Chapter XIX
"New Contract"
.
.
.
Pagi yang tak diundang selalu datang semaunya sendiri, begitu yang Baekhyun pikir. Dan satu hal lagi yang membuatnya kesal adalah ia bangun dengan tanpa seorangpun di sekitarnya, maka dari itu ia merasa aneh, pantas saja meskipun masih bersembunyi dibalik selimut hangat namun tubuhnya terasa dingin, ini miris, Baekhyun baru saja bangun dan sudah merindukan kekasihnya, sungguh hiperbolis.
Kekasihnya itu sedang sibuk di kamar mandi, sepertinya sedang menyikat gigi, Baekhyun asumsikan begitu mendengar suara seperti sikat bergesek, lelaki mungil itu berjalan gontai, tentu saja karena hasil dari aktivitas semalam hingga hampir pagi, yang membuat kakinya pegal, tubuhnya seperti remuk, dan bercak ungu tergambar di tiap kujur tubuhnya. Baekhyun berhenti di ambang pintu, suara tapak kakinya yang menyentuh lantai membuat lelaki yang baru saja selesai berkumur membalikkan badan.
"Sayang?" Chanyeol tersenyum seperti musim semi, dan Baekhyun rasa itu sungguh berlebihan, tapi tak apa berlebihan untuk orang dicintainya, disambutnya dua lengan yang kini telah merengkuh tubuhnya, dan ciuman selamat pagi yang langsung tertuju pada bibirnya.
"Emmh…" Baekhyun mengerang bahagia.
Chanyeol melepaskan ciuman mereka setelah sekian menit, menaik-turunkan telapak tangan di bahu kekasihnya yang masih telanjang, sesekali mengusap punggungnya yang sangat lembut. "Kenapa kesini? Tidak sakit?"
"Sakit…" jawab Baekhyun manja. "Tapi kau tidak ada begitu aku bangun. Jadi aku mencarimu."
Chanyeol mengecup pipi kekasihnya gemas.
"Ya sudah kita kembali ke kamar?" Chanyeol menaik turunkan alis, tidak memberi kesempatan Baekhyun ketika kedua tangannya menarik kemudian membopong tubuh kecil Baekhyun di gendongannya.
Baekhyun melingkarkan lengannya di leher Chanyeol secara otomatis.
Mereka kembali menuju ke ranjang, dan yang tinggi memperlakukan kekasihnya sungguh dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Baekhyun menggigit bibir bawah, ia mengikuti gerak Chanyeol yang menurunkannya di matras empuk kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil bathrobe, sedangkan Chanyeol sendiri ternyata sudah memakai boxer sedari tadi.
"Mau kupakaikan?" Chanyeol bertanya, menenteng bathrobe putih di tangannya, kemudian terduduk di sisi Baekhyun.
Tentu saja Baekhyun menjawab hanya dengan kedua tangan terjulur sambil memasang wajah manja seperti anak kucing tak punya dosa.
Yang berhasil membuat Chanyeol meloloskan tawa khasnya yang berat.
"Semalaman kau berubah menjadi monster." Chanyeol bercakap, sembari memasukkan bathrobe lembut ke lengan kekasih mungilnya. "Berbuat semaunya sendiri, memukul, mencakar, menunggangiku, menganiaya milikku… Tapi lihat sekarang, kau berubah menjadi kucing minta dipungut. Kau kontras sekali Byun Baekhyun."
"Park Baekhyun." yang kecil mengoreksi.
Chanyeol terkekeh. "Yah… Park… Setelah semalam kau akhirnya bersedia berganti marga hm?"
