Chapter XVIII

"Holiday "

.

.

.

Keputusan untuk tak membawa pakaian banyak nampaknya cukup bijaksana, karena dalam konteks ini baik Chanyeol maupun Baekhyun enggan mengenakan pakaian yang mereka bawa. Chanyeol kini masih bertelanjang bulat, menyandar di bantal dengan hanya selimut menutupi tubuh bawahnya, Baekhyun di pelukannya tak mengenakan apapun kecuali kemeja putih kebesaran tipis yang Chanyeol favoritkan. Keduanya terlihat bersantai, menikmati acara televisi yang menayangkan acara internasional entah itu pemilihan model atau apa, Baekhyun tak mengerti pembicaraan mereka kecuali wanita-wanita dengan pakaian eksentrik difoto dengan gaya yang aneh-aneh pula.

"Kau tak ingin pergi keluar?" Baekhyun menggumam, memainkan ujung telunjuknya menelusuri dada bidang lelaki di sampingnya.

"Di cuaca sedingin ini?" Chanyeol menyahut, satu tangan mengarahkan remote ke arah televisi, mengganti dengan acara musik.

"Umm… Baiklah… Lalu? Apa yang akan kita lakukan?"

Chanyeol memutar kepala ke arahnya, Baekhyun bisa merasakan itu. "Menurutmu?"

Baekhyun mendongak, melihat kekasihnya dengan pandangan tak percaya, ia membuang nafas kasar. "Kau… Pikiranmu itu kotor sekali."

"Dan kau juga sama mesumnya." Chanyeol berujar dengan nada yang sedatar wajahnya.

Baekhyun hendak memrotes, namun tak bisa, ia bahkan masih ingat benar bagaimana ia terus memaksa Chanyeol untuk memuaskannya, berjam-jam lamanya, hingga badannya basah keringat dan sperma, Baekhyun menggeleng kepalanya cepat, mukanya memerah.

"Baru mengingatnya?" Chanyeol bertanya menggoda, membuat Baekhyun memajukan bibir bawahnya.

Kepalanya diusap lembut, dan Baekhyun dengan alis menyatunya akhirnya membenamkan kepalanya lagi di bahu Chanyeol, kulit mereka bergesakan, dan itu menyenangkan, entah dari kapan Baekhyun bisa terobsesi kekasihnya sendiri begini.

"Chanyeol-ah?"

"Hm?"

"Biasanya… Bagaimana kau bisa mendapat ide untuk menulis lagu?"

Chanyeol tampak heran, meskipun itu tak bisa terlihat oleh Baekhyun karena posisi mereka yang tak melihat satu sama lain. Chanyeol menghela nafas sebelum menjawab. "Umm… Bagaimana yah… Ide itu datangnya bisa kapan saja…"

"Lalu, apakah sekarang ini kau mendapat semacam ide untuk menulis lagu?"

"Hm? Sekarang? Detik ini?"

"Yah…"

"Kau ingin dibuatkan lagu?"

"Tidak juga sih. Hanya penasaran denganmu, dan idemu… Kalau kondisinya seperti sekarang, lirik apa yang terlintas di kepalamu?"

Chanyeol berpikir, tak berapa lama, kemudian dengan suara bassnya ia menjawab. "Lagu cinta pastinya… Judulnya baru saja terlintas di kepalaku."

"Apa?"

"Surga? Heaven?"

"Oh…. Kemudian liriknya? Bukan tentang seharian bercinta kan?"

Chanyeol terkekeh. "Sebenarnya semacam itu, tapi dengan pembahasaan liriknya bisa dibuat lebih manusiawi."

"Memang bercinta tidak manusiawi? Itu manusiawi sekali."

"Manusiawi dan layak untuk didengarkan orang-orang, juga pantas dipasarkan label, Baekhyun-ku sayang…"

Baekhyun terkikik, ia membenahi posisi tidurnya kemudian. "Chanyeol-ah…"

"Eum?" Dari nada bicara Baekhyun, Chanyeol tahu pasti kekasihnya itu tengah memikirkan sesuatu yang berat, Chanyeol kemudian mengusap rambut belakang Baekhyun, membelainya perlahan. "Ada apa? Ada sesuatu yang kau pikirkan?"

