Chapter XXI

"Aku tidak apa-apa…."

"…."

.

.

.

Menengadahkan kepala, Baekhyun harap rasa perih dibalik matanya bisa mereda, ia mengambil selembar tissue, kembali mengusap kening berpeluhnya, Baekhyun harap peningnya akan segera menghilang setelah ia menenggak sebotol air yang ia temukan dari sudut ruangan.

"Kau tak enak badan?" Suho mengampiri pada akhirnya, sudah dari awal latihan si leader mengamati gerak-gerik lead vokal grupnya tersebut, tak biasanya Baekhyun yang banyak tingkah itu akan diam di tengah latihan, setidaknya ia akan membuat atmosfer menaik atau sekedar mengusili dan bercanda dengan kawan-kawan yang lain, namun hari ini, bahkan saat Jongdae melucu-pun ia tak ikut tertawa. "Istirahat saja, nanti kuberitahu manajer hyung." Suho menepuk bahu temannya itu perlahan.

.

Baekhyun sebenarnya membenci ini, dorm yang hening dan dirinya yang sendirian membuat perasaannya terbawa suasana dan pikirannya kian penuh akan sesuatu hal yang mengganggu. Yah, semenjak pulang dari acara mengasuh balita itu Baekhyun jadi sering melamun sendiri, munafik kalau dia bilang tidak.

Semua ini karena Chanyeol tentu saja, benar kalau Chanyeol tak melakukan apa-apa, namun kenyataan pahit harus Baekhyun telan, membuatnya sadar, bagaimana kalau ia bertambah dewasa dan harus menikah? Haruskah ia menikahi Chanyeol? Lalu bagaimana dengan keluarga? Teman? Manajemen? Masyarakat? Baiklah ia bisa saja berpikiran untuk menjadi egois, mau tak mempedulikan apapun asalkan untuk kebahagiaannya sendiri, lalu, kalau sudah menjadi egois, akankah kebahagiaan Chanyeol yang ia lihat kemarin bisa terwujud? Chanyeol yang terlihat sangat bahagia dengan anak-anak yang sangat lucu… bisakah Baekhyun memberikannya?

"Sial…" Baekhyun mengumpat, rasanya dibalik kelopak matanya terasa panas, perih sekali.

"Baek?"

Yang dipikirkan datang, dengan hoodie hitam dan celana selutut, Chanyeol membuka pintu, wajahnya syarat akan kekhawatiran, kacamata bundar yang ia kenakan dilepas dan ditaruh di meja, sembari menaruh tasnya di ranjang ia berjalan menuju samping jendela dimana Baekhyun masih mematung berdiri sibuk mengusap hidungnya. "Kau sakit? Kenapa tidak tidur?" Chanyeol menyentuh bahu lelaki mungil yang kini masih memasang wajah masam, hidung Baekhyun akan memerah jika ia terkena flu atau terkena suhu dingin, Chanyeol tahu itu, namun mata sembab-nya menunjukkan ia sedang sakit, atau mungkin habis menangis. "Baekhyun, kau kenapa?"

Tangan yang hendak meraih wajah muramnya terhenti di udara saat Baekhyun mundur selangkah, kemudian Chanyeol yang awalnya berkedip penuh tanya hanya tersenyum, menurunkan lengannya. "Aku akan tidur…" Baekhyun menjawab, berjalan menuju ranjangnya sendiri, masih dengan gerak-gerik yang cukup asing.

Chanyeol tak mengekor seperti biasanya, lelaki jangkung itu masih terdiam di posisinya, ia menarik nafas panjang sebelum terdengar mematikan lampu utama, kemudian tanpa sepatah katapun ia keluar kamar, kemudian bunyi pintu tertutup pelan sampai di telinga Baekhyun.

.

Kerenggangan pasangan itu sangat bisa dirasakan oleh semua member, tidak biasanya Baekhyun pulang sendiri kemudian memilih bermain ponsel di sofa ruang depan meninggalkan Chanyeol yang berada di kamar, atau terkadang sebaliknya, jika Chanyeol berada di luar turut berhambur dengan member lain Baekhyun perlahan akan memilih pergi ke kamar, rasa kantuknya dijadikan alasan, begitu yang bisa member baca dari kondisi ini.

Skinship dan candaan bersama mulai berkurang, Baekhyun lebih memilih dimanapun asalkan tidak disamping Chanyeol, terkadang Baekhyun justru pergi dan meninggalkan kekasihnya itu, pergi kemanapun sekarang ia lebih memilih bersama Minseok, atau Kyungsoo, atau Sehun, member tahu mereka pasti ada masalah, namun tak ada seorangpun yang berani memulai pembicaraan untuk membawa topik tersebut, karena keduanya juga baik-baik saja jika berurusan dengan pekerjaan, latihan masih rutin dan kegiatan syuting tetap berjalan lancar, membuat Suho tak ada alasan tepat untuk menyelesaikan urusan ini, toh juga masalah hubungan mereka adalah masalah privat, yang Suho rasa dan semua member setuju bahwa sebaiknya tak perlu dicampuri oleh orang selain mereka sendiri.

