Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.
His Life

.

.

.
Sorry for bad languange, typos, and many more, happy reading!

.

.

.

"Kau tidak pernah bilang kalau kau satu sekolah dengan Sakura?"

"Mana kutahu. Kau juga tidak pernah bilang kalau Kizashi-jii itu adalah ayah dari Sakura?" Balas Sasuke. Itachi tersenyum singkat lalu mulai mengetik sesuatu di Laptop miliknya. Ia melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sedangkan Sasuke lebih memilih untuk tidur di sofa tamu ketimbang menatap sang kakak yang tengah berkutat dengan laptop nya.

Itachi menghentikan gerakannya lalu melirik Sasuke yang sudah ia pastikan tertidur. Itachi beranjak mendekati sang adik yang mulai tertidur pulas di atas sofa. Itachi mensejajarkan tingginya dengan Sasuke yang terbaring tidur. Ia mengusap puncak kepala Sasuke dengan sayang dan menatap dengan pandangan pedihnya. Pandangannya mulai memburam, air mata mulai berkumpulan di mata hitamnya. Ia tak sanggup membayangkan hidup Sasuke yang akan kesepian karna kepergiannya. Sungguh ini sulit untuk dimengerti. Itachi terlalu menyayangi sang adik bahkan melebihi dirinya sendiri. Hal itu membuatnya lupa akan diri sendiri. Tapi tak apa, ia akan berusaha untuk bertahan sampai Tuhan benar-benar memanggilnya untuk berpulang dan berkumpul kembali bersama orang-orang yang ia sayangi. Namun, sebelum hari itu tiba... ia akan mencarikan pengganti dirinya untuk Sasuke kelak. Seseorang yang bisa mencintai dan menyayangi Sasuke dengan tulus. Sasuke hanya membutuhkan itu dalam hidupnya sekarang. Itachi yakin, suatu saat nanti Sasuke akan bahagia bersama seseorang yang berdiri disampingnya. Semoga saja.

Itachi menggigit bibir bawahnya. Ia menahan air mata dan isakan dari matanya. Jika sudah menyangkut Sasuke, dirinya pasti selalu dikelilingi oleh perasaan pedih dan takut.

"Sasuke.. entah berapa lama lagi aku bisa bertahan. Apa aku masih bisa mengusapi kepalamu seperti ini lagi?" Ucapnya terisak. Ia tau Sasuke tidak akan mendengar tapi Itachi tidak bisa diam lebih lama lagi. Ia ingin menghabiskan hidupnya bersama Sasuke. Mengumbar senyuman dan tawa bersama. Menemani Sasuke menuju altar pernikahan bersama belahan jiwanya kelak. Ia ingin semua itu terjadi dan dirinya ada di setiap momen membahagiakan itu.

Itachi berdiri lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia melirik Sasuke dari tempatnya duduk dan tersenyum singkat. Sasuke tidak sendirian. Ia memiliki banyak teman, bibi Kushina dan mungkin juga Sakura yang mungkin akan menjadi pendamping hidupnya. Setidaknya ia tidak benar-benar sendirian.

Hari demi hari berlalu. Sasuke pun selalu disibukkan dengan olimpiadenya yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu satu Minggu lagi. Hampir setiap malam ia tidur larut di atas meja belajarnya, itu membuat Itachi tidak tega melihatnya. Ia takut Sasuke kelelahan dan jatuh sakit karna terlalu memforsir waktu.

Pagi ini Sasuke menyiapkan beberapa buku matematika dan buku kosong di atas meja ruang tamu. Ia juga menyiapkan minuman dingin yang ia ambil dari dalam lemari es. Itachi hanya memandangi sang adik yang tengah menyiapkan beberapa hal. Itachi menaruh dokumen yang ia pegang lalu menghampiri Sasuke di ruang tamu. Ia tersenyum melihat Sasuke.

"Untuk apa semua ini?"

"Sakura akan datang. Dia ingin belajar,"

Itachi mengedipkan matanya beberapa kali, Sakura si gadis gulali akan datang berkunjung kerumah mereka. Memangnya Sakura tau lokasinya?

