Title : It's Okay My Love

Pairing : Meanie (Mingyu x Wonwoo SEVENTEEN)

Genre : Angst, Romance, Drama

Length : chapter 2 of 6

Rating : PG-13

Note :

Chapter 2 yeorobun… Gomawo buat yang udah follow maupun komen. Ditunggu komen berikutnya di chap ini...

Kesamaan cerita hanyalah ketidaksengajaan semata. Pernah baca cerita serupa anggap saja nasib.

Warning! Alur cerita membosankan alias gampang ditebak, banyak tipo, cerita nggak mutu, cerita terlalu pendek, bahasa terlalu formal, dll.

Don't like don't read! Comment is appreciated while no room for bashing!

The characters here belong to God and their parents.

Finally happy reading and I hope you'll enjoy it.

©2016 Davidrd copyrights

.

.

4tahun yang lalu

Hari ini sepulang latihan, aku mendapati seorang pemuda berdiri memandang keluar jendela di dalam kamar tidurku. Siapa dia? Apakah dia tidak tahu kalau aku benar-benar membenci orang asing memasuki ruangan pribadiku. Hanya mereka yang benar-benar dekat denganku yang bisa masuk ke sini. Tapi kenapa pemuda ini bisa berada di sini?

Pemuda itu lumayan tinggi, ya mungkin hanya beberapa cm lebih pendek dariku. Tubuhnya ramping, tidak selebar dan sekekar tubuhku. Rambutnya hitam legam senada dengan sweater yang dipakainya. Kebetulan dia berdiri memunggungiku, jadi dia tidak tahu ada orang yang sedang memandanginya.

"Nuguseyo?" kuberanikan membuka suara setelah sekian lama memandanginya. Aku penasaran dengan wajahnya. Dia sedikit terkejut dan terlonjak saat mendengar suaraku, tubuhnya juga sedikit gemetaran, mungkin karena dia tahu telah tertangkap basah berdiri di kamar orang lain tanpa izin.

Pemuda itu berbalik dan aku mendapati pemuda berwajah tampan dengan mata segaris menatapku takut-takut. Dengan segera ia menunduk, meremas ujung depan sweaternya dengan kedua tangannya,"Mi…mian…hae..yo."

"Kenapa kau ada di kamarku?" aku kembali menanyakan sesuatu padahal satu pertanyaanku saja belum dijawabnya.

"Mi…an, haraboji yang menyuruhku menunggu di sini," dia tidak berani menatap mataku. Suaranya terdengar bergetar seperti orang yang sedang menahan tangis.

"Haraboji? Maksudmu kakekku?" aku tak percaya kenapa kakek membiarkan pemuda ini menunggu di sini. Bisa saja dia mengambil barang-barang berhargaku dan membawanya kabur kan? Atau mungkin saja dia seorang haters yang ingin mencari kelemahan dan keburukanku sehingga aku bisa ditendang keluar dari team kan?

"Ne," jari-jarinya masih sibuk meremas-remas sweater yang dipakai. Hei, apakah aku sangat menakutkan sampai-sampai dia tidak mau menatapku?

"Yah! Siapa namamu?" aku kembali bertanya mengingat dia belum menjawab pertanyaan yang satu itu. Kulihat mulutnya membuka namun tak ada suara yang terdengar. Kemudian,"Oh Mingyu kau sudah kembali. Wonwoo-yah ini yang namanya Mingyu," haraboji memasuki kamarku. Jadi pemuda ini bernama Wonwoo.

"Haraboji, siapa dia?" tanyaku pada kakek yang sangat kusayangi itu. Walaupun banyak yang bilang kakek itu menakutkan dan galak sekali, tapi beliau tidak begitu padaku. Memang beliau sangat disiplin dan taat peraturan, itulah yang membuat banyak pegawainya di kantor maupun pekerja di rumah kami takut pada beliau.

"Kalian belum berkenalan?" haraboji yang rambutnya sudah hampir putih semua menatap kami berdua. Wonwoo menggelengkan kepala pelan dan aku berkata,"Belum haraboji."

