Title : It's Okay My Love

Pairing : Meanie (Mingyu x Wonwoo of SEVENTEEN)

Genre : Angst, Romance, Drama

Length : chapter 5 of 6

Rating : PG-13

Note :

Dan inilah akhirnya, chapter 5 nongol. Happy reading...

.

.

Don't like don't read. No bashing please! No harsh comment whatsoever!

.

.

© Davidrd copyrights ©

Back to present

Pria di pelukanku ini masih menangis sambil sesekali menatap ruang gawat darurat yang belum juga terbuka. Aku berusaha menenangkannya dengan mengusap pelan lengannya dan membisikkan kata-kata penenang walaupun sebenarnya kata-kata itu kutujukan pada diriku sendiri. Walaupun aku baru mengenal Minwoo beberapa hari yang lalu, aku sudah sangat menyayangi anak itu. Apalagi setelah aku tahu bahwa dia adalah anak kandungku, aku makin menyayanginya. Aku tidak tega melihat kondisinya yang lemah seperti itu.

Kutatap Wonwoo yang masih menyandarkan punggungnya pada dadaku sembari menyandarkan kepalanya di ceruk leherku. Tangan kami bertautan dan sesekali aku memberikan usapan kecil pada punggung tangannya untuk memberikan efek rileksasi padanya. Sepertinya hal itu agak berhasil karena sekarang dia sudah berhenti menangis.

Soonyoung dan Jihoon yang kebetulan ada di samping kami hanya bisa melemparkan tatapan iba. Aku tahu mereka pasti sangat marah padaku karena aku telah lancang memeluk Wonwoo seperti ini, tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian dalam keadaan kacau. Bagaimanapun Wonwoo masih istriku karena aku tidak pernah menceraikannya, bahkan aku tidak akan pernah menceraikannya.

Istriku yang sudah empat tahun hilang kini telah kembali, tetapi perawakannya sangat berbeda dengan yang terakhir kali kuingat. Tubuhnya terlihat semakin kurus, pipinya yang dulu agak gembil kini berubah tirus, matanya yang biasanya memancarkan cinta dan kebahagiaan kini tampak suram dan lelah, kantong matanya tercetak jelas menggelayut di wajah tampannya, bahkan kulihat tulang selangkanya menyembul dari balik sweater yang dikenakannya. Wonwoo pasti sangat menderita selama ini, apalagi dia harus menghadapi kenyataan bahwa anak satu-satunya, buah cintanya denganku mengidap penyakit yang berbahaya.

"Woo, gwaenchana. Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan bagi kesembuhan Minwoo," kukecup puncak kepala Wonwoo yang diikuti anggukan pelan olehnya.

Tiba-tiba Jihoon yang tadinya sibuk berbicara dengan Soonyoung menatapku sesaat sebelum akhirnya dia seperti menginstruksikan sesuatu kepada kekasihnya itu. Sang pengacara terlihat mengangguk dan mereka berdua bangkit dari posisi duduknya. Jihoon duduk di samping Wonwoo dan Soonyoung yang berada di sampingku berbisik,"Mingyu-ya, mari bicara sebentar!" Aku menyetujui usulnya karena cepat atau lambat aku harus menyelesaikan semua masalah ini jika aku ingin hidup bahagia bersama Wonwoo dan Minwoo.

Setelah kami menemukan tempat yang lumayan jauh dari jangkauan Wonwoo dan Jihoon, tepatnya di tangga darurat karena tempat ini merupakan satu-satunya tempat yang hening, bebas gangguan, dan kebisingan, Soonyoung mendesah pelan.

"Apa yang ingin kau katakan Soonyoung-ssi?"

"Tak perlu terlalu formal denganku, Mingyu-ya. Kau dulu kan adik kelasku di SMA," kami memang tidak terlalu akrab, aku hanya tahu kalau dia kebetulan adalah kakak kelasku saat SMA yang populer karena ketampanannya dan skill dance nya.

"Ah, kau masih mengingatku rupanya. Kau kan satu tahun di atasku Hyung , jadi kukira kau tak mengingatku," aku menggaruk tengkuk karena malu menyadari kebodohanku.

"Tentu aku tahu siapa kau. Kim Mingyu, pangeran lapangan yang selalu dipuja banyak murid perempuan, tetapi tidak pernah sekalipun melirik mereka yang mendekatinya. Kau terkenal sangat dingin, tetapi sepertinya hal itu salah."