Baekhyun membuat jeda, agak lama, hingga ia membuang nafas panjang dan melanjutkan kalimatnya. "Chanyeol-ah, tidakkah kau merasa khawatir?"

"Khawatir? Dengan apa?"

"Kita… Seandainya netizen mengetahui hubungan kita…" Baekhyun tahu ia membuat suara manja di dalam tenggorokannya. "Bahkan hanya dengan berfoto bersama idol grup wanita saja netizen akan ribut… Bagaimana kalau ketahuan kau berhubungan denganku?"

Chanyeol menegakkan tubuhnya, ia mengarahkan kepala Baekhyun agar bisa membalas pandangannya yang kini tertuju pada wajah muram kekasihnya itu. "Baek, kau seharusnya tak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu…" ia usap pipi lelaki manis yang kini menatapnya tak seceria biasanya. "Asalkan kita berhati-hati semuanya pasti akan baik-baik saja. Kau jangan terlalu khawatir. Santaikan saja pikiranmu, cukup badanmu yang lelah karena latihan koreo dan jadwal padat, jangan sampai pikiranmu juga terbebani, oke?"

Baekhyun mengangguk, setidaknya ada Chanyeol yang kini menenangkannya, dengan usapan di pipinya, Baekhyun merasa ia sungguh diberkati.

"Dan juga… Kita memang objek yang selalu disorot, dimanapun. Kita akan menjadi Exo saat di panggung, menari, menyanyi, akting, pekerjaan yang memang berat, kau seharusnya tahu itu, tetapi ada waktunya juga kita menjadi Park Chanyeol saja atau Byun Baekhyun, yang punya kehidupan sendiri." Chanyeol menarik nafas dalam, memandangi kekasihnya yang kini memandangnya juga dengan wajah yang tidak ditekuk lagi. "Kau mengerti kan?"

Baekhyun mengangguk menyetujui, ia pegang tangan besar yang sedari tadi tak henti mengusap pipinya, berusaha menenangkannya. "Umm…"

"Kalau kau merasa tidak nyaman akan sesuatu bicaralah padaku, jangan disimpan sendiri. Sekarang ada aku yang menemanimu, dan juga, jangan lagi menunjukkan wajah seperti itu di hadapanku, aku tak nyaman melihatnya."

Baekhyun tersenyum dengan dengusan, Chanyeol memang pandai menaikkan mood-nya, entah dengan gurauan atau kata-kata tak romantis namun membuatnya hanyut seperti barusan tadi, Baekhyun mengangguk pada akhirnya. "Fuhh… Kalau aku yang sedang kacau kau gampang sekali mempengaruhiku… Kalau suatu saat nanti kau yang sedang drop, bagaimana aku bisa menyemangatimu, huh?"

Chanyeol tersenyum, ia tepuk bahu Baekhyun mantap. "Tenang saja, aku tak akan seperti itu… Kekasihku sangat sensitif dan gampang sakit, badannya, hatinya, jadi aku harus kuat supaya bisa melindunginya." Baekhyun terpaksa meloloskan tawanya, ia bahkan tak sadar bahwa Chanyeol sudah memeluknya dan mengambil posisi seperti sedia kala. "Tanggung jawabku makin besar, setelah orangtuaku, manajemen, exo-L, sekarang ditambah Byun Baekhyun… Jadi aku harus menerima banyak asupan gizi."

Yang lebih kecil mengernyitkan dahi, sampai kata Byun Baekhyun ia masih bisa mencerna, namun ketika sampai asupan gizi ia perlu menaikkan kepala dan memandang kekasihnya benar-benar. "Maksudmu?"

"Gizi… Makanan,,, Protein…" Chanyeol terkekeh pelan. "Penyaluran hormon…"

Baekhyun mendadak berpura-pura pusing, ia menjatuhkan diri ke bantal dengan dramatis. "Aku lelaaaaah~"

Chanyeol tertawa, ia kemudian berubah menjadi lembut begitu merendahkan badan ke arah Baekhyun yang tertidur memunggunginya. "Baek, nanti kau mau coba minum obatku?"

"Hm?" Baekhyun membalik tubuhnya. "Kali ini aku?"

"Iya… Lihat bagaimana kalau kau yang meminum."

"Kalau kau kewalahan dan tak kuat lagi, bagaimana?"

"Aku juga akan minum… Lihat siapa yang lebih kuat?"