"Ah, baiklah. Kakek akan memperkenalkan kalian di meja makan saja. Sekarang Mingyu ganti bajumu dulu, kakek tunggu di ruang makan. Ayo Wonwoo, ikut dengan kakek!" pemuda itu berjalan melewatiku masih dalam posisi menunduk. Ei, apakah dia tidak takut akan menabrak sesuatu berjalan seperti itu?

Karena penasaran aku berganti baju secepat kilat. Untung saja aku sudah mandi di tempat latihan, bayangkan saja kalau aku makan malam dengan keluarga dan seorang tamu dalam keadaan bau keringat. Aish, pasti akan sangat memalukan.

Saat aku sampai di ruang makan, semuanya sudah berkumpul di sana. Ayah, Ibu, Kakek, dan Wonwoo. Aku langsung duduk di kursi kosong di samping Wonwoo. Kenapa suasananya seperti ini? Eomma kelihatan tidak bahagia dan semuanya diam. Padahal biasanya sebelum makan Eomma akan sibuk berbincang dengan ayah maupun kakek. Tapi sekarang suasananya seperti akan ada perang dunia tiga.

Kakek memberi tanda agar semua mulai makan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil sumpit dan mulai makan sajian di depanku. Di sampingku, Wonwoo sepertinya sangat tidak nyaman makan dalam keadaan tegang seperti ini. Dia bahkan hanya makan sangat sedikit. Jangan kira aku memperhatikan gerak-geriknya! Hanya saja ekor mataku selalu menangkap setiap gerakannya, makanya aku tahu.

"Wonwoo-yah, makanlah yang banyak!" Kakek tiba-tiba saja memecah keheningan. Ternyata, bukan hanya aku saja yang memperhatikan Wonwoo. Kakek menyumpitkan sepotong daging belut dan meletakkannya di atas mangkok nasi Wonwoo. Ah ya, aku jadi ingat kakek berjanji akan mengenalkan Wonwoo padaku.

"Haraboji, bukannya kau akan mengatakan sesuatu padaku?" aku menatap Haraboji dan beliau langsung mengerti maksudku.

"Hahaha sepertinya kau penasaran sekali Mingyu-ya," haraboji tertawa pelan, otot-otot wajahnya tertarik membentuk sebuah senyuman penuh arti.

"Tentu haraboji. Makanya sekarang ceritakan semuanya padaku," aku kembali menuntut agar kakek mulai bercerita.

"Baiklah. Dengarkan baik-baik dan jangan menyela!" itulah kata-kata andalan kakek saat beliau hendak bercerita. Beliau sangat tidak suka orang yang menyela ceritanya. Katanya, menyela perkataan orang, apalagi orang tua seperti kakek itu perbuatan yang tidak sopan. Jadi, aku hanya mengangguuk.

"Pemuda di sampingmu bernama Jeon Wonwoo. Dia adalah calon istrimu."

"Apa? Calon istri kek? Bagaimana bisa?" aku kaget bukan main, bagaimana bisa dia adalah calon istriku? Bertemu saja baru kali ini.

"Mingyu-ya, sudah kakek bilang dengarkan dulu!"

"Bagaimana bisa aku mendengarkan lanjutannya kek? Kau bahkan tidak menanyakan bagaimana tanggapanku tentang perjodohan ini!" aku membanting sumpit di genggaman tanganku dan dengan kesal meninggalkan ruang makan. Kudengar teriakan-teriakan dari arah ruang makan selama aku berjalan menuju kamarku. Mungkin saja itu suara eomma.

Apa yang sebenarnya kakek pikirkan. Bagaimana bisa beliau memutuskan perjodohanku begitu saja? Ini sudah zaman modern, aku bisa memilih pendampingku sendiri. Jadi, kenapa kakek harus repot-repot mencarikan jodoh untukku.

.

.

.