"Kau juga Nii-san, sebaiknya ganti pakaianmu,"

"Tentu saja Sasuke. Kau tidak perlu mengawasiku," balasnya diselingi tawa kecil. Itachi melenggang ke dalam kamarnya lalu mulai berbenah. Sedangkan Sasuke masih menyiapkan beberapa hal yang menjadi keperluannya. Ia melirik jam di dinding. Tinggal beberapa menit lagi Sakura kemari.

"Nii-san?! Apa kau sudah berganti pakaian? Kalau sudah, bantu aku untuk menyapa Sakura nanti," ucap Sasuke setengah berteriak. Itachi segera keluar dari kamar dengan pakaian santainya namun elegan. Ia terkekeh, Sakura datang hanya untuk belajar bersama bukan untuk berpesta ataupun makan malam. Sasuke hanya sedikit berlebihan saja.

Itachi duduk di sofa tamu dan menyalakan televisi. Ia menatap Sasuke yang turut duduk disampingnya dan ikut menonton. Tapi mata Sasuke tak pernah lepas dari jarum jam yang terus bergerak. Ia terus memperhatikan jam itu hingga bermenit-menit entah untuk apa. Itachi pun rasanya tertarik untuk bertanya,

"Apa ada sesuatu di jarum jam?"

"Aaa.. bukan apa-apa. Aku hanya tidak mengerti," jawabnya lalu menundukkan kepala. "Apa yang tidak kau mengerti Sasuke?"

"Bisakah waktu berhenti berjalan Nii-san?"

"Jika kukatakan bisa, kau mau apa?"

"Aku mau melukismu Nii-san," Itachi hanya terdiam dan tersenyum kecut. Memberhentikan waktu hanya untuk melukis? Apa maksudnya? Sasuke memandangi mata kakaknya dengan senyum gembira. Ia tau kakaknya bingung. Lalu Sasuke berdiri dari tempatnya dan beranjak mengambil sebuah kamera dari balik laci meja.

"Lihat semua foto ini. Wajahmu terlihat semakin kusut dari waktu ke waktu, editan kamera pun tak berfungsi," kata Sasuke sambil menunjukkan beberapa foto Itachi yang tidak siap untuk difoto. Beberapa foto itu diambil saat Itachi bekerja, makan, tersenyum, bahkan saat dirinya tertidur. Tapi ucapan Sasuke memang benar, dirinya tampak kusut dan pucat. Bahkan semakin pucat disetiap foto tersebut.

"Lalu apa hubungannya dengan memberhentikan waktu?" Tanyanya membuat Sasuke menerawang keatas, "temanku pernah berkata, memberhentikan waktu itu sama saja dengan memberhentikan pergerakan seseorang. Jadi kupikir, aku bisa melukismu karna wajah kusut dan pucatmu itu dapat berhenti juga," jawab Sasuke apa adanya.

"Kau bercanda? Aku tidak apa-apa kok? Dan juga-" ucapannya terputus kala mendengar seseorang yang mengetuk pintu dengan pelan. Sasuke mengalihkan pandangannya ke pintu lalu berlari kecil sembari menarik tangan Itachi untuk ikut bersamanya menyambut tamu yang pastinya Sakura. Itachi memutar knop pintu lalu membukanya perlahan. Menampilkan seorang gadis rambut pink berusia 12 tahun. Ia datang bersama ayahnya, Kizashi.

"Itachi. Aku titip Sakura oke? Nanti kujemput kembali sore hari," pintanya pada Itachi. Sasuke menarik tangan Sakura untuk masuk kedalam. Mereka meninggalkan Itachi dan Kizashi sendiri di pintu utama. Kizashi tersenyum melihat kedekatan Sasuke dan Sakura padahal mereka baru beberapa waktu lalu bertemu dan bercakap-cakap.