"Baek, kau tak apa-apa?" Minseok pada suatu siang menanyai, mereka sedang berada di salah satu tempat makan favorit mereka saat itu, dan tentu saja Minseok hanya diajak makan berdua dengan Baekhyun. "Kau terlihat tidak sehat, maksudku…" Minseok menambahi, takut Baekhyun salah pengertian akan pertanyaannya, dilihat dari manapun Baekhyun pasti merasa bahwa member mencurigai gerak-geriknya yang cukup tak wajar, tentu saja perihal hubungan cintanya dengan kekasihnya, semua juga tahu itu.

"Tak apa, mungkin aku hanya lelah." Baekhyun menjawab, meneguk minumnya lagi.

Minseok mengangguk pada akhirnya, sebenarnya pertanyaan secara bertubi-tubi muncul di kepalanya, apa ada sesuatu yang mengganggu hubungan Baekhyun dengan Chanyeol, ada masalah apa, apakah Chanyeol selingkuh, sebenarnya ada apakah sampai Baekhyun menjadi seperti ini, namun Baekhyun yang bungkam tak bisa pula Minseok paksa, takut-takut malah memperkeruh suasana.

"Kalau ada apa-apa kau boleh cerita padaku, apapun…" Minseok mengusap bahu sempit dongsaengnya itu, dan Baekhyun terlihat menoleh, melihat ke arah Minseok dengan mata yang tak sejernih biasanya.

Ada sesuatu yang mengganjal di hati Baekhyun, begitu Minseok yang bisa tebak, bagaimana Baekhyun menjadi tak nafsu makan dan kondisi tubuhnya yang memburuk, ia yang tak seterbuka biasanya sudah pasti sedang mengalami hal yang tek begitu baik, Minseok masih terus saja mengusap bahu Baekhyun, sesekali mengusap kepalanya, terakhir kali Baekhyun terlihat seperti ini adalah ketika ia ditinggal Chanyeol untuk masa promo filmnya, juga saat ia merajuk karena kissing scene yang dilakukan kekasihnya dan membuat mood Baekhyun rusak berantakan, tapi Baekhyun bukan anak manja yang berhari-hari ngambek hanya karena adegan kissing scene, dengan segera ia bisa kembali normal lagi, dengan gurauan dan Chanyeol yang untunglah pandai membujuknya kembali, namun kali ini nampaknya beda, masalahnya mungkin sedikit agak kompleks, Minseok hanya bisa menunggu seandainya Baekhyun mau berbagi pemikiran dengannya.

"Hyung."

"Iya?"

"Di masa depan nanti, kau berencana ingin berapa orang anak?"

Minseok hanya bisa melongo, yah meskipun wajahnya terlihat cukup normal seperti biasanya. "Um… Berapa yah, dua mungkin."

"Ah…" Baekhyun mengangguk, ia rasakan Minseok perlahan menarik tangannya yang sedari tadi mengusap bahunya.

Minseok terdiam sesaat, ia melihat bagaimana Baekhyun terdiam dan menatap kosong meja di hadapannya setelah percakapan singkat tadi, yah, sedikit banyak Minseok bisa membaca apa yang Baekhyun pikirkan.

"Umm… Kau sudah memikirkan hal itu? Sudah nanti saja pikirkan anak dan rumah tangga, sekarang kita pikirkan yang lebih penting saja, latihan dan persiapan konser, atau lebih baik kita makan dulu saja, itu lebih penting." Minseok tersenyum lebar, dengan lahap meraup makanan yang sudah ada di meja, ia melihat Baekhyun, yang saat itu masih memasang senyum datar, tidak terlihat berniat untuk menyentuh makanan meskipun Minseok tahu, sudah dua hari ia tidak makan dengan benar.

.

.

Sudah berhari-hari Baekhyun bertahan dengan sikap dinginnya, bukan dingin yang sepenuhnya mendiamkan kekasihnya, ia masih menjawab jika Chanyeol bertanya, atau menanggapi jika Chanyeol berujar sesuatu, namun begitu Chanyeol tentu merasa tak nyaman, bagaimana bisa ia bertahan dengan semua ini, setidaknya Baekhyun memberitahunya bila ada sesuatu, maka pada suatu malam ketika suasana dorm sedang tenang Chanyeol memilih memasuki kamarnya dimana ada Baekhyun yang tengah memainkan ponsel di ranjangnya.