"Kau mau taruhan?"

"Tidak sih… Ah iya… Kan ini hadiah ulang tahunku, Baek… Tak bolehkah aku meminta sesuatu lebih spesifik."

Baekhyun mendengus. "Umm… Tapi kita tidur siang dulu yah?"

"Baiklah…. Kalau begitu sini, tidur di pelukanku."

.

.

.

Pemandangan sore di Jeju memang sangat indah meskipun udara di luar sangatlah dingin. Chanyeol awalnya ingin sedikit egois dan menahan Baekhyun saja seharian untuk dirinya sendiri, meskipun Baekhyun sebenarnya juga tak keberatan dengan itu, namun melihat Baekhyun yang sesekali berhenti di tepi jendela dan memandang keluar seperti ingin menikmati susasana udara di luar membuat Chanyeol mengenyampingkan keegoisannya. Ia berinisiatif kemudian, menyambar jaket dan celananya, tak lupa membawakan milik Baekhyun.

"Hm?" Baekhyun sampai tak sadar begitu Chanyeol sudah menghampirinya dengan pakaian lengkap, dengan menenteng sweaternya pula. "Mau kemana?"

"Keluar. Pemandangan luar indah sekali." Chanyeol hanya tersenyum simpul, tak menghiraukan wajah bingung Baekhyun. Ia menarik tubuh mungil lelaki di hadapannya, mengancingkan kemejanya yang terbuka hingga kancing ketiga, kemudian memaksa memasukkan sweater ke kepalanya.

"Hm? Kita mau keluar? Kemana?"

"Jalan-jalan…" Chanyeol menjawab singkat, kali ini berlutut di hadapan Baekhyun, memasangkan celana dalam yang ia bawa, Baekhyun menurut saja ketika Chanyeol memakaikan dan menarik ke atas celana hingga menutupi area sensitifnya dengan sempurna.

"Jalan-jalan keluar? Kau bilang kau malas keluar, dan bukannya di luar sangat dingin?" Baekhyun masih keheranan, sedangkan kekasihnya sepertinya masih cuek dan sibuk dengan kegiatannya sendiri. "Dan aku bisa berpakaian sendiri, Chanyeol-ah. Hentikan dan jawab pertanyaanku."

Chanyeol akhirnya bangkit, sepertinya sudah bertahun-tahun semenjak terakhir kali mendengar rengekan Baekhyun, juga nada ketusnya, Chanyeol terkekeh, merendahkan kepala untuk mengecup kening berponi kekasihnya yang kebetulan masih memasang wajah kesal. "Baiklah, cantik… Maaf-maaf… Aku rasa aku tak boleh egois kali ini, aku juga ingin melihat pemandangan luar kok, sayang sekali melewatkan pemandangan Jeju kan?"

"Iya… Tapi…" Baekhyun hendak memrotes, masih menarik celana yang kini membungkus salah satu kakinya. "Kau tak apa?"

"Tentu saja aku tak apa." Chanyeol meringis, ia julurkan tangannya yang masih membawa sweater biru milik Baekhyun. "Ayo keluar dan jalan-jalan sebentar. Rasanya aku juga harus mengisi kembali energiku agar bisa menyenangkanmu sampai pagi. benar tidak?"

Si jangkung menaik-naikkan alisnya, membuat Baekhyun tersipu malu, yah, tersipu malu, dengan senyum yang disembunyikan di balik punggung tangan, apa lagi kalau bukan dinamakan tersipu?

.

.

Udara luar memang dingin, bahkan dengan mengenakan lapisan baju hangat dan jaket tebal Chanyeol masih bisa merasakan dingin di kulitnya, namun itu tak mengurangi indahnya pemandangan Jeju, meskipun kini mereka hanya bersantai di bukit tak terlalu jauh dari hotel. Mereka bisa melihat hamparan tanah luas dengan berbagai tanaman menghias, posisi mereka yang sdikit lebih tinggi dari dataran rendah yang berada di hadapan mereka membuat seakan-akan panormana di depan mereka bisa digapai hanya dengan menjulurkan tangan, seperti lukisan indah di depan mata, dan dengan Baekhyun yang berada di sisinya, lengan yang melingkar di pinggangnya, Chanyeol tahu ia tak butuh apapun lagi di muka bumi ini, begitu perasaannya mengatakan.

