Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

HIS LIFE
.

.

.

Sorry for bad languange, typos and many more, happy reading!

.

.

Pintu utama diketuk kasar. Hari sudah menunjukkan pukul 10 pm. Matahari pun sudah tidak mengganggu kulit. Langkah kaki kecil terburu-buru untuk meraih gagang pintu yang terkunci itu dan memutar arah knop pintu dengan cepat. Wajahnya sedikit cemas terbukti dari bulir keringat yang menghias sekitar pelipis dan dahinya. Juga matanya yang memerah mungkin karna menangis. Ia menatap seseorang yang juga sama hal nya dengan dirinya. Sama takutnya. Mereka berdua masuk kedalam dengan lari kecil.

Detak jarum jam terus terdengar mengiringi rasa cemas mereka. Semuanya sedang tidak baik-baik saja. Si sulung merasa kesakitan yang mendalam di sekujur tubuhnya. Pucat, menggigil entah karna apa dan juga rasa pusing yang serasa akan menghancurkan kepala. Wanita dewasa tersebut terlihat memegangi kepalanya untuk mengukur suhu tubuh si sulung, mencari denyut nadi di pergelangan tangannya yang pucat dan gemetar.

Sedangkan seseorang dibelakangnya tampak ketakutan dan mulai mengeratkan kepalan tangannya sendiri. Ia tidak terlalu suka dengan situasi ini. Sungguh.

Mata si sulung terbuka. Ia menggulirkan pandangannya, mencari seseorang yang selalu membangkitkan semangatnya untuk menempuh kehidupan.

Tangannya terulur, mencoba menggapai seseorang di belakang si wanita dewasa. Si sulung juga meneteskan air mata dari mata kanannya. Matanya tidak bercahaya. Tapi ia tersenyum di dalam tangisnya dan mulai perlahan menurunkan tangannya kembali. Si wanita dewasa memberikan waktu untuk mereka berdua, jadi dia pergi.

Ia masih takut untuk mendekat. Air mata juga mulai menetes lagi di pipinya. Tapi tangan si sulung kembali terulur seakan memanggil untuk mendekat. Ia melangkahkan kaki perlahan, mencoba mendekat ke arah si sulung yang terkapar di atas kasur hitam. Ia duduk di bibir ranjang. Takut untuk lebih mendekat lagi. Si sulung masih terus tersenyum di tengah rasa sakitnya. Bibirnya pucat dan memutih. Rambutnya pun tidak begitu hitam lagi. Tapi dia masih tersenyum. Mencoba melawan semua rasa sakitnya.

Ia menurunkan tangannya kembali dan mencoba berdiri, dan ia pun berdiri. Berjalan menuju seseorang yang takut terhadapnya. Ia menyetarakan tingginya dengan orang tersebut dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Senyuman masih terpatri di bibirnya. Dan ia berkata ,"Maafkan aku. Tapi ini akan menjadi kali terakhir kau bisa menatapku seperti ini. Aku menyayangimu, Sasuke adikku"

Setelah itu ia terjatuh dan tidak bergerak. Sasuke membulatkan mata dan berteriak sampai pintu terbuka dan seberkas sinar matahari menyilaukan matanya...

"Sasuke bangun! Ini sudah pagi. Kau bisa telat ke sekolah!" teriak seorang remaja sambil membuka tirai jendela yang berusaha menutupi sinar matahari. Seseorang dibalik selimut itu menggeliat dan dengan cepat membuka mata lalu merubah posisi menjadi duduk. Ia mengalihkan pandangan ke arah langit-langit. Tubuhnya berkeringat. Wajahnya pun tampak sangat gelisah, ia menolehkan kepalanya kepada seseorang yang berdiri sambil menyiapkan perlengkapan sekolahnya dari lemari.

"Nii-san?"

"Cepatlah mandi. Ini sudah hampir terlambat. Kenapa kau berkeringat?"

"Mimpi. Kau... Baik kan?"

