Title : It's Okay My Love
Pairing : Keo (Leo x Ken or Taekwoon x Jaehwan of VIXX)
Genre : Angst, Romance, Drama
Length : chapter 4 of?
Rating : PG-13
Note :
Pertama, mian karena baru bisa update chapter ini sekarang. Kerjaan autor di kantor menumpuk dua bulan ini. Nah ini baru nemu waktu senggang dan sempet nulis.
Thanks buat yang udah baca dan komen. Noona388, heyoyo, , Amanda, bulantaurus, double bobB.I, Ymada miyoko, callieag97, Bbangssang, yuvikimm97, DaeMinJae, Sicantikjung, amandasetianings13, ibu, Jaelika-chan, hongabs, sstyle313, dinakyungie, kimhyoyeonmutmut, dan taniadwi743.
Especially for bulantaurus from Malaysia. Thank you dor reading this story eventhough this story is in Indonesia, but still you read it. Thank you. If you want to read my other Keo fic, you can search it in . I post some of Keo fic in English. Dan buat salmah953, yang udah PM supaya author cepet ngelanjutin ini fic. Iya, ini udah dilanjut. Thanks udah ngingetin buat update.
Don't like don't read. No bashing please! No harsh comment whatsoever!
© Davidrd copyrights ©
Musim dingin di sebuah apartemen di daerah Gangnam. Seorang pria dan seorang anak kecil sibuk membongkar kardus dan mengambil barang-barang di dalamnya untuk ditata di ruangan yang masih terlihat polos. Seorang pria jangkung kemudian masuk ke ruangan itu sambil membawa dua tumpukan kardus dan meletakkannya di dekat si anak kecil.
"Hyuk ahjussi, boleh aku membantu membawa kardus-kardus itu?" anak laki-laki yang baru berusia tiga tahun itu berlari mendekat dan mencoba menawarkan bantuan sambil menarik-narik celana jeans yang dipakai Hyuk ahjussi untuk menarik perhatiannya.
Sambil tersenyum kecil, Han Sanghyuk berlutut untuk menyamakan tingginya dengan si anak,"Ani, Taekhwanie tidak boleh membantu Hyuk ahjussi."
"Wae?" tanyanya polos.
"Kardus-kardus itu terlalu berat untukmu Taekhwanie. Kau cukup bantu eomma memasak atau membantu Kong ahjussi saja ya," pria itu mengacak-acak rambut keponakannya yang mulai cemberut. Sangat menggemaskan, anak ini memang punya aegyo yang sama seperti ibunya.
"Taekhwanie, sini bantu Kong ahjussi menata komik-komik ini di rak buku saja!" seorang pria berlesung pipi di sudut ruangan tersenyum manis ke arah Taekhwan yang langsung disambut dengan anggukan,"Baiklah. Aku akan membantu Kong ahjussi saja."
"Anak pintar," Hongbin yang merasa gemas dengan keponakannya itu mencubit pipi gembilnya.
Ting tong
"Hyukie, bisakah tolong bukakan pintunya!" suara Jaehwan terdengar dari arah dapur.
"Ahjussi, biarkan Hwannie yang membukanya," sebelum Hyuk sempat berdiri, anak kecil dengan tenaga yang sepertinya tidak pernah habis itu berlari menuju pintu dan dengan segera berjinjit untuk meraih gagang pintu. Setelah pintu terbuka, terlihat sesosok pria berkulit gelap dan seorang lainnya memiliki tampang serius.
"Bukankah ini Taekhwanie?" pria berkulit gelap itu mengulurkan tangannya dan dengan mudahnya membopong tubuh mungil Jung Taekhwan,"Taekhwanie, coba tebak. Siapa nama ahjussi?"
Setelah beberapa saat berpikir, Taekhwan teringat akan foto-foto yang pernah ditunjukkan oleh eomma. Pria di depannya itu adalah,"Hakyeon ahjussi!" ucapnya lantang seraya menunjukkan telunjuknya pada hidung pria bernama Hakyeon.
