Chapter XIV
"Kau milikku sekarang."
.
.
Menurut Baekhyun, malam ini perjalanannya yang sebenarnya hanya berawal dari lantai lima hingga menuju lantai tujuh belas merupakan perjalanan paling lama yang ia pernah alami dalam hidupnya. Dulu ia pernah menghabiskan waktu di pesawat menuju negara Eropa untuk mengisi suatu acara, perjalanan berlangsung selama enam belas jam, namun menurutnya tidak selama ini. Entah apakah ini karena rasa gelisah dan canggung yang ia alami antara dirinya dan Chanyeol? Yang memang sedari tadi mereka hanya menghabiskan waktu tanpa seorangpun mengeluarkan sepatah kata, menaiki lift hanya dalam diam, lalu hanya terdengar suara derap-derap kaki setelah pintu lift terbuka. Baekhyun yang membawa kartu bahkan sempat menjatuhkan kartu sebelum berhasil memasukannya di pintu hotel, dan saat pintu tertutup kembali, entah kenapa kecanggungan terasa dua kali lipat.
Chanyeol langsung membelokkan arah menuju kamar mandi, menutupnya lalu terdengar suara air dari wastafel, Baekhyun-pun tak tahu harus melakukan apa, ia memilih duduk di sofa dekat ranjang, menoleh sekitar dengan pandangan aneh, apalagi saat matanya memandangi dua ranjang secara bergantian, yang membuat pikirannya seakan kabur, bingung memutuskan ranjang mana yang ia akan gunakan nanti, untuk bercinta pertama kali dengan kekasihnya.
Si jangkung terdengar sudah mematikan air, kemudian ia terlihat keluar dari kamar mandi, Baekhyun masih berada di posisinya, masih dengan ekspresi bengongnya, ia lempar pandangannya ke arah kekasihnya yang kini berdiri dengan meraih sebotol air mineral, menenggaknya sekali sebelum menutup tutup botolnya kembali dan menaruhnya di meja kecil di sampingnya, mata mereka bertemu, namun dengan cepat terlepas kembali ketika Chanyeol memutuskan berjalan kemudian duduk di tepi ranjang, ranjang dekat dinding yang Baekhyun gunakan.
Lima atau enam menit berjalan tanpa ada sesuatu yang dilakukan, Baekhyun jujur saja juga bingung, ingin ia memulai pembicaraan namun takut memilih topik, biasanya ia tak secanggung ini, dan Chanyeol pun tak sediam ini, ia menghembuskan nafas berat, ia rogoh ponsel yang berada dalam saku celana pendeknya, mengatur mode tidur dan memasang alarm pukul tujuh pagi sebelum melemparnya ke ranjang kosong yang tak berpenghuni, ia kemudian bangkit berdiri, berjalan agak cepat menuju kekasihnya yang terduduk, ia melangkah mantap kemudian menaiki tubuh kekasihnya, ia dudukkan badannya di pangkuan Chanyeol dengan santai seperti sudah melakukannya ratusan kali, Chanyeol saat itu refleks memasang wajah terkejut kemudian melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping sang kekasih, menopangnya agar tak jatuh.
"Ja!" Baekhyun setengah berteriak, seakan seperti teriakan yang sering ia lakukan bila akan memulai konser, ia tarik nafas dalam, ia menapakkan kedua telapak tangan di bahu kekasihnya. "Kalau ternyata sekarang kita tidak melakukan apa-apa sebaiknya aku pergi saja."
"Huh?" Chanyeol mendongak, menaikkan pandangan yang awalnya dari dada Baekhyun menuju matanya.
"Rasanya tidak nyaman tahu, kupikir kita akan memasuki kamar lalu akan melakukannya, kupikir kau akan segera membuka bajuku dan melemparku ke ranjang. aku sudah horny sekali sekarang ini, dan kau membuatku terus menunggu. Kalau kau tidak melakukannya juga aku sebaiknya ke kamar Sehun saja, aku akan menggodanya dan bercinta dengannya."
Ancaman Baekhyun seharusnya membuat Chanyeol mengerutkan kening, namun ia justru terkekeh, ia usap punggung sempit kekasihnya dengan tangan kirinya yang sedari tadi menganggur. "Kenapa Sehun?"
"Karena dia tampan. Dan juga dia temanmu."
"Dia temanmu juga."
"Biar saja." Bibir Baekhyun dikerucutkan, dan itu membuat Chanyeol terkekeh lagi, namun senyum candanya pelan-pelan menghilang ketika Baekhyun menunjukkan wajah kesal.
