Title : It's Okay My Love
Pairing : Keo (Leo x Ken or Taekwoon x Jaehwan of VIXX)
Genre : Angst, Romance, Drama
Length : chapter 5 of?
Rating : PG-13
Note :
Hello hello author balik lagi setelah menghilang sekian lama. Cieee sekian lama. Iya sekian lama karena lagi lagi alasan kerjaan yang bertumpuk. Bagaimanapun juga, sesibuk apapun, fanfic ini harus selesai. Dan inilah akhirnya, chapter 5 nongol. Selamat membaca...
.
.
Don't like don't read. No bashing please! No harsh comment whatsoever!
.
.
© Davidrd copyrights ©
Pria di pelukanku ini masih menangis sambil sesekali menatap ruang gawat darurat yang belum juga terbuka. Aku berusaha menenangkannya dengan mengusap pelan lengannya dan membisikkan kata-kata penenang walaupun sebenarnya kata-kata itu kutujukan pada diriku sendiri. Walaupun aku baru mengenal Taekhwan beberapa hari yang lalu, aku sudah sangat menyayangi anak itu. Apalagi setelah aku tahu bahwa dia adalah anak kandungku, aku makin menyayanginya. Aku tidak tega melihat kondisinya yang lemah seperti itu.
Kutatap Jaehwan yang masih menyandarkan punggungnya pada dadaku sembari menyandarkan kepalanya di ceruk leherku. Tangan kami bertautan dan sesekali aku memberikan usapan kecil pada punggung tangannya untuk memberikan efek rileksasi padanya. Sepertinya hal itu agak berhasil karena sekarang dia sudah berhenti menangis.
Wonshik dan Hakyeon yang kebetulan ada di samping kami hanya bisa melemparkan tatapan iba. Aku tahu mereka pasti sangat marah padaku karena aku telah lancang memeluk Jaehwan seperti ini, tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian dalam keadaan kacau. Bagaimanapun Jaehwan masih istriku karena aku tidak pernah menceraikannya, bahkan aku tidak akan pernah menceraikannya.
Istriku yang sudah empat tahun hilang kini telah kembali, tetapi perawakannya sangat berbeda dengan yang terakhir kali kuingat. Tubuhnya terlihat semakin kurus, pipinya yang dulu agak gembil kini berubah tirus, matanya yang biasanya memancarkan cinta dan kebahagiaan kini tampak suram dan lelah, kantong matanya tercetak jelas menggelayut di wajah tampannya, bahkan kulihat tulang selangkanya menyembul dari balik sweater yang dikenakannya. Jaehwan pasti sangat menderita selama ini, apalagi dia harus menghadapi kenyataan bahwa anak satu-satunya, buah cintanya denganku mengidap penyakit yang berbahaya.
"Jaehwan-ah, gwaenchana. Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan bagi kesembuhan Taekhwan," kukecup puncak kepala Jaehwan yang diikuti anggukan pelan olehnya.
Tiba-tiba Hakyeon yang tadinya sibuk berbicara dengan Wonshik menatapku sesaat sebelum akhirnya dia seperti menginstruksikan sesuatu kepada kekasihnya itu. Sang pengacara terlihat mengangguk dan mereka berdua bangkit dari posisi duduknya. Hakyeon duduk di samping Jaehwan dan Wonshik yang berada di sampingku berbisik,"Hyung, mari bicara sebentar!" Aku menyetujui usulnya karena cepat atau lambat aku harus menyelesaikan semua masalah ini jika aku ingin hidup bahagia bersama Jaehwan dan Taekhwan.
Setelah kami menemukan tempat yang lumayan jauh dari jangkauan Jaehwan dan Hakyeon, tepatnya di tangga darurat karena tempat ini merupakan satu-satunya tempat yang hening, bebas gangguan, dan kebisingan, Wonshik mendesah pelan.
"Apa yang ingin kau katakan Wonshik-ssi?"
"Tak perlu terlalu formal denganku, Hyung. Kau dulu kan seniorku di SMA," kami memang tidak terlalu akrab, aku hanya tahu kalau dia kebetulan adalah adik kelasku saat SMA yang populer karena ketampanannya dan skill rap nya.
"Ah, kau masih mengingatku rupanya. Saat kau kelas 1 kan aku sudah kelas 3, jadi kukira kau tak mengingatku," aku menggaruk tengkuk karena malu menyadari kebodohanku.
