Chapter XVI

"Happy birthday, baby."

.

.

Cahaya mentari pagi menyeruak memasuki kamar lewat celah jendela, menerangi dan menyapu ruangan beserta wajah cantik lelaki yang masih bersembunyi di balik selimut hangat. Wajahnya mengerut tak nyaman, namun silau mentari terus mengganggu kelopak matanya yang masih terkatup. Ia mengerang dan berusaha mengubur wajahnya ke bantal. Tubuh hangat di sampingnya bergerak, namun masih belum bangun dari tidurnya.

Baekhyun menghela nafas kemudian terbangun, mengernyitkan mata ke arah cahaya mentari berasal, seakan memaksa mengusirnya pergi. Ia kemudian mengerucutkan bibir, memasang wajah kesal sembari cemberut, ekspresi manyunnya akan selalu berhasil meluluhkan Chanyeol, seandainya aja itu akan bereaksi pada mentari juga, Baekhyun sempat membatin.

Sang matahari masih mentereng dengan gagahnya di langit, seakan mengganggu ketentraman manusia yang berada di bumi, Baekhyun akhirnya memilih bangkit, berhati-hati untuk tidak membangunkan kekasihnya, ia lihat sekeliling, ranjang yang berantakan namun tak ada pakaian sepotong-pun, Baekhyun baru ingat bahwa mereka sudah telanjang begitu memasuki kamar, meninggalkan seluruh barang di studio.

Dengan helaan nafas Baekhyun berjalan menelusuri ruang kamar kekasihnya, menemukan wardrobe, ia membuka dan menemukan berbaris-baris pakaian yang digantung dan sudah tertata rapi, jaket beserta tumpukan celana, ia bahkan tak bisa memilih kaos yang nyaman, hampir semuanya berwarna hitam dan kebesaran, ia pilih sesuatu yang menurutnya bisa ia kenakan, pandangan Baekhyun terarah pada sebuah kemeja putih yang tentu saja empat atau lima size lebih besar dari ukurannya.

.

Sosis dan sereal yang kemarin ia beli ia keluarkan dari kulkas, beruntung Chanyeol memiliki alat pembuat kopi otomatis sehingga meringankan pekerjaannya dan berhasil membuat secangkir kopi di sela kegiatannya mengiris sosis dan membakar roti. Ia masukkan setengah susu ke dalam cangkir yang sudah berisi kopi panas, menyiapkannya di meja makan setelahnya kembali ke meja dapur untuk memotong sosis dan bermacam-macam sayuran yang ia temukan di kulkas. Kemampuan memasaknya tak sebaik Chanyeol, tapi setidaknya ia mencoba, ingin sesekali ia membuatkan sarapan sembari menunggu kekasihnya bangun, akhirnya Baekhyun merasakan mengapa orang bilang memasak untuk orang yang paling disayangi terasa sangat menyenangkan.

Seseorang telah berdiri di ambang pintu, Baekhyun bisa merasakan itu, namun ia tidak berniat membalik tubuhnya, ia lanjutkan pekerjaannya memasukkan potongan sosis ke dalam penggorengan, ia biarkan saja ketika suara telapak kaki menyentuh lantai bergerak mendekatinya, ia yakin pasti Chanyeol telah terbangun, mungkin sebentar lagi akan meraih tubuhnya yang saat itu hanya menunjukkan punggung yang tertutupi kemeja kebesaran sampai paha atas, dan dengan sengaja bertelanjang kaki.

"Sepertinya enak…" benar pula si bongsor kini telah menempel di punggungnya, tangan kekarnya membungkus pinggang ramping Baekhyun, bibirnya berujar hanya sekian centi dari telinganya, membuat Baekhyun bergidik, namun dengan cepat sirna karena Chanyeol kini telah sibuk menghirup ceruk lehernya.

"Hanya sosis dan sayuran saja…" bisik Baekhyun.

Tangan Chanyeol merambah masuk ke dalam kemeja Baekhyun. "Aku tidak bicara tentang makanannya…"

Senyum Baekhyun berubah menjadi desahan saat jari-jari besar Chanyeol mengusap tulang pinggulnya, kakinya menjadi lemah, dan ia menyandarkan punggung ke dada kekasihnya, satu tangan bertumpu di meja. Baekhyun memutar kepala meminta ciuman, mengangkat satu tangannya untuk meremas rambut belakang kepala Chanyeol.

Chanyeol kian menelusuri tubuh kekasihnya, membelai lembut tiap jengkal kulit hingga menemukan bagian tersensitif milik Baekhyun yang awalnya menggantung lunglai menjadi menegang. "Chanh—Hentikan… Aku harus memasak untuk sarapanmu…"

Yang dipanggil menarik kembali kepalanya, memutuskan pautan lidah mereka sesaat. "Aku hanya memiliki waktu beberapa jam sebelum kau pergi untuk jadwalmu dan aku harus mengejar pesawat ke Jeju." Chanyeol memasang wajah merajuk, ia memajukan bibir bawahnya, membuat Baekhyun memutar tubuh dan mengalungkan kedua lengan di leher Chanyeol yang berposisi lebih tinggi.

"Lalu apa maumu?"

