Chapter XI
"Bagaimana kalau member tahu?"
"Akan kuberitahu semuanya kalau kau sekarang milikku."
.
.
Jika saja Jongdae bisa berkomentar, ingin sekali ia berceloteh bagaimana Baekhyun begitu terlihat canggung ketika berada di jok belakang hanya berdua dengan Chanyeol, atau ketika Chanyeol membukakan pintu mobil dan dia melompat kemudian lari tergopoh-gopoh menuju gedung, ketika mereka rekaman dan Baekhyun terlihat curi-curi pandang kepada rapper grupnya itu namun begitu Chanyeol menoleh ia membuang muka dan memasang wajah luar biasa datar, bahkan saat berada di kantin dan kebetulan mereka bertemu justru Baekhyun memilih mencari duduk di antara Sehun dan Suho yang sempit padahal tempat kosong masih luar biasa lebar di samping Chanyeol. Jongdae yakin mereka tidak jauh-jauhan karena marahan kali ini, namun ada sesuatu yang aneh. Saking penasarannya Jongdae sempat menarik lengan Chanyeol sesaat setelah mereka menyelesaikan jadwal shooting iklan salah satu produk makanan.
"Chanyeol-ah, ada apa lagi ini?"
"Huh?" yang lebih tinggi hanya ber-huh tak mengerti.
"Kau dan Baekhyun. Semalam dia senyum-senyum saja sekarang tahu-tahu aneh begitu. Kau apakan?"
Chanyeol nyengir, ia menoleh saat suara ribut terdengar, beberapa member terlihat meninggalkan studio dan kembali menuju area parkir. Terlihat Baekhyun termasuk di kerumunan itu. "Tuh, tanyakan langsung pada anaknya." ia menyeringai. "Aku sendiri tidak tahu apa yang telah aku lakukan sampai dia jadi begitu."
"Dasar kalian berdua ini…" Jongdae menggerutu, melihat Chanyeol yang dengan langkah kaki ringan meninggalkannya mengikuti kerumunan member menuju mobil.
.
Chanyeol tidak menyangka kalau gerakan membuka pintu yang dia rasa biasa saja bisa membuat Baekhyun terlonjak kaget sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai. Chanyeol sontak mematung, matanya sedikit melotot melihat Baekhyun dengan terburu memungut ponsel kemudian membenahi posisinya yang sedang bersandar di meja belajar.
"O-oh, sudah pulang?" Baekhyun bertanya canggung, ia membelakangi lelaki yang baru datang, dengan gerakan tangan yang sepertinya sedang menancapkan charger kemudian memasangnya di ponselnya.
"Iyah. Lelah sekali." Chanyeol menjawab, berjalan menuju lemarinya, menggantung baju kemudian berjalan menaruh tas ranselnya.
Baekhyun tak bisa memungkiri kalau ia terus mengikuti gerak-gerik Chanyeol dari sudut matanya, dan sepertinya si jangkung itu sadar kalo diawasi, ia menoleh ke arah Baekhyun yang dengan cepat menghindari tatapannya.
"Kenapa sih Baek?" Chanyeol bertanya, melangkah mendekati Baekhyun yang kini masih mematung dengan badan direkatkan luar biasa menempel di meja.
"Tidak apa-apa kok."
"Lalu kenapa wajahmu aneh begitu? Perutmu sakit?"
Baekhyun menggeleng cepat.
Chanyeol kemudian hanya bisa senyum miring, ia mendekatkan badannya ke arah Baekhyun, menapakkan telapak tangannya di meja, tingginya yang menjulang membuat Baekhyun merasa terintimidasi, si pendek hanya bisa menunduk dalam ketika Chanyeol turut menurunkan kepalanya sejajar dengan kepala Baekhyun. "Mukamu merah tuh?" Baekhyun bisa mendengar suara bass Chanyeol menggema di telinganya. "Apa karena ciuman kemarin malam?" ia terkekeh lagi ketika Baekhyun akhirnya memandangnya dengan mata menyipit. "Mau lagi yah?"
"Kau mau mempermainkanku yah?" Baekhyun akhirnya bersuara, kali ini lantang, ia kerucutkan bibirnya sebal.
"Tidak kok…" akhirnya Chanyeol menghilangkan wajah menggodanya, ia usap kepala Baekhyun pelan. "Kau terlalu kelihatan canggung begitu, sampai-sampai Jongdae menanyaiku tadi…"
Yang lebih pendek mengendorkan urat-urat wajahnya yang tegang, ia balas menatap Chanyeol kemudian. "Begitu yah?"
