Title : It's Okay My Love
Pairing : Meanie (Mingyu x Wonwoo)
Genre : Angst, Romance, Drama
Length : chapter 4 of 6
Rating : PG-13
Note :
Don't like don't read. No bashing please! No harsh comment whatsoever!
©2016 Davidrd copyrights
Musim dingin di sebuah apartemen di daerah Gangnam. Seorang pria dan seorang anak kecil sibuk membongkar kardus dan mengambil barang-barang di dalamnya untuk ditata di ruangan yang masih terlihat polos. Seorang pria berhidung mancung kemudian masuk ke ruangan itu sambil membawa dua tumpukan kardus dan meletakkannya di dekat si anak kecil.
"Seokmin ahjussi, boleh aku membantu membawa kardus-kardus itu?" anak laki-laki yang baru berusia tiga tahun itu berlari mendekat dan mencoba menawarkan bantuan sambil menarik-narik celana jeans yang dipakai Seokmin ahjussi untuk menarik perhatiannya.
Sambil tersenyum kecil, Lee Seokmin berlutut untuk menyamakan tingginya dengan si anak,"Ani, Minu tidak boleh membantu ahjussi."
"Wae?" tanyanya polos.
"Kardus-kardus itu terlalu berat untukmu Minu. Kau cukup bantu eomma memasak atau membantu Jisoo ahjussi saja ya," pria itu mengacak-acak rambut keponakannya yang mulai cemberut. Sangat menggemaskan, anak ini memang punya aegyo yang bisa meluluhkan hati semua orang.
"Minu-ya, sini bantu Jisoo ahjussi menata komik-komik ini di rak buku saja!" seorang pria berambut karamel di sudut ruangan tersenyum manis ke arah Minwoo yang langsung disambut dengan anggukan,"Baiklah. Aku akan membantu Jisoo ahjussi saja."
"Anak pintar," Jisoo yang merasa gemas dengan keponakannya itu mencubit pipi gembilnya.
Ting tong
"Seokmin-ah, bisakah tolong bukakan pintunya!" suara Wonwoo terdengar dari arah dapur.
"Ahjussi, biarkan Minu yang membukanya," sebelum Seokmin sempat berdiri, anak kecil dengan tenaga yang sepertinya tidak pernah habis itu berlari menuju pintu dan dengan segera berjinjit untuk meraih gagang pintu. Setelah pintu terbuka, terlihat sesosok pria bermata sangat sipit dan seorang lainnya yang lebih pendek dengan rambut berwarna pink.
"Bukankah ini Minu?" pria berambut pink itu mengulurkan tangannya dan dengan mudahnya membopong tubuh mungil Kim Minwoo,"Minu-ya, coba tebak. Siapa nama ahjussi?"
Setelah beberapa saat berpikir, Minwoo teringat akan foto-foto yang pernah ditunjukkan oleh eomma. Pria di depannya itu adalah,"Jihoon ahjussi!" ucapnya lantang seraya menunjukkan telunjuknya pada hidung pria bernama Jihoon.
"Benar sekali," Jihoon mencium pipi menggemaskan Minwoo. Kemudian dia mengarahkan Minwoo ke lelaki di sampingnya,"Kalau ahjussi yang ini, siapa namanya ya?" Soonyoung sudah bersiap tersenyum mendengar jawaban Minwoo, tetapi,"Hamster ahjussi," Minwoo asal saja menjawab.
"Mwo? Hamster?" kedua alis Kwon Soonyoung menyatu tanda sedikit kesal mendengar jawaban Minwoo yang nyeleneh, sedangkan Seokmin, Jisoo, dan Jihoon tertawa mendengarnya. Seokmin dan Jisoo bahkan sampai berguling-guling di lantai saking terhiburnya mendengar jawaban spontan anak Jeon Wonwoo itu.
Minwoo yang tertawa kecil, kini mulai sedikit ketakutan ketika menyadari bahwa ahjussi yang satu ini sepertinya punya aura menakutkan. Wonwoo yang baru keluar dari dapur segera mendekati kedua tamunya dan pura-pura mencubit lengan Minwoo,"Aish, Minu nakal ya. Bagaimana bisa kau memanggil pamanmu dengan Hamster?"
"Hehehe, mianhaeyo Soonyoung ahjussi," Minwoo mengulurkan lengan mungilnya ke arah Soonyoung sebagai isyarat ingin digendong. Pengacara itu kemudian dengan senang hati menggendong malaikat kecil itu di lengannya,"Lain kali jangan panggil ahjussi seperti itu lagi ya. Ahjussi ini kan ganteng, masa disamakan dengan hamster."
"OK ahjussi!" Minwoo mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di pelipis, persis seperti orang sedang hormat.
.
.
