Chapter XIII
"Kau mau yang mana?"
.
.
Cahaya mentari pagi dibalik gorden mengantarkan Baekhyun pada kesadaran dirinya. Ia menarik nafas panjang, matanya seakan masih lengket ketika dipaksa untuk membuka, namun suara deruan nafas di dekat telinganya membuatnya tersenyum, paginya kini akan disambut lagi oleh hembusan nafas dan dekapan hangat tubuh sang kekasih, dan benar saja, ketika ia berhasil membuang jauh rasa malasnya dan berhasil membuka kelopak mata, wajah tertidur kekasihnya-lah yang pertama menyambut.
Chanyeol masih tidur, dengan deruan nafas pelan dan sesekali terdengar suara dengkuran halus, mulutnya terbuka sedikit, dan yang Baekhyun paling suka adalah ketika ia merasa lengan Chanyeol akan refleks memeluknya lebih erat ketika ia bergerak.
Baekhyun mengangkat tangannya pelan, menyentuh beberapa helai rambut Chanyeol yang menutupi kening, ia tersenyum saat memandang hidung mancung, kedua mata yang tertutup dengan bulu mata hitam panjang dan indah, serta bibir tebal merah milik Chanyeol. Baekhyun memajukan kepalanya, mengecup lembut dagu kekasihnya, tersenyum kembali sembari memundurkan kepalanya dan menggerakkan tangan untuk menyentuh telinga kekasihnya yang memang berbentuk unik seperti peri.
Sang kekasih mengerang, membuat Baekhyun menarik tangannya dan berbisik 'maaf' dengan senyum lebar. Chanyeol pasti merasa terganggu, Baekhyun berasumsi karena kini si jangkung sudah berganti posisi tidur, menarik selimut hingga menutupi ke sebagian wajah. Baekhyun tersenyum kemudian menyentuh jemari Chanyeol, yang besar dan keras, membuat Baekhyun teringat bagaimana jemari itu bekerja keras untuk memetik senar gitar, menulis lagu, entahlah Baekhyun tidak mengerti bagaimana jemari Chanyeol kini bahkan bisa membuatnya tersenyum-senyum sendiri seperti orang kehilangan akal. Tak ingin pikirannya kian kemana-mana, Baekhyun pilih bangkit, ia regangkan seluruh otot tubuhnya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Baekhyun menunduk sekali lagi, mengecup ujung kepala Chanyeol sebelum memutuskan untuk bangkit dan bebersih diri ke kamar mandi.
.
.
"Sayang, kau lihat sikat gigi baruku?" Chanyeol merogoh kantung plastik yang ia letakkan di tepi ranjang untuk kedua kalinya, matanya mengikuti Baekhyun yang sedang sibuk juga mondar-mandir melengkapi barang bawaannya sendiri.
Mereka akan berangkat ke Jepang untuk konser, sekitar tiga hari, makanya mereka sekarang sibuk packing. Chanyeol mendapati peralatan pribadinya telah habis, beberapa jam lalu ia sudah meminta manager-nim untuk membelikan, dan ternyata manager-nim pulang dengan membawa barang-barang luar biasa banyak, titipannya dan enam member lain, sehingga tukar-tertukar barang-pun kemungkinan terjadi. "Aku tidak melihatnya." Baekhyun menjawab.
"Perasaan kutaruh sini." kembali Chanyeol merogoh kantung plastik yang ia yakini adalah wadah sikat gigi barunya, ia mendengus kesal.
"Oke, sebentar kucarikan…" Baekhyun akhirnya meninggalkan pekerjaannya. Ia dekati kekasihnya yang kini memasang wajah manyun, Baekhyun mengusap kepalanya sekali kemudian turut duduk di tepi ranjang sambil membuka-buka kantung plastik lain yang tercecer, juga mengecek kembali koper Chanyeol yang masih terbuka yang setengahnya sudah terisi lipatan baju.