"Hu um." Chanyeol menjawab. Ia merasa Baekhyun sedikit menghindar saat tangannya hampir menyentuh daun telinganya. Juga saat ia memegang dada Baekhyun, Chanyeol bisa merasa degupan jantungnya yang luar biasa cepat. "Baek, kenapa deg-degan sekali?"
Tangan Baekhyun terangkat, menyentuh dadanya sendiri, ia menarik nafas panjang kemudian menghembusnya pelan, seperti akan memasuki ruang audisi pertama kali, degup jantungnya memang dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Baek?" sialnya Chanyeol mendekat lagi, Baekhyun sadar ini semua pasti gara-gara si jangkung ini.
"Kalau tidak ada apa-apa lagi aku mau mandi dulu." Baekhyun berucap, ia hendak melangkah pergi namun tangan besar Chanyeol keburu menahan lengannya.
"Sini dulu, aku belum selesai bertanya nih…" Chanyeol memutar tubuh kecil Baekhyun, membuat mereka kembali berhadapan, tangan satunya melingkar di bahu Baekhyun, mengusap belakang punggungnya. "Kau berdebar-debar karenaku yah?"
"Ti-tidak tahu"
"Iya tuh."
Baekhyun cemberut kesal, ia mendongak sedikit namun wajah Chanyeol terlampau dekat dengannya, terpaksa ia menunduk lagi.
"Jangan menunduk terus dong. Nanti nggak kelihatan cantiknya…" Baekhyun mendengus, ia angkat kepalanya kemudian. "Benar kan kalau berdebar-debar karenaku?"
"Aneh saja rasanya… Aku juga tidak tahu kenapa…"
"Baek, tanganku sudah sering menyentuhmu, memelukmu, bahkan kita sering mandi bersama dulu. Lalu kenapa kau deg-degan sekarang?"
Baekhyun menggeleng, masih dengan posisi sama, ia arahkan pandangannya ke mata Chanyeol yang kini menatapnya juga. "Akhir-akhir ini banyak yang terjadi. Dan itu semua karenamu. Kau tidak peka atau apa sih?"
"Huh?"
"Yasudah aku mandi dulu."
Kali ini Baekhyun benar-benar pergi, Chanyeol masih mematung, ia menghela nafas, pikirannya masih mencoba mencerna kata-kata lelaki manis pendek manis yang pergi meninggalkannya itu.
.
.
Daripada menunggu dan mendapati muka cemberut Baekhyun, Chanyeol memilih menumpang mandi di tempat Sehun. Ia menghabiskan waktu tak lebih dari setengah jam, kemudian meminjam pengering rambut juga. Masih berada di kamar si dongsaeng, Chanyeol melihat Sehun yang sedang sibuk main game di ponsel dengan posisi tengkurap di ranjang.
"Sehun-ah."
"Hm?"
"Boleh tanya tidak?"
"Apa?"
"Apa saja yang terjadi selama aku tidak pulang ke dorm?"
Sehun terlihat mem-pause gamenya, ia berganti posisi duduk kemudian memandang hyung-nya dengan tatapan aneh seperti aktris-aktris sinetron. "Wah, banyak sekali. Dramatis. Sayang kau tidak di dorm."
"Oooooh~ Misalnya?" masih dengan pengering rambut yang menyala, Chanyeol mengibas-ngibaskan rambut coklat gelapnya.
"Harusnya kau sudah tahu... Memangnya Baekhyun tidak memberitahumu?"
"Memberitahu bagaimana, melihatku saja dia entah kenapa pengen kabur terus. Sepertinya dia jadi sensitif kalau didekatku."
Sehun terkekeh. "Yah namanya juga pasangan lagi hangat-hangatnya."
"Hey hey…"
"Siapa pula yang tidak tahu, hyung. Gerak-gerik Baekhyun kentara sekali."
"Kentara gimana?"
"Wah… Tidak usah pura-pura begitu kalau di depanku…"
"Maksudmu?"
"Memang Baekhyun belum kau apa-apakan?"
"Hahh?"
"Yah… Memang belum yah? Kukira tadi pagi sudah senyum-senyum salah tingkah begitu itu karena sudah melakukannya denganmu…"
"Yah Sehun, otakmu itu kebanyakan MSG jadi tidak sehat begitu."
Sehun terkekeh lagi, dilihatnya hyung-nya yang mematikan alat pengering rambut kemudian pergi dengan berucap terima kasih dengan malas itu.
.
.
