Chapter XV
"Love Nest"
.
.
Baekhyun tak sempat menghitung berapa lembar tissue yang ia habiskan untuk mengelap peluhnya. Malam kian larut namun ia dan beserta seluruh member bahkan masih sibuk di tempat latihan dance. Kini mereka memasuki masa latihan untuk persiapan comeback, biasanya akan memakan waktu dua hingga tiga bulan untuk memenuhi jadwal dengan latihan dan acara off air rutin sembari menunggu full album mereka dapat dipasarkan. Dan di tengah kegiatannya yang begitu menguras tenaga, Baekhyun tahu sebaiknya ia mencegah pandangannya tertuju pada rapper grupnya, yang entah kenapa kini terlihat semakin luar biasa tampan dan seksi, dengan kaus hitam tanpa lengan yang di sekitar lehernya basah karena keringat, dan rambut coklat gelap yang kini telah basah pula.
Hampir sekitar pukul tiga pagi, mereka semua berhasil menapakkan kaki kembali di dorm mereka yang hangat. Jongdae yang pertama masuk, dengan setengah menggerutu karena bungkus bekas makanan ringan tergeletak sana sini yang membuatnya mengomel karena menurutnya dialah yang pada akhirnya harus bekerja ekstra untuk merapikannya lagi, kemudian Suho menepuk-nepuk pundaknya agar ia tak meneruskan gerutuannya sehingga ketenangan dorm tak terusik "Sudah-sudah, nanti aku bantu bersihkan." si leader terdengar bergumam, beberapa saat kemudian muncullah Sehun yang sepertinya sudah lunglai dan memilih diam dan menuju sofa untuk mengistirahatkan badan, "Sehun-ah, tidurlah di kamarmu sendiri." lagi-lagi Suho berujar dengan nada leadernya, dan yang terakhir terlihat memasuki ruangan adalah Baekhyun, dengan tangan kanan bertengger di pinggul, ia berjalan terseok seakan hidupnya tersisa tinggal malam ini. "Yak! Chanyeol-ah! Malam ini biarkan Baekhyun istirahat dulu, awas saja kalau nanti kudengar Baekhyun menjerit-jerit lagi yah, kupotong punyamu nanti!" Suho kali ini tidak terdengar main-main, ia bahkan mengacungkan pisau dapur milik Kyungsoo yang nampaknya tertingal di meja bekas untuk mengupas apel kemarin.
"Aku inginnya juga seperti itu, tapi kalau Baekhyun yang minta, bagaimana?" Chanyeol menjawab asal, membuat Baekhyun yang sebenarnya ingin berhenti sejenak untuk menjawab terpaksa kabur, ia berjalan cepat menuju kamarnya, dan Chanyeol yang terlihat tersenyum santai mengikutinya dari belakang.
"Dasar pasangan sama-sama mesum." Suho menyahut, ia alihkan pandangan kembali ke sofa, nampaknya tubuhnya juga perlu diistirahatkan, tak peduli Baekhyun yang menjerit atau bahkan ranjang mereka akan jebol malam ini, nampaknya Suho tak perlu khawatir karena sudah pasti ia tidak akan dengar karena matanya sudah luar biasa mengantuk dan badannya luar biasa capek.
.
"Suho hyung benar, sepertinya aku mau tidur saja, aku lelah." Baekhyun bergumam begitu pintu di belakangnya terdengar tertutup sempurna, kemudian terdengar suara kunci diputar.
"Iya memang kita harus tidur, memang apa yang kau pikirkan?" Chanyeol terkesan menggoda, memancing wajah muram dan cemberut kekasihnya. "Aku bercanda, sayang…" kekeh Chanyeol kemudian. Kakinya kini refleks menuju ranjang miliknya, dimana sudah ada Baekhyun menunggu. Sudah dua minggu ini mereka sepakat untuk selalu menggunakan ranjang Chanyeol untuk tidur, untuk bersinggah, dan bercinta tiap kali mereka ada kesempatan.
Baekhyun masih mengerucutkan bibir, namun sekian detik kemudian segera menghilang karena Chanyeol sudah memeluknya dan memanjakan lehernya dengan kecupan-kecupan yang memang selalu Chanyeol lakukan setiap kali mereka memasuki kamar, Baekhyun dengan senang hati memiringkan kepala, mendongak, ia usap kepala Chanyeol yang kini merambah turun mengikuti lekuk lehernya, ia menghindari kulit-kulit yang biasa terkespos, menggigit dan menyesap kuat hanya pada bagian yang tertutup, tak ingin menimbulkan opini-opini netizen, atau sekedar pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan orang-orang sekitar, Chanyeol ingin semuanya berjalan aman seperti yang ia inginkan, ia tidak ingin mengumbar hubungannya dengan Baekhyun, baginya seperti ini saja sudah cukup, asalkan mereka berdua sama-sama bahagia.
Chanyeol masih asik dengan kegiatannya, kini kekasihnya sudah bertelanjang dada, kaus lengan pendek yang ia kenakan sudah Chanyeol buang entah kemana, dan kini kepalanya masih tetap setiap bertengger di dada kiri Baekhyun, menyesap puting dengan satu tangan meremas dada yang satunya, Chanyeol mengikuti pergerakan Baekhyun yang awalnya duduk bersandar kemudian berbaring, benar-benar seperti anak balita tengah menyusu, Chanyeol bahkan tak peduli telah membuat dada kekasinya basah karena liurnya.
"Chanh… Pelan… Uhhh…" lagi Baekhyun mengerang, mungkin untuk ke delapan atau sembilan kali, ia menahan kepala Chanyeol dengan menekan keningnya dengan telapak tangan, namun sia-sia karena Chanyeol justru merambah turun, mengecupi perut dan menemukan pusarnya, mulai menjulat-jilat area sana, Baekhyun tak tahan untuk tak menggeliat, ia remas kepala Chanyeol dan kakinya otomatis menjepit tubuh yang berada di antara selangkanya. "Chanhhh—"
Bukan Chanyeol namanya jika ia terhenti hanya karena desahan manja Baekhyun, justru ia malah menjadi-jadi, kini gundukan di selangka Baekhyun semakin mencuat, dan Chanyeol sudah hafal betul bagaimana sifat kekasihnya itu, sebentar lagi ia akan mengerang, menyesakkan kepalanya ke area vitalnya, lalu melenguh manja, kemudian memaksa Chanyeol agar menurunkan celananya. Ini bukanlah aneh, semenjak pulang dari Jepang mereka tak melewatkan malam mereka tanpa bercinta, dari mulai foreplay, handjob, sekedar membuat pasangan masing-masing klimaks, hingga bercinta jika mereka tak ada jadwal melelahkan esok harinya.
