Chapter XX

"Soft hearted Byun"

.

.

.

Hubungannya dengan Chanyeol sebenarnya baik-baik saja, Baekhyun seharusnya tak perlu khawatir. Namun moodnya yang turun naik jujur saja terkadang tak bisa dikendalikan. Malam ketika ia pulang dari mengisi acara, Baekhyun terkadang menjadi mellow sendiri, tanpa ada Chanyeol di kamar membuatnya diam dan moodnya yang buruk tiba-tiba datang. Meskipun beberapa saat kemudian hatinya merasa lebih baik karena ponselnya akan bergetar dan menunjukkan chat dari sang kekasih disana, bahkan Chanyeol sebenarnya tak pernah absen untuk menelepon sekedar untuk menanyakan kabar, mengucapkan selamat tidur, mengumbar gombalan murahan namun romantis jika kedapatan Baekhyun tak sengaja meloloskan nada manjanya. Kurang apalagi Chanyeol membuat dirinya merasa lebih baik, terkadang Baekhyun merasa bersalah karena tanpa disadarinya pasti sedikit membebani kekasihnya yang sudah kelewat pengertian itu.

Hari-hari sibuk Chanyeol dengan jadwal syutingnya akhirnya berakhir, belum sepenuhnya tentunya, karena masih ada masa promo dan lainnya, namun setidaknya ia kembali pulang ke dorm dengan tentengan koper dan tas belanjaan sana sini. Baekhyun saat itu baru pulang juga dari salah satu acara pemotretan, pandangannya tertuju langsung pada seseorang yang masih berdiri di dekat sofa, menaruh titipan barang dari para member, oleh-oleh, masih sempat pula lelaki giant ini membeli buah tangan, Baekhyun tak sadar memasang wajah dengan senyum lebar, dan Sehun beserta Jongin yang berdiri tak jauh dari sofa langsung menangkap atmosfer itu, mereka saling melirik dan sengaja menggoda dengan pura-pura terbatuk, yang kedengaran sangat dibuat-buat, Baekhyun langsung saja membuat ekspresi masam, langkahnya dibuat sesantai mungkin, meski sebenarnya dia ingin berlari menubruk lelaki yang kini dengan santainya mengeluarkan satu demi satu belanjaannya.

"Oh, hyung, sepertinya ada yang kangen nih…" goda Sehun begitu Baekhyun sudah berdiri hanya beberapa langkah dari sofa yang kini ia duduki.

"Hu-um, beberapa hari ini murung terus loh…" goda Jongin yang mengikuti Sehun duduk di sofa.

"Siapa yang murung?" Baekhyun memasang wajah manyun.

"Tentu saja, kan sudah beberapa hari tidak melihatku…" Chanyeol turut pula menggoda, membuat Baekhyun dua kali lipat terlihat kesal.

Baekhyun nampaknya benar-benar malas menanggapi candaan-candaan teman-temannya, ia memicingkan mata meskipun pada akhirnya Chanyeol justru turut terkekeh sehingga ia merasa tak ada seorangpun kini yang membelanya.

"Sudah aku mau tidur." ujar yang paling pendek kemudian, berjalan menuju kamarnya dengan alis hampir menyatu dan bibir yang masih mengerucut kesal.

.

"Baek? Kau sudah tidur? Baek?"

Chanyeol menarik nafas panjang, yah memang tak heran kalau Baekhyun sudah tidur, ia asyik sendiri dengan Sehun dan Jongin tadi, membicarakan kegiatan di China lalu membahas barang-barang yang mereka beli pula, hampir sejam, dan ketika ia kembali ke kamar lalu mendapati Baekhyun sudah tidur di ranjangnya sendiri dengan menghadap dinding itu sudah cukup mengindikasikan bahwa si mungil ini benar-benar lelah, Chanyeol berusaha berpikiran positif, ia kemudian memilih ke kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap tidur, mungkin itu yang sangat ia butuhkan saat ini.