"Apanya yang salah?"

"Tentang anggapan orang padamu. Aku kira kau tak sedingin yang orang lain katakan."

"Ah, ya, aku tidak pernah peduli dengan anggapan mereka. Aku hanya mempedulikan apa yang orang-orang terdekatku pikirkan. Itu saja. Oh, ya, kenapa kau ingin mengajakku bicara?"

Soonyoung tersadar dari nostalgianya,"Mingyu-ya, tahukah kau apa penyakit Minwoo?"

"Penyakitnya?" alisku berjengit, bagaimana bisa aku tahu hal itu,"Jujur saja aku baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Aku tidak tahu apa penyakitnya, yang aku tahu hanya penyakitnya berat karena ia berada di bangsal anak yang menetap di rumah sakit dalam waktu cukup lama."

"Baiklah alasanmu masuk akal. Kuberitahukan padamu kalau Minwoo, ani, anakmu menderita atresia bilier. Hatinya tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan satu-satunya cara mengobatinya adalah dengan melakukan pencangkokan atau transplantasi hati."

Aku menatapnya tidak percaya. Transplantasi? Itu artinya jika Minwoo tidak segera mendapat donor, dia bisa mening... ah, tidak. Aku tidak boleh berpikiran negatif.

"Adakah yang bisa kulakukan untuknya, Hyung? Aku ingin menebus semua kesalahanku pada Wonwoo," dia tersenyum dan mengangguk.

.

.

Pintu ruang operasi terbuka menampilkan empat orang berpakaian serba hijau keluar sambil mendorong sebuah tempat tidur pasien yang diatasnya terbaring sesosok lemah anak kecil dengan berbagai macam selang dan peralatan medis menempel di tubuhnya. Kedua pria yang sedari tadi harap-harap cemas menunggu ruangan terbuka langsung berdiri dan berusaha mendekat kepada rombongan tersebut, tetapi hal itu dihentikan oleh seorang dokter yang keluar paling akhir.

Dokter Kim memegang lengan Wonwoo pelan memberikan gelengan kepala sebagai isyarat baginya untuk tidak mengikuti rombongan yang membawa Minwoo menuju ruang ICU. Ingin rasanya Dokter Kim memberikan kabar bahagia pada setiap keluarga pasien yang ditemuinya setelah keluar dari ruang operasi, tapi rasanya hal seperti itu mustahil terjadi setiap waktu. Nalurinya sebagai seorang dokter membuatnya ingin menyelamatkan nyawa banyak orang, tapi takdirnya sebagai manusia hanya memberinya kesempatan untuk berusaha, sedangkan penentuannya ada di tangan Tuhan.

"Dok, bagaimana keadaan Minwoo? Dia baik-baik saja kan? Minwoo akan terus bertahan kan, Dok?" Wonwoo menggenggam tangan sang dokter membuat pria berpakaian hijau itu balik menggenggam tangannya. Jihoon yang berdiri di samping sahabatnya itu mencoba memberikan dukungan moral dengan meletakkan kedua tangannya di pundak Wonwoo.

Setelah menghela napas pelan, sang dokter bersuara,"Wonwoo-ssi, kondisi Minwoo sudah sangat mengkhawatirkan. Saya takut kalau Minwoo tidak segera menemukan seorang donor, akan terjadi hal yang buruk padanya." Tangan Wonwoo di genggamannya bergetar hebat, "Maaf sebelumnya, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Sekarang sebaiknya kita berdoa semoga ada seseorang yang bersedia menjadi pendonor bagi Minwoo."

Wonwoo hampir saja ambruk mendengar ucapan sang dokter. Dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau malaikat kecilnya akan berakhir seperti ini. Mungkin Tuhan sedang menghukumnya karena dosanya yang telah lalu, tapi kenapa harus Minwoo? Kenapa tidak dia saja yang menderita?

"Saya bersedia menjadi donor untuk Minwoo, Dok," Wonwoo menengok ke asal suara dan mendapati Mingyu yang melemparkan pandangan mantap ke arah pria yang berstatus sebagai istrinya itu.

Dokter Kim yang bingung karena seorang atlet sepakbola terkenal barusaja mengajukan diri sebagai donor dari anak kecil yang mengidap atresia bilier,"Ehm, maaf, tapi ada hubungan apa Anda dengan Minwoo, Kim Mingyu-ssi?"

