.

.

.

.

For safety:

Diharapkan dibaca di tempat aman, nyaman, dan mendukung(?)

Author tidak tanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan(?)

Happy (NC) reading ^^

.

.

.

Chapter XVII

"Jealousy and Holiday"

.

.

Ulang tahunnya dirayakan dengan kue yang disiapkan semua member, kecuali Kyungsoo yang saat itu ada jadwal untuk shooting drama-nya. Mereka berkumpul di ruang tamu, menyalakan lilin dan menyanyikan lagu ulang tahun. Chanyeol seperti biasa akan menunjukkan senyum lebar dan memamerkan gigi-gigi rapinya, turut bertepuk tangan dan menyanyi, dan bahkan menyambar lalu memainkan gitarnya sebagai encore.

Hadiah dari para member memang tak seberapa, tiga member, Jongin, Jongdae dan Minseok mengumpulkan ide mereka (dan uang tentunya) yang berbuah sepasang sepatu putih dengan Brand favorit Chanyeol, Sehun menghadiahi sandal jepit yang membuat Chanyeol ingin mengumpatinya dan melemparinya dengan bekas kuenya, si leader menghadiahinya sebuah buku yang Chanyeol rasa hanya akan berakhir di meja ruang tamu atau berubah fungsi sebagai ganjal laptop. Ia tahu membernya sekedar bercanda dan memang menurut Chanyeol yang terpenting bukanlah hadiah di hari ulang tahunnya, kebersamaan dan kekompakan inilah yang Chanyeol lebih sukai.

Mereka masih berada di ruangan yang sama, dengan garpu bekas makan kue di sana sini, kaleng cola dan snack dimana-mana. Maklum saja karena sembilan orang yang semuanya lelaki tinggal di satu atap, dan satu orang manager yang terkadang turut menghuni meskipun lebih sering tidak berada di kamarnya. Chanyeol saat itu masih sedang terduduk di sofa, memetik senar gitarnya asal, membuat alunan nada yang sekilas terlewat di kepalanya, di samping kirinya Baekhyun mengangguk-angguk, menikmati permainan gitar Chanyeol sambil sesekali melihat kekasihnya sembari tersenyum berseri-seri.

"Omong-omong, Baekhyun kau tidak kasih sesuatu untuk Chanyeol?" Suho yang sedang terduduk di karpet menanyai, membuat yang ditanyai menoleh kemudian membeku sesaat.

"Itu sih pasti sudah, di kamar semalam…" Sehun menyahut, menyeringai, ia yang sedang terduduk dan bersandar di sofa di dekat kaki Chanyeol terpaksa menyingkir cepat sebelum Chanyeol berhasil menoyor kepalanya.

Minseok yang saat itu duduk di sofa lain tersenyum, ia bisa menangkap wajah Baekhyun yang bersemu, juga Chanyeol yang tersenyum lebar dan terkesan hanya bercanda namun terlihat jelas bagaimana ia menghindari kontak mata dengan orang yang bahkan duduk sangat dekat di samping kirinya.

Siaran televisi menayangkan adegan dimana si pemeran utama sedang kejar-kejaran dengan musuh berbentuk alien yang sempat mencuri perhatian member, Sehun yang sebelumnya sibuk menghindari hentakan kaki Chanyeol akhirnya duduk menjauhi sofa dan menjatuhkan pandangan ke layar televisi, sisanya juga terlihat demikian, hanya Chanyeol yang masih sibuk memetik gitar dengan tangan kanan, tangan kirinya menekan senar, dan ia tersenyum sesekali ketika Baekhyun turut memainkan senar gitarnya, hendak menjahili, Chanyeol hanya menoleh, tatapan mereka bertaut, lalu tersenyum, Chanyeol memajukan wajahnya namun Baekhyun mundur dengan senyum lebar yang membuat matanya menyipit, si jangkung lalu melepaskan satu tangannya dari gitarnya dan menyentuh rambut Baekhyun, membuat yang lebih pendek menyentuh rambutnya juga, mereka sungguh terlihat manis, begitu Minseok pikir setelah bermenit-menit mencuri pandang.

.

.

Untuk kesekian kali Chanyeol memutar pergelangan tangan, mengecek waktu dari arloji emasnya. Ia tengah menunggu kekasihnya, di kedai yang sudah menjadi langganan mereka. Sebenarnya waktu janjian mereka adalah pukul tiga, yang berarti sudah lewat satu jam yang lalu, jujur saja Chanyeol agak bosan, ia menunggu sudah terlalu lama, sampai cangkir di depannya hampir kosong.

Si rapper itu akhirnya membuka akun media sosialnya, lagi-lagi mengecek akun pribadinya – Meskipun sedari tadi sebenarnya hanya itu yang ia lakukan – Ia tengah asyik melihat-lihat postingan video, men-stalking akun-akun yang ia follow, namun ketika ia sedang mencari di akun pencarian dan menemukan foto Baekhyun sedang berpose dengan temannya dan waktu postingan menunjukkan setengah jam lalu, Chanyeol tahu kesabarannya sudah tak utuh lagi.

Awalnya ia hampir mengirim pesan pada Baekhyun, mengatakan kencan mereka sebaiknya dilakukan di lain waktu saja mengingat Baekhyun nampaknya masih sibuk di lokasi shootingnya, namun ia mengganti skenarionya, ia tetap menunggu, sembari mengecek list kontak di ponsel, Chanyeol tiba-tiba tersenyum menyeringai, ia menghubungi seseorang kemudian bercakap-cakap sebentar, ia tunggu lagi beberapa saat hingga ia menemukan sosok kecil berlari tergopoh ke arahnya.

"Maaf-maaf, aku tidak tahu tadi Sunbae-nim mengajak makan… Aku tidak enak kalau langsung pulang…" Baekhyun menjelaskan, bahkan sebelum pantatnya menyentuh kursi, Chanyeol dibuat terkekeh olehnya, diletakannya ponselnya di meja, menarik kursi kosong di sampingnya dan menepuknya.

"Iyah.. Iyah… Duduk sini dulu."

"Oke… Tapi kau pasti sudah menunggu lama…"

Chanyeol hanya tersenyum, ia tepuk bahu Baekhyun kemudian membuka menu yang nampaknya sudah ia siapkan sedari tadi. "Mau minum apa?"

"Latte saja…"

"Oke…."

Secangkir latte telah tersajikan di meja, si lelaki berambut blonde tersenyum menundukkan kepala kepada pelayan kemudian segera mencicipi pesanannya. Enak memang, seandainya saja lelaki tinggi di sampingnya tidak memandangnya intens mungkin akan lebih enak lagi.