"Baiklah…" suara Chanyeol melembut, ia raih dagu runcing Baekhyun sebelum mendongak sedikit lagi untuk mengecup bibirnya, Baekhyun refleks menutup mata, membuka bibirnya yang saat itu tengah dilumat pelan oleh Chanyeol. "Tahu tidak, kau menjadi berkali lipat jauh lebih cantik…"
Mulut Baekhyun berdecih di tengah ciuman, ia hanya tersenyum saat Chanyeol terus memajukan kepala, badannya bahkan sudah tak lagi duduk tegak, ia bisa merasakan Chanyeol mulai menaikkan satu kaki hendak menaiki ranjang, Baekhyun mengeratkan kedua tangannya di leher sang kekasih agar Chanyeol tak kesusahan saat membawanya menuju ke tengah matras, masih dengan memautkan bibir, mereka akhirnya berhasil menuju ke tengah, Chanyeol menaruh kepala kekasihnya di bantal, mengecup bibirnya sekali lagi sebelum bangkit mendudukkan diri di samping kekasihnya yang sudah tertidur pasrah.
"Haruskah kau berpose seperti ini?"
"Kenapa?" dengan berposa menekuk satu lengan di atas kepala, Baekhyun bermaksud menggoda. "Mana pelumas kita?"
Chanyeol terkekeh lebih keras, ia merogoh saku celananya. "Si cantik tidak sabaran sekali…"
Botol yang ia pegang terjatuh ketika Baekhyun secara tiba-tiba bangkit dan membalik keadaan, menindih dan menahan Chanyeol agar tetap di bawah, Chanyeol sebenarnya masih punya sisa tenaga jika ia mau bangkit, namun ia biarkan kekasihnya ambil kendali. Ia melemaskan otot begitu Baekhyun meraih kedua tangannya dan menahannya di ranjang, kemudian mendudukkan pantat di atas perutnya, mereka tidak melepaskan pandangan satu sama lain sampai Baekhyun perlahan bergerak turun untuk mencium bibir kekasihnya.
Genggaman Baekhyun mengendor, dan Chanyeol menggunakan kesempatan itu untuk menaikkan tangan dan meraih punggung belakang kekasihnya. Tangannya menyingkap kain yang Baekhyun kenakan, jemarinya menari merasakan tiap inchi kulit lembut kekasihnya itu.
"Chanyeol-ah…" Baekhyun berbisik, merasakan kedua tangan kekasihnya yang kini berusaha melucuti atasan yang ia kenakan, Baekhyun melepas pautan bibir mereka, sekedar membiarkan Chanyeol melepas kain yang melekat di tubuhnya, dan kemudian ia merasa tubuhnya terbalik, jatuh menyamping, Chanyeol membalikkan posisi, dan dengan cepat ia menurunkan resleting, membuka kancing celana pendek yang Baekhyun kenakan, menariknya turun bersamaan dengan dalaman yang ia pakai.
Baekhyun sudah telanjang bulat, kulitnya yang putih dan lembut merona dibawah cahaya lampu remang yang membuat Chanyeol semakin tidak tahan, kini yang lebih tinggi bekerja pada pakaiannya sendiri, tak sulit melepas pakaian serba hitam yang melekat pada tubuhnya, dan ketika ia berhasil melepaskan kain dari kedua kakinya, ia tahu mata Baekhyun membundar, dilihatnya kejantanan kekasihnya yang sudah ereksi, terlihat besar dan marah, belum lagi urat yang menyembul melapisi kulitnya, Baekhyun salah kalau ia menyimpulkan bahwa dirinya sendiri yang horny, nyatanya Chanyeol bahkan sudah mengeluarkan cairan pre-cum nya, Baekhyun bisa lihat sekilas ujung penis kekasihnya sudah basah.