"Jii-san, sebaiknya kau masuk dulu,"

"Tidak usah Itachi. Aku juga masih ada urusan hari ini. Walau hari minggu Haha," balasnya dan terkekeh. "Itachi, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku,"

"Ha'i," setelah itu Kizashi membalikkan badannya dan pergi. Itachi menutup pintu lalu berjalan menghampiri Sasuke dan Sakura. Keduanya tampak bersemangat dalam belajar. Sakura tampak antusias mendengarkan Sasuke yang mengajarinya. Ia sesekali berkomentar tentang bagaimana mencari pemfaktoran atau hal semacamnya. Sasuke pun tidak keberatan menjawab pertanyaan Sakura. Mereka tampak dekat sekali. Itachi jadi tidak merasa Sasuke sendirian. Ia melirik jam di dinding. Ia harus meminum obat dua jam lagi, atau jika tidak sakitnya akan kambuh lagi. Itachi menderita sakit sejak ia masih sangat kecil. Dokter memvonis penyakit itu saat orang tuanya masih hidup. Sebelum kedua orang tuanya meninggal, Itachi sempat diberi pengobatan. Tapi semenjak orang tuanya tewas, ia jadi hanya bisa meminum obat penghilang rasa sakit untuk meredakan sakitnya. Itachi menderita Kanker Darah atau Leukemia. Ini merupakan faktor genetik, Kakek Itachi pun mengalami hal sama. Ia meninggal di usia 52 tahun karna penyakitnya. Tak jarang ia mengalami sakit kepala yang mematikan, sakit pada persendian, dan juga darah yang mengalir dari hidung. Muntah pun ia sering sekali. Sebenarnya, penyakitnya sudah cukup parah tapi berkat Tuhan ia masih bisa bertahan sampai saat ini tanpa pengobatan secara intensif. Dari tahun ke tahun ia hanya meminum obat penghilang rasa sakit. Itu sudah cukup untuk meredakan sakit kepala atau pada tulang belakang.

Itachi duduk di sofa dekat dengan Sasuke dan Sakura. Ia mendengarkan bagaimana Sasuke menjelaskan beberapa soal sulit pada Sakura. Sasuke terlihat melupakan rasa lelah dan bosannya saat Sakura kemari. Dan soal bibi Kushina yang akhir-akhir ini tidak kelihatan itu dikarenakan ia menemani saudaranya yang sedang melahirkan di Distrik Kanto. Jadinya ia tidak berada dirumah, biasanya ia menghabiskan waktunya di kediaman Uchiha di hari Minggu bersama Naruto atau suaminya. Tapi saat ini dia sedang pergi. "Nii-san? Kau melamun?" Tanya Sasuke yang menatapnya juga Sakura. Itachi menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Tidak. Lanjutkan saja belajar kalian. Aku hanya mengawasi,"

Sasuke dan Sakura hanya tersenyum singkat kemudian melanjutkan belajar mereka. Itachi menatap Sakura yang fokus pada buku yang ia pegang. Apakah suatu saat nanti Sakura bisa mencintai Sasuke? Apa mereka bisa bersama nanti? Terkadang Itachi terlalu takut untuk menerima kenyataan kalau Sakura mencintai laki-laki selain adiknya itu. Kalau itu benar terjadi, lalu pada siapa Sasuke akan bersandar nanti? Itachi dengan cepat menggelengkan kepalanya. Itu mustahil terjadi, melihat betapa dekatnya mereka padahal baru beberapa waktu lalu bertemu.

Itachi memutuskan untuk beranjak ke dapur dan menyiapkan makanan untuk keduanya. Siapa tau mereka lapar. Ia melangkahkan kaki dengan pelan dan melewati sebuah cermin besar di dekat tangga. Itachi berhenti sebentar lalu menatapi refleksi dirinya di cermin. Seketika ia mengingat kata-kata Sasuke yang mengatakan kalau dirinya itu kusut. Ia menatapi wajahnya lamat-lamat. Ternyata, apa yang dikatakan oleh Sasuke ada benarnya. Wajahnya memang kusut dan pucat, rasanya semakin kacau dari waktu ke waktu. Apa umurnya tidak lama lagi? Ia melihat sebuah ruam kebiruan disekitar lehernya. Memang ruam yang kecil tapi itu mengerikan. Ia juga memperhatikan ruam biru lainnya disekitar tangannya, kira-kira apa ini pertanda kalau ajalnya sebentar lagi? Apakah ia tidak bisa untuk terus bersama Sasuke?