Si rambut coklat kini tersenyum-senyum sendiri. Ini memang bukan kali pertama Baekhyun membantunya untuk mengepak barang, sejak dulu juga Baekhyun sering membantunya, namun kini mendapati baekhyun menjadi kekasihnya plus mengepakkan barang untuknya, membuat Chanyeol lebih bahagia sendiri. Ia bungkukkan badan hingga sikunya bertumpu pada pinggiran koper, kemudian dengan tersenyum ia menopang dagu.
"Terakhir kau menaruh dimana sih?" Baekhyun ikutan menggerutu, ia buka satu persatu lipatan baju di dalam koper kekasihnya, sesekali juga ia mengecek rongga-rongga atau saku serta lipatan di dalam koper, barangkali terselip. "Tidak ada juga, apa mungkin terbawa member lain?" Pertanyaannya terjawab hanya dengan senyum miring dan wajah sok imut kekasihnya, Baekhyun hanya bisa mendengus. "Ayolah, Chan, kita tak ada waktu seharian untuk mengepak barang."
"Aku bahkan bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengepak barang bersama denganmu seperti ini. Manis sekali serius."
"Manis darimana?" Baekhyun mencelos, ia bahkan sampai menyingkap selimut untuk mencari barang yang Chanyeol sebutkan, namun nihil. "Serius tidak ada, aku cek saja ya di kamar lain. Tadi siapa saja yang titip belanja sama manager-nim?"
"Kalau tidak ada terpaksa aku pinjam sikat gigimu saja bagaimana?"
"Huh?" Baekhyun mengerutkan kening.
"Kenapa? Kau tidak mau meminjamkannya?"
"Bukan begitu…" Baekhyun melanjutkan mengambil barang-barangnya dari meja belajar. "Berbagi sikat gigi itu tidak baik. Bisa terkena kuman."
"Kalau kumannya dari mulut Baekhyun-ku sih tidak apa-apa." canda si jangkung, yang kini berakibat pukulan handuk pelan dari Baekhyun yang masih berdiri tak jauh darinya. "Aw, sakit…"
"Lagipula kau ini…" Baekhyun menggerutu, ia lipat handuk kecil yang ia bawa. "Chanyeol-ah, cepatlah sedikit, sebentar lagi kita makan lalu berangkat."
"Kau benar-benar terdengar seperti ibuku…" si bayi besar berkomentar, kemudian dengan senyum lebar ia rentangkan kedua tangan lebar-lebar. "Baiklah, tapi aku mau peluk dulu…"
Baekhyun memutar bola matanya, lelah memang mempunyai bayi besar seperti ini, namun ia tersenyum lebar sembari berjalan menuju kekasihnya itu dan mengusap rambut coklatnya dengan sayang, ia berdiri tepat di hadapan Chanyeol yang masih terduduk di tepi ranjang, menarik kepalanya dan memeluknya di perutnya. "Sudah?"
Dua tangan besar melingkar di pinggangnya, dan Baekhyun mendengar suara berat berujar 'Belum…' yang entah kenapa membuatnya tersenyum lagi.
.
.
Hoodie hitam dan celana hitam memang airport style favorit Chanyeol, dengan kedua telinga tersumpal earphone, serta kepala menunduk menggumamkan apapun yang ditontonnya di layar ponsel. Baekhyun bisa mengerti mengapa si jangkung mendiamkannya selama mereka berjalan menuju airport, hanya terkadang saja ia merasa si jangkung berjalan mengikutinya dari belakang, melindungi tubuh mungil Baekhyun dengan tubuh tingginya, fans berkerumun disana-sini, flash kamera dan handphone sibuk merekam aktifitasnya dan member lain yang saat itu memang masih menuju gate sesuai dengan tiket yang tertera.
Di dalam pesawat mereka duduk berdampingan, seperti biasanya, Baekhyun akan duduk duluan kemudian Chanyeol. Namun meskipun sekarang keadaan sudah tenang, Chanyeol masih saja mendiamkannya, melihat perilaku kekasihnya membuat Baekhyun memanyunkan bibir, ia melirik apapun yang membuat perhatian Chanyeol tersita.
"Nonton apasih?"
Chanyeol menoleh, ia lepas satu earphone kemudian, mencoba mendengarkan pertanyaan Baekhyun untuk kedua kali, ia menunjukkan ponselnya pada akhirnya. "Video Jimy hendrik."