Sekitar setengah jam waktu yang Chanyeol butuhkan untuk menyelesaikan urusan kamar mandinya, sampai akhirnya dia keluar dengan memakai kaus hitam tanpa lengan, dengan bawahan boxer hitam pendek, matanya mendapati roommate sekaligus kekasihnya yang kini sudah berganti posisi tidur, badannya terlentang dengan deru nafas teratur, Baekhyun pasti sangat kelelahan, bisa dilihat dari raut wajahnya dan mulut yang sedikit terbuka, Chanyeol tak bisa menahan diri untuk tak mengampiri, dilihatnya ponsel yang masih tergeletak di telapak tangan si mungil itu, meski hanya menempel saja karena mungkin sebelum tertidur ia bermain-main dengan ponselnya. Chanyeol mengambil ponsel itu perlahan, membuka passcode nya dengan mudah karena sudah lama Baekhyun memberitahukannya padanya, layar ponsel pintar itu kini menunjukkan list agenda, Chanyeol memang tak memiliki penglihatan tajam namun sekilas dilihat saja ia tahu bahwa tulisan kecil-kecil yang runtut itu adalah jadwalnya, jadwalnya sendiri.

Chanyeol tersenyum kalem, sungguh lelaki mungil bernama Baekhyun ini sangat menggemaskan, bagaimana bisa dia memelototi dan menandai satu persatu jadwal yang bahkan bukan miliknya sendiri, apakah ia selalu menghitung hari-hari yang ia lewati tanpa kekasihnya? Hati Chanyeol entah kenapa merasa aneh, ia letakkan ponsel di meja samping ranjang, tidur di sisi kekasihnya nampaknya tak salah di kondisi seperti ini, ia pejamkan mata setelah menghirup dan mengusap kepala blonde Baekhyun dengan sayang, dan lengan kecil yang otomatis melingkar di pinggangnya, menunjukkan bahwa Baekhyun pasti sangat merindukannya.

.

.

Film yang Chanyeol bintangi akan dirilis beberapa bulan setelah proses syuting, begitu kabar terkahir yang managemen dapat, dan Chanyeol turut mendengar pula kabar itu saat ia sedang berbincang dengan manajer saat makan siang.

"Fans pasti akan heboh." manajer hyung berujar, meneguk minuman hangat dari cangkir porselen di tangannya. "Adegan ciumanmu itu." lelaki itu meneruskan begitu Chanyeol menanggapinya hanya dengan menaikkan alis.

"Ah…. Iya."

"Berapa kali kau melakukannya? Aku melihatnya cuma sekali."

"Cuma sekali. Itu juga tak lama." Chanyeol menjawab singkat, meneruskan meminum caramel macchiato nya. "Aku bahkan tak begitu ingat karena begitu cepat."

"Tapi tetap saja, mau seperti apapun itu tetap ciuman." manajer terdengar terkekeh. "Kalau sudah selesai jangan lupa telepon, besok kau harus berangkat pagi."

"Iya hyung…"

.

.

Baekhyun masih berdiri di tengah kerumunan, salah satu brand mendaulatnya sebagai ambassador dan dia ada jadwal untuk fan meeting hari ini. Antrian sudah mereda meskipun banyak fans yang masih berkerumun di luar gedung, Chanyeol bisa melihatnya saat ia melewati jalanan depan, maka dari itu ia memilih jalan belakang, memarkir mobilnya di tempat khusus sederet dengan mobil manajer yang ia kenali. Ia menunggu di dalam mobil, mengetik pesan singkat dan sesaat kemudian ia bisa melihat Baekhyun berlari kecil menuju mobilnya.

"Kau menjemputku?" Baekhyun langsung bertanya sebelum menutup pintu mobil dengan segera, nafasnya masih agak tersengal, Chanyeol menyodorkan sebotol minuman yang sedari tadi ia siapkan.

"Yap."

