Chapter XXII

"Love has no wrong. From anyone, anything, for anyone, anything, whenever, wherever,

Still, that's called love"

.

.

.

Dulu, Baekhyun pernah memelihara seekor anjing, sangat lucu dan penurut, Baekhyun menyayanginya sama seperti ia menyayangi mainan robotnya yang bahkan selalu dibawa kemanapun ia pergi, namun mungkin takdir tak serta merta membiarkan Baekhyun memiliki anjing yang ia sayangi, satu tahun kemudian anjing kesayangannya mati, karena sebuah penyakit yang saat itu dokter terlambat menanganinya. Baekhyun sempat sedih, ia terisak kecil, namun ibunya datang dan memeluknya, Baekhyun akhirnya berhenti menangis sesaat setelahnya, dengan pujian bahwa Baekhyun adalah anak laki-laki yang hebat, ia menaikkan kepala, mengusap air mata dan menahan isakannya sekuat tenaga, saat Baekhyun berhenti menangis, ibunya tahu bahwa kelak Baekhyun akan menjadi anak yang hebat.

Hasil audisi keempatnya belum menunjukkan kata 'berhasil', lagi-lagi Baekhyun pulang dengan rasa kecewa, saat itu usianya tiga belas, ibunya datang dan menghampiri Baekhyun yang saat itu duduk dengan kepala tertunduk dalam diantara kedua kakinya yang dilipat di depan dada, merutuk kesal di sudut kamar, Baekhyun tak benar-benar menangis saat itu, matanya hanya memerah, ibunya memberi pelukan kemudian, Baekhyun dengan cepat bangkit saat itu, berjanji tidak akan menyerah, lagi-lagi ibunya dibuat bangga, putranya yang satu ini memang anak yang kuat.

Satu hari yang tak pernah terlupakan seumur hidup mungkin adalah ketika Baekhyun pertama kali berdiri di panggung, orang banyak bilang itu adalah debut stage, atau apa ibu Baekhyun tak terlalu mengerti, saat itu sang ibu melihat putranya dari layar televisi, ia melihat sang putra terlihat terharu hingga ia hampir menangis, yah mungkin memang ia menangis namun sesegera mungkin kembalilah putranya yang sangat tegar itu berdiri di panggung, lagi-lagi membuatnya bangga karena sang putra cepat menghilangkan wajah sembabnya, dengan senyuman dan lambaian tangan ia memasang senyum yang sangat manis, pun saat ia pulang kembali ke rumah dan memeluk ibunya, putranya selalu mengumbar senyum, tak menunjukkan wajah sedihnya, sekalipun

Itulah yang ibunya selama ini tahu, Baekhyun-nya yang kuat, Baekhyun-nya yang ceria, meskipun sedih namun ia tetap berusaha tersenyum, jika jatuh ia akan segera bangkit, terkadang ia memang masih seperti anak kecil, suka mengadu dan rewel, banyak merengek dan memrotes tentang apapun, kemudian berceloteh kesal pada ibunya, menyandarkan kepala dengan manja di bahu ibunya –

Namun melihat Baekhyun menangis keras di bahu seseorang dengan isakan yang mencekat di tenggorokan, mata memerah dengan nafas yang tak beraturan, jemarinya mencengkeram kuat dan teriakan tertahannya, membuat hati sang ibu luar biasa sakit dibuatnya.

Tangis putranya tumpah, tergambar jelas bagaimana kali ini pertahanan tinggi itu roboh, seperti dinding kokoh yang runtuh karena diterpa ombak tepat di pondasi terkuatnya, Baekhyun mencapai titik itu, dimana perasaan tak bisa lagi dibendung, sang ibu berharap ia salah menerka, ia sangat berharap begitu, namun bagaimana cara Baekhyun mencengkeram kuat kemeja, memeluk leher, menyandarkan kepalanya sepenuhnya,

Baekhyun telah menemukan bahu dimana ia bisa menyandar, dimana ia bisa menangis,

Dan sang ibu tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat itu, sedih yang bercampur lega, bahagia yang bercampur kekhawatiran,

Baekhyun membuat sang ibu tak bisa berpikir logis lagi saat itu, pikiran logis tak berjalan kali ini,

Karena cinta telah dilibatkan didalamnya.

.

.

Baekhyun mengemasi beberapa barang ke dalam ransel, sekitar satu jam lagi manajer akan menjemputnya, badannya sudah membaik, dan Baekhyun tak ada alasan lagi karena besok ia harus segera mengisi acara di salah satu stasiun tv.