"Baek? Tidak keberatan kalau aku ingin mengajakmu bicara?" Chanyeol berujar, memilih duduk di tepi ranjang, ia pandang kekasihnya yang menyandarkan punggung sepenuhnya di headboard.

"Yah?"

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Apa kau marah padaku?"

"Aku tidak marah…" Baekhyun merasakan kakinya yang besila diusap pelan, dan ia menggeser duduknya perlahan, menghindar.

Chanyeol menarik kembali tangannya, menatap Baekhyun dengan helaan nafas. "Lalu kenapa beberapa hari ini kau seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Kau menghindariku, Baek. Kumohon bicaralah padaku kalau aku melakukan hal yang salah."

"Kau tidak salah Chanyeol-ah, aku tak apa-apa, mungkin hanya lelah saja—"

"Kau tidak bisa membohongiku, Baek, aku tahu kau memikirkan sesuatu, setidaknya bicaralah padaku ada apa sebenarnya."

"Aku tak apa-apa, Chanyeol-ah."

"Lalu kenapa kau bersikap begitu padaku?"

"Bersikap bagaimana? Aku biasa saja denganmu…"

Lagi-lagi Chanyeol menghela nafas. "Baekhyun—"

"Aku sudah bilang, aku tak apa-apa, aku hanya sedang lelah mungkin, aku tak merasa ada masalah dengan siapapun, kau juga tak salah Chanyeol-ah, kalau kau merasa tak nyaman denganku aku bisa meninggalkanmu tidur sendiri malam ini, aku akan menumpang ke kamar Minseok hyung atau—"

"Bukan begitu maksudku Baekhyun." Chanyeol memotong, pandangannya kali ini tajam. "Kenapa kau menghindariku?"

"Aku tidak…"

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, bicaralah padaku—" kali ini Chanyeol memajukan tubuhnya, ia raih bahu Baekhyun, justru mencengkeramnya erat saat Baekhyun berusaha menghindar. "Apa ada hal salah yang kulakukan? Apa ada sikapku yang mengecawakanmu?"

"Tidak Chan—"

"Lalu apa aku membuatmu tak nyaman? Apa kau marah padaku?"

"Chan—Lepaskan, sebaiknya lanjutkan besok aku ingin istirahat…"

"Apa kau ingin menjauh dariku? Apa kau tidak mencintaiku lagi?"

Pergerakan Baekhyun terhenti, Chanyeol menatap kedua matanya, dan ia bisa menangkap rasa frustasi bercampur sedih.

"Kalau aku bilang iya…" Baekhyun tak melanjutkan kalimatnya, ia menarik tubuhnya karena tangan Chanyeol tak lagi menahannya dengan erat, kekasih mungilnya berjalan keluar kamar tanpa menoleh, dan Chanyeol yang masih terdiam di ranjang hanya bisa menarik nafas panjang dengan menutup erat kedua mata.

.

.

.

.

Kondisi badan Baekhyun kian memburuk, ia tidur di sofa depan dan suhu udara dingin malah membuat tubuhnya menggigil dan kian melemah, Suho yang pertama kali menemuinya saat itu, sesegera mungkin menghubungi manajer, dan secepatnya Baekhyun dilarikan ke rumah sakit. Ia langsung dirawat intensif, seharusnya, namun Baekhyun mengutarakan yang membuat manajer berpikir keras, Baekhyun ingin pulang, ia benar-benar sakit dan meminta izin untuk dirawat di rumah saja, manajer sempat menimbang-nimbang, lagipula tak ada jadwal berarti untuk tga hari ke depan, maka ia menyetujui, sesaat setelahnya Baekhyun diantar pulang, dengan kondisi masih lemah, ia diantar sang manajer menuju ke rumah orang tuanya, perjalanan berjam-jam rela ditempuh, karena Baekhyun benar-benar butuh pulang, ia bilang ingin dirawat ibunya dan berjanji akan cepat pulih jika ia berada dekat keluarganya sekarang ini.

.

.

"Kau bekerja terlalu keras." wanita paruh baya berujar kalem, masih menggunakan celemek dan membawa sebuah mangkuk dengan bau sedap menyeruak, Baekhyun tidur di ranjang kamarnya, suasana yang sangat ia rindukan, rasanya tentram dan damai, ia masih pening jujur saja, namun sup buatan ibunya di pagi hari memang yang terbaik. Hari ini ia sudah pulang ke rumah, setelah dua hari dirawat inap di rumah sakit dekat rumahnya, Baekhyun sangat senang saat ia bisa pulang, ke rumah, sungguh senang.

"Tidak bu… Hanya lelah saja." Baekhyun menjawab, ia mendudukkan badannya, menyandarkan punggung di tumpukan bantal, setengah badannya masih tertutup selimut, ia menghirup udara dalam-dalam ketika ibunya menyingkap gorden jendela dan membukanya, membiarkan udara luar masuk, Baekhyun memejamkan mata, menghadap ke jendela.