Baekhyun masih sibuk menenggak air mineral yang Chanyeol baru berikan, ia mengusap bibir basahnya dengan punggung tangan sebelum menoleh ke arah Chanyeol kembali. "Kan sudah ada manjer yang mengantar, kau tak perlu repot-repot datang…"

"Aku sedang tidak repot, aku sedang tidak ada jadwal dan aku punya banyak waktu untuk menjemput kekasihku. Tak apa kan?"

Baekhyun tersenyum pada akhirnya. "Fine…"

"Setelah ini ada jadwal?" Chanyeol bertanya sambil memutar kunci dan menyalakan mesin.

"Tidak."

"Kalau begitu kau harus pergi denganku."

"Kemana?"

Chanyeol tidak memberikan jawaban, hanya tersenyum sebelum ia menginjak gas dan memutar mobil seenaknya dia sendiri.

.

Tempat yang Chanyeol tuju adalah apartemennya sendiri, dan Baekhyun berpikir seharusnya Chanyeol tak perlu sok menyembunyikan ini, menurutnya ini tak terlalu istimewa, juga bukan sesuatu semacam kejutan yang jujur saja Baekhyun sempat membuat ekspektasi selama di perjalanan tadi. Mereka berjalan beriringan memasuki pintu, kemudian sesaat setelahnya ia merasakan tubuhnya didekap dari belakang, Chanyeol bertingkah aneh, gerak-geriknya, Baekhyun sempat takut kalau-kalau dia akan diperkosa.

"Chan?"

"Ssst… Diamlah."

Baekhyun akhirnya diam, okelah, ini sudah beberapa hari sejak Chanyeol terlalu sibuk dengan jadwalnya, Baekhyun yang juga sibuk dengan jadwalnya sendiri, terakhir mereka bercinta hampir seminggu yang lalu, sebelum Chanyeol berangkat ke China, mereka melakukannya dengan terburu seperti biasanya, Chanyeol yang harus berangkat pukul tujuh pagi dan Baekhyun harus menuruti keinginan si giant yang menyeretnya ke dalam mobil. Mobil milik Chanyeol, yang sengaja dipakai sendiri untuk menuju bandara, meskipun sebenarnya alasan utama karena mereka tak lagi ingin melakukan di dorm karena Suho pasti akan menggebrak pintu dengan alasan Chanyeol akan ketinggalan pesawat. Mereka berangkat lebih awal, si tinggi mencari tempat sepi tak jauh dari bandara untuk menepi, memuaskan nafsu dengan kekasihnya yang saat itu kebetulan tak ada jadwal sepagi dirinya.

"Baek…"

"Hm?" Baekhyun menoleh, dan ia tak kaget ketika bibirnya bertemu dengan bibir tebal yang ternyata telah menunggunya, mereka menutup mata, kecupan Chanyeol kian mendalam dan Baekhyun mengerang di tenggorokan. "Ada apa?" Baekhyun hendak bertanya, namun pergerakan Chanyeol cepat dan sungguh akurat, tubuh Baekhyun diputar, mereka berhadapan dan lagi Chanyeol memaksa mundur lelaki mungil di hadapannya, hingga kakinya menyentuh sofa, Chanyeol menuntun Baekhyun agar terduduk, lalu dengan sedikit pergerakan badan Baekhyun sudah menyandar di sandaran sofa hitam di ruang tamu apartemen Chanyeol.

"Aku ingin memberitahu sesuatu…" nafas hangat Chanyeol menyapu dagu Baekhyun, membuat Baekhyun sedikit kesusahan bernafas, bukan karena Chanyeol yang menahan tubuhnya, lebih kepada bagaimana Chanyeol memandangnya tajam membuat Baekhyun mencicit seperti tikus tak berdaya.

"Um?"

"Kau percaya padaku kan?"

Baekhyun tak menyangka topik pembicaraannya akan seserius ini, Baekhyun tebak sebelumnya Chanyeol akan menggombal dan akan mengajaknya bercinta, namun ternyata dia salah. "Iya, tentu saja… Ada apa?"

Chanyeol menarik nafas berat sebelum meneruskan, ia kecup sekali lagi bibir Baekhyun, membuat yang kecil menutup mata dan menikmatinya. "Baek…"

"Hm?"