Chanyeol menunjukkan senyum miring, tangannya terjulur melewati pinggang Baekhyun dan memencet tombol di kompor untuk mematikan apinya, Baekhyun menoleh ke belakang sesaat kemudian kembali memandangi kekasihnya lagi.

"Daripada sarapan itu aku lebih memilih menu sarapan lain." Chanyeol membuat jeda, mengecup ujung hidung Baekhyun sekali. "Aku ingin dirimu. Menghabiskan sisa waktu kita di ranjang dan memakanmu, membuatmu menjerit dan mendesahkan namaku dengan dipenuhi keringat dan spermaku. Aku ingin dirimu saja Baekhyunee…"

Baekhyun merasa seluruh tubuhnya terbakar, sial, ini masih pagi dan Chanyeol berhasil membuatnya terangsang kembali, ia menurut saja ketika Chanyeol menarik tubuhnya dan menggendongnya, dan ia baru sadar bahwa semenjak memilik otot dan bentuk kekar di tubuhnya, Chanyeol lebih hobi untuk tak memakai pakaian, seperti sekarang ini, Baekhyun tak bisa menahan untuk melihat bagaimana Chanyeol tampak luar biasa percaya diri meskipun bertelanjang bulat dan menggendong dirinya yang kini tampak sibuk menyembunyikan wajahnya yang kemerahan.

.

.

Begitu kembali ke dorm setelah menyelesaikan jadwalnya, Baekhyun terlihat enggan meninggalkan ponsel. Minseok sempat mengajaknya makan malam sampai tiga kali, dan Jongdae sengaja menyisakan sepotong brownies di meja namun Baekhyun tak juga menyentuhnya. Member tak menemui hal ini aneh, sudah beberapa kali semenjak hubungannya dengan Chanyeol diketahui, member sudah hafal betul dengan sifat kekanakan Baekhyun yang seringkali muncul apalagi jika Chanyeol sedang tidak ada. Wajah merajuk, bibir dimajukan, seperti tidak mood, dan lain sebagainya. Minseok yang biasanya menenangkan, Sehun seringkali menggoda meskipun pada akhirnya dia menenangkan juga, Jongdae adalah yang paling sering mengomentari, dengan pikiran rasionalnya justru menceramahi dan mengingatkan Baekhyun kalau dia sudah bukan anak kecil lagi.

"Dia pasti sibuk…" Minseok berbisik, melihat member lain yang sudah lelah dan mulai meninggalkan ruang tengah satu persatu dan memilih menuju kamar masing-masing.

"Aku tahu… Tapi hyung, bukan itu masalahnya…"

"Lalu?"

"Aku tak suka dia mengingkari janji…"

"Oh…" Minseok mengangguk. "Dia mungkin lupa…"

Baekhyun kembali cemberut.

"Baekhyun-ah, kau sudah hidup bersamanya selama bertahun-tahun, seharusnya kau tahu bagaimana Chanyeol itu, dia sering lupa hal-hal kecil seperti itu kan?"

Helaan nafasnya panjang, Baekhyun tahu bagaimana Chanyeol, dan ia tahu bagaimana sifatnya yang terkadang terlampau santai, Baekhyun hanya terbawa suasana hati saja, ia menoleh dan memandang Minseok lamat-lamat. "Hyung, aku rasa ada yang aneh dalam diriku."

Minseok mendengarkan, kemudian mengangguk. "Memang."

"Kau merasakannya juga?"

"Tentu saja."

"Menurutmu apa itu?"

"Kau keras kepala dan sensitif, sekarang lebih keras kepala dan lebih sensitif lagi."

"Hyung…."

"Serius. Kurasa Chanyeol terlalu menuruti apa keinginanmu sampai kau jadi lebih manja begini."

Lagi-lagi Baekhyun memasang wajah masam. "Begitukah hyung?"

"Meskipun di beberapa hal terkadang kau lebih terlihat tenang dan dewasa sih…"

"Lalu apa yang aku harus lakukan?"

"Makan lalu tidurlah, Chanyeol pasti akan menghubungimu kalau dia sudah ada waktu. Aku yakin."

"Um…" Baekhyun melirik ponselnya lagi, kali ini untuk melihat waktu. "Hyung, aku teringat perkataanmu kemarin, kalau ada waktu ayo temani aku membeli kado untuk Chanyeol."

"Baiklah…" Minseok mengangguk. "Kau sudah putuskan mau beli apa?"

"Belum tahu… Makanya aku minta bantuanmu…"

"Baiklah…" Minseok menyetujui, menepuk bahu dongsaengnya itu. "Sekarang sudah mau makan? Atau mau tidur?"

Baekhyun belum menjawab, sekali lagi ia tatap layar ponselnya dengan sendu. "Hyung…" bibirnya dimajukan, pandangannya seperti anak kucing yang meminta makan pada sang majikan. "Aku kangen sekali padanya… Kenapa dia tidak peka sih…" rengeknya.

Kekehan Minseok pecah, sampai tak bisa berkata apa-apa lagi, ia tepuk keningnya sendiri dengan telapak tangan. "Tuhan… Kekasih tercintamu itu hanya pergi ke Jeju untuk semalam… Bagaimana kalau dia ditugaskan negara untuk berperang di Timur Tengah selama bertahun-tahun huh?"