"Indah." Chanyeol bergumam, matanya masih menatap lelaki di sampingnya, bahu mereka yang berhimpitan terasa hangat.

"Iya. Lihat pepohonan yang di tepi-tepi, seperti lukisan." Baekhyun membalas, kemudian sesaat setelahnya memutar kepala ke samping, mendongak dan mendapati mata cokelat Chanyeol bertemu dengannya. "Kau tidak melihat pemandangannya?"

"Tidak." Chanyeol mengumbar senyum.

"Lalu? Memang yang indah apa?"

"Kau."

Gombalan yang pasaran memang, tapi tetap saja membuat lengkungan bibir Baekhyun terbentuk, cantik seperti bulan sabit, lagi Baekhyun menepuk bahu lelaki di sampingnya dengan tangan yang sedari tadi terasa dingin, dan ia merasa tangannya tersebut ditahan, dan diarahkan menuju bibir lembut yang tak sungkan-sungkan untuk mengecupnya.

"Aku bingung harus bicara apalagi. Kau indah, sempurna, cantik, manis, dan duduk disini denganmu membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi."

"Kau berlebihan." Baekhyun tertawa singkat, ia hendak mencari topik pembiacaraan lain ketika Chanyeol memandangnya dalam, dan menurut saja ketika sebuah tangan mendorong kepalanya ke depan, dan ia menutup mata sembari membuka bibirnya ketika bibir lembut mengusap permukaan bibirnya.

Chanyeol seakan menelusuri tiap inchi bibirnya, hanya kecupan-kecupan pelan yang penuh cinta, seandainya saja ini bukan di muka umum, mungkin Baekhyun sudah melumat bibir tebal itu, sayang sekali langit kali ini masih terang, dan sayang sekali Baekhyun tak sedang mabuk.

"Mmh…" Baekhyun mengerang, entah disengaja atau tidak, namun itu berhasil membuat Chanyeol berhenti, dagu mereka masih bersentuhan, bahkan jari Chanyeol masih menahan dagu Baekhyun.

"Sudah mau kembali ke hotel?"

Baekhyun hanya memamerkan puppy-eyes nya.

"Serius? Tak mau makan di luar?"

Baekhyun menggeleng.

"Kenapa tiba-tiba begini? Kenapa obatnya sudah bereaksi sebelum kau meminumnya?"

"Aku sudah minum."

Chanyeol refleks menarik mundur kepalanya, juga badannya, plus tangannya.

"Apa? Kapan? Kenapa aku tidak melihatnya?"

Baekhyun mengerucutkan bibir. "Saat kau masih tidur tadi…"

"Hahh? Itu sudah agak lama…" pandangan Chanyeol turun ke bawah, lalu dengan cepat kembali naik memelototi kekasihnya yang tengah menggigit bibir bawah. "Jadi? Sekarang kau sudah tegang?"

"Ummh…"

"Hyahh! Kenapa kau tidak bilang sedari tadiiiii?"

.

.

.

Chanyeol setengah bersandar pada sofa, kaos masih melekat di tubuhnya, kaki terbuka lebar dengan celana menggantung di pergelangan kaki—

"Eummh… umm…mmmhh… Shhh…" Dan kepala Baekhyun yang berada di antara selangkanya masih sibuk mengulum penisnya yang sudah menegang dan licin karena cairan pre-cum.

"Baek… Sudah… Asshhhh… Cukup…" Chanyeol meracau, tangannya sibuk menahan kepala kekasihnya, yang kini sibuk menyedot ujung kepala penisnya kuat, Chanyeol mengerang, isapan Baekhyun seakan menarik keluar sperma dan nyawanya, Chanyeol menggelinjang, seluruh tubuh menegang dan terangkat naik, lagi ia menyemburkan cairannya, sedangkan Baekhyun belum juga melepas kulumannya, Chanyeol serasa ia hilang akal. "Baek… Sayang… Ahhhhhhh… Sudah… Naiklah … Assssshh…"

Baekhyun menatap tajam kekasihnya, kulumannya lepas, namun dengan tangan mulai mengocok kejantanan Chanyeol yang bahkan tak ada jeda untuk orgasme sedari tadi, semenjak mereka memasuki kamar, Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa, sedikit ia mundur Baekhyun akan dengan tajam memandangnya, seperti kucing yang ikannya akan dicuri, Baekhyun masih menatapnya, tangan kanan mengocok batang penis, bibirnya menyesap bola kembar Chanyeol yang sudah penuh seperti mau meledak, satu tangan lagi menahan paha kiri Chanyeol.