"Lihat milikku?" pertanyaan Chanyeol membuat mata Baekhyun mengalihkan subjek yang dilihatnya. Chanyeol kini sudah tepat berada di atasnya, dengan bertopang dua lengan yang mengapit kepala Baekhyun, Baekhyun meneguk liurnya sendiri, ia bernafas pelan, seperti takut, mata Chanyeol seakan berkabut, nafasnya tersengal, ia tak seperti biasanya, dan wajahnya sedikit memerah. "Aku tidak ingin menyakitimu… Tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi…"
Entah itu Chanyeol bermaksud menjelaskan atau apa, namun Baekhyun tak mencoba menelaah kembali, pikirannya kini juga berkabut, ia melihat ke bawah lagi, penis kekasihnya yang menegang dan mencuat, ia tak bisa bayangkan bagaimana daging itu akan memasuki dan mengoyak tubuhnya nanti, dengan mengambil nafas panjang Baekhyun kembali memandang wajah kekasihnya, matanya melihat mata sang kekasih yang melihatnya sayu. Ia naikkan kedua tangan dan melingkarkannya di leher berkeringat Chanyeol. "Aku menginginkannya…" bisikannya terhenti ketika mulut hangat membungkam mulutnya, dan Baekhyun menurut saja saat lelaki di atasnya menurunkan badan dan mulai menggesekkan kedua tubuh mereka, perlahan lahan hingga keduanya mulai menggeliat dan berusaha mencoba melilit tubuh masing-masing.
"Chanh…." Baekhyun mendesah di sela ciuman, dan Chanyeol tahu ia tak bisa berlama-lama hanya saling menggesekkan tubuh mereka, ia arahkan satu tangan masuk dan memisahkan tubuh mereka yang melekat kuat seakan tak mau terpisah, ia sedikit tertatih untuk meraih penis mungil Baekhyun yang sedari tadi tak henti bergesekan dengan miliknya yang rasanya kian membengkak. Dengan gerakan pelan ia remas dan pijat milik kekasihnya, Baekhyun terdengar mengerang, melenguh dalam mulutnya yang masih setia menyesapnya. "Aaaahhh,…" desahannya lolos dari mulutnya setelah Chanyeol melepaskan pautan bibir mereka.
Baekhyun mencengkeram bahu Chanyeol, ia naikkan kepalanya untuk meraih bibir Chanyeol kembali, Chanyeol mengerti keinginan kekasihnya dan kembali memautkan bibir mereka, Baekhyun mengerang lagi, suaranya tertahan di tenggorokan ketika lidah Chanyeol lagi-lagi memasuki mulut hangatnya untuk menyesap dan menjilat, sedangkan tangannya tak berhenti mengocok untuk memberikan kenikmatan kekasihnya, ia percepat tangannya begitu kaki Baekhyun yang sedari tadi bergerak tak tentu menggesek permukaan sprei mulai mencengkeram ujung jari kakinya sendiri, kakinya terangkat, dan Chanyeol merasa bahwa kekasihnya telah mencapai klimaks pertamanya.
Baekhyun melenguh ketika cairan spermanya menyembur hingga ke area bawah perutnya sendiri, Chanyeol masih menekan batang penis kekasihnya, sekali dua kali, dengan ibu jari ia menggesek ujungnya dan merasakan pinggul Baekhyun bergetar, yang semula menegang dan terhentak ke atas perlahan mulai turun. Dada Baekhyun naik turun perlahan, kemudian Chanyeol melepaskan pautan bibir mereka, mulut Baekhyun bisa dibilang berantakan, bibirnya merah dan bengkak, liurnya bahkan membasahi ujung bibir dan terlihat membuat alur hingga ke bawah dagu, Chanyeol melihatnya kemudian tersenyum, ia benamkan wajahnya di leher kekasihnya, dan Baekhyun refleks mendongak, ia rasakan lidah lembut kekasihnya menyapu lehernya, kemudian naik menuju dagunya hingga akhirnya berhenti tepat di bawah bibirnya. "Kau cantik." puji Chanyeol kemudian, yang langsung mendapat senyum dengan rona pipi merah oleh Baekhyun.
Hanya sekitar lima menit Baekhyun terbaring mencoba mengatur nafas, ia kemudian mengarahkan tangan mungilnya yang masih sedikit bergetar menuju selangka kekasihnya, ia raup penis tegang yang sedari tadi mencuri rasa penasarannya, dan begitu jemarinya berhasil menyentuh, alangkah terkejutnya Baekhyun merasakan ukuran dan bentuk yang lumayan jauh dari bayangannya itu. Jujur saja dulu ia pernah mandi bersama Chanyeol, mereka sudah pernah melihat badan telanjang masing-masing, namun tentu saja bukan dalam keadaan ereksi begini, ia gerakkan jemarinya perlahan, mengurut dan merasakan tiap lekuk milik Chanyeol yang sebentar lagi akan meng-klaim nya.
"Kau… besar sekali…" Baekhyun setengah berbisik, ia tatap lelaki yang sedari tadi tersenyum dan sesekali menutup mata sembari mendesis nikmat karena pijatan-pijatan kecil yang Baekhyun lakukan pada alat vitalnya.
