Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
His Life
.
.
Sorry for bad languange, typos, and many more, happy reading!
.
.
Suara bel di pintu rumah mulai menggema. Gadis berambut gulali dengan cepat membuka pintu. Seorang pria yang agak tua segera masuk kedalam dan melihat apa yang terjadi.
Sakura, ia menghampiri Sasuke yang tengah duduk di bibir ranjang. Menemani seseorang yang terbaring di dekatnya. Napasnya tersengal-sengal. Padahal dirinya sedang tidak berlari. Sasuke mengusap kedua matanya yang basah. Benar kan? Itachi menyembunyikan sesuatu darinya, lagi.
"Ayah, Itachi-nii kenapa?" Tanya Sakura pada ayahnya yang menghubungi seorang dokter yang ia kenal. Ayahnya, Kizashi hanya mampu tersenyum lalu terlihat berbincang singkat dengan seseorang di seberang sana. Mata Sakura bertemu dengan Sasuke. Ia jadi tidak tega melihatnya. "Sasuke... aku mengerti perasaanmu saat ini,"
"Sakura aku..."
Dengan cepat Sakura memeluknya. Ia ikut sedih melihat Sasuke seperti ini. Rasanya ia juga akan ikut menangis. Itachi masih tidak mau membuka matanya. Seluruh tubuhnya pun pucat dan melemah, rambutnya semakin kusam. Dan Sasuke merasakan deja vu. Ia pernah mengalami ini sebelumnya. Ia pernah berada pada situasi seperti ini, dimana Itachi yang terbaring sakit dan dirinya sendiri yang terisak karnanya.
Sasuke menarik dirinya dari Sakura, ia menggelengkan kepalanya dan menutupi telinganya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Jangan bilang kalau ini kenyataan, jangan katakan padanya kalau Itachi akan pergi secepat ini. Sungguh, Sasuke tidak mengerti apapun. Ia tidak tau kenapa Itachi menjadi seperti ini? Pingsan dan pucat. Ia tidak menyadarinya.
"Sasuke. Tenanglah, kakakmu akan baik-baik saja. Kau jangan terlalu khawatir," ucap Kizashi menenangkan Sasuke yang mulai ketakutan. Ia tidak menyangka akan seberat ini pengaruhnya pada Sasuke. Bagaimana jika Sasuke tau kalau Itachi sakit keras dan kemungkinan hidupnya hanya sedikit? Reaksi apa yang akan Sasuke berikan?
"Jii-san... kakakku," respon Sasuke. Ia menatap lantai itu kosong. Kizashi tidak bisa berkata apapun. Ia hanya diam lalu membawa Sasuke dalam pelukannya. Sakura akhirnya tidak tahan untuk tak menangis. Ia sangat merasa sedih. Ia masih bingung, sebenarnya Itachi sakit apa?
"Kalian harus membawanya ke rumah sakit untuk ditindaklanjuti. Ini bukan penyakit biasa, Itachi-san menderita Leukemia,"
Siapapun yang mendengarnya pasti akan terkejut, terutama Sasuke. Ia membulatkan matanya. Leukemia? Ini bukan penyakit biasa. Sasuke pernah mempelajari nya disekolah. Tentu ia tau tentang penyakit satu ini. Kizashi juga sama hal nya dengan Sasuke. Itachi memang pernah bilang padanya kalau ia sakit keras tapi ia tidak menyangka kalau penyakit ini yang dimaksud oleh Itachi. Sungguh tak disangka.
Dokter itu memasukkan kembali alat-alat kedokteran nya. Dari semua gejala yang ia lihat pada tubuh Itachi, ia dengan mudah menduga kalau itu adalah kanker darah.
"Sudah berapa lama Itachi-san menderitanya?"
Kizashi melirik Sasuke seolah mencari jawaban, sedangkan yang dilirik hanya bisa menundukkan kepalanya dan terisak. "Kurasa sudah lama," jawab Kizashi. Dokter itu hanya terkejut sebentar, ini ajaib sekali.