"Saya ayah kandung Kim Minwoo, Dok," Soonyoung yang berada di belakang mantan adik kelasnya itu tersenyum mendengar jawaban tanpa keraguan itu, begitu juga Jihoon yang langsung meraih Wonwoo dalam pelukannya.

"Benarkah?"

"Ne. Kalau Anda tidak percaya, bisa Anda tanyakan pada istri saya, Jeon Wonwoo," ujar Mingyu sembari berjalan menuju pria yang masih sangat dicintainya itu.

"Wonwoo-ssi, apakah yang diucapkan Mingyu-ssi itu benar?"

Wonwoo mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan mengiyakan ucapan sang suami. Hal itu membuat Dokter Kim tersenyum cerah,"Baiklah, kalau Anda memang bersedia menjadi pendonor, sebaiknya sekarang kita melakukan pemeriksaan untuk melihat kecocokan hati Anda dengan Minwoo."

Setelah melalui serangkain pemeriksaan, akhirnya Dokter Kim keluar dari laboratorium dengan kertas hasil yang menentukan nasib Minwoo selanjutnya. Saat Dokter Kim memasuki ruangan kerjanya, sebuah senyum bahagia terpancar di wajahnya. Keempat pria yang melihatnya langsung menghela napas lega. Walaupun belum ada pernyataan langsung dari sang dokter, tapi mereka tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Operasi bisa kita lakukan enam jam lagi. Mingyu-ssi, sekarang sebaiknya Anda berganti dengan pakaian operasi."

.

.

Jihoon dan Soonyoung meninggalkan pasangan suami istri itu untuk membagikan kabar operasi Minwoo yang akan dilangsungkan enam jam lagi kepada teman yang sudah dianggap keluarga oleh Wonwoo, seperti Seungcheol, Jeonghan, Seokmin, dan Jisoo. Kini suasana di ruangan VIP tempat Mingyu dirawat dipenuhi kecanggungan. Karena tidak tahan dengan keheningan ruangan, sang atlet memberikan tanda supaya Wonwoo mendekat ke tempat tidurnya karena sedari tadi istrinya itu hanya duduk manis di sofa yang agak jauh dari tempatnya berada. Setelah agak dekat, Mingyu menepuk kasur di sampingnya meminta Wonwoo untuk duduk di sampingnya.

"Woo, maafkan aku."

Wonwoo yang dari tadi menunduk karena malu menatap suaminya itu kini mendongak dan menatap lekat wajah pria di hadapannya. Sejujurnya, ia sangat merindukan suaminya. Walau bagaimanapun suaminya tidak pernah menyakitinya dan hal itu membuat Wonwoo merasa bodoh karena telah mengatakan pada Minwoo kalau Mingyu itu orang jahat. Dia tidak jahat sama sekali. Mana ada orang jahat yang mau mendonorkan hatinya pada anak kandungnya yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari?

"Gyu, jangan meminta maaf. Kau tidak bersalah apapun," dengan malu-malu Wonwoo meraih tangan Mingyu yang semula berada di pangkuan suaminya dan membawanya ke pangkuannya sendiri.

"Tidak bisa Woo. Aku melakukan banyak kesalahan padamu. Padahal aku sudah berjanji pada harabeoji untuk selalu menjagamu, tapi apa yang aku lakukan? Aku bahkan tidak tahu kalau ibuku bersikap sangat jahat padamu. Aku bahkan sempat meragukan cintamu saat kau pergi dari rumah. Suami macam apa aku ini?" Mingyu hampir saja melepaskan tangannya dari genggaman Wonwoo, tapi istrinya itu justru mengeratkan genggamannya.

"Gyu, yang berlaku jahat itu ibumu, bukan kau. Jadi, kau tidak perlu meminta maaf untuk hal yang tidak kau lakukan," Mingyu menatap Wonwoo tidak percaya. Ia kembali teringat akan kepolosan dan kebaikan Wonwoo tatkala mereka baru pertama kali bertemu. Bagaimana Wonwoo rela menolak perjodohan yang sudah diatur kakeknya demi kebahagiaan Mingyu. Bagaimana Wonwoo tidak pernah tertarik dengan status keluarganya yang banyak dikagumi orang.

"Tapi Woo-."

"Gyu, aku yang harusnya meminta maaf padamu."

"Mwo?"