"Tentu aku tahu siapa kau, Hyung. Jung Taekwoon, pangeran lapangan yang selalu dipuja banyak murid perempuan, tetapi tidak pernah sekalipun melirik mereka yang mendekatinya. Kau terkenal sangat dingin, Hyung. Tetapi sepertinya hal itu salah."
"Apanya yang salah?"
"Tentang anggapan orang padamu. Aku kira kau tak sedingin yang orang lain katakan."
"Ah, ya, aku tidak pernah peduli dengan anggapan mereka. Aku hanya mempedulikan apa yang orang-orang terdekatku pikirkan. Itu saja. Oh, ya, kenapa kau ingin mengajakku bicara?"
Wonshik tersadar dari nostalgianya,"Hyung, tahukah kau apa penyakit Taekhwan?"
"Penyakitnya?" alisku berjengit, bagaimana bisa aku tahu hal itu,"Jujur saja Wonshik-ah, aku baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Aku tidak tahu apa penyakitnya, yang aku tahu hanya penyakitnya berat karena ia berada di bangsal anak yang menetap di rumah sakit dalam waktu cukup lama."
"Baiklah alasanmu masuk akal. Kuberitahukan padamu kalau Taekhwan, ani, anakmu menderita atresia bilier. Hatinya tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan satu-satunya cara mengobatinya adalah dengan melakukan pencangkokan atau transplantasi hati."
Aku menatapnya tidak percaya. Transplantasi? Itu artinya jika Taekhwan tidak segera mendapat donor, dia bisa mening... ah, tidak. Aku tidak boleh berpikiran negatif.
"Adakah yang bisa kulakukan untuknya Wonshik-ah? Aku ingin menebus semua kesalahanku pada Jaehwan," dia tersenyum dan mengangguk.
© Davidrd copyrights ©
Pintu ruang operasi terbuka menampilkan empat orang berpakaian serba hijau keluar sambil mendorong sebuah tempat tidur pasien yang diatasnya terbaring sesosok lemah anak kecil dengan berbagai macam selang dan peralatan medis menempel di tubuhnya. Kedua pria yang sedari tadi harap-harap cemas menunggu ruangan terbuka langsung berdiri dan berusaha mendekat kepada rombongan tersebut, tetapi hal itu dihentikan oleh seorang dokter yang keluar paling akhir.
Dokter Kim memegang lengan Jaehwan pelan memberikan gelengan kepala sebagai isyarat baginya untuk tidak mengikuti rombongan yang membawa Taekhwan menuju ruang ICU. Ingin rasanya Dokter Kim memberikan kabar bahagia pada setiap keluarga pasien yang ditemuinya setelah keluar dari ruang operasi, tapi rasanya hal seperti itu mustahil terjadi setiap waktu. Nalurinya sebagai seorang dokter membuatnya ingin menyelamatkan nyawa banyak orang, tapi takdirnya sebagai manusia hanya memberinya kesempatan untuk berusaha, sedangkan penentuannya ada di tangan Tuhan.
"Dok, bagaimana keadaan Taekhwan? Dia baik-baik saja kan? Taekhwan akan terus bertahan kan, Dok?" Jaehwan menggenggam tangan sang dokter membuat pria berpakaian hijau itu balik menggenggam tangannya. Hakyeon yang berdiri di samping sahabatnya itu mencoba memberikan dukungan moral dengan meletakkan kedua tangannya di pundak Jaehwan.
Setelah menghela napas pelan, sang dokter bersuara,"Jaehwan-ssi, kondisi Taekhwan sudah sangat mengkhawatirkan. Saya takut kalau Taekhwan tidak segera menemukan seorang donor, akan terjadi hal yang buruk padanya." Tangan Jaehwan di genggamannya bergetar hebat, "Maaf sebelumnya, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Sekarang sebaiknya kita berdoa semoga ada seseorang yang bersedia menjadi pendonor bagi Taekhwan."
Jaehwan hampir saja ambruk mendengar ucapan sang dokter. Dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau malaikat kecilnya akan berakhir seperti ini. Mungkin Tuhan sedang menghukumnya karena dosanya yang telah lalu, tapi kenapa harus Taekhwan? Kenapa tidak dia saja yang menderita?
"Saya bersedia menjadi donor untuk Taekhwan, Dok," Jaehwan menengok ke asal suara dan mendapati Taekwoon yang melemparkan pandangan mantap ke arah pria yang berstatus sebagai istrinya itu.
