Title : It's Okay My Love

Pairing : Meanie (Mingyu x Wonwoo of SEVENTEEN)

Genre : Angst, Romance, Drama

Length : chapter 3 of 6

Rating : PG-13

Note :

Yeay akhirnya dilanjut ini fic

Happy reading dan silakan tinggalkan komennya ya…

Kesamaan cerita hanyalah ketidaksengajaan semata. Pernah baca cerita serupa anggap saja nasib.

Warning! Alur cerita membosankan alias gampang ditebak, banyak tipo, cerita nggak mutu, cerita terlalu pendek, bahasa terlalu formal, dll.

Don't like don't read! Comment is appreciated while no room for bashing!

The characters here belong to God and their parents.

©2016 David Rd copyrights

.

.

Bertahan hidup di kota besar memang bukan perkara mudah, apalagi kalau kita tidak punya keterampilan. Jangankan memiliki keterampilan yang memadai, kalau kita tidak memiliki koneksi saja mencari pekerjaan akan sangat sulit. Beginilah yang kualami sekarang. Seminggu setelah diusir dari rumah keluarga Kim, aku masih saja kesulitan mencari pekerjaan. Bukannya aku tidak mencoba, aku sudah memasukkan surat lamaran ke berbagai perusahaan, tetapi tidak ada yang menerimaku.

Aku adalah lulusan terbaik jurusan desain grafis dari sebuah universitas terkenal, tapi kenapa tidak ada yang mau mempekerjakan aku? Ah, dan satu hal yang membuatku tertawa getir adalah ketika mendengar alasan mereka menolakku. Mereka selalu menjawab dengan satu alasan "Kami tidak diperbolehkan menerima Jeon Wonwoo di perusahaan kami." Alasan penolakan macam apa itu? Baru pernah aku mendengar seseorang dilarang bekerja di perusahaan. Setahuku hal-hal macam itu hanya berlaku bagi hewan. Larangan semacam "Dilarang membawa hewan ke dalam ruangan!"

Tapi beberapa saat kemudian aku menyadari kalau ternyata semuanya memang sudah direncanakan. Kaum kelas atas seperti Mrs. Kim pasti sangat mudah menekan semua perusahaan-perusahaan kecil untuk tidak menerimaku. Betapa bodohnya aku, berusaha mempercayai kalau Mrs. Kim itu akan berubah seiring waktu aku menikah dengan Mingyu. Kalau memang dari awal sudah benci, ya tidak mungkin akan berubah jadi sayang.

Aku duduk termenung di warung tenda pinggir jalan sambil menenggak habis soju yang baru disajikan beberapa menit yang lalu. Padahal biasanya aku sangat jarang minum-minum, tapi entah kenapa rasanya semua sakit hati yang membludak ini memaksaku untuk menyentuh minuman keras ini. Bukan hanya sakit hati ini saja yang menyiksaku, tapi keadaan tubuhku juga sepertinya sedang tidak bisa diajak kompromi. Beberapa hari ini aku selalu terbangun karena rasa mual yang luar biasa. Bukan hanya itu, kalau aku terlalu lelah berjalan juga rasanya aku seperti mau pingsan. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?

Setelah membayar sebotol soju yang kuhabiskan, aku berjalan meninggalkan warung tenda itu untuk kembali ke sauna dimana aku menetap selama ini. Saat baru berbelok di persimpangan, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing. Tidak mungkin aku mabuk hanya karena sebotol soju kan? Pandangan mataku mengabur dan jalanku mulai sempoyongan. Beberapa saat kemudian aku mendengar seseorang berteriak "Seungcheol-ah! Oh my God, help me pelase!" sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri.

.

.

Saat aku membuka mata, aku hanya melihat warna putih dan mencium bau obat-obatan. Tidak salah lagi, ini rumah sakit. Tapi, aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit. Aku harus bagaimana? Ah, sebaiknya aku kabur saja. Tapi niatanku untuk kabur batal setelah seorang pria berambut hitam bermata bulat yang menggenggam dua kaleng kopi memasuki ruangan.

"Oh, kau sudah sadar," walaupun awalnya wajah sangar pria itu membuatku takut, tapi setelah ia menunjukkan senyumnya yang lebar dan tulus aku baru menyadari bahwa aku telah berburuk sangka. Pasti pria ini yang telah membawaku kemari.

"Apakah Anda yang membawaku kemari?"

"Ah, ne. Kami yang membawamu kemari, tetapi yang menemukanmu pingsan di jalan adalah kekasihku," ucapnya. Dia berjalan mendekati sofa dan baru saja aku sadar kalau ternyata ada orang lain yang tengah tertidur di sofa panjang itu. Wajah orang yang tertidur itu sangat cantik dengan kulit putih sempurna, rambut brunette panjang, bibir tipis, dan bulu mata yang lentik. Betapa sempurnanya orang ini ini. Ani, tunggu, apakah orang yang tertidur wanita atau pria? Apakah dia model?