"Iya?" Chanyeol tersenyum, melihat kekasihnya yang begitu polos, Chanyeol sungguh tak tahan, ia mengecup bibir Baekhyun sekali, kepalanya seakan melayang, ia rasakan jemari Baekhyun bermain-main dengan dua bola testisnya yang sudah menggembung besar, dengan tak sadar ia memaju mundurkan pinggul, ingin setiap inchi kulit merasakan rangsangan dari jemari lembut Baekhyun, Chanyeol bernafas berat, ia rasakan telapak tangan Baekhyun mengusap seluruh batang penisnya, kuku yang tak sengaja menggesek ujung lubang kencingnya, kemudian jemari yang perlahan menyentuh rambut kemaluannya. "Baek… Aku ingin memasukimu sekarang…"
Baekhyun menengadah, ia bernafas lewat mulut kemudian mengangguk, ia menoleh ke samping, matanya mendapati botol kecil berwarna merah berkilau diterpa cahaya lampu, ia raih dengan segera dengan satu tangannya. Kemudian dengan ibu jari dan telunjuk ia berhasil membukanya.
Wangi seperti strawberry memenuhi udara di sekitar, dan Baekhyun menelan sesuatu di kerongkongannya saat Chanyeol mengambil alih dan menuang pelumas di tangannya sendiri, tangan Baekhyun ia singkirkan, ia arahkan kedua tangan Baekhyun melingkar ke bahunya sebelum kemudian ia mengusapkan telapak tangannya yang sudah licin ke kejantanannya sendiri. Ia ambil lagi sedikit pelumas, kemudian ia arahkan ke selangka kekasihnya, Chanyeol bisa saja kesulitan, namun Baekhyun mengerti dan membuka pahanya lebih lebar, membuat Chanyeol lebih mudah untuk mencari lubang miliknya yang sedari tadi belum tersentuh. Perlahan Chanyeol mengusapkan ibu jarinya di sekitar lubang kekasihnya, dan ketika ia mendapati anggukan dari lelaki di bawahnya, Chanyeol megarahkan satu jari telunjuk perlahan memasuki lubang ketat tersebut.
"Ahhh… Chan… Yeol-ah…" suara Baekhyun bergetar, kedua kakinya menegang, Chanyeol bisa merasakannya, si lelaki yang lebih mungil mengeratkan tangannya yang melingkar di bahu kekasihnya, ia mengerang lagi ketika jari kedua mulai turut memasuki lubangnya.
"Sayang, jangan tegang… Rileks…" Chanyeol berbisik, tangan kanannya masih sibuk mem-penetrasi lubang kekasihnya, sesekali ia memelankan kemudian membuat gerakan agak cepat, ia mengecup kening basah Baekhyun, tangan kirinya dengan lembut mengelus pipi Baekhyun dengan sayang. "Nanti akan sakit kalau aku tiba-tiba memasukimu. Rileks… Rileks kan ototmu…"
Baekhyun bernafas tersengal, matanya melihat kedua mata Chanyeol yang memandangnya sayu, Baekhyun tahu kekasihnya pasti benar-benar sudah tak tahan namun ia masih saja menghabiskan waktu untuk membuat badannya nyaman terlebih dahulu, seakan ada sesuatu yang menyengat jantungnya, Baekhyun menarik kepala Chanyeol, memautkan bibir mereka kembali sembari berusaha menuruti apa yang Chanyeol inginkan, ia merilekskan sekujur tubuhnya, ia tahu malam ini ia akan kesakitan, bagian tubuh terdalamnya akan sobek dan itu semua tak akan kembali, ia akan memberikan miliknya pada kekasihnya dan ia tahu bagaimana konsekuensinya, Baekhyun melepaskan ciuman mereka, memandang mata kekasihnya dan berbisik. "Aku siap…"
Chanyeol melepas tangan kanannya dari pantat kekasihnya, ia merasakan Baekhyun menaikkan pinggul, dan ia tak menghabiskan waktu lama untuk merendahkan tubuhnya, Chanyeol memegang kejantanannya yang sudah licin, mengarahkannya ke lubang yang sudah ia siapkan sedari tadi, jantungnya berdegup kencang saat ujung penisnya menggesek permukaan kulit kekasihnya yang sensitif, dan dengan sedikit dorongan, ia menahan tubuhnya, agar tak menyakiti kekasihnya, ia majukan badannya perlahan.