"Bu, ada apa?" Baekhyun bertanya curiga, sang ibu sedari tadi bersikap aneh, ia tengah mengambil sarapan dan ibunya melihatnya kemudian terkikik, ia mengemasi barang kemudian menemui ibunya dan wanita itu kembali terkikik. "Bu, serius sebenarnya ada apa?"

Sang ibu mengatur nafas, ia usap punggung anaknya yang masih duduk di sofa dengan tas ransel yang sudah terisi penuh di sampingnya.

"Tak apa,… Kau terlihat senang sekali, ibu jadi turut senang."

'Apa-apaan ini?' Baekhyun membatin. "Baiklah, apapun itu, aku sudah hampir berangkat dan ibu justru membuatku khawatir."

Sang ibu tertawa agak keras, melihat ekspresi merajuk putranya kali ini sangatlah lucu, ia ambil sesuatu setelahnya, hand lotion berbau vanilla yang biasa Baekhyun pakai. "Beberapa hari kau tidak merawat kulit dengan baik, sini mana tanganmu."

Baekhyun memiringkan sedikit kepala, heran, namun kalau dipikir-pikir, semenjak pulang dari rumah sakit Baekhyun memang hanya sikat gigi dan membasuh muka, Baekhyun rasa perkataan ibunya ada benarnya.

Ia julurkan kedua tangannya.

Sang ibu menuangkan sedikit lotion, memastikan telapak dan punggung tangan Baekhyun terolesi seluruhnya, ia berhenti di sela-sela jemari, menyentuh metal dingin yang melingkar di jari manis putranya.

Ia tersenyum lagi.

"Baekhyun-ah…" sang ibu mendahului tepat sebelum Baekhyun bersuara. "Ibu mengasuhmu dari kecil, ibu tahu kalau pikiranmu terbebani maka kesehatanmu akan terperanguh juga." wanita itu berubah menjadi serius, wajah candanya hilang, ia menatap Baekhyun dengan tatapan seorang ibu yang hendak menasehati anaknya. "Ibu harap kalau kau ada masalah semoga cepat selesai, ibu tahu ibu tak bisa membantu banyak, tapi setidaknya, ringankanlah bebanmu sendiri untuk ibu, tenangkan pikiranmu dan jangan sakit, itu yang terpenting."

Baekhyun tak memrotes apapun, ia hanya mengangguk singkat.

"Apapun, jika itu baik untukmu maka ibu juga akan menerimanya, dengan senang hati. Kau sudah dewasa, ibu tahu kau bisa mengambil keputusan sendiri, ibu percaya padamu." wanita itu tersenyum lagi, mengusap lembut tangan pucat sang anak, ia memandangi cincin di jari manis Baekhyun kemudian wajahnya kembali berubah cerah. "Cincinmu bagus…"

Mulut Baekhyun nyaris ternganga karena keheranan. "Apa?"

Wanita di depannya bangkit, kemudian berjalan ke arah dapur yang langsung diikuti oleh Baekhyun. "Oh yah, kemarin saat Chanyeol menjenguk ibu sempat mengobrol dengannya."

Baekhyun kontan membuat ekspresi terkejut, lebih terkejut dari sebelumnya. "Ngobrol? Apa? Soal apa? Dan kenapa ibu menanyai soal cincin dengan tiba-tiba? Bu, tolong berhentilah…" Baekhyun nyaris merengek frustrasi. Chanyeol? Mengajak mengobrol ibunya? Kemudian sang ibu membawa topik cincin? Fans dari seluruh penjuru dunia maya dan nyata mungkin sudah tau dengan siapa cincinnya ini berpasangan, oh baiklah Baekhyun mulai tak mengerti ini, juga ibunya yang lambat laun kian tak gampang dimengerti, sama seperti Chanyeol. "Bu~ Ibu mau kemana? Tolong jelaskan padaku sebenarnya kalian membicarakan apa?"

Sang wanita yang sedari tadi memasang wajah santai dengan senyum menyeringai sekali sebelum akhirnya akhirnya berhenti, membuat Baekhyun yang mengekor dua langkah di belakangnya berhenti mendadak.

"Ini, ibu tadi sudah siapkan sesuatu, cuma makanan saja, untuk member…"

Baekhyun tak bisa lagi memrotes saat satu kardus besar entah berisi berapa macam makanan tersodor di dadanya.

"Satu lagi… Kalau yang ini untuk Chanyeol."