"Benar sekali," Hakyeon mencium pipi menggemaskan Taekhwan. Kemudian dia mengarahkan Taekhwan ke lelaki di sampingnya,"Kalau ahjussi yang ini, siapa namanya ya?" Wonshik sudah bersiap tersenyum mendengar jawaban Taekhwan, tetapi,"Wonsungi ahjussi," Taekhwan asal saja menjawab.
"Mwo? Wonsungi?" kedua alis tebal Kim Wonshik menyatu tanda sedikit kesal mendengar jawaban Taekhwan yang nyeleneh, sedangkan Hongbin, Sanghyuk, dan Hakyeon tertawa mendengarnya. Hongbin dan Sanghyuk bahkan sampai berguling-guling di lantai saking terhiburnya mendengar jawaban spontan anak Lee Jaehwan itu.
Taekhwan yang tertawa kecil, kini mulai sedikit ketakutan ketika menyadari bahwa ahjussi yang satu ini sepertinya punya aura menakutkan. Jaehwan yang baru keluar dari dapur segera mendekati kedua tamunya dan pura-pura mencubit lengan Taekhwan,"Aish, Taekhwanie nakal ya. Bagaimana bisa kau memanggil pamanmu dengan wonsungi?"
"Hehehe, mianhaeyo Wonshikie ahjussi," Taekhwan mengulurkan lengan mungilnya ke arah Wonshik sebagai isyarat ingin digendong. Pengacara itu kemudian dengan senang hati menggendong malaikat kecil itu di lengannya,"Lain kali jangan panggil ahjussi seperti itu lagi ya. Ahjussi ini kan ganteng, masa disamakan dengan monyet."
"OK ahjussi!" Taekhwan mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di pelipis, persis seperti orang sedang hormat.
© Davidrd copyrights ©
Hari itu hari pertama kalinya aku kembali ke Korea setelah tiga tahun menetap di Jepang. Aku kembali ke tanah kelahiranku karena Taecyeon hyung memutuskan untuk membuka cabang perusahaan di Korea. Dia mengatakan bahwa prospek bisnis majalah online, terutama webtoon sangat bagus. Hal itu didasarkan pada survei yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir. Selain itu, karena kontrak Chansung hyung dengan agensi di Jepang sudah berakhir, dia memutuskan untuk pindah ke Seoul. Cabang di Jepang akan diurus oleh Mr. Sato, orang kepercayaannya dibantu tim ahli dari Jepang.
Begitulah akhirnya aku kembali ke Korea. Awalnya aku merasa takut untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiranku, tetapi karena sahabatku selalu memberikan dukungan dan semangat, aku sudah tidak takut lagi. Seoul ini tempat yang luas, lagipula tempatku bekerja dan tinggal lumayan jauh dari kediaman Jung. Jadi, aku tidak perlu khawatir akan bertemu dengan salah satu Jung itu.
Suatu pagi setelah setengah tahun aku dan Taekhwan tinggal di Korea, aku mendapati kondisi anakku tidak seperti biasanya. Taekhwan yang biasanya sangat aktif berlarian ke sana kemari, kini lebih sering terlihat duduk diam. Ketika kutanya mengapa, dia selalu mengatakan kalau dia lelah, padahal sebelumnya dia barusaja makan siang. Awalnya aku hanya mengira dia sedang demam, tetapi beberapa hari kemudian aku mulai menemukan kejanggalan.
Anakku yang sedang berlari tiba-tiba terjatuh dan setelah kulihat tubuhnya, lengannya penuh dengan memar yang aku yakin tidak ada disitu kemarin. Apa yang sebenarnya terjadi. Selain memar itu, bagian putih bola mata Taekhwan juga kelihatan berbeda. Warna putihnya sedikit kekuningan.
Hari itu juga Hyuk mengantarkan kami ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Taekhwan. Aku tidak tahu apakah aku harus kecewa atau sedih setelah mendengar pernyataan dokter.
"Maaf sebelumnya Jaehwan-ssi, tetapi saya tetap harus menjelaskan hasil diagnosis penyakit yang diderita oleh anak Anda," seakan jantungku berhenti berdetak saat Dokter Kim mengatakan kata 'penyakit'.