"Kalau itu benar terjadi aku bersumpah aku akan memaksa ikut, apapun yang terjadi tak ada seorangpun yang bisa menghentikanku. Dan kalau memang tak bisa aku memilih melompat dari Namsan Tower saja, pokoknya tidak boleh ada yang menjauhkan Chanyeol dariku, dia milikku."

Minseok mendengus, berbicara dengan orang yang kasmaran memang percuma, ia memilih pergi, terserah apa kata Baekhyun, kepalanya kini sudah pening dan yang paling ia butuhkan kali ini adalah istirahat kemudian tidur.

.

Hari berikutnya yang ditunggu-tunggu Baekhyun telah datang, dan member tak perlu mengkonfirmasi lagi apa yang telah mereka lakukan karena begitu Chanyeol memasuki dorm di pagi buta – Masih dengan mata kantuk dan koper yang diseret – Ia langsung menuju ke kamar dan tak keluar lagi selama berjam-jam. Mungkin Baekhyun masih mengklaim-nya, atau sebaliknya justru Chanyeol sedang berusaha mengembalikan mood Baekhyun dengan memuaskannya atau semacamnya. Dari langit yang masih berbintang hingga matahari yang sudah mulai merangkak naik, tak ada satu member-pun yang melihat salah satu dari dua pasangan itu yang keluar, bahkan membuat suara sekalipun.

"Chanyeol dalam masalah." Suho berujar, sembari mengecek jadwal dengan iPad yang ia bawa, melirik Jongin dan Kyungsoo yang sudah bersiap untuk jadwal mereka masing-masing.

Jongin tersenyum simpul, nampaknya mengetahui tentang suatu hal namun enggan mengutarakan, ia hanya berdeham begitu Jongdae datang disusul Minseok, kemudian ia memilih mengambil tasnya dan mengajak Kyungsoo yang sudah siap sedari tadi. "Aku berangkat hyung, jangan lupa ingatkan Chanyeol dia ada jadwal setelah ini."

"Tentu saja." Jongdae menjawab, melihat KaiSoo berangkat bersama, ia kemudian menoleh ke arah pintu kamar ChanBaek yang masih tertutup rapat. "Untuk sesi bercinta ini bisa dikatakan lama yah." Jongdae mengomel, yang ditanggapi kekehan santai oleh Minseok.

"Kau pergi dan bangunkan mereka." Suho berkata, membuat Jongdae melihatnya seakan mengatakan Kau-tidak-sadar-apa-yang-kau-katakan?

"Sudahlah… Beri waktu sedikit lagi…" Minseok menanggapi, ia lirik jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Ada yang tahu Chanyeol harus pergi pukul berapa?"

"Sebelas. Baekhyun pukul satu." Suho menjawab singkat, matanya mendelik melihat Jongdae.

"Hyung…" Jongdae menoleh ke arah Minseok.

"Kalau Minseok yang bangunkan Baekhyun akan menyela terus menerus."

"Memang aku tidak?" Jongdae memprotes.

"Lihat, bicaramu saja lebih cepat. Ayo berangkatlah."

Jongdae menghela nafas, entah kenapa ia merasa tugas-tugas berat di dorm selalu ia yang bereskan, ia pasrah pada akhirnya, menerima kunci duplikat yang sedari tadi sudah Suho bawa, sekedar mengingatkan posisi leader berhak mendapat kunci duplikat semua kamar dari manager.

Jongdae akhirnya memasuki kamar ChanBaek, ini bukan pertama kali memang, namun memasuki kamar mereka setelah mengetahui hubungan Chanyeol dan Baekhyun terasa sedikit ganjil, ia mengambil langkah dengan hati-hati, melihat sekeliling sebelum melanjutkan langkah mendekati ranjang.

Jam tangan emas mengkilat milik Chanyeol, dua ponsel, sekotak tissue, terlihat tergeletak di meja, Jongdae melihat sekeliling dan bernafas lega karena tak melihat benda aneh-aneh yang mungkin akan mengotori mata sucinya. Ia melangkah lagi, melihat celana hitam panjang yang nampaknya milik Chanyeol, tergantung di tepi ranjang, bahkan ujungnya hampir menyentuh lantai, Jongdae menaikkan pandangnya menuju gundukan bed cover yang menutupi dua tubuh yang ia sedikit susah menebak bagaimana pola bentuknya.

Yang Jongdae lihat pertama kali adalah rambut kecoklatan Chanyeol, si Jangkung terlihat tertidur membelakangi dirinya yang kini berdiri tak jauh dari ranjang, Jongdae bisa menebak Baekhyun pasti berada di pelukan Chanyeol, namun dua-duanya menghadap arah yang sama, Jongdae tak berniat melihat lebih cermat lagi, namun secara tak sengaja ia melakukannya, ia mengambil satu langkah maju, namun langkahnya terhenti ketika gundukan bed cover mulai bergerak, ke depan belakang yang berarti Chanyeol menggerakkan bagian bawah badannya dengan gerakan maju mundur.

"Eunghhh…" dan mengakibatkan Baekhyun mengeluarkan suara melenguhnya.