Tok tok tok

"Mingyu-ya," suara kakek terdengar dari balik pintu. Aku memang tidak pernah marah bahkan ngambek pada kakek, jadi sudah pasti beliau akan merasa khawatir. Aku tidak tega membiarkan beliau menunggu di luar kamar, jadi kubuka saja pintu kamarku. Aku tahu tujuan kakek ke sini pasti untuk mengubah pemikiranku.

"Mingyu-ya, bisakah haraboji bicara denganmu?"

"Baiklah haraboji,"kupersilakan beliau masuk dan duduk di sofá dekat dengan tempat tidurku, sedangkan aku duduk di sebelahnya.

"Mingyu, aku harap kau akan mendengarkan perkataan haraboji kali ini," beliau terdengar sangat serius, nada suaranya seperti saat beliau sedang berada di kantor.

"Ne."

"Pada zaman dahulu, ada seorang anak yang sangat miskin dan hidup seorang diri setelah kedua orangtuanya meninggal karena sebuah kecelakaan tragis. Mendiang orangtuanya sangat miskin hingga mereka tidak bisa mewariskan apapun pada si anak, kecuali sepasang baju lusuh yang dikenakannya. Namun, tiba-tiba sebuah keluarga kaya raya membantunya, menyekolahkannya hingga ia lulus kuliah. Bahkan mereka membantunya merintis sebuah usaha hingga berhasil. Keluarga itu mempunyai seorang anak laki-laki seumuran dengan si miskin dan mereka menjadi teman dekat. Mereka bahkan berjanji akan saling membantu di masa depan," kakek berhenti bercerita, tapi sepertinya kakek hanya menarik napas sebelum melanjutkan ceritanya.

"Di saat usaha si miskin semakin maju, keluarga si kaya justru mengalami kebangkrutan. Orang tua si kaya meninggal dunia dan karena anaknya tidak menguasai bisnis seperti orangtuanya, dia akhirnya menyerah untuk mempertahankan kekayaan keluarganya dan memilih menjadi seorang pelukis di sebuah desa terpencil. Si miskin tidak mengetahui hal buruk yang menimpa keluarga si kaya dan akhirnya mereka kehilangan kontak dan tidak pernah bertemu," kakek tidak menatapku dan tatapannya justru menerawang seolah menembus tembok dan menuju pada suatu titik di luar sana.

"Setelah lima puluh tahun mereka bertemu kembali tanpa sengaja. Si miskin kaget bukan main dan merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu temannya itu. Si kaya sekarang sudah menjadi kakek-kakek dan hidup berdua saja dengan cucunya karena anak dan menantunya telah meninggal dunia. Hidup mereka sangat sederhana, berbeda jauh dengan si miskin yang sudah menjadi jutawan. Suatu hari si kaya mengaku bahwa ia mempunyai penyakit yang tidak memungkinkannya untuk hidup lebih lama lagi, tapi dia belum bisa meninggal dengan tenang karena memikirkan cucunya yang akan menjadi sebatang kara kalau ia meninggalkannya," kakek melepas kacamatanya dan betapa kagetnya saat kulihat kakek meneteskan air mata. Beliau mengusap pelan airmata itu dan kembali memasang kacamata di tempatnya.

"Karena si miskin tidak ingin cucu si kaya mengalami hal yang sama dengannya, ia berjanji akan mengurus cucu si kaya. Dan benar saja, setelah pertemuan itu si kaya meninggal dunia."

"Ehm, haraboji, apakah o-," haraboji menatapku lembut dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Iya Mingyu-ya. Si miskin itu aku. Dan Wonwoo adalah cucu si kaya. Kakek sudah sangat berhutang budi pada keluarga mereka. Tanpa mereka, kita tidak akan berada di sini sekarang."Aku tidak percaya. Kakek pernah mengalami hal seperti itu dalam hidupnya.

"Mingyu-ya, Kakek mohon satu hal padamu. Menikahlah dengan Wonwoo. Hanya itu satu-satunya cara kakek dapat membalas kebaikan mereka. Wonwoo adalah anak baik dan sangat polos."

.

.

.