"Taekhwanie menderita penyakit atresia biliner atau gagal hati pada anak. Walaupun kasus seperti ini biasanya terjadi pada anak yang baru lahir, tapi sepertinya Taekhwan baru menunjukkan gejalanya sekarang."
"Atre…si..a.. bili..er Dok?" jenis penyakit apa itu, aku tidak tahu istilah medis seperti itu, tapi gagal hati. Aku tahu itu. itu berarti hati anakku sudah berkurang fungsinya. Itu artinya kemampuan hati Taekhwan untuk menetralisir racun dalam tubuhnya semakin berkurang. Dan itu artinya.
"Sekali lagi maaf Jaehwan-ssi."
"Apa ada cara untuk menyembuhkan Taekhwan Dok? Tolonglah Taekhwan Dok, dia masih terlalu muda," kupegang tangan Dokter Kim sambil menahan tangis.
"Ada satu cara untuk menyembuhkan penyakit ini."
Seolah mendapatkan pencerahan, kutatap dengan sungguh mata Dokter Kim,"Apa itu Dok? Seberapapun besarnya biaya yang dibutuhkan saya akan berusaha mencarinya, tapi tolong selamatkan anak saya," tangisku pecah begitu saja mengingat anak semata wayangku ternyata sedang berjuang melawan maut sekarang.
"Kita harus melakukan operasi transplantasi hati secepatnya. Transplantasi hati hanya akan efektif kalau kita melakukannya dalam kisaran waktu enam bulan ke depan karena saat itu hati Taekhwan masih bisa menerima keberadaan hati donor di dalam tubuhnya."
"Siapa yang bisa menjadi donor untuknya Dok?" aku mengusap air mata yang membekas jelek di wajahku dengan syal yang kupakai.
"Untuk memudahkan dan melancarkan operasi akan sangat baik jika pendonor adalah ayah kandung Taekhwan."
Ayah. Kandung. Itu berarti Taekwoon hyung. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba muncul di hadapan suami yang kutinggalkan selama empat tahun lebih dan memintanya untuk mendonorkan hatinya. Hal itu sangat mustahil. Apalagi kalau mengingat Mrs. Jung. Mana mungkin beliau akan menyetujui semua ini.
"Dok, apa tidak ada cara lain? Pengobatan rutin mungkin?" aku berharap Dokter Kim dengan segera mengiyakan pertanyaanku. Semoga saja anakku bisa sembuh dengan pengobatan rutin dan terapi di rumah sakit tanpa perlu melakukan transplantasi.
Tapi harapanku pudar saat Dokter Kim menggelengkan kepalanya lemah,"Maaf Jaehwan-ssi, pengobatan rutin hanya akan membantunya sementara waktu. Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan obat-obatan. Apalagi Taekhwan menderita gagal hati, kalau kita memberikan obat secara berlebihan, hatinya akan bekerja terlalu berat."
Semuanya terasa menyesakkan. Hidup yang kukira sudah mulai membaik dengan kehadiran Taekhwan di sisiku, ternyata tidak semulus yang kubayangkan. Entah kenapa Tuhan senang sekali memberikan cobaan yang sangat berat bagiku. Entah aku ini manusia penuh dosa atau apa. Bagaimana bisa semuanya hanya terjadi padaku? Seandainya Tuhan bisa bersikap sedikit lebih penyanyang, dia akan menurunkan penyakit itu padaku, bukan pada Taekhwan. Seorang anak kecil berusia empat tahun yang bahkan belum tahu apa-apa di dunia ini. Anak kecil yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang, kehidupan yang akan direncanakan selanjutnya.
© Davidrd copyrights ©
Aku menatap sosok anakku yang sedang tertawa dengan Youngjae, anak berusia tiga tahun yang menderita penyakit leukemia stadium akhir. Dari tadi Taekhwan terus-terusan menghibur Youngjae membuat ibunya yang melihat tingkah kedua bocah ini tersenyum miris. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibu itu.
"Jaehwan-ssi, bagaimana bisa Anda mempunyai anak sebaik Taekhwan?" nenek Youngjae yang berada di sampingku melemparkan pertanyaan yang aku juga tidak tahu jawabannya.
