya.
Tempat berukuran cukup luas dan nyaman itu masih dalam keadaan sepi. Kursi-kursi masih terlungkup bersandar di meja dan lampu yang menyala hanya bagian pojok saja. Komputer kasir belum dinyalakan, Chanyeol buru-buru masuk dan mendapati ibunya berada di pojok ruangan sedang memindahkan pot yang berisi pohon replika, menghias dedaunan berwarna oranye dengan lampu-lampu kecil.
"Eomma!" Chanyeol setengah berlari, memeluk ibunya, sang ibu tersenyum kemudian mengusap bahu anaknya.
"Oh… Baru datang? Kau tidak ada jadwal hari ini?"
"Free." Chanyeol meringis, menunjukkan rentetan giginya yang rapi. "Eomma, aku sedang bosan, bolehkah aku membantu?"
"Tentu saja…" sang ibu tersenyum lagi, kemudian menyambar kotak yang berada di meja tak jauh dari tempatnya berdiri. "Ini, tempelkan ini di ujung ruangan sana."
Chanyeol mengintip kotak berisi foto-foto Polaroid yang sebagian besar adalah fotonya sendiri. Ia kemudian mengangguk pada ibunya dan berjalan ke salah satu pojok ruangan dimana terdapat hasil jepretan semasa dia kecil. "Eomma, apa foto-foto ini harus kuambil dulu?"
"Iyah, ganti dengan foto-foto yang berada di dalam kotak. Pengunjung pasti sudah jenuh dengan foto-foto lama, makanya eomma ganti setiap dua bulan sekali." Ibunya memberikan instruksi. Chanyeol menjawab mengerti, kemudian mulai mencopoti tempelan foto Polaroid di sepanjang dinding. "Oh yah, eomma mau pergi ke supermarket dulu, tolong jagakan ya."
"Siap, eomma."
.
Chanyeol mendapati ponselnya bergetar, ia usap layar yang menunjukkan nama Jongdae disana, yang di seberang menanyai keberadaan dan kabar yang Chanyeol jawab singkat hanya dengan menyebut nama restoran ibunya dan menjawab jujur dengan kata 'seperti biasanya'. Tak lama kemudian Jongdae melanjutkan, sepertinya dia sedikit bersemangat, terdengar dari nada bicaranya yang menggebu, sepertinya menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan Baekhyun.
"Chanyeol-ah, yang saat itu, ketika kita berada di parkir hotel, itu tidak seperti yang kau kira! Baekhyun tidak melakukan apa-apa, Chanyeol-ah, dia semalam mengobrol dengan Minseok hyung, mereka membahas itu semua dan apa yang kita pikir selama ini ternyata salah. Baekhyun tidak seperti itu kok."
"O-oke… Baiklah…" masih terbengong, Chanyeol mulai menangkap maksud dari kalimat Jongdae, ia turunkan tangan kirinya yang masih mengusap salah satu foto Polaroid di dinding. "Lalu, apa yang sebenarnya ingin coba kau katakan?"
Tepat di saat yang sama, Chanyeol bisa mendengar suara dari arah pintu restoran, ia tak bisa menyembunyikan wajah terkejut saat pintu terbuka lalu sosok yang dibicarakan muncul, Baekhyun berdiri di ambang pintu, pelan-pelan menutup pintu kembali.
"Chanyol-ah, maaf aku tiba-tiba masuk." kali ini Baekhyun yang bicara.
"O-oh…" Chanyeol masih terbengong. "Um… Omong-omong, Baekhyun sekarang ada di sini…" Chanyeol menjawab yang di seberang telepon.
"Ah, baiklah-baiklah! Kututup telfonnya, kau berbaiklah dengannya! Fighting!"
Chanyeol menarik ponselnya yang tahu-tahu sudah tak bersuara lagi, melihat layarnya, dengan terheran, kemudian refleks memasukkannya ke dalam saku saat Baekhyun sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Maaf aku datang tanpa memberitahu dulu." yang pendek berkata. Baekhyun menjulurkan lidahnya sedikit, membasahi bibir keringnya, kausnya berwarna putih polos dan skinny jeans hitam benar-benar terlihat pas membungkus kakinya, dan, oh, sepertinya dia memakai lip balm pink strawberry, Chanyeol bisa mencium aromanya karena jarak mereka berdiri yang tidak terlalu jauh.