Remaja bermata hitam itu berhenti dari kegiatannya lalu mulai tersenyum simpul. "Apa yang kau mimpikan semalam? Apa itu tentang aku? Atau sesuatu?" Sasuke menggelengkan kepalanya lalu mulai beranjak dari ranjang. Pemuda itu berjalan pelan menuju kamar mandi untuk segera bersiap.

Itachi menatap punggung sang adik yang menghilang dibalik pintu. Kira-kira mimpi apa lagi yang menghampiri Sasuke?

.
.

"Selamat Uchiha-sama! Anda berhasil memenangkan pelelangan saham itu. Apa anda ingin membuat pesta kemenangan?" Ucap seseorang menyemangati atasannya. Itachi tersenyum hangat mendengarnya lalu berdiri dari kursi kebesarannya itu. Ia berjalan dan berdiri di depan kaca besar yang memperlihatkan pemandangan Tokyo dari atas. Itachi tidak pernah berpikir kalau ia bisa bertahan sampai saat ini. Dulu ia sempat berpikir untuk menyerah tapi ternyata usahanya untuk bertahan dapat membawanya seperti sekarang ini. Umurnya sekarang sudah mencapai 17 tahun. Entah sudah berapa banyak ia menghabiskan waktu di ruang kerjanya hingga tak memikirkan dirinya yang tengah sakit dan menderita.

"Aku permisi dulu Uchiha-sama"

Pintu pun tertutup rapat. Itachi mengeluarkan sesuatu dibalik laci meja kerjanya. Ia memegang sebotol pil bewarna putih yang masih banyak. Ia menghela kan napasnya pelan lalu membuka tutup botol obat itu dengan pelan. Ia benci obat. Ia benci harus bergantung pada obat sialan yang mungkin suatu hari akan membuatnya gila.

Itachi menelan dua pil satu persatu tanpa disertai air putih. Ia sudah sangat terlatih meminum obat seperti itu sejak dia kecil. Obat itu hanya sebagai penahan rasa sakit yang menderanya. Mungkin hanya bertahan selama beberapa jam saja.

Salah satu alasan ia tidak pernah memeriksakan dirinya ke dokter karena ia tidak ingin menyibukkan diri di rumah sakit dan meninggalkan Sasuke begitu saja. Ia tidak ingin perusahaan yang ia pertahankan sampai sekarang hancur sia-sia hanya karena dirinya yang bolak balik ke rumah sakit. Tapi sebenarnya Itachi ingin istirahat. Ia ingin bebas dari semua kertas-kertas menjijikkan yang selalu menghampirinya setiap hari.
Menandatangani surat-surat tidak berguna.

Tapi Sasuke menjadi salah satu penyangganya. Ia tidak ingin berhenti sebelum Sasuke benar benar-benar bahagia. Tidak sampai itu terjadi. Biarlah penyakit sialan itu menggerogoti dirinya sampai ia menghembuskan napas terakhir. Semua akan ia tinggalkan demi Sasuke. Demi adik kesayangannya. Tidak peduli seberapa keras lingkungan sekitar memaksanya untuk berhenti. Baginya kebahagiaan Sasuke adalah yang terpenting. Yah.. walau ia harus mengucapkan kebohongan dan menutupi semua kebenaran yang ada.

Ia menatap figura kecil yang menampilkan raut wajah bahagia ayahnya, ibunya, Sasuke dan dirinya sendiri. Wajahnya kembali bersedih mengingat semua momen pahit yang menimpa ayah dan ibunya. Awal dari segala masa sulitnya. Tuhan sudah menyiapkan satu rencana lain dibalik Kematian orang tuanya. Ia tidak menyalahi takdir. Ini memang sudah digariskan dalam hidupnya. Tapi usahanya memang tidak sia-sia.