"Kuharap kita masih bisa bersama Sasuke. Sebagai kakakmu, aku tidak tega melihatmu sendirian." Ucapnya sendiri lalu melirik Sasuke yang tengah bersabar dan terkadang tertawa bersama Sakura. Ada perasaan senang dihatinya kala melihat senyum tulus Sasuke. Ia bisa begitu bahagia bersama Sakura. Itachi tersenyum lalu pergi ke dapur. Ia sudah cukup ahli dalam memasak, mengingat dirinya yang telah ditinggalkan oleh sang ibu dan itu mengharuskan dirinya untuk memasak. Tapi itu adalah suatu nilai plusnya. Dan masalah pendidikan, sepertinya itu tidak perlu ditanya lagi. Itachi memang tidak bersekolah dan tidak memiliki ijazah apapun. Tapi kecerdasan yang ia miliki sudah setara dengan seorang Professor. Jadi sekolah masih terlalu kecil untuk Itachi. Kelebihan yang ia miliki memang hadiah dari Tuhan untuknya. Walau hidup sebatang kara tanpa keluarga lain bersama adiknya, ia bisa mengurus diri. Setidaknya itu alasan dibalik pemberian Tuhan.

Sedangkan Sasuke dan Sakura, mereka berdua tampak menikmati belajar bersama yang mereka lakukan. Sakura juga tidak sebodoh yang Sasuke kira, ia merupakan gadis yang pintar hanya saja sedikit pemalas untuk belajar. Sakura dengan cepat menangkap apa yang Sasuke jelaskan, tidak perlu dua kali dijelaskan yah walau ada beberapa yang sulit untuk dimengertinya. "Sakura, apa kau haus?" Tanya Sasuke lalu menyodorkan minuman dingin yang ia ambil dari lemari es. Sakura menganggukkan kepalanya lalu menerima minuman yang diberi Sasuke. Ia memberhentikan kegiatannya lalu minum sebentar. Setelah selesai, ia menaruh minuman itu di atas meja lalu melirik Sasuke yang masih berkutat dengan angka-angka menyebalkan itu. "Kau ini tidak bosan melihat angka itu Sasuke?"

Sasuke berhenti lalu menatap Sakura. Sedetik kemudian, ia menggeleng lalu melanjutkan gerakan tangannya untuk menulis atau menghitung. Sakura mengendikkan bahunya lalu kepalanya ia tumpukan pada kedua tangannya sambil menatap Sasuke intens. "Kau ini kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?" Tanya Sasuke tanpa melirik dan terus menulis. Sakura hanya tertawa kecil kemudian menggeleng. Ia terus menatap Sasuke yang sekarang pipinya mulai memerah. Sasuke tau dan sadar kalau sedang ditatapi. Itu membuatnya malu dan jengah juga. Apalagi ditatapi seorang gadis, benar-benar memalukan.

"Wajahmu lucu kalau sedang serius seperti itu. Kira-kira kalau kau marah, apa wajahmu jadi menyeramkan ya?"

"Sakura. Aku bisa saja marah sekarang kalau kau terus mengejekku Seperti itu,"

Sakura tertawa melihat Sasuke yang malu. Ia lucu sekali. "Aku tidak mengejekmu, kau ini menuduhku sembarangan,"

"Hn. Terserah padamu lah," balas Sasuke lalu berhenti menulis dan mulai merenggangkan jari-jarinya, pegal. Sakura menyandarkan dirinya di sofa. Ia menguap, ujung matanya pun mengeluarkan sedikit air. Bukan mengantuk, tapi mulai bosan dengan situasi ini. Ia ingin istirahat sejenak dan mengobrol dengan Sasuke. Tapi Sasuke terlihat seperti menyibukkan diri dengan soal-soal matematika itu.