"Kenapa?" Baekhyun bertanya di balik cangkir yang menutupi dagu hingga hidungnya.

"Tidak… Hanya saja… Kulihat tadi ada postingan foto-fotomu dengan pemain drama lain…"

"Oh…" Baekhyun mengangguk, menaruh cangkirnya kembali ke meja. "Iyah, tadi pertama kali semuanya berkumpul, jadi semuanya asyik mengambil foto."

"Oh…" Chanyeol membuat jeda. "Sepertinya kau cukup populer yah disana…"

"Ah tidak juga…"

"Dan lelaki berambut cepak coklat itu lumayan tampan sih."

Baekhyun mengernyitkan dahi, ia melirik tajam ke arah kekasihnya. "Yah…. Jangan bilang kau cemburu…"

"Tidak cemburu sih… Hanya saja khawatir." Chanyeol membuat nada seakan bercanda. "Siapapun akan khawatir kalau punya kekasih manis, lucu, tampan sekaligus cantik dan menyenangkan sepertimu."

Baekhyun tahu ia merona, tapi segera menampik apa yang Chanyeol katakan. "Kau ini. Mereka hanya temanku…"

"Dan siapa yang tahu isi hati seseorang huh? Kalau seandainya lelaki berambut cepak tadi ternyata menyukaimu, bagaimana?"

"Ya itu kan urusan mereka…" Baekhyun menjelaskan, namun tak sempat ia meneruskan, seseorang telah mencuri perhatiannya, seorang wanita dengan jaket warna krem dan rambut coklat panjang bergelombang menghampiri.

"Hai… Chanyeol… Hai Baekhyun." Saebyul menyapa.

.

Waktu berjalan cukup lama, atau itu hanya perasaan Bakehyun saja. Si rambut blonde kini harus menerima kenyataan, duduk di tepi meja dengan menghadap dua orang yang asyik mengobrol, wajah Saebyul berseri-seri, iya memang wajahnya sangat cantik dan berseri, namun dengan wajah Chanyeol yang juga sedang tersenyum bahkan terkadang tertawa hingga kedua bahunya turun naik membuat Baekhyun merasa lebih tak nyaman.

Kekasihnya berbicara dengan wanita lain, Baekhyun merasa ada yang aneh dalam dirinya. Tentu saja mereka hanya mengobrol, Baekhyun tahu itu, namun melihat mereka bercanda dan bercerita satu sama lain, Chanyeol yang mengutarakan sesuatu kemudian Saebyul mengangguk menyetujui lalu melanjutkan ceritanya, membuat Baekhyun merasa jantungnya berdenyut ngilu, ia bisa menahan, mencoba setidaknya, melihat mereka berdua asyik sendiri, seakan punya dunia sendiri dan mengabaikan sekitar membuat Baekhyun tak sadar bahwa tubuhnya telah bangkit berdiri.

"Um… Aku… ingin ke toilet." Baekhyun berujar, menghindari tatapan mata baik Chanyeol ataupun Saebyul, ia melangkah pergi dengan terburu.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang Baekhyun sama sekali tak mengeluarkan suara, ia mempertahankan posisinya yang menatap keluar jendela. Jujur saja dalam hati ia ingin Chanyeol menjelaskan, setidaknya mencoba memulai pembicaraan, namun si bongsor juga memilih bungkam. Mereka sedang perang dingin, dan itu bertahan sampai mereka sampai dorm, sampai Baekhyun memasuki kamar dan enggan keluar lagi, sedangkan si jangkung terlihat santai menuju dapur mengambil minum, memakan snack, kemudian memilih berkunjung ke kamar dongsaengnya.

Baekhyun merebahkan diri di ranjang, kali ini di ranjangnya sendiri, yang sepertinya sudah sekian lama tak dihuni, ia masih memajukan bibir bawah, memainkan ponsel sampai ia merasakan ponselnya bergetar dengan serentetan nomor tak dikenal memenuhi layar.

Baekhyun mengetuk layar ponselnya, memutuskan untuk mengangkat setelah sekian detik kemudian. "Halo?"

"Baekhyun?"

"Hm? Siapa ini?"

"Ini aku, saebyul…"

Baekhyun menghela nafas, ia bahkan sudah tidak mood untuk bicara, namun Saebyul yang sebenanrnya sudah tercantum di kontaknya tetapi tiba-tiba memakai nomor lain untuk menelepon dirinya membuat Baekhyun sedikit penasaran. "Ah… Iya, ada apa Saebyul-shii?" Baekhyun membuat jeda sesaat. "Kau mengganti nomer ponselmu?"

"Umm… tidak, aku sengaja memakai nomor lain…" Saebyul terdengar sedikit tertawa. "Aku takut kalau nomorku yang muncul kau tak mau mengangkatnya." Baekhyun sempat bingung mau menjawab bagaimana, ia terdiam, masih mendengarkan. "Kau pasti kesal ya tadi? Maaf yah, aku dengan tidak sopan asyik sendiri dengan kekasihmu."

Baekhyun terkejut, yah, sampai dagunya merosot ke bawah, terperangah, seperti terkena serangan jantung, apalah itu.

"Hehe… Maaf yah, tadi sengaja memang Chanyeol mengajakku bergabung, aku sedang kebetulan lewat, dia bilang dia sedang menunggu kekasihnya, lalu aku izin pergi sebentar, aku sempat kaget waktu kulihat dia bersamamu, kukira dia bercanda saat dia bercerita kalau kau adalah kekasihnya sekarang ini. Tapi ternyata itu benar." Saebyul berkata panjang lebar, ia meneruskan kemudian. "Maaf Baekhyun-shii… Tolong jangan dianggap serius yah, tadi aku hanya mengobrol dengannya, tidak bermaksud apa-apa, jangan bertengkar dengannya yah… Oyah, aku lupa memberimu selamat, meskipun sudah telat sih, hehe, selamat yah… Semoga bahagia! Jaga diri baik-baik yah, semoga sukses dalam hal apapun dan jangan sampai sakit, jaga dirimu, titip salam untuk Chanyeol, bilang kapan-kapan aku minta traktirannya, hehe~ Baekhyun-shii, kau masih disana kan?"