"Kau ingin lanjutkan, atau tidur?" Chanyeol bertanya tiba-tiba, kepalanya mendongak, meskipun tangannya bergerak mengkhianati kata-kata yang baru ia lontarkan, mengusap celana Baekhyun perlahan.
"Park Chanyeol kau memang sialan." geram Baekhyun.
"Aku ingin lanjutkan tapi tak mungkin kalau aku tak memasukimu, kalau kumasuki kita butuh waktu paling tidak satu jam." Chanyeol memutar pergelangan tangannya, mengintip arloji yang menunjukkan waktu pukul tiga lebih lima belas menit. "Dan kita ada jadwal pukul sembilan pagi."
"Setidaknya ada waktu empat jam untuk tidur, tak apa."
"Tidak, kau butuh istirahat dan tidur."
"Chanyeol-ah… Kita hanya melakukannya dengan benar tak lebih dari lima kali, sisanya kita selalu terburu atau terganggu dengan teriakan Suho hyung." gerutu Baekhyun.
"Jadi kau menghitung setiap kali kita bercinta?" goda si jangkung, ia naikkan satu alisnya. "Kalau sudah keseratus bolehkah aku mendapat bonus?"
"Kau gila." si mungil menyeringai.
"Karenamu." Chanyeol menjawab. Ia merangkak menaikkan badannya hingga kepalanya sejajar dengan kekasihnya, kemudian perlahan mengecup ujung hidung Baekhyun sebelum memilih menidurkan badan ke samping dan menghadap wajah Baekhyun yang terlihat sudah tersenyum manis. Lengannya seperti biasa melingkar di pinggang kekasihnya, wajah mereka mendekat sampai satu sama lain bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Ia rasakan pula satu tangan Baekhyun meraih bahunya, merekapun memilih menutup mata, menikmati kebersamaan dengan tenang.
"Chanyeol-ah?"
"Hm?"
"Bagaimana ini?"
"Bagaimana apanya?"
"Kurasa aku benar-benar jatuh cinta sekarang. Bagaimana ini?"
Chanyeol terkekeh, sungguh manis mendengar apapun yang Baekhyun katakan, tak hanya pintar menyanyi, kekasihnya ini memang pintar merangkai kata. "Memang dulu-dulu kau tidak cinta?"
"Cinta, tapi tidak sebesar ini…" tanpa melihatpun Chanyeol bisa menerawang bagaimana Baekhyun berujar dengan mengerucutkan bibir sekarang ini. "Chanyeol-ah?"
"Hm?"
"Apa aku egois kalau aku ingin terus seperti ini, bersamamu."
"Kalau begitu kau harus mengataiku egois dari dulu. Aku sudah merasakannya dari pertama kita bertemu, ingin terus bersamamu."
"Dasar gombal."
"Aku serius Baekhyunee."
Namanya dilantunkan dengan suara berat namun mengalun manja, membuat Baekhyun terkekeh, ia turunkan tangannya yang sebelumnya di bahu Chanyeol menuju dada, mengusapnya sekali sebelum ujung jari telunjuknya membuat pola acak yang tergesek lembut di permukaan kaos yang Chanyeol kenakan. "Apa kau juga mencintaiku?"
Chanyeol tak langsung menjawab, nampaknya ada sesuatu yang melintas di kepalanya sebelum mulutnya berhasil terbuka. "Aku bahkan sudah mengucapkannya dua kali lebih banyak daripada bagian lirik rap-ku di album kita nanti."
"Berarti itu sedikit."
"Benarkah? Coba kau hitung, dalam satu lagu part rapku ada sepuluh kalimat, list lagu kita ada sebelas minus intro, berarti sebelas kali sepuluh, totalnya seratus sepuluh kalimat, dan kata cintaku untukmu dua kali lipatnya, bisa bayangkan banyaknya kan?"
"Fine." Baekhyun menyerah, nampaknya ia tak boleh berbangga dengan kemampuan bermain katanya, karena disini ada seseorang yang bahkan sudah setingkat di atasnya.
Mendengar Baekhyun dengan nada seperti itu Chanyeol buru-buru mengeluarkan tawa pelannya, sembari mengeratkan pelukan, ia kecup ujung kepala Baekhyun sekali kemudian bergumam. "Jujur saja aku banyak mendapat inspirasi lirik lagu… Sepertinya mood-ku yang baik membuatku ingin menulis lirik cinta sebanyak-banyaknya."
Baekhyun terdengar bernafas lega, mungkin tersenyum, dan jemarinya yang bermain-main di dada kini mulai merambah naik, melingkar di leher Chanyeol. "Kalau aku menemani, apakah liriknya akan menjadi lebih bagus?"
Pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol membuka mata, ia menunduk memandang Baekhyun yang juga sudah mendongak menatapnya dengan mata berbinar. "Akhir minggu ini kalau kau mau kau bisa menemaniku."
"Benarkah?" pekikan bahagia Baekhyun tak bisa disembunyikan lagi. "Dimana? Apartemenmu?"
"Hu um. Kau ada jadwal kan?"
"Iya, belum tahu sampai jam berapa, semoga tidak terlalu malam."
"Aku akan berada di apartemen dari jam delapan malam, kau bisa menyusul."
"Umm… Tapi kalau ternyata aku datang duluan, bagaimana?"
"Nanti kuberitahu passcode apartemenku."
Baekhyun menggigit bibir dalamnya, entah kenapa setiap kali Chanyeol menjawab pertanyaannya dengan nada bicara serius dan dewasa seperti ini seperti ini selalu membuat hatinya berbunga-bunga, terlebih Chanyeol akan memberikan satu lagi hal yang bisa disebut rahasia miliknya, membuat Baekhyun dua kali lipat lebih bahagia.
"Tak apa memberitahuku?"
"Kenapa tidak? Kau kan kekasihku."
Baekhyun lagi-lagi tersipu. ia benamkan wajahnya di dada kekasihnya. "Terimakasih…" ujarnya tulus.
.
.
