Chapter XII

"Iya, sayang?"

.

.

Butiran salju yang turun pertama kali di musim dingin mungkin adalah satu dari serentetan hal yang ingin orang-orang lihat di bulan-bulan penghujung tahun ini. Tak terkecuali Baekhyun. Maka di suatu malam setelah mereka mengakhiri acara di salah satu stasiun tv, Chanyeol yang berbekal berita ramalan cuaca tadi pagi, sengaja mengajak kekasih barunya itu untuk mampir sebentar di salah satu kedai kopi dekat sungai Han untuk melihat salju yang diberitakan akan turun pertama kali malam ini. Kedai yang dituju bisa dibilang kecil, namun cukup nyaman dan tenang. Dan tentu saja karena Chanyeol mengenal pemilik kedai tersebut, jadi sengaja malam itu Chanyeol membuat permohonan kecil pada kenalannya itu, berjanji akan membayar lebih, serta membawa-bawa nama besarnya, yang tentu saja mendapat tanggapan baik oleh si pemilik.

Mereka duduk di meja paling pojok di lantai dua, menghadap keluar dengan dinding kaca sehingga bisa bebas melihat apapun yang berada di luar. Sebenarnya kalau dilihat-lihat pemandangannya hampir sama dengan saat mereka biasa makan di toko serba ada, namun karena kini Chanyeol merasa sedang pergi dengan orang yang spesial, maka ia pilih tempat yang spesial pula, jika dari toko serba ada pemandangan gedung di seberang tak terlihat, maka disini mereka bisa melihatnya, juga kapal-kapal kecil yang melintas kesana-sini, dan langit yang saat itu memang benar-benar gelap gulita.

"Kalau dilihat-lihat pemandangannya hampir sama kalau kita sedang makan di toko serba ada." Baekhyun bergumam, menghadap ke arah Chanyeol yang saat itu sedang duduk di samping kanannya. "Dan juga makanan disana lebih murah. Kan lebih hemat."

Chanyeol mendesis, ia melirik tajam kekasih mungilnya yang dengan entengnya berkomentar padahal dia sudah bersusah payah merencanakan semua ini dari pagi-pagi buta. "Kau ini. Hargailah pengorbananku sedikit."

"Memang kau berkorban apa?"

"Ide. Waktu. Kau tahu ide yang muncul di kepala itu sangat penting? Dan juga waktuku, ini jam-jamku untuk tidur nih. Besok kan kita—"

Kecupan Baekhyun yang tepat di bibir berhasil memberhentikan celotehan Chanyeol. Ia berkedip, Baekhyun tengah menyunggingkan cengiran, kemudian tangan Baekhyun menyentuh sisi kepalanya untuk kemudian menolehkannya ke arah dinding kaca.

"Tuh, salju pertama turun. Indah sekali." ia membiarkan Chanyeol memandangi pemandangan luar yang memang cukup indah, butiran salju turun dari atas, disusul dengan butiran lain, yang lambat laun menjadi kian lebat. Chanyeol pun ikut tersenyum, kemudian kembali ia tatap lelaki tinggi di sampingnya yang kini dengan rambut coklat gelapnya, sangat tampan. "Terimakasih yah."

Chanyeol mengangguk, kemudian melingkarkan lengan ke bahu sempit Baekhyun, ditariknya lelaki mungil di sampingnya, menciumnya adalah to-do-list yang memang Chanyeol sudah pasti akan lakukan di kencan pertama mereka.

"Kau tidak ingin pulang?" Baekhyun bertanya, sambil membenamkan kepalanya di leher yang lebih tinggi.

"Secepat ini? Kita baru sampai setengah jam yang lalu."

"Noona kasir tak bisa pulang karena kita. Kau lihat wajah masamnya tadi? Yang pura-pura tersenyum memang."

"Baekhyun-ku memang lelaki paling peka di muka bumi ini." entah ini pujian atau apa, tapi Chanyeol serius mengatakannya. Baekhyun memang ahlinya kalau soal seperti itu. Chanyeol mengusap rambut blonde Baekhyun, menghirupnya sesaat sebelum akhirnya melepaskan tangannya. "Baiklah, kita lanjutkan di dorm saja."