"Ah.. Oh, eum, iya…"

"Oke kalau begitu kututup dulu yah, maaf mengganggumu selarut ini, dadahhh~"

Saebyul mengakhiri telepon, yah bisa dibilang seenaknya sendiri. Baekhyun masih mematung melihat layar ponselnya yang sudah gelap gulita, dan disaat yang sama seseorang memasuki ruangan dengan menutup pintu, kemudian berjalan hingga sampai di sisi ranjang.

"Saebyul menelepon?"

"Huh?" Baekhyun mendongak memandang kekasihnya yang tersenyum-senyum seperti bintang iklan pasta gigi, Baekhyun hendak menjawab lagi namun kecupan kilat di poni blondenya membuatnya hanya membuka mulut lalu menutupnya kembali.

"Aku sengaja tadi mengajaknya… Tidak bermaksud apa-apa…"

Baekhyun mencerna kalimat Chanyeol, namun keinginannya untuk protes sangatlah tinggi, ia membiarkan Chanyeol mengambil tempat di sampingnya, sama-sama bersandar di headboard, Baekhyun membenamkan tubuh di bahu kekasihnya yang saat itu sudah menjulurkan tangan di belakang punggungnya, kemudian menarik tubuhnya. "Tapi tetap saja aku kesal…"

"Kesal kenapa?"

"Karena dia Saebyul. Dia pernah ada di kehidupanmu dulu. Dia mantanmu. Dia pernah mencintaimu dan kau juga pernah mencintainya." Baekhyun sadar mengucapkannya membuatnya sedikit malu, ia sembunyikan sebagian wajahnya di kaus hitam kekasihnya, menghirup aroma segar sehabis mandi yang menyeruak dari tubuh Chanyeol.

"Jadi kau cemburu?"

"Eum…" Baekhyun mengangguk. "Sedikit…"

"Saat melihatmu berfoto dengan orang lain juga membuatku cemburu…"

"Jadi kau balas dendam?"

"Tidak sih…" Chanyeol mengeratkan pelukannya, mengusap rambut berwarna blonde yang bergerak-gerak lembut di lehenya. "Kau jangan khawatir dengan Saebyul yah… Justru dia yang membantuku menyadari perasaanku. Dia juga mendukung hubunganku denganmu."

"Um… Tapi kan, siapa yang tahu isi hati seseorang?" Baekhyun berujar, sengaja membalik pertanyaan yang sebelumnya Chanyeol pernah lontarkan. "Seandainya Saebyul ternyata masih menyukaimu, bagaimana?"

"Itu sih urusan dia…" Chanyeol membalas, tak kalah cerdik.

Baekhyun manyun dengan menyipitkan mata.

"Oke… Oke… Maafkan aku… Kita seharusnya tidak bertengkar, kita harus berbaikan karena ada liburan yang harus segera kita nikmati, kau ingat?"

Baekhyun menarik kepalanya, semangat. "Oh, iyah! Kau sudah mengecek jadwal?"

"Eum, seminggu ke depan akan penuh dengan jadwal comeback, lalu acara akhir tahun, kita akan berangkat mungkin sebulan lagi?"

Baekhyun merengut. "Yah…."

"Tapi kau sudah janji kan?"

"Iya… Tapi itu terlalu lama…"

"Daripada tidak?" Chanyeol meraih kepala Baekhyun, mengecup ujungnya sebelum menyandarkannya lagi ke bahunya. "Kita bekerja keras dulu, dan sebulan ini aku yakin kita tak banyak waktu untuk bersama, setelah itu, begitu jadwal kosong dan kita bisa berangkat, aku bisa balas dendam."

"Wow. Terdengar horor." Baekhyun melebih-lebihkan.

"Kau tak ingin?"

Baekhyun terpaksa tersenyum malu, menyumpahi mulutnya yang suka keceplosan, sebaiknya ia tak membahas ini karena Chanyeol adalah tipikal suka menggoda apalagi jika membicarakan soal bercinta.

"Ingin kok."

"Baiklah… Kalau jadwal tidak berubah kita punya dua hari tiga malam. Dan aku hanya berniat membawa pakaian tiga potong."

"Dasar maniak."

Dadanya dipukul, dan Chanyeol tak tahan untuk tak membalik tubuh mungil yang selalu terkikik riang jika ia serang seperti ini, mereka berkutat, seperti anak kecil bertengkar memperebutkan sesuatu, seandainya besok tak ada shooting pagi buta, mungkin Chanyeol akan menelanjangi kekasihnya dan menyerangnya. Seandainya.

.

.

.

Langit masih tampak gelap, suhu udara belum naik dan ramalan cuaca di televisi masih menyiarkan bahwa akhir-akhir ini kabut masih akan menyelimuti sebagian wilayah di Korea Selatan. Namun itu semua tak menghalangi Baekhyun untuk berkemas, memilih-milih barang yang ia akan bawa dan menyimpannya dengan rapi di ransel. Yah, ransel, Chanyeol melarangnya untuk membawa koper, alasannya karena hanya dua hari akan pergi, Baekhyun tahu sebenarnya itu adalah modus, namun ia memilih menurut saja. Chanyeol sendiri sudah siap sedia, hanya mengantongi beberapa permen dan ponsel di saku jaket. Tas ransel hitamnya berisi hanya beberapa potong pakaian dan Jongin yang jahil berhasil memasukkan beberapa pack kondom dan dua botol pelumas, Chanyeol menganggap itu hanyalah bentuk dukungan dongsaengnya dan menanggapinya hanya dengan senyum.

Mereka menuju ke airport dengan cara terpisah. Chanyeol sengaja berangkat terlebih dahulu, karena jadwal yang berakhir satu jam lebih cepat dari Baekhyun, memilih menunggu di airport sebelum akhirnya kekasih mungilnya menyusul dan pada akhirnya duduk berdampingan di pesawat. Penerbangan mereka hanya menghabiskan waktu sekitar lima puluh menit, mereka sampai di Jeju meskipun suhu udara masih dingin, bungalow yang sebelumnya mereka ingin pesan tergantikan dengan hotel bintang lima yang Baekhyun usulkan.

Seandainya mereka datang di musim panas mungkin mereka akan lebih bisa menikmati. Jeju terkenal dengan laut dan pemandangan bunga-bunga, akan lebih indah jika cuaca bagus dan melihat bunga bermekaran, namun keduanya tidak kecewa, mengingat jadwal yang selalu penuh dan bisa menyempatkan waktu untuk liburan bisa digolongkan menjadi sebuah keberuntungan. Chanyeol menyewa mobil kala itu, menginjak gas dengan semangat meski udara di luar cukup dingin, ia memakai jaket tebal dan melirik Baekhyun yang memakai sweater hangat berwarna hijau, manis sekali.