Dokter Kim yang bingung karena seorang atlet sepakbola terkenal barusaja mengajukan diri sebagai donor dari anak kecil yang mengidap atresia bilier,"Ehm, maaf, tapi ada hubungan apa Anda dengan Taekhwan, Jung Taekwoon-ssi?"
"Saya ayah kandung Jung Taekhwan, Dok," Wonshik yang berada di belakang seniornya itu tersenyum mendengar jawaban tanpa keraguan itu, begitu juga Hakyeon yang langsung meraih Jaehwan dalam pelukannya.
"Benarkah?"
"Ne. Kalau Anda tidak percaya, bisa Anda tanyakan pada istri saya, Lee Jaehwan," ujar Taekwoon sembari berjalan menuju pria yang masih sangat dicintainya itu.
"Jaehwan-ssi, apakah yang diucapkan Taekwoon-ssi itu benar?"
Jaehwan mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan mengiyakan ucapan sang suami. Hal itu membuat Dokter Kim tersenyum cerah,"Baiklah, kalau Anda memang bersedia menjadi pendonor, sebaiknya sekarang kita melakukan pemeriksaan untuk melihat kecocokan hati Anda dengan Taekhwan."
Setelah melalui serangkain pemeriksaan, akhirnya Dokter Kim keluar dari laboratorium dengan kertas hasil yang menentukan nasib Taekhwan selanjutnya. Saat Dokter Kim memasuki ruangan kerjanya, sebuah senyum bahagia terpancar di wajahnya. Keempat pria yang melihatnya langsung menghela napas lega. Walaupun belum ada pernyataan langsung dari sang dokter, tapi mereka tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Operasi bisa kita lakukan enam jam lagi. Taekwoon-ssi, sekarang sebaiknya Anda berganti dengan pakaian operasi."
© Davidrd copyrights ©
Hakyeon dan Wonshik meninggalkan pasangan suami istri itu untuk membagikan kabar operasi Taekhwan yang akan dilangsungkan enam jam lagi kepada teman yang sudah dianggap keluarga oleh Jaehwan, seperti Taecyeon, Chansung, Hongbin, dan Hyuk. Kini suasana di ruangan VIP tempat Taekwoon dirawat dipenuhi kecanggungan. Karena tidak tahan dengan keheningan ruangan, sang atlet memberikan tanda supaya Jaehwan mendekat ke tempat tidurnya karena sedari tadi istrinya itu hanya duduk manis di sofa yang agak jauh dari tempatnya berada. Setelah agak dekat, Taekwoon menepuk kasur di sampingnya meminta Jaehwan untuk duduk di sampingnya.
"Jaehwan-ah, maafkan aku."
Jaehwan yang dari tadi menunduk karena malu menatap suaminya itu kini mendongak dan menatap lekat wajah pria di hadapannya. Sejujurnya, ia sangat merindukan suaminya. Walau bagaimanapun suaminya tidak pernah menyakitinya dan hal itu membuat Jaehwan merasa bodoh karena telah mengatakan pada Taekhwan kalau Taekwoon itu orang jahat. Dia tidak jahat sama sekali. Mana ada orang jahat yang mau mendonorkan hatinya pada anak kandungnya yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari?
"Hyung, jangan meminta maaf. Kau tidak bersalah apapun," dengan malu-malu Jaehwan meraih tangan Taekwoon yang semula berada di pangkuan suaminya dan membawanya ke pangkuannya sendiri.
"Tidak Jaehwan-ah. Aku melakukan banyak kesalahan padamu. Padahal aku sudah berjanji pada harabeoji untuk selalu menjagamu, tapi apa yang aku lakukan? Aku bahkan tidak tahu kalau ibuku bersikap sangat jahat padamu. Aku bahkan sempat meragukan cintamu saat kau pergi dari rumah. Suami macam apa aku ini?" Taekwoon hampir saja melepaskan tangannya dari genggaman Jaehwan, tapi istrinya itu justru mengeratkan genggamannya.
"Hyung, yang berlaku jahat itu ibumu, bukan kau. Jadi, kau tidak perlu meminta maaf untuk hal yang tidak kau lakukan," Taekwoon menatap Jaehwan tidak percaya. Ia kembali teringat akan kepolosan dan kebaikan Jaehwan tatkala mereka baru pertama kali bertemu. Bagaimana Jaehwan rela menolak perjodohan yang sudah diatur kakeknya demi kebahagiaan Taekwoon. Bagaimana Jaehwan tidak pernah tertarik dengan status keluarganya yang banyak dikagumi orang.