Hari itu hari pertama kalinya aku kembali ke Korea setelah tiga tahun menetap di Jepang. Aku kembali ke tanah kelahiranku karena Seungcheol hyung memutuskan untuk membuka cabang perusahaan di Korea. Dia mengatakan bahwa prospek bisnis majalah online, terutama webtoon sangat bagus. Hal itu didasarkan pada survei yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir. Selain itu, karena kontrak Jeonghan hyung dengan agensi di Jepang sudah berakhir, dia memutuskan untuk pindah ke Seoul. Cabang di Jepang akan diurus oleh Mr. Sato, orang kepercayaannya dibantu tim ahli dari Jepang.
Begitulah akhirnya aku kembali ke Korea. Awalnya aku merasa takut untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiranku, tetapi karena sahabatku selalu memberikan dukungan dan semangat, aku sudah tidak takut lagi. Seoul ini tempat yang luas, lagipula tempatku bekerja dan tinggal lumayan jauh dari kediaman Kim. Jadi, aku tidak perlu khawatir akan bertemu dengan salah satu Kim itu.
Suatu pagi setelah setengah tahun aku dan Minwoo tinggal di Korea, aku mendapati kondisi anakku tidak seperti biasanya. Minwoo yang biasanya sangat aktif berlarian ke sana kemari, kini lebih sering terlihat duduk diam. Ketika kutanya mengapa, dia selalu mengatakan kalau dia lelah, padahal sebelumnya dia baru saja makan siang. Awalnya aku hanya mengira dia sedang demam, tetapi beberapa hari kemudian aku mulai menemukan kejanggalan.
Anakku yang sedang berlari tiba-tiba terjatuh dan setelah kulihat tubuhnya, lengannya penuh dengan memar yang aku yakin tidak ada disitu kemarin. Apa yang sebenarnya terjadi. Selain memar itu, bagian putih bola mata Minwoo juga kelihatan berbeda. Warna putihnya sedikit kekuningan.
Hari itu juga Jisoo hyung mengantarkan kami ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Minwoo. Aku tidak tahu apakah aku harus kecewa atau sedih setelah mendengar pernyataan dokter.
"Maaf sebelumnya Wonwoo-ssi, tetapi saya tetap harus menjelaskan hasil diagnosis penyakit yang diderita oleh anak Anda," seakan jantungku berhenti berdetak saat Dokter Kim mengatakan kata 'penyakit'.
"Minwooie menderita penyakit atresia bilier atau gagal hati pada anak. Walaupun kasus seperti ini biasanya terjadi pada anak yang baru lahir, tapi sepertinya Minwoo baru menunjukkan gejalanya sekarang."
"Atre…si..a.. bili..er Dok?" jenis penyakit apa itu, aku tidak tahu istilah medis seperti itu, tapi gagal hati. Aku tahu itu. itu berarti hati anakku sudah berkurang fungsinya. Itu artinya kemampuan hati Minwoo untuk menetralisir racun dalam tubuhnya semakin berkurang. Dan itu artinya.
"Sekali lagi maaf Wonwoo-ssi."
"Apa ada cara untuk menyembuhkan Minwoo Dok? Tolonglah Minwoo Dok, dia masih terlalu muda," kupegang tangan Dokter Kim sambil menahan tangis.
"Ada satu cara untuk menyembuhkan penyakit ini."
Seolah mendapatkan pencerahan, kutatap dengan sungguh mata Dokter Kim,"Apa itu Dok? Seberapapun besarnya biaya yang dibutuhkan saya akan berusaha mencarinya, tapi tolong selamatkan anak saya," tangisku pecah begitu saja mengingat anak semata wayangku ternyata sedang berjuang melawan maut sekarang.
"Kita harus melakukan operasi transplantasi hati secepatnya. Transplantasi hati hanya akan efektif kalau kita melakukannya dalam kisaran waktu enam bulan ke depan karena saat itu hati Minwoo masih bisa menerima keberadaan hati donor di dalam tubuhnya."
"Siapa yang bisa menjadi donor untuknya Dok?" aku mengusap air mata yang membekas jelek di wajahku dengan syal yang kupakai.
"Untuk memudahkan dan melancarkan operasi akan sangat baik jika pendonor adalah ayah kandung Minwoo."
Ayah. Kandung. Itu berarti Mingyu. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba muncul di hadapan suami yang kutinggalkan selama empat tahun lebih dan memintanya untuk mendonorkan hatinya. Hal itu sangat mustahil. Apalagi kalau mengingat Mrs. Kim. Mana mungkin beliau akan menyetujui semua ini.
"Dok, apa tidak ada cara lain? Pengobatan rutin mungkin?" aku berharap Dokter Kim dengan segera mengiyakan pertanyaanku. Semoga saja anakku bisa sembuh dengan pengobatan rutin dan terapi di rumah sakit tanpa perlu melakukan transplantasi.