Baekhyun yang masih dengan kedua tangan penuh menyangga kardus tak ada pilihan lain selain menerima saat sang ibu menyelipkan amplop berwarna pink di sela jarinya.

"Surat? Sejak kapan ibu membuat surat? Lalu kenapa untuk Chanyeol? Ibu membicarakan apa sebenar—Arhh!" celotehan Baekhyun akhirnya berhenti begitu sang ibu menarik telinganya, tidak keras memang, namun cukup untuk membuat anaknya yang berisik terdiam dan mengaduh keasl.

"Itu, manajer sudah datang, sudah kau cepat bersiap sana."

Baekhyun bersumpah dia harus mendapatkan penjelasan tentang semua ini dari Chanyeol saat ia sampai di dorm nanti.

.

.

.

.

Kaus di sekitar lingkar lehernya basah karena keringat, begitu pula rambut berwarna coklat gelapnya, Chanyeol menenggak minumnya sekali, membiarkan cairan bening itu meluber dan sengaja tak mengelapnya hingga membuat aliran menurun mengikuti lekuk dagu dan lehernya, ia pikir ia seksi, mungkin, maka dengan kepercayaan diri tingkat langit tujuh itu ia justru berpose, menatap tajam ke cermin, dan pandangannya jatuh pada pintu yang terbuka dan menampakkan sosok seseorang yang menatapnya pula.

"Baekhyun-ee/hyuuung~" seperti teriakan anak sekolah saja, seluruh member yang menyadari keberadaan Baekhyun langsung setengah berlari menuju member kesayangan mereka tersebut, kecuali Kyungsoo dan Jongin yang berjalan pelan-pelan menuju pintu ruang latihan dance.

Di tengah hiruk pikuk tersebut, hanya satu orang yang masih mematung berdiri di tempatnya, belum bergerak sedikitpun, hanya menatap keadaan di belakang lewat pantulan kaca.

"Apakah sudah baikan? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau bawa apa itu? Kau sakit apa?" pertanyaan yang muncul bertubi-tubi dari mulut yang berbeda-beda, Baekhyun terkekeh, ia belum sempat menjawab satu per satu, namun beberapa tangan sudah menariknya menuju ke dalam ruangan, ia terduduk di salah satu kursi yang merapat dinding, hanya tiga kursi, Baekhyun duduk di tengah dan di kanan kirinya Suho dan Minseok menempati.

"Baekhyun-ah, apakah sebaiknya ini dibawa ke dorm?" sang manajer muncul, menenteng sebuah kardus besar, yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh yang ditanyai.

"Titipan makanan dari ibu, untuk kalian semua."

"Waaaah!" tentu saja tak perlu menyuruh dua kali, seluruh member langsung bersemangat mengekor si manajer, hanya terlihat Suho dan Minseok yang bangkit dari duduk lalu berjalan santai, Suho sebelumnya menoleh ke arah Chanyeol yang nampaknya sudah membalik badan menghadap Baekhyun namun belum bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.

"Chanyeol-ah, sapa Baekhyun dulu sebelum menyusul yah." ujar Suho, lalu berjalan keluar, disusul Minseok yang sebelum menutup pintu meninggalkan mereka berdua, sempat mengedipkan satu mata ke arah Baekhyun.

Chanyeol perlahan berjalan mendekat, menatap Baekhyun yang nampaknya masih memasang wajah sedikit kaku, ia mengusap pelan bahu yang lebih kecil, Baekhyun tidak nampak menghindar, kemudian Chanyeol memilih untuk duduk di kursi samping Baekhyun.

"Sudah sehat?"

Baekhyun mengangguk.

"Um… Baguslah."

Keheningan memenuhi ruang latihan dance mereka siang itu, dan Baekhyun yang masih tertunduk membuat Chanyeol belum berani banyak berbicara.

"Kau menyebalkan." Chanyeol termangu, yah, kata-kata pertama dari Baekhyun yang cukup tak terlintas di kepala Chanyeol, setelah Chanyeol menyetir malam-malam, melewatkan makan, dengan badan remuk dan letih masih menyempatkan menjenguk, membuatkan bubur, bahkan tak tidur meski esok paginya ada jadwal penerbangan, lalu Baekhyun seenaknya saja berkata begitu? Chanyeol hendak membuka mulut. "Apa yang kau rahasiakan dengan ibu huh?" Baekhyun mendahului.

"Hah?" Chanyeol lebih tak mengerti lagi. "Rahasia? Apa?"