"Ini anugrah dari Tuhan. Anda tau, tidak banyak orang yang hidup lama karna penyakit ini. Tapi mendengar jawaban Anda barusan, aku yakin masih ada mukjizat Tuhan disekitar kita. Itachi-san juga merupakan laki-laki yang tangguh," jelasnya panjang lebar. Kizashi menatap Itachi yang masih terbaring. Dokter bernama Izumi itu sudah membuat keadaannya kembali stabil tapi tetap saja membutuhkan perawatan intensif dari pihak rumah sakit. Kizashi merasa kalau masih ada harapan bagi Itachi untuk sembuh. Dokter itu seolah memberi jawaban atas segalanya.
"Aku ingin kau menjadi dokter pribadi untuk Itachi, Izumi. Aku hanya percaya padamu," pinta Kizashi. Perempuan itu hanya tersenyum simpul lalu mengangguk. Ini memang tugasnya menjadi dokter. Ia tidak akan menolak permintaan Kizashi. Masalah biaya, ia rasa itu tak penting.
"Aku bersedia Kizashi-san. Aku akan memeriksanya rutin dua kali dalam seminggu. Dan juga, Itachi-san harus bersedia melakukan terapi dirumah sakit," ucap Izumi sambil tersenyum.
"Apa kakakku akan sembuh?" Tanya Sasuke menatap dokter wanita itu dengan pandangan sedih. Izumi hanya mengangguk dan tersenyum. Kemungkinan ia bisa sembuh hanya sedikit, tapi selalu ada harapan untuk seseorang yang berkemauan untuk sembuh. Selalu ada jalannya.
"Kalau begitu aku permisi dulu," kata Izumi lalu bergegas pergi. Sakura terus menatapnya tanpa berkedip dan kagum sampai dokter cantik itu menghilang di balik pintu. Ia sedikit tak percaya kalau perempuan itu seorang dokter. Sakura menggerakkan bola matanya kearah sang ayah. Mencoba mencari jawaban,
"Ayah? Dia benar-benar seorang dokter?"
"Kau tak percaya?"
"Aku bertaruh umurnya tak jauh beda dari Itachi-nii,"
Kizashi tersenyum dan mengangguk. Ia menjelaskan pada Sakura kalau Izumi merupakan seorang dokter. Ia memang tergolong dokter muda. Izumi menggantikan profesi ayahnya sebagai seorang dokter sejak usianya 15 tahun. Ayah Izumi merupakan teman baik ayahnya. Tapi Ayah Izumi sudah meninggal dunia saat itu. Ia pun mewarisi sebuah rumah sakit di Tokyo dari ayahnya. Dia tergolong gadis yang cerdas. Izumi telah diakui menjadi seorang dokter oleh masyarakat sekitar berkat penemuan obat langka yang bisa menyembuhkan sakit paru-paru. Itulah kenapa Kizashi mempercayainya untuk menjadi dokter pribadi Itachi.
"Dia hebat," puji Sakura dan bertepuk tangan kecil. Ia menatap Sasuke yang tampak tak terlalu tertarik dengan pembicaraan ini. Sasuke hanya diam tanpa mau berkata, ini cukup membuat Sakura sedih. Kedatangan dirinya kemari hanya ingin belajar matematika bersama Sasuke dan bersenang-senang. Tapi hari ini adalah momen pahit yang ia lewati. Ia tidak pernah menyangka kalau akan terjadi peristiwa seperti ini. Padahal mereka baru saja bersenang-senang.
"Sasuke. Besok, kakakmu harus dibawa kerumah sakit untuk terapi dan memeriksa keadaannya. Hari ini biarkan dia beristirahat dulu. Kau dengar apa yang dibicarakan oleh dokter tadi kan?" Titah Kizashi tapi tidak direspon oleh Sasuke. Pria itu menghela napasnya dan duduk di samping Sasuke. Ia menepuk pelan pundak anak itu. Ini pasti terasa berat bagi Sasuke, karna ia baru mengetahui semuanya hari ini.
"Apa kau tidak pernah menanyakan hal ini pada kakakmu?"