"Jeonghan-ah, bangun! Orang yang kita tolong sudah sadar," dengan lembut pria itu mengelus kepala dan membangunkan kekasihnya.

Sambil mengucek-ngucek matanya, Jeonghan terbangun dan menatap ke arahku. Dia langsung saja tersenyum yang membuatku refleks membalas senyumnya,"Ah, syukurlah kau sudah bangun Wonwoo-ssi." Ternyata orang itu pria, jelas dari suara beratnya.

Setelah berkenalan aku tahu bahwa tebakanku sebelumnya tidak terlalu salah. pria pertama yang berambut hitam bernama Choi Seungcheol, dia seorang CEO penerbitan besar di Jepang, sedangkan kekasihnya adalah Yoon Jeonghan, seorang model terkenal yang sekarang sedang dikontrak di Jepang. Mereka berdua lebih tua dariku dan menyuruhku memanggil mereka dengan sapaan akrab 'HYUNG'. Tiba-tiba aku merasa seperti menemukan keluarga baru.

"So, Wonwoo-ya, apa yang membuatmu bepergian sendirian dalam keadaan hamil seperti ini?" pertanyaan Jeonghan membuatku membulatkan mata. Hamil? Siapa yang hamil? Aku?

"Apa maksudmu hyung? Siapa yang hamil?"

"Ya ampun! Selama ini kamu tidak tahu kalau kamu sedang hamil?" pria cantik itu membelalakkan matanya. Aku hanya menggelengkan kepala pelan.

"Wonwoo-ya, tadi sewaktu dokter selesai memeriksamu, beliau memberikan surat hasil pemeriksaan ini pada kami," Seungcheol merogoh sebuah surat di kantong mantelnya dan menyerahkannya padaku,"Tariklah napas panjang dulu sebelum membacanya!"

Aku mengangguk dan mengikuti saran sang CEO. Kubuka surat itu setelah menarik napas panjang. Benar saja apa yang tertulis pada surat pemeriksaan itu benar-benar mengejutkanku. Walaupun tadi Jeonghan hyung sudah mengatakan kalau aku hamil, tapi beda rasanya setelah membaca surat itu. Aku tidak tahu harus senang, sedih, marah, atau kecewa. Rasanya semua perasaan itu campur aduk jadi satu.

"Wonwoo-ya, neo gwaenchana?" Jeonghan hyung memegang pundakku,"Bukankah kau seharusnya senang karena sedang hamil sekarang?"

"Hyung, aku tidak tahu harus bagaimana," kupandang sekali lagi surat itu berharap semua tulisannya akan berubah menjadi setidaknya 'kelelahan dan dehidrasi' atau semacamnya.

"Waegurae? Museun iri isseo?" Seungcheol menatapku penuh tanya. Haruskah aku menceritakan semua yang terjadi pada mereka? Ataukah aku harus memendamnya semua seorang diri? Tapi, perkataan Seungcheol selanjutnya membuatku terharu,"Kalau kau memang merasa itu hal yang terlalu pribadi, aku minta maaf karena telah menanyakannya. Kami tidak memaksamu menceritakan apa yang terjadi. Kami hanya merasa khawatir dengan keadaanmu." Jeonghan mengangguk setuju dengan perkataan kekasihnya.

Melihat ketulusan mereka, akhirnya aku menceritakan semua yang kualami selama beberapa bulan ini. Mulai dari kematian kakek, perjodohan secara tiba-tiba, pernikahanku dengan seorang anak orang kaya, sampai aku diusir dari rumah mertuaku dan saat aku bertemu dengan mereka di jalan. Aku sengaja tidak mengatakan pada mereka siapa nama suamiku, tapi mereka menyadari privasiku.

"Jadi, saat ini kau sedang mencari pekerjaan untuk menghidupimu dan bayimu?" tanya Seungcheol hyung.

"Aku tidak tahu apakah aku akan merawat bayi ini," ucapku lirih.

"Yah! Apa yang kau bicarakan Wonwoo-ya? Bagaimana bisa kau mempunyai pikiran untuk mengaborsi bayi ini? Kau seharusnya bersyukur karena Tuhan masih mempercayaimu untuk memiliki seorang bayi dari kandunganmu. Tidak banyak laki-laki yang diberikan anugerah seindah ini oleh Tuhan," kulihat wajah Jeonghan yang selalu tersenyum menjadi sedih. Seungcheol merangkulkan lengannya ke pundak kekasihnya dan menariknya ke dalam side hug. Jeonghan menggenggam tangan Seungcheol memberikan isyarat bahwa ia baik-baik saja, tapi dari sini saja aku sudah tahu kalau ia berusaha menutupi kesedihannya dengan senyum palsu.