"Chanyeol mengirimiku emote mencium." Minseok berujar tiba-tiba, sesaat setelah ia melahap sesendok es krim sembari mengganti chanel tv, ia terkikik pelan begitu Baekhyun menoleh ke arahnya dengan wajah datar. "Tenang… tenang… Dia mengirim juga tiga emote cium dan dua emote peluk untukmu, nih." Minseok menunjukkan ponselnya, yang dibalas dengan wajah agak terganggu dari Baekhyun. Yang lebih tua balas terkekeh, kemudian ia dekati Baekhyun yang juga masih sibuk dengan sekotak es krimnya. "Baekhyun-ah, hari ini apakah Chanyeol sibuk?"
"Sepertinya hanya shooting iklan, hanya saja dia tidak pulang ke dorm, dia langsung pulang ke apartemen."
"Oh… Yah… Jadi weekend ini dia meninggalkanmu sendirian?"
Baekhyun melirik, ia menyendok lagi es krim strawberry-nya sebelum menjawab. "Aku akan menyusulnya nanti."
"Wah…." bisa Baekhyun lihat kali ini Minseok benar-benar berwajah bahagia, membuat Baekhyun ikutan tersenyum. "Kalau ke apartemen Chanyeol jangan lupa pasang alarm ponselmu. Jangan lupa isi baterainya juga, jangan sampai lupa waktu. Besok kalian tidak ada jadwal?"
"Aku ada sih, tapi siang. Kalau Chanyeol sepertinya tidak ada tapi dia harus bersiap-siap ke airport sore hari, dia harus ke jeju untuk launching produk iklan."
"Oh… kalau begitu bisa langsung dari apartemen menuju airport kan?"
"Iya, sepertinya akan begitu." Baekhyun kembali mengambil satu suapan es krim, ia menoleh milik Minseok yang berbeda rasa, pisang-coklat, ia melirik Minseok sebelum mencuri satu suapan dari hyungnya itu, Minseok hanya tersenyum kemudian balas mengambil satu sendok dari milik Baekhyun.
"Setelah jadwal berarti kau langsung ke apartemen Chanyeol? Atau pulang dulu? Ada yang mengantar?"
"Yang jelas aku tidak bisa minta antar manager-hyung, dia terlalu sibuk, mungkin aku akan naik taksi saja. Lagipula aku tak ingin berniat memberitahunya, kalau dia bertanya bilang saja aku menginap di rumah temanku."
"Yah, tidak usah menjelaskan juga manager hyung pasti mengerti, kalau kuberitahu kau bersama Chanyeol pasti dia tidak akan khawatir. Tenang saja."
"Tapi kan kali ini…" Baekhyun menjilat sisa es krim yang menempel di sendoknya, kemudian menaruh kotak es krim yang sudah kosong di meja. "Kau tahu sendiri hyung, sesantai apapun manager hyung dia pasti sedikit terbebani karena kami, aku kadang-kadang jadi merasa tidak enak."
"Sudahlah… Dibawa santai saja, yang jelas kan kau tidak membuat onar, kalau masalah dengan manager-nim nanti aku bantu bilang." Rasanya tenang mendengar perkataan Minseok, Baekhyun tak bisa berkata apa-apa lagi selain menunjukkan senyum.
"Terimakasih hyung…"
"Sudahlah, kau ini…"
"Hyung, aku jujur saja punya banyak kekhawatiran. Seandainya selain member dan manager ada yang tahu tentang hubunganku dengan Chanyeol, seandainya ada yang memberitakan macam-macam, kadang-kadang aku merasa takut, sedikit cemas akan ada hal buruk terjadi. Tapi senang rasanya aku punya member seperti kalian, kau juga hyung, selalu membantuku, membuat bebanku berkurang."
Minseok tersenyum, ia usap punggung dongsaengnya pelan. "Kalau ada yang menanyai kujawab saja kalian memang berkencan, dan mungkin akan menikah, dengan bersenda gurau, pasti mereka tidak akan bertanya-tanya lagi. Kau tidak usah khawatir, pikirkan saja yang lain, menyicil rumah misalnya, siapa tahu kau akan menghuninya dengan Chanyeol nanti? Kan bisa jadi."
Baekhyun tersenyum malu, membayangkannya saja membuatnya merasa geli. "Dia sudah kaya, pasti bisa membelinya cash tidak perlu menyicil."
"OOooooh…." Minseok melolong seperti serigala, tangannya mencolek-colek lengan Baekhyun. "Memang kau sudah dibelikan apa saja hm?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Hanya beberapa barang. Sisanya mungkin setara dengan se-truk makanan."
"Serius?"
"Hu-um." Baekhyun mengangguk mantap.
"Mungkin dia menyimpan yang lebih besar untuk nanti."
"Hyung…" suara Baekhyun merendah, ia tahu Minseok hanya sekedar bercanda, namun tak bisa dipungkiri kini perasannya mulai terpancing, perkataan Minseok membuatnya mulai berekspektasi lebih tinggi. "Tidak ah, lagipula untuk apa dia memberiku barang mahal, memang aku siapa?"
"Kau ini kekasihnya." Minseok menekankan pada kata 'kekasih' membuat jantung Baekhyun berdenyut aneh. "Dan kau tidak tahu Chanyeol? Bahkan dengan orang asing dia berbuat luar biasa baiknya, apalagi dengan kekasihnya? Kupikir dia akan melakukan apa saja, dan memberikan apapun untukmu. Tunggu saja."
"Hyung… Kau melihatnya terlalu tinggi."
"Benarkah?" Minseok mengangkat satu alis. "Coba deh sekarang kutanyai apa yang belum dia lakukan untukmu?"
Kalimat Minseok benar, Baekhyun hendak menjawab, namun lidahnya seakan kaku, otaknya berpikir keras namun tak menemukan satu jawabanpun. Memang benar, selama ini apapun Chanyeol sudah lakukan untuknya.
"Omong-omong soal beri memberi, kau sudah memikirkan sesuatu untuk kau berikan padanya?" Baekhyun mengangkat alis. "Bulan depan ulang tahunnya kan? Jangan bilang kau cuma menyiapkan tubuhmu di atas ranjang." perkataan Minseok membuahkan tinju di lengan, ia terkekeh pelan, justru tidak menanggapi wajah malas Baekhyun. "Aku benar kan? Chanyeol mempunyai banyak energi, dia suka latihan, bergerak, dan kau suka bermalasan dan tidur pasrah, sudah kalian memang cocok."