Tapi harapanku pudar saat Dokter Kim menggelengkan kepalanya lemah,"Maaf Wonwoo-ssi, pengobatan rutin hanya akan membantunya sementara waktu. Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan obat-obatan. Apalagi Minwoo menderita gagal hati, kalau kita memberikan obat secara berlebihan, hatinya akan bekerja terlalu berat."
Semuanya terasa menyesakkan. Hidup yang kukira sudah mulai membaik dengan kehadiran Minwoo di sisiku, ternyata tidak semulus yang kubayangkan. Entah kenapa Tuhan senang sekali memberikan cobaan yang sangat berat bagiku. Entah aku ini manusia penuh dosa atau apa. Bagaimana bisa semuanya hanya terjadi padaku? Seandainya Tuhan bisa bersikap sedikit lebih penyanyang, dia akan menurunkan penyakit itu padaku, bukan pada Minwoo. Seorang anak kecil berusia empat tahun yang bahkan belum tahu apa-apa di dunia ini. Anak kecil yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang, kehidupan yang akan direncanakan selanjutnya.
.
.
Aku menatap sosok anakku yang sedang tertawa dengan Moonbin, anak berusia tiga tahun yang menderita penyakit leukemia stadium akhir. Dari tadi Minwoo terus-terusan menghibur Moonbin membuat ibunya yang melihat tingkah kedua bocah ini tersenyum miris. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibu itu.
"Wonwoo-ssi, bagaimana bisa Anda mempunyai anak sebaik Minwoo?" nenek Moonbin yang berada di sampingku melemparkan pertanyaan yang aku juga tidak tahu jawabannya.
"Aku tidak tahu halmoni. Minwoo berusaha menghibur Moonbin yang kesakitan karena kemoterapi seakan dia sendiri bukan pasien di rumah sakit ini," aku menggeleng pelan menanggapi pertanyaan itu.
"Sepertinya dia menuruni sifatnya itu darimu Wonwoo-ssi," entah mengapa air mataku meluncur dengan bebas begitu saja. Keadaan di bangsal anak-anak ini memang lebih menyedihkan. Bagaimana tidak? Melihat anak-anak yang seharusnya masih bermain dengan gembira justru terbaring lemas dan menahan rasa sakit itu lebih menyakitkan daripada merasakan rasa sakit itu sendiri.
"Eomma," Minwoo yang berada di seberang ruangan menghentikan kegiatannya dan melihat ke arahku. Ia berlari secepat yang ia bisa kepadaku dan memelukku erat,"Eomma jangan menangis!" dia mengusapkan ujung lengan bajunya untuk membersihkan jejak air mata di wajahku.
"Hahaha, siapa yang menangis?" tanyaku padanya. Tapi sepertinya dia sudah terlalu dewasa untuk termakan kebohonganku,"Eomma hanya kelilipan. Tadi ada debu yang masuk ke mata eomma, jadi eomma menangis," alasan klise untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan meniup debu di mata eomma supaya eomma berhenti menangis," dia meniup pelan mataku.
.
.
Sudah empat tahun Wonwoo meninggalkan rumah. Sudah berulang kali aku menyuruh orang untuk mencari keberadaannya di seluruh Korea, tapi hasilnya nihil. Apakah dia benar-benar mempermainkanku dan menduakanku dengan laki-laki itu di saat aku sudah mulai jatuh hati padanya? Teganya dia.
Karena aku tidak berhasil menemukan Wonwoo itulah, satu tahun yang lalu eomma memutuskan agar aku bertunangan dengan seorang anak kenalannya. Choi Jinhee memang gadis cantik, baik, dan manis, tapi rasanya aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintai Wonwoo. Entah bagaimana, tapi aku sangat merasakan perbedaan mereka berdua. Walaupun akhirnya kami bertunangan, aku melakukan itu semata-mata agar eomma berhenti menggangguku.
Hari ini, saat aku duduk seorang diri di sebuah café di pusat kota berusaha menenangkan pikiranku, aku kembali mengingatnya. Dia yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya dan merasakan sakit yang amat sangat karena pengkhianatan. Cuaca hari ini cukup mendukung dengan mood mellowku yang berlebih. Langit terlihat mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Aku mengalihkan pandanganku dari orang-orang yang berlalu-lalang di jalan kembali kepada secangkir kopi di hadapanku.
Lonceng di pintu masuk café berbunyi menandakan seorang pengunjung baru saja datang. Aku meraih caramel macchiato yang terbengkalai selama kurang lebih lima belas menit itu dan mulai menyesapnya. "Mingyu-ya!" tiba-tiba suara seseorang membuatku meletakkan minumanku ke meja dan menengok ke asal suara.
"Kau Kim Mingyu kan?" pria beralis tebal yang mengenakan coat panjang berwarna cokelat itu mengarahkan telunjuknya padaku. Otakku mulai memproses siapa pria di depanku ini.