"Tidak apa-apa…" Chanyeol menjawab. Entah ini perasaanya saja atau bagaimana, Baekhyun nampaknya memakai make up ringan, wajahnya terlihat pink merona. "Ada apa kesini?"
"Tidak boleh ya?"
"Nggak apa-apa sih…" Canggung, Chanyeol memilih mengambil beberapa Polaroid dari dalam kotak dan meneruskan menggunting double tip untuk kemudian ditempelkan di tiap sudut foto Polaroid yang rata-rata berukuran 6x8 cm.
"Boleh kubantu?"
"Silahkan…" Chanyeol menjawab.
.
Mereka duduk di sofa di sudut ruangan, sofa hitam yang hanya muat untuk sekitar tiga orang saja. Baekhyun sibuk menggunting double tip dengan ukuran kecil, sedangkan Chanyeol mengambil double tip yang sudah dipotong kemudian menempelkannya ditiap sudut foto.
"Chanyeol-ah?" Baekhyun memecah keheningan, pandangannya masih ia tujukan ke bawah. "Kalau aku membuatmu badmood akhir-akhir ini, aku minta maaf…"
Chanyeol menghentikan kegiatannya sebentar, kemudian menoleh ke arah Baekhyun. "Sudahlah, jangan dibahas lagi."
"Aku juga, ingin memberitahu kalau…" kali ini Baekhyun memandang lawan bicaranya. "Aku sudah putus dengan Taeyeon."
Jujur saja Chanyeol bingung harus memasang ekspresi wajah seperti apa, ia masih terbengong. "O-oh, yang sabar kalau begitu… Aku turut sedih mendengarnya, ah, bagaimana yah." Baekhyun terkekeh, tawanya ia tahan, sungguh lucu melihat ekspresi Chanyeol. "Yah, kok tertawa begitu?"
"Tidak… Hanya kau lucu sekali…"
"Kau tidak sedih? Harusnya kau semacam kecewa… Atau mungkin ingin menyendiri karena patah hati…"
"Kau ingin aku seperti itu?"
"Ti-tidak juga sih."
Chanyeol tahu kalau ia terlihat salah tingkah, maka dari itu ia bangkit berdiri, memilih menempelkan beberapa Polaroid di dinding yang terjangkau oleh tangannya.
"Apakah ini dijual?" Tanya Baekhyun, tiba-tiba sudah berdiri di samping Chanyeol saja. Chanyeol melihat Polaroid yang ditunjuk Baekhyun, foto SMA-nya yang memakai seragam dan menunjukkan V sign dengan jari, dengan background sepertinya diambil saat dia selesai mengisi acara pentas seni.
"2000 won, kuberikan 1000 won padamu karena kau temanku." jawab Chanyeol asal.
"Berikan padaku 2000 tapi dengan tanda tangan?"
Chanyeol terkekeh, diambilnya Polaroid yang berada memang tepat di hadapan Baekhyun tersebut, lengannya sedikit melingkar di atas kepala Baekhyun, sehingga Chanyeol terlihat seperti akan memeluk lelaki pendek tersebut.
"Oh, maaf." Chanyeol segera menarik tangannya ketika lengannya tak sengaja menyentuh ujung kepala Baekhyun.
Baekhyun tersenyum, ia selangkah mendekati Chanyeol yang saat itu mulai mencoretkan tanda tangan dengan spidol hitam yang ia dapat dari meja kasir di sebelahnya. "Nah, sudah nih."
Baekhyun tersenyum dengan menunjukkan gigi-gigi putihnya, bibir bawahnya ia gigit, seperti gemas memandang foto yang sedang dipegangnya. "Kau lucu sekali bahkan dari SMA."
"Huh, kau baru sadar?"
"Yaks. Menyesal bilang begitu." Baekhyun merengut, ia keluarkan dompet dari dalam sakunya kemudian menyimpan foto ke dalam dompetnya.
"Hey?"
"Apa? Aku tidak boleh menyimpannya di dalam dompetku?"