"Aku tidak tahu halmoni. Taekhwan berusaha menghibur Youngjae yang kesakitan karena kemoterapi seakan dia sendiri bukan pasien di rumah sakit ini," aku menggeleng pelan menanggapi pertanyaan itu.
"Sepertinya dia menuruni sifatnya itu darimu Jaehwan-ssi," entah mengapa air mataku meluncur dengan bebas begitu saja. Keadaan di bangsal anak-anak ini memang lebih menyedihkan. Bagaimana tidak? Melihat anak-anak yang seharusnya masih bermain dengan gembira justru terbaring lemas dan menahan rasa sakit itu lebih menyakitkan daripada merasakan rasa sakit itu sendiri.
"Eomma," Taekhwan yang berada di seberang ruangan menghentikan kegiatannya dan melihat ke arahku. Ia berlari secepat yang ia bisa kepadaku dan memelukku erat,"Eomma jangan menangis!" dia mengusapkan ujung lengan bajunya untuk membersihkan jejak air mata di wajahku.
"Hahaha, siapa yang menangis?" tanyaku padanya. Tapi sepertinya dia sudah terlalu dewasa untuk termakan kebohonganku,"Eomma hanya kelilipan. Tadi ada debu yang masuk ke mata eomma, jadi eomma menangis," alasan klise untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan meniup debu di mata eomma supaya eomma berhenti menangis," dia meniup pelan mataku.
© Davidrd copyrights ©
Sudah empat tahun Jaehwan meninggalkan rumah. Sudah berulang kali aku menyuruh orang untuk mencari keberadaannya di seluruh Korea, tapi hasilnya nihil. Apakah dia benar-benar mempermainkanku dan menduakanku dengan laki-laki itu di saat aku sudah mulai jatuh hati padanya? Teganya dia.
Karena aku tidak berhasil menemukan Jaehwan itulah, satu tahun yang lalu eomma memutuskan agar aku bertunangan dengan seorang anak kenalannya. Choi Jinhee memang gadis cantik, baik, dan manis, tapi rasanya aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintai Jaehwan. Entah bagaimana, tapi aku sangat merasakan perbedaan mereka berdua. Walaupun akhirnya kami bertunangan, aku melakukan itu semata-mata agar eomma berhenti menggangguku.
Hari ini, saat aku duduk seorang diri di sebuah café di pusat kota berusaha menenangkan pikiranku, aku kembali mengingatnya. Dia yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya dan merasakan sakit yang amat sangat karena pengkhianatan. Cuaca hari ini cukup mendukung dengan mood mellowku yang berlebih. Langit terlihat mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Aku mengalihkan pandanganku dari orang-orang yang berlalu-lalang di jalan kembali kepada secangkir kopi di hadapanku.
Lonceng di pintu masuk café berbunyi menandakan seorang pengunjung baru saja datang. Aku meraih caramel macchiato yang terbengkalai selama kurang lebih lima belas menit itu dan mulai menyesapnya. "Taekwoon-ah!" tiba-tiba suara seseorang membuatku meletakkan minumanku ke meja dan menengok ke asal suara.
"Kau Jung Taekwoon kan?" pria beralis tebal yang mengenakan coat panjang berwarna cokelat itu mengarahkan telunjuknya padaku. Otakku mulai memproses siapa pria di depanku ini.
"Ah, Taecyeon hyung," ingatanku masa SMA melintas di pikiranku. Ok Taecyeon, sunbaenim dan kapten tim basket di sekolahku yang sangat popular karena ketampanannya. Dia juga terkenal siswa yang mematahkan hati banyak sekali gadis di sekolah kala itu karena mengencani anggota klub Judo yang satu angkatan denganku. Kalau tidak salah namanya Hwang Chansung.
Aku berdiri dan kami pun bersalaman. Aku mempersilakan subaenim yang cukup dekat denganku sewaktu SMA itu untuk duduk di hadapanku karena kebetulan aku sedang sendirian.
"Bagaimana kabarmu Hyung?"