Baekhyun ber-oh, ia tak benar-benar mengetahui nama yang disebutkan Chanyeol, tapi karena di video itu terlihat seseorang bermain gitar, Baekhyun berasumsi orang itu pasti salah satu gitaris favorit Chanyeol. "Sepertinya keren…"
"Hum… Dia jagonya slow rock, tapi genre blues juga bagus." jelas Chanyeol dengan wajah antusias. "Mau dengar juga?"
"Boleh…" Baekhyun mendekat, dan Chanyeol dengan cepat memasangkan earphone ke telinganya. Sebenarnya entah Jimy Hendrik atau siapapun itu, jujur saja Baekhyun juga tidak terlalu mempermasalahkan, yang lebih ia nikmati kali ini adalah bagaimana kepalanya bisa bersandar di tempat yang menurutnya lebih nyaman dari bantal pesawat, yakni bahu lebar kekasihnya.
.
Baekhyun pikir akan lebih melegakan jika ada event organizer yang berbaik hati memesankan tiket pesawat sehari atau dua hari sebelum tanggal konser, namun Baekhyun harus berbesar hati dan cukup bersyukur karena waktu tiga jam antara kedatangan pesawat dan jam konser masih cukup untuk membuatnya beristirahat dua hingga tiga puluh menit. Ia dan member lain bisa dibilang hanya mampir ke hotel, sesegera mungkin menuju venue untuk sound check, kemudian mengganti kostum dan make-up, dan waktu tiga jam di stage seperti tak terasa karena antusiasme dan sorakan exo-L yang memang tak pernah gagal membuat hatinya luar biasa senang.
Seperti biasanya, setelah konser berakhir mereka akan berkumpul di backstage, sekedar mengatur kembali nafas dan menemui staf, teman, atau kerabat, melayani beberapa orang ada yang meminta foto, dan saat manager memberi aba untuk segera bersiap-siap dan kembali ke hotel, member akan segera membereskan barang masing-masing dan mengikuti kemana manager-nim mengarah.
"Exo-L memang jjang." Chanyeol berbisik, mencuri perhatian Baekhyun yang kini sedang duduk di sampingnya, sedang mengecek akun media sosialnya.
"Yah, tentu saja." Baekhyun menjawab, membalas senyuman Chanyeol, dan ketika ia melihat keringat membasahi kening kekasihnya Baekhyun tak bisa menahan untuk mengusapnya, ia ambil tissue yang seingatnya berada di jok belakang mobil, kemudian sesegara mungkin mengusapkannya ke dahi basah Chanyeol.
"Uhukk!" seseorang terbatuk, ah tidak, sekarang tiga, bertambah lagi empat yang berasal dari kursi kemudi kemudian disertai injakan rem yang nampaknya disengaja, membuat beberapa orang terhentak, tak terkecuali Baekhyun yang saat itu menghadap Chanyeol, refleks dia memeluk badan Chanyeol karena goncangan, dan Baekhyun tak bisa menahan untuk mengumpat ketika suara batuk member semakin terdengar dibuat-buat.
"Bersabarlah… Tidak ada lima menit untuk sampai hotel…" manager-nim berkata dengan nada setengah menyindir, yang kemudian disusul cekikikan sana-sini dari jok belakang.
"Hyung, konsentrasi-lah mengikuti mobil depan nanti kita bisa tersasar." celoteh Baekhyun kesal, ia memundurkan tubuhnya, kembali ke posisi awal yang dibantu oleh Chanyeol yang sedari tadi belum melepaskan tangannya dari bahu Baekhyun. "Kau juga kenapa sih senyum-senyum seperti itu?" tanyanya pada Chanyeol, kini Baekhyun memelankan suaranya, meskipun ia yakin beberapa telinga pasti masih bisa menangkapnya.
"Ya karena memang hyung-nim benar, aku sudah tidak sabar, lima menit itu lama sekali, padahal aku ingin segera sampai hotel dan melemparmu ke ranjang."