"Sayang sekali cuaca di luar masih dingin." Chanyeol menggumam. "Jadi kita tidak bisa jalan-jalan keluar."

"Uh, dasar…" Baekhyun menyahut, masih memandang ke luar jendela. "Padahal itu kan yang kau harapkan, tetap berada di kamar dan tak keluar. Aku bisa membaca pikiranmu tahu."

Chanyeol terkekeh.

"Tahu begini kita tidak perlu pergi jauh-jauh, sewa saja kamar hotel mahal di Seoul.."

"Tapi kan pemandangan disini tetap indah, Baek…" Chanyeol merajuk, memelankan kemudinya. "Kau tidak ikhlas memberikan kado ini untukku hm?"

Baekhyun menghela nafas, ia melihat ke samping dan menarik pelan telinga besar kekasihnya. "Aw!"

"Sudah menyetir saja yang benar, kalau sudah sampai hotel bangunkan aku, aku mau tidur sebentar sebelum tak bisa tidur dua hari."

Baekhyun menutup matanya dengan ditemani gelak tawa berat Chanyeol.

.

.

"Kita memiliki waktu semalaman…" Chanyeol berujar, suaranya seperti erangan yang menggema dibalik dadanya. Sekujur tubuhnya dipenuhi keinginan, nafsu, dan mungkin sedikit ketidaksabaran saat ia menindih tubuh kekasihnya ke ranjang luas, empuk dan lembut mereka. Mereka baru saja sampai di kamar hotel mewah yang mereka booking, Chanyeol membuang ransel besarnya di salah satu sofa elegan berwarna coklat yang ada di sudut ruangan, jangan ditanya karena kamar executive class bahkan memiliki bar di dalamnya, juga kamar mandi yang sebesar ruang tamu dorm. Si jangkung tersenyum puas dengan pilihan kekasihnya, kemudian tanpa membuang waktu menarik Baekhyun yang saat itu tengah berjalan sambil mengagumi sekeliling ke arah ranjang.

Baekhyun menurut saja, beruntung ia sempat tertidur selama empat muluh menit di perjalanan tadi, jadi kalau Chanyeol ingin mengajaknya sekarang juga ia siap. Kedua tangannya merambah naik, melingkar di leher lelaki di atasnya, dan Chanyeol tak membuang waktu untuk mengarahkan tangan besarnya ke bagian bawah tubuh kekasihnya. Chanyeol yakin ia mendengar suara kain yang robek, namun ketika Baekhyun mengeluarkan desahan beratnya Chanyeol tak lagi ingat apapun kecuali segera menikmati kulit lembut pucat di bawahnya.

"Apakah aku boleh berteriak kali ini?" tawa Baekhyun renyah, jemarinya bermain-main di sela rambut coklat kekasihnya sebelum menariknya sehingga mulut mereka bisa saling menyentuh, tak bisa dibilang ciuman, terlalu banyak lidah dan liur, namun demi apapun, begitu saja dapat membuat keduanya semakin terangsang.

"Berteriaklah." Chanyeol tersenyum miring. "Keluarkan teriakanmu sama seperti kau mencapai nada tinggi di lagu Mama."

Baekhyun hendak menjawab, namun suaranya tertahan begitu Chanyeol menurunkan kepala dan menggigit lehernya.

"Chanhh—" Baekhyun mengerang di tenggorokan, dan Chanyeol masih sibuk menyesap leher mulusnya dengan kuat.

Baekhyun mendesis pelan, kepala Chanyeol tak kunjung bergerak, menggigit kuat di area sama dengan sesekali menyesap, Baekhyun hendak bergerak menyamankan posisi namun Chanyeol menarik kepalanya, mereka berpandangan sesaat, tangannya meraih kaus yang Baekhyun kenakan, menarik ke atas hingga lepas dari badannya, selanjutnya ia meraih kedua lengan Baekhyun, mengarahkannya ke atas dan Baekhyun menurut. Senyum si mungil tergambar saat Chanyeol menyatukan pergelangan kedua tangannya dan mengikatnya dengan kaos yang ia pegang.

"Chan—"

"Diamlah…" Chanyeol memastikan ikatan simpulnya kuat, kemudian memandang lagi kekasihnya yang teramat seksi dengan bagian badan atas yang sudah telanjang. Kulit pucatnya berwarna merona, seperti bersinar diterpa lampu hotel yang bahkan tidak begitu terang. "Aku ingin menikmatimu dengan lembut dan perlahan." Chanyeol meraih resleting kekasihnya, menariknya dan melepasnya perlahan, bersamaan dengan celana dalam berwana hitam yang nampaknya sudah terasa sempit karena kejantanan Baekhyun yang sudah menggembung. Chanyeol menariknya turun, perlahan sampai Baekhyun rasa ini tak akan selesai hanya dengan satu malam, dan pandangan Chanyeol yang tertuju ke setiap inchi kulitnya membuat Baekhyun merasa malu.

"Chanyeol, jangan memandangiku seperti itu…"

"Kenapa?" Baekhyun mencelos, kini pandangan itu tertuju ke matanya, membuatnya mendelik seperti kucing tertangkap basah mencuri ikan. "Kau diam dan nikmati saja, mendesah dan sebut namaku…"

Ikatan di pergelangan tangannya tak begitu kencang, sebenarnya Baekhyun bisa saja dengan mudah melepasnya jika ingin, namun ia tak melakukannya. Ia bahkan kini sedang sibuk mendesah keenakan. Chanyeol yang sudah telanjang terbenam di antara kakinya yang terbuka, sudah bermenit-menit menjelajahi tubuhnya dengan kecupan dan jilatan sana-sini, Chanyeol nampaknya serius dengan perkatannya ingin menikmati kekasihnya dengan pelan-pelan – Dan membuat kekasihnya sedikit tersiksa sebenarnya – Menelusuri tiap inchi kulit Baekhyun dengan kecupan dan jilatan. Lidahnya membuat alur dari bawah leher, mengecupi seluruh bagiannya kemudian turun ke dada, kedua putingnya dihisap bergantian, bahkan sampai bermenit-menit, Chanyeol butuh waktu sedikit lebih lama, kepalanya terbenam di dada Baekhyun membuat kedua kaki Baekhyun bergerak lemah menggesek permukaan sprei lembut dibawahnya, lidah licin Chanyeol kemudian turun lagi, mengecupi bagian perut, pinggang, dan bagian bawah perut yang bisa dibilang lama kepalanya berhenti dan menetap di sana.

