Title : It's Okay My Love
Pairing : Keo (Leo x Ken or Taekwoon x Jaehwan of VIXX)
Genre : Angst, Romance, Drama
Length : chapter 6 of 6
Rating : PG-13
Note :
.
.
Don't like don't read. No bashing please! No harsh comment whatsoever!
© 2016 David Rd Copyrights
.
.
遥かこの先が 見えない道でも
君が笑うなら 前に踏み出すよ
だからさあ歩こう 二人で歩こう
I held you tight in my arms just like what I did back then
I held you even more tighter than I did back then
Shall we walk again, Let's walk again together
.
.
Seorang wanita berusia lima puluhan dengan wajah yang masih cantik namun terkesan menguarkan aura kejam keluar dari mobil sedan mewah yang berhenti di parkiran Seoul International Hospital dengan tergesa-gesa. Sambil menenteng tas tangan yang pastinya berharga jutaan won, wanita itu melangkahkan kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi hingga menimbulkan suara ketukan yang lumayan keras ke dalam gedung rumah sakit meninggalkan suami dan calon menantunya di parkiran. Dia tidak punya waktu untuk menunggu mereka. Ada hal penting yang harus diurusnya segera.
"Yeobo, tunggu aku!" teriakan suaminya tidak dipedulikan seolah-olah yang ada di pikirannya hanya satu orang.
Jaehwan. Lee Jaehwan. Ya, mendengarkan nama itu saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang dan membuat otaknya berputar cepat mencerna suasana. Dia tidak akan membiarkan anaknya untuk kembali mendekati pria itu. Jung Taekwoon tidak boleh kembali pada Lee Jaehwan. Tidak. Bahkan, untuk seratus tahun pun dia akan tetap menolak hubungan mereka.
Walaupun dia hanya menengok Taekwoon sekali, tetapi ingatan wanita itu masih tajam. Beberapa kali berbelok dan beberapa bangsal kemudian, dilihatnya pintu kamar rawat anaknya. Entah kenapa ia merasa keringat dingin mulai membasahi dahinya. Sial, ini pertanda buruk, rutuk wanita itu dalam hati. Tangannya sedikit bergetar saat menyentuh gagang pintu. Sekuat tenaga ditepisnya firasat buruk yang tiba-tiba hinggap.
Kosong. Itulah yang didapati wanita itu kala pintu ruangan menjeblak terbuka. Tidak ada siapapun di ruangan itu. Kemana perginya Jung Taekwoon? Apa jangan-jangan dia mengejar Lee Jaehwan? Atau mungkin dia sudah berbaikan dengan Jaehwan? Ani. Tidak bisa. Kalau mereka bersama, itu artinya perbuatan jahatnya pasti sudah terbongkar.
"Lho, mana Taekwoon?" sang suami yang baru saja sampai bertanya pada Mrs. Jung yang masih membeku. Karena tidak mendapat tanggapan, CEO Jung Corp itu mengalihkan pandangannya pada Choi Jinhee yang masih sedikit tersengal.
"Aku juga tidak tahu Abeoji," perempuan cantik itu menggeleng pelan seraya mengatur pernapasannya.
"Maaf tuan dan nyonya, apa yang sedang kalian lakukan di ruangan Taekwoon-ssi?" suara seorang suster membuat ketiga orang di dalam ruangan menoleh bersamaan.
"Sus, dimana Jung Taekwoon sekarang?" suara wanita itu sedikit bergetar. Dalam hati ia berusaha berdoa agar semua yang dipikirkannya tidak menjadi kenyataan.
"Oh, pasien sedang di ruang operasi. Dokter Kim mengajukan jadwal operasi karena kondisi Taekhwan tiba-tiba menurun," suster berparas manis itu dengan tenang memberikan informasi yang membuat ketiganya mengernyit bingung. Ruang operasi? Taekhwan?
"Operasi? Operasi macam apa sus?" pria berperawakan tinggi tegap kini turut tertarik dengan keadaan yang sedang berlangsung.
"Begini Tuan, Taekwoon-ssi sedang menjalani operasi transplantasi hati untuk menyelamatkan anaknya yang menderita atresia bilier."
"Transplantasi hati katamu," Mrs. Jung beringsut ke arah sang suster marah, kedua tangannya terjulur meraih dan mencengkeram erat baju seragam suster sambil melemparkan tatapan mengancam. Suster manis dengan tagname Han Yuju itu kaget dan ketakutan mendapati perilaku beringas wanita yang baru ditemuinya.
"Yeobo," Mr. Jung bergerak meraih lengan kanan istrinya mencoba menghentikan perbuatan bodoh istrinya dibantu Jinhee yang meraih lengan kirinya. Keduanya terlihat seperti petugas rumah sakit jiwa yang sedang menenangkan salah satu pasiennya.
.
.
.
Setengah jam sebelumnya
Dokter Kim memasuki ruangan yang masih dipenuhi dengan suara bincang-bincang, sesekali terdengar juga gelak tawa dan candaan yang berbanding terbalik dengan keadaan ruangan itu beberapa hari yang lalu. Lagi-lagi Dokter Kim merasa bahwa dirinya seperti sedang membawakan berita buruk dan penghancur kebahagian sesaat orang-orang di dalam sana. Hah, memang berat tugas seorang dokter.