"Hyung, ini sudah terik dan aku tidak ingin mengajakmu bertengkar di jalanan depan."
"Haha, bertengkar saja dengan Chanyeol di kamar, dia pasti suka."
"Hyung…"
"Ok, fine. Maaf yah, aku terlalu sering bergaul dengan Sehun sepertinya, jadi aku tertular." Minseok lagi menyendoki sisa-sisa es krimnya, ia lirik dongsaengnya yang kini membuang pandangan ke subjek lain, nampaknya sedang memikirkan apa yang baru ia katakan barusan. "Hm, memang sudah siang ya, kau tidak bersiap-siap? Pukul berapa kau harus berangkat?"
"Satu jam lagi."
"Oke… Kabari aku kalau kau sudah sampai apartemen Chanyeol ya."
"Baiklah…"
"Jangan lupa ponselmu yah, pastikan aktif, kubangunkan besok lewat telepon, bilangi Chanyeol jangan asal membuang ponsel lagi."
"Iya, hyung…."
.
.
Baekhyun sebenarnya tak ingin tampak kegirangan saat satu notifikasi di ponselnya menunjukkan nama kekasihnya. Namun sedatar apapun wajah yang ia pasang, tetap saja senyumnya tak bisa disembunyikan, ujung bibirnya otomatis tertarik ke atas, dan ia dengan tak sabar segera mengusap layar, ia kemudian bergumam sendiri sambil mengangguk-angguk, delapan digit angka tertera di layarnya, dengan cepat ia simpan di notes pribadinya sebelum menjawab chat dengan emote peluk yang entah kenapa memang menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Maaf, apa kau, adalah penyanyi yang sering muncul di televisi?" sopir taksi berusia kira-kira paruh baya menanyai, nampaknya sedari tadi ia memperhatikan Baekhyun dari kaca spion.
"Oh, ya, pak…" Baekhyun berujar, saking asyiknya dengan ponsel bahkan ia lupa memasang masker, ia sempat takut, berdoa dalam hati semoga bapak satu ini bukan serigala berbulu domba, yang nampaknya baik namun tahu-tahu menodong di tengah jalan atau semacamnya.
"Aku mempunyai anak perempuan yang masih sekolah, setiap hari setelah pulang dia selalu saja menonton penyanyi-penyanyi di komputernya hingga larut malam, dinding kamarnya juga dipenuhi poster-poster penyanyi." si bapak membuat jeda. "Makanya aku seperti tak asing melihatmu, sepertinya fotomu ada di salah satu dinding kamar anakku."
Baekhyun terkekeh, ia mengangguk beberapa kali sembari tersenyum.
"Yah, anak muda zaman sekarang. Tapi kau terlihat tak jauh berbeda dari foto, kau sangat tampan, dan sopan."
"Ah… Terimakasih pak…."
"Seandainya anakku bisa melihatmu pasti sekarang dia sangat senang. Pasti dia nanti akan berteriak-teriak kalau aku ceritakan aku habis mengantar salah satu penyanyi yang dia suka. Dia pasti iri sekali padaku."
Baekhyun tersenyum, ia menyimpan ponselnya kemudian melihat isi goodie bag nya untuk mencari secarik kertas. "Siapa nama anak bapak?"
"Hm?"
"Yah, supaya dia tidak terlalu iri, barangkali aku bisa memberikan tanda tangan untuknya…"
"Oh… iya, iya, terimakasih banyak. Namanya Ye eun, Park Ye eun."
"Park Ye eun? Baiklah…" Baekhyun akhirnya menggoreskan tanda-tangannya, menambahi dengan kata 'Fighting' dan gambar kelinci lucu di atasnya. "Ini pak…" ujarnya kepada si bapak yang kini tersenyum lebar.
.
.
Yiruma adalah satu-satunya yang terlintas di kepala Chanyeol saat otaknya sedang kosong dan hanya ada piano di hadapannya, lagi ia menekan-nekan nada yang membuat alunan lagu Yiruma, MQ hyung yang ada di sampingnya tersenyum lagi, sambil menaruh kertas penuh coretan yang sedari tadi dipandangnya. Hari ini ia menghabiskan waktu di studio Chanyeol, seperti biasanya saat weekend dan tak ada kesibukan ia selalu mampir, setidaknya akan menghasilkan dua atau tiga baris lirik, empat baris jika ia dan Chanyeol sedang mempunyai mood baik dan feeling yang bagus.
"Kau sudah coba mix lagu yang terakhir kita buat?" MQ hyung bertanya, memutar kursi dan menahannya saat ia menghadap dongsaeng yang kini dengan hoodie hitam dan celana pendek tampak menekan-nekan tuts piano acak.
"Sudah… Tapi belum pas, kurasa ada yang kurang, aku mau menambahi di bagian reff kedua."
"Um. Kalau kau buat di reff pertama juga nampaknya bagus."
"Bagaimana kalau kita dengar versi lain saja dulu?"
"Kau membuat versi lain lagi?"
"Ya. RnB terdengar biasa, kuberi sedikit klasik di akhir, hasilnya bagus."
"Coba aku mau dengar."
Chanyeol hendak mengetik sesuatu di keyboard namun suara pintu terbuka membuat dia dan MQ hyung sontak menoleh, dan mendapati Baekhyun berdiri dengan ekspresi awalnya tersenyum kemudian sedikit kaget, lalu tersenyum lagi saat pandangannya tertuju pada MQ hyung.
"O-oh, hyung, hai…" Baekhyun agak terbata, ia tersenyum sambil berjalan memasuki studio, kemudian pandangannya tertuju pada Chanyeol yang sudah berdiri dan berjalan ke arahnya.
"Oh, hai Baekhyun-ah…" MQ hyung ikutan berdiri, senyumnya canggung, namun sesegera mungkin ia tertawa, rasanya aneh saja, dulu-dulu biasanya dia asik saja kalaupun member se-grup Chnayeol datang, tapi entah kenapa kali ini dengan datangnya Baekhyun ia merasa bahwa keberadaannya sedikit mengganggu. "Uh… Aku sampai terkejut, kukira ada penyusup atau apa." MQ hyung terkekeh, ia melihat bagaimana Chanyeol membantu Baekhyun membawakan goodie bag dan kantung plastik yang sepertinya berisi makanan, kemudian menaruhnya di sofa. "Kau masuk sendiri? Kau tahu passcodenya?"