"Hyung, mianhae," ucapku.

"Hm, tak apa. Aku hanya merasa iri padamu."

"Iri?" aku tidak tahu.

"Ya, iri. Kau bilang kalau kau baru menikah empat bulan yang lalu dan sekarang kau sudah hamil. Sedangkan aku dan Seungcheol sudah menjalin hubungan lebih dari lima tahun dan aku jelas-jelas tidak bisa memberikannya keturunan."

"Yah, apa yang kau katakan? Kita sudah membahas tentang hal ini Baby. Berhentilah mengatakan hal itu," tangan besar Seungcheol mengusap airmata yang mengalir di pipi mulus kekasihnya.

"Tapi," Seungcheol segera menghentikan ucapan Jeonghan dengan menariknya ke dalam pelukan,"Please jangan menyalahkan dirimu lagi seperti ini. Aku mencintaimu bagaimanapun keadaannya."

Sejak saat itulah aku tidak lagi memiliki pikiran untuk mengaborsi bayi ini. Justru aku ingin merawatnya sepenuh hati. Walaupun Mingyu tidak ada di sisiku, tapi aku yakin kalau aku bisa menjadi orang tua tunggal bagi bayi ini. Aku ini Jeon Wonwoo. Jeon Wonwoo tidak kenal menyerah.

.

.

Aku pindah ke Jepang karena Seungcheol hyung menawariku pekerjaan sebagai salah satu komikus di perusahaannya. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Apalagi dengan pergi ke Jepang aku bisa menghindari Mingyu dan Mrs. Kim. Di sana aku tinggal di apartemen pekerja yang memang disediakan khusus bagi seluruh karyawan perusahaan yang memiliki tempat tinggal jauh.

Awal bekerja di perusahaan, Seungcheol memperkenalkanku pada Lee Seokmin dan Hong Jisoo yang akan menjadi rekan kerja satu tim. Mereka berdua sudah lebih senior dariku dalam hal pekerjaan, tapi kami bisa langsung akrab. Aku sangat senang. Inilah awal kebangkitanku.

Hari-hariku selalu diisi dengan bekerja dan bekerja, kecuali akhir pekan yang kuhabiskan dengan berjalan-jalan bersama Jisoo hyung dan Seokmin, terkadang Jeonghan hyung dan Seungcheol hyung juga ikut. Aku merasa telah mempunyai keluarga baru di sini. Walaupun begitu, aku tidak melupakan sahabatku di Korea. Aku terus saja berhubungan dengan Jihoon. Dia mengatakan kalau dia sudah menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Kwon Soonyoung yang bekerja sebagai pengacara.

Setiap bulan aku rutin pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku, tentu saja aku tidak pergi sendiri. Jeonghan hyung bilang dia akan sangat khawatir kalau aku pergi sendiri, jadi dia pasti menemaniku.

"Jangan pernah berpikiran untuk pergi sendirian! Kau ingat bagaimana kita bertemu? Saat itu kau pergi sendirian kan? Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu jadi menurut sajalah padaku," itu adalah omelan andalan Jeonghan hyung.

"Tapi hyung aku yakin aku sangat sehat," bukannya membiarkanku pergi sendirian, Jeonghan hyung justru menyeret kekasihnya dan menyuruhnya untuk ikut memarahiku.

"Wonwoo-ya, turuti saja kemauan Jeonghan. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau menolak perintahnya kan? Bisa-bisa aku yang kena batunya," dengan pandangan memohon dari Seungcheol akhirnya aku setuju untuk pergi bersama hyung yang kuanggap bagian dari keluargaku itu. Ya betul, mereka semua sudah kuanggap sebagai bagian keluarga baruku.

Saat usia kehamilanku sudah delapan bulan, aku masih saja masuk ke kantor. Aku beralasan bahwa tidak ada kegiatan yang bisa kulakukan di apartemen dan menganggur membuatku bosan setengah mati. Dengan alasan itu Seungcheol terpaksa mengijinkanku untuk tetap masuk.

"Argh, kenapa rasanya sakit sekali," aku bergumam pada diriku sendiri ketika aku sedang mengerjakan sebuah sketsa untuk komik bulanan di majalah garapan tim kami.

Jisoo hyung yang tidak jauh dariku mendengar keluhanku,"Waegurae Woo?"

Suara Jisoo hyung yang tidak bisa dikatakan pelan itu membuat Seokmin meninggalkan pekerjaannya dan mendekat ke arahku,"Hyung, gwaenchana?" kepanikan terpancar jelas di wajah kedua rekan kerjaku.

"Aku ba-," belum sempat berbohong pada keduanya, rasa sakit itu semakin bertambah, keringat dingin mulai membasahi dahiku, tanganku mengelus perutku yang sudah semakin besar.