"Oh, Dokter Kim, apa yang membawa Anda kemari?" Hakyeon yang kebetulan melihat dokter berusia empat puluhan itu memasuki ruangan segera berdiri dan menghentikan tawanya.
Susah memang mengatakannya, tapi apa boleh buat. Setelah menarik napas dalam, pria yang sudah menjadi dokter selama dua puluh tahun itu berkata,"Taekwoon-ssi, kita harus melakukan operasi sekarang," semuanya terdiam. Tidak ada yang berani bergerak seakan-akan satu gerakan kecil akan membuyarkan kenyataan yang mereka dengar.
Jaehwan mengalihkan pandangannya seketika ke arah dokter Kim dengan panik,"Ada apa, Dok?"
"Jaehwan-ssi, kondisi Taekhwan menurun. Kami khawatir kalau operasi tidak dilakukan sekarang juga, nyawa Taekhwan bisa terancam," pria berjas putih itu berjalan ke tengah ruangan.
Taekwoon mengenggam erat tangan istrinya membuat Jaehwan yang gemetar menatapnya. Kedua iris mata itu memancarkan kesedihan dan ketakutan, Taekwoon tahu hal itu. Siapa yang tidak takut akan kehilangan anak semata wayangnya yang selama ini menemani hidupnya, mengisi hari-harinya, dan menjadi penyemangat dalam hidupnya yang menyedihkan ini. Semua orang tua pasti akan merasa sedih seperti Jaehwan.
"Tenanglah, Jae! Kami berdua akan baik-baik saja," tangan besar sang atlet mengusap lembut jemari Jaehwan menyadarkan sang istri dari lamunannya.
"Tapi Hyung -."
"Sst, tidak ada tapi-tapian," Taekwoon melepaskan genggamannya kemudian menangkup wajah Jaehwan supaya mereka bertatapan. "Taekhwan anak yang kuat, dia pasti bisa melewati operasi ini. Tenang saja, aku akan mendukungnya. Dan dengan doa kalian semua, operasi ini pasti akan berjalan lancar. Percaya padaku," Jaehwan mengangguk.
"Kami akan mendoakan supaya operasi ini berhasil," Hakyeon yang sedari tadi menatap sepasang suami istri itu terenyuh diikuti anggukan setuju oleh kelima orang lainnya. Bagaimana tidak? Dia ingin sahabatnya mempunyai masa depan yang cerah setelah melalui hari ini. Dia berharap Taekhwan bisa sembuh, menyatukan kedua orang tuanya, dan mendapatkan keluarga yang bahagia.
.
.
.
Apa-apaan semua ini? Taekwoon sedang melakukan operasi transplantasi hati untuk seorang anak kecil? Apa dia sedang tidak waras? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa anak kecil itu? Berbagai macam pertanyaan terus berputar di benak wanita yang masih secara tergesa-gesa berjalan menuju ruang operasi. Wajahnya menunjukkan ekpresi bingung dan ketakutan. Berbagai macam spekulasi muncul di otaknya, tetapi dia tidak menginginkan spekulasinya menjadi kenyataan.
Lagi-lagi pria paruh baya dan seorang gadis cantik mengejar Mrs. Jung yang berlari mendahului mereka. Berdasarkan penjelasan yang didengarnya dari suster tadi, ayah atlet sepakbola ini seolah bisa menyimpulkan bahwa Taekwoon melakukan operasi ini secara sukarela. Tapi, masalahnya siapa anak kecil yang membutuhkan transplantasi hati itu? Kalau tidak salah namanya Taekhwan? Apa jangan-jangan ...
Jinhee tidak habis pikir, kenapa keluarga Jung suka sekali berlari-lari seperti ini. Padahal seingatnya, cuma Taekwoon yang menjadi atlet, tapi bahkan ayah dan ibunya saja mempunyai kecepatan berlari yang jauh di atas rata-rata untuk ukuran orang yang sudah lanjut usia. Sebenarnya apa tujuan mereka ke rumah sakit sih? Apakah olahraga sore dengan berjalan cepat sepanjang lorong rumah sakit atau mengamankan posisi Jinhee sebagai calon istri Jung Taekwoon?
Langkah panjang Mrs. Jung terhenti saat di hadapannya terdapat seseorang yang sangat ingin dihapusnya dari ingatan. Tentu, siapa lagi kalau bukan Lee Jaehwan. Pria tinggi berperawakan kurus dengan wajah polos dan mata besar itu. Jantungnya seakan berdetak sepuluh kali lipat mendapati kenyataan bahwa operasi yang sedang dijalani Taekwoon ada hubungannya dengan pria itu.
PLAK
Semua orang terperangah saat Mrs. Jung yang berjalan dengan cepat ke arah Jaehwan kemudian mendaratkan sebuah tamparan keras ke pipinya. Bahkan Mr. Jung pun tidak sempat mencegah tindakan anarkis istrinya.