Pagi harinya aku keluar kamar untuk joging, tapi aku mendapati Wonwoo yang sedang mengepak bajunya dan bersiap meninggalkan rumah. Wajahnya terlihat muram dan sangat sedih. Dia memakai sebuah sweater dan syal tebal yang menutupi sebagian wajahnya, dari dagu hingga hidung.

Ia menatap pohon sakura di samping kamarnya yang sedang meranggas dengan tatapan penuh iba. Aku tidak berani mendekatinya, jadi aku hanya berdiri mematung di tempatku berada. Tiba-tiba saja sebuah tetesan bening mengalir dari sudut matanya.

"Haraboji, memang ini sudah menjadi takdirku, aku tidak akan mengeluh. Aku selalu berjanji padamu untuk menjadi anak yang kuat supaya kau bisa bangga padaku. Walaupun haraboji dan Kim haraboji sudah berjanji, tetapi aku tetap tidak bisa. Tidak ada yang menyukaiku di sini. Aku ingin kembali ke sisi haraboji. Aku ingin menemani haraboji sampai aku tua nanti. Aku tidak bisa membuat orang lain menderita karena perbuatanku."

Dia tidak menghapus airmata yang masih mengalir indah di pipinya. Tiba-tiba handphone pemuda yang berstatus calon istriku itu berdering membuatnya segera mengangkat telepon masuk itu.

"Yoboseyo, eo Jihoon-ah. Apa? Kau sudah diterima bekerja di Seoul? Baguslah. Aku ikut bahagia mendengarnya. Kapan kau pindah? Ah, secepatnya. Ne? tidak. Aku akan tetap tinggal di desa. Aku akan mengurus rumah kakek. Biaya hidup di Seoul sangat mahal, kalau aku tidak punya pekerjaan tetap pasti akan sangat susah."

Setelah ia mengakhiri pembicaraan dengan seorang bernama Jihoon, dia menghapus airmatanya dan menyiapkan tas bawaannya. Aku masih terus memperhatikannya berjalan melewati lorong menuju ruang depan. Rumah kami memang rumah tradisonal, jadi banyak sekali lorongnya. Di sana ia bertemu dengan kakek yang barusaja keluar kamar.

"Eo Wonwoo-yah, kau mau kemana?"ujar kakek sambil menatap barang bawaan Wonwoo.

"Haraboji, aku mau pamit. Aku ingin kembali ke desa."

"Mwo? Kenapa tiba-tiba ingin pulang? Kau kan akan segera menikah dengan Mingyu, Wonie," kakek mendekatinya dan Wonwoo tetap tidak bergeming.

"Haraboji, mianhae. Bukannya aku menolak kebaikanmu, tapi aku tidak ingin menyakiti Mingyu. Dia jelas tidak menyukaiku Haraboji," dia kembali menunduk. Dari posisiku di samping rumah, aku dapat melihat air mata yang perlahan membasahi pipi pemuda yang baru kukenal sehari itu, namun segera dihapus.

"Abeonim, sudah kukatakan sebelumnya bukan kalau pemuda ini tidak pantas menjadi pendamping Mingyu. Dia sangat kuno, miskin, dan tidak sederajat dengan keluarga kita," Eomma muncul dari ruang tengah berkata ketus sambil bersedekap. Dari raut wajahnya, Eomma sepertinya sangat tidak menyukai Wonwoo, tapi aku berusaha menepis pikiran itu dan mengira kalau Eomma hanya tidak ingin aku menikah dengan sembarang orang yang tidak aku kenal.

Mata indah Wonwoo kembali berkaca-kaca, namun dia berusaha menahan untuk tidak menumpahkan kesedihannya. Aku jadi teringat dengan monolognya tadi, Wonwoo ingin menjadi seseorang yang kuat demi mendiang kakeknya.

"Hentikan ocehanmu itu! Bagaimana bisa kau berbicara sekasar itu pada calon menantumu?" kakek membentak Eomma dan hampir saja menampar Eomma, namun Wonwoo berhasil menahan tangan kakek di udara.

"Haraboji, Mrs. Kim memang benar," dengan lembut Wonwoo menahan amarah Kakek,"Aku memang tidak pantas menikah dengan Mingyu. Aku harap Haraboji maklum akan hal ini."