Baekhyun berdecih, namun juga terkikik, membiarkan Chanyeol menyelesaikan menyimpul ikat bathrobe di perutnya, kemudian merangkak dan memilih bergelayut di leher kekasihnya yang sudah tampan bau facial foam tersebut. "Lalu salah siapa?" bisiknya, memastikan hidungnya menggesek pipi lembut Chanyeol, nampaknya facial foam yang dipakai adalah miliknya, entah Chanyeol kehabisan peralatan mandi atau memang kini ia berinisiatif untuk berbagai apapun yang mereka punya. "Kau yang memaksaku meminum obat…"
"Oke… Salahku lagi… Dan aku tak tahu obat itu bereaksi sangat ekstrim untukmu." Chanyeol masih membela diri, meskipun kedua matanya kini sudah terpejam, menikmati Baekhyun yang sedari tadi tak henti menghirup leher dan seluruh bagian wajahnya, tangannya menangkap pinggang ramping Baekhyun. "Ini masih pagi…"
"Dasar mesum." Baekhyun menarik kepala cepat, kedua tangannya masih melingkar memang, dan kini mereka bisa memandang satu sama lain. "Kau memakai facial foam ku?"
"Kenapa? Oh, jadi karena itu kau mengendus-endus terus?" Chanyeol menatap penuh selidik. "Pelit sekali sih."
"Bukan begitu, kenapa pakai milikku? Kau suka? Kau mau berganti dengan merk yang kupakai? Seingatku kau tak suka bau bunga-bunga."
Chanyeol menarik tubuh Baekhyun cepat dan mendudukkan kekasih kecilnya itu di pangkuannya, ia mendongak karena posisi Baekhyun kini lebih tinggi, tangan kirinya mengusap pinggang belakang Baekhyun yang kini sudah terbungkus bathrobe lembut. "Hanya penasaran, habis setiap kali kau memakainya baunya wangi, lembut, sampai aku tak bisa berhenti menciumimu. Kupikir karena facial foam nya, barangkali kalau aku yang pakai kau akan begitu juga padaku."
Baekhyun tertawa renyah seperti remahan biskuit, tentu saja karena gombalan murahan sekaligus tidak lucu kekasihnya itu, ia menangkup wajah Chanyeol gemas dengan kedua telapak tangan, menciumnya kilat, namun bertubi. "Muah muah muah muah! Fine, karena kau wangi jadi kuberi ciuman. Mulai sekarang berarti kau harus memakai ini, ok?" canda Baekhyun, menanggapi saja apa kata Chanyeol.
"Baik tuan putri." entah kenapa mereka menikmati bermain roleplay, Chanyeol tertawa, ia hanya terpejam ketika Baekhyun nampak kesal karena dipanggil putri kemudian memukul-mukul pipinya beberapa kali namun dengan perlahan, hingga di pukulan ke sekian pukulannya mereda dan tangan Baekhyun terhenti, Chanyeol bisa merasakan ibu jari Baekhyun mengusap ujung bibir kanannya.
Chanyeol membuka mata dan mendapati ujung hidung Baekhyun sudah berjarak kurang dari sesenti dari ujung hidungnya.
"Tuh kan benar, karena wangi jadi kau ingin menciumku terus." Chanyeol bercanda, dan Baekhyun hanya mendengus kesal sebelum akhirnya menyerah untuk tak berdebat karena menurutnya bibir di depannya itu lebih menggoda dari apapun.
Chanyeol menurut, kali ini hanya berdiam saja, memejamkan mata dan menuruti apa yang kekasihnya inginkan, cukup dengan mendongak dan membuka mulutnya.
Baekhyun kini yang memandu, meremas belakang kepala kekasihnya, menggoda kekasih giant nya itu dengan bibir dan lidah, sengaja membuat nafas mereka beradu dan membuat suara manja di tenggorokan. Tak sungkan rasanya bahkan ketika cahaya lampu sudah terganti dengan cahaya mentari dari luar, meskipun tak seterang saat musim semi, Baekhyun menarik mundur kepalanya saat terdengar Chanyeol juga mengerang di balik tenggorokannya. "Sayang?"
"Eum?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Satu ronde yah, sebelum jalan-jalan keluar?" Chanyeol bertingkah lagi seperti penggoda ulung, alisnya turun naik, maksudnya mungkin menggoda, namun tak seperti biasanya, Baekhyun mengangguk saja tanpa memrotes. "Wah, apakah efek obat masih bekerja selama ini?"
"Ini bukan efek obat." Baekhyun akhirnya merangkak turun, menuju ke tengah ranjang dan merebahkan diriknya dengan nyaman.