"Apanya yang mau dilanjutkan?" Baekhyun mendelik dengan suara naik, sembari ia membereskan ponsel, ia keluarkan dompet Chanyeol yang memang sedari tadi ia simpan di dalam tasnya.

"Ngobrolnya. Memang kau pikir apa?" Chanyeol berujar dengan nada menggoda. Ia kemudian mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu dari sana.

"Hm, omong-omong aku mulai suka dengan kartu itu." canda Baekhyun, meskipun terselip kejujuran di baliknya.

"Yah.. Yah.. Aku tahu…" Chanyeol mengangguk mengerti, ia menaik turunkan kartunya di depan wajah Baekhyun. "Jadilah anak penurut nanti oppa belikan apa saja yang kau minta dengan ini."

Baekhyun berdecih, namun kemudian tersenyum. "Aku tidak mau kau belikan apapun, aku mau passwordnya saja."

"Wah… Masih jauh perjalanan sampai kau bisa mendapatkannya Baekhyunee…" canda yang lebih tinggi.

.

Dorm sudah sepi ketika pasangan Chanbaek menapakkan kaki di ruang tamu. Lampu sudah dimatikan, dan masing-masing kamar sudah tertutup. Baekhyun yang saat itu sedang haus melangkahkan kakinya menuju dapur, sedangkan Chanyeol yang memang sudah menguap berkali-kali langsung menuju kamar. Sengaja tidak menutup pintu karena menunggu Baekhyun menyusulnya. Ia melempar jaketnya asal, kemudian melompat ke ranjang dengan wajah dan perut didahulukan, kemudian ia langsung memeluk bantal yang juga menopang kepalanya.

Suara air menyala dari kamar mandi bisa terdengar, sesaat kemudian pintu yang bergeser, suara langkah kaki terdengar melintasi ruangan, dan pintu yang menyambung ke ruangan luar terdengar sudah tertutup pula. Chanyeol bisa merasakan lampu utama telah padam, hanya lampu tidur samping ranjang yang tersisa, lalu suara yang berasal dari ranjang seberang. "Baekhyunnie~"

"Hm?" Baekhyun terdengar merespon, memang nampaknya dia berada di ranjang seberang, ranjangnya sendiri. "Ada apa?" lanjutnya.

Chanyeol menepuk punggungnya tiga kali, kemudian bergumam. "Kau tahu, menyetir semalaman membuat punggungku kaku… Belum lagi seharian nge-dance dan—"

"Huh, tahu begitu aku lebih baik naik bis saja."

"Ayolah—" Chanyeol merengek, namun tak ada jawaban. "Sayang?"

Entah karena kata terakhir yang terlontar dari mulut sok manis Chanyeol atau karena memang iba melihat Chanyeol yang seharian bekerja keras, Baekhyun akhirnya berjalan menuju ranjang kekasihnya. Ia menaiki ranjang dan membuat kasurnya bergerak, Chanyeol tersenyum puas dibalik bantal.

Chanyeol membenahi posisinya, tengkurap dengan sebaik-baiknya, kepalanya miring ke kanan. Ia bisa merasa tangan Baekhyun mulai menekan-nekan punggungnya, yah enak sekali.

"Lebih keras sedikit sayang? Yah disitu, ohhh…"

Baekhyun menahan tawa, ia gigit bibir saat Chanyeol dengan segala kelucuannya, menegang ketika pijitannya diperkuat, lalu mengendurkan otot ketika Baekhyun memijit pelan, dan begitu Baekhyun mengerjainya dengan mencubitnya ia akan mengerang.

"Naiklah." Chanyeol menginterupsi.

"Hah?"

"Kalau kau naik ke punggungku akan lebih mudah memijit bahuku, leherku juga pegal rasanya."

Baekhyun mendengus, namun juga langsung melaksanakan perintah sang kekasih, ia menaiki punggung Chanyeol, kemudian dengan kedua tangan memijit pelan bahu lebar dan leher Chanyeol.