"Tapi Jaehwan-ah,-."
"Hyung, aku yang harusnya meminta maaf padamu."
"Mwo?"
"Aku telah mengatakan pada Taekhwan kalau kau adalah orang jahat dan aku sempat melarangnya untuk menemuimu. Aku telah melakukan kesalahan besar. Bagaimana bisa aku mengatakan hal buruk seperti itu tentangmu, padahal kau ayah kandungnya, Hyung. Kau berhak tahu tentang keberadaan Taekhwan," air mata yang sudah tidak terbendung mengalir indah di pipi Lee Jaehwan. Melihat hal itu Taekwoon mengulurkan tangannya dan menghapus jejak airmata di pipi istrinya menggunakan ibu jarinya.
"Ssst, jangan menangis lagi!" Taekwoon menangkup pipi tirus istrinya dan mendekatkan wajah keduanya,"Yang penting sekarang aku sudah tahu kalau aku masih memiliki cinta istriku dan seorang buah hati baik hati yang akan selalu kusayangi seumur hidupku."
"Tapi keadaan Taekhwan-."
"Tenanglah, aku akan menolongnya. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan sekarang untuk menebus dosaku yang telah menelantarkan kalian," ujar Taekwoon sembari menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya.
"Ingatlah selalu Lee Jaehwan! Aku mencintaimu. Sangat," sebuah kecupan mendarat di kening, kedua kelopak mata Jaehwan yang tertutup, kemudian turun ke hidung, dan berakhir di bibir.
Jaehwan kembali menangis mendengar pernyataan cinta suaminya. Dengan terbata dia berkata,"Aku ju..ga.. men..cintaimu, Hyung."
© Davidrd copyrights ©
Enam jam bukan waktu yang singkat, tetapi juga bukan waktu yang terlalu lama. Jaehwan menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan semua yang terjadi padanya mengenai semua perlakuan Mrs. Jung atas desakan sang suami. Ia tidak bisa berbohong dan menutupi kejelekan ibu mertuanya lagi. Bukan karena ia bermaksud menjelek-jelekkan sang mertua, tetapi menurutnya Taekwoon pantas mengetahui kebenaran sebuah cerita dari dua sudut pandang yang berbeda.
Beberapa jam sebelum operasi, ruang rawat Taekwoon dikunjungi banyak tamu. Hakyeon, Wonshik, seorang pria dengan lesung pipi saat tersenyum yang mengenalkan dirinya sebagai Hongbin dan dua orang pria yang sudah dikenalnya dengan sangat baik sejak SMA.
"Wow, aku tidak mengira kalau kau adalah suami Jaehwan, Taekwoon-ah," Taecyeon yang melihat hoobae-nya langsung terperangah, begitupun sebaliknya. Taekwoon tidak tahu menahu kalau sunbaenya itu kenal dekat dengan istrinya.
"Aku juga tidak tahu kalau kenal dengan istriku, Hyung," keduanya bersalaman. Namun, Taekwoon dapat melihat sorot mata tajam milik Hwang Chansung yang masih menyiratkan sedikit rasa tidak suka padanya.
"Chansung-ah, lama tidak berjumpa," dengan ragu Taekwoon menyapa sang model yang berdiri di samping kekasihnya sembari berniat mengajak berjabat tangan, namun tidak ada sambutan.
Jaehwan yang menyadari keadaan canggung ini langsung berjalan ke arah sang model dan memegang tangan Chansung yang mengepal sempurna seolah siap dihantamkan ke arah suaminya. Dia tahu Chansung berusaha menahan amarahnya. Karena kalau tidak, pasti suaminya sudah memiliki bekas kebiruan hasil tinju mantan atlet itu.
"Hyung, jangan marah pada Taekwoon hyung. Dia tidak salah apa-apa," rajuk Jaehwan. Mendengar perkataan itu, Taekwoon menyadari kenapa Chansung bersikap dingin padanya. Chansung pasti membencinya.
"Chansung-ah, mianhae. Sepertinya kau tidak menyukai kenyataan kalau aku adalah suami Jaehwan."
Hwang Chansung menajamkan tatapannya ke arah sang atlet sepakbola dan meledak seketika,"Bagaimana bisa aku menerima kenyataan ini Taekwoon-ah? Kau telah menyakiti dan menelantarkan Jaehwan selama ini. Membuatnya harus berusaha bertahan menghadapi setiap cobaan yang Tuhan timpakan padanya. Dan kenyataan kalau aku mengenalmu membuatku merasa malu."