"Lalu?" Chanyeol mengikuti, kini merangkak di atas kekasihnya, dalam proses melepas boxer, sembari membuka kembali ikatan bathrobe Baekhyun yang bertahan tak lebih dari sepuluh menit.
"Mungkin karena efek Park Chanyeol." Baekhyun menjawab sekenanya, meskipun itu memang benar, ia tak perlu bersusah payah membuka bathrobe, karena hanya perlu membuka kaki yang rasanya kini sudah seperti pergerakan otomatis, tangannya merambah turun diantara tubuh mereka, dan Chanyeol yang sudah tak mengenakan suatu apapun sudah melesakkan kepala di ceruk leher kekasihnya, sudah bersiap sedemikian rupa. Tangan kanan Baekhyun menangkap milik Chanyeol yang sudah setengah mengeras, hanya beberapa kali gerakan mengocok dan penis itu kini tegang sempurna, Baekhyun melilitkan kakinya di pinggang Chanyeol, mengangkat pinggul agar memudahkan kekasihnya untuk masuk, Chanyeol sendiri tak perlu banyak pergerakan berarti, penisnya sudah keras dan Baekhyun masih terasa licin, ia menurunkan tubuhnya perlahan, memasukkan adiknya ke sarangnya seperti kegiatan yang sudah berkali-kali mereka lakukan, sembari mengecup leher Baekhyun. Chanyeol mulai bergerak, dan keduanya melenguh nikmat bersama, Baekhyun mengatur nafas, disusul Chanyeol yang mulai menambah kecepatan pergerakan pinggulnya.
Mungkin karena masih pagi, dan tenaga mereka yang sudah pulih setelah mendapat tidur yang cukup, tak perlu waktu lama untuk keduanya mencapai orgasme, Baekhyun yang pertama, karena Chanyeol yang membantunya dengan mengocok penis kekasihnya sembari memberinya ciuman dan jangan ditanya bagaimana ia terus menghajar titik prostat Baekhyun tanpa henti, beberapa saat kemudian Chanyeol menyusul, menumpahkan spermanya ke dalam Baekhyun, lalu memilih melanjutkan untuk memaju mundurkan pinggul meskipun dengan gerakan malas hingga akhirnya pergerakan mereka berhenti, namun sepertinya tak ada keinginan Chanyeol untuk menarik keluar miliknya dari dalam tubuh hangat kekasihnya, mereka masih dengan posisi sama, Baekhyun di bawah dengan kedua tangan membungkus leher Chanyeol, dan Chanyeol kini telah ambruk tak lagi kuat menopang tubuhnya sendiri.
Belum ada yang berbicara, mereka hanya terdiam sambil mengatur nafas.
"Pasti seperti ini…."
Chanyeol yakin ia mendengar Baekhyun menggumam, namun pura-pura saja ia tak dengar, posisi seperti ini yang paling ia sukai, persetan dengan Baekhyun yang mungkin saja akan memrotes.
"Chanyeol-ah."
"…."
"Ok, bukannya aku tak suka tapi badanmu berat. Uh."
"…."
"Chanyeol… Sayang…"
"Ok, tapi aku tak ingin mengeluarkan milikku."
"Aku juga masih ingin dipenuhi penismu."
Chanyeol menarik kepalanya semangat. "Lalu?"
"Ummm… Kau tak ingin susu?"
Chanyeol menaikkan satu alis.
"Tak butuh waktu satu menit untuk berganti posisi. Kau akan dapat bonus susu kali ini."
.
Kekasihnya memang sudah beberapa kali memberikan tawaran yang memuaskan, namun kali ini menurut Chanyeol adalah satu dari yang terbaik. Chanyeol selalu senang jika belakang kepalanya diremas, jemari Baekhyun yang ramping akan terasa pas disana, bergerak, mengusap, meremas, memijit kepala, memainkan rambut, rasanya sangat nyaman, Chanyeol menyukai itu, juga miliknya yang kini masih menegang dan masuk ke dalam rumah hangatnya karena Baekhyun duduk di pangkuannya dengan sesekali sengaja menyempitkan dinding dalam anusnya sehingga penis Chanyeol yang melesak di dalamnya seakan mendapat servis terbaik. Selain itu mulut nakal Chanyeol kini disuguhi dada mulus yang sangat Chanyeol sukai, menyesap puting kecil kekasihnya yang menegang keras, bosan dengan puting yang satu Chanyeol akan menghisap yang satunya, tangannya bermain-main dengan pantat yang masih saja aktif bergerak seduktif di pangkuannya, Chanyeol rasa ia akan mati keenakan.