"Kau apakan Taekwoon-ku?" dengan segala daya upaya, ibu mertua yang kejam itu memelototkan matanya pada Jaehwan sambil berteriak. Tangannya terangkat, berusaha meninggalkan bekas tamparan untuk kedua kalinya di pipi mulus istri anaknya. Tetapi kali ini Mr. Jung bertindak cepat dan menahan tangan istrinya sekuat tenaga.
Masih memegangi pipinya yang barusan kena tampar, Jaehwan memberanikan diri menatap mata sang mertua. Dia tidak boleh terus-terusan takut dengan perempuan ini. Walaupun Mrs. Jung adalah ibu dari suaminya, dia tidak bisa bersikap lemah dan tersakiti. Sekarang, dia punya dua orang yang harus dilindungi. Iya, Taekhwan si buah hati dan Taekwoon si belahan jiwanya.
"Aku tidak melakukan apapun pada Taekwoon hyung, Mrs. Jung yang terhormat," dengan mantap Jaehwan menjawab pertanyaan ibu mertuanya seraya balas menatap dengan tegas kemudian menurunkan posisi tangannya dari pipi ke samping celananya.
"Pembohong! Katakan padaku apa yang kaulakukan sehingga Taekwoon mau melakukan operasi bedebah ini!" ujar Mrs. Jung masih berusaha meronta dari kungkungan suaminya.
Keempat orang yang berada di belakang Jaehwan ingin sekali rasanya membantu Jaehwan menangani masalah ini. Tapi mereka semua tahu kalau hal ini hanya bisa diselesaikan oleh Jaehwan seorang. Jaehwan harus bisa membuktikan kalau dia benar mencintai Taekwoon dan tidak ingin Mrs. Jung mengganggu hubungan mereka lagi.
"Taekwoon hyung melakukan operasi ini atas kemauannya sendiri. Dia sedang berusaha menyelamatkan anaknya dari kematian," kedua tangan Jaehwan mengepal erat karena menahan marah. Kemarahan yang ditahannya sekian tahun kepada mertuanya yang tidak pernah sekalipun bertindak baik padanya. Mertua yang selalu menyakiti dan membuat hidupnya bagai di neraka. Mertua yang membuatnya harus mengalami kenyataan pahit membesarkan anak seorang diri.
Sebuah seringaian licik terbentuk di bibir tipis Mrs. Jung,"Anaknya?"
Jaehwan tidak tahu apa maksud seringaian itu, tapi firasatnya mengatakan kalau itu bukan pertanda baik. Mr. Jung yang mendengarkan perkataan Jaehwan justru menunjukkan ekspresi sebaliknya. Kalau benar yang sedang menjalani operasi itu adalah anak Taekwoon, berarti dia adalah cucunya. Cucu yang selama ini sudah didambanya.
"Apa kau yakin kalau anak itu bukan anak selingkuhanmu hah?" kata-kata itu. Bagaimana setelah empat tahun berlalu, kelakuan busuk mertuanya masih tetap sama. Kata-kata kasar dan tuduhan tidak beralasannya masih saja membuat Jaehwan sakit hati.
Chansung dan Hakyeon ingin sekali maju dan membalas perkataan menyakitkan yang dilontarkan Mrs. Jung, tapi pasangan mereka dengan sekuat tenaga menahannya. Ternyata apa yang Jaehwan katakan tentang kekejaman mertuanya selama ini benar. Bagaimana Jaehwan bisa bertahan dengan kehidupannya yang seperti itu? Dan bagaimana juga Taekwoon tidak mengetahui kelakuan kasar ibunya? Kalau saja mereka yang berada di posisi itu, sudah pasti mereka tidak akan tinggal diam.
"Bagaimana bisa Anda berkata seperti itu? Tentu saja Taekhwan anak Taekwoon hyung," rasa sakit itu muncul lagi ke permukaan. Sakit yang sudah berusaha ia kubur dalam-dalam seolah mendesak keluar dalam bentuk air mata. Kedua mata Jaehwan memerah dan suaranya sudah mulai parau.
"Pria miskin sepertimu pasti menggunakan alasan anak untuk berusaha mendapatkan semua harta kekayaan keluarga Jung. Oleh karena itu, kau mengaku-aku kalau anak harammu itu adalah anak Taekwoon. Iya kan? Sudah berapa banyak pria yang kau tiduri untuk mendapatkan anak itu hah?"
PLAK
Semuanya ternganga karena tindakan Mr. Jung barusan. Iya, Mr. Jung telah menampar istrinya. Jinhee berjengit kaget melihat pria yang biasanya bersikap tenang dan logis kini menampar istrinya di depan banyak orang. Begitu pun Sanghyuk yang notabene adalah keponakan mereka. Belum pernah sekali pun ia menyaksikan sang paman marah, berbicara dengan nada tinggi, apalagi menyakiti istrinya secara fisik.
"Yeobo, apa yang kau lakukan?" tatapan tidak percaya Mrs. Jung arahkan pada pria yang sedang menatapnya tajam. Kumis tebal yang bertengger di wajah Mr. Jung menambah aura gelap di sekitar pengusaha berusia lima puluhan itu.