"Sasuke, menurutmu bagaimana Kurenai-sensei itu?"

"Dia baik dan cara mengajarnya pun jelas," Sakura membulatkan matanya, apa tadi Sasuke bilang kalau guru satu itu baik? Apa Sasuke buta? "Bagaimana bisa kau mengatakan kalau Kurenai-sensei itu baik? Dia itu guru yang tidak kusenangi asal kau tau. Cara mengajarnya pun tidak jelas, dia hanya bisa marah-marah tidak jelas di dalam kelas," balas Sakura tidak setuju. Ia melipat tangan di depan dada dan memalingkan wajah kesamping. Terlihat dari sorot matanya kalau ia sedang kesal. Sasuke menatapnya dengan datar. Sakura ini keras kepala.

"Itu hanya pemikiranmu saja Sakura. Dia marah karna muridnya yang nakal. Bukan karna hal lain,"

"Jadi kau mau bilang kalau aku ini nakal? Kau jahat sekali," kata Sakura lalu melihat Sasuke dengan kesal. Sasuke hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Sakura. Gadis itu memang perasa. Sasuke memajukan tangannya lalu menyentil dahi lebar Sakura. Reaksi Sakura pun semakin kesal karnanya. Ia mengusap dahinya yang disentil oleh Sasuke. Itu cukup sakit.

"Kau ini keras kepala rupanya."

Sakura hanya diam. Ia melihat tatapan mata Sasuke yang tidak biasa. Seolah ada ekspresi lain yang ia sembunyikan dari balik matanya. Dan itu membuat Sakura penasaran. Sasuke menolehkan pandangannya ke dapur. Kira-kira kakaknya sedang apa?

"Oh ya Sakura, apa kau punya kakak?"

"Iya. Aku punya kakak laki-laki. Namanya Sasori. Mungkin seumuran dengan kakakmu,"

Sasuke menganggukkan kepalanya lalu memainkan pensil di tangannya. "Apa kakakmu sering minum obat Sakura?" Tanyanya membuat Sakura bingung. "Yah... kalau dia sedang sakit saja,"

"Begitukah?"

"Memangnya kakakmu kenapa Sasuke? Ia sering minum obat?"

Sasuke hanya diam saja. Ia mengingat-ingat. Memang. Ia sering melihat Itachi meminum sebuah pil di pagi hari ataupun sore. Terkadang malam hari juga. Sasuke menganggukkan kepalanya dan tidak berkata apapun lagi setelah itu. Sakura hanya tersenyum simpul. Ia menepuk pundak Sasuke dengan pelan. Dan itu menciptakan suatu kenyamanan tersendiri bagi Sasuke.

"Jika ia sakit pasti ia minum obat. Jadi kurasa kau tidak perlu khawatir. Itachi-nii pasti baik-baik saja,"

"Kuharap ia tidak menyembunyikan apapun dariku," balas Sasuke lalu menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin Itachi menyembunyikan sebuah rahasia besar lagi. Cukup kematian orang tua mereka yang Itachi sembunyikan. Dan hal itu pun serasa membunuh Sasuke. Setidaknya jangan sampai mimpi yang selalu menghantui Sasuke hampir setiap malam menjadi pertanda akan terjadinya sesuatu terhadap sang kakak. Jangan sampai itu terjadi.

"Apa kau sering memimpikan keluargamu Sakura?"

"Saat tidur?" Sasuke mengangguk.

"Jarang sih. Tapi kalau sekalinya mimpi, pasti menjadi kenyataan,"

"Maksudmu?"

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu mengibaskan tangannya dan tersenyum kikuk. Untuk apa menceritakan mimpi yang isinya dimarahi ayah dan ibu ketika tau dia mendapat nilai ulangan kecil? Itu akan menjadi aib baginya. Jika Sasuke tau, maka habislah sudah. Sasuke mengerucutkan bibirnya. Sakura payah.