Chanyeol menghabiskan waktu di ruang tamu, ditemani Jongdae dan Jongin yang sibuk bermain game, Suho ikutan berkerumun tapi sibuk dengan ponselnya dan makanan ringan yang terletak di meja, mereka bermain sampai hampir tengah malam, Suho yang pertama pamit untuk tidur, kemudian Jongin yang sudah menguap lebar beberapa kali juga mengundurkan diri dari permainan perang yang menunjukkan skornya tak lebih tinggi dari Jongdae.
"Aku tidur dulu…" Jongin berkata sambil lalu.
Chanyeol menjawab Jongin dengan mengangguk saja, kemudian ia alihkan perhatian ke satu-satunya manusia yang tersisa. Awalnya ia ingin mengajak Jongdae agar mau tidur di ruang tamu, tapi Jongdae sudah berkata duluan kalau di ruang tamu dingin, ia ingin segera sembunyi di balik selimut hangatnya, Chanyeol tak bisa berkata apa-apa, setelah melirik arloji di tangan kirinya yang menunjukkan pukul 01.00 pagi, ia memilih pergi ke kamarnya.
.
Pergi ke kamar berarti bertemu Baekhyun, begitu Chanyeol berpikir. Maka dari itu sebelum memasuki ruangan ia sengaja memutar kenop pintu pelan, berjalan dengan mengendap-endap, takut kalau Baekhyun melihatnya maka akan terkejut lagi. Beruntung saat itu Baekhyun tak terlihat di setiap sudut ruangan, dari suara gemericik air yang terdengar, Chanyeol mengasumsikan Baekhyun pasti masih belum selesai di kamar mandi.
Secara teknis Chanyeol memang tak menunggui Baekhyun selesai mandi, namun apa yang ia lakukan benar-benar terlihat seakan memang seperti itu. Ia berjalan mondar-mandir, menuju lemari untuk mengambil pengering rambut, ia sudah pegang, namun ditaruhnya kembali. Bisa jadi Baekhyun tidak mencuci rambutnya, begitu yang ia pikirkan. Kemudian ia menuju ke meja belajar tempat Baekhyun meninggalkan ponselnya, melihat-lihatnya, lalu ditaruhnya kembali, kemudian ia mengecek waktu dari jam tangannya.
Chanyeol merasa disini tak hanya Baekhyun saja yang menjadi aneh, namun dirinya sendiri juga.
Penantian tak berlangsung lama, sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Baekhyun keluar dengan kaus putih lengan pendek dan celana piyama abu-abu, kepulan uap mengiringinya keluar dari pintu karena ia baru saja mandi air hangat. Entah ini Chanyeol yang merasa sangat berlebihan atau memang pemandangan ini terlihat seakan Baekhyun seperti seorang malaikat yang turun dari awan-awan.
"Hey…" Baekhyun menyapa, masih dengan nada canggung, ia usap rambut basahnya dengan handuk putih yang ia bawa, kemudian berjalan menuju kaca besar yang hampir sama tinggi dengannya yang terletak dekat meja belajar.
Dari sana ia sadar bahwa mata Chanyeol tak henti membuntutinya.
"Chan?" Baekhyun tentu saja bertanya, memasang wajah khawatir, tidaklah aneh karena orang yang berdiri di belakangnya sekarang tak hentinya memandangnya, dengan senyum miring, dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, refleks Baekhyun memutar tubuhnya, yang disambut wajah penuh senyuman oleh roomatenya.
"Boleh kubantu keringkan rambutmu?"
Baekhyun tidak menjawab, tapi ia juga tidak menolak saat Chanyeol mendekat kemudian menggantikan tangannya yang awalnya memegang handuk. Tangan besar Chanyeol mengusap kepalanya pelan, membuat gerakan ke kanan kiri, depan belakang.
Jujur saja Baekhyun masih deg-degan, berhadapan dengan Chanyeol begini, jantungnya berdetak cepat, darahnya juga seakan direbus, ada yang meletup-letup di dalam sana, beruntung kini Baekhyun masih bisa mengendalikannya, tidak seperti kemarin, setidaknya Baekhyun tidak menunjukkan wajah bodoh seperti anak ABG jatuh cinta, tapi kalau dilihat-lihat Chanyeol juga menunjukkan ciri-ciri yang sama, kalau diperhatikan kenapa pula dia senyum-senyum seperti orang yang sedang membaca fanfiction fluffy begini?
"Chan? Kau tidak apa-apa?" Baekhyun memberanikan diri bertanya.
"Eum?"
"Kau kenapa? Daritadi senyum-senyum gitu?"