"Hentikan ucapan bodohmu!"
"Ucapan yang mana? Tidak ada satu pun ucapanku yang salah, semuanya benar," masih saja Mrs. Jung berusaha membela diri walaupun pada kenyataannya dia sudah tersudut.
"Kau tidak lihat kalau Taekwoon dan cucuku sedang dioperasi di dalam sana?" bentaknya kasar sembari menuding ruang operasi yang masih tertutup.
"Omo, apa kau juga percaya kalau anak itu anak Taekwoon?" kedua mata sang ibu mertua jahat membulat tidak percaya mendengar perkataan suaminya. Apa suaminya sudah gila karena mempercayai Jaehwan? Bagaimana bisa anak yang di dalam sana adalah cucunya? Pria itu bahkan menghilang selama empat tahun, jadi besar kemungkinan kalau anak itu bukan cucunya.
"Tentu aku percaya," Jaehwan mendongak menatap ayah mertuanya yang jarang ia temui. Maklum saja, selama Jaehwan dan Taekwoon menikah, ayah mertuanya lebih sering berada di luar kota atau luar negeri mengurusi masalah perusahaan. Beberapa kali bertemu, mereka hanya membicarakan hal-hal sepele, seperti cuaca, pertandingan sepakbola Taekwoon, atau bahkan hobi masing-masing.
"Yeobo, bagaimana bisa kau percaya pada ucapan busuk anak ini?" Mrs. Jung menudingkan telunjuknya yang bercat kuku merah pada Jaehwan.
"Bukan ucapan anak ini yang busuk, tapi ucapanmu," semuanya kembali terperanjat dengan komentar pedas Mr. Jung.
"Abeoji, tenangkan diri Anda," Jinhee berusaha mendekati Mr. Jung yang sedang naik darah, tetapi justru mendapatkan tatapan tajam sebagai balasannya.
"Kau!"
"Ne?" gadis cantik itu menunjukkan ekspresi ketakutan. Niatnya untuk mengambil hati sepertinya tidak akan berhasil.
"Pertunanganmu dan Taekwoon dibatalkan."
"Apa? Bagaimana bisa Abeoji? Kami kan tinggal menentukan tanggal pernikahan dan semuanya beres."
"Tidak ada yang akan menikah dengan Taekwoon karena dia masih punya istri," tatapan Mr. Jung melembut saat ia menatap Jaehwan yang masih bergeming di tempatnya.
"Tapi, istri Taekwoon oppa kan laki-laki Abeoji. Bukankah lebih baik aku saja yang mendampingi Taekwoon oppa?" gadis berambut kecoklatan itu masih berusaha mempertahankan posisinya.
"Mau dia laki-laki atau alien sekalipun, aku tidak masalah. Yang terpenting adalah Taekwoon mencintainya."
"Yeobo, Taekwoon tidak mencintai pria ini," lagi-lagi Mrs. Jung ikut berargumen. Dia tidak mau usahanya untuk menjodohkan Taekwoon dengan Jinhee berakhir sia-sia. Sudah banyak hal yang dipertaruhkan demi pertunangan mereka berdua.
"Taekwoon lebih tidak mencintai Jinhee. Dia mau melangsungkan pertunangan itu karena kau yang memaksanya. Selama ini, kau selalu memaksakan kehendakmu padanya," di dekat dinding seberang ruang operasi, Hyuk mengangguk setuju dengan pernyataan pamannya. Kebanyakan tetua anggota keluarga mereka memang suka bertindak semena-mena dalam hal memaksakan kehendak, sama seperti kedua orang tuanya.
"Tapi, ayahmu juga melakukan hal yang sama pada Taekwoon, yeobo."
"Tidak. Ayah tidak melakukan hal yang sama. Apa kau ingat kalau Taekwoon sendiri yang meminta Jaehwan untuk menikah dengannya? Apakah kau masih ingat kalau Taekwoon ingin kita tetap mencari keberadaan Jaehwan untuknya? Apakah kau ingat kalau Taekwoon tak pernah sekali pun berhenti memandangi foto pernikahan mereka yang masih terpampang di kamarnya? Itu adalah tanda kalau Taekwoon masih mencintai Jaehwan."
Mrs. Jung menggeleng keras. Tidak. Taekwoon tidak mencintai Jaehwan. Anaknya akan segera menikah dengan Jinhee. Bukan seperti ini yang harusnya terjadi.
"Melihat tingkahmu sekarang, aku justru curiga padamu."
"Wae?" Mrs. Jung mulai panik mendengarkan pendapat akhir suaminya. Tangannya menggenggam erat ujung baju yang dikenakannya.
"Kenapa kau sangat ngotot untuk memisahkan mereka berdua? Apa jangan-jangan kau yang pernah memisahkan mereka sebelumnya?" keringat dingin membasahi dahi Mrs. Jung, padahal ruangan itu ber-AC.
Lampu operasi berubah warna menandakan operasi telah selesai dilakukan membuat sepasang suami istri yang sedang berdebat itu mengalihkan pandangan mereka, bergitu juga dengan semua orang di ruangan itu. Dokter Kim keluar ruangan sembari melepas masker yang barusan dikenakannya. Wajahnya dihiasi senyuman menambah kerutan di sekitar mata dan mulutnya.