"Wonwoo-yah, percayalah pada Haraboji. Aku akan memastikan kalau Mingyu mau menikah denganmu,"Haraboji memegang bahu Wonwoo dan menatapnya penuh kasih.

"Maafkan aku Haraboji. Aku tetap tidak bisa. Pernikahan itu harus ada kesediaan dari dua belah pihak, jadi Haraboji juga tidak bisa memaksa Mingyu melakukan hal yang tidak dia suka."

"Tapi Wonwoo-yah, Haraboji sudah berjanji pada kakekmu untuk-."

"Untuk menjagaku kan Haraboji? Cara menjagaku bukan hanya dengan menikahkanku dengan cucu Haraboji. Aku akan kembali ke desa dan merawat makam kakek. Aku yakin aku akan baik-baik saja seorang diri Haraboji,"Wonwoo melepaskan tangan kakek yang bertengger di bahunya dengan sopan.

Aku sudah tidak tahan lagi. Pemuda ini terlalu baik untuk disakiti dan disia-siakan. Dia pantas mendapatkan tempat terbaik di keluarga ini. Aku keluar dari tempat persembunyianku dan langsung menuju objek perhatianku membuat ketiga orang di ruangan itu kaget.

"Jeon Wonwoo, menikahlah denganku!" aku mengulurkan tangan kananku padanya, seolah melamarnya di depan kakek dan ibuku.

"Mingyu-ya!" Eomma dan kakek berujar bersamaan. Bedanya Eomma berujar kesal dengan sikapku, sedangkan kakek karena kaget akhirnya aku mau melontarkan pertanyaan semacam itu setelah pembicaraanku dengan beliau semalaman. Begitulah akhirnya aku dan Wonwoo menikah seminggu kemudian.

.

.

.

Aku masih tidak percaya ada seseorang yang mau menikah denganku. Aku tidak punya kelebihan apapun, baik tampang, kekayaan, maupun keahlian. Lalu kenapa Mingyu mau menikahiku? Apakah ini masih karena desakan kakeknya? Tapi Mingyu berkata dia menikahiku karena ingin membangun rumah tangga denganku, bukan karena alasan lain. Pertama kali aku melihatnya, aku sangat terpesona. Seorang pemuda tampan, berbakat, terkenal, dan kaya raya sepertinya mau melihat pemuda desa sepertiku.

Kakek sangat senang dengan pernikahan kami, namun tidak begitu dengan Mrs. Kim atau ibu Mingyu. Beliau sepertinya sangat tidak menyukai keberadaanku di rumah keluarga Kim. Beliau selalu melemparkan tatapan sinis dan berkata dengan nada sarkastis padaku walaupun aku selalu bersikap sopan pada beliau. Mungkin suatu hari nanti sikapnya akan berubah padaku seiring berjalannya waktu.

Setelah menikah kakek mengirim kami ke Bali untuk berbulan madu. Kebetulan saat itu Mingyu sedang tidak ada jadwal latihan. Awalnya aku mengira kalau Mingyu mau menikahiku karena perintah Haraboji, tapi malam itu di Bali dia menunjukkan padaku bahwa dia serius menikahiku. Malam itu dia memperlakukanku dengan sangat lembut dan mesra saat making love session. Aku merasa sangat dicintai. Dan kata-katanya di saat kami selesai sangat menyentuh hatiku.

"Wonwoo-ssi, ani Wonie," Mingyu menggeleng pelan kepalanya menyadari bahwa cara dia memanggilku masih terlalu formal.

"Ne," aku tidak berani menatapnya karena aku masih merasa malu, walaupun kami berdua sudah melakukan hal yang paling intim bagi sepasang suami istri. Dia memegang lembut daguku dan memaksaku menatap matanya,"Wonie, aku akan belajar mencintaimu," mataku membulat sempurna. Benarkah apa yang barusan kudengar? Tidak berhenti disitu, Mingyu menarik tubuhku dalam pelukannya dan mendaratkan ciuman lembut di bibirku. Oh God, bukankah kau terlalu baik padaku?