Lolongan seperti serigala terdengar dari penjuru arah, disertai siulan, tepukan tangan ricuh dimana-mana, seandainya saja kini hati Baekhyun bisa bersuara mungkin permohonan kekanakannya yang ingin diculik ufo atau bisa berteleportasi seperti Kai di kala itu mungkin akan membuat member menertawakannya lebih keras lagi, namun untungnya itu semua tidak terjadi, ia tahan rasa malunya, pipi sampai telinganya memerah, dan ia mengumpat-umpat dalam hati, bersumpah akan benar-benar menghukum seseorang yang kini dengan tidak-tau-malunya cengar-cengir memamerkan gigi tanpa rasa berdosa tepat di sampingnya.
.
.
"Kau menyebalkan." kata pertama yang Chanyeol sudah prediksi setelah suara pintu tertutup terdengar di belakang punggungnya, ia pasang card sehingga seluruh ruangan terang benderang, dan Chanyeol tidak banyak berdebat karena wajah yang sedari tadi ia pasang hanyalah wajah senyum polos dengan cengiran yang tentunya membuat kekasihnya makin kesal. Baekhyun terlihat benar-benar kesal memang, dengan menenteng goodie bag dia berjalan menuju ranjangnya sendiri, yang berada dekat dinding, area yang paling dia favoritkan, sedangkan Chanyeol memilih ranjang dekat jendela besar yang tertutup gorden.
"Yah… Kalau tidak begitu member akan terus menggodamu…" Chanyeol mencoba mencari alasan paling masuk akal. Baekhyun tak menjawab memang, kekasihnya yang mungil itu terlihat hanya mendengus sembari mengambil handuk, Chanyeol memilih mengistirahatkan badannya, menyandarkan punggung di tumpukan bantal kemudian memilih memperhatikan Baekhyun yang sedang merogoh koper mencari peralatan mandi. "Mau mandi?"
"Memang aku terlihat mau gunting rumput?" jawab Baekhyun ketus.
"Wah… Kebetulan aku ingin mandi juga. Bagaimana kalau mandi bersama?" goda si jangkung.
Baekhyun memutar kepala ke arah Chnayeol, memasang wajah jengkel dengan mulut setengah terbuka. "Mandi di kolam depan sana." gerutunya sambil melangkah pergi.
.
Chanyeol tebak Baekhyun tak benar-benar marah padanya, dan itu terbukti benar ketika pintu kamar mandi berhasil terbuka setelah ia putar sekali. Chanyeol berjalan masuk, melihat Baekhyun yang saat itu menggunakan bathtub, membenamkan tubuhnya di air hangat yang dipenuhi busa, membuat tubuhnya hanya terlihat sebatas dada.
"Hey…" suara berat Chanyeol menyapa telinganya, membuat Baekhyun membuka matanya yang sedari tadi terutup. Ia dapati sang kekasih berjongkok di sampingnya, di luar bath tub, dan kemudian menopangkan siku di bibir bathtub, senyumnya merekah ketika titik pandang mereka bertemu. "Kukira kau tadi tertidur."
"Hampir." Baekhyun menjawab jujur, ia tegakkan duduknya sehingga ia tak kelelahan mendongak memandang kekasihnya. "Mau mandi juga?"
Chanyeol tersenyum, mengulurkan tangan dan memainkan jemarinya di busa-busa di sekitar dada Baekhyun. "Sebenarnya ingin, tapi tidak jadi karena kau tidak mengizinkan." jawabannya syarat dengan canda, dan Chanyeol tersenyum saat melihat Baekhyun hendak menjawab namun tertunda, mencoba membuka mulut lagi namun hanya mengambil nafas dan menghembuskannya. "Tak apa kok, aku cuma mau sikat gigi saja, mau langsung tidur, badanku lelah." Chanyeol meneruskan.
Senyumnya luar biasa menawan, Baekhyun sampai tak sadar kalau badannya sudah mencondong dan menyambut bibir Chanyeol yang mengarah mendekatinya, mereka berciuman, hanya berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya Chanyeol menarik kepalanya kembali, ia tersenyum mendapati Baekhyun memajukan kepala seakan tak ingin bibir mereka terlepas. "Kau juga pasti lelah kan? Ayo cepat selesaikan mandimu."