"Ohhhh… Iya iya disitu…." lagi Chanyeol mengerang puas.

.

"Yah kannnn, kubilang apa? Kalian sih tidak percaya."

"Apa? Tidak mungkin, secara teknis itu tidak mungkin!"

"Bisa sajaa! Makanya ikut dengan kami, biar bisa mendengarnya sendiri."

"Tidak-tidak, ini perlu diklarifikasi lagi."

"Yahhh tidak bisa… Sudah jelass, sudah sudah, kalah ya kalah."

"Waah enak saja."

"Yah… Harusnya aku tidak ikut taruhan aneh kayak gini—"

Chanyeol dan Baekhyun yang baru saja keluar dari kamar menyipitkan mata hampir bersamaan. Member begitu ribut di ruang tamu, dan Chanyeol tak bisa menyembunyikan wajah ingin tahunya. "Taruhan apa, eoh?"

Semuanya terkesiap, tiga orang berdiri kemudian memilih pergi dengan wajah sok tak mendengar. Sisanya ikut menyusul, hanya tinggal seorang Sehun saja yang memang geraknya cukup lambat dan tentu saja berhasil ditangkap lengannya oleh yang paling tinggi. "Yah! Mau kemana? Taruhan apa? Jelaskan padaku."

Sehun terpojok, yah tak ada pilihan lain, dengan takut-takut ia melirik Baekhyun sebelum mengalihkan pandangan ke arah Chanyeol lagi. "Itu… Semalam… Kami… Janji jangan marah lho, dan jawablah jujur, kami butuh konfirmasi."

"Tentang apa dulu? Dan konfirmasi apa nih?"

"Itu… Semalam sengaja member menutup semua pintu… Lalu… Kami semua penasaran, antara kalian siapa yang di atas dan siapa yang di bawah." Sehun melihat Chanyeol mengerutkan kening, sedangkan Baekhyun menggigit bibir sepertinya malu bercampur kesal. "Yah yah, kalau dilihat-lihat memang sepertinya kaulah yang di atas, tapi siapa yang tahu kan?"

Kekehan Chanyeol pecah beberapa detik kemudian, diikuti gelak tawa, ia kemudian melirik kekasihnya yang seperti memasang wajah dongkol, ia lepaskan cengkeramannya di lengan dongsaeng karena Baekhyun mencubit tangannya keras. "Lihat nih, lihat, penampakan seperti ini masa mau di atas?" Chanyeol tertawa menyeringai, Sehun ikut tertawa, namun melanjutkan. "Ta-tapi yang kami dengar semalam… Kau… Yang… Sepertinya kesakitan, bukan?"

Chanyeol masih terbahak-bahak, ia elus dadanya kemudian menyeka air yang sudah terkumpul di sudut matanya. "Itu karena semalam punggungku pegal… Jadi Baekhyun sedang memijat punggungku."

"AAaah—" Sehun mengangguk-angguk, kemudian dengan cepat ia melesat. "Suho hyung! Kali ini bayar taruhannya! Aku menang!" pekiknya.

.

Kalau di kamar Chanyeol memang genit, tak sungkan mengumbar kemesraan dan suka bermanja-manja dengan kekasihnya. Tapi saat di stage, atau studio, atau di tempat latihan, Chanyeol akan kembali menjadi Chanyeol si rapper dan penyanyi yang profesional. Tak lagi ada kata-kata mesra atau sentuhan intens yang menunjukkan mereka sepasang kekasih. Baekhyun juga bisa dibilang begitu, meskipun ia lebih sering diam-diam memperhatikan si jangkung yang kini adalah kekasihnya itu. Mempelajari gerak-geriknya, menganalisa kata-katanya, bahkan hal kecil yang sebelumnya Baekhyun tidak pernah sadari.

Meskipun kata-kata cinta sudah terucap, namun karena pekerjaan Baekhyun mencoba menjadi lebih pengertian, yah dalam konteks ini Chanyeol pun begitu. Kalau misalnya mereka harus berakting maka mereka melakukannya, latihan tetap intens dan keduanya masih bisa mengikuti materi dengan baik. Urusan perasaan dan pekerjaan bisa diselaraskan, begitu kesimpulannya.