"Hya! Kalian bangun! Lihat sudah jam berapa sekarang!" Jongdae memekik, ia tahu keberadaannya saat ini mengganggu, tapi bagaimana lagi. Ia lihat Chanyeol menghentikan gerakannya, kemudian menoleh ke belakang.

"Eum?"

"Semalaman masih belum cukup huh?"

"Chanyeol baru kembali tadi pagi, secara teknis itu tidak semalaman." kali ini Baekhyun yang menjawab, ia terlihat memutar tubuh, kemudian mengangkat kepala, bed cover masih menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada.

"Apalah itu terserah, yang jelas ini sudah siang dan Suho sudah memerintahkan kalian untuk bersiap, Chanyeol ada jadwal satu jam lagi kan?"

Baekhyun hendak membalas, mulutnya sudah siap untuk melontarkan kata-kata namun tangan besar Chanyeol meraih sisi kepalanya dan memaksanya turun kembali ke bantal, yang lebih besar kini mengambil alih, dengan masih menahan kepala Baekhyun ia mengangkat kepala. "Baiklah, aku akan bersiap, tapi beri aku setengah jam lagi."

Jongdae menghela nafas. "Itu terlalu lama."

"Baiklah dua puluh menit."

Jongdae hendak membalas, namun melihat Chanyeol yang tanpa pikir panjang mengubah posisi menjadi di atas Baekhyun membuatnya terpaksa melangkah mundur. "Yah!"

"Kau mau pergi atau menonton terserah." Chanyeol justru menantang, ia lihat Jongdae yang memasang wajah bingung bercampur kesal. "Kau siap sayang?" kini Chanyeol mengajak bicara lelaki di bawahnya, membuat Baekhyun tersipu bercampur malu, si pendek mengikuti permainan justru dengan mengalungkan kedua lengannya di leher Chanyeol.

"Oke baiklah aku keluar tapi jangan salahkan kalau nanti Suho yang mendobrak pintu yah!" jeritan Jongdae memenuhi ruangan sesaat sebelum ia melangkah pergi, membuat kedua pasangan yang berada di ranjang terkikik jenaka.

.

.

Sebenarnya tidak cukup susah untuk meluangkan waktu dan pergi keluar, namun jadwal masing-masing member-lah yang sulit untuk diajak kompromi. Baekhyun sebenarnya sudah ingin mengajak Minseok untuk pergi dari beberapa hari sebelumnya, namun seringkali gagal karena jadwal keduanya yang tidak cocok, maka di suatu sore yang tenang dan kebetulan keduanya tidak ada jadwal, Baekhyun sengaja mengajak Minseok untuk pergi keluar – Dengan tidak memberitahu member lain tentunya – sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat seandainya Baekhyun tiba-tiba mendapat ide kado apa yang cocok untuk ia berikan kepada kekasihnya yang akan ber-ulang tahun kurang dari dua minggu lagi. Ia menelusuri toko pakaian, tempat-tempat yang menjual accesoris hingga toko buku, hingga akhirnya ia sempatkan mengisi perut bersama Minseok yang saat itu memang sudah mengeluh lapar.

Mereka beristirahat, memutuskan memesan waffle dan minuman dingin di sebuah café di pusat perbelanjaan. Memilih tempat di lantai dua yang tak ramai pengunjung, Baekhyun membaca notif ponselnya yang kian bertambah, keasikannya membuatnya lupa waktu, juga lupa akan kekasihnya yang telah meraung-meraung mencarinya lewat pesan singkat dan panggilan yang tak terjawab.

"Oh, Chanyeol menelepon." Baekhyun tersentak, terpaksa menghentikan kegiatannya yang tengah mencoba membalas pesan singkat kekasihnya. "Halo? Eum?"

Baekhyun melirik Minseok, mendapati hyung-nya itu tengah mengunyah waffle dengan wajah lucu mirip seperti hamster, ia mengangguk mendengarkan orang yang sedang berceloteh di seberang. "Ya ya… Aku sedang ada urusan—Dengan Minseok hyung—Kenapa tidak percaya begitu sih? Mau bicara dengannya?" Minseok menaikkan satu alis, bersiap untuk menerima ponsel yang Baekhyun akan alihkan untuknya, namun Baekhyun sesegera mungkin mendekatkan ponsel ke telinganya sendiri lagi. "Iya – Benar – Kapan aku berbohong padamu huh? Aku ada urusan – Hm? Iya serius… Chanyeol-ah…"

Sepertinya sambungan telepon diputus dari seberang, Minseok bisa menebak dari mimik wajah Baekhyun yang sedikit bingung saat menarik ponsel kemudian memandang layarnya dengan alis hampir menyatu.

"Loh? Teleponnya dimatikan?" Minseok bertanya, kebingungannya bertambah begitu Baekhyun justru menyunggingkan senyum. "Kok malah tersenyum?"

"Biar saja. Aku sengaja membuatnya kesal. Salah sendiri akhir-akhir ini suka uring-uringan sendiri. Dia suka marah kalau aku dekat denganmu hyung, sekalian saja kukerjai." Baekhyun terkikik sendiri, meneruskan memakan waffle.