"Ya…" Baekhyun mengangguk, ia tersenyum melihat Chanyeol bangkit berdiri kemudian berjalan menuju wastafel, menggunakan pasta gigi dan sikat gigi yang disediakan hotel sambil melihat cermin. "Chanyeol-ah, sikat gigi hotel tak terlalu lembut."
"Hm?"
"Um… Kau boleh memakai sikat gigiku…"
Suara Baekhyun mengecil, mungkin saja karena teringat gurauan Chanyeol saat mereka sibuk packing di dorm, Chanyeol menanggapinya hanya dengan senyuman, kemudian tangannya benar menuju satu set alat peralatan mandi Baekhyun yang sudah terletak di samping wastafel. "Kupakai ya…" Chanyeol berujar, ia menoleh melihat Baekhyun yang masih berada di dalam bath tub, senyumnya masih merekah, dan Baekhyun merasa ada yang aneh ketika Chanyeol mulai menekan pasta gigi di atas sikat gigi miliknya, kemudian memasukannya ke dalam rongga mulutnya. Namun itu bukanlah aneh yang buruk, aneh yang baik yang membuat dadanya seakan dipenuhi bunga-bunga bermekaran seperti di film-film anime yang sering ia tonton semasa kecil.
.
Baekhyun keluar kamar mandi dengan bathrobe putih melilit tubuhnya, suhu yang lumayan dingin membuat kedua tangannya refleks memeluk dadanya sendiri, ia mengecek pantulan dirinya di cermin sebelum berjalan menuju ranjang, dimana ada seseorang yang sudah menunggu, menyandarkan punggung di bantal yang tertumpuk di headboard.
Slipper putih ia lepaskan, kemudian dengan kaki kiri lebih dulu merangkak menaiki ranjang, membuat matrasnya bergerak dan membuat si lelaki yang kini memakai kaus hitam tak berlengan tersenyum, tangannya mengisyaratkan Baekhyun untuk datang mendekat, dan Baekhyun menurut, ia mendudukkan tubuh di depan Chanyeol, lebih tepatnya di antara kaki Chanyeol yang terbuka, punggunya ia sandarkan di dada kekasihnya, kemudian tangan besar Chanyeol berhasil menyingkap selimut, menutupi tubuh mereka berdua sekaligus.
"Lama sekali?" Chanyeol berbisik, mengecup belakang kepala Baekhyun sekali kemudian menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher kekasihnya, Baekhyun memiringkan kepalanya, menyandarkannya di bahu Chanyeol.
"Oh yah?" Baekhyun tersenyum, ia pegang kedua tangan Chanyeol yang sudah melingkar di dadanya. "Maaf membuatmu lama menunggu."
"Kalau kau beri ciuman akan kumaafkan."
Lengan Baekhyun melingkar di lehernya, disusul kepalanya yang bergerak dan menoleh ke belakang, dan Chanyeol ikut memiringkan kepala, membuat angle yang nyaman untuk kepalanya yang hanya bisa menerima kecupan-kecupan yang Baekhyun berikan, sembari bermain-main menggesekkan hidung mereka, Chanyeol akhirnya berhasil menarik mundur kepalanya sekitar lima menit kemudian, keduanya tersenyum, Baekhyun terlihat menjilat bibirnya sendiri, membuat kepala Chanyeol seakan berdenyut dan kembali memajukan wajah untuk memautkan kembali bibir mereka, mungkin Chanyeol pikir seandainya hari esok tak datang ia akan terus melakukan ini saja, mencium seluruh wajahnya, lehernya, hingga ujung kakinya jika perlu.
"Kau bilang kau lelah…" bisik Baekhyun pada akhirnya, kini kepalanya sudah bersandar kembali di bahu kanan Chanyeol.
"Tidak ada kata lelah kalau bersamamu."
Mulut Chanyeol memang manis, namun terkadang terlalu manis hingga terkesan menggombal, namun Baekhyun senang-senang saja, ia mendengus, namun diikuti senyum, perlahan ia menaikkan tangan dan mengusap lengan besar yang masih setia melingkar di dadanya.