Kedua matanya tertutup rapat, kepala menengadah dengan desahan yang berkali-kali sempat lolos dari tenggorokannya. Ia bisa merasakan hidung dan bibir Chanyeol menggesek bagian perut bawahnya, mulut Chanyeol terbuka dan menutup beberapa kali di area yang membuat Baekhyun merasa geli sekaligus nikmat, dan saat hidung kekasihnya mengendus di area selangka ia tahu desahannya terlalu keras kali ini. "Chanyeol-ahhhh…"

Baekhyun bisa merasakan kekasihnya kini menciumi paha dalamnya, kanan kiri bergantian, lelaki yang memegang kendali bergerak turun hingga ke betis, kemudian satu kakinya di angkat. Baekhyun bisa merasakan bagaimana Chanyeol mengecupi tiap inchi kakinya, memandang matanya dengan intens dengan menjilati telapak kaki dan satu persatu jemari kakinya, membuat Baekhyun menggelinjang dan sensasinya membuatnya ketagihan. Entah setan apa yang merasuki Chanyeol hingga dengan lihai melakukan itu semua, kemudian Baekhyun sama melenguhnya saat kaki satunya diperlakukan sama.

Chanyeol merangkak naik, Baekhyun bisa rasakan kekasihnya menurunkan badan dan merasakan hembusan hangat nafas kekasihnya di sekitar penisnya yang sudah menegak, ia berharap Chanyeol segera mengulumnya tapi nampaknya tidak semudah itu, Chanyeol benar-benar ingin bermain-main dengan raganya. Kali ini si jangkung melesakkan wajahnya di antara kedua kaki Baekhyun yang terbuka lebar, bibirnya terbuka lebar dan menangkup bola kembarnya yang sepertinya sudah penuh seakan mau pecah, si jangkung menyesap satu bola testis Baekhyun dan mengulumnya kuat, membuat badan Baekhyun melengkung ke atas, dadanya naik turun akan sensasi panas ini, kepalanya hampir tak bisa berpikir apapun.

"Chanh—Cepat … Ahhhhhhhhh…." Baekhyun mengerang, genggamannya kuat dan ia sudah tak sabar, mungkin ini nikmat untuk Chanyeol, tapi tidak untuknya. "Sayang—"

Chanyeol tersenyum menang, ia masih menyesapi testis kekasihnya, kini yang satunya, lidahnya terjulur dan bermain-main di sisi bawah penis Baekhyun, kulit yang sudah menegang itu ia jilat, sesapi dan kecupi, dari pangkal hingga ujung, dan ketika mulutnya membungkus ujung kepala penis yang sudah basah itu, Baekhyun kembali mendesah dengan lantang.

Hisapan Chanyeol sangatlah kuat, dengan dua tangan memijit paha kanan kiri Baekhyun, seakan memaksa cairan dalam penis Baekhyun untuk keluar, Baekhyun sudah hilang kesabaran, ia lihat ke bawah dimana kepala Chanyeol turun naik dan memaksa memasukkan seluruh batang penisnya hingga menuju tenggorokannya. "Chanhh—Ahhhhh…." kepala Baekhyun terhentak, ia harus mengatur nafas agar tak kehabisan oksigen, ini pertama kalinya ia ingin orgasme tanpa dimasuki, ini memalukan, hanya dengan mulut Chanyeol bisa membuatnya gila, dan penderitannya berakhir ketika Chanyeol menaikkan kepala hingga tersisa ujung penis Baekhyun di bibirnya, kemudian cairan kental Baekhyun muncrat menyembur keluar yang Chanyeol terima dengan senang hati dengan mulut terbuka.

Pinggulnya bergetar, Baekhyun akhirnya bisa bernafas lega, mata sayunya melihat Chanyeol yang masih menjilati penisnya yang masih basah. Apa Chanyeol akan membuatnya orgasme lagi?

"A-aku tidak tahan… Aku ingin kau saja… Chanyeol-ah… Masuki aku…" Baekhyun mencoba berkompromi, ia lihat Chanyeol menghentikam gerakannya, melihatnya intens. "Aku ingin penismu, memasukiku…"

Chanyeol tersenyum, namun kedua tangannya justru meraih pinggangnya, membaliknya hingga posisinya kini tengkurap.

Baekhyun ingin protes, namun ketika merasakan lidah licin kekasihnya menyesap tengkuknya Baekhyun akhirnya melenguh.

Permainan Chanyeol belum berhenti.

Butuh waktu bermenit-menit untuk Chanyeol menikmati kulit telanjang Baekhyun, lidahnya bahkan tak melewatkan satu inchi-pun dari kulit Baekhyun yang terlihat di depan matanya, ia menelusuri tiap lekuk tubuh kekasihnya, dari pangkal leher, turun ke punggung, pinggang, kedua paha, betis, hingga ujung jari kaki, Chanyeol bahkan memasukkan jari kaki Baekhyun ke dalam mulutnya, melumatnya, menikmatinya seperti orang hilang kesadaran, memang tubuh Baekhyun seperti madu, manis, lembut, dan Chanyeol sengaja melewati bongkahan pantat kekasihnya, ingin menyimpannya untuk di akhir.

Baekhyun merasakan pinggangnya di tarik, tangan Chanyeol mengarahkannya untuk menungging, Baekhyun menurut saja, dan ia mendesah untuk kesekian kali saat lidah licin kekasihnya memijat-mijat bagian tersensitifnya.

Tangan Chanyeol meremas-remas kedua pantat Baekhyun, ibu jarinya menarik kulit sekitar lubang Baekhyun sebelum menjilat lebih dalam. Baekhyun menggesekkan wajahnya di bantal, kakinya semakin terbuka, kepalanya menggeleng ke kanan kiri merasakan kenikmatan saat lidah lembut dan basah memaksa masuk ke dalam lubang ketatnya.

Dan tanpa aba-aba orgasme keduanya menjemput, cairannya menyembur ke bawah hingga membasahi sprei lembut di bawahnya, Baekhyun tak bisa menahan untuk tak mengerang.

"Chanh—Masukkan … Masukkan…." Baekhyun memohon, kali ini terdengar sangat parau, Chanyeol tahu ia sudah terlalu lama mengerjai kekasihnya itu, akhirnya dengan ditemani suara tutup botol yang terbuka, dan sedikit gerakan di belakang tubuhnya, Baekhyun bisa merasakan ujung menegang milik Chanyeol perlahan memasukinya.