Keduanya mencapai orgasme kedua pagi ini saat Baekhyun duduk di pangkuan Chanyeol dan memaksa penis Chanyeol yang sudah berdiri untuk memasuki lubang ketatnya, Chanyeol tak bisa menahan diri untuk tak bergerak, membuat Baekhyun terhentak turun naik kemudian belum sampai lima menit mereka sudah orgasme, kini mereka telah menikmati pasca-orgasme, karena toh siang juga belum menyapa, Chanyeol melirik ponsel dan jam belum menampakkan angka dua belas, waktu masih banyak, sebelum besok mereka harus menerima kenyataan dan kembali ke rutinitas, Chanyeol pilih memuaskan dirinya, dan Baekhyun juga tentunya, yang nampaknya juga tak keberatan karena keduanya sesekali mengerang nikmat.
Chanyeol membenahi posisi duduknya, punggungnya tak lagi berdiri tegak dan bersandar di headboard dengan baik, ia melepaskan kulumannya di dada kiri Baekhyun yang kini sudah lumayan memerah, basah pula karena liurnya, memang dasar lelaki giant yang bernafsu besar, Chanyeol bergerak sedikit, membuat Baekhyun melenguh dan menengadahkan kepala, penis tegang di dalamnya bergerak, rasanya aneh namun luar biasa.
"Bilang kalau mau bergerak… Ummmh…" Baekhyun merengek, menepuk bahu Chanyeol sembari membenahi duduknya pula, ia menggerakkan sedikit pantatnya memastikan ia dalam posisi nyaman, kemudian kembali memeluk kepala Chanyeol yang saat itu kebetulan mendongak.
"Aku sudah bilang… Kau sendiri asyik mendesah-desah…" Chanyeol hendak membela diri namun Baekhyun keburu memicingkan mata. "Baik… Maaf… Boleh kulanjutkan?"
Baekhyun membusungkan dadanya, dan Chanyeol kembali meneruskan kegiatannya yang sempat terusik.
"Eumh….." Baekhyun melenguh lagi, jemarinya tak berhenti meremas leher dan belakang kepala Chanyeol, kekasihnya itu memang jago untuk urusan melumat, memanjakan putingnya yang kini habis dihisap, seandainya saja dadanya itu menghasilkan susu mungkin Chanyeol sudah menyedot habis isinya, Baekhyun merasa geli sendiri membayangkannya, tubuhnya merinding, dan Chanyeol pasti merasakan itu karena tiba-tiba saja ia berhenti dan mendongak memandang kekasih cantiknya.
"Kenapa? Apakah sakit?"
Baekhyun tersenyum, nampaknya Chanyeol agak khawatir dengannya, ia kemudian mengelus pipi Chanyeol pelan. "Tidak kok. Kalau aku kesakitan aku pasti sudah menjambakmu."
"Fine…" Chanyeol mengangguk, tersenyum. "Kalau sakit bilang saja, atau kau mau aku berhenti…"
Baekhyun menggeleng cepat, ia raih lagi kepala Chanyeol dengan kedua tangan, menariknya ke dadanya. "Lanjutkan lagi… Aku… menyukainya."
"Hm?" heran, baru kali ini Baekhyun menjadi sangat jujur, biasanya meskipun terlihat jelas dia menikmati tapi dia akan selalu berkilah, memrotes dan ujung-ujungnya akan menyalahkan Chanyeol untuk apa saja kegiatan yang mereka lakukan. "Serius?"
Baekhyun mengangguk, jari-jarinya kini bermain-main dengan rambut tebal kekasihnya. "Aku… Mau… Kau melanjutkannya…"
"Hm?" Chanyeol yang awalnya menaikkan alis perlahan menarik satu ujung bibirnya, senyum liciknya keluar. "Kalau begitu kita akan melewatkan sarapan dan akan sedikit terlambat untuk makan siang? Tak apa?"