"Mulutmu manis, pantas banyak wanita-wanita menyukaimu."
"Huh?"
"Exo-L berambut coklat panjang tadi lumayan cantik, sepertinya dia fansmu, dia teriak-teriak namamu terus, lalu kau melihatnya juga kan?"
"Kau cemburu?" Baekhyun memutar bola mata, dadanya naik turun sekali dengan drastis, kemudian Chanyeol mengeratkan tangannya. "Lalu apa kabarku yang harus bersaing dengan ratusan ribu fangirls yang meneriakkan namamu? Juga fanboys?"
"Fanboys?"
"Mereka semua menyukaimu. Setidaknya hanya wanita yang tergila-gila padaku, kau bahkan sudah membuat fanboys menangis."
"Kau ini…"
"Aku serius…"
"Sudahlah."
"Dan kau cantik."
"Tapi hanya milikmu."
Mereka tersenyum, hampir bersamaan, Baekhyun tak sadar kenapa ia sekarang bisa pandai mengeluarkan kata-kata manis juga, mungkin karena berlama-lama dengan Chanyeol. "Chanyeol-ah?"
"Hm?"
"Omong-omong, sejak kapan kau menyukaiku?" Baekhyun bertanya, perlahan keluar dari pelukan kekasihnya, ia geser posisi duduknya sedikit ke kiri sehingga punggungnya kini menyentuh kaki kiri Chanyeol, kini mereka bisa melihat wajah masing-masing, meskipun lengan kiri Chanyeol masih dengan protektif melingkar di lehernya.
Chanyeol tak langsung menjawab, memorinya berputar kembali ke masa-masa dulu, apakah benar saat ia melihat Baekhyun pertama kali? Atau saat mereka berjabat tangan pertama kali? "Mungkin…. Saat aku pertama melihatmu mendaftar sebagai trainee di SM?"
"Tidak mungkin. Saat itu aku masih sangat jelek."
"Kau pikir aku juga sudah setampan sekarang?"
"Kau tampan dari dulu… Kau ingat apa yang kukatakan pertama kali waktu kita berjabat tangan?"
"Iya sih, aku memang tampan dari dulu, kalau itu aku tidak bisa mengelak…"
Baekhyun mendesis menanggapi perkataan Chanyeol. "Kau ini, aku sedang serius…"
"Aku juga…"
"Ayolah, Chan… Apa saat kita mulai renggang dengan urusan masing-masing? Apa ketika aku mulai berpacaran dengan Taeyeon—?" Baekhyun memelankan nada bicaranya karena mendapati wajah Chanyeol berubah, masih tersenyum memang, namun pandangannya mengarah ke subjek lain. Baekhyun menyadari keteledorannya, segera ia memajukan badan dan mengusap pipi kanan kekasihnya. "Sayang? M-maaf, aku…"
"Kenapa kau meminta maaf?" Chanyeol tertawa, ia sentuh jemari yang kini masih menempel di pipinya, mengusapnya pelan. "Iya juga, itu bisa jadi benar. Saat kau bersama Taeyeon noona aku akhirnya lebih mengerti perasaanku sendiri, kau tidak salah…"
"Maafkan aku…"
"Sudahlah…" Chanyeol pegang tangan mungil di genggamannya, mengarahkannya ke bibirnya sendiri untuk mengecupnya sekali. "Kau sendiri? Kapan mulai mencintaiku?"
"Dari saat kau menyapaku pertama kali, kemudian mengajakku berjabat tangan, dari saat kau menceritakan lelucon hingga memberiku semangat. Ketika kita sekelompok semasa trainee aku lebih jatuh cinta lagi, lalu saat kita debut bersama, saat aku jatuh lalu kau membantuku berdiri, saat kau menemaniku di rumah sakit, membuatkanku makan malam, membuatkanku mie ramen, membawakan tasku, memegangkan payung untukku… Dan saat kau bertemu Saebyul aku baru sadar kau juga yang bisa membuatku patah hati, rasanya sakit sekali sampai aku mau menangis."