Chanyeol K.O.

Nafasnya jauh dari teratur, Chanyeol terpaksa mencengkeram pegangan sofa yang kelihatannya mahal itu dengan jemarinya, ia sepertinya lupa bahwa meskipun cantik dan kecil Baekhyun tetaplah laki-laki. Dengan segala sisa kekuatan Chanyeol menarik kaos yang dipakainya, membuang asal, kemudian menarik paksa lelaki mungil yang masih terobsesi menyedot habis isi penisnya.

"Baek—" Chanyeol terbata, untung tangan besarnya mampu meraih bagian atas tubuh Baekhyun, menariknya paksa hingga mereka berdua berguling di sofa, ia menahan tubuh yang kini berada di pelukannya, meski sedikit berontak, kakinya menghentak acak berusaha membebaskan celana yang masih terlilit di ujung kakinya, kedua lengan besarnya menahan pergerakan Baekhyun yang kini menggeliat di atas pelukannya, tepatnya di atas tubuhnya, nafas Baekhyun juga memburu, terdengar jelas saat wajahnya terbenam di ceruk leher yang lebih tinggi.

"Chanyeol-ah… Chanhh…" Baekhyun merintih di leher kekasihnya, mengerang, menggesek-gesekkan selangka telanjangnya di area bawah perut kekasihnya.

Setidaknya kini Baekhyun sedikit terkontrol.

"Yah?" Chanyeol menimpali, satu lengan melingkar di pinggang Baekhyun, ia usap rambut Baekhyun yang kacau. "Iya? Sayang?"

Baekhyun menarik kepalanya, puppy eyes-nya berair, nafasnya tak teratur, ia menurunkan wajah untuk mengecupi wajah Chanyeol, dan juga menjilat, sesekali menyesap. "Aku horny…"

"Baiklah… Ayo lakukan sekarang." Chanyeol menjawab, dan saat mulutnya terbuka Baekhyun dengan sigap melesakkan lidahnya, bukan ciuman, tapi nafsu, ia menggigit, mendesah, meracau.

"Baek… Aku tak bisa melakukannya kalau kau terus seperti itu…"

"Tapi aku menginginkanmu… Kau milikku…" Baekhyun menjawab, matanya setengah terbuka, seperti anak meronta, ia mencengkeram kuat bahu Chanyeol, wajahnya tenggelam lagi di ceruk leher Chanyeol, menggigit kuat.

"Ahhh…. Baek…. Biar kulakukan untukmu, oke, biarkan aku melakukannya."

Chanyeol berusaha keras, ia kunci tubuh Baekhyun, dengan sekuat tenaga membalik posisi, kini Baekhyun ada di bawahnya, terkulai pasrah, meskipun kakinya melilit pinggangnya, masih menggesek erotis dan tak mau melepaskan,.

"Biar aku masukkan, aku masukkan dulu…"

Baekhyun seperti tak mendengar, ia mengarahkan kedua lengan di leher Chanyeol, menariknya paksa, bibir mereka saling melumat kembali.

Di sela perang lidah yang kacau itu Chanyeol mengambil sela, ia tahan tubuh Baekhyun, menindihnya, tak perlu lagi pelumas karena penisnya sudah sudah licin terbanjiri sperma, dan Baekhyun sudah beberapa kali menyesakkan jemarinya yang basah dengan liur ke dalam lubangnya sendiri.

"Mmmmmmmhhhh…." Baekhyun menutup mata keenakan, saat merasakan lubang hangatnya dipenuhi penis tegang kekasihnya.

Chanyeol tak menunggu lama, pinggulnya bergerak maju mundur, menghujam lubang hangat lelaki mungil di bawahnya. Baekhyun memang seperti surga, pemberi kenikmatan luar biasa untuk Chanyeol, yang lebih besar kini mengambil alih kendali, dua tangan menahan tubuhnya, bibirnya masih sibuk melumat mulut kekasihnya yang kini kacau dan basah dengan liur, juga bekas spermanya di sana-sini, penyatuan tubuh mereka berlangsung lama, Chanyeol terus menumbuk titik dimana Baekhyun bisa mengerang kuat dan menegangkan otot bawahnya, penis Chanyeol seakan dipijit, nikmat, hangat, tak lama ia menyemburkan sperma lagi, kali ini di dalam kekasihnya.