"Aku telah mengatakan pada Minwoo kalau kau adalah orang jahat dan aku sempat melarangnya untuk menemuimu. Aku telah melakukan kesalahan besar. Bagaimana bisa aku mengatakan hal buruk seperti itu tentangmu, padahal kau ayah kandungnya, Gyu. Kau berhak tahu tentang keberadaan Minwoo," air mata yang sudah tidak terbendung mengalir indah di pipi Jeon Wonwoo. Melihat hal itu Mingyu mengulurkan tangannya dan menghapus jejak airmata di pipi istrinya menggunakan ibu jarinya.

"Ssst, jangan menangis lagi!" Mingyu menangkup pipi tirus istrinya dan mendekatkan wajah keduanya,"Yang penting sekarang aku sudah tahu kalau aku masih memiliki cinta istriku dan seorang buah hati baik hati yang akan selalu kusayangi seumur hidupku."

"Tapi keadaan Minwoo-."

"Tenanglah, aku akan menolongnya. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan sekarang untuk menebus dosaku yang telah menelantarkan kalian," ujar Mingyu sembari menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya.

"Ingatlah selalu Jeon Wonwoo! Aku mencintaimu. Sangat," sebuah kecupan mendarat di kening, kedua kelopak mata Wonwoo yang tertutup, kemudian turun ke hidung, dan berakhir di bibir.

Wonwoo kembali menangis mendengar pernyataan cinta suaminya. Dengan terbata dia berkata,"Aku ju..ga.. men..cintaimu, Gyu."

.

.

Enam jam bukan waktu yang singkat, tetapi juga bukan waktu yang terlalu lama. Wonwoo menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan semua yang terjadi padanya mengenai semua perlakuan Mrs. Kim atas desakan sang suami. Ia tidak bisa berbohong dan menutupi kejelekan ibu mertuanya lagi. Bukan karena ia bermaksud menjelek-jelekkan sang mertua, tetapi menurutnya Mingyu pantas mengetahui kebenaran sebuah cerita dari dua sudut pandang yang berbeda.

Beberapa jam sebelum operasi, ruang rawat Mingyu dikunjungi banyak tamu. Jihoon, Soonyoung, seorang pria berwajah manis yang mengenalkan dirinya sebagai Jisoo dan dua orang pria yang sudah dikenalnya dengan sangat baik sejak SMA.

"Wow, aku tidak mengira kalau kau adalah suami Wonwoo, Mingyu-ya," Seungcheol yang melihat hoobae-nya langsung terperangah, begitupun sebaliknya. Mingyu tidak tahu menahu kalau sunbaenya itu kenal dekat dengan istrinya.

"Aku juga tidak tahu kalau kenal dengan istriku, Hyung," keduanya bersalaman. Namun, Mingyu dapat melihat sorot mata tajam milik Yoon Jeonghan yang masih menyiratkan sedikit rasa tidak suka padanya.

"Jeonghan hyung, lama tidak berjumpa," dengan ragu Mingyu menyapa sang model yang berdiri di samping kekasihnya sembari berniat mengajak berjabat tangan, namun tidak ada sambutan.

Wonwoo yang menyadari keadaan canggung ini langsung berjalan ke arah sang model dan memegang tangan Jeonghan yang mengepal sempurna seolah siap dihantamkan ke arah suaminya. Dia tahu Jeonghan berusaha menahan amarahnya. Karena kalau tidak, pasti suaminya sudah memiliki bekas kebiruan hasil tinju seorang Yoon Jeonghan.

"Hyung, jangan marah pada Mingyu. Dia tidak salah apa-apa," rajuk Wonwoo. Mendengar perkataan itu, Mingyu menyadari kenapa Jeonghan bersikap dingin padanya. Jeonghan pasti membencinya.

"Hyung, mianhae. Sepertinya kau tidak menyukai kenyataan kalau aku adalah suami Wonwoo."

Yoon Jeonghan menajamkan tatapannya ke arah sang atlet sepakbola dan meledak seketika,"Bagaimana bisa aku menerima kenyataan ini Mingyu-ya? Kau telah menyakiti dan menelantarkan Wonwoo selama ini. Membuatnya harus berusaha bertahan menghadapi setiap cobaan yang Tuhan timpakan padanya. Dan kenyataan kalau aku mengenalmu membuatku merasa malu."

"Hyung," Wonwoo mengusap lengan atas Jeonghan yang baru saja berteriak membuat semua orang di ruangan itu kaget, termasuk sang kekasih yang dengan cekatan turut membantu Wonwoo menenangkan sang model.