"Hyung," Jaehwan mengusap lengan atas Chansung yang baru saja berteriak membuat semua orang di ruangan itu kaget, termasuk sang kekasih yang dengan cekatan turut membantu Jaehwan menenangkan sang model.
"Jaehwan-ah, bagaimana bisa kau memaafkan orang seperti dia?" tunjuk Chansung.
Pertanyaan itu sontak membuat Jaehwan melepaskan tangannya dari lengan Chansung. Sambil menunduk ibu Jung Taekhwan itu berkata,"Taekwoon Hyung tidak pernah menyakitiku. Dan aku masih sangat mencintainya."
Taekwoon tersenyum mendengar perkataan sang istri. Betapa bahagianya dia menyadari Jaehwan telah menerimanya kembali dan mengakuinya di depan orang-orang yang dianggapnya penting itu. Ia merasa statusnya sebagai suami seorang Lee Jaehwan telah pulih.
"Jaehwan-ah," dengan tidak percaya Chansung menatap dongsaengnya itu berusaha mencari kebohongan pada mata indah Jaehwan, tetapi nihil. Yang ditemukan hanyalah sebuah kepastian dan kejujuran.
"Aku tidak bohong Hyung. Seumur hidup, aku hanya mencintai satu orang. Dan orang itu adalah Jung Taekwoon."
Chansung menengok ke arah kekasihnya, menemukan sebuah senyuman dan anggukan kecil tanda menyetujui ucapan Jaehwan. Senyuman tersebut sekaligus sebagai dorongan agar dirinya menyadari kesalahannya yang telah menuduh Taekwoon. Secara tidak langsung tatapan Taecyeon itu diartikan sebagai perintah untuk meminta maaf.
Setelah menatap Jaehwan beberapa saat, Chansung mengulurkan tangannya pada Taekwoon,"Maafkan aku Taekwoon-ah. Tidak seharusnya aku menuduhmu seperti itu." Sebuah senyum bahagia menghiasi wajah sang atlet sepakbola yang terkenal selalu bersikap dingin itu.
"Tak apa Chansung-ah."
"Dan terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena kau telah bersedia mendonorkan hatimu untuk Taekhwan."
"Aku akan melakukan apapun untuk anakku. Tak perlu berterima kasih."
Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian seorang pria dengan rahang tegas memasuki ruangan membuat semua orang menatapnya. Dengan senyum kikuk karena mendapatkan perhatian berlebih itu, Han Sanghyuk membungkukkan badannya,"Maaf, aku terlambat." Pria itu berjalan ke tengah ruangan dengan tangan yang sibuk menggaruk tengkuknya karena gugup. Matanya membulat sempurna ketika dilihatnya pria yang masih terduduk di kasur pasien.
"Taekwoon Hyung?" dengan tidak percaya Hyuk berjalan cepat ke arah sang atlet sepakbola dan memeluknya.
"Hyukie," Taekwoon balas memeluk sepupunya yang sudah lama menghilang.
Hyuk menjelaskan pada semua yang ada di ruang tersebut kalau dirinya adalah sepupu Jung Taekwoon. Dia kabur dari rumah karena kedua orang tuanya yang terlalu mengekang dan mengatur hidupnya. Kedua orang tuanya menginginkan anaknya menjadi seorang pengusaha untuk meneruskan usaha ayahnya, tetapi Hyuk ingin menjadi seorang seniman. Karena terlalu tertekan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Jepang dan berusaha mewujudkan cita-citanya.
"Ternyata dunia itu tidak seluas yang kita kira," ucap Jaehwan pada akhirnya.
"Ya, benar Hyung," Hyuk tersenyum karena sekarang ia tahu kalau anggota keluarganya telah bertambah.
"Aku bersyukur karena kau baik-baik saja Hyukie," Taekwoon mengacak-acak rambut kecoklatan Hyuk.
"Tentu aku baik-baik saja Hyung. Aku kan sudah dewasa," ujar pria tampan yang duduk di tepian kasur rawat bersebelahan dengan sepupunya. "Lagipula aku itu hebat, aku berani menentukan masa depanku sendiri. Tidak sepertimu yang sampai sekarang masih saja menuruti kemauan aneh ibumu, Hyung," sindiran itu langsung menohok relung hati sang atlet.