"Aaahh… ahhh…" tangan Baekhyun mencengkeram kulit punggung Chanyeol lebih erat, rasanya luar biasa sakit, begitu ujung penis Chanyeol yang mengeras berusaha memasuki lubangnya ia bisa merasakan seakan bagian dalamnya terkoyak, kakinya menegang kembali, dan Chanyeol hanya bisa berdiam ketika Baekhyun meracau dan menggeleng kepalanya ke kanan kiri. "Sa-sakit… Chanyeol-ah… Sakitttt…"
"Sayang? Sakit? Maaf-maafkan aku… ahh… Haruskah aku hentikan?" Chanyeol tak bisa menutupi wajah khawatir, ia menelan liurnya sendiri, peluhnya sudah memenuhi kening namun ia justru mengusap pipi Baekhyun yang kini dialiri air mata.
"T-tidak, jangan berhenti… Te-teruskan…" Baekhyun terisak, ia tak menyangka rasanya luar bisa sakit, namun ia berusaha keras menahan. Ia pikir pasti dinding anusnya berdarah sekarang, namun ia hilangkan ketakutannya, wajah Chanyeol yang juga menunjukkan kesakitan membuatnya merasa bersalah, ia tarik nafas panjang kemudian, satu tangan ia arahkan untuk meremas rambut tebal Chanyeol. "A-aku tidak apa, bergeraklah…"
Chanyeol bernafas pelan, ia ikuti keinginan kekasihnya, perlahan bergerak memaju mundurkan badannya, ia tahu Baekhyun pasti merasakan sakit yang luar biasa, namun ia juga ingin memberikan kenikmatan pada tubuh mereka yang kini telah menyatu, ia akhirnya dapat menemukan ritme yang pas setelah beberapa kali bergerak, penisnya belum melesak sepenuhnya memang, karena Baekhyun baru bisa menerima tak lebih dari setengah batang dagingnya.
Baekhyun meraup mulut kekasihnya, ciuman bibir mereka terpaut namun terlepas setelah tak lebih dari lima detik, kemudian Baekhyun menaikkan kepalanya, mengigit bahu Chanyeol ketika ia merasa pergerakan Chanyeol kini mulai dipercepat, dinding dalam anusnya terasa sakit, meskipun pelumas telah membuat milik Chanyeol licin, namun rasanya masih luar biasa sakit, Baekhyun mengeratkan pelukannya, nafas berat mereka beradu. "Ah ah ah ah ah…." Baekhyun terhentak, mengikuti ritme permainan Chanyeol, Baekhyun hanya bisa pasrah merasakan bagaimana penis Chanyeol keluar masuk lubangnya tanpa henti.
Dua puluh menit yang terasa seperti berjam-jam itu terlewati hanya dengan suara penyatuan tubuh dan isakan Baekhyun, sesekali Chanyeol yang mengerang dan nafas tersengal mereka yang beradu. Gerakan Chanyeol seakan menjadi kian cepat, dan Baekhyun bisa merasa ada sesuatu di dalam tubuhnya yang terasa aneh ketika Chanyeol berhasil menumbuknya dengan ujung penisnya. Mungkin ini-lah yang dinamakan titik prostat, meskipun Baekhyun tidak dengan seratus persen menikmati semua ini, dengan bercampur rasa sakit, ia bisa merasakan kenikmatan ketika Chanyeol dengan gerakan menghentak dan tepat mengenai titik tersebut, Baekhyun menggerakkan kakinya yang sedari tadi menggantung lemah menjepit di kanan kiri pinggul Chanyeol mulai bergerak naik dan bergerak melingkar, seakan ingin Chanyeol mempertahankan pergerakan yang ia lakukan.
"Baek—" Chanyeol mengerang, pergerakan Baekhyun membuat penisnya melesap semakin dalam dan membuatnya lebih terangsang, ia atur tubuhnya agar tak terjatuh, kedua lengan yang menahan tubuh masih setia menekan matras dengan keras, pinggulnya tak henti bergerak, terus menumbuk titik yang Baekhyun maksud dengan gerakan semakin cepat. "Arrhhh…"
Keringat berkumpul di keningnya dan Chanyeol sudah tak tahan lagi ketika penisnya sudah menegang dan berkedut beberapa kali, ia pandang Baekhyun intens seakan mengatakan bahwa ia akan segera mencapai klimaksnya, Baekhyun yang terus menerus melenguh mengendurkan lilitan kakinya, ia gigit lagi bahu kekasihnya keras begitu Chanyeol memajukan pinggul sampai badan Baekhyun terhentak keras, mereka terdiam, sejenak, tubuh menegang beberapa detik dan Baekhyun dapat merasakan sesuatu yang hangat memenuhinya di bawah sana. Ia lepaskan cengkeramannya perlahan, dan Chanyeol yang sepertinya sedang menikmati sisa-sisa orgasmenya perlahan mengatur nafas, tubuhnya ambruk kemudian, dengan kepala mendarat di ceruk leher Baekhyun yang saat itu masih naik turun, mulutnya terbuka berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara yang seakan kian menipis.