"Wonwoo-ya, bagaimana bisa kau memaafkan orang seperti dia?" tunjuk Jeonghan.

Pertanyaan itu sontak membuat Wonwoo melepaskan tangannya dari lengan Jeonghan. Sambil menunduk ibu Kim Minwoo itu berkata,"Mingyu tidak pernah menyakitiku. Dan aku masih sangat mencintainya."

Mingyu tersenyum mendengar perkataan sang istri. Betapa bahagianya dia menyadari Wonwoo telah menerimanya kembali dan mengakuinya di depan orang-orang yang dianggapnya penting itu. Ia merasa statusnya sebagai suami seorang Jeon Wonwoo telah pulih.

"Wonwoo," dengan tidak percaya Jeonghan menatap pria yang sudah dianggap sebagai adiknya itu berusaha mencari kebohongan pada mata indah Wonwoo, tetapi nihil. Yang ditemukan hanyalah sebuah kepastian dan kejujuran.

"Aku tidak bohong. Seumur hidup, aku hanya mencintai satu orang. Dan orang itu adalah Kim Mingyu."

Jeonghan menengok ke arah kekasihnya, menemukan sebuah senyuman dan anggukan kecil tanda menyetujui ucapan Wonwoo. Senyuman tersebut sekaligus sebagai dorongan agar dirinya menyadari kesalahannya yang telah menuduh Mingyu. Secara tidak langsung tatapan Seungcheol itu diartikan sebagai perintah untuk meminta maaf.

Setelah menatap Wonwoo beberapa saat, Jeonghan mengulurkan tangannya pada Mingyu,"Maafkan aku Mingyu-ya. Tidak seharusnya aku menuduhmu seperti itu." Sebuah senyum bahagia menghiasi wajah sang atlet sepakbola yang terkenal selalu bersikap dingin itu.

"Tak apa hyung. Jika aku menjadi dirimu, aku juga akan sangat membenci diriku yang sekarang ini."

"Dan terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena kau telah bersedia mendonorkan hatimu untuk Minwoo."

"Aku akan melakukan apapun untuk anakku. Tak perlu berterima kasih."

Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian seorang pria dengan rahang tegas dan hidung keterlaluan mancung memasuki ruangan membuat semua orang menatapnya. Dengan senyum kikuk karena mendapatkan perhatian berlebih itu, Lee Seokmin membungkukkan badannya,"Maaf, aku terlambat." Pria itu berjalan ke tengah ruangan dengan tangan yang sibuk menggaruk tengkuknya karena gugup. Matanya membulat sempurna ketika dilihatnya pria yang masih terduduk di kasur pasien.

"Mingyu-ya?" dengan tidak percaya Seokmin berjalan cepat ke arah sang atlet sepakbola dan memeluknya.

"Eoh, Seokmin-ah," Mingyu balas memeluk sepupunya yang sudah lama menghilang.

Seokmin menjelaskan pada semua yang ada di ruang tersebut kalau dirinya adalah sepupu Kim Mingyu. Dia kabur dari rumah karena kedua orang tuanya yang terlalu mengekang dan mengatur hidupnya. Kedua orang tuanya menginginkan anaknya menjadi seorang pengusaha untuk meneruskan usaha ayahnya, tetapi dia ingin menjadi seorang seniman. Karena terlalu tertekan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Jepang dan berusaha mewujudkan cita-citanya.

"Ternyata dunia itu tidak seluas yang kita kira," ucap Wonwoo pada akhirnya.

"Ya, benar," Seokmin tersenyum karena sekarang ia tahu kalau anggota keluarganya telah bertambah.

"Aku bersyukur karena kau baik-baik saja Seok."

"Tentu aku baik-baik saja. Aku kan sudah dewasa," ujar pria tampan yang duduk di tepian kasur rawat bersebelahan dengan sepupunya. "Lagipula aku itu hebat, aku berani menentukan masa depanku sendiri. Tidak sepertimu yang sampai sekarang masih saja menuruti kemauan aneh ibumu," sindiran itu langsung menohok relung hati sang atlet.