"Kau tahu film yang kubintangi ber-genre romance?"

Baekhyun mengangguk.

"Jadi… Kau tahu film romance ceritanya akan seperti itu kan? Disitu aku berperan menjadi artis…. Lalu seseorang antifans psiko begitu membenciku… Tapi pada akhirnya mereka saling menyukai…"

"Aku tahu…" Baekhyun memotong, membuat Chanyeol menghentikan kalimatnya. "Itu hanya akting… Itu kan pekerjaanmu…"

"Dan ada adegan…. Aku dan lawan mainku…"

"Berpelukan? Skinship?"

Chanyeol hendak membuka mulut.

"Ciuman?" Baekhyun mendahului.

Chanyeol terdiam sesaat. "Yah…"

Di luar dugaan Baekhyun tersenyum. "Sudahlah… Memang begitu kan skenarionya, dan kau memang harus melakukannya secara profesional…"

Chanyeol mengangguk perlahan, lega rasanya mendengar apa yang Baekhyun katakan, ia harap Baekhyun benar-benar tulus mengatakannya, ia majukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, Baekhyun menarik bibirnya membentuk senyum lebar, dan Chanyeol dengan gemas mengecup bibir itu hingga yang kecil menahan dadanya.

"Enak saja tante itu meminta jatahku." celotehnya, dengan nada suara manja dan cempreng yang khas Baekhyun sekali. "Memang dia secantik apa huh? Beraninya mencium-cium kekasih tampanku."

Si giant terkekeh. "Ini baru Baekhyun yang kukenal…" ujarnya, lalu dengan cepat kembali menyerang bibir tipis yang belum selesai mengomel. "Lalu bagaimana? Dia sudah terlanjur menciumku?"

"Oke, dia bisa mencium bibirmu, tapi aku bahkan bisa menghisap juniormu."

Tawa Chanyeol terdengar seperti ia sedang tersedak, sungguh Baekhyun jujur sekali, ia mengecup leher kekasihnya itu kemudian. "Kau mau balas dendam?"

Baekhyun mengangguk cepat. "Awas ya kalau kau berani bermain di belakangku."

Chanyeol terkekeh lagi. "Setidaknya aku pilih-pilih kalau mau selingkuh, mana mungkin aku selingkuh dengan tante yang bahkan tak lebih cantik darimu."

Baekhyun menyeringai, tawanya terdengar puas saat Chanyeol menarik tubuhnya dan mulai menghujaninya dengan ciuman, Baekhyun mengikuti gerak kekasihnya itu, mengimbangi dan justru memaksa mengambil alih, malam ini Baekhyun ingin menggoda Chanyeol sepuasnya, sampai kekasihnya itu sadar bahwa apa yang dikatakannya adalah benar, tak ada seseorang lain yang bisa memuaskan dan pantas untuknya, selain Baekhyun.

.

.

.

Tanggal dimana film Chanyeol resmi dirilis sebenarnya sudah Baekhyun coba untuk lupakan, namun ketika pagi hari ia membuka akun media sosial dan tak sengaja memilih option pencarian tentu saja tag untuknya berjumlah ribuan, yang sebagian besarnya adalah potongan-potongan adegan Chanyeol dengan lawan main wanitanya. Awalnya Baekhyun berniat untuk tak menggubrisnya, namun siapa pula yang tak penasaran kalau orang yang dicintainya sedang terlihat melakukan skinship dengan seorang wanita? Baekhyun seperti seorang gadis remaja yang sedang diet namun melihat sapi panggang yang masih hangat dan berbau sedap di hadapan mata, jemarinya beberapa kali mengalami kebimbangan, mendapati dirinya sendiri yang bertingkah aneh Baekhyun melempar ponselnya ke sofa, ia menyerah dengan hatinya yang cukup lemah, ia buka laptop yang sebelumnya ia ingin gunakan hanya untuk mengecek jadwal, ia membuka salah satu link yang tertera, sebenarnya mendownload dengan illegal adalah hal yang memang tak sepatutnya dilakukan, namun kali ini adalah pengecualian, tanpa Baekhyun sadari jarinya memilih option mengunduh, ia merutuki kebodohannya sesaat setelah layar menunjukkan bahwa unduhannya telah selesai, dan Baekhyun lagi-lagi mendengus kesal saat ia tak menghapus file itu justru menamainya dan menyimpannya di dalam satu folder.