Baekhyun mendengus, sebenarnya salah menawari bayi besar ini, tapi apa mau dikata, Baekhyun juga sedang ingin, dengan tanpa keberatan Baekhyun kembali mengusap rambut gelap Chanyeol, ia membuang nafas panjang, merasakan sensasi aneh ketika kekasihnya melanjutkan menikmati dadanya, penis di dalamnya seakan mendapat stimulasi dan rasanya mulai membesar, menegang seperti beberapa saat lalu, si pemilik turut pula menggoyang bagian bawahnya dengan gerakan pelan.
"Umh… hhhh… ah…" kepala Baekhyun menengadah, lumatan kekasihnya semakin kuat, kakinya mencengkeram kuat dan pantatnya kini diremas lebih keras oleh tangan besar Chanyeol.
Hisapan pelan kini berubah menjadi lumatan kasar, Chanyeol menggigit, menyedot, dada Baekhyun kian basah karena liur, Chanyeol tak menghiraukan, ia menggerakkan pinggul semakin keras, membuat lelaki mungil di pangkuannya terhentak keras namun konstan, Baekhyun beralih bertumpu di kedua bahunya, menahan agar tak jatuh, dan saat satu tangan besar terarah ke penisnya dan mengocoknya Baekhyun tak bisa menahan untuk menyemburkan cairannya.
"Cepat…" Chanyeol bergumam, mengusap cairan putih yang menodai dadanya, ia jilat tanpa rasa jijik.
"Karena kau menggodaku terus." Baekhyun memanyunkan bibir, namun wajahnya berubah cepat ketika Chanyeol kembali menggenjot, bagian dalamnya disodok lagi, Baekhyun mengerang pasrah.
"Kau juga menggodaku Baek… Uh… AH… Issshhh… Sempit sekali…."
Baekhyun meraih kepala kekasihnya, menariknya dan meraup bibirnya hingga yang besar tak bisa meneruskan racauannya, mereka bertukar lenguhan di dalam mulut masing-masing saat Chanyeol terpejam erat dan penisnya berkedut hebat, kemudian Baekhyun merasakan bagian dalamnya kembali menghangat karena cairan yang kekasihnya semburkan, mereka menegang dan terdiam sekian detik, sampai akhirnya Baekhyun melepaskan ciuman dan bernafas berat, Chanyeol orgasme lagi, dan rasanya bagian dalam tubuhnya lagi-lagi penuh dan lengket.
"Uh… Baek, aku mencintaimu…." sang kekasih berkata jujur kali ini, Baekhyun tersenyum saja, ia usap dahi Chanyeol yang basah penuh keringat.
"Love you too." jawab Baekhyun manis, memberi kening di hadapannya dua kali kecupan. Ia mengusap lagi rambut Chanyeol, mengarahkannya ke belakang, hair style yang Baekhyun sukai, membuat Chanyeol terlihat lebih manly dan dewasa.
"Tumben…" Chanyeol tersenyum nakal, juga tangannya yang kini masih setia bertengger di pantat kekasihnya, mengusap dan meremas sesekali. "Hari ini sebenarnya ada apa? Kau aneh Baekhyun, apa ada sesuatu? Apa karena aku tampan?"
Yang kecil hanya terkekeh. "Ya, kau tampan, dan keren."
"Oke…"
"Dan kaya."
"Baiklah…." Chanyeol mengangguk sok mengerti . "Kau mau kubelikan sesuatu?"
"Tidak… Aku hanya ingin liburan ini tak berakhir." Baekhyun menurunkan volume suara, perlahan menunduk, menyandarkan kepala di bahu Chanyeol dengan manja. "Aku tak ingin kembali, aku ingin disini, bersamamu saja, aku rasa aku sudah gila."
Kenyataan memang tak selalu indah, Chanyeol tahu itu, dan ia sadar kenapa Baekhyun tiba-tiba berubah menjadi anak kucing manja, ia hanya sedih mereka mempunyai sedikit waktu, besok mereka akan kembali ke dunia nyata yang penuh tuntutan, yang membuat mereka melupakan ini semua, saat-saat seperti ini.