Masih memegangi handuk yang menggantung di kepala Baekhyun, Chanyeol hanya melebarkan senyumnya. "Pakai hair dryer saja bagaimana? Biar cepat kering."
Baekhyun hanya bisa manyun saat pertanyaannya tidak mendapat jawaban. Ia menurut saja ketika Chanyeol mengembalikan handuk ke gantungan pakaian, kemudian mengambil pengering rambut, ia dudukkan Baekhyun di kursi belajar, lalu suara mesin pengering mendesing terdengar riuh di sekitar kepalanya.
Rambut Baekhyun memang lembut, Chanyeol sudah tahu dari dulu, namun ia baru sadar bahwa aroma rambut Baekhyun juga wangi, enak sekali untuk dihirup. Kulit Baekhyun juga putih, untuk ukuran laki-laki kalau disandingkan dengan yang lain Baekhyun bisa dibilang agak pucat, tapi Chanyeol baru sadar pula kalau kulitnya begitu halus, lembut, entahlah, mereka sama-sama lelaki, tetapi aneh saja, apa yang membuat Baekhyun berbeda? Apa lotion yang sering dipakainya? Seingat Chanyeol bahkan mereka menggunakan merk yang sama, tapi kenapa hasilnya jauh begini? Chanyeol berusaha menerka-nerka, namun sia-sia saja, itu semua tidak bisa dijawab dengan akal pikiran saja, tapi dengan perasaan, yah perasaannya yang kini sudah jauh berbeda, karena kejadian selama ini, Chanyeol akhirnya tahu perasaannya sendiri, ia tahu bahwa dengan lelaki di hadapannya ini, hatinya telah bertekuk lutut.
"Sudah." Chanyeol mengakhiri, ia taruh pengering rambut yang sudah mati di meja, kemudian ia cabut kabel yang terulur. "Baekhyun?"
Yang pendek mendongak, sedikit kaget ketika kedua tangannya digenggam tangan yang lebih besar, kemudian menuntunnya untuk berdiri. Ia ikut saja ketika Chanyeol mendekatkan tubuh mereka, jarak mereka tak sejauh sebelumnya, dan Baekhyun lagi-lagi merasa bulu kuduknya meremang ketika Chanyeol mendekatkan hidungnya di balik telinganya.
"Baek, kau wangi sekali…"
"Aku habis mandi, Chan…"
Chanyeol menarik kepalanya, lagi ia memandang mata Baekhyun.
"Aku juga mandi dengan sabun yang sama, tapi tidak seperti ini."
Baekhyun mengigit bibir, entahlah itu gombalan atau apa, syukur kalau memang begitu, tapi gara-gara itu akhirnya dia menjadi lemah dan muncullah semburat pink di pipi.
"Sengaja ya menggodaku? Kenapa menggigit bibir begitu? Kenapa juga mukamu memerah?"
Baekhyun tak tahan lagi, ia mendecih sebal, masih dengan memasang senyum pastinya, ia tarik tangannya agak keras, namun Chanyeol menahan.
"Baek?"
Baekhyun terkesiap, pandangan Chanyeol berubah jadi serius, suaranya makin berat. "Yah?" Baekhyun membalas.
"Jadilah milikku."
Baekhyun terperangah.
Mendapati respon mematung dari Baekhyun, Chanyeol terpaksa mengulangi "K-kau mengerti kan? Milikku sendiri. Bukan orang lain. Aku tak mau kau berpacaran dengan orang lain lagi, siapapun itu, hatiku sakit melihatnya."
Apa ini artinya Chanyeol sedang mengutarakan perasaannya? Atau bagaimana? Tapi kenapa kalimatnya membingungkan sekali? Baekhyun memang bukan orang jenius, tapi tidak juga orang yang mempunyai IQ rendah sehingga dengan kalimat begitu saja dia tidak mengerti.
"Umm…"
Baekhyun menunjukkan wajah berpikir, Chanyeol masih menatapnya penuh harap.
"Kalau kau tidak mau tak apa, yang penting kau tahu bagaimana perasaanku—" Baekhyun terkekeh, ditatapnya Chanyeol yang sekarang terbengong. "Baek, kok tertawa?"
Baekhyun akhirnya tersenyum, helaan nafasnya terdengar jelas, ia mengayun kedua tangannya yang masih digenggam tangan besar Chanyeol. "Kau kan jagonya ngegombal tapi kenapa menyatakan perasaan saja seribet itu?"
Chanyeol terbengong. "Hah?"
"Bilang saja yang jelas Aku mencintaimu begitu."