"Ya tahu-lah hyung." justru Chanyeol yang menjawab, ia lingkarkan tangannya ke bahu Baekhyun yang sedari tadi mematung, hanya menengok ke kanan kiri bergantian melihat MQ hyung dan Chanyeol yang berbicara.
"Fine… Aku mengerti kok… Lagipula ini kan weekend yah…" nada bicara MQ seakan menggoda, ia melirik Chanyeol kemudian tersenyum pada Baekhyun. "Kita teruskan lain kali yah, aku mau pulang saja deh." MQ hyung segera membereskan barangnya, kemudian berjalan menuju pintu yang kemudian diikuti Chanyeol.
"Aku antar MQ hyung dulu yah." MQ jelas mendengar bisikan Chanyeol pada Baekhyun, yang membuatnya tersenyum sejenak sebelum melangkah melewati pintu, ia lihat juga Chanyeol mengusap bahu Baekhyun pelan, Baekhyun mengangguk kemudian menunduk pada MQ hyung yang saat itu menunduk juga padanya, kemudian dengan senyum lebar melangkah pergi, dengan diikuti Chanyeol tentunya.
Baekhyun memilih duduk di sofa hitam tak jauh dari tempatnya berdiri, mungkin tak lebih dari tiga menit, kemudian ia bisa lihat Chanyeol datang kembali dengan suara kekehan khas-nya yang membuat Baekhyun menaikkan satu alis. "Kenapa tertawa?"
"MQ hyung… Asal bicara saja."
"Memang bilang apa?"
"Katanya hati-hati dengan barang mudah pecah, jangan sampai rusakkan apapun di studio. Memang dia pikir kita mau berbuat apa? Bergulat?"
Baekhyun tertawa renyah, sebenarnya ia enggan membayangkan, tapi entahlah pikirannya jadi terbawa kemana-mana. Ia pandangi Chanyeol yang mengambil tempat di sampingnya.
"Kau bawa apa saja?" tanya Chanyeol sembari membuka-buka bungkusan yang sebelumnya Baekhyun bawa.
"Minuman dingin, sosis, roti, daging… Ada juga sereal dan es krim."
"Wah…" Chanyeol berdecak kagum, semuanya yang ia sukai Baekhyun belikan, ia menunjukkan senyumnya yang seperti anak lima tahun.
"Kalau begitu kutaruh di dapur dulu ya? Aku juga mau ke kamar mandi sebentar."
"Jangan lama-lama yah…"
Baekhyun mendengus. "Yah, aku hanya akan pergi ke dapurmu, bukan dapur nenekku di gangwon-do…" canda Baekhyun sembari berdiri.
"Sama saja dimanapun itu, yang jelas jangan lama-lama berjauhan dariku." Chanyeol meng-klaim cepat. Ia meraih pinggang Baekhyun, masih di posisinya yang terduduk di sofa, kemudian dengan cepat melingkarkan kedua lengannya, wajahnya mendarat di perut sang kekasih yang masih berdiri.
"Baiklah… Sudah lepaskan, aku akan segera kembali." ujar Baekhyun yang ditanggapi hanya dengan anggukan dan membuatnya mematung beberapa saat lagi.
.
Setelah menutup kulkas, sesegera mungkin Baekhyun berjalan menuju kamar mandi, ia pastikan badannya tak berbau. Baekhyun menata rambutnya, menyikat gigi dan bahkan menggunakan sabun cuci muka. Ia semprotkan parfum dan menyempatkan mencuci tangan dan kaki. Ia habiskan waktu agak lama untuk mengganti pakaian, jujur saja dia menghabiskan waktu seharian di tempat shooting, dan tasnya yang lumayan besar memang berisi pakaian ganti, kaus lengan pendek putih dan celana hitam selutut, ia lapisi bibirnya dengan lip balm ringan agar tak terlalu kering.
Langkahnya yang kembali menuju studio bisa dibilang lamban, Baekhyun memilih melihat-lihat apartemen Chanyeol dahulu, ia melihat serentetan action figure milik kekasihnya itu, tertata rapi dibalik kaca, selebihnya tak ada yang spesial, semuanya terkesan simpel dengan nuansa hitam-putih yang terasa, seandainya Baekhyun ikut tinggal disitu ingin ia menambahkan suasana cerah seperti gorden yang diganti warna biru atau menaruh beberapa aksen cerah di sudut ruangan, membayangkannya membuat Baekhyun tertawa sendiri, ia putuskan untuk segera kembali ke ruang studio kemudian, tangannya memutar kenop pintu kemudian menariknya, mengintip Chanyeol yang sudah kembali di tempat duduk kesayangannya dengan menghadap layar PC.
"Chanyeol-ah… Aku sudah meletakkan semuanya di dapur…" Baekhyun memelankan langkah, ia berdiri di belakang tempat duduk kekasihnya. "Kau mau melanjutkan pekerjaanmu?"
"Yah, tinggal sedikit lagi…" Chanyeol berujar, mengusap tangan Baekhyun yang kini menyentuh pundaknya.
"Kalau begitu aku duduk di sofa yah?"
Baekhyun berjalan menuju sofa yang berjarak hanya beberapa langkah dari tempat Chanyeol duduk, ia dudukkan badannya, melihat punggung lebar kekasihnya yang diam tak bergerak, nampaknya si jangkung itu tengah konsentrasi. Rasanya nyaman, berada terus di dekat Chanyeol, namun di beberapa kesempatan Baekhyun juga harus rela membiarkan Chanyeol dengan kesibukannya sendiri, seperti sekarang ini. Baekhyun memilih mengistirahatkan kepalanya di sandaran sofa kemudian, melemaskan ototnya dengan menutup mata.
Tentu saja Baekhyun tak berniat untuk tertidur, namun tepukan pelan Chanyeol bisa ia rasakan membuat ototnya kembali di bawah kesadarannya. Ia menengok ke samping, melihat Chanyeol dengan wajah tersenyum mengusap pelan lengannya, nampaknya Baekhyun memang sempat tertidur.
"Kau lelah? Mau istirahat?" kini tangan Chanyeol merambah turun, mengusap paha kiri Baekhyun. Yang lebih pendek tersenyum, merasakan hidung Chanyeol begitu dekat dengan telinganya, bahkan hembusan nafasnya berasa hangat di sekitar pipinya.