"Arrghhhh," aku hanya bisa merintih kesakitan. Bagaimana bisa rasa sakitnya seperti ini?

"Oh My God, Jisoo hyung, sepertinya ini sudah waktunya," Seokmin menepuk pundak Jisoo keras. Apa? Sudah waktunya? Tapi kandunganku belum genap Sembilan bulan. Bagaimana bisa? Apakah bayiku akan lahir premature?

"Ah, kenapa tak terpikirkan olehku," Jisoo menepuk dahinya menyadari kebodohannya,"Seokmin-ah, segera hubungi Seungcheol. Kita harus segera membawa Wonwoo ke rumah sakit."

"Hyung, aku tak….apa…apa," Jisoo memukul lenganku pelan dan melotot sengit padaku,"Bagaimana tidak apa-apa? Dari tampangmu aku sudah tahu kau sedang kesakitan. Jangan gunakan waktumu untuk berbohong padaku, lebih baik kau rileks dulu sekarang. Aku akan mengemasi barang-barangmu dan kita akan segera ke rumah sakit begitu Seungcheol datang."

Dari tempatku duduk kudengar Seokmin yang terburu-buru menghubungi Seungcheol. Jisoo hyung yang sudah berhenti mengomel mulai memasukkan semua barang-barang penting bawaanku ke dalam tas, sedangkan aku mencoba mengikuti saran Jisoo untuk rileks. Tarik napas, keluarkan perlahan.

Mungkin perkataan mereka berdua ada benarnya. Ini sudah saatnya aku melahirkan. Mungkin juga firasatku untuk memakai pakaian longgar dan celana trining ada benarnya. Baiklah tak apa kalau bayiku ini lahir premature, tapi aku berharap dia akan tumbuh dengan sehat.

"Kajja hyung! Seungcheol hyung sedang bersiap ke mobilnya," Seokmin memberitahukan Jisoo untuk segera memapahku ke parkiran. Keduanya mulai merangkulkan tanganku ke pundak masing-masing, tapi belum berapa lama Seokmin justru menyelipkan lengannya ke belakang lututku mengangkatku seorang diri.

"Aish, mianhae hyung," Seokmin mengurungkan niatnya untuk memapahku dan mulai mengangkat tubuhku bridal style. Jisoo menyetujui usulan Seokmin karena cara ini dianggap lebih efektif mengingat keadaanku sekarang. Karena rasa sakit yang kurasakan semakin menjadi, tanpa sadar aku meremas bagian punggung Seokmin yang mungkin saja bisa merobek baju yang dipakainya, tapi pemuda berhidung mancung itu tidak peduli dengan hal itu.

"Seokmin-ah, sakit sekali…," aku merintih di pelukan dongsaengku itu.

"Gwaenchana hyung."

"Bersabarlah Woo," Jisoo terus memberikan semangat padaku.

"Palli palli!" Seungcheol yang sudah bersiap di dalam mobil bahkan sudah membukakan pintu mobilnya untuk kami. Kalau tidak sedang kesakitan aku pasti akan tertawa karena kejadian ini sangat mirip seperti latihan evakuasi bencana.

.

.

Normal POV

"Apa yang aku katakan sebelumnya tentang bekerja di saat kandunganmu sudah sebesar itu huh?" ucap sang model yang terus memelototi pemuda yang hanya bisa tersenyum-senyum sendiri itu sambil berkacak pinggang. Tiga orang lainnya di ruangan itu hanya bisa diam seolah mereka yang sedang dimarahi, padahal bukan.

"Hyung, mianhae. Tolong lupakan hal itu. Yang penting kan sekarang aku baik-baik saja," Wonwoo yang sudah baikan setelah melahirkan itu mencoba meredakan emosi Jeonghan yang sangat khawatir akan keadaannya.

Tapi bukannya reda, Jeonghan justru menitikkan air mata,"Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu dan bayimu itu Wonwoo-ya? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," melihat hyung-nya itu menangis, Wonwoo menarik tubuh sang model ke dalam pelukannya.

"Hyung, mianhae. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu dan yang lainnya khawatir," ucapnya sambil melirik ke arah tiga orang lainnya yang hanya bisa duduk menenangkan diri setelah berlarian beberapa jam yang lalu,"Gomawo karena kalian telah berada di sampingku saat aku membutuhkan sahabat."

"Babo hyung! Tentu saja kami akan ada di sampingmu. Kami kan sahabatmu," Seokmin berlari ke arah kedua orang yang berpelukan dan ikut memeluk keduanya. Jisoo memandang Seungcheol dan keduanya mengangguk bersamaan kemudian berjalan ke arah grup pelukan itu dan ikut memeluk mereka.

TBC