Benar kata sepupunya itu. Dari dulu, ia memang selalu menuruti semua perkataan ibunya. Ia masih ingat tatapan tidak suka yang dilemparkan ibunya saat dia meminta Wonwoo menjadi istrinya di hadapan almarhum kakeknya. Ia juga ingat kejadian ketika beberapa hari setelah kematian sang kakek, ibunya memintanya untuk menceraikan Wonwoo. Seingatnya, dia menolak usulan ibunya itu. Setidaknya dia sudah pernah mencoba menentukan kebahagiaannya sendiri, tapi ibunya bertindak sangat jauh.

Rencana jahat ibunya untuk memisahkan dirinya dan Wonwoo sangatlah besar hingga ia tidak menyadari secara tidak langsung ibunya telah membuatnya kembali terkekang. Betapa bodohnya ia selama ini. Dia yang telah menentukan awal dari kisah pernikahannya dan sekarang dia tidak ingin ada orang yang mengganggu, bahkan berusaha menghancurkannya, sekalipun orang itu adalah ibunya.

Ini hidupnya. Keputusannya yang akan menuntunnya pada kebahagiaan. Dan keputusannya jatuh pada Wonwoo dan Minwoo.

.

.

Di ruang tamu keluarga Kim, seorang wanita berusia lima puluhan sedang mendengarkan cerita dari calon menantunya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Perempuan muda berparas cantik dengan rambut tergerai indah itu bersandiwara dengan air mata palsunya sambil sesekali sesenggukan menceritakan perlakuan calon suaminya, atau anak si wanita tua, yang membatalkan pertunangan mereka secara sewenang-wenang.

"Bagaimana bisa Mingyu membatalkan pertunangan kalian?" dengan geram wanita itu berteriak membuat suaminya yang baru pulang dari kantor berjengit kaget.

"Ada apa yeobo?" tanya Mr. Kim yang langsung membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar dan memilih duduk di samping istrinya. Di hadapannya duduk wanita muda bernama Choi Jinhee yang notabene adalah calon istri anaknya masih berakting menangis.

"Abeoji, Mingyu oppa memutuskan pertunangan kami," dengan suara yang dibuat-buat aktris Choi ini berusaha mempengaruhi kedua calon mertuanya agar memaksa anaknya berubah pikiran.

"Apa? Dia membatalkan pertunangan? Apa alasannya?"

"Mingyu oppa bilang dia masih mencintai istrinya," Mr. Kim langsung melepaskan tangan yang sedari tadi mengusap punggung istrinya dan menatap tak percaya pada Jinhee.

"Bagaimana kau tahu itu?"

"Mingyu oppa mengejar seorang pria di rumah sakit yang sedang berlari ke ruang gawat darurat dan meninggalkanku sendirian. Kata orang-orang di rumah sakit pria itu adalah Jeon Wonwoo, ibu seorang pasien di sana," sekarang Jinhee mengelap air matanya dengan sapu tangan bermotif kupu-kupu yang baru dikeluarkannya dari dalam tas tangan berwarna gold di pangkuannya.

"Apa? Wonwoo ada di Korea?" Mrs. Kim bangkit dari posisinya dan melotot sempurna. Bagaimana ini? Bagaimana kalau Wonwoo mengatakan hal yang sebenarnya pada Mingyu. Bisa mati dia. Mingyu akan sangat membencinya. Wanita tua itu menggeleng sekuat tenaga. Tidak bisa, hal ini tidak bisa dibiarkan. Mingyu harus menikah dengan Jinhee. Menikah dengan wanita yang sederajat dengan keluarga mereka dan orang yang jelas-jelas bisa memberinya keturunan.

"Ayo ke rumah sakit sekarang juga Jinhee-ya. Eomma akan memberikan pelajaran pada Mingyu. Dia harus menikahimu secepatnya!"

Mr. Kim menggeleng pelan melihat tingkah istrinya. Dia tidak habis pikir dengan istrinya yang selalu memaksa Mingyu untuk melakukan hal yang anaknya tidak suka. Dia sudah muak melihat semuanya. Sebagai seorang ayah, dia hanya ingin anaknya bahagia. Dan jika kebahagiaan Mingyu ada pada Wonwoo, itu artinya Mr. Kim akan mendukungnya secara penuh. Persetan dengan anggapan istrinya.

Sekarang, yang perlu ia lakukan adalah menyusun rencana untuk menghentikan niat gila istrinya. Dia akan mengikuti permainan istrinya dan menghentikannya di saat yang tepat. Dengan mantap ia mengangguk, baiklah itu yang akan dilakukannya.

TBC