"Bagaimana aku bisa istirahat kalau kau menggodaku begitu?" Baekhyun memutar kepala, dan benar mengakibatkan kedua bibir mereka bergesekan. Chanyeol tersenyum lagi, ia mengecup bibir yang kian mendekatinya, sesekali mundur, memiringkan kepala hanya untuk dimajukan kembali, meniru apa yang Baekhyun lakukan.
"Aku tidak menggoda…" Chanyeol berkilah, senyumnya merekah di sela ciuman, lagi dan lagi Baekhyun menyesap bibirnya, kepala mereka memiring dan membuat gerakan maju mundur, menghilangkan rasa kantuk Baekhyun, membangkitkan rasa nafsu Chanyeol.
"Lalu, ini apa?" Baekhyun mengerutkan kening, ia berusaha menghentikan Chanyeol dengan menekankan kedua telapak tangan di dada kekasihnya itu.
"Oke… Aku mengaku aku sedang menggodamu… Tapi jangan salahkan aku juga… Siapa suruh kau datang dengan wajah manis dan polos begitu…" Baekhyun tersipu, tangannya tak lagi kuat menahan posisinya, ia menurut saja ketika Chanyeol menarik pergelangan tangannya, menarik tubuhnya dan menahannya di pelukan hangatnya. "Melihatmu saja rasanya tubuhku bukan seperti milikku lagi…"
Baekhyun merasa menang, entah kenapa, ia menggigit bibir dalamnya, bersamaan dengan tawa berat yang Chanyeol buat, ia melompat dan mendudukkan tubuhnya di pangkuan kekasihnya yang sudah merebahkan bahu di sandaran sofa, memandang semburat nafsu yang muncul di mata cokelat Chanyeol sembari melingkarkan kedua lengan di belakang leher kekasihnya itu, yang dibalas Chanyeol dengan pergerakan yang sama di pinggangnya.
Chanyeol sangatlah tampan, Baekhyun bisa melihat bagaimana kedua bola matanya bersinar di bawah cahaya lampu redup di studio kala itu, bibirnya akan membentuk senyum yang indah begitu Baekhyun menunjukkan wajah bahagia sembari mendekatkan kepalanya, juga suara berat yang mampu membuat hati Baekhyun bergetar setiap kali mendengarnya, Baekhyun tak kuasa lagi saat Chanyeol menggodanya dengan menggesekkan kedua ujung hidung mereka, Baekhyun menurunkan wajahnya lagi sampai bibir mereka terkatup satu sama lain.
"Baekhyunee…" lagi namanya disebut di sela ciuman, dan ini adalah hal paling disukai Baekhyun, membuatnya tersenyum, membuka matanya perlahan dan mengikuti gerak Chanyeol yang memundurkan kepala. Dua tangan besar di pinggang belakangnya membuat gerakan mengusap, membuat Baekhyun tersenyum lagi, ia tarik tangan kanannya kemudian menggunakannya untuk mengusap sisi wajah Chanyeol, menelusuri tulang pipi, merasakan halusnya kulit wajah kekasihnya kemudian merambah turun hingga ibu jarinya menyentuh ujung bibir kekasihnya, ia terkekeh lagi saat Chanyeol begitu menikmati tiap sentuhannya, mengusapkan wajah ke telapak tangannya seperti kucing yang menikmati belaian pemiliknya.
Badannya ditarik, dan Baekhyun mengerti apa yang diingankan kekasihnya begitu satu tangan besar menelusup memasuki kaus dan mengelus kulit punggungnya, berkali-kali bercinta dengan Chanyeol, Baekhyun tahu kapan kekasihnya mulai menginginkan dirinya dan itu terbukti saat Chanyeol menaikkan kepala dengan berbisik 'Aku menginginkanmu' sebelum menarik paksa kain yang Baekhyun kenakan.
Pakaiannya berhasil dilucuti, dan Baekhyun tak sengaja melenguh begitu Chanyeol mulai mengocok penisnya yang sudah ereksi karena ciuman yang mereka lakukan sebelumnya. Badannya menegang, namun tak ingin merasa dimanjakan sendiri, Baekhyun bekerja juga pada pakaian Chanyeol, menariknya ke atas kemudian membuka resleting celanannya, Baekhyun rasa ia sudah mulai ahli sekarang ini, tanpa melihatpun ia bisa melakukannya.
Keduanya mendesah, saling mengocok satu sama lain, Baekhyun seakan sudah tahu bagaimana ia harus lakukan untuk memanjakan penis Chanyeol yang sudah mencuat dan membesar, ia buat gerakan yang membuat Chanyeol mendesah putus asa hingga kesusahan bernafas, Chanyeol balas menarik, meremas, membenamkan kepalanya di leher mulus Baekhyun, menghisap sekuatnya di tulang bawah leher, membuat Baekhyun mengeluarkan desahan berat, nafasnya tersengal pula, tubuhnya bergetar.
"Sayang, aku ingin sekarang…" Chanyeol meracau, ia hisap dada Baekhyun sekali, lalu menahan tubuh Baekhyun saat ia sibuk menurunkan celana hingga berhasil melepasnya dari ujung kakinya, penisnya yang sudah menegak ke atas ia pastikan sudah licin karena cairan pre-cumnya, lalu dengan tak sabar mengarahkannya ke lubang Baekhyun yang sedari tadi sudah menggoda menggeseknya. "Aku masukkan ya?"
Baekhyun mengangguk, posisi ini adalah pertama kali untuknya, dan pertama kali pula dilakukan di ruangan studio milik kekasihnya, Baekhyun bersumpah mulai sekarang ini ia tak bisa melihat ruangan ini dengan biasa, namun siapa peduli, ia mendesah berat saat ujung penis Chanyeol mulai menyeruak masuk, ia kendurkan ototnya agar Chanyeol tak kesusahan. "Ahh…" dan mendesah lega begitu penis kekasihnya bersarang sempurna di dalamnya.
Kedua tangan Chanyeol meremas pinggul, membantu Baekhyun yang bergerak turun naik, ia desahkan nama kekasihnya setiap kali ia membuat gerakan menghentak yang membuat Baekhyun mendesah berkali-kali lipat.
"Chan- Chanyeol-ah, ah ah ah!"