Rasanya beban di hatinya sirna untuk sesaat.

"Makan sekarang? Ibu suapi yah?"

Baekhyun mengangguk, dan ibunya mengambil duduk di ranjang pula, mendekati putranya.

Putra bungsu keluarga Byun itu bertingkah seperti anak penurut, membuka mulut begitu ibunya mengarahkan sendok ke arah bibirnya, meskipun porsi makan Baekhyun belum seperti biasanya, ia meminta berhenti setelah suapan ke lima, sup hanya berkurang sedikit, bahkan tidak sampai setengahnya, ia rasa lambungnya masih belum bekerja sempurna.

"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lupa meminum obat yah?"

Baekhyun mengangguk.

Sang ibu membereskan sisa makanan, kemudian mengambilkan segelas air yang disiapkan di meja dekat ranjang Baekhyun, agar seandainya Baekhyun haus tak perlu ia kesana kemari. Sang ibu merapikan beberapa baju yang dua hari lalu sempat diacak dari dalam almari, karena Baekhyun datang dengan keadaan sakit sang ibu yang terburu tak sempat merapikan kembali baju-baju putranya tersebut.

"Manajer akan memberi waktu sampai kau sembuh kan?" sang ibu menanyai, tak terdengar jawaban hingga beberapa saat kemudan wanita itu menoleh dan mendapati ternyata Baekhyun tengah memandang keluar jendela, nampaknya ada hal yang putranya itu pikirkan, wanita itu berjalan kembali ke ranjang, diusapnya kaki Baekhyun yang tersembunyi di balik selimut.

"Oh, ibu?"

"Kau memikirkan sesuatu?"

Baekhyun memandang ke arah lain.

"Bagaimana pekerjaanmu?" sang ibu tersenyum manis, memijit bagian yang ia sentuh sebelumnya, putranya pasti sangat lelah dengan rutinitas, andai saja waktunya untuk istirahat lebih banyak…

"Baik, bu…"

"Member exo yang lain?"

Baekhyun terdiam sesaat sebelum menjawab. "Mereka juga baik…"

"Syukurlah kalau begitu, senang mendengarnya, ibu jadi kangen mereka…"

Senyum ibunya membuat Baekhyun ikut tersenyum, entah mengapa.

"Kalau ada waktu ibu ingin bertemu mereka semua, memasakkan dan makan bersama, pasti menyenangkan, yah, meskipun ibu tahu itu tidak mungkin…"

Wanita itu masih terus memijit kaki putranya, meskipun Baekhyun bilang ia tak apa, namun sang ibu hanya mengangguk namun tak berhenti, seperti rasa sayangnya pada sang anak, Baekhyun hanya memandangi ibunya saat itu, banyak hal terlintas di kepalanya saat itu, tentang kenapa di sebuah keluarga harus ada ibu dan ayah, tentang keberadaan ibunya yang pasti tak akan bisa digantikan mekipun ia punya seribu ayah sekalipun, Baekhyun menarik nafas panjang setelahnya.

"Nak, apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Bilanglah pada ibu…"

Air mata Baekhyun rasanya ingin tumpah seketika, tak tahu kenapa.

"Tidak bu… Ibu istirahatlah…"

"Ibu sudah cukup istirahat, ibu tidur delapan jam sehari, makan cukup dan tak begitu capek, kau yang perlu istirahat, nak…" sang ibu tersenyum, kemudian mengusap rambut putranya yang berwarna madu.

"Ayah pasti sangat beruntung mendapatkan Ibu…" ujar Baekhyun tiba-tiba, membuat belaian dari tangan sang ibu berhenti sesaat.

"Yah… Bisa dibilang begitu…" sang ibu tersenyum lagi. "Nanti suatu saat kau pasti akan beruntung juga…" senyum putranya yang sebelumnya secerah matahari luntur perlahan, meskipun sesaat kemudian Baekhyun menarik kembali bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Apa… Ibu salah? Apa kau sedang merasa tak beruntung?"

Baekhyun menunduk, benar nampaknya kata orang bahwa perasaan seorang ibu memang kuat, terlebih pada anaknya, bagaimanapun Baekhyun berkilah pasti wanita itu akan tahu, segalanya yang Baekhyun rasakan. "Tidak bu…. Kita harus selalu merasa beruntung, bersyukur atas apa yang kita dapat, bukankah begitu?"

Sang ibu tersenyum, mungkin putranya belum ingin bercerita tentang masalahnya saat ini, dan tak ada pilihan lain, wanita itu hanya bisa mengangguk saja, kembali mengusap kepala putranya, yang seandainya saja bisa ia bagi rasa peningnya, ia rela berbagi rasa sakit itu.

.