.

"Baek, aku pulang…." suara bass Chanyeol memenuhi kamar, ia berjalan semangat tentu saja karena hari ini ia baru pulang dari China untuk promo, dua hari yang serasa seperti dua tahun, Chanyeol menaruh tas ranselnya di ranjangnya yang kosong, kemudian dengan senyum lebarnya menghampiri lelaki mungil yang tengah duduk bersila di atas ranjangnya sendiri. "Sibuk yah?"

"Tidak…" Baekhyun menjawab singkat, wajahnya menunjukkan senyum, namun Chanyeol tahu itu tak tulus seperti biasanya, ia memilih tidak membahasnya terlebih dahulu, setelah dua hari mendapat protes dan emote menangis yang memenuhi akun media sosialnya nampaknya Chanyeol cukup mengerti, ia mengangguk pelan, lalu memilih berjalan menuju wardrobe untuk mengambil baju ganti, badannya cukup letih, maka dari itu ia ingin mandi dan beristirahat.

Posisi Baekhyun masih sama begitu Chanyeol meloloskan badannya dari pintu kamar mandi, masih duduk bersila, meskipun kini terlihat lelaki mungilnya menyandarkan punggung di headboard. Laptop masih berada tak jauh di hadapannya, Chanyeol berjalan menuju ranjang yang ditempati Baekhyun, merangkak ke sampingnya.

"Baek, serius sekali?"

Baekhyun menoleh cepat, ia mengambil nafas panjang, dan Chanyeol merasakan bagaimana Baekhyun meremas otot lengannya dengan agak kuat. "Aku dengar kau sangat keren saat bermain film, aku dengar sutradara banyak memujimu, film-mu sukses, penonton banyak yang mengantri dan rekor penjualan tiket benar-benar luar biasa, aku tidak sabar menontonnya, aku akan membeli tiket nanti kalau filmnya sudah rilis disini tapi aku sudah sangat tidak sabar, maka dari itu aku mendownload secara illegal, aku ingin menontonnya sekarang." kalimat Baekhyun sangat panjang dan terburu, Chanyeol masih tengah mencerna kalimat panjang lebar itu namun yang lebih kecil kini sudah menarik badannya sehingga mereka kini sudah menghadap laptop yang Baekhyun letakkan di tengah ranjang. "Temani aku menonton?"

Itu bukanlah kata tanya, Chanyeol tahu itu, ia tahu dari bagaimana Baekhyun menekankan tiap nada bicaranya, bagaimana Baekhyun menahan nafas dan bagaimana Baekhyun memandangnya dengan wajah khas Baekhyun yang sedikit cemberut dan sorot mata yang nampak kesal.

Baekhyun sedang cemburu.

"Oke… Kutemani nonton…" Chanyeol memilih opsi satu-satunya, ia menyandarkan bahu meniru apa yang Baekhyun lakukan, kemudian film mulai berputar, masih dengan adegan Chanyeol yang difoto sana-sini, hiruk pikuk dan flash kamera dimana-mana, tak heran karena Chanyeol berperan sebagai seorang artis disana.

Film sudah berputar hampir setengah, dan Baekhyun tak mengeluarkan sepatah katapun, posenya masih sama, Chanyeol sesekali mencuri pandang dan Baekhyun kelihatan seperti mayat hidup yang hanya berfokus pada film yang ada di hadapannya, adegan demi adegan seperti layaknya selingan saja, Chanyeol bernafas berat, seandainya dia yang dalam posisi Baekhyun mendapati Baekhyun beradegan seperti itu dengan lawan mainnya pasti Chanyeol juga akan menjadi temperamen, mungkin akan membanting laptop kasar atau menendang-nendang kaki ranjang yang tak bersalah, apa yang Baekhyun lakukan sangatlah wajar.