"Selamat, operasinya berhasil."
.
.
.
Taman rumah sakit terlihat ramai. Banyak pasien dari segala usia yang memilih menghabiskan waktu luangnya untuk menghilangkan penat, walaupun sekadar jalan-jalan didampingi sanak saudara atau pun orang tercinta. Tidak terkecuali seorang anak kecil bernama Jung Taekhwan yang sibuk berlarian di lapangan bola mini di taman rumah sakit.
Dengan sigapnya anak kecil berambut hitam itu berlari menggiring bola menuju tiang gawang sambil tertawa riang. Tidak berapa lama, seorang pria jangkung mendekat ke arahnya dan berusaha merebut bola itu, tapi Taekhwan tidak mau mengalah. Mereka berkejaran dengan posisi si pria jangkung berusaha melambatkan gerakannya supaya keponakannya bisa sampai ke tempat tujuan lebih dulu.
"Ayo tendang bolanya ke gawang, Taekhwan-ah!" suara cempreng seorang pria berkulit hitam terdengar nyaring dari tepi taman. Tidak tanggung-tanggung, pria itu juga melambai-lambaikan kedua tangannya ke kanan dan kiri seolah-olah dia adalah seorang pemandu sorak. Lelaki di sampingnya hanya tersenyum sambil sesekali geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan kekasihnya.
"Aku akan merebut bolanya," seru Han Sanghyuk yang masih setia berusaha merebut bola dari kaki kecil Jung Taekhwan.
"Ambil saja kalau bisa Hyuk ahjussi, weeek," anak itu berbalik sekilas sambil menjulurkan lidahnya, memberikan Hyuk ekspresi merong dengan tujuan mengejek larinya yang lamban.
"Kau berani meledekku, Taekhwan-ah!"
Hongbin yang sudah bersedia di depan gawang justru tertawa melihat tingkah kekanakan paman dan keponakan itu. Hyuk yang berpura-pura marah dan Taekhwan yang sangat pandai menggoda pamannya merupakan pemandangan yang bisa dinikmatinya setiap hari dan tak akan pernah membuatnya bosan. Namun sialnya, karena sibuk tertawa, pria berlesung pipi itu tidak sadar kalau Taekhwan sudah menendang bolanya sekuat tenaga ke arah gawang yang dijaganya.
"GOOOOOOL," Wonshik yang sedari tadi diam saja mengamati jalannya pertandingan dan tingkah polah kekasihnya, sekarang berjingkrak-jingkrak kegirangan saat keponakannya berhasil membobol gawang Hongbin. Tak berselang lama, Hakyeon turut berpegangan tangan dengan kekasihnya dan berjingkrak-jingkrak sambil berputar-putar seperti anak kecil.
"Goool, Taekhwan hebat!" pujinya. Sedangkan Sanghyuk yang merasa dikalahkan oleh anak kecil memilih untuk berguling-guling di atas rumput.
Seolah sedang melakukan selebrasi, anak berusia lima tahun berlari mengelilingi lapangan kecil itu sembari mengangkat kedua tangannya tinggi. Saat dilihatnya pria tua sedang berjalan ke arahnya sembari tersenyum, Taekhwan langsung melompat ke dalam pelukan kakeknya.
"Haraboji, Taekhwan berhasil mencetak gol," dengan bangganya Taekhwan menceritakan prestasi kecilnya barusan.
"Eoh, harabeoji juga melihatnya barusan. Taekhwan benar-benar hebat bermain bola," Mr. Jung mengacungkan jempolnya di depan Taekhwan yang membuat anak kecil itu tersenyum lebar.
"Tapi, Taekhwan masih belum sehebat appa, Harabeoji."
"Hahaha, kalau Taekhwan mau terus belajar, nanti lama-kelamaan kemampuan Taekhwan pasti bisa seperti Appa, bahkan lebih."
"Jincha?"
"Tentu saja."
Setelah pertengkaran hebat di depan ruang operasi tiga bulan yang lalu, Mr. Jung memaksa istrinya untuk berkata jujur dengan ancaman apabila Mrs. Jung ketahuan berbohong, Mr. Jung tidak akan segan-segan melayangkan surat cerai. Mendengar ancaman yang begitu menakutkan, mau tidak mau ibu mertua jahat itu menceritakan semuanya. Apa yang sudah ia lakukan pada Jaehwan, mulai dari memaksanya bekerja keras seperti pembantu, memfitnahnya, dan mengusirnya dari kediaman Jung.
Mendengar cerita itu, Mr. Jung merasa gagal menjadi seorang suami. Dia merasa tidak becus memperhatikan kondisi keluarganya dan hanya mementingkan mencari uang. Ia tidak tahu kalau menantunya telah hidup dalam siksaan selama bersama mereka. Apa yang akan ayahnya katakan kalau saja beliau masih hidup?
"Jaehwan-ah," suara Mr. Jung terdengar lirih di dalam ruangan sepi yang hanya berisi empat orang.