"Baek, kau membuatku sedih." Chanyeol menaikkan satu tangan dan mengusap punggung kekasihnya. "Sudah jangan begitu."
Baekhyun menggeleng, kedua lengan mengunci leher Chanyeol, bibirnya mengecupi area yang sama di bahu Chanyeol, berkali-kali.
"Sayang…."
"Ummm…"
"Naikkan kepalamu, aku ingin lanjutkan yang tadi, aku tak bisa menyusu kalau kau begitu. Yah?"
Perlahan Baekhyun menarik kembali kepalanya.
"Sebelum kembali aku ingin menjadi bayimu, kau tidak keberatan kan?"
Baekhyun mengangguk pelan.
"Oke… Mana dadamu?"
Baekhyun membusungkan dada, kali ini Chanyeol memajukan kepala dan mencium puting merah muda itu bergantian sebelum membuka mulut dan menyesap puting yang kanan, Baekhyun mengerang di tenggorokan, kembali mengusap kepala yang kini sibuk di dada kananya.
"Ahh…. Lebih kuat… Chan… Ummm…. Hisap… Ohhhh… ahhh…" hari terakhir nampaknya mereka tak berniat untuk keluar lagi, sepertinya menikmati tubuh masing-masing lebih menggiurkan daripada udara dan pemandangan Jeju di luar sana.
.
.
Pukul 10 malam, Baekhyun awalnya tak berinisiatif untuk mengepak barang, namun entah kenapa ia melakukannya, memang tak banyak pula barang yang mereka bawa, namun merapikan dan kembali memasukannya ke dalam koper akan membuat pekerjaan mereka besok lebih ringan sehingga akan lebih cepat untuk pulang. Lelaki kecil itu berjalan ke arah sofa, dimana ia menyandarkan kopernya, memasukkan beberapa potong pakaian dan barang, ia sedang berjalan menuju meja bar untuk mengambil wine ketika ponsel milik Chanyeol bergetar dan menunjukkan nama Suho disana.
"Ya, hyung? – Oh, Chanyeol sedang tidur – Yah? Kenapa mendadak? Ah, baiklah… Iya, akan kubangunkan dia – Tak apa, tak masalah, lagipula kami akan pulang besok pagi – Um… Yah…. Bye…" Baekhyun menutup telepon dengan menarik nafas berat, kemudian ia berjalan menuju ranjang, menggoyangkan tubuh Chanyeol yang kebetulan masih tertidur. "Chanyeol-ah…"
Si giant belum menjawab, hanya meregangkan otot tubuhnya yang serasa kaku, ia membuka mata dan tersenyum ketika mendapati wajah manis kekasihnya. "Eum?"
"Suho hyung menelepon, kita harus kembali malam ini."
"Hm?" Chanyeol membangunkan diri, membenahi posisi duduk ketika Baekhyun merangkak ke sisinya. "Kenapa mendadak sekali?"
"Katanya besok pagi kau ada meeting, jadi kita harus kembali malam ini, manager hyung membantu mencarikan tiket."
"Hanya aku?"
Baekhyun mengangguk. "Karena itu kita harus kembali."
Pandangan mereka bertemu, sama-sama sedikit kecewa pastinya, namun Chanyeol tersenyum manis, ia kecup kening Baekhyun cepat. "Maaf yah, liburannya lagi-lagi tak sesuai dengan yang kau harapkan…"
"Bukan salahmu kok…" Baekhyun tersenyum. "Baiklah, untung saja instingku kuat, aku sudah mengepak barangku, akan kubantu mengepak barangmu sembari kau bersiap-siap."
"Baiklah…" Chanyeol tersneyum lagi, kali ini tak melewatkan kesempatan untuk meraih tubuh Baekhyun dan menariknya dalam pelukan. "Kau tidak sedih kan?"