.

Chanyeol menyetir dengan sesekali melirik kaca spion, injakan kakinya pada pedal gas cukup keras dan ia beberapa kali mengumpat karena lampu merah atau kendaraan lain yang menyalip, pikirannya sempat kacau, pagi setelah ia mengobrol dengan Baekhyun ia berniat mencari lelaki pendek keras kepala itu, namun yang ia dapati justru ranjang kosong dan kabar tak mengenakkan dari sang manajer. Baekhyun yang dilarikan ke rumah sakit dekat rumah dan izin-nya untuk pulang beberapa hari, itu semua tanpa sepengetahuan Chanyeol, yang membuat lelaki jangkung ini merasa cukup kesal bercampur kecewa.

Malam kian larut, dan itu menandakan waktunya kian berkurang karena esok pagi ia harus segera menuju airport, namun sesedikit apapun waktu yang ia miliki jika itu untuk bertemu Baekhyun maka ia akan tempuh, Chanyeol masih mengendarai dengan kecepatan cukup tinggi, masih dalam batas normal karena ia masih ingat peraturan dan tak ingin berakhir di kantor polisi bukan di rumah Baekhyun tempat seharusnya ia berada, ia lalui jalan yang lumayan ia kenali dengan konsentrasi tinggi.

Mobilnya terhenti, dan ia menduga seseorang dari dalam rumah Baekhyun pasti mendengarnya karena seorang wanita paruh baya telah membuka pintu dan menyambut kedatangannya, Chanyeol menundukkan kepala sopan, menyapa seorang wanita yang sekilas mengingatkannya pada wajah Baekhyun, tentu saja karena ia adalah ibu kandungnya.

"Malam, bu…." sapa Chanyeol sopan.

"Chanyeol?" ibu Baekhyun terlihat cukup terkejut, ia menepuk-nepuk bahu Chanyeol, memberinya pelukan hangat lalu mempersilahkan masuk. "Masuklah, tapi Baekhyun sedang tidur di kamarnya…"

Chanyeol mengangguk, ia mengikuti wanita yang kini berjalan memasuki rumah, terlihat agak ragu saat melintasi ruang tamu dan menuju salah satu kamar yang terhubung dengan ruang tengah. "Baekhyun baru saja tidur… Dia masih sakit, kalau dibangunkan khawatir dia sakit kepala lagi…"

"Tak apa, bu, tidak usah dibangunkan, saya hanya ingin melihatnya lalu kembali, tidak apa…"

.

Kamar Baekhyun masih terlihat sama, terakhir Chanyeol melihatnya saat mereka berlibur dan mampir di kediaman Baekhyun, tak ada yang berubah, meskipun Chanyeol hanya dua kali pernah melihatnya. Si jangkung kini duduk di kursi, dekat dengan ranjang dimana Baekhyun tidur sekarang. Chanyeol melihat kekasihnya tidur dengan tentram, mungkin ia terlalu pulas sampai pintu kamar terbuka dan Chanyeol masuk ia tak bergerak sedikitpun, Chanyeol bangkit berdiri akhirnya, berjalan menuju dapur dimana ibu Baekhyun sibuk menyiapkan minuman hangat untuknya.

"Oh, apakah Baekhyun terbangun?"

"Tidak, bu… Dia masih tidur. Ibu tak usah repot-repot membuatkan minum…"

"Ah, tak apa, hanya minum saja…"

"Um… Apa Baekhyun sudah makan dengan benar, bu?"

"Um… Hanya lima sendok sup tadi pagi, meskipun siang sudah mau makan roti…"

"Oh… Bu, saya membawa bahan untuk membuat bubur kacang merah, apa boleh saya buat disini?"

Ibu Baekhyun menoleh cepat, memandang Chanyeol dengan tatapan heran. "Oh, boleh, boleh saja…."

"Terimakasih, bu…" dan Chanyeol melesat setelahnya.

.

Chanyeol masih sibuk mengaduk sesuatu di dalam panci kecil, apinya ia atur sedang, lalu sesekali menutup kemudian mengaduk kembali bubur yang ia olah. Ibu Baekhyun berdiri tak jauh darinya, ia sudah tahu kalau Chanyeol pandai memasak, Baekhyun sudah beribu kali membanggakannya dan menceritakannya tiap kali ia pulang, namun melihatnya secara langsung jujur saja baru kali ini.

"Apa ini bubur untuk Baekhyun?"

"Ah, iya bu… Dia beberapa kali sakit di dorm, dan biasanya dia memang akan makan dengan porsi kecil, tapi dengan bubur kacang merah ini dia akan makan sedikit lebih banyak…"

"Oh… Tapi sekarang dia masih tidur… Apakah tidak apa-apa, besok pagi apakah harus ibu hangatkan kembali?"