Semua kecerdasan yang diberikan oleh Tuhannya telah menghantarkan dirinya menuju suatu kesuksesan yang menakjubkan untuk seusianya. Walau disertai penyakit mematikan yang tumbuh di dalam tubuhnya. Sebenarnya Itachi bisa saja pergi ke rumah sakit untuk berobat, tapi ia terlalu takut untuk satu fakta yang akan ia terima kelak. Ia takut dokter akan memvonis sisa hidupnya.

Ia takut hal itu akan memberatkan pikiran dan hatinya. Setidaknya biarkan ia larut dalam kebahagiaan singkat ini bersama Sasuke. Membiarkan keadaan yang memilukan ini mengalir layaknya sungai. Entah sampai kapan ujungnya nanti. Entah sampai mana batas kemampuan dirinya untuk terus bertahan hidup.

Ia tersenyum. Itachi tersenyum di saat dirinya tengah bersedih. Ia sudah terlalu banyak menutupi kebenaran dari diri Sasuke. Tapi ya, Sasuke sudah mengetahui kalau kedua orang tuanya tewas. Ia mencari kebenaran sendiri. Awalnya Sasuke sangat kecewa karena Itachi telah menyimpan rahasia besar tentang kedua orang tua mereka namun ia sadar, Itachi hanya berusaha untuk tidak membuat dirinya merasa sedih dan terpukul, maka dari itu Itachi berbohong. Sasuke mengerti.

Ia mengerti perjuangan Itachi untuk dirinya. Ia mencoba untuk mengerti. Tapi Sasuke tidak pernah mengetahui kebenaran kalau kakaknya itu tengah melawan penyakit mematikan yang menghinggapi tubuhnya. Ia tidak pernah tau akan hal itu. Selama ini Sasuke hanya dihantui mimpi buruk tentang kakaknya yang mati karna sakit.

Tapi Itachi enggan untuk jujur. Ia hanya tidak ingin Sasuke menjadi khawatir dan cemas. Ia tidak ingin Sasuke bersedih sama seperti saat dirinya tau akan kematian kedua orang tua mereka. Itachi hanya ingin yang terbaik.

TOK!TOK! Pintu itu diketuk pelan. Itachi menyimpan figura kecil itu ke dalam laci lalu menggumamkan kata masuk. Sasuke datang. Itachi berdiri dari tempat nya lalu menatap Sasuke heran. Ini belum jam pulang untuk anak sekolahan seperti Sasuke. Tapi kenapa dia pulang secepat ini?

"Sasuke? Kenapa kau disini? Bukankah masih jam sekolah? Apa kau membolos?"

"Biarkan aku bicara dulu. Aku kemari karna hari ini pulang cepat. Aku baru ingat kalau tidak membawa kunci cadangan jadi kupikir lebih baik kemari."

"Jalan kaki?"

"Taksi"

Itachi menganggukkan kepalanya. Ia menyuruh Sasuke untuk duduk sejenak dan memberinya segelas air putih. Sasuke menatap punggung sang kakak yang terlihat rapuh. Ia bingung, apa yang sudah ia lewatkan selama ini? Apa yang tidak ia ketahui tentang Itachi?

Matanya bergulir ke arah meja kerja sang kakak yang terlihat rapi dan terurus. Matanya sedikit menyipit kala melihat botol kecil berisi obat-obatan yang masih baru. Sasuke menatap Itachi dihadapannya. Dahinya berkerut, sejak kapan kakaknya itu mengkonsumsi obat-obatan?

"Itu milikmu?" Ucapnya dengan tangan yang terulur menunjuk botol kecil di atas meja. Itachi menggulirkan pandangannya kearah meja dan membulatkan mata, bagaimana ia bisa lupa akan obat sialan itu? Bagaimana bisa?

"Itu hanya obat penambah energi. Tidak perlu cemas,"

"Kau tidak berbohong lagi kan Nii-san?"

Itachi menganggukkan kepalanya lalu menyodorkan segelas air putih itu kepada Sasuke. Ia mulai mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyakan bagaimana kabar sekolahnya? Teman-teman dan hal semacamnya. Sasuke pun menjawab seadanya tanpa curiga sedikitpun. Sasuke mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah amplop.