Baekhyun menggeleng, ia mendongak kemudian tersenyum, nafas mereka beradu, dengan memandang saja Baekhyun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tangan kekasihnya merambah ke belakang kepala kemudian mencium bibirnya, Baekhyun memejamkan mata, sama dengan Chanyeol yang juga menutup mata dan hanya menikmati ciuman yang mereka lakukan dengan lembut. "Terimakasih kado ulang tahunnya."
"Sama-sama…" Baekhyun menjawab, manis.
.
.
.
Jika ada seseorang yang merasa senang mengetahui bahwa Chanyeol ternyata ditawari untuk mendapat kontrak bermain film pasti itu adalah Baekhyun. Awalnya saat ia menginjakkan kaki di dorm dini hari setelah mereka kembali dari Jeju, jujur saja Baekhyun merasa sedikit berberat hati, namun paginya begitu ia mendapat berita bahwa Chanyeol pergi untuk menemui produser dari China yang kabarnya menawarinya untuk membicarakan kontrak bermain film layar lebar, Baekhyun merasa bahagia, bangga tentu saja.
"Kau serius hyung?" Baekhyun berhenti mengunyah sandwich-nya setelah mendengar berita dari Minseok.
"Hum. Kudengar langsung dari manager-shi… Kurasa ini kesempatan bagus untuknya. Makanya semalam manager langsung menelepon."
"Ah… Senang mendengarnya." Baekhyun mengangguk senang.
"Lalu, apa ada oleh-oleh untukku?" Minseok bertanya setengah serius. "Jangan bilang kalian terlalu asyik di hotel sampai tidak memanfaatkan waktu untuk keluar."
Baekhyun seperti kena razia mendadak, wajahnya pucat. "Ah… Itu…"
"Iya kan, tebakanku benar."
"Hyung…." untung kali ini yang dihadapinya Minseok, seandainya saja Sehun mungkin ia sudah habis dikatai, dan Baekhyun harus menghabiskan seluruh tenaganya untuk menghajar si cadel itu. "Kami hanya punya waktu dua hari, dan cuaca di luar sedang dingin…"
"Baiklah… Sekarang menyalahkan cuaca yang dingin..." Minseok memasang wajah menggoda, lagi-lagi menyenggol Baekhyun dengan sikunya. "Aku mengerti kok… Cara berjalanmu saja masih aneh, pasti Chanyeol menghajaramu habis-habisan."
Baekhyun tak bisa menutupi pipinya yang bersemu merah, senyumnya yang merekah ditutupi dengan sandwich yang tak hentinya ia kunyah. "Hyung, sudahlah jangan dibahas lagi…"
"Iyah… Baiklah… Tapi… Aku benar-benar penasaran… Apa saja yang kau lakukan disana eoh?" Minseok yang sedari tadi menghindari menatap Baekhyun kini melihat dongsaengnya itu. "Janji deh ini pertanyaan terakhir setelah ini aku akan bersiap untuk pergi."
Baekhyun melirik dari ujung matanya, nampaknya memberitahu Minseok hyung tak ada salahnya. "Umm… Kami hanya menghabiskan waktu di hotel saja…"
"Ooh…." Minseok mengangguk. "Melakukan apa?"
"Hyung…"
"Iya iya iya, ini yang terakhir serius." Minseok membuat peace sign. "Kau… Tidak menghabiskan waktu dengan menonton televisi kan? Atau mendownload sesuatu dengan wifi hotel…"
Yang tua menunggu jawaban Baekhyun.
"Selain makan dari delivery order dan ke kamar mandi… Yah… Seperti yang hyung pikirkan…"
"Bercinta?"
Baekhyun mengangguk.
"Seharian?"
Si dongsaeng mengangguk lagi.
"Wah….." Minseok membuka mulutnya lebar. "Kau hebat Baek." entah itu pujian atau apa, namun Minseok bisa mendapati wajah memerah Baekhyun saat ia mengatakannya.
.
.
.
Langit sudah menggelap ketika Chanyeol kembali ke dorm dengan print out naskah di tangannya. Ia berjalan lurus menuju kamar karena tak menemukan seorangpun member di ruang depan, ia asumsikan semuanya sedang sibuk atau berada di kamar masing-masing. Lelaki tinggi itu membuka pintu kamar namun tak ada seorangpun juga, ia rasa Baekhyun juga sedang pergi entah kemana. Ia memilih mendudukkan tubuhnya di ranjang, membuka lagi naskah yang ia pegang dan membacanya singkat.