"Sudah jangan bohong, ibuku bilang, kalian membicarakan sesuatu, saat kau menjengukku kemarin." Baekhyun mengerucutkan bibir, yah, dengan alis yang hampir menyatu tentunya. "Bicara apa sebenarnya? Sudah jujur saja padaku."

"Hanya beberapa hal saja…" Chanyeol menarik ujung bibirnya ke atas, menyeringai.

"Beberapa hal apa? Lalu kenapa ibuku jadi bertingkah begitu? Ibuku jadi aneh tau!"

"Aneh kenapa?"

"Tersenyum-senyum sendiri, menaik turun-kan alis, dia menjadi mirip sepertimu. Kalian berdua menyebalkan, sungguh. Ibu juga mengirimkan salam untukmu, hanya untukmu saja, kau tidak menggodanya kan?"

"Hah? Oh… Yah, lalu bagaimana lagi, aku memang tampan sih jadi apa boleh buat…"

"Yak!" entah disengaja atau tidak tepukan tangan Baekhyun di lengan Chanyeol menimbulkan suara yang cukup keras, Baekhyun meringis sekilas, lalu mengusap bagian kulit yang kini telah berwarna merah, nampaknya Chanyeol tak berpura-pura kali ini.

"Uhhh… sakit Baek…." Chanyeol mengaduh.

"Omo, maaf-maaf…." Baekhyun tampak panik, mengusap lengan polos Chanyeol yang kini memang terlihat bercak merah jelas, ia merasakan kulit Chanyeol yang masih dingin karena bekas keringat yang belum sepenuhnya kering, Baekhyun perlahan menelusuri leher dan kaus yang Chanyeol pakai, tampak basah. "Kau harusnya bawa baju ganti, kau berkeringat, bisa masuk angin…"

Chanyeol rasa perih di tangannya seketika menghilang, entah kenapa perkataan Baekhyun juga membuat tubuhnya menghangat.

Disentuhnya tangan pucat yang masih menempel di lengannya, dan Baekhyun tak menghindar, membuat Chanyeol tersenyum. "Lalu apa ini berarti kita sudah baikan?"

Baekhyun mendengus, tak seharusnya ia tersenyum di saat seperti ini, namun ia tak sengaja melakukan, selanjutnya bibirnya mengerucut lucu, ia tak menjawab dengan lisan namun dengan hanya isyarat gerakan, memajukan kepala dan bersandar di bahu lebar Chanyeol, tangannya mengikuti, kini melingkar membungkus pinggang yang lebih tinggi.

"Baek… Aku berkeringat… Lepaskan lepaskan…"

Baekhyun menggeleng.

Tawa bass Chanyeol menyapa indra pendengaran Baekhyun, ia juga bisa merasakan tubuh Chanyeol begetar karena tawanya, sungguh sesuatu yang paling ia rindukan tentu saja. Baekhyun nampaknya enggan melepaskan tubuh kekasihnya itu. "Aku kangen…" ujarnya yang dijawab satu kecupan singkat oleh Chanyol tepat di pucuk kepalanya.

"Aku juga…" bahu sempit Baekhyun diusap, Chanyeol meraih tubuh kekasihnya itu, menguncinya dalam pelukan. "Aku ingin melanjutkan bermesraan denganmu, tapi kita sedang berada di ruang latihan, sebentar lagi juga aku ada jadwal…"

Perlahan Baekhyun menarik tibuhnya, mendongak menatap mata Chanyeol yang memang tampak sedikit kecewa. "Kalau begitu bersiap-siaplah…"

"Eum." Chanyeol mengangguk, menunduk untuk mengecup pipi kiri Baekhyun. "Kau tunggu aku pulang di dorm saja ya."

Baekhyun tersenyum, mengangguk.

.

.

.

Udara dalam kamar dorm nampak berbeda, atau itu hanya perasaan Baekhyun saja. Tiga hari tidak meenghuni kamarnya membuat Baekhyun sedikit merasa asing, ia berjalan kesana kemari, menyemprotkan room spray favoritnya, kemudian terduduk kembali menyandar di head board.

Rasa bosan melanda, Baekhyun sudah menelusuri semua aplikasi di ponsel, juga membuka-buka majalah yang Chanyeol tinggalkan di ranjang kosongnya, Baekhyun sempat melompat dan berguling di ranjangnya, namun pada akhirnya ia kembali ke ranjang satunya, ranjang milik Chanyeol, mengambil bantal dan menghirup dalam-dalam aroma yang khas Chanyeol sekali.

"Baek?"