"Ah, Seungcheol hyung," ingatanku masa SMA melintas di pikiranku. Choi Seungcheol, sunbaenim dan kapten tim sepakbola di sekolahku yang sangat popular karena ketampanannya. Dia juga terkenal siswa yang mematahkan hati banyak sekali gadis di sekolah kala itu karena mengencani anggota paduan suara yang satu angkatan dengannya. Kalau tidak salah namanya Yoon Jeonghan.
Aku berdiri dan kami pun bersalaman. Aku mempersilakan subaenim yang cukup dekat denganku sewaktu SMA itu untuk duduk di hadapanku karena kebetulan aku sedang sendirian.
"Bagaimana kabarmu Hyung?"
"Kabarku sangat baik. Bagaimana denganmu? Aku selalu menonton pertandingan klubmu di televisi. Yah, kau terlihat semakin berkharisma saja," dia masih seperti dulu. Mudah diajak ngobrol dan menyenangkan.
"Ah, jangan melebih-lebihkan Hyung! Aku hanya bermain seperti biasa," aku berusaha mengusir rona merah di pipiku yang hampir saja muncul karena pujiannya,"Oya, aku dengar kau tinggal di Jepang."
Setelah menyesap minumannya, Seungcheol hyung menjawab pertanyaanku,"Oh itu. Iya aku memang tinggal di Jepang sampai enam bulan yang lalu. Aku kembali ke Korea karena kontrak Jeonghan dengan agensinya di Jepang berakhir dan dia tidak ingin memperpanjangnya. Selain itu, kulihat prospek webtoon di Korea sudah membaik, jadi kubuat tim Korea dan tim Jepang."
"Wow, kau sudah menjadi orang sukses sekarang Hyung. Bisnis yang baik, pasangan yang setia, dan kehidupan yang menyenangkan. Ah betapa irinya aku padamu."
"Hahaha, jangan begitu! Kudengar kau baru saja bertunangan dengan Choi Jinhee, pewaris Choi Grup. Bukankah nasibmu lebih beruntung? Atau tidak," ujarnya sambil menaikkan sebelah alisnya mencari jawaban dariku.
"Ya, mungkin saja kedengarannya nasibku sangat baik Hyung."
"Yah, jangan bilang kalau pertunangan ini ibumu yang mengaturnya?" dia bisa menebak dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi dengan tepat.
"Begitulah Hyung," aku tersenyum sedih meratapi nasibku sendiri.
"Hey, jangan berkecil hati! Tidak semua pernikahan macam itu berakhir buruk. Walaupun ada saja yang berakhir sangat buruk seperti yang terjadi pada salah satu karyawanku," kulihat dia seperti menerawang membayangkan sebuah kejadian yang mengerikan.
"Ah, Hyung. Jangan menakut-nakutiku seperti itu!" aku berusaha tertawa kecil untuk membuatnya berhenti bercanda.
"Ya sudahlah kalau kau tidak percaya," aku kembali mengangkat cangkirku, kemudian samar-samar kudengar Seungcheol hyung bergumam sesuatu yang tidak dapat kutangkap dengan jelas,"padahal Wonwoo mengalami hal semacam itu."
"Kau bilang apa Hyung?"
"Ani. Tidak ada," dia menggeleng pelan,"Oh ya, berikan aku kontakmu supaya aku bisa menghubungimu dan mengajakmu untuk sparring tinju seperti yang sering kita lakukan sewaktu SMA dulu." Sesaat setelah Seungcheol hyung mengeluarkan handphonenya, benda itu berdering. Bibirnya membentuk sebuah senyuman, sepertinya aku tahu siapa yang menghubunginya.
"Yoboseyo Hanie," benar kan. Tentu saja senyuman itu hanya milik Jeonghan seorang. Pasangan ini memang selalu membuat orang lain merasa iri. Untuk memberinya privasi, aku memandang keluar dan memperhatikan orang-orang yang mulai berlarian karena hujan mulai turun.
"Apa? Kenapa bisa seperti itu? Dimana mereka sekarang? Arraseo. Jangan kemana-mana, aku akan segera kesana!" Seungcheol hyung terdengar panik.
"Waegurae hyung?" aku menatapnya yang barusaja memasukkan teleponnya ke dalam saku.
"Ada hal buruk sedang terjadi dengan karyawanku. Aku harus ke rumah sakit sekarang Mingyu-ya."
"Baiklah hyung. Ah, sebentar," kukeluarkan kartu namaku dari dalam dompet dan kuberikan padanya,"Hubungi aku kapanpun kau sempat hyung."
"Oke. Aku pergi dulu ya! Senang bertemu denganmu," kami bersalaman dan dengan terburu-buru dia keluar dari café menuju mobilnya.
Dan aku kembali seorang diri.
TBC