Lima menit sebelum sampai di penghujung film, Chanyeol melirik Baekhyun yang masih menunjukkan ekspresi sama, dan Chanyeol tahu benar dimana bagian yang membuat ribuan fansnya meninggalkan emote menangis di akun media sosialnya, sebentar lagi adegan ciumannya dengan si lawan main wanita, sebentar lagi karena layar laptop memperlihatkan ia dan aktris China sedang berada di dalam pesawat dan berbincang, Chanyeol menunggu, setidaknya protes atau apapun keluar dari mulut Baekhyun, namun kekasihnya itu masih diam seribu bahasa, Chanyeol menarik nafas dalam, dan saat adegan mulai menunjukkan bagaimana ia bertukar pandang dengan si aktris wanita dan badan keduanya mulai bergerak maju, Chanyeol tak lagi bisa menahan, ia rengkuh badan Baekhyun kilat, pundak kecil Baekhyun ia remas, bibirnya langsung membungkam bibir tipis Baekhyun yang tertutup, nampaknya agak terkejut dengan pergerakan mendadak Chanyeol, kini bibir mereka bertaut, Baekhyun kiranya hendak bergerak ingin menghindar, namun Chanyeol menahannya, ia membungkus pipi Baekhyun dengan dua telapak tangan, menguncinya dan terus mendorong memaksa lidahnya masuk, membuat Baekhyun hanya bisa mengerang pasrah, ia diam, lantunan nada romantis terdengar, dan nampaknya film telah usai, Chanyeol masih dengan kegiatannya, ia usap lembut pipi yang kini terasa basah, Baekhyun menangis? Chanyeol menebak demikian, ia sudahi ciuman yang ia lakukan, menarik tubuh Baekhyun ke dalam sebuah pelukan, ia usap rambut lembut yang kini menyandar di bahunya.

"Kenapa menonton yang palsu kalau kau punya yang asli disini…" Chanyeol berujar kalem, ia tahu perasaan Baekhyun mungkin sedang tak enak kali ini, ia terus mengusap belakang kepala Baekhyun, tangan satunya mengelus punggungnya. "Itu hanya tuntutan skenario, dan itu terjadi tak lebih dari lima detik, tak lama…"

Chanyeol terus mencoba menjelaskan, mungkin bermaksud agar Baekhyun merasa lebih baik, dan Baekhyun dalam hatinya merasakan hal yang bercampur aduk, kecemburuannya adalah tanda bagaimana dia sangat mencintai Chanyeol namun dalam waktu yang sama ia juga baru merasa bagaimana hatinya sendiri sangat lemah jika ada sesuatu hal bersangkutan dengan lelaki yang dicintainya ini, seharusnya ia bisa lebih kuat, seharusnya ia bisa menjadi lebih dewasa dan tidak mempermasalahkan hal sekecil ini sampai-sampai Chanyeol terbebani dan menjadi khawatir olehnya, seharusnya Baekhyun bisa melakukan hal itu, namun… Lagi-lagi Baekhyun menyumpahi dirinya sendiri, yah kali ini ia belajar sesuatu hal lagi, bahwa ia harus belajar untuk lebih menguatkan hatinya, Chanyeol tak sepenuhnya miliknya, di saat kamera menyala, lelaki jangkung ini akan menjadi milik sutradara, milik ribuan fans di luar sana, milik SM, bukan miliknya seorang.

.

.