Itachi memandangi amplop coklat yang telah dicap oleh kepala sekolah. Mungkin ini surat penting yang ditujukan untuknya?

"Ini... kau berprestasi adikku!" Ucap Itachi berbinar sambil terus membaca surat izin untuk mengikuti olimpiade Matematika di Kyoto. Pipi Sasuke memerah. Ia memang tidak pernah mengatakan apapun soal prestasinya ini. Ia tidak ingin mengganggu Itachi yang selalu sibuk.

"Apa kau mengizinkan ku untuk Olimpiade itu Nii-san?"

"Tentu saja adikku! Aku akan membayar berapa pun untuk Olimpiade mu Sasuke" jawabnya lalu mengacak surai dark blue Sasuke. Itachi dan Sasuke dikejutkan oleh suara ketukan yang berasal dari pintu. Sepertinya ada tamu penting yang bertandang. Setelah menggumamkan kata masuk, tamu penting itu pun menarik knop pintu dan masuk.

"Ah Haruno-san! Anda datang lebih cepat, kukira anda datang satu jam lagi"

"Aku sengaja datang cepat. Aku takut kau nanti tidak ada di ruangan saat aku kemari," jawab laki-laki yang sudah berumur itu. Ia datang dengan seorang gadis berambut layaknya bunga kebanggaan Jepang. Umur gadis itu pun tidak jauh beda dari Sasuke. Mungkin juga seumuran. Itachi mempersilahkan tamu pentingnya untuk duduk di kursi letter C di ruangannya. Sasuke memandangi gadis gulali itu dengan terkejut.

"Kau... Haruno Sakura kan?"

Mata gadis bernama Sakura itu menatap Sasuke dengan terkejut pula. Tidak disangka kalau Sasuke adalah adik dari Uchiha Itachi, salah satu kolega ayahnya itu. Laki-laki beumur itu menatap Sasuke dan Sakura bergantian. Sepertinya mereka satu sekolah.

"Kau mengenali putriku ini Uchiha-san?"

"Ayah, aku dan Sasuke-san itu satu sekolah,"

Laki-laki bermarga Haruno itu pun tertawa kecil. Ia menepuk pelan puncak kepala Sakura dan menatap Itachi dengan pandangan berbinar.

"Ah... perbaikan keturunan," ucapnya diselingi kekehan kecil Itachi dan delikan tajam dari Sasuke dan Sakura. Gadis itu menundukkan kepalanya malu. Bagaimana bisa ayahnya bercanda disaat seperti ini. Benar-benar memalukan. Itachi menyuruh Sasuke untuk keluar sebentar. Ini urusan bisnis antar perusahaan. Dan tentunya Keluarga Haruno bangga dapat menjadi Kolega terdekat Uchiha.

"Kau juga Sakura-chan, ini urusan bisnis ayah,"

"Kizashi-san benar Sakura. Kau bisa menemani Sasuke diluar," ucapan Itachi sukses membuat Sakura menampilkan semburat merah di pipinya. Segera saja ia berdiri dan keluar karena malu akan kata-kata Itachi yang sebenarnya biasa saja tapi entah membuatnya malu setengah mati.

Sasuke duduk di sebuah kursi panjang disebelah pintu ruangan kakaknya. Ia menoleh kesamping kala mendengar suara decitan pintu yang terbuka dan menampilkan gadis berambut gulali yang keluar dengan wajah yang memerah. Gadis itu terlonjak ketika mendapati Sasuke yang menatap dirinya.

"Duduk saja di sini. Sembari menunggu," tawar Sasuke sambil menepuk kursi kosong disebelahnya. Sakura mengangguk pelan lalu mulai berjalan untuk duduk di sebelah Sasuke. Hening. Tidak ada yang berbicara, Sasuke pun tampak tidak terlalu tertarik untuk berbicara. Sedangkan Sakura, wajahnya kian memerah dan jantungnya berdetak lebih cepat seakan ingin melompat. Sasuke benar-benar tidak baik untuk jantung rupanya.