Dan Baekhyun sempat merasa terpergok ketika Chanyeol tiba-tiba datang tepat di saat ia tengkurap dengan memeluk dan menghirup bantal milik Chanyeol, macam seperti ulah sesaeng.

"Um…"

Baekhyun perlahan bangkit, mungkin hendak menjelaskan, namun Chanyeol mendahului. "Sudah tidak sabar yah? Sampai mencium-cium bantalku begitu?"

Yang kecil memasang wajah kesal kali ini.

"Ha ha, aku hanya bercanda…" ranjang yang ia tempati bergerak, Baekhyun akhirnya hanya bisa mengikuti pergerakan Chanyeol yang merangkak naik dan mengambil tempat tepat di sampingnya, dengan membawa tubuhnya menyandar bersama di headboard, Chanyeol membungkus tubuh Baekhyun dalam pelukan. "Aku sangat, sangat merindukanmu."

Baekhyun terdiam, kepalanya menyandar di dada yang lebih tinggi, pucuk kepalanya tepat berada di bawah dagu Chanyeol, punggungnya diusap pelan ke atas bawah, dan Baekhyun kemudian hanya bisa melingkarkan kedua lengan di pinggang kekasihnya. "Aku juga…" bisiknya pelan.

Mereka terdiam, cukup lama, entah waktu sudah berjalan bermenit-menit, atau berjam-jam, baik Baekhyun maupun Chanyeol tak sebegitu peduli, yang penting mereka bersama, merasakan hangatnya tubuh masing-masing, begitu saja.

"Chanyeol-ah, katakan, apa yang kau bicarakan dengan ibuku?" Baekhyun memutuskan memecah keheningan, ia merasa tangan yang mengusap punggungnya terhenti, lalu dada Chanyeol bergerak.

"Hanya sesuatu." Chanyeol bisa menggambarkan di otaknya bagaimana Baekhyun memasang wajah manyunnya ketika ia menjawab demikian.

"Kau begitu yah…"

"Memang hanya sesuatu…"

"Dan kenapa ibuku tiba-tiba memberimu surat, huh? Tak bolehkah aku ikut membacanya?"

Chanyeol terkekeh dengan suara bass-nya, memang kekasihnya itu sangat keras kepala, ia menarik tubuhnya, membuat jarak, dengan kedua tangan masih memegang bahu Baekhyun. "Kalau kau melakukan hal seperti kemarin lagi aku benar-benar tidak akan memaafkan."

Baekhyun terdiam seketika, pandangannya ia lempar ke arah lain.

"Baekhyunee…" Chanyeol terdengar merajuk. "Lihat kesini, berjanjilah tidak mengulangi hal seperti kemarin."

Baekhyun kemudian mengangguk.

"Kalau kau pikir melakukan itu untuk kebaikanku, kurasa itu salah." Chanyeol meyakinkan. "Aku tak tau tentang filosofi hidup atau apapun itu, kepalaku tak sampai untuk memikirkannya, tapi setidaknya aku tahu menyiksa diri sendiri untuk hal seperti itu bukanlah yang terbaik."

Baekhyun mengangguk lagi.

"Entahlah besok ada apa, yang aku tahu aku mencintaimu, kau juga mencintaiku kan? Jadi tidak usah memikirkan yang lain… Dan kalau memang, suatu hari nanti, entah kapan, takdir membawa ke jalan yang lain… Ah, aku tak mau membayangkannya."

Baekhyun menangkap nada sedih ketika Chanyeol berbicara, yah memang tak ada yang tak tahu takdir manusia. Ia kemudian tersenyum, tangannya beralih menuju kepala yang lebih tinggi, menangkupnya kemudian membawanya ke dalam sebuah ciuman.

Sudah lama rasanya tidak merasakan mencium baby giant-nya, Baekhyun tersenyum di sela Chanyeol menyesap bibir, mengecup, sesekali memainkan lidah ketika ia membuka bibir untuk kekasihnya tersebut.

"Baekhyun-ah?"

"Eum?"

"Tahu tidak apa yang ku pikirkan?"

"Apa?"

"Kalau benar suaru hari nanti kita tak bisa bersama lagi, itu pasti akan sangat menyedihkan… Maka dari itu, disaat kita masih bersama dan bisa saling mencintai seperti ini, tidakkah seharusnya kita memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya?"

Baekhyun memiringkan kepala.

"Kita tak boleh melewatkan waktu bercinta, Baek, selagi masih bisa."

Satu pukulan tertuju di kepala kiri Chanyeol.

"Uhhh…" Chanyeol mengusap kepalanya kesakitan.