Begitulah akhirnya aku dan Mingyu memulai kehidupan kami sebagai suami istri. Tiap pagi aku akan membantu Mrs. Kim (beliau sepertinya belum mengizinkanku memanggilnya dengan sebutan eomma) memasak sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Haraboji, Abeoji, dan Mingyu memuji kepandaianku dalam memasak, tapi Mrs. Kim selalu mengatakan yang sebaliknya. Aku tidak tahu kalau kebenciannya padaku teramat sangat. Setiap siang aku akan menemani kakek mengurus kebun dan sekadar berbincang-bincang karena beliau sudah tidak pergi ke kantor. Malamnya aku akan menyambut Mingyu pulang dari latihan dan terkadang pulang bertanding. Aku akan menyediakan air untuk mandinya dan menyiapkan pakaian bersih serta makanan untuk makan malam berdua karena anggota keluarga yang lain sudah makan malam terlebih dahulu.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Satu bulan setelah kami menikah, Haraboji meninggal karena serangan jantung. Seluruh keluarga berduka, terlebih Mingyu yang sangat menyayangi kakeknya. Aku berdiri di sebelahnya saat jenazah Haraboji akan disemayamkan dan kurasakan dia menggenggam tanganku erat. Dia memang tidak menangis karena kutahu Mingyu tidak akan menunjukkan sisi lemahnya pada siapapun. Tapi aku salah, malam harinya Mingyu memelukku saat kami baru sampai di kamar dan menangis tanpa suara. Aku berusaha menenangkannya dengan mengusap pelan punggungnya.

Setelah kakek meninggal, Mrs. Kim mulai menunjukkan kebenciannya padaku secara terang-terangan. Tiap hari beliau akan menyuruhku mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, bahkan yang biasanya dikerjakan oleh asisten rumah tangga. Tidak hanya itu, secara terang-terangan juga beliau menyuruh Mingyu untuk menceraikanku. Saat itu aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

"Mingyu-ya, kakekmu sudah meninggal sekarang, jadi buat apa kau masih melanjutkan pernikahanmu dengan pria itu?"

"Eomma, kenapa Eomma berkata seperti itu? Wonwoo itu istriku Eomma. Bagaimana bisa Eomma menyuruhku untuk menceraikannya?" Mingyu berkata dengan nada tinggi pada ibunya. Aku merasa sedikit bahagia karena setidaknya suamiku tidak terhasut dengan perkataan ibunya.

"Tapi Mingyu-ya, Eomma ingin punya menantu yang lebih baik dari dia. Kau kan pemain sepak bola terkenal, jadi pantas saja kalau kau bersanding dengan wanita cantik berpendidikan tinggi dan berasal dari kalangan yang sama dengan kita," ibu mertuaku itu masih saja membujuk Mingyu untuk berubah pikiran.

"Eomma, geumanhae! Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini," Mingyu menghentikan pembicaraan itu dan hendak keluar dari ruangan. Aku buru-buru kembali ke kamar dan berpura-pura tidak mendengar apa-apa. Kuakui, aku sudah sangat mencintai Mingyu. Mungkin ini karena aku baru pertama kali jatuh cinta. Dia selalu memperlakukanku dengan baik membuatku semakin mencintainya.

.

.

.

Namun karena penolakan Mingyu, sikap Mrs. Kim padaku semakin kasar. Beliau mulai menamparku saat aku melakukan sedikit kesalahan seperti lupa menyapu lantai atau kesalahan sekecil apapun. Aku tidak pernah mengadukan itu semua kepada Mingyu karena bagaimanapun juga beliau adalah ibu dari suamiku. Aku hanya bisa menangis di dalam kamar seorang diri sebelum Mingyu pulang dari latihan.