"Wali kelasmu itu Tsunade-sensei kan?"

"Eh? I-iya benar,"

"Aku pernah melihatmu saat aku keruang guru. Kau tampak bersama dengannya," balas Sasuke memecah keheningan sesaat. Sakura menolehkan kepalanya untuk menatap Sasuke. Ia terperanjat saat Sasuke juga beralih menatapnya. Tapi bedanya, tatapan Sasuke biasa saja. Tidak terlihat ekspresi apapun yang tergambar.

"Aku tidak pernah tau kalau kau adalah adik dari Itachi-nii. Dia sering berkunjung kerumah ku,"

"Benarkah? Lalu apa pendapatmu tentang marga ku?"

Sakura menutup mulutnya setelah menyadari sesuatu. Dasar bodoh! Marga Sasuke kan Uchiha? Kenapa ia tidak menyadarinya dari awal? Gadis bodoh. "Maaf, aku baru menyadarinya,"

"Kau tinggal dimana Sakura?"

"Tidak jauh dari sini kok," jawab Sakura yang mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia menikmati percakapannya dengan Sasuke. Sepertinya mereka bisa menjadi teman. "Oh ya, kudengar kau mengikuti olimpiade Matematika? Apa itu benar?"

"Ya. Aku tidak sendirian, Naruto juga ikut olimpiade,"

"Apa? Si bodoh itu?"

"Iya. Aku dan Naruto,"

"Aku benar-benar tidak menyangka kalau Naruto bisa sehebat itu. Haha,"

Sasuke menatap Sakura yang terkekeh dalam ucapannya. Ia menilai Sakura sebagai gadis yang baik walau rambutnya agak aneh. Sasuke ikut tersenyum melihatnya. Sakura bisa menjadi teman yang baik untuknya. Sifat Sakura tidak terlalu membosankan seperti orang kebanyakan. Dia natural, itu saja.

"Kau tau? Matematika ku sangat buruk. Aku jarang sekali mendapatkan nilai A. Apalagi yang mengajar itu Kurenai-sensei,"

"Kau bisa belajar denganku Sakura. Kalau kau mau, nanti kau bisa datang ke rumahku. Pasti kakakku senang melihatmu,"

Mata Sakura berbinar mendengarnya. Sasuke memang baik sekali. Ah rasanya semangatnya untuk belajar timbul setelah Sasuke mengatakan demikian. Kurenai-sensei itu salah satu sensei kejam disekolah mereka. Jadi cukup wajar jika Sakura tidak berminat untuk belajar. Untung Sasuke memiliki hati yang baik. Jadinya ia tidak perlu khawatir akan nilainya lagi untuk kedepannya.

Cklek! Pintu telah terbuka. Haruno Kizashi keluar bersama Itachi. Kizashi menatap Sakura yang tengah tersenyum dan ceria. Tidak biasanya putrinya ini bahagia. Ada apa kira-kira?

"Ayah. Nanti kapan-kapan kita kerumah Sasuke ya? Aku mau belajar matematika darinya. Boleh ya?"

Kizashi tersenyum senang mendengarnya lalu mengangguk. Itachi tersenyum haru. Sepertinya Sasuke sudah mendapat seseorang yang bisa menjaganya kemudian hari. Ia tidak salah dalam memilih. Itachi kembali mengingat apa yang baru saja ia bicarakan bersama Kizashi.

Flashback

"Jadi ada hal apa Itachi?"

"Kizashi-jii... aku tau selama berpuluh-puluh tahun keluarga Uchiha dan Haruno itu berhubungan baik. Kau dan ayahku pun adalah sahabat kan? Aku tau kau banyak berjasa dalam perusahaanku. Tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu. Tapi aku sangat sangat berterima kasih padamu selama ini," ucap Itachi panjang lebar lalu mulai membungkukkan badannya. Kizashi tersenyum haru mendengarnya lalu menarik Itachi untuk duduk tenang. Ia menepuk bahu Itachi dengan pelan.

"Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Aku tau selama ini kau dipenuhi beban berat yang harus kau tanggung sendirian. Disamping itu, kau dan adikmu hidup sebatang kara. Jadi ini merupakan suatu keharusan yang mesti aku lakukan demi menghormati ayah dan ibumu, Itachi,"

Itachi menutup matanya lalu tersenyum. Ia menatap Kizashi dengan penuh arti.

"Boleh aku minta tolong padamu Jii-san? Aku sangat menghargainya jika kau bersedia menolong ku?" Tanya Itachi hati-hati. Kizashi menganggukkan kepalanya lalu mulai mendengar permintaan Itachi.

"Aku ingin menjodohkan Sasuke, adikku dengan Sakura, putrimu,"

"Apa? Tapi apa alasannya Itachi? Kenapa kau mau menjodohkan mereka sedini ini? Jangan anggap terlalu serius ucapanku sebelumnya. Haha,"

"Aku serius Jii-san. Aku bahkan tidak pernah seserius ini dalam bertindak,"

Kizashi menghentikan kekehan dari mulutnya dan menanggapi serius perkataan Itachi. Laki-laki tua itu pun tampak mempertimbangkan permintaan Itachi lalu tersenyum sambil mengangguk setuju. Ia memberi lampu hijau pada Itachi.

"Tapi apa alasanmu?"

"Aku hanya ingin Sasuke mendapatkan seseorang yang bisa mengurus dan mencintainya dengan tulus. Aku tidak ingin Sasuke sendirian,"

"Aku tidak mengerti. Sasuke dan Sakura saja masih berumur 12 tahun. Apa alasan lainnya Itachi?" Pria itu menekan Itachi dalam setiap perkataannya. Ia ingin tau alasan utama Itachi memutuskan hal itu. Ia tidak ingin sembarangan menerimanya. Karna ia juga butuh penjelasan dari Itachi.

"Aku takut Jii-san. Aku terlalu takut kalau nanti aku tidak bisa menemani Sasuke seperti biasanya. Aku takut akan meninggalkannya dalam kesedihan,"

"Memangnya kau mau pergi kemana?"

"Jauh sekali... Tapi entah kapan,"

Kizashi mulai merasakan udara disekitarnya memanas. Hatinya cukup terenyuh mendengar pernyataan Itachi. Ia tau apa maksud dibalik ucapan si sulung Uchiha itu. Kizashi memijit tengkuknya lalu menghembuskan napas pelan. Ia menatap mata Itachi yang mulai dipenuhi oleh cairan bening yang menggumpal dimatanya. "Ada apa Itachi. Kenapa kau berbicara tentang kematian?"

"Ini menyangkut soal diriku. Kumohon pertimbangkan permintaan ku Jii-san, aku tidak ingin Sasuke kesepian,"

"Ya aku mengerti. Tapi apa inti dari kata-katamu?" Tanya Kizashi penuh selidik. Itachi mengalihkan pandangannya pada foto Sasuke kecil yang terpajang di dinding ruangannya. Foto lama saat Sasuke masih Berumur tiga tahun. Cairan bening itu jatuh membasahi pipi kanannya. Itachi telah berusaha untuk tidak menangis tapi dia hanyalah manusia. Dengan helaan napas panjang lalu mengusap matanya Itachi menatap Pria Haruno didepannya ini dengan tatapan pedih dan menjawab pertanyaannya,

"Aku sakit keras Jii-san,"

End of Flashback

TBC

A/n : Hola minna-san! Sudah berapa lama ya fic ini kutinggalkan? Maaf ya sebelumnya hehe… so what do you think guys? Saya tau ini gaje banget sumpah hehe.. review nya ya minna…

Selamat Hari Raya Idul Fitri ya semuanya…

(fic ini memang alurnya cepat. Jadi ya gitu deh)

Arigatou Gozaimasu

Salam,

Beebeep