Baekhyun tersengal, ciuman mereka terlepas, tak butuh waktu lama untuknya ketika ia melihat ke bawah dan penis kecilnya mengacung tegak, tangan besar Chanyeol meremasnya, membuat Baekhyun membalik kepala, ia kemudian mencapai klimaksnya, lagi.

Nafas mereka beradu pasca orgasme, Baekhyun mengambil nafas panjang kemudian berusaha bangkit, ia membuat posisi kini berubah, Chanyeol terduduk, penisnya masih tetancap, dan Baekhyun dengan erotis menggoyangkan pantatnya.

"Euuuuungghhh…" Milik Chanyeol menegang lagi.

Baekhyun menyukainya, saat kebanggaan kekasihnya masih di dalamnya dan menggembung, Baekhyun seakan bisa mengukur dan merasakan seberapa besar penis itu, melesak dan terbungkus dinding anusnya, Baekhyun mengerang, ia lumat kasar bibir kekasihnya yang kini tengah menempelkan punggung di sandaran sofa, kakinya bergerak, dan kini stelapak kakinya udah mrnyrntuh lantai yang berkarpet, kemudian si giant menghentak, membuat tubuh Baekhyun bergerak turun naik, Baekhyun bergerak berlawanan, bergerak turun saat Chanyeol menggenjot naik, hingga mereka merintih bersama karena nikmat yang luar biasa, penis Chanyeol yang dimanjakan, dan titik prostat Baekhyun yang terus ditumbuk.

"Ahh ah ah ah ah ah!" Baekhyun seperti kehilangan kesadaran, kepalanya mendongak, tangannya mencengkeram belakang kepala Chanyeol, Chanyeol yang kehilangan bibir Baekhyun kemudian menyerang dada kekasihnya yang membusung, menyesap kuat, menyusu di dada kiri kekasihnya. "Ohhh ahhhhhhhh ahhh issshhh… Hisappp… Teruss….. Enakkk… Chanyeol-ah…."

Kenikmatan di lubangnya, di dadanya, tangan Baekhyun menekan kepala Chanyeol lebih kuat, badan mereka masih bergerak naik turun brutal, suara penyatuan tubuh mereka menggema di ruangan, teriakan Baekhyun, erangan Chanyeol, desahan nikmat, Baekhyun tak peduli jika esok ia tak bisa berjalan, bahkan tak bisa bangun, Baekhyun tak peduli lagi, seks ini begitu memabukkan, ingin ia terus bercinta dengan kekasihnya, terus menerus tanpa ampun, ia menggila.

Baekhyun merasakan penisnya dikocok, tangan besar Chanyeol pelakunya, dan ia tak segan-segan mendesah. "Chanyeol-ahhhhhhh…" ia orgasme lagi, entah keberapa kalinya, cairan putih kental kini muncrat membasahi dada Chanyeol, Chanyeol tak sungkan mengambil dan menjilatnya. "Aku mencintaimu… Aku mencintaimu…." racau Baekhyun, ia kembali menghajar bibir Chanyeol, French kiss kali ini, dengan hanya lidah menjilat satu sama lain, Baekhyun mengerang saat pantatnya diremas, ditampar, tangan besar Chanyeol kini berfokus pada pantat sintalnya. "Lagi… Eummm… Eumm,,, Keluarkan lagi… Chanyeol… Penuhi aku… Eumhh.. dengan spermamu."

Chanyeol menyeringai, meskipun kelelahan. "Pasti.. Enghh… Sayang…"

Baekhyun terlonjak kaget, Chanyeol bangkit berdiri, dan refleks ia melingkarkan kakinya, Chanyeol pasti ingin bercinta dengan berdiri lagi, Baekhyun mengeratkan pegangan di bahu Chanyeol, satu lengan melingkar di leher, Baekhyun mengerang nikmat saat Chanyeol membawanya berjalan, penis di dalam tubuhnya seakan ikut bergerak turun naik, kelar masuk, Baekhyun melesakkan wajahnya di leher Chanyeol, meracau tak jelas. "Ah ah ahhh…" kakinya ikut bergerak, meskipun dengan sekuat tenaga ia ingin berada di posisi yang sama, tangan Chanyeol menopang pantatnya, seperti menggendong koala.