"Kau mau membuatnya cemburu, sampai dia kesal lalu memberinya kejutan tepat jam dua belas malam? Itu kuno sekali." komentar Minseok.

"Habis… Salahnya sendiri… Aku kan memang lebih suka keluar denganmu untuk berbelanja, dari dulu juga begitu, tapi dia tiba-tiba kesal begitu."

"Soalnya dia menjadi kekasihmu kan baru-baru ini, bukan dari dulu." Minseok menyanggah, kali ini berhasil membuat Baekhyun memasang wajah sedikit tidak suka. "Sudah deh, jangan buat ribut, kalian memang pasangan hangat tapi tidak selamanya Chanyeol memiliki mood bagus, nanti jadi bertengkar beneran loh…"

"Biarkan saja. Aku mau lihat seorang Park Chanyeol kalau marah seperti apa."

"Baek…" Minseok menyipitkan mata, hendak menasehati lagi namun tangannya keburu ditarik.

"Sudahlah hyung, ayo kita lanjutkan jalan, lagian ada-ada saja, masa cemburu sama member sendiri, sama Minseok hyung lagi, seharusnya dia cemburu kalau aku jalan sama siapa gitu, Jo in sung misalnya."

"Ohhh… Jadi seperti itu?" Minseok menyipitkan mata, memasang wajah kesal.

"Eheeee bercanda hyuuuung." rajuk si dongsaeng sembari melingkarkan tangan di lengan yang lebih tua.

.

.

Rencana Baekhyun memang berhasil, meskipun tidak sempurna. Memandang wajah kesal Chanyeol dan lontaran kata syarat akan kecemburuan, Baekhyun sesekali terkikik sendiri ketika ia dan kekasihnya kebetulan tidak saling memandang. Baekhyun memang sengaja membiarkan kekasihnya dalam mood turun naik, meskipun Chanyeol terlihat lebih tenang dan bisa membawa diri. Di beberapa saat Baekhyun memilih duduk di samping Minseok, atau terkadang terkesan memilih cuek ketika diajak bicara Chanyeol dan justru asyik sendiri dengan hyung-nya itu.

"Kau kelewatan." Chanyeol berujar. Setelah selesai mengisi acara yang melibatkan seluruh member. Selama acara berlangsung tak sekalipun Baekhyun memandang wajah kekasihnya, merespon perkataannya-pun tidak. "Sengaja membuatku kesal ya?"

"Tidak kok…" Baekhyun memelankan suara. Ia tekan kode ponselnya, tanpa melihat ke samping dimana Chanyeol sudah siap memegang setir.

"Besok ulang tahunku, kau sengaja membuatku kesal?"

Baekhyun tidak mau berbohong, namun tak ingin juga mengakui. Jujur saja sedang menimbang-nimbang apakah ia akan melanjutkan kejahilannya atau tidak, ia tengok ke samping ketika mobil mulai berjalan dan Chanyeol terlihat sibuk memperhatikan spion, kepalanya menoleh ke kiri hendak mengarahkan mobil ke luar gerbang.

"Sayang?" Baekhyun memanggil, kali ini perhatian tertuju khusus pada kekasihnya, Chanyeol memang tampak keren, dengan kepala menengok sepenuhnya ke kiri, tangan kanan memutar setir, dan lehernya yang terekspos sempurna membuatnya tampak manly, seandainya saja mereka tidak berada di jalan, mungkin Baekhyun sudah melompat dan menjilatinya. "Sayang?" Baekhyun memanggil lagi.

"Hm?"

"Masih marah yah…?"

"Enggak kok… Memangnya kau, yang marahnya berhari-hari. Aku sih beberapa jam cukup." kemudian si jangkung tersenyum memandangnya.

"Baiklah… Aku mengaku kalau memang mengerjaimu. Sedikit…" Baekhyun nyengir, dipandangnya kekasihnya yang menyempatkan lagi menoleh ke arahnya. "Besok ulang tahunmu, kau mau apa?"

"Kamu."

Baekhyun mencelos. "Yah, aku serius."

"Dan aku juga." Chanyeol menjawab cepat. "Aku ingin kau saja. Berbaring di atas ranjang tanpa baju, itu sudah cukup." ia membuat jeda. "Lalu aku minta jatahku, kau harus melayaniku sampai pagi. Atau sampai tengah malam saja deh. Tidur sebentar lalu pagi lanjutkan lagi. Dua atau tiga ronde di pagi hari di ranjang dan kamar mandi. Itu saja cukup."

Baekhyun mendengus. "Itu sih… Kan biasanya juga kita lakukan… Kau tidak ingin sesuatu lagi."

"Aku ingin pulau sih."

Baekhyun lagi-lagi mengerutkan kening.

"Okay… Umm… Jadwal kita padat sih, seandainya ada waktu luang aku ingin kita pergi ke Jeju atau Busan. Aku ingin kita liburan. Dan menginap di bungalow. Berdua saja."

Baekhyun akhirnya tersenyum. "Oke… Tapi karena kali ini kau yang ulang tahun, jadi biarkan aku yang mentraktir yah?"

"Maksudnya?"