"Um… Kalau sedang sakit biasanya tidur tidak akan nyenyak bu, mungkin dia akan terbangun tengah malam, itu kemungkinan saja sih, seandainya dia terbangun bisa coba diberikan barangkali dia mau, tapi kalau tidak bisa besok saja memberikannya, ibu tinggal memanaskannya…"

"Oh… Aduh, ibu jadi malu, kau bahkan tahu Baekhyun lebih banyak dari ibu sendiri…"

Chanyeol hanya tersenyum.

Jarum jam menunjukkan angka sebelas, dan perjalanan dari rumah Baekhyun menuju Seoul sekitar tiga jam, Chanyeol menghitung agar aman dia akan kembali pukul satu atau dua pagi, karena dia mendapat tiket penerbangan pukul enam, jujur saja badannya seakan remuk, pulang syuting malam dan langsung menyetir sendiri ke rumah Baekhyun, meski ia sudah mengisi perut di jalan dan beristirahat sekedar meluruskan punggung dan kaki di rest area.

"Kalau ada penerbangan pukul enam pagi seharusnya kau langsung pulang ke dorm dan beristirahat, tak perlu kemari…" sang wanita paruh baya berujar, setelah menawari Chanyeol untuk bermalam namun lelaki muda itu menolak dengan menyebutkan jadwal keberangkatannya esok pagi, ibu Baekhyun jujur merasa kasihan, ia usap bahu Chanyeol yang nampaknya sangat kaku, belum lagi wajahnya yang terlihat lelah, ia harap gingseng hangat yang ia buatkan bisa memulihkan sahabat putranya tersebut. "Oh, tadi ibu lihat Baekhyun terbangun, mau menemuinya?" wanita itu berujar, dan seketika itu pula ia lihat wajah Chanyeol berseri dan nampak sehat kembali.

.

"Aku tak apa-apa."

"…"

Baekhyun menghela nafas, Chanyeol terlihat tak berniat menjawab kalimatnya, mungkin karena memang ia berkata tanpa memandang si lawan bicara, ia sibuk menunduk, melihat ke arah kakinya yang tertutup selimut.

"Chanyeol-ah, aku tak apa-apa, kau tak perlu jauh-jauh menjengukku—" Baekhyun mengarahkan pandang ke lelaki yang duduk di kursi samping ranjangnya pada akhirnya. "Kau pulanglah."

"Aku akan pulang." jawab Chanyeol kalem. "Sebentar lagi."

Baekhyun menyerah dengan lelaki keras kepala ini.

Suara mangkuk diambil dapat terdengar, Baekhyun menoleh saat Chanyeol sudah membawa sebuah mangkuk dan mengaduk sesuatu di dalamnya.

"Aku akan pulang setelah kau makan. Aku akan menyuapimu."

Si lelaki pendek menghela nafas lagi, lelah berdebat, ia turuti saja kemauan lelaki tinggi ini.

.

Baekhyun menghabiskan seluruh isi mangkuk, Chanyeol merapikan kembali meja di sampingnya lalu mengarahkan segelas teh hangat ke mulut Baekhyun, karena jaraknya cukup jauh ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, dengan menghadap Baekhyun tentunya.

Si lelaki pendek membiarkan Chanyeol mengambil tissue dan mengusap bibirnya pelan, ia kemudian mengambil satu wadah obat kemudian membacanya, hanya satu obat yang diminumkan empat kali sehari, Chanyeol mengambilnya, memberikan pada Baekhyun yang sudah membuka telapak tangannya, Baekhyun meminum obatnya sendiri, Chanyeol hanya membantu mengembalikan gelas ke meja setelahnya.

Keheningan kembali melanda setelah mereka tak lagi melakukan kegiatan apapun.

"Katakan Baekhyun, kenapa kau bersikap seperti ini?" Chanyeol akhirnya buka suara, ia sudah lelah untuk tak membahas ini, dia tipe orang yang tak ingin membiarkan masalah yang berlarut-larut, ia ingin segera menyelesaikannya.

Namun Baekhyun masih bungkam, ia memandang mata Chanyeol sekilas, hanya untuk menunduk kembali.

"Kita sudah berjanji kan? Kau lupa? Kau menyetujuinya, kalau ada masalah kita harus membicarakannya, apapun itu."

"Kau bilang kau akan pulang." kali ini Baekhyun merespon, menaikkan pandang, menemui mata lelah Chanyeol yang sesungguhnya membuatnya tak tega menatapnya. "Aku sudah makan dan minum obat, pulang dan istirahatlah."