"Chanyeol-ah? Gimana?" tiba-tiba Suho menyikut si rapper. Mereka sedang duduk berkerumun di pojok ruang latihan dance saat itu, bersama dengan Jongin, Sehun dan Jongdae. Chanyeol awalnya menaikkan alis, namun Suho yang melirik ke arah pojok lain ruangan dimana Baekhyun, Kyungsoo dan Minseok sedang sibuk berlatih vokal dengan masing-masing membawa secarik kertas akhirnya membuat Chanyeol berdeham.

"Apanya?" Chanyeol membalas, memutar tutup botolnya lalu meneguk cairan isotonik di dalamnya.

"Baekhyun. Sudah sampai mana?"

"Sampai mana apanya?" Chanyeol bertanya lagi setelah mengusap sisa air di ujung bibirnya. Ia sedikit berhati-hati dengan leadernya yang satu ini, pasalnya ia dengar Suho yang awalnya tak begitu setuju dengan hubungan spesial antar member dalam satu grup, alasannya akan mempengaruhi grup seandainya ada sesuatu, namun untungnya ia bisa mengerti dan mentolerir, terimakasih pada Minseok dan Jongdae yang turut andil membantu meyakinkan.

"Ya sudah sampai ranjang belum?" Jongin yang sedari tadi diam saja sambil senyum-senyum ikut nimbrung, ia menarik satu ujung bibirnya ke atas.

"Yah kan memang dari dulu suka tidur seranjang." Chanyeol menjawab yang sebenarnya, menghasilkan gerutuan dan nada kecewa sana sini.

"Okelah, sekarang mulai rahasia-rahasiaan begini." Sehun juga menyahut, lalu sempat melirik ujung lain ruangan, dimana Minseok mulai menaikkan suaranya dan Baekhyun mengiringinya. "Dan kalau dilihat-lihat Baekhyunee hyung sekarang makin cantik, atau perasaanku saja?"

Chanyeol hanya terkekeh, ia ikutan melirik, dan ia paham apa maksud Sehun begitu melihat Baekhyun yang kini terlihat memakai kaus hitam kebesaran dan celana pendek warna coklat, serta mengikat poninya ke atas, terlihat cantik memang.

"Orang jatuh cinta auranya memang beda." imbuh Sehun.

.

Jadwal yang padat memang seperti sarapan pagi untuk member grup terkenal sekelas Exo, itu adalah hal biasa, dan pasti. Bahkan saat orang-orang sudah tertidur lelap atau santai-santai dengan keluarga, mereka masih harus sibuk sana-sini, rekaman, shooting, dan karena itu Baekhyun tahu benar bagaimana ia harus pandai-pandai mengatur waktu, untuk pekerjaan, dirinya sendiri, ditambah satu lagi mulai sekarang ini, Chanyeol yang notabene sekarang adalah kekasihnya.

Pada suatu malam yang bahkan beberapa acara tv sudah tidak menayangkan acara apapun, Baekhyun masih terjaga, setengah mengantuk tepatnya, ia sibuk di dapur, mengaduk-aduk sesuatu di dalam cangkir, dengan hati-hati ia bawa ke kamar, kemudian menaruhnya di meja belajar pelan.

"Chanyeol-ah…"

"Umm…"

"Masih belum tidur kan?"

"Hmmm…" Chanyeol membalik tubuhnya yang semula tengkurap, ia mengerjap melihat Baekhyun terduduk di tepi ranjang, menunduk melihatnya dengan senyum. "Aku buatkan minum. Minumlah dulu, nanti baru lanjut tidur."

"Uh?"

"Aku ke kamar mandi dulu, kau habiskan minummu."

Chanyeol akhirnya bangkit, berjalan terhuyung menuju meja belajar, ia lihat sebuah mug dengan kepulan asap di atasnya, sepertinya itu minuman ramuan obat china atau apa, begitu Chanyeol menegaknya ia bisa merasakan ada rasa seperti madu, ada rasa seperti lemon juga, ramuan yang tak begitu pahit, namun menyegarkan, dan membuat tubuhnya menjadi ringan.