"Ne, abeoji," Jaehwan menatap Mr. Jung yang terlihat tidak percaya diri dilihat dari posisi bahunya yang tidak setegap biasa.
"Aku ingin minta maaf atas semua yang terjadi padamu. Ayahku membawamu kepada kami dengan maksud baik, supaya kami menjagamu, tapi apa yang sudah kami lakukan padamu," Taekwoon yang duduk di samping Jaehwan di atas kasur rumah sakit memegang lembut tangan istrinya.
"Abeoji, Anda tidak perlu minta maaf."
Mrs. Jung yang mendengar ucapan Jaehwan langsung berkata,"Kau dengar sendiri, kan yeobo, kita tidak perlu minta maaf."
"Eomma!" kini Taekwoon yang berucap sembari melemparkan pandangan sengit ke arah ibunya. Dia sangat malu karena ibunya sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya pada Jaehwan.
"Wae?"
"Bukan appa yang harusnya minta maaf pada Jaehwan, tapi Eomma!" nada suara Taekwoon terdengar dingin dan menusuk. Jaehwan menyadari tubuh suaminya bergetar menahan marah, tapi apa yang bisa ia lakukan untuk menenangkannya?
"Kenapa harus aku?"
"Apa eomma tidak sadar kalau selama ini eomma telah menyakiti Jaehwan? Eomma yang sudah memfitnahnya berselingkuh dan mengusirnya dari rumah. Bagaimana bisa eomma melakukan hal keji seperti itu? Bahkan eomma mengusirnya dari rumah saat Jaehwan sedang hamil. Hamil, eomma. Dia sedang mengandung anakku dan kau mengusirnya," mendengar Taekwoon menjelaskan semua perbuatan jahat ibunya membuat Jaehwan sedikit tegang. Dia tidak bermaksud membuat hubungan ibu-anak antara suami dan ibu mertuanya merenggang.
"Darimana kau dengar semua itu? Pasti si jalang ini yang telah memberitahukanmu cerita versi palsu ini," Mrs. Jung menatap nyalang pada Jaehwan yang hanya bisa menunduk.
"Hentikan eomma! Jangan pernah memanggilnya dengan sebutan itu lagi!" Taekwoon bangkit dari duduknya membuat Jaehwan menatap panik suaminya yang seperti sudah kehilangan kesabaran. Sedangkan Mr. Jung menunggu dengan tenang di samping istrinya. Ia ingin tahu kebohongan macam apa lagi yang akan dikarang istrinya.
"Kenyataannya dia memang jalang, Taekwoon-ah. Bagaimana kau masih membelanya? Apakah foto-foto itu tak cukup membuatmu percaya dengan kelakuan binalnya? Dan anak itu, apakah kau percaya kalau dia anakmu? Siapa tahu dia punya anak dengan banyak pria lain," sakit sekali rasanya mendengarkan tuduhan tidak beralasan yang dilontarkan ibunya pada istrinya. Pantas saja Jaehwan membencinya. Pantas saja dia tidak ingin Taekhwan berada dekat dengan ayahnya.
Mr. Jung yang sudah mulai gerah mendengar ocehan istrinya dengan tenang berdehem,"Yeobo, aku tidak tahu kalau kau masih berusaha memfitnah Jaehwan walaupun semua buktinya sudah jelas. Dan yang jelas, Taekhwan sudah terbukti 100% anak Taekwoon."
"Mana buktinya?"
"Aku yakin kau orang yang pintar Yeobo, tentu kau tahu kalau transplantasi hanya bisa dilakukan apabila donor dan reseptor memiliki hubungan darah atau terdapat kecocokan organ."
Mrs. Jung terdiam mendengarkan penjelasan suaminya. Betapa bodohnya dia melupakan fakta kecil itu. Sekarang Taekwoon pasti benar-benar membencinya.
"Kalau Eomma memang tidak mau minta maaf, jangan harap aku akan memaafkan kesalahan eomma," perempuan paruh baya itu terbelalak mendengar pernyataan sang atlet. "Dan satu hal lagi, eomma bisa melupakan pernah punya anak bernama Jung Taekwoon."
.
.
.
Butiran salju menutupi permukaan bumi, memutihkan semua permukaan yang bisa dijangkau. Berbagai macam hiasan natal mulai terlihat di berbagai sudut kota, pusat perbelanjaan, kafe dan restoran, juga berbagai macam tempat umum lainnya. Walaupun suhu udara sedang berada di minus derajat celcius, tetapi hal ini tidak menyurutkan animo sebagian besar warga Korea Selatan, terutama Seoul, untuk berjalan-jalan menghabiskan malam natal dengan orang terkasih mereka.
"Ahjussi, biar Taekhwan saja yang memasangnya," tangan kecil Jung Taekhwan terulur untuk meraih hiasan bintang untuk dipasangkan pada puncak pohon natal yang sedang dirangkai di kediaman Jung. Ya, kediaman Jung yang ini hanya dihuni oleh tiga orang, Jung Taekwoon, Jung Jaehwan, dan Jung Taekhwan.