Suatu hari ada tamu seorang lelaki yang sama sekali tidak kukenal. Dia mengaku ingin menemui Mrs. Kim, tapi saat aku menyuruhnya untuk menunggu sebentar pria itu justru mendorong tubuhku ke sofa dan mulai menindihku. Dia menciumiku dengan membabi buta. Dia berusaha merobek bajuku, tapi dengan cepat kudorong tubuhnya saat ia lengah. Aku berlari ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Siapa dia? Berani-beraninya dia melakukan ini padaku. Malam itu Mingyu menanyakan padaku apakah aku baru saja menangis. Aku hanya menggeleng pelan dan dia menarikku ke dalam pelukannya. Malam itu Mingyu membantuku melupakan kejadian terkutuk itu dengan cintanya.

"Ya! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakang Mingyu huh?" suara Mrs. Kim mengagetkanku yang sedang sibuk merapikan buku di ruang baca. Aku menatapnya datar karena memang tidak tahu apa yang sedang dibicarakannya.

"Apa yang Anda maksud Nyonya?" yah, Mrs. Kim menyuruhku memanggilnya Nyonya kalau kami hanya berdua. Betapa menyedihkannya nasibku. Aku merasa seperti pembantu di rumah keluarga suamiku.

"Lihat ini!" Mrs. Kim melemparkan setumpukan kertas ke mukaku. Masih tidak tahu apa yang dimaksud ibu mertuaku, kuambil secarik kertas yang berserakan di lantai yang ternyata adalah foto-foto mengerikan antara aku dan pria itu. Yah, di foto itu jelas sekali terlihat pria itu sedang menciumiku di atas sofa.

"Nyonya, ini tidak seperti yang Anda pikirkan," ucapku sambil menunjukkan foto di tanganku, air mata tak kuasa kubendung lagi.

"Hah, kau ini sungguh tidak tahu malu. Sudah numpang hidup enak di sini, masih berani-beraninya kau mengkhianati Mingyu ku yang baik hati itu. Bahkan kau berselingkuh di rumah ini. Aigoo, betapa memalukannya sikapmu itu," wajah cantik Mrs. Kim berubah menyeramkan seperti nenek sihir jahat berdagu runcing.

"Animnida Nyonya. Saya bisa menjelaskan semuanya. Tolong beri saya waktu untuk me-," Mrs. Kim memotong perkataanku dengan menyeret tanganku.

"Aish aku tidak peduli pada apa yang akan kau katakan selanjutnya. Yang jelas aku sudah mengirimkan foto-foto itu pada Mingyu. Aku yakin Mingyu akan marah besar jika mengetahui istrinya berselingkuh di rumahnya sendiri. Kau tahu dia sangat temperamental, aku tidak tahu apakah dia akan diam saja atau mungkin dia akan menghajarmu habis-habisan. Jadi untuk menghindari situasi itu, sekarang sebaiknya kau enyah dari rumah ini atau kau menunggu sampai Mingyu sendiri yang mengusirmu!"

"Nyonya, ani Eomonim, bagaimana Anda bisa melakukan ini padaku," ucapku lirih saat melihat ibu mertuaku melemparkan pakaianku ke luar rumah disaksikan oleh beberapa pekerja di rumah itu. Mereka tidak ada yang berani mencegah perbuatan gila Mrs. Kim karena takut dipecat.

"Kau tahu, sejak awal aku tidak pernah suka denganmu. Kau itu tidak pantas bersanding dengan Mingyu. Anakku akan lebih baik jika menikah dengan seorang gadis cantik dari keluarga terhormat. Untung saja pernikahan kalian tidak dipublikasikan kepada media sehingga aku masih bisa mengatur perjodohan untuk anakku nantinya. Terlebih lagi aku sudah mendapatkan cukup bukti untuk ditunjukkan pada Mingyu kalau kau berselingkuh, aku bisa dengan leluasa mengusirmu dari sini. Aku berjanji akan membuat Mingyu membencimu dan tidak akan mencarimu sampai kapanpun. Jadi enyahlah sekarang juga!"

Otakku berputar dengan cepat menghubungkan semua peristiwa yang terjadi padaku, mulai dari saat Mrs. Kim meminta Mingyu untuk menceraikanku, kedatangan lelaki tak dikenal ke rumah hingga hari ini. Semuanya sudah terbukti. Aku sudah paham sekarang.