"Bayar dulu."
Baekhyun mencelos.
Chanyeol nyengir.
"Tapi aku tidak ada uang cash, adanya kartu, memang bisa?"
Chanyeol menyipitkan mata, ia berjalan ke arah mesin kasir lalu menyalakan komputernya. "Dicoba dulu deh."
Baekhyun menunggu di depan meja kasir, ia merendahkan tubuhnya kemudian menopangkan dagu di telapak tangan dengan siku bertumpu di meja, ia memandangi wajah Chanyeol yang begitu serius mengutak-atik komputer dan mesin kasir, alisnya hampir menyatu, bibirnya mengerucut pula, senyumnya miring dengan bangga begitu mesin kasir menyala dan terlihat bisa dipakai. "Sini, mana kartumu."
Baekhyun memberikan kartunya, melihat Chanyeol menempelkan di alat kasir yang menyala kemudian mengutak atik komputer, kemudian tampak bingung lagi, Baekhyun kemudian memilih berjalan memutari meja untuk mendekati temannya itu, ikut memperhatikan komputer yang kini menununjukkan intruksi yang tak ia mengerti.
"Masukkan kode? Kode apa?" Baekhyun bertanya, menunjuk layar komputer.
"Aku juga baru kali ini melihatnya…" Chanyeol menjawab, kemudian melihat notes yang tertempel di kanan kiri meja kasir, barangkali ada petunjuk penggunaan atau sesuatu yang bisa membantunya.
Chanyeol sedikit terkaget, mesin berbunyi dan tiba-tiba mengeluarkan struk saat ia sibuk menunduk membaca notes yang tertempel di sana-sini. Baekhyun sudah tersenyum di sampingnya, menunjukkan struk dan nominal yang terkurang dari saldonya.
"6000 won? Kan harganya cuma 2000?"
"Tak apa, aku ingin mengambil dua lagi. Boleh kan?"
"Tch, kau ini." Chanyeol kemudian bangkit dan mengikuti Baekhyun yang sedang memilih-milih sambil mendongak. "Kalau kau bisa mengoperasikan mesin kasir harusnya kau memberitahuku dari tadi."
"Aku hanya ingin mengetesmu, aku suka melihatmu berusaha dan bekerja keras."
Ambigu, jawaban Baekhyun benar-benar ambigu membuat Chanyeol menyipitkan matanya. Kalau Baekhyun suka mengetesnya lalu apa selama Baekhyun mengetesnya juga? Ia dekati baekhyun kemudian. "Kalau begitu, apa selama ini kau juga mengetesku?"
"Uh?" Baekhyun menoleh, pandangan Chanyeol sudah berbeda, bukan penuh canda yang ia lihat sedari tadi, tahu-tahu berubah serius. "Maksudmu?"
"Kau tiba-tiba saja kesini, memberitahu kalau kau sudah putus lalu berkata begitu. Kau mengetesku?"
Wajah sumringah Baekhyun luntur, raut mukanya berubah serius dan tersirat sedikit ketakutan di matanya. "Tidak…"
"Lalu apa maksudnya?"
"Chanyeol-ah, biar kujelaskan sesuatu."
"Apa? Tentang kejadian malam itu di kamar hotel 1501?"
Mata Baekhyun membundar, tentu saja terkejut mendengar apa yang Chanyeol utarakan, ia genggam lengan Chanyeol agak keras. "Makanya aku mau jelaskan. Waktu itu aku hanya mabuk saja, kami juga tidak melakukan apa-apa… Serius, aku berani bersumpah."
"Apa ini bagian dari mengetesmu? Atau bagaimana?"
"Tidak… Aku, serius aku tidak bermaksud begitu. Dan aku benar-benar tidak melakukan apapun dengannya. Serius."
Chanyeol memiringkan kepalanya, matanya menyipit. "Aku ingin sih percaya padamu, tapi bagaimana?"
Baekhyun cemberut, ia pasang mata menyerupai anak anjing yang meminta makan. "Percayalah padaku…"
"Kau… Entah kenapa aku masih meragukannya."
"Ragu kenapa?"
"Kau sedang mabuk saat itu… Mungkin saja ada sesuatu yang kau tidak ingat telah terjadi kan?"