"Sudah?" Baekhyun tahu-tahu sudah keluar dari balik pintu kamar mandi, sepertinya baru membersihkan diri, baunya begitu harum, dan entah apa yang Baekhyun oleskan di sekujur tubuhnya, membuatnya nampak lebih cerah dari biasanya.

"Hu um… Badanku jadi lebih enak." Chanyeol tersenyum simpul, diikutinya kekasihnya yang berjalan menuju ranjangnya. "Terimakasih yah, sayang."

"Yah… Sama-sama…" Baekhyun mengangguk, menikmati saat Chanyeol memeluknya kemudian mencium keningnya.

"Kau wangi." puji Chanyeol, masih memeluk erat kekasihnya, ciumannya merambat ke leher dan bahu. "Pantas lama sekali di kamar mandi."

Baekhyun tidak membalas, ia hanya memiringkan kepala, memberi kekasihnya ruang agar bisa menelusuri tiap lekuk tubuhnya jika memang itu yang ia mau. Perlahan Chanyeol menuntunnya untuk menuju tengah ranjang, Baekhyun merasakan bagaimana Chanyeol menaruh kepalanya di bantal dengan hati-hati, kemudian membiarkan tubuhnya berbaring nyaman, baru kemudian Chanyeol mengambil tempat di sampingnya – Lebih tepatnya di atasnya – dengan kedua lengan bertumpu di bantal di samping kanan kiri kepala Baekhyun.

Dipandang seperti ini oleh Chanyol mungkin Baekhyun sudah pernah merasakannya, meskipun beberapa kali namun rasanya tetap sama, aneh, mendebarkan, sulit diungkapkan dengan kata-kata, seakan ada aliran listrik di sekujur tubuhnya, belum lagi ketika Chanyeol mendekatkan wajah mereka, kemudian bibirnya yang lembut itu, dengan penuh kasih sayang mengecupi tian inchi bagian wajahnya, kulit halusnya seakan memanas, apapun yang Chanyeol kecup, hisap, jilat, semuanya akan terasa aneh, hangat, nikmat, seperti candu, membuat Baekhyun tak ingin berhenti.

Tengkuknya ditekan, dan Chanyeol menyeringai di tengah ciuman mereka yang kini mulai memasuki fase brutal. Perlahan jemari Baekhyun merambah menyentuh ujung rambutnya, dan kemudian saat Chanyeol berhasil mengulum bibir tipis di dalam mulutnya lebih keras lagi, Chanyeol bisa merasa tangan itu kini mencengkeram penuh rambutnya, Chanyeol tak mengelak, ia menurut, mengikuti arah gerak tangan Baekhyun, yang sekarang dengan dua tangan telah mengusai kepalanya.

"Chan-ahh—" Baekhyun mengerang saat bibir mereka terlepas, hanya mengambil nafas seadanya kemudian lagi menarik kepala Chanyeol, mencoba memautkan bibir mereka kembali, namun Chanyeol menahan, ia tahan kepalanya sehingga hanya hidungnya yang menempel di pucuk hidung Baekhyun.

"Kali ini biarkan aku memanjakanmu." Baekhyun membuka mata, masih bingung dengan perkataan kekasihnya, namun akhirnya ia paham apa maksud Chanyeol begitu si jangkung menarik ujung kaos yang ia pakai lalu memaksa menariknya ke atas, melepaskan kaus itu dari si empunya kemudian membuangnya asal, dan kemudian membenamkan wajahnya di dada putih Baekhyun.

"Chanhhhh—" Baekhyun menggelinjang, ia hampir mengumpat, kakinya lemah namun sensasi yang ia rasakan membuatnya refleks menekuk kedua kakinya ke atas, menjepit Chanyeol di antaranya.