"Tiket pesawat dan bungalow, makan dan akomodasi. Semuanya aku yang tanggung, yah?" Chanyeol hendak menjawab, namun ia urungkan karena Baekhyun telah mencondongkan badan mendekatinya, tangan mungil Baekhyun bahkan sudah menyentuh pundak kanannya. "Pinggirkan mobilnya."

"Hm?"

"Beberapa menit lagi sudah jam dua belas, dan aku tak ingin kau melewatinya dengan memutar-mutar setir saja."

"Oke…. Lalu apa yang mau kau lakukan?" Chanyeol melihat sekitar, memilih menepi di samping jalanan dimana ada rentetan toko yang sebagian besar sudah tutup, kemudian memberhentikan mobil kemudian mematikan mesinnya. "Hm?"

"Aku mau memberikan hadiah ulang tahun pertamamu…"

"Wow. Oke, apa itu?"

Baekhyun melirik jam di dashboard, melingkarkan satu tangan di leher Chanyeol, ia menunggu hingga waktu yang menunjukkan pukul 11.59 beralih menjadi 00.00. "Selamat ulang tahun sayang." ujarnya sembari merangkak ke kursi kemudi, meregangkan satu kaki untuk mendudukkan diri di pangkuan Chanyeol sambil memutar pengatur kursi ke belakang dengan lihai, mendorong kekasihnya hingga mengikuti pergerakan kursi yang sudah tertarik sempurna, membuat posisinya bisa melihat langit-langit mobil dengan jelas.

"Mau orgasme berapa kali malam ini?" Baekhyun menanyai dengan nakal, tangannya meraih resletingnya sendiri, menurunkannya dan berkutat menurunkan celananya dengan profesional, ia meraih sesuatu di saku jaketnya, mengeluarkan botol pelumas mereka yang terlihat hanya tersisa sedikit, Chanyeol seharusnya tak perlu heran mengapa bisa demikian.

"Apakah normal menghabiskan satu botol pelumas dalam waktu sebulan?" komentar si bongsor, menerima botol dari lelaki yang menungganginya, ia turunkan denim dan celana dalamnya sampai lutut, mengeluarkan dan membiarkan juniornya terkena dinginnya suhu dalam mobil kala itu.

"Normal atau tidak aku tak peduli." Baekhyun pilih cuek, ia turunkan wajahnya di leher Chanyeol, sekedar menghirup dan mengecup, menjilat setelahnya, ia membaca pergerakan tangan Chanyeol yang hendak mengocok kejantanannya sendiri, hendak membuka tutup botol pelumas, namun Baekhyun menahan. "Biar aku yang licinkan milikmu, itu untuk melicinkan lubangku saja." Baekhyun berujar, memerosotkan tubuhnya hingga lututnya menyentuh dasar mobil, kedua tangannya menumpu di paha kekasihnya, kemudian membenamkan wajahnya di antara selangka Chanyeol.

"Ahhhh… Baekhyunhhh…" yang berhasil membuat Chanyeol mendesahkan namanya.

Ujung penisnya dikulum, kemudian dihisap kuat, Chanyeol menghela nafas berat seketika saat lidah Baekhyun yang lembut dan licin memijit seluruh batang penisnya, dari pangkal hingga ke ujung, sesekali menjepit kulit sensitifnya dengan dua bibir, mulut hangat Baekhyun membuatnya gila, juga nafas hangat yang kian memanjakan seluruh bagian penisnya, Chanyeol bergetar hebat, ia lingkarkan satu tangan meraih kursi di belakangnya, mencengkeram kuat sembari berusaha mengatur nafas.

Baekhyun kembali melahap batang menegang Chanyeol, menaik-turunkan kepala, sembari menghisap, memastikan ujung daging milik Chanyeol yang sudah licin dan basah menggesek langit-langit mulutnya, Baekhyun hampir tersedak, namun ia pelankan kulumannya, sedikit menarik kepalanya lalu bernafas, kemudian kembali memanjakan penis berkedut di dalam mulutnya itu.

"SSssshhhhh… Ahhh… Baekkkhhhh…." Chanyeol meracau, satu tangannya meraih kepala Baekhyun, mencengkeram rambut blonde yang kini masih bergerak naik turun di antara selangkanya, Chanyeol berusaha menahan nafsunya namun ia sudah tak berdaya, pinggulnya justru ikut bergerak, ikut turun naik, ia melesakkan penisnya jauh ke dalam lagi, meremas kepala Baekhyun dan menahannya, kini gerakan pinggulnya mendominasi, ia manjakan penisnya sendiri, membuat gerakan yang membuat orgasmenya cepat datang.

Baekhyun berusaha keras menuruti pergerakan Chanyeol, mulutnya kelu, penis besar Chanyeol menyeruak masuk sempurna ke dalam mulutnya, berusaha memasuki tenggorokannya, Baekhyun kesusahan bernafas, liurnya bahkan menetes keluar, ia hampir saja menarik mundur kepalanya, beruntung Chanyeol menyudahi pergerakannya, melepas kepala Baekhyun dan menarik pinggulnya hingga tersisa ujung penisnya saja di bibir merah kekasihnya. Ia turunkan satu tangan, memijit pangkal penisnya sendiri dan menahannya tetap di dalam mulut Baekhyun, Baekhyun menurut saja dan menyesap pelan, menikmati cairan Chanyeol yang menyembur keluar.