"Kabarku sangat baik. Bagaimana denganmu? Aku selalu menonton pertandingan klubmu di televisi. Yah, kau terlihat semakin berkharisma saja," dia masih seperti dulu. Mudah diajak ngobrol dan menyenangkan.
"Ah, jangan melebih-lebihkan Hyung! Aku hanya bermain seperti biasa," aku berusaha mengusir rona merah di pipiku yang hampir saja muncul karena pujiannya,"Oya, aku dengar kau tinggal di Jepang."
Setelah menyesap minumannya, Taecyeon hyung menjawab pertanyaanku,"Oh itu. Iya aku memang tinggal di Jepang sampai enam bulan yang lalu. Aku kembali ke Korea karena kontrak Chansung dengan agensinya di Jepang berakhir dan dia tidak ingin memperpanjangnya. Selain itu, kulihat prospek webtoon di Korea sudah membaik, jadi kubuat tim Korea dan tim Jepang."
"Wow, kau sudah menjadi orang sukses sekarang Hyung. Bisnis yang baik, pasangan yang setia, dan kehidupan yang menyenangkan. Ah betapa irinya aku padamu."
"Hahaha, jangan begitu! Kudengar kau baru saja bertunangan dengan Choi Jinhee, pewaris Choi Grup. Bukankah nasibmu lebih beruntung? Atau tidak," ujarnya sambil menaikkan sebelah alisnya mencari jawaban dariku.
"Ya, mungkin saja kedengarannya nasibku sangat baik Hyung."
"Yah, jangan bilang kalau pertunangan ini ibumu yang mengaturnya?" dia bisa menebak dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi dengan tepat.
"Begitulah Hyung," aku tersenyum sedih meratapi nasibku sendiri.
"Hey, jangan berkecil hati! Tidak semua pernikahan macam itu berakhir buruk. Walaupun ada saja yang berakhir sangat buruk seperti yang terjadi pada salah satu karyawanku," kulihat dia seperti menerawang membayangkan sebuah kejadian yang mengerikan.
"Ah, Hyung. Jangan menakut-nakutiku seperti itu!" aku berusaha tertawa kecil untuk membuatnya berhenti bercanda.
"Ya sudahlah kalau kau tidak percaya," aku kembali mengangkat cangkirku, kemudian samar-samar kudengar Taecyeon hyung bergumam sesuatu yang tidak dapat kutangkap dengan jelas,"padahal Jaehwan mengalami hal semacam itu."
"Kau bilang apa Hyung?"
"Ani. Tidak ada," dia menggeleng pelan,"Oh ya, berikan aku kontakmu supaya aku bisa menghubungimu dan mengajakmu untuk bertanding tinju seperti yang sering kita lakukan sewaktu SMA dulu." Sesaat setelah Taeyeon hyung mengeluarkan handphonenya, benda itu berdering. Bibirnya membentuk sebuah senyuman, sepertinya aku tahu siapa yang menghubunginya.
"Yoboseyo Channie," benar kan. Tentu saja senyuman itu hanya milik Chansung seorang. Pasangan ini memang selalu membuat orang lain merasa iri. Untuk memberinya privasi, aku memandang keluar dan memperhatikan orang-orang yang mulai berlarian karena hujan mulai turun.
"Apa? Kenapa bisa seperti itu? Dimana mereka sekarang? Arraseo. Jangan kemana-mana, aku akan segera kesana!" Taecyeon hyung terdengar panik.
"Waegurae hyung?" aku menatapnya yang barusaja memasukkan teleponnya ke dalam saku.
"Ada hal buruk sedang terjadi dengan karyawanku. Aku harus ke rumah sakit sekarang Taekwoon-ah."
"Baiklah hyung. Ah, sebentar," kukeluarkan kartu namaku dari dalam dompet dan kuberikan padanya,"Hubungi aku kapanpun kau sempat hyung."
"Oke. Aku pergi dulu ya! Senang bertemu denganmu," kami bersalaman dan dengan terburu-buru dia keluar dari café menuju mobilnya.
Dan aku kembali seorang diri.
TBC