Baekhyun berkata dengan sungguh-sungguh, nadanya terkesan terburu seakan ia tahu bahwa ia telah membuat kesalahan sebelumnya. Chanyeol tahu kekasihnya itu berusaha membuatnya merasa lebih baik, ia genggam tangan Baekhyun lebih erat, mengecup punggung tangannya beberapa kali sebelum melepaskannya kemudian meraih tubuh mungilnya untuk didekap. "Kau bahkan berjuta-juta kali lebih manis dariku… Sampai-sampai aku ingin sekali memakanmu."
Bisikan Chanyeol membuat Baekhyun memundurkan badannya, ia tatap kedua mata Chanyeol kemudian. "Kalau begitu makan saja aku, aku tak keberatan…"
"Haruskah?"
"Tentu." Baekhyun berkata serius, ia pegang kedua paha Chanyeol yang tertutupi celana pendek. "Aku juga menginginkanmu, dan aku sudah siap, sangat siap kalau kau mau melakukannya—"
"Tapi jadwal kita yang tidak siap?"
Baekhyun memiringkan kepala.
"Besok dan lusa kita masih ada konser. Aku tidak ingin kau tidak bisa melakukan dance-mu karenaku."
"Apakah akan separah itu?"
"Kalau aku tidak menahan diri mungkin akan sampai dua kali lebih parah." Baekhyun terdiam dengan pernyataan Chanyeol. "Aku mungkin akan menjadi monster yang lupa diri, karena itu aku harus menunggu sampai waktu yang benar-benar siap…"
"Benarkah?"
"Iya, sayang…"
"Lalu? Kapan kita akan melakukannya?"
"Kau mau secepatnya atau menunggu sampai kita kembali ke Korea?"
"Secepatnya."
"Lusa? Setelah konser?"
Baekhyun tersenyum puas.
.
Jika kita tengah menunggu, waktu seakan berputar dua kali lebih lama. Mungkin itulah yang tengah menimpa Baekhyun, konser hari kedua dan ketiga berjalan cukup lama, sangat lama, dua hari yang entah kenapa terasa seperti dua abad (oke dalam konteks ini Baekhyun cukup berlebihan).
Baekhyun sudah selesai mandi, sengaja memakai sabun dengan aroma yang membuat Chanyeol bisa berlama-lama menghirup kulitnya. Ia memakai kaos putih lengan panjang yang sedikit kebesaran, dan setelah hampir dua jam mengobrak-abrik koper, akhirnya ia menemukan celana pendek hitamnya yang mungkin hanya bisa menutupi setengah pahanya, ia kenakan apapun yang Chanyeol suka, yang Chanyeol selalu puji begitu ia memakainya.
Pintu kamar mandi terbuka, ia bisa melihat sosok tinggi kekasihnya memakai baju kasual, baju luar biasa santai yang selalu ia kenakan. Celana hitam panjang nyaman dan atasan kaus tanpa lengan, seperti biasanya, Baekhyun yang sudah sedari tadi menunggu di ranjang dengan senyum merekah, ia ikuti gerak kekasihnya yang berjalan santai menuju cermin, mengacak rambutnya sekali, kemudian berjalan menuju tepi ranjang.
Si mungil yang berada di panjang tersenyum lebar, menyimpan begitu besar ekspektasi, ia bahkan sudah menyiapkan mentalnya benar-benar, dan melihat kekasihnya yang sebenarnya terlihat biasa namun entah kenapa auranya berbeda itu membuatnya dua kali lebih antusias, ia gigit bibirnya mencoba menggoda. "Ayo turun, kita makan dulu." Chanyeol berujar, membuat wajah seksi Baekhyun mereda, tergantikan dengan wajah heran yang tak bisa ia tutupi.
Tangannya bahkan tidak digandeng, Baekhyun sedikit mengerucutkan bibir, tentu saja. Mereka menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan, kemudian singgah di restoran yang berada di lantai lima hotel, melahap makan mereka yang entah kenapa Baekhyun sebenarnya tak terlalu menikmati, ia bahkan beberapa kali melirik jam yang terpampang unik di sudut ruangan, ia mendengus, ini sudah sangat larut, dan mereka tak punya waktu banyak, seandainya saja Chanyeol sudah menidurkannya, mungkin ia bisa mendapatkan dua atau toga ronde, pikirannya bahkan sudah sampai sana.