"Baek… AHhhh…. Sssssssshh…" orgasme pertamanya datang, dan Chanyeol menutup kedua matanya rapat. Ia nikmati tubuhnya yang seakan terbang ke langit dengan peluh yang mulai menetes membasahi pelipisnya, ia mengendurkan ototnya yang menegang, dan menatap ke bawah seketika merasakan sebuah kecupan di salah satu bola testisnya. "Baekhyun-ah?"

"Eum?" mata manja Baekhyun menatap ke atas, seperti tak punya dosa sembari menyesapi bola kembar Chanyeol bergantian, membuat Chanyeol menarik kepalanya lagi ke atas, rasanya bintang-bintang memenuhi kepalanya kembali, Baekhyun benar-benar ingin memuaskannya malam ini, atau membuatnya gila? "Baek…. Baekk… Sssmmmh… Kau tak ingin berhenti? Ummh…"

"Eumm,, eumm,,,," Baekhyun justru lebih kelihatan menikmati kegiatannya, ia bangunkan kembali kejantanan Chanyeol yang terkulai lemas, kini tangannya ikut meremas batang penis Chanyeol, memperlakukannya seperti mainan.

"Baek... Ummhh… Naiklah sekarang…" Chanyeol menginterupsi, ia tarik satu tangan baekhyun yang menekan-nekan paha dalamnya. "Sayang…"

Baekhyun berhenti, mengecup ujung penis Chanyeol sehingga cairan pre-cum yang sudah terkumpul turut membasahi bibirnya, Baekhyun menjilat bibirnya sendiri, menurut mengikuti Chanyeol yang sedang menariknya.

Gerakan Chanyeol sangatlah cepat, Baekhyun belum sempat naik sepenuhnya ketika sebuah jemari licin memaksa memasuki lubang bawahnya, perlahan membuat gerakan masuk, Baekhyun yang sudah ereksi terjatuh gontai ke dalam pelukan Chanyeol, menggunakan bahu kekasihnya sebagai pegangan.

Dengan ahli Baekhyun menggerakkan pinggul, tak susah menemukan penis tegang Chanyeol dan memaksanya memasuki lubang ketatnya, Baekhyun merendahkan badan, mengarahkan penis Chanyeol yang telah tertancap agar masuk sepenuhnya, ia bernafas berat saat satu tangan Chanyeol meraih kepala dan menariknya ke bawah untuk ciuman panas, mereka bergerak kemudian, Baekhyun menurunkan badan ke bawah saat kekasihnya menghentakkan pinggul ke atas, dengan ritme perlahan, dengan saling memautkan bibir, berperang lidah.

Chanyeol meneruskan genjotannya, satu tangan menahan pinggang Baekhyun, satu lagi mengocok penis Baekhyun yang terpantul turun naik karena ulahnya, ia meremas, menjepit, mengocok, membuat Baekhyun berteriak keenakan. Saling memberikan kenikmatan masing-masing, Chanyeol terus menerus menghajarnya tanpa henti, ia terdiam sesaat ketika penis Baekhyun berkedut. "Chan… Chan… Aku sampai sssh,, aaahhhhh…" Baekhyun menggigit bibir bawah, melihat spermanya muncrat dan membasahi kaus kekasihnya, ia mengatur nafas sesaat kemudian merasakan Chanyeol melanjutkan genjotannya. "Chanyeol-ah… ahhhh…."

Pergerakan mereka membrutal, Chanyeol tak sanggup lagi menahan tubuh Baekhyun, Baekhyun sempat gontai, menggunakan sisa kekuatan untuk tetap bertumpu pada bahu Chanyeol, sesekali ia mengecup bibir Chenyeol namun cepat pula menariknya, nafas mereka memburu, persatuan tubuh bawah mereka semakin intens, mata Chanyeol tertuju pada batang penisnya yang muncul-hilang dilahap tubuh Baekhyun, pijatan dan kehangatan lubang Baekhyun memeras seluruh isi penisnya sampai habis, rasanya miliknya telah lumer dan menyatu dengan Baekhyun, isi perutnya terasa gemelitik, entah dari kapan genjotannya semakin cepat dan tak terkendali. "Ahh ahh ahhh… Chanh… AHhhhh! Ahhhh!" Baekhyun meracau, dinding dalam anusnya dihajar habis-habisan, lehernya digigit keras, dan badannya melengkung ke atas saat Chanyeol behasil menumbuk titik prostatnya membuatnya melenguh keras dan menyemburkan sperma-nya lagi, disusul Chanyeol yang mengerang keras, suaranya tertahan di tenggorokan, pinggulnya naik dan menegang sekian detik, memenuhi Baekhyun dengan sperma hangatnya lagi.