"Jangan buat aku lebih khawatir lagi kumohon." Chanyeol menarik dua tangan pucat ke dalam genggamannya. "Kalau kau sakit aku juga merasa sakit, aku menjadi tidak konsentrasi dalam hal apapun, aku menjadi tidak fokus, sutradara memarahiku, seharian aku harus mengulang adegan sampai belasan kali, hari ini aku kacau Baekhyun, tolong jangan buat aku lebih kacau lagi, aku datang menemuimu, setidaknya agar diriku lebih baik, melihatmu saja dan tahu kau tidak apa-apa sudah cukup, kau tahu bagaimana perasaanku menjadi akan lebih baik karenamu, karena aku sangat mencintai—"

"Tolong jangan katakan itu…" Baekhyun menyela, matanya terlihat sedih. "Jangan katakan seperti itu, jangan katakan kau mencintaiku—"

"Kenapa?" Chanyeol tahu nafasnya tersengal saat ia berkata, namun ia mencoba mengaturnya kembali. "Kau tidak mencintaiku lagi?"

Baekhyun dengan ragu mengangguk.

"Kau bukan pembohong yang baik Baekhyun, aku tahu kau bohong."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" Chanyeol terdiam, mata Baekhyun nampaknya tak lagi bisa membendung genangan di baliknya, kini pipi itu basah, air mata membanjiri wajah pucatnya. "Aku sangat mencintaimu, aku ingin membuatmu bahagia, sekarang, besok, sampai kau tua renta nanti, tapi aku sadar aku tak bisa, aku tak bisa memberikan sesuatu untukmu, aku lelaki Chanyeol, kau juga, bagaimana bisa kita menjadi keluarga nanti? Aku bisa jatuh cinta pada siapapun, jutaan wanita di luar sana, tapi kenapa aku mencintaimu? Kenapa pula kau juga mencintaiku? Kenapa? Apa yang harus kulakukan sekarang?" badan lemah itu menegang, Chanyeol bisa merasakan seluruh tubuh Baekhyun bergetar, nafasnya tersengal begitu pula tenggorokannya yang penuh karena ia berbicara dengan menangis, Baekhyun menangis menumpahkan segala kekesalannya, isi hatinya yang mungkin terkubur berhari-hari, atau mungkin berbulan-bulan, entah berapa lama, Chanyeol menatapnya dengan hati yang sangat sakit. "Aku tidak akan bisa memberikanmu seorang anak, aku tidak akan bisa mengandung bayimu, aku bahkan ingin mengubah takdir karenamu… Kenapa kau harus mencintaiku, kenapa ini terjadi padamu, orang yang kucintai… Kenapa kau tidak benci saja padaku lalu pergi, aku rela kalau kau harus mencintai orang lain lalu hidup dengan baik dengannya, aku ingin kau hidup dengan baik Chanyeol-ah, kau harus hidup dengan baik dan itu bukan denganku… Tapi kenapa kau datang lagi, kau mencintaiku… Kenapa…"

Badan kecil itu ditarik, Chanyeol memeluk badan bergetar Baekhyun, mengusap punggung sempitnya, menghirup sisi rambutnya yang masih bau seperti obat, Chanyeol merasa denyutan jantung, hati, dan seluruh jiwanya yang sakit, ia merasakan juga apa yang Baekhyun rasakan. "Kau kuat sekali baekhyun, lebih kuat dariku."

Baekhyun terdiam, masih terisak di bahu lelaki tinggi yang memeluknya, air matanya yang terus menetes membahasi kemeja motif kotak yang dipakai Chanyeol, ia yakin karena ia rssakan pipinya menyentuh permukaan kain yang basah, Baekhyun justru menyandarkan kepalanya lebih dalam, ke ceruk leher Chanyeol.

"Aku menyimpan sendiri tak berani membicarakannya selama ini, aku terlalu takut pada kenyataan, sedangkan kau sekarang membuatnya jelas…" Chanyeol bernafas dalam, jujur saja ia juga menahan tangis, hatinya sesak dan juga sakit. "Aku jutaan kali menimbangnya, memikirkan bagaimana jika kita saling mencintai satu sama lain, suatu saat kita akan berpisah dengan cara yang sangat menyedihkan, aku sangat takut hal itu, aku seperti pecundang, aku dan ketakutanku, kau bisa bertanya pada member lain bagaimana aku selalu membicarakan hal yang sama pada mereka, aku terlalu takut membicarakannya denganmu…" Chanyeol menghentikan gerakan mengusapnya, ia pegang kedua bahu Baekhyun pelan, masih merasakan sesekali bahu kecil itu turun naik karena isakan, ia membuat jarak, sehingga mereka bisa berpandangan satu sama lain. "Lalu apakah kalau kita berpura-pura tidak saling mencintai, kalau aku tidak mengutarakan perasaanku padamu, kalau kita tidak menghabiskan saat-saat kita bersama, itu akan membuat jadi lebih baik?" Baekhyun menatap mata sedih Chanyeol, bayangannya tergambar disana, mata Chanyeol yang jernih, yang sangat Baekhyun senangi.