Chanyeol masih sibuk menjejalkan lidahnya ke setiap inchi kulit Baekhyun, menyesap dan menjilat seakan tubuh Baekhyun adalah lollipop manis yang ia sukai. Tangannya juga ikut bergerak, sebisa mungkin memberikan kenikmatan pada lelaki di bawahnya, ia memelintir puting Baekhyun yang kala itu sudah mencuat sehabis ia sesapi, kemudian membelai lembut bagian perut rata Baekhyun yang kini terkspos, kepalanya makin turun, menelusuri tiap bagian-bagian yang ingin ia singgahi, mengikuti gerak tangannya, sampai akhirnya ia berhenti dimana ia menemukan tali celana yang terikat sedikit longgar membungkus pinggang ramping kekasihnya.

Chanyeol menaikkan kepalanya, memandang mata Baekhyun yang saat itu seperti sudah kehilangan kesadarannya, dengan masih memandang kekasihnya Chanyeol mengelus gundukan yang kini makin terlihat di antara selangka Baekhyun, Chanyeol hanya butuh satu kecupan di area itu, dan Baekhyun melenguh lagi, kini cengekaraman di sekitar kepala Chanyeol semakin erat.

"Chanyeol-ah…" suara Baekhyun bergetar, dan Chanyeol tak membuang waktu lagi, ia tarik ke bawah celana beserta dalaman yang Baekhyun kenakan, hingga bagian ter-privat Baekhyun akhirnya terpampang di depan matanya.

Kejantanannya menegang, mencuat sempurna ke atas, Baekhyun bisa melihatnya dari atas sana, sebenarnya ia merasa sedikit malu, wajahnya memerah, ia tarik satu tangannya dari kepala sang kekasih, hendak menutupi area intimnya namun dengan sigap Chanyeol menahannya, mengunci pergalangan tangannya di ranjang.

Tangan satunya bergerak pula, dan Chanyeol melakukan hal yang sama, ia hanya memandang Baekhyun intens, matanya seperti sorot mata serigala, mata lapar yang baru kali ini Baekhyun temui, namun itu semua sirna ketika dengan gerakan pelan Chanyeol mengusapkan pipinya ke penis menegang Baekhyun, dua sisi kulit bergesekan, membuat erangan Baekhyun tertahan di tenggorokannya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, Chanyeol benar-benar membuatnya gila, ia berusaha menahan diri namun semua itu kacau ketika bibir tebal Chanyeol mengecupi batang penisnya, dari pangkal, mengikuti liuk otonya, hingga ke atas, tak ada spot yang terlewat. "Ahhhhhhhh….." dan jari-jari kakinya mencengkeram sprei kencang ketika ujung penisnya dilahap sempurna oleh rongga mulut hangat Chanyeol.

"Chany-chanyeol—Ahhh… Chany— ahhhh uhhh…." suara Baekhyun jelas bergetar, tenggorokannya bahkan sampai terasa tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata, ia berusaha kerasa menarik tangannya, namun cengkeraman tangan Chanyeol semakin erat, ia tak tahan dengan sensasi ini, apalagi Chanyeol mulai menaik turunkan kepalanya, gerakannya pelan kemudian cepat, menekan dan menyesap penisnya, berhenti di ujung kemudian menyedotnya, sekujur tubuh Baekhyun bergetar hebat, kepalanya bahkan sudah tak terbenam di bantal lagi, berkali-kali berhasil terhentak ke udara, ia seperti ikan yang dikeluarkan dari kolam air, tak berdaya, nafasnya tersengal, pinggulnya juga beberapa kali terhentak ke atas. "Chan—Ke – Keluar – S-s-ayang…"

Chanyeol bersiap setelah mendengar aba Baekhyun, memang ia bisa merasakan penis Baekhyun berkedut pelan, juga pinggangnya yang bergeliat, ia kemudian menaikkan kepala dan sengaja menyisakan ujung penis kekasihnya yang sudah membengkak itu di antara bibirnya, menjepitnya pelan dengan kedua bibir, ia rasakan cairan hangat menyembur mengenai langit-langit mulutnya kemudian.