Keduanya terkulai lemas, meskipun Baekhyun menyempatkan melingkarkan satu tangan di leher kekasihnya lalu mengecup bibirnya. Chanyeol membuka mata, mengeratkan kedua tangan di tubuh mungil yang berada di pelukannya. "Baek… Mmh… Nikmat sekali… Uhfff…"

Baekhyun mengerutkan kening, masih sadar betul milik Chanyeol masih tertanam di dalam tubuhnya, dan kalau Chanyeol bergerak ia bisa merasakan penis di salam tubuhnya bergerak pula, Baekhyun memukul dada Chanyeol pelan, tak mau mengambil resiko kalau meneruskan mereka tak akan bisa berhenti. Baekhyun mengatur nafasnya yang masih tersengal, seperti selesai konser di Tokyo Dome saja. Ia membiarkan tubuhnya terkulai lemas, mengecup pelipis Chanyeol yang basah sekali, dan menenggelamkan kepalanya di leher kekasihnya.

"Baek… Terimakasih hadiah ulang tahunnya."

Baekhyun tersenyum, ia mengangguk pelan. "Hm…"

"Bolehkah aku meminta lagi nanti? Ini masih ulang tahunku kan?" Satu tepukan di pipi membuat Chanyeol tersenyum. "Baek, aku tak mau terpisah darimu."

"Aku juga tak mau…" kali ini Baekhyun menjawab.

"Maksudnya… Aku tak ingin mencabut penisku." perkatannya membuahkan satu tepukan lagi di pipi. "Baek…"

Baekhyun terkekeh. "Baiklah, diamkan disitu kalau begitu."

"Kalau aku bergerak boleh?" Tepukan lagi di pipinya dan Chanyeol terkekeh. "Sayang? Kalau aku meminta sesuatu, boleh?"

"Apa?"

"Lain kali aku ingin kau meng-oral penisku lagi. Rasanya luar biasa."

Baekhyun tahu ia bersemu merah, namun tetap ia menanggapi dengan anggukan.

"Dan di waktu yang sama izinkan aku meng-oral milikmu juga."

"Baiklah… Lain kali yah…" Baekhyun berbisik.

Kedua tangan Chanyeol bergerak dan menemukan pantat telanjang Baekhyun. meremasnya pelan, membuat gerakan memutar, menghimpit keduanya, dan Baekhyun menaikkan kepalanya. "Chan—"

Chanyeol meringis, ia kecup hidung Baekhyun yang hanya berjarak sekian centi dari wajahnya.

"Kita harus pulang dan istirahat, nanti kuberi lagi sampai di dorm…"

"Janji ya?" Chanyeol terpekik senang, sontak membuatnya bergerak, dan membuat mereka berdua melenguh nikmat.

"Euuumhhhh….."

"Baek, bisa kau eratkan peganganmu?" Chanyeol bertanya serius, sembari memutar pengatur kursi sehingga kursi maju kembali ke posisi semula, membuat punggung Baekhyun sempat menyentuh setir. "Aku ingin terus begini sambil menyetir menuju dorm." Chanyeol meringis.

"Yah, kita bisa menabrak dan mati. Aku tak mau mati muda." gerutu Baekhyun.

"Ayolah, sayang… Aku yakin pasti bisa… Ahhhh…" Chanyeol melenguh, mendapati Baekhyun menggoyangkan pinggulnya membuat penisnya ikut terangsang.

"Tuh, begitu saja konsentrasimu sudah buyar." Baekhyun menggerutu, ia bersiap menaikkan badan hendak bangkit.

"Ok ok kalau begitu, tahan posisi seperti ini sebentar lagi, sebentar lagi, yah?"

Baekhyun mendengus, ia tak ada pilihan lain, ia menurut ketika Chanyeol memeluk tubuhnya kembali, saling bertukar kehangatan yang membuat Baekhyun bisa terbenam dalam ketenangan yang luar biasa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uwaaaaahh / too much NC isn't it?

yah karena banyak yang request jadi ya terpaksa(?) author bikin deh.

First, mau ucapin thanks lagi buat new reviewer (yang sering review dan pernah juga makasih)

Ada chanbaek numero uno, baektiful, lanarava6223, ayuliliffia

makasih udah sempetin review

untuk sehunboo17: belum kepikiran tamat sampe chaps berapa, kalo mood ya bisa 20+ tapi ga panjang-panjang deh ntar kayak utta*an jatohnya episodenya panjang(?). ada konflik lagi ga yah? Sepertinya ada, so keep reading ya ^^

Baektiful: ini udah dibikinin, next next next chaps mau dibikinin NC lagi ? heheeee

farzak: ini masih kurang panjang? besok mau bikin 30 pages full nc deh(?) updatenya ga maljum tapi bacanya pas maljum aja gimana(?)

Oyah karena ada yang nanya-nanya jadi author mau kenalan lagi deh ya(?)

Author yang receh ini 92-liner kawan (same age as Chanbaek) *tua ya? hehe

jadi dipersilahkan manggil kak, unni, nuna, author-nim, songsae-nim(?), sunbae, whatever, (kalo ada yg panggil dongsaeng juga syukur), still living as a worker girl(?) kerja kantoran gitu lah, di salah satu kota besar di jawa, di Surabaya tepatnya, hehe

Sudah dulu ya, mau lanjutin ke chaps selanjutnya, *ups

Author juga mau bikin oneshoot sih, kalo setuju angkat tangan(?)

maaf kepanjangan cingcong-nya, dari bendera dinaikkan sampai diturunkan, hehe

stay healthy all,

love you all,

Gumawo ^^