"Kepalamu itu perlu dicuci. Mesum sekali."

"Yah, ada yang salah dengan ucapanku?" masih mengelus kepalanya, Chanyeol sempat-sempatnya menyeringai. "Kita saling mencintai, atas dasar suka sama suka kan sah-sah saja…"

Sekali lagi kepala Chanyeol kena pukul, kali ini sebelah kanan.

"Baekhyun, daripada kau memakai tanganmu yang cantik itu untuk memukul, lebih baik kau memakainya untuk hal yang lebih bermanfaat."

Baekhyun mendengus, entah kenapa ia merasa tahu kemana arah pembicaraan ini. "Untuk apa? Mengocok juniormu?"

Chanyeol sontak membuat erangan lembut di tenggorokannya.

Dan ia tak menyangka kalau Baekhyun benar-benar memajukan tubuh kemudian mengarahkan satu tangan ke celananya.

"Eh? Aku hanya becanda sayang…"

"Sudah, jangan sok munafik…" cibir yang pendek.

"Tidak, tidak. Ini sudah larut, dan kau baru saja sembuh. Iya kan?"

Baekhyun mendongak, entah ini perasaan macam terharu atau apa, ketika Chanyeol menghentikannya, entah kenapa ia jauh terlihat lebih seksi. "Yakin?"

"Iya… Sudah ayo tidur dulu saja, aku sudah lama sekali tidak tidur sambil memelukmu, rasanya kangen."

Baekhyun menarik tangannya, ia akhirnya mengikuti Chanyeol yang sudah merebahkan diri, satu tangannya terbuka lebar membuat ruang untuk Baekhyun.

"Besok kalau sudah sembuh, bolehkah aku meminta jatahku?" Chanyeol berbisik.

"Eum."

"Sepuasku, yah?"

"Eum…"

"Aku mau tiga ronde sebelum mandi…"

"Eumh…"

"Jalja… Baekhyunee…"

"Jalja…"

"Aku mencintaimu…."

"…."

"Baekhyun aku sangat mencintaimu… Kau tahu, rasanya tubuhku bukan milikku lagi, otakku penuh olehmu, dadaku juga, semuanya… Aku, sangat—"

Chanyeol tersenyum, sekali lagi menatap wajah tidur kekasihnya yang entah dari kapan menjadi luar biasa cantik, ia mengecup ujung kepala kekasihnya itu sebelum menjulurkan satu tangannya, menuju ke meja dekat ranjang, ia buka notes yang berada di dekat amplop surat berwarna pink…

.

'Tolong jagakan Baekhyun-ku'

-Mrs. Byun-

.

… Dan Chanyeol tersenyum lagi. Tak sabar menunggu hari esok, untuk mendapat 'jatah'nya, dan untuk berbagi isi surat yang ia kantongi, dengan Byun 'Park' Baekhyun.

- "Mencintaimu…"

Orang yang sangat Chanyeol cintai.

.

.

.

.

.

.

-Fin-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

'Happiness isn't about celebrating, bucket of flower, drinks, wedding,

Happiness is just about how we end up in the bed, just two of us, interwining fingers, saying love to each other, no one interfering, no one disturbing,

Just us, and

Love'

.

Aaaaaaaa ada yang mau epilogue?

Epilogue macem apa nih? *Thinkinghard

Anyway, as the conclusion

Chan love Baek, Baek love Chan, Baek's mom give them permission

KKKKKK

Jujur aja cerita ini sebenernya ditulis asal aja…

Author juga awalnya not a hardshipper but eventually watching them cute as puppy

Author jadi lemah T'T

Dan kalo boleh curcol nih author uda ada planning mau bikin sequelnya…

Kalo setuju sih…

Mau dilanjutin sequelnya or maybe another story?

Hehe maybe nunggu saran chingudeul dulu deh ya…

Btw ada yang kelihatan baru mampir di review nihhh, sapa dulu lah ya…

Chaneanbee: Happy end ~~~ /(^^)/

Byunchaca: gumawooooo ^^ this is happy right?

itabee: uljima bby, uljimaaaa ;'

nanaacho: noooo ngga ada yang bole pisahin merekaaaa wkwk

watermelon: eeeh jadi curcol :p Gwenchanaaaa fightiiing gumawooo

baixianlie: kilaaaaaat :'

Right, sementara itu dulu, wait for me ne? for another sequel, story, maybe oneshoot? hehehe

For epilogue? Review dan kasih saran please, kkk

gumawooooooooo