Baekhyun meracau ketika Chanyeol mulai menggenjot tubuhnya, yang awalnya pelan menjadi tempo cepat, setiap kali melakukan dengan Chanyeol rasanya pasti sakit meskipun sudah beberapa kali, namun itu semua cepat sirna karena rasa nikmat yang selalu Chanyeol berikan pada tubuhnya.
"Baek—Ah… Baekhyun—" Chanyeol mengerang keras, hentakannya cepat membuat Baekhyun mengeratkan tangannya di kedua bahunya, ia meraih penis Baekhyun yang menegang pula kemudian mengocoknya, membuat Baekhyun semakin menggeliat hebat di pangkuannya, ia benamkan wajah di dada Baekhyun, menyesapnya kuat hingga Baekhyun menjerit tertahan di tenggorokan.
"Chan,,, Hampir—Ahh.. Aku hampir…" desah Baekhyun, semakin kuat meremas bahu kekasihnya, ia remas pula rambut belakang Chanyeol yang saat itu masih terbenam di dadanya, kocokan tangan Chanyeol semakin kuat, dan setelah tiga kali hentak Baekhyun mencapai klimaksnya, cairannya menyembur membasahi perut Chanyeol.
Nafasnya tersengal, badannya seakan tersengat listrik sesaat setelah ia mencapai orgasme, namun itu tak lama begitu penis di dalamnya terasa masih bergerak, Baekhyun tak memelankan pergerakannya, ia masih menaik turunkan pinggul, menggoyangkan dan membuat gerakan memutar, membuat Chanyeol mendesahkan namanya lagi untuk kesekian kali.
Badannya ditarik erat, Baekhyun menurut saja begitu Chanyeol merangkul tubuhnya dan menjatuhkan tubuh mereka di sofa, memutar tubuh mungil Baekhyun yang masih menyatu dengannya, menindihnya di bawah lalu melajutkan gerakan pinggulnya, Chanyeol tak berhenti, Baekhyun tahu itu, hingga ia puas, sampai berjam-jam pun Chanyeol akan terus menggagahinya hingga ia tak sanggup lagi bergerak.
"Baek- Baekhyun- Ah… Baek—" Chanyeol mengerang, seperti orang kehilangan akal, Baekhyun membuatnya gila, penisnya seakan diremas habis oleh dinding hangat Baekhyun yang rasanya masih nikmat senikmat saat pertama kali mereka melakukannya. Lagi Chanyeol memaju mundurkan pinggul, dengan cepat, melesakkan penisnya masuk, sedalam yang ia bisa hingga menumbuk daging hangat yang luar biasa nikmatnya terasa hingga ujung penisnya seakan meletup nikmat ketika ia mencapainya. Baekhyunpun mengerang tiada henti, lengannya terasa kaku melingkar di leher Chanyeol yang saat ini sudah basah karena peluh, ia dongakkan wajah untuk menerima mulut Chanyeol yang juga memasukinya, melesakkan lidahnya hingga Baekhyun kewalahan, sungguh luar biasa, seluruh kenikmatan ini, ia tak peduli lagi begitu penisnya kembali menegang, mungkin ia akan orgasme setidaknya tiga kali malam ini.
Bermenit-menit menikmati penyatuan tubuh, akhirnya Baekhyun bisa bernafas lega begitu penis didalamnya terasa berkedut, Chanyeol memundurkan pinggul, menghentak keras di satu titik dimana ia bisa membuat Baekhyun menjerit keras, kemudian menumbuk lagi untuk kedua kali dan berhenti untuk ia melesakkan ujung penisnya dan mengeluarkan spermanya di dalam sana, Baekhyun menggigit bahu kekasihnya, menikmati kehangatan yang memenuhi bagian terdalam tubuhnya, ia rasakan Chanyeol mengecup pelipisnya sambil menarik keluar penisnya perlahan. Tubuh mereka ambruk, Chanyeol masih memeluk kepalanya, dada mereka bergerak naik turun seirama dengan ritme nafas.
"Terimakasih sayang…" sesuatu yang selalu Chanyeol bisikkan begitu mereka selesai bercinta, dan Baekhyun akan tersenyum dengan mengecup apapun dari bagian wajah Chanyeol yang bisa ia raih.
"Aku mencintaimu…." Baekhyun membalas.
.
Ruang studio mereka tinggalkan, kini mereka beralih ke kamar Chanyeol, ini untuk pertama kalinya, Baekhyun melihat bagaimana kamar apartemen kekasihnya, ia masuk dengan digendong seperti pengantin baru, ia sungguh bangga bagaimana Chanyeol masih mempunyai cukup kekuatan setelah seks mereka yang bisa dibilang melelahkan, meskipun agak tertatih, Chanyeol menempatkan kekasihnya di ranjang, dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, ia kemudian menyusul melompat ke ranjang, menyelimuti tubuh mereka yang tanpa sehelai benang di balik bed cover tebal hangat miliknya.
"Uh?" Baekhyun tiba-tiba bergumam, membuat Chanyeol membuka mata, ia pandang kekasihnya kemudian.
"Ada apa Baek?"
"Aku meninggalkan ponsel di goodie bag…"
"Lalu?"
"Aku harus mengambilnya atau kita tidak akan bisa bangun besok…"
"Aku sudah menyetel alarmku, tak apa…"
"Benar?"
"Um." Chanyeol mengangguk mantap, ia raih lagi pinggang Baekhyun, memeluknya protektif.
Mereka menutup mata kembali, menikmati ketenangan, merasakan hangat tubuh masing-masing, namun helaan nafas panjang Baekhyun membuat Chanyeol kembali membuka mata. "Ada apa lagi sayang?"
Baekhyun mengerucutkan bibir, Chanyeol tahu kekasihnya akan membawa topik yang tak begitu menyenangkan, dari raut wajah yang Baekhyun pasang ia bisa menyimpulkan demikian.
"Besok kau akan pergi ke Jeju…"
"Hm. Kau juga akan pergi untuk schedule kan?"
"Tapi aku tak akan melihantmu sampai lusa."
Wajah merajuk Baekhyun membuat Chanyeol tak tahan, ia cium kekasihnya yang saat itu masih memanyunkan bibir. "Aku rasa aku akan terus terbayang-bayang wajah manis ini selama aku di berada di Jeju."