Baekhyun merasa punggungnya terbentur kaca dingin, Chanyeol mendudukkannya di bingkai jendela, ia masih mengalung di leher Chanyeol, menahan tubuhnya sendiri agar tak jatuh, sensasi ini luar biasa, Chanyeol masih terus menghujam dalam lubangnya, menyodok daging di dalam sana, Baekhyun sampai mengeluarkan air mata, ia membuka mulut, membiarkan Chanyeol melumat lidah sampai bertukar saliva.

"Baek… Ummmhh… Cpkh cpkh… Euuumm hhh empphh…"

Baekhyun menarik kepala, melihat kekasihnya yang kacau, bekas gigitannya di bibir Chanyeol terlihat jelas, ia mengecupnya sekali.

"Baekhyun kau membuatku gila…. AH ahhh…" Chanyeol berujar, masih memaju mundurkan pinggul, dengan tempo pelan kali ini, menghimpit Baekhyun sampai kekasihnya itu terjepit seperti isi sandwich. "Aku ingin terus melakukannya denganmu, aku ingin terus seperti ini, memenuhimu dengan spermaku, membuatmu mandi keringat, membuatmu mendesahkan namaku, aku ingin bercinta denganmu sampai besok, melesakkan penisku di dalam lubangmu, bahkan saat aku tidur, sambil mandi, aku ingin terus berada di dalammu…" Chanyeol mulai berkata kotor, tepat di telinga Baekhyun. "Aku gila karenamu Byun Baekhyun, kau membuatku gila, kau… Ah…"

Cairan hangat memenuhi dalam lubang Baekhyun lagi, Baekhyun berteriak tanpa suara, ia meremas kuat bahu Chanyeol saat Chanyeol menegang beberapa detik, orgasmenya entah yang keberapa, ia bernafas berat, mendongak dan menemui mata lelah Baekhyun, wajar saja karena ini sudah mulai larut, Chanyeol membuka mulut, untuk mengatakan sesuatu, namun Baekhyun menyumpalnya dengan lidahnya, jadilah mereka saling melumat kembali.

Waktu berlalu entah berapa menit, mungkin hampir satu jam, Chanyeol tak bersusah payah untuk menghitungnya, nampaknya sudah lama, bahkan kini penisnya sudah melemas, masih dengan Baekhyun yang terduduk di bingkai jendela, posisi mereka membuat si mungil itu dengan pas bisa melilitkan kedua kakinya di pinggang si tinggi, Chanyeol berpikir mungkin si penata ruang sengaja membuatnya demikian, agar kegiatan seks lebih mudah dan nikmat, semuanya terasa pas, Chanyeol masih sibuk menerima lumatan-lumatan Baekhyun, liur Baekhyun beberapa kali ia telan, ia tak keberatan, semua dari Baekhyun rasanya nikmat, enak, membuat Chanyeol ketagihan.

.

"Chan… Lagi…" Baekhyun berujar di sela ciuman, mereka sudah berpindah ke ranjang sekarang, dua orang berbagi satu bantal, tertidur dengan saling berhadapan, Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun, Chanyeol belum memberi jawaban, namun sedetik kemudian Baekhyun kembali menempalkan kedua bibir mereka, membat Chanyeol tak ada kesempatan menjawab.

Maka yang lebih besar hanya bisa memberi respon dengan menggeleng.

"Lagih…" Baekhyun memelas. "Lagi pokoknya…"

"Baek kau kerasukan…"

"Salah siapa?"

Chanyeol hendak menjawab namun bibir mereka bertemu lagi, terpaksa Chanyeol menutup mata, menikmati jilatan Baekhyun di dalam mulutnya.

"Spermaku sudah kau habiskan."

Baekhyun manyun.

"Besok… Besok lagi…." Chanyeol menawar.

Baekhyun menggeleng, seperti anak kecil, manja.

"Kita tidur dulu?"

Baekhyun tetap menggeleng, tangan mungilnya menelusup, menarik-narik penis Chanyeol yang sudah melemas, sudah tak bernyawa sepertinya, lunglai dan lemah.