Kekasih manisnya masih menikmati sisa-sisa orgasmenya, perlahan pinggulnya turun, masih bergetar sekali dua kali, kemudian Chanyeol melepaskan kulumannya, terdengar bunyi plop yang membuat Baekhyun menunduk ke bawah, setelah sekian detik dengan dada naik turun kepalanya jatuh memiring kekiri.

"Chanyeol?"

Si jangkung tersenyum, tanpa rasa jijik ia menjilati penis Baekhyun yang mulai melemas, masih basah karena sisa sperma bercampur dengan liurnya sendiri. Kini dilepaskannya kedua tangan kekasihnya, ia menaikkan kembali celana Baekhyun, beberapa saat kemudian ia rasakan Baekhyun meraih tengkuknya, menariknya ke atas. "Ya? Sayang?"

Baekhyun dengan mata sayu dan nafas yang mulai teratur memandang sayang kekasihnya, bibirnya sangat merah mungkin karena kerja keras yang baru ia lakukan, ia elus kedua pipi Chanyeol. "Sayang—Kau… hhhh…. Menelannya?"

Pertanyaan polos Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh, ia membenahi posisi tidur di samping Baekhyun, berbagi bantal dengan kekasihnya yang kini memundurkan badan sedikit untuk memberinya ruang. "Kau… menelannya?" Baekhyun mengulangi dengan suara lirih.

Chanyeol melingkarkan tangannya ke pinggang Baekhyun, mereka berhadapan, dan Chanyeol tak bisa menutupi senyum lebarnya saat Baekhyun berbisik 'Kenapa kau telan? Nanti kau bisa sakit…' dengan nada manja.

"Tak apa sayang, tenang saja." Chanyeol mengeratkan pelukannya, ia kecup kening Baekhyun beberapa kali, kecupannya berhenti saat ia merasa sesuatu mengelus bawah perutnya. "Baek?"

"Biar aku lakukan juga untukmu…" Baekhyun berbisik, mendongak menemui mata Chanyeol. "Yah?"

Chanyeol melepas pelukannya di pinggang Baekhyun, tangannya meraih tangan Baekhyun yang menyentuh celananya, ia angkat dan kecup sekali tangan Baekhyun dengan jemari lentiknya itu. "Tidak… Kau lelah, kau harus istirahat… Aku tidak apa-apa."

Baekhyun memanyunkan bibir. "Aku bisa—Melakukannya dengan mulutku…"

"Tidak… Aku tidak mau bibirmu yang cantik terkotori, sayang."

"Kalau begitu biar kulakukan dengan tanganku…"

"Apalagi jari indahmu…" Chanyeol tersenyum, ia arahkan jari telunjuk Baekhyun yang memang lentik di antara bibirnya, bermain-main seakan-akan hendak menggigit. "Nanti… Nanti saja yah?" kemudian ia kecup punggung tangan Baekhyun yang masih tersimpan protektif di genggamannya. "Nanti kuijinkan kau melakukannya kalau kau sudah siap…" bisiknya.

Baekhyun masih mempertahankan bibir manyunnya, namun ia tersenyum kemudian, mengangguk mengerti ketika Chanyeol melepaskan tangannya kemudian meraih pinggangnya, tubuhnya kini dipeluk sempurna oleh sang kekasih, Baekhyun tahu malam itu kekasihnya ingin memulai langkah untuk merajut hubungan yang lebih intim, dan Baekhyun tak bisa memungkiri kalau saat itu ia mulai berpikir, menunggu tepatnya, kapan Chanyeol akan meng-kalim dirinya sepenuhnya, untuk menjadi miliknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

NC-nya segitu aja?

Itu masih teaser saja kawan ^^v tenaaaaang

Sabar-sabar…. chaps selanjutnya nanti akan ada lagi dan lagi (Kayak iklan)

Anw thankiiiesss buat reviewer yang buat author makin semangat: LQ, cici fu, kikysafitr (yang komen super panjang lebar, gumawo ^^), Se Na Oh, kim614, shenshey27, byunjaehyunee. dan semuamuanyah

Makasih buat review dan doanya(?)

Author cus dulu karena mau lanjutin NC di chaps selanjutnya Kekekekeke

Chu^^