Chanyeol meraih tangan Baekhyun, ia usap sekali punggung tangan yang mungil itu, ia dekatkan ke arah bibirnya, Chanyeol memejamkan mata dan merasakan tangan itu dengan ujung hidungnya, sesekali mengecup, Chanyeol seakan mengagumi dan menelusuri tiap permukaan kulit tangan Baekhyun yang lembut, Chanyeol tahu benar dan sudah hafal dengan setiap inchi tangan Baekhyun, juga tubuhnya, Chanyeol mengecup jemari dan langsung bisa menggambarkan di otaknya bagaimana bentuk jemari Baekhyun yang lentik, tanda lahir cantik yang berada di ibu jari kirinya…

"Kita tak tahu apa yang terjadi nanti Baekhyun, kita tak tahu seandainya besok akan terjadi sesuatu, bisa saja gedung runtuh, kebakaran, atau apapun…" ia lepaskan genggaman tangannya, kembali menarik Baekhyun ke dalam pelukan. "Kita bisa tak bertemu lagi, kapanpun itu… Dan aku akan sangat menyesal bahkan sampai aku mati kalau aku tak mengucapkannya padamu… Kalau aku mencintaimu… Aku tak mau penyesalan… Karena itu aku memberanikan diri, aku mengambil segala resiko… Saat aku mengatakan aku cinta padamu, aku ambil semua resikonya, apapun itu."

.

.

Chanyeol pamit saat waktu hampir menunjukkan pukul dua dini hari, dan ibu Baekhyun tak lupa membungkuskan sedikit kue yang tersisa di lemari pendingin yang masih bisa dimakan, juga minuman kaleng, ia menjabat tangan Chanyeol kemudian memberi lelaki tinggi itu pelukan hangat, Chanyeol sangatlah ramah, tak heran jika wanita paruh baya itu begitu menyayanginya seperti ia menyayangi putranya sendiri.

"Aku pamit, bu… Terimakasih." Chanyeol menunduk, membuka pintu mobilnya dan sekali lagi menunduk seteleh ia menurunkan kaca mobil.

"Ya… Hati-hati Chanyeol-ah…."

Wanita itu melambaikan tangan, ia menunggu hingga mobil itu lenyap dari pandangan baru kemudian kembali memasuki rumah tak lupa mengunci pintunya.

Pintu kamar Baekhyun masih setengah terbuka, sang ibu memasukinya dan mendapati Baekhyun masih duduk dengan punggung menyandar headboard, meja di samping ranjangnya telah bersih juga selimut yang terlihat rapi, Chanyeol pasti menyempatkan mengurusnya sebelum pergi.

"Baek?"

Baekhyun mendongak, sepertinya matanya sudah tak lagi sembab, karena ibunya tak banyak bertanya, dan Baekhyun merasa lega dengan asumsinya tesebut

"Bagaimana, kau merasa lebih baik?"

Baekhyun mengangguk.

"Chanyeol datang hanya untuk menjenguk dan membuatkan bubur kacang merah… Padahal seharusnya dia istirahat di dorm, mengisi tenaganya karena dia ada penerbangan pukul enam pagi… Tapi justru dia kesini. Dia adalah lelaki yang sangat baik." wanita itu tersenyum, duduk di ranjang dan menatap Baekhyun. "Kelihatan sekali kalau dia pasti sangat khawatir denganmu…"

Baekhyun menunduk dengan pernyataan ibunya barusan.

"Cepatlah sembuh, supaya bisa kembali ke dorm, dan tidak membuat temanmu khawatir lagi." senyum ibunya merekah, setelah membenahi selimut putranya, sang ibu memeluk tubuh Baekhyun yang masih hangat. "Cepatlah sembuh yah." sang ibu berujar lagi, mengusap punggung anaknya, yah, mungkin memang tak sehangat pelukan yang Chanyeol berikan, yang tak sengaja ia lihat ketika ia melintasi kamar Baekhyun yang pintunya tak tertutup sempurna beberapa saat lalu, namun setidaknya ia bisa sedikit menenangkan putranya, yang kentara sekali sudah terlihat kesepian selepas ditinggal sahabatnya tadi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

One chap left!

anyeong yeoreobun~

pertama-tama mau sapa-sapa yang baru keliatan di komen nih hehe

nannaacho: Iya makasih yah ini uda sembuh kok punggungnya teheee

jiellian21: okayyyy

cookiebyunn: aduh gapapa… makasiiiyy

galaxy aquarius: yuhuuuuuu

baixianlie: ini uda paling fast updateeee~

hehe makasii2 yg uda support, dukung, baca, komen, de el el

tinggal satu chap lagi maybe ya…

akhir kata,

wassalam and goodbyeyeah~ :*