Hyuk menjulurkan hiasan bintang itu membuat Taekhwan semakin bersemangat dan melompat-lompat di tempat bersiap menerima benda yang seolah adalah piala kejuaraan. Namun, sebelum benda itu sempat menyentuh tangan kecil Taekhwan, Hyuk menariknya kembali.
"Ahjussi waeyo?" bibir mungil itu mengerucut kecewa dengan tindakan paman favoritnya.
"Taekhwan kan masih kecil, mana sampai memasangkan bintang ini di puncak," dasar Hyuk, masih saja menggoda anak kecil.
"Kan ahjussi bisa menggendong Taekhwan."
"Eiyyy mana bisa seperti itu! Tunggu saja sampai Taekhwan dewasa untuk memasang hiasan ini sendiri ya," kali ini Hyuk menjulurkan lidahnya semakin membuat si kecil emosi.
PLETAK
"Aw, hyung! Kenapa memukulku?" Hyuk menatap Hongbin yang menatapnya galak.
"Kau ini sudah besar Han Sanghyuk. Bagaimana bisa kau masih bersikap kekanakan seperti ini?" Sanghyuk hanya manyun menanggapi perkataan kekasihnya itu.
Kim Wonshik yang kebetulan berada di dekat mereka segera merampas hiasan bintang di tangan Hyuk tanpa perlawanan dan menyerahkannya pada Taekhwan. Anak itu sangat senang melihat benda berkilap itu sudah ada di genggamannya. Sang pengacara berlutut dan mengangkat tubuh mungil Taekhwan hingga sejajar dengan puncak pohon natal yang sedang mereka hias.
"Ayo letakkan bintangnya di puncak, Taekhwan-ah!" ujar Wonshik.
"Eung," balas Taekhwan dengan riang. Tangan kecilnya kembali terulur ke arah puncak pohon natal dan dengan hati-hati meletakkan hiasan bintang itu di tempatnya.
"Yey, sekarang pohon natalnya sudah selesai," seru Hakyeon yang muncul dari dapur.
"Gomawo Wonsungi ahjussi. Wonsungi ahjussi memang yang paling baik," ucap Taekhwan saat kakinya kembali menapak tanah.
Sang pengacara hanya menunjukkan ekspresi bete mendengar keponakan yang telah dibantunya masih saja memanggilnya Wonsungi ahjussi. Hello, dia bukan monyet ya. Berkebalikan sekali dengan ekspresi Hongbin dan Hyuk yang tanpa tedeng aling-aling tertawa keras. Walaupun mereka sudah berkali-kali mendengar keponakan kecilnya memanggil Wonshik dengan panggilan itu, tetap saja mereka tertawa.
"Hyung, bisakah kau ajari Taekhwan memanggil namaku dengan benar? Aku kan bukan monyet," keluh Wonshik pada Taekwoon yang datang membawa sebuah kotak besar berisi puluhan kado yang terbungkus rapi dan menatanya di dekat perapian.
"Dia memanggilmu begitu karena suka padamu Wonshik-ah," dengan entengnya Taekwoon menjawab permintaan sang pengacara yang semakin menunjukkan ekspresi bete. Hakyeon memeluk Wonshik dari belakang dan berkata,"Baby, Taekhwan kan masih kecil. Biarkan saja."
"Bagaimana mau dibiarkan saja. Apa kau mau pacaran dengan monyet?"
"Kalau monyetnya seseksi dirimu, aku tak keberatan," Hakyeon semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar kekasihnya. Duo maknae menunjukkan ekspresi ingin muntah mendengarkan kata-kata cheesy hyungnya.
"Seksi? Seksi itu apa artinya Appa?" si kecil menanyakan kata asing yang baru pernah didengarnya kepada Taekwoon, sedangkan sang appa hanya melongo.
"Yah, siapa yang mengajari anakku kata-kata itu?" Jaehwan yang kebetulan sudah selesai menyiapkan makan malam langsung berlari dari dapur mendengar pertanyaan polos Taekhwan. Tangannya teracung tinggi bersiap memukul siapapun yang telah merusak kepolosan anak semata wayangnya.
Taekwoon yang mendapati tatapan maut istrinya tanpa kata langsung menunjuk pria berkulit hitam yang masih menempel erat seperti koala pada tubuh kekasihnya. Mendapati semua mata sedang menatapnya, Hakyeon melepaskan kaitan tangannya di tubuh Wonshik perlahan. Memang Jaehwan orang yang baik, tapi kalau sudah menyangkut urusan Taekhwan, dia tidak ingin membuat sahabatnya marah.
"Hehehe, mian Jaehwan-ah," Hakyeon menggaruk lehernya karena gugup.
Jung Jaehwan geleng-geleng melihat kelakuan absurd sahabatnya yang bisa saja menular pada anaknya. Pasti akan gawat kalau Taekhwan tumbuh dengan pengaruh Hakyeon yang besar. Bisa-bisa anaknya jadi mesum.
"Eomma, memangnya seksi artinya apa?" anak kecil itu tidak tahu kalau ibunya baru saja hendak melemparkan barang terdekat kepada ahjussi-nya yang tanpa sengaja telah mencemari otak polosnya dengan kata-kata yang belum saatnya diketahui anak kecil.