"Sudah jangan bahas tentang mimpi. Aku jadi malu," ujar Sakura lalu menutupi seluruh wajahnya yang memerah dengan kedua tangan. Sialnya, Sasuke juga memerah. Entah apa yang ia pikirkan, laki-laki memang sensitif dengan kata 'mimpi' dan 'malu'. Jadi ya.. begitulah😂

"Daripada itu, Itachi-nii sedang apa Sasuke? Dia bisa masak ya?"

"Hn, dia bisa dalam segala hal Sakura,"

Sakura berbinar mendengarnya. Kebetulan ia belum pernah mencicipi masakan laki-laki. Mungkin saja jika Itachi yang membuat makanan akan jauh lebih enak dibandingkan masakan ibunya sendiri. Membayangkannya saja membuat mulut Sakura berair. Ia ingin makan sekarang juga.

"Aku ke dapur dulu. Ingin lihat apa yang ia buat," ucap Sasuke lalu berdiri dari karpet bulu. Sakura menganggukkan kepalanya dan menunggu Sasuke sambil memeriksa kembali soal matematika yang diisi oleh Sasuke. Seketika matanya membulat. Sasuke benar-benar memiliki otak emas!

Di dapur, Itachi dengan serius membuat Takoyaki dan Okonomiyaki. Takoyaki adalah salah satu cemilan populer khas Jepang. Bentuknya bulat, dibuat dari adonan tepung terigu dan diisi dengan potongan gurita didalamnya. Sedangkan Okonomiyaki, terbuat dari bahan terigu diencerkan menggunakan dashi, ditambah kol, dan telur ayam. Bentuknya hampir mirip omelet. Dan digoreng menggunakan penggorengan datar. Sasuke pun juga menyukainya. Untuk Sasuke, topping Okonomiyaki nya ditambah tomat karna tomat adalah favoritnya. Entah enak atau tidak. Tapi sungguh ini menggiurkan. Itachi tersenyum atas karyanya. Meski belum benar-benar selesai.

Sasuke datang ke dapur dan melihat sang kakak yang serius. Ia tersenyum melihat Itachi. Sasuke berjalan lalu duduk di salah satu kursi makan. Itachi melihatnya dan tersenyum. "Kenapa kemari? Kau lapar? Aku belum selesai. Jadi bersabarlah,"

"Bukan itu. Aku hanya ingin tau apa yang buat. Dan sepertinya kau membuat cemilan itu lagi," jawab Sasuke dan tersenyum. Itachi hanya diam saja. Ia dengan serius memasukkan potongan gurita didalam cetakan dan menuangkan adonan tepung diatasnya. Tidak lupa mengolesi cetakan tersebut dengan minyak. Lalu ia menutup cetakan. Setelah itu ia memasaknya hingga matang. Itachi menepuk telapak tangannya yang penuh dengan tepung lalu mulai memperhatikan Okonomiyaki nya yang hampir matang dan siap untuk diangkat dari penggorengan.

Sasuke membantu kakaknya mengambil mayonaise dari dalam lemari. Saat Sasuke berbalik, setitik darah segar jatuh dari hidung Itachi. Ia membulatkan matanya. Dengan cepat Itachi menutupi hidungnya yang mimisan dan mengambil tisu.

"Sasuke tolong kau angkat Okonomiyaki nya. Aku ke kamar mandi sebentar," ucap Itachi dan berjalan terburu-buru. Sasuke menutup lemari itu setelah mendapat apa yang ia cari. Ia bingung kenapa kakaknya tiba-tiba ingin ke kamar mandi. Buang air mungkin? Sasuke dengan cekatan mengangkat Okonomiyaki itu dari penggorengan dan menaruhnya di piring yang sudah Itachi siapkan.

Ia menyiapkan tiga piring dan menata Okonomiyaki itu. Ia mengalihkan pandangan ke kamar mandi yang tertutup. Terdengar suara air, mungkin kakaknya itu benar-benar buang air. "Nii-san! Aku sudah menyiapkan dan menatanya. Aku sudah menambahkan mayonaise nya" teriak Sasuke. Entah apa isi dari makanan satu ini. Mungkin cumi-cumi? Sasuke juga menaburkan Katsuoboshi diatasnya setelah selesai.

Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Itachi dengan wajah pucat nya. Sasuke mengalihkan pandangan ketika Itachi keluar kamar mandi. "Kenapa kau? Buang air?"

"Y-ya begitulah," jawabnya terbata.

"Aku sudah menyiapkan semuanya, apa sebaiknya kubawa ke depan? Atau kau mau menunggu Takoyaki nya masak?" Tanya Sasuke. Itachi mendekatinya lalu melihat makanan yang sudah tertata diatas piring. Tidak buruk juga hasil karya Sasuke. Ya walau disalah satu piring, tomat nya kebanyakan.

"Bawa saja piringmu dan Sakura ke depan. Aku akan mengurus sisanya,"

Sasuke mengangguk dan membawa dua piring ke tangannya. Ia yakin Sakura lapar. Sungguh, ini terlihat sangat enak.

Itachi melirik sang adik yang mulai menjauhi dapur dan menemui Sakura yang berbinar dan kelaparan setelah melihat sepiring Okonomiyaki ditangan Sasuke. Itachi terkekeh melihat keduanya. Lalu mata Itachi beralih melihat setitik darah di lantai. Belum sempat ia bersihkan dan Untung Sasuke tak menyadari itu sama sekali. Keadaan semakin buruk saja. Itachi meraih sebotol pil dari dalam lemari atas di dapur. Ia mengambil dua pil sekaligus dan menelannya. Padahal belum waktunya untuk minum obat tapi kepalanya mulai terasa sakit. Itachi menggebrak meja dengan kasar dan merosotkan dirinya sendiri ke sisi meja. Itachi menangkupkan tangannya ke wajah dan mulai terisak.

Air mata juga mulai mengumpul dan memenuhi matanya, suara sesenggukan mulai terdengar dari mulutnya. Itachi mengepalkan tangan dan memukul lantai dengan keras tak peduli tangannya yang memerah karna benturan di lantai. Mungkin tulang jarinya retak? Itachi menangis. Ia menumpahkan semua emosinya dalam tangisan. Seberapa keras ia berusaha untuk tak menangis, tapi ia tidak tahan. Dan akhirnya ia menangis juga. Itachi segera berdiri dan mengusap matanya yang basah. Ia membuka penutup cetakan Takoyaki dan membaliknya dengan lidi.

Tapi cairan bening itu tidak berhenti keluar dari matanya. Ia terus saja terisak. Jarum jam yang berdetak serasa seperti penghitung mundur kematiannya. Itachi menggelengkan kepalanya lalu menaruh pil putih itu kembali pada tempatnya. "Tuhan, beri aku kesempatan untuk melihat Sasuke bahagia... beri aku kekuatan," ia berucap sendiri dan menjambak rambutnya frustasi. Leukemia... tentu bukan penyakit biasa. Siapapun penderitanya pasti dihadapkan pada satu kenyataan bahwa umur mereka tidak lama lama lagi. Bertarung melawan kematian. Mungkin hanya beberapa persen dari mereka yang selamat. Itu bagi mereka yang memiliki niat untuk sembuh. Entah dengan obat-obatan ataupun kemoterapi atau donor sumsum belakang. Tapi Itachi mendapatkan suatu keajaiban yang jarang dimiliki oleh orang lain, suatu keberuntungan dari Tuhan. Ia dapat bertahan hingga sekarang tanpa pengobatan apapun. Hanya meminum obat penghilang rasa sakit, itu saja. Banyak orang diluar sana yang menginginkan hal serupa seperti Itachi. Tetap bisa bertahan dengan dua pil penghilang rasa sakit tanpa harus bolak-balik kerumah sakit untuk berobat atau melakukan terapi. Ini sudah rencana Tuhan.