"Jadi, kau masih tidak yakin padaku?"
Chanyeol mengangguk.
"Kalau begitu…" Baekhyun menarik nafas panjang, ia gapai bahu Chanyeol yang lebih tinggi darinya, kedua tangannya mencengkeram disana, kakinya menjinjit sampai kepalanya berada sejajar dengan kepala Chanyeol yang saat itu sedikit menunduk memandangnya, tiba-tiba saja Baekhyun menghilangkan jarak antara wajahnya dengan wajah lelaki di hadapannya, bibirnya mendarat di bibir Chanyeol yang saat itu terkatup rapat, kecupan sekilas yang hilang hanya dalam satu kedipan.
"Masih tidak yakin?"
Chanyeol membuka mulutnya, tak begitu lebar, kemudian berkedip melihat Baekhyun yang sudah berwarna pink sampai ke telinga, memang sebelumnya warna wajahnya seperti pink, tapi kini lebih pink lagi, Chanyeol tersenyum saat Baekhyun dengan takut-takut melepaskan tangannya dari bahunya, lalu tertunduk dalam.
"Lucu sekali… Pasti ada maunya…" Chanyeol terkekeh.
Baekhyun berdecih, sepertinya untuk dirinya sendiri, ia seperti menggumam saat berkata "Kalau begitu boleh aku minta sesuatu lagi?"
Chanyeol berkedip. "Apa?"
"Pulanglah ke dorm…"
Senyuman Chanyeol seperti menyeringai, ia masukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian. "Kupikir-pikir dulu deh…" jawabannya membuat Baekhyun merengut seperti bebek.
.
.
.
.
Chanyeol menyentuh bibirnya dengan ujung telunjuknya sendiri, teringat kembali bagaimana kemarin Baekhyun dengan tidak elegannya menciumnya bahkan sebelum sempat ia menutup mata. Kalau ingin minta maaf atau menjelaskan sebenarnya Baekhyun tak perlu melakukan itu, tapi kalau dikipikir-pikir tidak ada ruginya juga buat Chanyeol sendiri, tapi kalau dipikirkan lagi kenapa pula Baekhyun melakukan itu? Apa dia memang sedang segitu depresinya ingin minta maaf? Dia bilang kemarin ingin meyakinkan Chanyeol kan? Atau memang itu hanya refleks saja?
"Chanyeol-ah?" Suara manager-nim membuyarkan lamunan Chanyeol.
"Yah?"
"Itu ponselmu."
Chanyeol buru-buru merogoh saku jaketnya, benar ternyata ponselnya sedang sibuk berdering. "Hm?"
"Kau sedang dalam perjalanan pulang kan?" itu suara Baekhyun dari telepon.
"Iya. Ini mau sampai. Kenapa?"
"Oh… Tidak apa-apa sih… Kukira kau tidak benar-benar kembali ke dorm."
Chanyeol tertawa kemudian. "Kan aku sudah janji…"
"Baiklah… Sampai ketemu di dorm…"
"Um.."
Chanyeol tersenyum sebelum mengakhiri panggilan kemudian memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
"Pacarmu ya?"
Pertanyaan manager-nim membuat Chanyeol refleks menoleh. "Hah?"
"Nada bicaramu tidak bisa dibohongi tahu."
"A-a…" Chanyeol hendak menjawab namun si manager sudah tertawa duluan.
"Tidak apa-apa asal tidak ketahuan fans saja…"
Chanyeol menutup mulutnya kembali, hanya bisa mengangguk-angguk karena mobil sudah berhenti di area parkir basement dorm.
.
Jongdae merasa kalau hari ini bukanlah hari istimewa siapapun, atau ulang tahun member, atau hari penting grup, makanya ia bertanya-tanya kenapa Baekhyun menyiapkan makanan dan bahkan menyiapkan pudding yang cukup banyak di dapur, namun akhirnya dia mengerti maksud dari si lead vocal tersebut ketika beberapa saat kemudian bel berbunyi dan sosok tinggi Chanyeol memasuki dorm dengan senyuman lebar di wajahnya
"Oh oh oh, sudah baikan nih…" Jongdae terkekeh, masih berdiri di dekat meja makan, menyambut Chanyeol yang baru memasuki dapur karena mendengar suara ramai dari arah sana.