"Dia tak akan bisa bangun lagi, dia sudah memuaskanmu selama berjam-jam, dengan posisi seperti apapun yang kau minta, mengertilah, Baek…" satu tangan Chanyeol merambah naik, mengelus belakang kepala Baekhyun, berharap si mungil ini akan tidur dengan cara seperti ini, meski Chanyeol tahu kemungkinannya kecil.

"Kau bilang kau menggila karenaku, kau mau bercinta denganku sampai besok pagi, kau mau memasukkan penismu terus ke dalam lubangku…"

Ternyata Baekhyun ingat apa yang Chanyeol racaukan, Chanyeol menutup mata.

"Yah… Itu benar… Tapi dengan syarat penisku menegang dan bisa menerobos masuk. Sekarang tak bisa…"

"Akan kubuat punyamu berdiri lagi…"

"Baek…"

"Ayolah…"

"Sayang…" Chanyeol mengecup ujung hidung Baekhyun, sekali, dua kali, Baekhyun menutup mata. "Apakah kau masih horny? Aku tidak bisa melakukannya dengan penisku, kau mau ku oral? Atau dengan tangan?"

Baekhyun membuka matanya sayu, bibirnya masih mengerucut, namun wajah Chanyeol yang memelas membuat isi dadanya terbolak-balik.

"Maaf…"

Chanyeol tersenyum. "Rasanya sakit?"

"Lubangku gatal… Dan rasanya belum cukup…"

"Dengan jari tidak cukup?"

Baekhyun menggeleng.

"Mungkin kalau kumanjakan penismu rasanya akan berkurang… Mau coba?"

"Tapi aku juga mau penismu…"

Chanyeol mengambil nafas, ia mengangguk pelan. "Baiklah, ayo lakukan, naiklah ke atasku, oral penisku."

"Eum?"

"Aku juga akan mengoral milikmu."

Baekhyun mengangguk, ia mengecup sekali bibir Chanyeol sebelum mengambil posisi 69, jujur saja ia juga lelah, dan posisi ini memang yang paling nyaman, ia segera mengecupi milik kekasihnya yang ia sukai, menjilatnya dan bermain-main dengannya.

Di saat yang bersamaan, Chanyeol harus telaten ketika penis menegang Baekhyun menggantung di atas wajahnya, perlahan memasuki rongga mulutnya, Baekhyun sepertinya berkata jujur saat ia bilang masih horny, penisnya masih tegang, dan dengan pelan membuat gerakan maju mundur, melecehkan mulut Chanyeol. Chanyeol menutup mata beberapa saat kemudian, nafasnya teratur, lidahnya bermain dengan malas namun lincah, menyesap dan mengemut, dengan tangan yang juga meremas pantat kekasihnya, Chanyeol menjaga rhytm nya, hingga ia merasa jilatan-jilatan kecil di penisnya di bawah sana perlahan terhenti, Chanyeol bersyukur dalam hati karena Baekhyun sudah kelelahan, mungkin tertidur.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC.

.

OMG! Sooorrryyyyy readers sayaaaanggg,

Banyak banget kerjaan sampai author ga bisa update minggu kemarin hehe.

Author juga bikin oneshoot lain yang publishnya bareng sama chapt ini, judulnya 'Guitar' another perspective dari 'Diary' mohon review nya juga ya ^^

Btw jangan lupa juga review yang ini…

Yahh… Next chapts liburan ChanBaek di jeju ini bakal selesai, tapi masih ada NC ga ya? Masih ga enaknya? heheeeeeee

Btw pas banget bikin ini pas mereka di Hawaii kemaren dan banyak moment, sampe Author baper (?)

Okelah ga banyak cuap-cuap lagi, makasih buat new reviewer

ruqiy614: sukurlahhh tetep suka yaaaaaa

jiellian21: oke dibanyakin deh sweetnyaaaa

guest: terus di update sampai end ^^

eka915: okay dear

lanarava6223: selamat uda bisa logiiiiiin /(^^)/

ayuliliffia: oke ga berat2 deeeh

farah225: minum segar ding*in (?)

baektiful: love you too dearrrr ^^

.

Akhir kata (?) keep reading and reviewing please(?)

jaga kesehatan dan jangan lupa terus dukung blantika FF indonesia(?)

salam chanbaek ikkeh ikkeh kimochi :p

Anyeeeeeoooooooongggg