"Emonim, apakah Anda yang merencanakan semua ini?"

"Jangan panggil aku Eomonim! Aku tidak sudi mendengar kata itu keluar dari mulut kotormu!"

"Sebegitu besarkah kebencian Anda padaku?"

"Ya aku sangat membencimu, jadi cepat pergilah dari sini. Aku tidak ingin melihat mukamu lagi!"

Dua orang bodyguard menyeret tubuhku ke jalanan sedangkan Mrs. Kim kembali melemparkan pakaianku ke tubuhku yang sudah tidak berdaya. Aku menangis tanpa suara. Beginikah rasanya dibenci mertua? Beginikah rasanya menjadi orang miskin yang selalu dipandang rendah orang? Atau beginikah nasibku yang malang karena tidak tahu diri dengan tetap menerima tawaran menikah dari Mingyu kala itu?

Bagaimana jadinya bila aku kembali ke desa saat Mingyu bersedia menikah denganku? Apakah aku akan bahagia? Wae? Kenapa sepertinya seisi dunia ini begitu membenciku?

.

.

.

Aku sangat lelah hari ini. Aku baru pulang dari acara pembukaan laga sepakbola junior di Jeju. Badanku rasanya ingin segera diistirahatkan, tapi sebelumnya aku ingin memakan masakan yang Wonwoo janjikan untukku. Namun, ketika aku sampai di rumah, aku tidak menemukan keberadaan Wonwoo. Dia tidak ada di kamar, di ruang tamu, atau di ruangan-ruangan yang lain. Aku mulai panik. Kemana perginya istriku itu?

"Eomma, apakah kau tahu dimana Wonwoo sekarang?" kutanya ibuku yang kebetulan baru keluar kamar hendak menuju ruang tamu. Beliau tidak langsung menjawab melainkan menatapku sedih.

"Mingyu-ya, eomma ingin membicarakan sesuatu padamu," ibuku memegang pelan lenganku menyuruhku untuk duduk.

"Eomma, waegurae?"

"Mingyu-ya, Wonwoo melarikan diri."

"Mwo?"

"Dia melarikan diri dengan kekasihnya," ibuku mengeluarkan sebuah amplop dan mengulurkannya ke arahku yang masih terkejut.

"Apa ini?"

"Bukalah. Itu alasan kenapa Wonwoo memilih pergi meninggalkan kita. Eomma juga tidak habis pikir, tapi inilah kenyataannya Mingyu. Eomma harap kau tabah menghadapi ini semua," ucap Eomma sebelum berdiri dan meninggalkanku sendirian di ruang tamu.

Tanganku gemetar ketika membuka amplop secara perlahan. Perasaan marah, sedih, tegang, kecewa bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana ini bisa terjadi padaku? Selama ini aku berpikir kalau Wonwoo mencintaiku, tapi kenapa dia malah pergi meninggalkanku begitu saja demi lelaki lain? Apakah aku masih kurang mencintainya atau karena apa.

Secarik kertas dengan tulisan tangan kembali menyadarkan diriku.

Mingyu-ya, maafkan aku yang telah dengan tidak sopan meninggalkanmu tanpa berbicara langsung padamu. Aku tahu tindakanku adalah tindakan seorang pengecut karena hanya lewat surat ini aku bisa memberitahumu.

Gyu, maaf karena selama ini aku telah menipumu dengan bersikap seolah mencintaimu walau pada kenyataannya aku sedang menjalin kasih dengan orang lain. Aku sangat mencintai pria ini hingga aku tak bisa membuatnya sedih lebih lama lagi. Ketika mengetahui kalau aku sudah menikah, pria ini hampir bunuh diri. Aku tidak ingin kejadian mengerikan lainnya terjadi pada satu-satunya pria yang kucintai ini. Jadi, aku memutuskan untuk pergi bersamanya, membangun keluarga yang sudah kami impi-impikan selama ini.

Mianhae….

TBC