"Ada apa ini?" Chanyeol masih belum menghapus wajah senyumnya, ia ikut berkerumun di sekitar meja makan. Kyungsoo dan Jongin sepertinya sudah selesai makan, terlihat dari piring kosong di hadapan mereka. Sehun dan Minseok masih menyendoki semangkuk es krim, Jongdae berdiri di sisi meja makan, membantu Baekhyun yang sepertinya masih sibuk di wastafel, mencuci buah-buahan segar.
"Baekhyunee hyung terimakasih es krimnya~" Sehun meninggikan suaranya sambil berdiri, tidak lupa membawa juga mangkuknya yang masih berisi sisa-sisa es krim. Ia menyenggol Minseok kemudian menyeret Jongdae, Kyungsoo dan Jongin ikut-ikutan berdiri pula, satu persatu meninggalkan dapur dengan suara kikikan di sana sini.
"Loh, kok pada pergi?" Chanyeol melihat sekitar dengan kikuk, ia berjalan mendekati Baekhyun kemudian. "Jadi kau yang membeli sebanyak ini? Memang ada apa?"
"Tidak apa-apa sih, cuma mau beli makanan, tidak boleh?"
"Yah… Boleh sih."
"Lagipula kan kau baru benar-benar pulang ke dorm hari ini… Kemarin-kemarin kan kau hanya mampir untuk ganti pakaian saja." Chanyeol berpikir, hampir saja mengoreksi apa yang dikatakan Baekhyun namun yang lebih pendek keburu mendorong tubuhnya. "Duduk dulu, ini salad-nya sudah jadi."
Chanyeol terduduk, Baekhyun sudah menaruh salad buah di hadapannya, dengan mayonaise favoritnya tentu saja, kemudian Baekhyun pergi lagi, membuka lemari es sambil bertanya "Mau minum apa?"
"Susu saja." Chanyeol menjawab beberapa detik kemudian, melihat Baekhyun mengambil sekotak susu lalu menutup lemari es kembali, menyambar mug kemudian berjalan menuju meja makan.
"Baek, kalau ini memang untukku seharusnya kau tidak perlu membeli sebanyak ini."
"Hm? Tidak juga sih, aku membelikan untuk member, tadi sih ada kue dan ddeokbokki, tapi member keburu menghabiskannya. Jadi kau kebagian sisanya saja yah." Baekhyun nyengir lucu, menyodorkan susu yang sudah tertuang penuh ke dalam mug besar berwarna hijau.
Chanyeol akhirnya hanya bisa tersenyum, ia sendoki salad dihadapannya, rasanya memang enak, apalagi dengan ditemani Baekhyun yang kini menopang dagu sambil tersenyum-senyum memandanginya. Sangat manis.
.
"Uwah… Kau apakan kamar ini?" Chanyeol terbengong begitu memasuki kamar, baru tersadar dengan gorden baru berwarna coklat bercorak ranting pohon, vas bening dengan bunga matahari segar, serta ruangan yang berbau luar biasa segar, bed cover dan bantalnya juga diganti, Chanyeol melompat ke arah kasur dengan semangat, badannya terpantul dua kali kemudian ia peluk erat-erat salah satu bantal dengan gemas. "Waahhh… Tau begini aku bakal sering pulang kemarin-kemarin…"
Baekhyun menyunggingkan senyum, ia dorong pintu dengan pinggulnya hingga tertutup, kemudian berjalan ke arah ranjangnya sendiri, duduk di tepinya. "Kau suka?"
"Suka sekali." Chanyeol memekik, kemudian ia duduk bersila, menepuk area di sampingnya. "Coba duduk sini, empuk sekali."
Baekhyun menuruti perintah si tinggi, ia merangkak menuju tengah ranjang, meniru bagaimana Chanyeol duduk. "Iyah, empuk."
"Kau mengganti kasurnya juga?"
"Tidak, hanya bed cover nya saja."