Yang lebih tinggi terdiam sejenak, kemudian senyum miringnya merekah, cukup lebar, ia melepaskan genggamannya, sambil mengarahkan kedua telapak tangannya ke kedua sisi pipi Baekhyun, Chanyeol membalas. "Aku juga mencintaimu."
Baekhyun serasa terkena jebakan.
"Fine, kalau begitu maumu." mata Baekhyun menyipit, tampak sebal, dan senyum Chanyeol makin merekah.
Seperti adegan di drama-drama, Baekhyun sudah tahu apa yang setelahnya akan terjadi. Ia mengangkat kedua tangan dan ditempatkan di bahu yang lebih tinggi, sementara kedua tangan Chanyeol melingkar di pingganya, Baekhyun kian merapat, senyumnya juga merekah ketika bibir Chanyeol mengusap permukaan bibirnya, ia membuka bibirnya kali ini, mengizinkan Chanyeol dengan segala nafsu birahinya, mencium dan menyesap bibir hingga rongga mulutnya.
.
Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, Baekhyun bisa melihatnya ketika berhasil mencuri pandang pada jam dinding yang tergantung di sisi kanan ruangan. Ia memang belum bisa melihat benar, dan sebelum ia bisa mengoreksi, lagi-lagi kepala Chanyeol menghalangi, menutup jarak pandangnya.
Mereka masih melanjutkan berciuman, kali ini di ranjang milik Chanyeol, dan jangan tanya bagaimana Baekhyun berusaha susah payah agar mereka bisa menuju ranjang tersebut. Chanyeol terus menerjangnya, hingga terpojok ke dinding, ukuran tubuh Baekhyun yang tak lebih besar dan tak lebih tinggi hanya bisa pasrah, namun beberapa kali ia bisa menahan, terimakasih pada ajaran taekwondo yang dulu pernah ia emban. Dengan beberapa sisa kekuatan ia mendorong si tinggi, sempat menarik juga, hingga akhirnya mereka terjatuh dan tertidur di ranjang, dan sebelum ia bisa bangkit Chanyeol tentu saja sudah menindihnya, mengunci tubuhnya entah bagaimana caranya, hingga Baekhyun akhirnya tak bisa berkutik lagi.
"Chan-ah…" ujar si pendek dengan nafas berat, Chanyeol yang saat itu masih dalam kegiatannya untuk mencoba menyatukan bibir mereka, akhirnya terhenti.
"Hm?"
"Tidur?" sebenarnya itu perintah, namun terdengar seperti kata tanya, Baekhyun berusaha membujuk, dengan alis terangkat dan bibirnya yang sepertinya sudah membengkak dan memerah mencoba tersenyum.
Bukannya mengikuti perintah Baekhyun, Chanyeol justru menyeringai, ia tenggelamkan kepalanya di perpotongan leher lelaki yang di bawahnya, geraknya pelan, sangat pelan – "ah…" dan sukses lagi membuat Baekhyun melenguh seperti satu jam yang lalu.
.
.
Pagi datang, rutinitas kembali seperti biasanya, dan mobil yang lalu lalang menyapa pemandangan luar apartemen dorm. Meskipun hari-hari akan berlanjut seperti biasanya, Baekhyun tahu ada yang sedikit berubah pada dirinya, dan pada diri seseorang juga, yang kini tahu-tahu memeluknya dari belakang ketika ia tengah membuka gorden agar cahaya pagi menerangi dan mengganti suasana dalam kamar.
"Chanyeol-ah…" suara Baekhyun tertahan, menyentuh lengan besar yang kini melingkar di dadanya.
"Hm?" Chanyeol merespon. Baekhyun bisa merasakan Chanyeol menghirup rambut belakangnya kuat-kuat, hembusan nafas hangatnya terasa sampai membuatnya merinding.
"Kau sudah semalaman menciumiku."
"Huum…" seperti tak mengindahkan perkataan Baekhyun, kembali Chanyeol merapatkan tangannya.
"Dan aku juga belum mandi."
"Lalu?"
Oke, Baekhyun menyerah.
"Chanyeol-ah…"
"Iya?"
"Bagaimana kalau member tahu?" Baekhyun memberi jeda. "Pintunya tidak terkunci."
"Biarkan." Chanyeol juga membuat jeda sejenak, ia lanjutkan perjalanan bibirnya hingga ke perpotongan leher yang lebih pendek. "Biarkan mereka tahu. Akan kuberi tahu semuanya kalau kau sekarang milikku."
Baekhyun tahu ia dan hatinya, dan seluruh juwa raganya, kini telah meleleh.
.
.
.
.