Itachi tersadar dari lamunan nya lalu membuka penutup cetakan itu dan melihat Takoyaki nya yang sudah matang. Dengan cepat ia mematikan kompor itu dan mengangkatnya. Ia menyiapkan sebuah piring saji. Menaruhnya dan menaburi katsu busyi diatasnya tak lupa mayonaise dan saus bulldog. Ia menatanya Serapi mungkin agar terlihat lezat. Setelah selesai, Itachi membereskan semua peralatan memasak dan segera mencucinya. Takoyaki itu pasti enak. Ia jadi tidak sabar menikmati cemilan itu bersama Sasuke dan Sakura.

"Itachi-nii? Apa kau sudah selesai memasaknya? Kami menunggumu untuk makan bersama-sama,"

Itachi terlonjak. Ia kaget mendengar suara Sakura yang tiba-tiba. Ia membalikkan badan dan menatap Sakura dengan senyuman. "Kalian belum memakan Okonomiyaki nya?"

"Ano... kami ingin makan bersama mu Itachi-nii," jawab Sakura sambil menautkan kedua jarinya. Itachi lalu mengangguk dan mengambil sepiring Okonomiyaki yang ada di meja dan juga Takoyaki nya. Sakura berlari kecil ke ruang tamu dan duduk manis di samping Sasuke. Itachi membuntuti dari belakang.

"Lihat. Takoyaki nya sudah siap, kau suka Takoyaki kan Sakura?"

"Hm! Aku sangat menyukainya. Kira-kira bagaimana rasanya jika Itachi-nii yang membuatnya ya?"

"Kujamin kau akan ketagihan Sakura. Silahkan makan dulu Okonomiyaki kalian,"

Mereka bertiga makan bersama dan diselingi canda tawa. Sakura juga bersemangat menceritakan bagaimana ibunya yang kurang bisa memasak. Dan menilai bahwa Takoyaki buatan Itachi memang enak. Sasuke hanya menanggapi dengan bergumam saja. Suara Sakura yang besar terlalu mendominasi ruang tamu itu. Tapi Itachi tidak keberatan mendengarnya. Justru ia senang Dengan kehadiran Sakura yang mewarnai hari ini.

"Sakura, apakah Sasuke mengajarimu dengan baik?"

"Tentu saja! Aku bahkan lebih memilih dia sebagai guruku ketimbang Kurenai-sensei," jawab Sakura sambil mengusap dagunya pelan. Sasuke hanya menunduk malu. Pipinya pun kian memerah mendengar Sakura berkata seperti itu. Sial!

Itachi memperhatikan bagaimana terbukanya Sakura. Ia dan Sasuke sudah seperti kenal dekat. Sesekali Sasuke menyentil dahi Sakura yang lebar karna menurutnya berisik. Mereka terus bercakap-cakap.

Tapi pandangan Itachi memburam. Ia sayup-sayup mendengar perkataan Sasuke. Telinganya berdenging hebat, kepalanya pun mulai sakit dan pusing. Darah kembali mengalir dari hidungnya. Itachi pun tak sanggup menggerakkan seujung jari pun. Sasuke dan Sakura tampak terus mengobrol, mereka tak sadar dengan keadaan Itachi yang mulai limbung.

Itachi memegangi sebelah kepalanya dengan tangan kiri dan mengusap hidungnya yang berdarah dengan tangan lainnya. Tapi ia sudah tidak kuat dan akhirnya tak sadarkan diri lalu jatuh menyamping. Namun sebelum pingsan, ia masih sempat berbicara dan menyebut sebuah nama,

"Sa... Sasuke,"

TBC


a/n : sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada yang Review. Lagi sedih nih, soalnya beberapa file cerita aku banyak yang kehapus :( gak sengaja sih :v cerita yang ini juga chapter nya kehapus :( jadi kepaksa ngulang lagi dan lagi :v *udahseringhilang :v

makasih ya buat Uzunami Himeka, suket alang alang, hanazono yuri ^^ memangnya nyesek banget ya bacanya? :v

What do you think guys? I know this is very gaje tapi makasih buat dukungannya. Saya sangat menghargainya.. see you in the next chapter!

Arigatou Gozaimasu Minna-san

Salam,

Beebeep