Fenomena heboh dengan adegan ciuman untunglah mulai surut seiring dengan berjalannya waktu, Chanyeol yang seakan seperti seorang terdakwa mulai bisa tersenyum lega, terlebih saat kekasihnya sudah mulai kembali normal seperti biasanya, yah meskipun sebenarnya Baekhyun sudah tak membahas lagi semenjak terakhir mereka menonton film hasil download Baekhyun yang masih illegal itu. Kini mereka sedang menjalani rutinitas seperti biasa, mengisi acara off air, pemotretan, dan lain sebagainya, Chanyeol dan Baekhyun lagi-lagi mengganti warna rambut, dan mereka pada suatu hari yang cukup sibuk merasa senang setelah mendengar kabar dari manager hyung bahwa mereka akan berpartisipasi dalam suatu acara yang melibatkan balita lucu-lucu.

Konsep acaranya sebenarnya cukup simpel, hanya berkunjung ke rumah dua anak yang cukup terkenal saat ini, Seojun dan Seoeon, dan bermain bersama mereka. Chanyeol tak heran jika sang produser bekerja keras untuk mengatur jadwal agar ia bisa datang ke acara ini, mungkin karena tempo hari ia memposting di akun media sosal kalau ingin bertemu seojun, juga mungkin agar rating akan terus naik, namun satu hal yang cukup ia tak mengerti kenapa ia dipasangkan dengan Baekhyun untuk datang, meskipun Chanyeol tak merasa berberat hati, namun selama di perjalanan di dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang nampaknya sedikit mengganjal.

Selama syuting berlangsung semuanya berjalan sangat kasual dan natural, tidak seperti syuting saja, hanya bermain-main dengan si kembar dan menghabiskan waktu dengan cukup santai, rasa lelah seakan hilang, hanya tawa riang dan suasana nyaman, bisa dibilang ini ada healing time untuk Chanyeol, ia bisa melihat Baekhyun juga menikmati saat-saat syuting ini, ia cukup senang kali ini.

"Mereka lucu, wah…." Chanyeol berujar saat mereka sudah kembali ke mobil untuk menuju ke lokasi syuting selanjutnya, empat jam yang terasa sangat cepat, namun meskipun begitu Chanyeol cukup senang, ia mendudukkan badan di samping Baekhyun, yang ia dapati sedang duduk di sisi dekat jendela, memandang keluar, baru menoleh begitu Chanyeol membuka suara. "Baek?"

"Ah, iya…" Baekhyun menjawab, membalas kalimat Chanyeol dengan senyum, kemudian mendengarkan begitu Chanyeol berceloteh panjang lebar, tentang Seojun yang sungguh pintar saat mereka berjalan ke supermarket berdua, lalu ibu kasir yang meminta tanda tangan kepada Seojun lalu Seojun hanya memberi coretan padanya, Chanyeol bercerita dengan semangat sepanjang perjalanan, diselingi dengan gelak tawa.

"Kau jago memasak, pandai mengurus soal rumah tangga dan suka anak-anak, sudah cocok sekali menjadi ayah." ujar Baekhyun tanpa menaikkan nada bicaranya. Chanyeol menanggapi itu hanya dengan tepukan di bahu yang kecil, membalas dengan candaan begitu manajer juga turut mendukung apa yang Baekhyun katakan dengan mengatakan mungkin Chanyeol bisa belajar mengganti popok bayi sekarang, manajer hyung tertawa kerasa beradu dengan kata-kata protes Chanyeol sesaat kemudian, dan pada saat yang bersamaan Baekhyun hanya memutar kepala, memandang keluar jendela dengan menopang dagu, pemandangan Chanyeol dengan anak-anak tergambar kembali di kepalanya, sungguh indah, namun membuat Baekhyun memikirkan sesuatu, sesuatu yang tak sempat terpikirkan olehnya sebelumnya, yakni tentang masa depan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Very fast update I think my backbone is brokeeeen because of typing till morning TT

Anyway tinggal mungkin dua chaps niiiih TT huhuuuu

Author janji ini bukan sad ending koooo, Author juga ga suka cerita macem sad ending heheeee

Please keep reading yaaaah

Author have nothing to say, punggung masih sakit kkkkk

Oh yah, buat Chanbaek Numero Uno, yah selamat hari raya idul Adha jugaaakk

wkwkwkwk