Kaki Baekhyun turun dengan lemas ke matras, tubuh besar yang menindihnya sangatlah berat dan ia harus bekerja keras untuk mengingatkan bahwa milik Chanyeol masih tertancap di dalam tubuh bawahnya. "Ch-chanyeol-ah…"
"Umh…" Chanyeol bergerak, ia tarik tubuhnya ke atas perlahan, melepaskan miliknya yang sudah lemas pasca orgasme, penyatuan mereka yang berakhir membuat Baekhyun mengerang pelan, kemudian Chanyeol merasakan rambutnya diusap pelan, kemudian ia juga merasakan bibir lembut mengecupi area bahunya yang memang ia rasa perih, bekas luka gigitan dan cakaran sepertinya.
Belum ada yang berujar setelahnya, hanya bunyi nafas berat masing-masing, jujur saja Chanyeol tak tahu harus melakukan apa dan berbicara seperti apa. Wajahnya yang penuh keringat terlihat memerah, mungkin karena kelelahan bercampur malu. Ini adalah hari pertamanya bercinta dengan kekasihnya, pertama kalinya ia mengklaim temannya sendiri, perlahan Chanyeol mulai mendapatkan kesadarannya, ia baru saja menyetubuhi teman satu grupnya, oke, teman satu grup, seorang Baekhyun yang ia sayangi, rasanya senang namun ada juga yang aneh, ia bahkan tak sanggup menaikkan kepalanya.
"Terimakasih…" ujar Chanyeol pada akhirnya, satu kata yang lewat di kepalanya. Karena Baekhyun telah mau melakukan seks pertama kali dengannya, karena Baekhyun rela disakiti olehnya, karena Baekhyun yang dengan tulus mencintainya. "Maafkan aku… Aku pasti membuatmu kesakitan…"
Dua tangan meraih kepalanya, dan Chanyeol menurut mengikuti Baekhyun yang mengarahkan kepalanya agar terangkat, bekas air mata Baekhyun masih jelas terlihat, dan Chanyeol perlahan bangkit, menahan tubuhnya dengan kedua lengan seperti beberapa menit sebelumnya, ia kecup bawah mata Baekhyun yang asin karena air mata, mengecupi hidung, bibir, hingga dagu. "Maafkan aku…"
Baekhyun menikmati tiap kecupan kekasihnya, ia menutup mata pelan, tersenyum sembari mengusap belakang kepala Chanyeol, kemudian kedua tangannya melingkar di bahu Chanyeol seperti sedia kala. "Kenapa minta maaf…" Baekhyun membuka mata. "Terimakasih juga… Kau luar biasa…"
Pergerakan Chanyeol terhenti, ia pandang sekali lagi baekhyun dengan senyum merekahnya, luar biasa cantik, meskipun tampak lelah dan sedikit kacau. "Kau lebih luar biasa…" ujarnya dengan senyum.
"Sepertinya besok aku tidak akan bisa berjalan. Tapi aku senang. Kalau kau yang melakukan aku rela untuk tidak bisa berjalan, bahkan tidak bisa bergerak juga tak apa."
Sudut bibir Chanyeol terangkat, kekasihnya benar-benar polos, atau memang kini ia mencoba menggoda? Chanyeol kembali menurunkan kepala dan menikmati bibir Baekhyun yang sudah bengkak, ia jilat dan sesapi, ia bahkan menggigit dan mengecup dengan gemas, hingga suara berisik tercipta, hingga Baekhyun tertawa sambil menahan dada telanjang kekasihnya. "Aku lelah… Sudah Chanyeol-ah… Ah… Chanyeol-ah…" Baekhyun mencoba menampik kekasihnya yang bertubi-tubi menciumi wajahnya, bermain-main seakan mau menggigit, mereka tertawa seperti orang idiot, dengan kekehan Chanyeol yang seperti anak umur lima tahun, Baekhyun merangkul kepala kekasihnya dan menempelkannya di dadanya. "Kau milikku sekarang."