Benar kata sepupunya itu. Dari dulu, ia memang selalu menuruti semua perkataan ibunya. Ia masih ingat tatapan tidak suka yang dilemparkan ibunya saat dia meminta jaehwan menjadi istrinya di hadapan almarhum kakeknya. Ia juga ingat kejadian ketika beberapa hari setelah kematian sang kakek, ibunya memintanya untuk menceraikan Jaehwan. Seingatnya, dia menolak usulan ibunya itu. Setidaknya dia sudah pernah mencoba menentukan kebahagiaannya sendiri, tapi ibunya bertindak sangat jauh.
Rencana jahat ibunya untuk memisahkan dirinya dan Jaehwan sangatlah besar hingga ia tidak menyadari secara tidak langsung ibunya telah membuatnya kembali terkekang. Betapa bodohnya ia selama ini. Dia yang telah menentukan awal dari kisah pernikahannya dan sekarang dia tidak ingin ada orang yang mengganggu, bahkan berusaha menghancurkannya, sekalipun orang itu adalah ibunya.
Ini hidupnya. Keputusannya yang akan menuntunnya pada kebahagiaan. Dan keputusannya jatuh pada Jaehwan dan Taekhwan.
© Davidrd copyrights ©
Di ruang tamu keluarga Jung, seorang wanita berusia lima puluhan sedang mendengarkan cerita dari calon menantunya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Perempuan muda berparas cantik dengan rambut tergerai indah itu bersandiwara dengan air mata palsunya sambil sesekali sesenggukan menceritakan perlakuan calon suaminya, atau anak si wanita tua, yang membatalkan pertunangan mereka secara sewenang-wenang.
"Bagaimana bisa Taekwoon membatalkan pertunangan kalian?" dengan geram wanita itu berteriak membuat suaminya yang baru pulang dari kantor berjengit kaget.
"Ada apa yeobo?" tanya Mr. Jung yang langsung membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar dan memilih duduk di samping istrinya. Di hadapannya duduk wanita muda bernama Choi Jinhee yang notabene adalah calon istri anaknya masih berakting menangis.
"Abeoji, Taekwoon oppa memutuskan pertunangan kami," dengan suara yang dibuat-buat aktris Choi ini berusaha mempengaruhi kedua calon mertuanya agar memaksa anaknya berubah pikiran.
"Apa? Dia membatalkan pertunangan? Apa alasannya?"
"Taekwoon oppa bilang dia masih mencintai istrinya," Mr. Jung langsung melepaskan tangan yang sedari tadi mengusap punggung istrinya dan menatap tak percaya pada Jinhee.
"Bagaimana kau tahu itu?"
"Taekwoon oppa mengejar seorang pria di rumah sakit yang sedang berlari ke ruang gawat darurat dan meninggalkanku sendirian. Kata orang-orang di rumah sakit pria itu adalah Lee Jaehwan, ibu seorang pasien di sana," sekarang Jinhee mengelap air matanya dengan sapu tangan bermotif kupu-kupu yang baru dikeluarkannya dari dalam tas tangan berwarna gold di pangkuannya.
"Apa? Jaehwan ada di Korea?" Mrs. Jung bangkit dari posisinya dan melotot sempurna. Bagaimana ini? Bagaimana kalau Jaehwan mengatakan hal yang sebenarnya pada Taekwoon. Bisa mati dia. Taekwoon akan sangat membencinya. Wanita tua itu menggeleng sekuat tenaga. Tidak bisa, hal ini tidak bisa dibiarkan. Taekwoon harus menikah dengan Jinhee. Menikah dengan wanita yang sederajat dengan keluarga mereka dan orang yang jelas-jelas bisa memberinya keturunan.
"Ayo ke rumah sakit sekarang juga Jinhee-ya. Eomma akan memberikan pelajaran pada Taekwoon. Dia harus menikahimu secepatnya!"
Mr. Jung menggeleng pelan melihat tingkah istrinya. Dia tidak habis pikir dengan istrinya yang selalu memaksa Taekwoon untuk melakukan hal yang anaknya tidak suka. Dia sudah muak melihat semuanya. Sebagai seorang ayah, dia hanya ingin anaknya bahagia. Dan jika kebahagiaan Taekwoon ada pada Jaehwan, itu artinya Mr. Jung akan mendukungnya secara penuh. Persetan dengan anggapan istrinya.
Sekarang, yang perlu ia lakukan adalah menyusun rencana untuk menghentikan niat gila istrinya. Dia akan mengikuti permainan istrinya dan menghentikannya di saat yang tepat. Dengan mantap ia mengangguk, baiklah itu yang akan dilakukannya.
TBC