Baekhyun melirik ke atas, memandang wajah Chanyeol yang penuh senyum. "Kau bahkan belum berangkat, tapi aku sudah kangen."
"Uh, manisnya…." mengeratkan lagi pelukannya, Chanyeol menghirup ujung kepala Baekhyun. "Aku akan pergi seharian…" Chanyeol membuat jeda, mengusap punggung sempit kekasihnya. "Jadi bagaimana kalau kita bercinta semalaman ini?"
Baekhyun mendongak cepat, mereka baru saja selesai seks satu jam lalu, oke, satu jam yang lalu, dan sekarang Chanyeol memintanya lagi? Baekhyun berharap Chanyeol hanya bercanda, namun matanya yang berapi-api dan senyum miring benar-benar tak mengindikasi sebuah candaan.
"Kau serius?"
"Tentu."
"Tidak lelah?"
"Kalau untuk menidurimu aku tak akan lelah."
"Wah…" Baekhyun menggeleng kepala, entah kenapa, jujur saja ia memang menyukainya, bercinta dengan Chanyeol, tapi rasanya ia masih tidak percaya. "Um…"
"Kenapa? Kau tak mau?"
"Tidak… Bukan begitu… Tapi kita baru saja selesai satu jam lalu."
"Dan aku sudah ingin lagi." Chanyeol menaikkan bahu.
Baekhyun membuka mulut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ayolah sayang… Aku rasa… Aku kecanduan tubuhmu…" Chanyeol menggumam, menurunkan tubuhnya agar wajahnya bisa terbenam di dada Baekhyun, ia menutup mata begitu sebuah tangan bergerak ke belakang kepalanya dan membuat gerakan menekan pelan. "Apa maksudnya ini boleh?"
Chanyeol tahu kepala Baekhyun mengangguk di kala itu.
.
Baekhyun masih meremas sprei di samping kanan kiri bantalnya dengan erat, kepalanya menengok ke kiri hingga rasanya lehernya kelu, suara deritan ranjang masih terdengar keras, hentakan tubuh di atasnya masih dalam tempo sama semenjak entah berapa jam lalu, Baekhyun sudah lelah menghitung.
Chanyeol masih betah menggagahi kekasihnya, sudah beberapa kali mereka orgasme, namun Chanyeol terus melanjutkannya bahkan tanpa mencabut penisnya yang masih bersarang sempurna di dalam tubuh Baekhyun. Permainan mereka yang tahan lama ini membuat Baekhyun berpikir obat macam apa yang Chanyeol sudah minum sebelumnya, apakah obat perangsang kuat yang luar biasa? Tak mungkin rasanya ada seseorang yang bisa tahan selama ini bahkan seorang maniak sekalipun.
Baekhyun masih melingkarkan kakinya di pinggang kekasihnya, meskipun beberapa kali jatuh dengan gontai karena kelelahan, namun ia naikkan lagi hingga Chanyeol mengerang keenakan, ia kunci lagi tubuh Chanyeol yang masih setia menggenjot di antara kakinya yang terbuka, Baekhyun menggeliat lagi, berusaha membenarkan posisi namun Chanyeol segera memburunya karena pergerakan yang Baekhyun buat membuat penisnya sedikit tertarik keluar.
"Chanyeol-ah…" Baekhyun mengerang, ia menunduk melihat ujung kepala kekasihnya, yang saat ini masih sibuk melumat puting kirinya. "A-aku sudah tak kuat lagi… Ah…"
Chanyeol menyesap lagi, dengan kuat, Baekhyun tak heran kalau mungkin putingnya berubah bentuk karena kekasihnya ini tak hentik menggigit dan menahannya di antara giginya dari berjam-jam lalu.
Si bongsor hanya berdeham, gerakan pinggulnya memang melemah, rasanya isi penisnya bahkan sudah habis ia keluarkan. "Sekali lagi…" namun birahinya menghianati rasa lelahnya.
Baekhyun menghela nafas, ia biarkan Chanyeol berkuasa atas tubuhnya, setelah menciumi bahu dan sekujur leher, Chanyeol menarik penisnya, ia membalikkan tubuh Baekhyun sehingga yang lebih pendek sekarang dalam posisi tengkurap, mengocok penisnya lagi dan memaksanya menegang kembali sebelum menindih badan Baekhyun.
"Sayang…" Chanyeol bergumam di telinga kiri kekasihnya, ia tengah mencoba memasukkan penis tegangnya di antara pantat Baekhyun, namun Baekhyun yang tengkurap sempurna membuatnya kesusahan, ia menurunkan kepalanya lalu mencium daun telinga Baekhyun, nafasnya yang berat seakan memenuhi rongga telinga kekaishnya yang kini jelas berubah warna menjadi kemerahan, ia mengecupnya lagi kemudian menjilat bagian dalamnya. "Sayang…"
Baekhyun lelah, benar-benar lelah, ia remas ujung bantal yang menopang kepalanya, namun mendengar hembusan nafas tersengal Chanyeol Baekhyun akhirnya tak ada pilihan lain, ia naikkan pinggul, menerima kembali sesuatu keras dan menegang milik Chanyeol yang kembali melesak masuk ke dalamnya.
"Euunngh…."
Lagi-lagi lubangnya terasa penuh, dan Baekhyun harus menerima konsekuensi untuk tak bisa istirahat semalaman ini, bahkan mungkin sampai besok pagi. Jujur saja Baekhyun merasa malam ini adalam malam ternikmat yang pernah ia lalui, dengan penis Chanyeol yang terus menerus berada di dalam tubuhnya, Chanyeol yang terus menggenjot tubuhnya, dan kata cinta yang terus diucapkan dengan nafas memburu, beserta sperma yang terus menerus menghangatkan lubangnya.
Baekhyun harus mengakui bahwa tak hanya Chanyeol yang ketagihan tubuhnya, tapi justru sebaliknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kyaaaaaaaaa
What a loooong (?) chapter
Sebelumnya big thx buat yang baru mampir di review Chu-san
itsby, lanarava6223, baektiful,devbaek,angilee,
untuk semuanya yang suka ff ini dan dengan setia nungguin update-an nya, makasih banyak yah..
Ada yang mau request NC lageh?
Next one will be hotter(?) hehe
karena chu-san bukan ahli NC jadi ya Chu kerjanya ekstra di sini mohon dimaklumi ya
btw thx a lot (again)
review juseyooo
gumawo ^^