Chanyeol terkekeh, kemudian ia memeluk tubuh kecil di bawahnya. "Kau juga milikku sepenuhnya, awas saja kau berani menggoda yang lain yah."
"Jangan khawatir… Mulai sekarang aku akan menggoda Chanyeol saja."
Dan mereka tertidur dengan mendengar degup jantung masing-masing.
.
.
Pagi yang tidak diinginkan selalu datang tiba-tiba, meskipun deringan ponsel sudah terdengar sejak sepuluh menit lalu, nampaknya dua orang yang tertidur di balik selimut masih enggan meninggalkan kasur hangatnya.
Baekhyun yang pertama bangkit, namun sekali bergerak pinggulnya terasa seperti patah, ia pegang pinggangnya dengan tangan kanannya, rasanya luar biasa sakit, ia mendesis keras bahkan ketika mencoba menuruni ranjang untuk mengambil kaus dan celananya.
"Chanyeol-ah…" terpaksa ia menggoyangkan tubuh kekasihnya yang masih tertidur pulas. "Chanyeol-ah…"
Yang berbadan besar mengerang, kedua tangannya meregang ke atas, kemudian perlahan matanya terbuka. "Eum?"
"Bantu aku… Tubuhku sakit…" Baekhyun berkata sambil meringis, membuat kekasihnya sontak bangun.
"Um? Apa?" Chanyeol menggaruk belakang kepalanya, wajahnya masih kusut, ia lihat sekeliling dan sepertinya ia baru sadar masih berada di hotel dan bukan di negaranya, dan kenyataan bahwa ia harus segera berbenah untuk mengejar keberangkatan pesawat.
"Bantu aku… Badanku sakit semua…."
Chanyeol tersenyum, akhirnya kepalanya yang kosong kembali terisi, ia teringat kejadian semalam, ingat kenapa Baekhyun merintih kesakitan, ia ambil celana dalamnya yang tergeletak tak jauh dari kakinya, kemudian memakainya cepat, juga mengambil kaus dan celananya. Ia segera turun untuk mengambil pakaian Baekhyun yang tercecer di lantai.
"Ah…" Baekhyun kembali di posisi tidurnya, masih menaruh tangan di pinggang, ia pijat area pinggulnya perlahan.
"Mau kupakaikan?" Chanyeol menanyai, entah kenapa ia jadi merasa sedikit bersalah, ia pandangi kekasihnya yang masih telanjang dengan bawah pinggang sudah tertutupi selimut kembali.
"Aku ingin mandi… Badanku lengket…" Baekhyun memanyunkan bibir, dan Chanyeol kembali terkekeh.
"Oke oke… Sebentar, sayang."
Chanyeol merasa bertransfomasi seperti suami siaga saja, ia berlari menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat di bath tub bahkan menuangkan sabun dan menyiapkan handuk, kemudian dengan secepat kilat ia kembali ke kamar, ia tak tega melihat Baekhyun merintih kesakitan, karena itu ia membantu kekasihnya untuk tidak melakukan pekerjaan berat, bahkan ia menggendong Baekhyun seperti menggendong seorang istri, dengan kedua tangan ia membopong Baekhyun, membawanya dari kamar menuju kamar mandi, menaruhnya di bathtub dengan perlahan kemudian meninggalkannya sejenak untuk membereskan kamar dan koper mereka.
"Sayang?" satu kali panggilan dan Chanyeol seperti seorang superhero akan tiba-tiba muncul di hadapannya, entah kenapa Baekhyun merasa senang luar biasa.
"Iya?"
"Kita cuma punya waktu dua jam, aku rasa aku tidak punya waktu untuk turun dan sarapan, bagaimana kalau aku makan di kamar saja?"
"Baiklah…" Chanyeol mengangguk mengerti, ia kemudian melesat kembali ke kamar, membuat panggilan kamar dan memesan makan, ia pesan dua untuk Baekhyun dan dirinya sendiri.
Baekhyun masih berada di bath tub, membilas tubuhnya ketika Chanyeol masuk kembali ke kamar mandi dengan menyambar bathrobe. "Aku sudah mengepak barang kita, tinggal tunggu sarapan dan kita bisa pulang."
"Okey…" Baekhyun mengangguk, mengangkat jempol dengan puas.
"Baiklah… Sudah belum mandinya?"
Baekhyun mengangguk, kemudian dengan mencoba memasang wajah imut ia meregangkan dua tangan membuat Chanyeol berdecih namun tersenyum, si jangkung berjalan mendekati bath tub dan ia tahu apa tugasnya kemudian saat Baekhyun perlahan bangkit berdiri kemudian melompat ke tubuhnya dan melingkarkan kedua lengan di lehernya dengan manja.