"Ahhhhhhhh….." Baekhyun mendesah nikmat, ia benamkan lagi wajahnya di bantal, menikmati tiap gerakan yang kekasihnya buat, menyatukan lagi raga mereka, membuat Baekhyun serasa berada di surga.

Baekhyun bermandikan peluh, meracau tak tentu, ia berdialog lebih kepada bantal daripada kepada kekasihnya. Chanyeol masih bergerak memaju mundurkan pinggul, menghujam dan menggenjot kekasihnya yang masih menungging di bawahnya, Chanyeol ambil kendali sepenuhnya, entah berapa lama waktu mereka lalui, yang jelas Chanyeol masih ingin penis menegangnya bersarang di dalam tubuh kekasihnya, tak ingin mencabut, meskipun orgasme pertamanya sudah lewat berjam-jam lalu.

"Chan—Ah! ah! ah! ah! ah!" yang lebih kecil tersentak, gerakan Chanyeol makin tak tentu, kecepatannya konstan semenjak ia orgasme, sempat melemah namun kecang lagi. Baekhyun ingat sebelum mereka sampai Chanyeol menenggak sesuatu, mungkin obat atau apa, Baekhyun rasa mulai sekarang ia juga akan mecobanya, setidaknya untuk mengimbangi permainan kekasihnya.

Chanyeol menurunkan tubuhnya, mengecup tengkuk kekasihnya sembari melingkarkan lengannya di perut Baekhyun, ia menggerakkan pinggulnya maju sekitar lima kali, kemudian menahannya dan menyemburkan lagi sperma hangatnya.

Baekhyun ambruk, lengannya tak mampu lagi menahan, terlebih kedua pergelangannya yang diikat semenjak tadi, sebenarnya terasa sakit, namun ia menahannya.

"Baek—" seseorang di punggungnya memanggil, dan Baekhyun menoleh.

"Hm?"

"Aku ingin lagi… Kau bisa?"

Baekhyun terbatuk, sebenarnya Chanyeol berubah menjadi monster atau apa, namun pikirannya menjadi kabur saat pinggul Chanyeol bergerak lagi, dan Baekhyun merasakan sesuatu di dalam tubuh bawahnya kembali menegang.

"Uuh… Euhm… Lepaskan… Ikatannya?" Baekhyun bertanya terbata.

"Kalau kulepas ikatannya kau mau?"

Baekhyun seharusnya bilang tidak, namun ia mengangguk.

.

.

Semalaman mereka bercinta, Baekhyun yang kehilangan kesadarannya berkahir dengan tertidur pasrah meski ia yakin Chanyeol masih menggenjotnya. Dan ketika ia terbangun, ia melihat wajah Chanyeol pertama kali, masih terlelap berhadapan dengannya yang tertidur miring ke kiri. Baekhyun bergerak sangat pelan, berusaha dengan keras agar kekasihnya tak bangun, ia ingin mandi dan sarapan, setidaknya waktu sedikit untuk memulihkan tubuhnya yang kelelahan. Ia berhasil menelepon untuk memesan makan, sengaja memesan dua agar Chanyeol bisa langsung makan begitu ia sudah bangun, dan setelah menyelesaikan makannya Baekhyun memilih ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, suhu yang masih dingin membuatnya enggan keluar meski sebenarnya ia ingin jalan-jalan.

"Sengaja tidak membangunkanku, huh?" Chanyeol tahu-tahu sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi, menyandarkan bahunya dan melipat tangan di depan dada.

"Umm… Bukan begitu…"

"Lalu?" si bongsor mendekat, memeluk Baekhyun yang berbalut bathrobe putih dan sedang menyentuh air di dalam bath tub.

"Di depan sudah ada sarapan, kau makanlah…" Baekhyun mengalihkan topik, namun terlambat saat Chanyeol sudah mengunci tubuhnya, menghirup ceruk lehernya. Apa Chanyeol benar-benar tak kelelahan?

"Aku mau memakanmu saja…" desah si jangkung, kecupannya tak berhenti.

"Iyah… Tapi makanlah sarapanmu dulu, nanti kita lanjutkan…" Baekhyun menawar, susah memang meladeni bayi besar ini, Baekhyun harus mengalah dengan gaya seksnya yang tak terkendali, bukannya Baekhyun tak suka, ia menikmatinya, namun bukan berarti mereka harus melakukannya seperti maniak begini. "Sayang?"

Chanyeol akhirnya berhenti, ia melepaskan lilitannya, membiarkan Baekhyun memutar tubuh dan melingkarkan kedua lengannya di lehernya. "Kau… Makanlah sarapanmu, jadilah anak baik…" Baekhyun berkata semanis mungkin, dengan senyum merekah dan memain-mainkan rambut belakang kekasihnya. "Kalau sudah selesai, kau bisa mandi air hangat, dengan busa-busa… Bersama denganku…"

"Oke! Aku makan!" pekik si monster kegirangan.

.

Seharusnya Baekhyun tak menawarkan ini, dengan posisinya yang berada di antara kedua kaki panjang Chanyeol yang terbuka, punggungnya yang menempel dada kekasihnya, dan deru nafas Chanyeol di dekat telinganya membuat dirinya terangsang dan makin susah berpikir. Tangan Chanyeol terus bermain-main dengan penis mungilnya yang sudah menegak sedari tadi, bunyi kecipak air juga tak membantu, justru membuat Baekhyun semakin merasa hangat, Chanyeol beberapa kali menggerakkan pinggul, membuat kejantanannya yang terjepit di belahan pantat Baekhyun terus tergesek.

"Sssshh… Ummh…" Chanyeol mendesah, kali ini melahap telinga kiri Baekhyun, menjilatnya, memaksa lidahnya masuk ke dalam rongga telinga, Baekhyun dibuat bergidik karena sensasi gelinya.

Tangannya kembali melingkar di belakang kepala Chanyeol, saat wajahnya memiring, Chanyeol kembali menerjang bibirnya, hanya lilitan lidah, French kiss yang membuat Baekhyun kecanduan, hingga tak sadar ia menggerakkan bagian bawah tubuhnya yang sedari tadi memang tak pernah berhenti menggeliat.

Satu jam dan mereka masih berada di bath tub, dengan alunan lagu klasik yang berasal dari ponsel Chanyeol yang sengaja diletakkan di dekat wastafel tak jauh dari bath tub mereka, Chanyeol akhirnya memutuskan tautan lidah dengan kekasihnya, memutar tubuh Baekhyun dan memaksanya duduk di pangkuannya.