"Sudah pulang?" suara kekasihnya menyapa, Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun berjalan ke arahnya, kemudian mengambil tempat di sampingnya.
"Yah…"
"Minseok hyung bilang kau pergi menemui produser, kurasa itu tidak bercanda."
Chanyeol melihat kebawah dimana Baekhyun menujukan pandangannya, naskah yang dipegangnya, Chanyeol kemudian memperlihatkannya kepada lelaki di sampingnya. "Hu um. Tawaran film layar lebar."
"Oh… Film genre apa? Bagaimana ceritanya?" nada bicara Baekhyun menunjukkan ketertarikan, ia mengambil naskah dari tangan Chanyeol, membuka lembar demi lembar.
"Artis yang jatuh cinta dengan anti-fans…."
"Oh…" Baekhyun mengangguk mengerti, belum sampai lembar terakhir namun sudah ia kembalikan. "Kau menerimanya?"
"Baru aku mau menanyakannya padamu…"
"Menanyakan padaku? Kenapa? Kalau kau dan manager setuju terima saja."
"Tak apa?"
"Tentu saja…" Baekhyun tersenyum.
Chanyeol mengangguk, ia lihat lagi sekilas naskah yang ada di tangannya. "Itu berarti aku akan bolak balik ke China untuk syuting, promo, dan lain sebagainya."
"Iyah… Kan memang begitu konsekuensinya."
Chanyeol tersenyum, ia memang belum membaca seluruhnya bagaimana isi naskahnya, sebenarnya ia tak ingin juga menerima tawaran di luar kegiatan Exo yang membuatnya terpisah dari member grup-nya terutama Baekhyun, namun ini kesempatan emas, yang sayang sekali kalau dilewatkan, Chanyeol dengan hembusan nafas panjangnya mengangguk, ia letakkan naskah di meja samping ranjang kemudian memandang kekasihnya lekat. Kontrak baru untuknya mungkin akan membuat waktunya lebih sedikit lagi dengan kekasihnya, juga mungkin akan terjadi sesuatu hal yang mungkin di luar pemikirannya, film layar lebar, adegan-adegan tertentu yang harus dijalaninya….
"Aku tak perlu khawatir kan?" pertanyaan Baekhyun seakan membangunkan Chanyeol dari lamunannya.
"Eum?"
"Tidak ada yang perlu ku khawatirkan kan?"
Chanyeol terdiam sesaat, ia majukan badannya untuk memeluk badan kecil hangat yang kini telah menyandar penuh di dadanya. "Tentu saja tidak…" Chanyeol menjawab, mengusap punggung Baekhyun pelan.
"Nah… Dengan begitu kalaupun kau pergi aku bisa tetap tenang…" Baekhyun tersenyum, rasanya nyaman saat dipeluk Chanyeol seperti ini, juga saat ia merasa ujung kepalanya dikecup pelan, semuanya terasa sempurna, sesederhana ini Chanyeol membuat dirinya bahagia,
sederhana sekali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hellooooo everyone~
Yeeey after long time berhasil update /(^^)/
Btw liburannya CB disini kelar marathon enaenanya selese juga deeeh (?) T'T
KKkkkk
Tetep ditunggu reviewnya yaaaaaa
Big thx buat everyone, keep reading keep review, fav, follow, de el el
Moga varokah ^^
Makasih Chu ucapin deh ya, terutama buat new reviewer:
parkbyunCBKHKHnHS : full NC lagi nih… kkkk thx for the comment
baekhyeol ; konflik ada nanti mau end ^^ kep reading yaaa
guest: hhe I deserve nothing but thx for the compliment^^ sama2 dear… keep reading yaaa
itabee: fightiiiing
chaerinnieee: syaappp
yayahunnie: yahhh kok dibaca nc doang :' gpp kooo heheeeee
jiellian21: ok sweet
eka915: tambahhh done
semuanya yang uda sering review jugaaak pastinyaaa…
Wait for another new update,,
Chaooooo