"Oh…" Chanyeol mengangguk, senyumnya melembut ketika menyadari Baekhyun sudah tersenyum seperti biasanya, juga mood mereka yang sudah jauh membaik, dipandangnya Baekhyun yang berjarak begitu dekat dengannya, pertanyaan 'Kenapa kau menciumku kemarin?' masih berputar-putar di kepalanya, ingin sekali diucapkan namun hanya tertahan di tenggorokan. "Baekhyun-ah, kau kurusan."
"Hm?" yang lebih pendek mendongak, kebetulan pandangan mereka bertaut, Baekhyun buru-buru melihat ke arah lain. "Begitukah?"
"Iya tuh, pipimu tidak chubby seperti biasanya, kau telat makan?"
Baekhyun memanyunkan bibir, ia raih bantal di sampingnya, kemudian memilih bersandar di headboard dan menaruh bantal yang ia pegang di pangkuannya. "Lagian kau sih, pakai ngambek segala padaku, aku kan jadi tidak selera makan beberapa hari."
Jawaban Baekhyun terlampau jujur, entah kenapa Chanyeol jadi gemas sendiri, ia menggeser pantatnya untuk mendekati Baekhyun, berhenti tepat di hadapannya, sampai kedua kaki mereka hampir bersentuhan. "Iya maafkan aku deh…" Chanyeol bisa melihat Baekhyun tersenyum kemudian. "Tapi aku marah juga bukan karena tanpa alasan. Dan sebenarnya aku juga tidak benar-benar marah padamu sih, aku sedang tidak mood saja."
"Um, kenapa memangnya?"
"Mm… Banyak sih, tapi sudahlah itu kan sudah lewat juga."
"Tidak tidak, jelaskan padaku kenapa."
Chanyeol terdiam, berpikir lebih tepatnya, kalau disuruh jelaskan dia sendiri juga tidak tahu alasannya. "T-tidak tahu sih… Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya…"
Baekhyun cemberut, wajahnya terlihat kecewa dengan jawaban Chanyeol, ia tepuk-tepuk bantak yang ada di pangkuannya. "Kupikir kau marah padaku karena aku sudah jadian, kupikir kau cemburu…"
"Hm?" Chanyeol refleks menaikkan satu alisnya.
"Yah… Karena jujur saja aku juga sempat jengkel padamu dalam kondisi yang hampir sama. Waktu melihatmu dekat lagi dengan Saebyul aku merasa sedikit marah sih. Waktumu jadi habis untuknya, sepertinya kau tidak peduli lagi padaku, begitu rasanya." Baekhyun menunduk memasang wajah sedih. "Tahu tidak kenapa aku jadi dekat dengan Taeyeon? Karena aku kesepian. Aku tidak ada teman lagi, dan dia begitu baik padaku. Kupikir kami cocok, aku jalan dengannya dan sering mengobrol, kupikir aku bisa melupakanmu tapi ternyata tidak. Kalau pulang aku masih kesepian, aku tidak suka melihat ranjangmu kosong, tidak ada lagi yang menemaniku makan ramen, tidak ada lagi yang moncoret-coret mukaku dengan bedak kalau kalah main kartu…"
"Memang kau tidak bisa pergi makan ramen dengan Taeyeon?" Chanyeol tiba-tiba bertanya, membuat Baekhyun mengangkat kepala dan melihat sang lawan bicara.
"Bisa, tapi rasanya berbeda."
Hening, ruangan tiba-tiba berubah hening. Saat pandangan mereka bertaut Chanyeol tahu seharusnya ia segera memutuskannya, karena kalau tidak, bisa saja ia kehilangan kendali dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Chanyeol berfikir apa yang sebaiknya dia ucapkan, tapi nampaknya pembicaraan sudah tak penting kali ini, mereka seperti sudah bisa berbicara hanya dengan tatapan mata saja, satu sama lain saling menyelami makna dari tatapan tersebut, perlahan Chanyeol menyentuh bantal yang ada di pangkuan Baekhyun, menggesernya hingga terjatuh ke samping, ia menunduk mensejajarkan kening mereka, poni Baekhyun terasa lembut menyentuh kening Chanyeol yang saat itu terekspos karena style rambutnya yang terangkat keatas.