Masih salah tingkah, Hakyeon senyum-senyum tidak jelas. Begitu juga dengan Wonshik yang melihat kekasihnya bertingkah aneh justru mendesah pelan. Bagaimana bisa pembahasan dari monyet menjadi seksi? Darimana nyambungnya? Ah sudahlah.
"Sayang, belum saatnya kamu tahu arti kata itu. Cuma orang besar yang boleh tahu artinya," dengan tenang Jaehwan berlutut di dekat anaknya. Mata besar Taekhwan menunjukkan sinar kepolosan, sedangkan kepalanya mengangguk sambil menggumamkan,"O... begitu."
TING TONG
"Ada tamu," Hongbin yang kebetulan berdiri paling dekat dengan pintu masuk beranjak untuk membuka pintu.
Dua orang yang sudah menjadi bagian dari keluarga ini memasuki ruangan dengan senyuman lebar. Seorang yang beralis tebal merentangkan lengannya sembari memanggil si kecil,"Taekhwan-ah, Taec-ie ahjussi datang."
Taekhwan langsung memutar kepala dan mendapati ahjussi-nya yang paling loyal, karena selalu memberikan berbagai macam hadiah walaupun ia sedang tidak ulang tahun. Dengan segera putra semata wayang pasangan Jung itu berlari dan melompat ke dalam pelukan sang CEO.
"Taec ahjussi, kenapa baru datang?"
"Ahjussi baru saja pulang dari rumah sakit, sayang," mendengar kata rumah sakit, semua orang di ruangan itu mengalihkan perhatian mereka dari kegiatan masing-masing. Yah, bisa dibilang mereka sedikit trauma dengan yang namanya rumah sakit.
"Siapa yang sakit ahjussi?" dengan polosnya Taekhwan bertanya sambil memandang wajah Taecyeon dan Chansung bergantian,"Taec-ie ahjussi atau Chan ahjusssi?"
"Yang sakit Chansung ahjussi, sayang," ujar sang CEO sembari memindahkan tubuh mungil Taekhwan ke salah satu lengannya, sedangkan tangan bebasnya meraih pinggang belahan hatinya supaya mendekat.
"Kok Chan ahjussi ada di sini kalau sakit?" sekarang mata bulat Taekhwan fokus pada Chansung yang tanpa terasa sudah memerah pipinya.
"Ahjussi tidak sakit parah, sayang. Oya, ahjussi ingin tanya sama Taekhwan, boleh tidak?" ujar sang model sambil memegang salah satu tangan kecil keponakan kesayangannya.
"Tentu boleh ahjussi."
"Kalau Taekhwan punya adik kecil untuk diajak bermain, Taekhwan senang apa tidak?"
"Adik?" Chansung menggangguk,"Tentu saja."
"Hyung, jangan bilang kalau Chansung hyung sedang -," belum selesai bertanya, Jaehwan sudah mendapati senyum lebar terkembang di wajah Taecyeon dan Chansung. Sebuah keajaiban telah terjadi, apa yang mereka berdua dambakan selama ini akhirnya menjadi kenyataan.
Jaehwan, Hakyeon, dan Hyuk segera berlari dan memeluk tubuh bongsor Chansung saking bahagianya sembari terus-menerus mengucapkan selamat. Taekwoon berjalan santai ke arah kakak kelasnya dan menepuk pundak pria itu sembari memberikan senyuman yang jarang ditunjukkannya pada umum serta sebuah acungan jempol.
"Selamat hyung."
Wonshik dan Hongbin menatap mereka semua dengan perasaan bahagia. Inilah keluarga mereka, yang walaupun tidak terikat darah, tetapi terasa hangat dan saling mendukung.
"Asyik, Taekhwan akan punya adik! Eomma, kenapa eomma dan appa tidak membuat adik lagi supaya adik Taekhwan bertambah banyak," Jaehwan dan Taekwoon membeku mendengar permintaan anak mereka. Sepertinya ini pengaruh Hakyeon yang melekat pada Taekhwan.
Tak berhenti di situ. Beberapa saat kemudian, Jung Taekhwan kembali bertanya,"Wonshik ahjussi dan Hakyeon ahjussi juga kenapa tidak membuat adik untuk Taekhwan?"
Ah, sepertinya ini bukan pengaruh Hakyeon, lebih tepatnya pengaruh devilnya Han Sanghyuk. Terbukti sekarang pria itu sedang tertawa mendengar permintaan polos keponakannya, sedangkan Hongbin bergerak secepat kilat untuk menjitak kepala sang maknae.
END
Gomawo buat semua keo shipper yang udah nyempetin baca ff ini. Ya, walaupun gaje, setidaknya ff ini bisa mengobati rasa kangen sama VIXX. Ini chapter terakhir bertepatan dengan kambeknya abang2 VIXX.. readerdeul udah donlod MP3-nya? Atau bahkan beli albumnya? Oke deh sekian cuap2 buat ff ini, semoga kita ketemu di ff selanjutnya.. annyeong starlight!