"Sudah makannya?" Chanyeol bertanya, dan Baekhyun mengangguk sekali.
Mereka berjalan dalam diam, jujur saja Baekhyun tak terlalu menginginkan ini, namun ia menurut ketika Chanyeol mengajaknya berjalan lagi, kali ini memutari kolam renang yang berada dekat restoran, udara malam cukup dingin, dan Baekhyun hanya mengikuti dalam diam ketika Chanyeol masih terus berjalan, kali ini mengikuti lorong yang menuju ke dalam hotel, di salah satu tempat seperti arena permainan game, Baekhyun mencelos, tidak mungkin Chanyeol akan mengajaknya bermain game di saat seperti ini bukan?
Tempat arena game terbagi menjadi dua ruangan yang tehubung dengan satu pintu, namun ruang kedua sedikit agak berbeda, ada alat penjual minum otomatis dan game yang Baekhyun lihat sepertinya terdapat gambar tokoh anime cantik-cantik dan berpakaian seksi. Baekhyun melihat sekeliling, ruangan yang cukup lebar dan luas, matanya mengikuti rentetan alat penjual minum otomatis yang berjajar, namun sepertinya kabar yang ia dengar bahwa Jepang memang negara eksentrik dimana ia bisa menemukan mainan dewasa atau sex toys bisa dibeli dengan koin dari alat seperti minuman otomatis itu sangat benar.
Baekhyun tanpa sadar melangkah, melihat-lihat rentetan minuman dibalik kaca besar tentu saja, namun akhirnya melangkah ke samping, ke samping lagi, sampai akhirnya ia berhenti di depan serentetan sex toys, bermacam-macam kondom, dan pelumas. Ia berkedip, mata kecilnya tertarik memandangi pelumas dengan berbagai merk dan varian botol, mungkin Baekhyun tengah terlalu asik dengan kegiatannya, sampai ketika seseorang berdiri teepat di belakangnya ia masih belum sadar.
Mesin di hadapannya tiba-tiba menyala, dan Baekhyun baru sadar seseorang di belakangnya-lah yang telah memasukkin koin. Ia rasa jantungnya berhenti berdetak ketika suara bass berujar dengan tenang di samping telinga kanannya. "Kau mau yang mana?"
Menggigit bibir bawahnya, Baekhyun mempertahankan pandangannya pada serentetan pelumas dalam botol-botol kecil, namun pikirannya sudah terbang entah kemana, di tengah kebingungannya Chanyeol meraih tangannya, mengarahkannya ke deretan tombol, kedua tangan mereka berpaut dan Chanyeol bisa merasa tangan kekasihnya yang akhirnya mengarahkannya untuk bergerak,.
Baekhyun rasa jantungnya kali ini akan melompat, kepalanya bahkan tak bisa berpikir dengan baik ketika ia rasakan degup pelan dada kekasihnya yang menempel lekat di bahunya, ia bisa merasakan Chanyeol kembali mendekatkan kepalanya ke telinganya, "Yang mana?" Chanyeol mengulangi pertanyannya, ia kecup telinga kekasihnya sekali.
Baekhyun menahan nafas, dan tangannya mengarah ke botol pelumas kecil berwarna merah yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yeah, NC yang tertunda, huehuehue…
Big thanks to pcybbh, chaerinnieee, sanyakie, afif amo, dan kim614: omg panjang dan all caps sesuatu sekali hehehe… No You are not a fan you are my dongsaeng :* Love you too!
Biasanya sih setelah NC pertama nanti bakalan lanjut NC NC NC NC NC NC terus kok hehe
tenang saja.
Hanya author nunggu dapet feelnya kekekeke
FYI author skg bisanya update hari senin or jumat… Karena kerjaan sih ya, hehe
Tapi diusahain kalau bisa lebih sering lagi kok ^^
Thank you so much yang udah mampir di review,
dan semoga reader pada ga kabur karena full enaenanya sudah upcoming next chapter
Kamsahamnida
sarangahe^^