"Baekhyun-ah?" bisik Chanyeol lirih, hangat nafasnya menderu, Baekhyun bisa rasakan karena jarak mereka yang terlampau dekat, sekarang dia tak bisa lagi mengelak, sudah terlambat, ia mematung di tempat, justru menutup matanya ketika merasakan jemari besar Chanyeol merambat di sekitar tengkuknya, mengelus rambut belakangnya.
"Hm?"
"Kenapa waktu di restoran kau menciumku?"
"Tidak tahu." Baekhyun menjawab, masih dengan menutup mata, otaknya tak berfungsi seperti yang semestinya ketika merasakan jemari Chanyeol yang perlahan menyentuh kulit kepalanya.
"Apakah memang begitu caramu untuk meyakinkan orang? Kalau begitu, apakah kau akan mencium Sehun juga kalau kau ada masalah dengannya?"
Baekhyun refleks membuka mata, memandang pantulan gambar wajahnya sendiri dari kedua mata bening Chanyeol, kemudian ia menggeleng.
"Lalu kenapa kau lakukan itu padaku?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, menggeleng lagi. "Tidak tahu…"
"Kalau Jongin? Apa kau akan menciumnya juga?"
Lagi Baekhyun menggeleng. "Tidak…"
"Minseok hyung?"
"Tidak mau…"
"Lalu? Kenapa hanya padaku?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya lagi, membuat Chanyeol berdecik pelan, ia menaikkan satu tangannya lagi dan mendaratkannya di bahu kanan Baekhyun.
"Kalau begitu mau lakukan lagi untukku?" Chanyeol bertanya, ia tarik kepalanya hingga terbuat jarak antara mereka, kini Chanyeol bisa melihat jelas wajah Baekhyun yang sudah memerah, tidak pink lagi, kali ini merah, ekspresinya sungguh lucu ketika ia tertunduk kemudian bilang 'Aku malu…'.
Yang lebih tinggi tersenyum, kemudian kembali mendekatkan wajah mereka, tangan yang berada di belakang kepala Baekhyun kini berpindah, menyentuh dagu runcing Baekhyun dan mengangkatnya, Baekhyun membuka mata benar-benar saat Chanyeol berkedip dan menurunkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh permukaan kulit pipi kirinya.
Chanyeol hanya menempelkan bibir di sekitar pipinya namun Baekhyun sudah menutup matanya erat, sekali lagi nafas Chanyeol yang tenang bisa ia dengar, hembusannya seperti menyapu seluruh permukaan kulit wajah Baekhyun, dari pipi, rahang, hidung, ujung bibir, Baekhyun bisa merasakan hembusan nafas hangat berhenti tepat di depan bibirnya. "Kali ini aku yang akan melakukannya, bolehkah?"
Baekhyun mengangguk, dan sedetik kemudian ia bisa merasakan sepasang bibir lembut mencium dan menekan bibirnya yang masih terkatup. Tangan di belakang kepalanya menekan pelan, kedua kepala sedikit memiring dan Baekhyun merasakan Chanyeol memberi satu dua kecupan sebelum menarik kepalanya kembali.
Mereka berdua membuka mata hampir bersamaan, saling berpandangan sejenak kemudian Chanyeol yang pertama mendapat kesadarannya kembali untuk melepaskan tangannya dari bagian tubuh Baekhyun.
"Um…" Baekhyun melihat sekeliling, nampak salah tingkah. "B-besok ada jadwal pagi, sebaiknya kita tidur." ujarnya sambil melesat meninggalkan ranjang Chanyeol dan menuju ranjangnya sendiri. Dengan secepat kilat ia merebahkan tubuh dan berposisi tidur memunggungi lelaki yang baru saja menciumnya.
Chanyeol terkekeh, ia membenahi selimutnya dengan santai, masih tersenyum saat membenamkan kepala di bantal dan memandang punggung sempit yang berada sekitar dua meter di hadapannya itu. "Bisa tidur tidak? Kalau tidak bisa boleh kok tidur di sampingku sini."
Baekhyun mendesis, kesal sepertinya, namun siapa yang tahu kalau ternyata dia memasang wajah merona dengan senyum lebar dari telinga ke telinga saat itu.
.
.
.
.