"Euunnghh…" keduanya melenguh bersama ketika penisnya berhasil melesak lagi ke dalam tubuh Baekhyun.

Chanyeol menahan tubuh mungil Baekhyun agar tetap di pangkuannya, sembari menggoyangkan pinggul, Baekhyun berpegangan pada bahunya, menengadah dan menikmati penyatuan mereka yang bahkan semenjak masuk bath tub tadi sudah berlangsung beberapa kali, hanya sekedar keluar-masuk, tanpa orgasme.

"Kau mau klimaks kali ini?" Chanyeol bertanya dengan suara beratnya, meremas pantat yang ada di pangkuannya, kemudian membenamkan wajahnya di dada mulus di hadapannya.

"Euuumhhh…. Chanssshhh… Oh oh…" Baekhyun tak terdengar menjawab, ia remas rambut yang bergerak lembut naik turun di dadanya. "Terserah… Kau … Ahhhh… Yang bisa membuatkuh…. Klimaks…"

Chanyeol tersenyum menyeringai, ia hisap kuat tonjolan kecil yang sudah menegang, puting Baekhyun adalah salah satu yang membuatnya terangsang dalam bercinta, ia hisap puting itu kemudian, dengan tidak memberhentikan gerakannya.

Baekhyun yang berada di atasnya tak membuat Chanyeol kesusahan untuk menerjang lubang hangat itu, ia justru menikmatinya, kecipak air dan suara kulit mereka yang bertubrukan memenuhi kamar mandi, Chanyeol tak hentinya menggenjot dari bawah, membuat tubuh di pangkuannya terhentak-hentak ke atas. Baekhyun sibuk meremas rambut Chanyeol, mendesahkan namanya, mengerang kuat, ia tak tahu seks di air akan begini nikmatnya, ia menegangkan otot bawahnya, menjepit kejantanan Chanyeol yang berkedut dan bergetar hebat, membuatnya semakin membesar dan siap menembakkan kembali sperma hangatnya.

Titik prostatnya ditumbuk tanpa henti, dan tanpa aba-aba lagi akhirnya Baekhyun merasakan penisnya menegang, cairan putihnya keluar, menyembur dan berbaur dengan air hangat yang sedari tadi bergerak hebat hingga keluar dari dalam bath tub. Chanyeol yang juga mengerang beberapa saat setelahnya, kembali memenuhi kekasihnya dengan sperma hangatnya, badannya menegang kemudian terkulai lemas, menyandarkan bahunya di sandaran bath tub dengan nafas tersengal dan dada turun naik.

Baekhyun mengatur nafas, masih memeluk bahu Chanyeol yang perlahan merosot, tubuh mereka masih terlena dengan kenikmatan orgasme dan bercinta di air hangat yang membuat mereka rileks, yang lebih pendek mengangkat kepala, memandang Chanyeol yang dengan nafas teratur menunjukkan wajah tersenyum. "Kau… Obat apa yang kau minum huh?"

"Kau mau?" Chanyeol justru menanyai dengan canda, ia kembalikan posisi dan kembali menahan tubuh Baekhyun di atasnya. "Luar biasa kan?"

Baekhyun bersemu merah. "Iyah, tapi kau tak apa-apa, bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu?" tanyanya dengan nada khawatir, mengusap sisi kepala Chanyeol dengan telapak tangannya yang basah.

"Tenang saja… Aku membaca petunjuk penggunaannya dengan baik…" Chanyeol kembali memamerkan gigi-gigi putihnya.

"Apa karena sebulan ini kita terlalu sibuk dan tak ada waktu untuk bersentuhan?"

"Salah satunya…"

"Alasan lain?"

"Karena…" Chanyeol membuat jeda, menyambar tangan mungil yang masih membelainya, kemudian mengecupnya. "Ini hadiah ulang tahun dari kekasihku dan aku tak mau melewatkannya." ia kecup lagi telapak tangan Baekhyun. "Dan karena aku mencintaimu, tubuhmu, semuanya."

Baekhyun tersenyum, ia tahu seharusnya ia tak tergoda dengan gombalan kekasihnya, namun sayang, kali ini ia bagai ikan yang memakan umpan, ia menurut saja saat Chanyeol kembali menggoyang tubuh bawahnya, kembali menerjang titik yang membuat Baekhyun melenguh lagi. "Chanh—"

"Kali ini mau ke kamar… Atau dimana?" dengan suara beratnya Chanyeol bertanya.

Baekhyun tidak menjawab, ia menatap kedua mata Chanyeol yang menatap lurus ke arahnya, ia mengeratkan tangannya yang membungkus leher kekasihnya. "Di pelukanmu… Dimanapun asalkan aku berada dipelukanmu…"

Nafasnya tersengal, darahnya seakan naik ke ubun-ubun hingga Chanyeol merasa kesadarannya hilang dengan jawaban Baekhyun yang baru ia dengar, dengan suara lemah dan parau yang memancing birahi Chanyeol hingga memuncak, ia tapakkan kakinya di dasar bath tub, dengan mengeratkan pelukannya ia angkat tubuhnya dengan membawa tubuh Baekhyun yang masih melingkar di dekapannya.

"Euuuuuuuuunghhhh…" Baekhyun melenguh keras, juga Chanyeol, yang dengan susah payah membawa Baekhyun seperti koala di gendongannya, Baekhyun melilitkan kakinya, menjaga tubuhnya agar tak jatuh, pergerakan mereka membuat penyatuan tubuh mereka bergerak, keduanya mendesah nikmat.

"Chan—Euhhh ummhh… Oh! Ah!" Baekhyun meracau, penis yang tertancap di dalamnya bergerak seiring Chanyeol menapakkan kaki dan berjalan membawanya keluar kamar mandi, dengan membantu membukakan pintu Baekhyun tetap menjaga posisinya, bercinta seperti ini sangat sulit, juga melelahkan untuk Chanyeol yang berjalan gontai namun tetap menjaga tubuh mereka berdua. Chanyeol melangkah dengan susah payah, berjalan kemudian mendesah, kemudian memperbaiki posisi Baekhyun, bergantian mereka saling mengerang dan membuat suara seperti keenakan dan nikmat, Baekhyun sempat memekik tertahan saat punggungnya menabrak dinding, Chanyeol menghentak-hentak ke atas sesaat untuk menstimulasi penis sensitifnya, agar menegang sempurna, dan ia berhasil melakukannya.