"Sayang sekali kita tidak punya bath tub di dorm…" Baekhyun berbisik di telinga kekasihnya, sambil membenahi posisinya yang menggantung di tubuh Chanyeol seperti koala.
"Kenapa memangnya?"
"Selanjutnya aku ingin bercinta denganmu di bath tub, dengan air hangat dan sabun aroma strawberry…" Baekhyun terkikik, ia eratkan pelukannya begitu merasa Chanyeol mulai mengambil langkah sambil menutupkan bath robe di punggung telanjangnya.
"Fine, kau yang memulai sayang… Jangan salahkan kalau besok-besok aku akan meminta jatahku kapanpun aku mau…"
"Fine…"
.
.
"Berani taruhan berapa nih, Baekhyunee hyung sudah melakukannya dengan Chanyeol hyung semalam." Sehun bergumam, berusaha menjaga suaranya sembari menaruh ponsel edisi terbarunya di atas meja. "Kali ini traktir makan atau massage?"
"Traktir, restoran seafood mahal di gangnam. Aku pegang tiga ronde." Minseok ikut-ikutan.
"Lima ronde." Jongdae menambahi.
"Yah, kalian ini buta atau apa. Lihat bagaimana Baekhyun berjalan dan Chanyeol menuntunnya seperti menuntun seorang nenek. Tujuh ronde." Suho mengikuti.
"Hah, kalian ini. Baekhyun itu tak tahan sakit, mana mungkin kuat lebih dari dua ronde, lagipula semalam kan yang pertama." ujar Jongin sok. "Dua ronde. Yang paling mendekati dapat traktir dari yang kalah, restoran mana saja yang disebutkan, bagaimana?"
"Call!"
"Sebentar, lalu, bagaimana kita mengkonfirmasinya?"
Mereka yang berkerumun saling melihat satu sama lain. "Bagaimana kalau kita ke kamar mereka lalu cari berapa kondom yang dihabiskan Chanyeol hyung?" saran Sehun langsung berbuah jitakan di kepalanya sendiri. "Aw."
"Lalu? Bagaimana? Kita tanyai blak-blakan?"
"Bagaimana kalau kita rekam saja?" lagi-lagi kepala Sehun mendapat jitakan.
"Kau ingin mati di tangan Chanyeol?" tanya Jongdae.
"Dan dicakar Baekhyun?" Minseok menambahi.
"Lalu?"
Mereka terdiam, tujuh pasang mata mengikuti saat Chanyeol lewat dengan tangan kanan melingkar di bahu sempit Baekhyun dan tangan kiri menyeret koper, kepalanya terlampau dekat dengan telinga Baekhyun yang saat itu bergerak naik turun karena tawa renyahnya.
"Oh God, mereka manis sekali." Minseok berkomentar.
"Ingin rasanya kudorong kepala Chanyeol agar mereka berciuman." Sehun berujar lagi.
"Tuhan… Sehun-ah, tahu tidak apa yang kupikirkan?" Jongdae berujar, membuat Sehun menoleh ke arahnya kemudian berkedip. "Kau, menurutku, sebaiknya, selain menjadi member Exo, jadilah ketua club Chanbaek shipper."
"Iyah, putuskan nama club nya, aku buatkan slogannya. Aku akan mendaftar sebagai member."
"Aku bendahara."
Jongdae hanya bisa menggeleng kepala, ia tinggalkan kerumunan temannya yang menurutnya sudah semakin tidak jelas dan butuh piknik itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chu-san dengan segala kekurangan mohon ma'aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf
NC yang tertunda dan masih 'kurang' ini terlalu receh tapi Chu udah kerja keras T'T
Ya karena ini pertama dan ngga mau Baek kesakitan jadi Chan disini yang gentle abis gaboleh kasar-kasar kan yaaaaa?
Besok-besok akan ada lagi? Oh tenang~ Pasti ada, mau berapa ronde? Tujuh kayak taruhannya Suho? Bisaaaaaaaaaaa
Ok lagi-lagi Chu mau ucapin makasih kayak di award-award
buat Kim614(sampai hafal namanya), asmaul, yeolbee, farzak, dan semuanya yang udah mampir di review makasih…
Mau kasih saran next chap ChanBaek mau pakai gaya apalagi boleh dong request(?)
akhir kata chu hanya bisa ucapin super gumawo thank you so much
saranghamnida ^^