"Ah! AH! ahh!" Baekhyun terhentak, titik prostatnya kembali dihujam, di dalam dekapan kekasihnya, ia menurunkan wajah dan menjulurkan lidah, Chanyeol menerimanya dengan membuka mulut, membuat penyatuan bawah dan mulut mereka semakin intim.

Menyelesaikan orgasmenya dengan berdiri, akhirnya Chanyeol memutuskan tautan bibirnya dengan Baekhyun, melahap oksigen sebanyak-banyaknya, tubuh Baekhyun perlahan turun, Chanyeol masih memegang pinggangnya, Baekhyun merasakan cairan sperma dari lubangnya jatuh tertarik gravitasi, tercecer di lantai sisanya meluber dan memenuhi pahanya, sensasi ini membuat kejantanannya menegak kembali, dan ia mengenyampikannya rasa malunya saat ia sengaja menaikkan satu kaki. "Lagi… Chanyeol-ah…." dan meminta lagi seperti orang kecanduan.

Chanyeol menabrak tubuh kecil di hadapannya, menghimpitnya di dinding hingga ia tersengal, lagi merendahkan tubuh dan mengarahkan penisnya yang masih menegang untuk masuk ke dalam belahan pantat kekasihnya yang kini terbuka lebar karena Baekhyun masih menarik satu kakinya ke atas, Chanyeol memasukinya, lagi, dengan menutup mata mereka menikmati lagi penyatuan ini, dengan erangan, desahan, Chanyeol meraup bibir Baekhyun yang terbuka, menyesap, menggigit, satu kaki ramping kini melingkar di pinggangnya, kembali memanjat tubuhnya, Chanyeol menerimanya dengan senang hati, ia hujam lagi tubuh kecil yang masih lapar akan dirinya, haus akan spermanya, Chanyeol rasa ia sudah menggila, entah kenapa ia tak ingin ini berakhir meski tubuhnya sudah sangat lelah, ia menggenjot lagi, penisnya keluar masuk.

"Ah! AH! AH! Chan.. sssshhh…. Nikmat…. Ahhhh… Lebih kerassss…. AHHHhhhhhh…" Baekhyun berteriak lantang, penisnya kini diremas oleh tangan bebas Chanyeol, mengocoknya cepat, hanya dengan beberapa kali kocokan ia orgasme, cairannya keluar lagi, Baekhyun mengumpat, ia tersentak kaget saat Chanyeol menariknya, lagi menggendongnya tanpa mengeluarkan penis yang melesak di dalam lubang sempitnya, kembali berjalan menelusuri ruangan.

"Baek… Baekhyunssshh… Ohhhhh…. Sempithhhh sekali…. Sayang…." giliran Chanyeol meracau, ia remas pantat kenyal Baekhyun, memutarnya, menghimpit, ia buat gerakan yang membuatnya penisnya yang berada di dalam terasa lebih nikmat lagi, Baekhyun seakan menjadi property pribadinya, miliknya, sampai ia menemukan meja bar dan memutuskan merebahkan badan yang sedari tadi mengalung di tubuhnya ke atas meja kaca yang nampak kuat itu.

"Sayang… Ohhhh… Lepaskan…" Chanyeol berujar, mendudukkan Baekhyun di pinggir meja, Baekhyun menurut, tanpa melepaskan lilitan kakinya ia merebahkan diri, punggungnya menyentuh kaca dingin, tangannya kembali mengalung di leher saat Chanyeol menurunkan tubuh dan mengecup dahinya, kemudian hentakan pinggul Chanyeol bisa ia rasakan kembali.

"Chanh—Ohhh…." Baekhyun seperti hilang kesadaran, menikmati genjotan kekasihnya yang makin lama makin cepat, penis tegangnya memantul tak terkontrol, dan basah hingga cairannya membentuk seperti benang yang menghubung antara ujung penis dan perutnya, ia merasa lengket, mandinya yang berlangsung lebih dari satu jam seakan tak ada gunanya, pada akhirnya ia basah kembali, dan lubang ketatnya lagi-lagi terasa penuh, penuh akan sperma kekasihnya, hasil dari seks hebat mereka, Baekhyun merasa melayang, ingin seperti ini saja, mempertahankan posisi ini hingga Chanyeol melenguh nikmat sambil meneriakkan namanya, ia ingin Chanyeol menggilai tubuhnya sama dengan ia menggilai kenikmatan yang Chanyeol berikan pada tiap tusukan. "Lagih… Lebih dalam…. OOOOhhhhhhhh…"

Chanyeol menghentak keras, pinggulnya maju kemudian terdiam sesaat, ujung penisnya siap menyemburkan jutaan sperma, menumpuk dan membasahi daging terdalam Baekhyun yang sangat sempit dan luar biasa nikmat, ia melenguh sembari memeluk kepala Baekhyun yang juga tersentak naik. "Baekhyunnnn…"

Mereka berpandangan, Baekhyun dengan rambut acak dan berantakan, bibir merah bekas gigitan dimana-mana, Chanyeol tak jauh berbeda, ia baru menyadari begitu melihat tubuh terkulai lemas di bawahnya, masih di atas meja, seperti anak kecil hasil korban kekerasan.

"Umm… Baek…?" sepertinya Chanyeol baru sadar akan kelakuannya, ia melihat Baekhyun dengan khawatir. "Sayang… Aku…"

"Hmm?" akhirnya Baekhyun membuka mata, setelah sekian lama, memandangi Chanyeol dengan nafas yang mulai teratur.

"K-kau…."

"Ya?"

"Kau… Maaf, kau tak apa?" mengusap dahi kekasihnya yang penuh peluh, Chanyeol masih memasang wajah khawatir.

Di luar dugaan, Baekhyun justru tersenyum. "Aku tak apa…" dadanya turun naik. "Dan aku masih ingin lagi…"

Chanyeol terperangah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hampir 20 pages full NC yang bikin author kepanasaaaaan 0/0

*Carikipas

Btw ini terlalu panjang jadi author bagi jadi dua bagian chapter liburannya

ada yang mau kasih ide chaps selanjutnya chanbaek mau bercinta ala apalagi?

Makanya kasih review yg banyak ya

makin banyak ide makin bagus(?)

Btw makasih lagi buat yang review yah

chu-san seneng banget sama yang udah mau review kayak kerja keras chu-san dihargai hehe

buat baektiful okedeh nanti akan ada konflik pas mau ending *spoil

FYI, author bikin oneshoot juga berjudul 'Diary' boleh banget dibaca dan mohon review nya hehe ^^

Saranghaeee lottooo

pyong ^^