"Sering.." ucap Sasuke dan menjeda kalimatnya. Ia kembali mengingat kalau dari dulu kakaknya memang sering minum obat tapi ia bodoh sekali karna tidak menyadari itu sama sekali. Sasuke menghela napas kemudian melanjutkan kata-katanya,"Tapi dia terus menutupi semuanya. Dia terus bilang kalau dirinya baik-baik saja,"
"Pasti ada alasannya Sasuke,"
"Memang ada. Sama seperti waktu itu, saat umurku baru 8 tahun, aku mulai menanyakan keberadaan orangtuaku kepada semua orang yang mengenal mereka. Tapi tak ada satu pun yang mau berkata jujur padaku. Mereka hanya terus berkata kalau orangtuaku bekerja. Dan aku merasa dibodohi," ujar Sasuke panjang lebar. Kizashi tampak tertarik dengan pembicaraan ini, ia ingin tau seberapa besar kebohongan yang Itachi ciptakan demi menjaga perasaan Sasuke.
"Lalu?"
"Aku ingat kalau orangtuaku pergi saat aku masih berumur 4 tahun. Saat itu aku tau kalau mereka sedang pergi bekerja. Dan suatu pertanda dari Kami-sama menghampiriku. Saat itu, dikamar kakakku, aku menemukan sebuah koran lama yang sudah berantakan. Dihalaman utama aku membaca berita mengenai sebuah kecelakaan pesawat," jawab Sasuke dan tertunduk. Ia kembali sedih mengingatnya.
"Kecelakaan itu terjadi di tahun kepergian orangtuaku. Aku merasa kalau mereka bukan pergi bekerja, aku merasa kalau mereka mengalami kecelakaan pesawat. Dan saat itu juga aku mendengar suara Nii-san yang mengagetkan ku,"
Flashback
"Sasuke?"
"Nii-san... apa Kaa-chan dan Tou-chan..." ucap Sasuke terbata. Ia menjatuhkan koran yang ia pegang lalu menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Itachi melihat koran yang terjatuh kelantai dan mulai berkeringat, entah apa yang akan ia katakan kepada Sasuke mengenai ini. Seharusnya ia sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi. Lagipula apa yang Sasuke lakukan di kamarnya?
"Nii-san? Apakah berita ini berhubungan dengan Kaa-chan dan Tou-chan?" Tanyanya menuntut. Itachi diam membeku. Apa yang harus ia katakan? Sasuke pasti akan kecewa berat padanya, Itachi sadar kalau menutupi hal seperti ini tidak akan ada gunanya sama sekali, bahkan malah menimbulkan kesalahpahaman pada Sasuke. Itachi berjalan mendekati sang adik lalu mengusap puncak kepala Sasuke. Ia mensejajarkan tingginya pada sang adik.
"Katakan Nii-san..." pinta Sasuke dan mulai terisak. Itachi benar-benar tidak tega melihatnya.
"Sasuke maafkan aku..."
"Kenapa, kau tidak memberitahu ku? Hiks..Hiks.."
Itachi semakin merasa bersalah mendengarnya. Demi Tuhan, ia tidak mau melihat Sasuke menangis.
"Jadi selama ini mereka sudah tidak ada lagi? Mereka tewas..."
"Sasuke dengarkan aku-"
Sasuke menjauhkan dirinya dari Itachi. Ia menghapus air matanya sendiri dan menatap Itachi dengan ekspresi kecewa. "Kau berbohong padaku Nii-san,"
Itachi hanya bisa terdiam mendengarnya. Ia seorang pembohong, dan Sasuke pun mengakui itu. Dia adalah orang jahat.
Mata Sasuke kembali berkaca-kaca. Ia menahan isakan dari mulutnya. "Jadi selama ini surat-surat yang kuterima itu dari siapa? Kaa-chan dan Tou-chan sudah tidak ada... siapa yang mengirim surat itu untukku?" Tanyanya membuat Itachi semakin merasa bersalah. Ya, memang benar. Surat-surat yang diatas namakan orangtuanya itu palsu. Selama ini Itachi sendiri yang mengarang surat-surat itu pada Sasuke. Ia memberinya pada Sasuke setiap satu bulan sekali. Isinya pun sama halnya seperti orang tua yang merindukan anak mereka. Ia membuatnya seakan-akan memang dikirim dari orang tua mereka. Itu hanya sebagai bukti kalau orang tua mereka masih ada dan bekerja. Tapi seharusnya Itachi tau akan konsekuensi yang akan ia terima.
"Apa kau yang membuat surat itu? Hiks..Hiks.."
"Maafkan aku Sasuke. Aku terpaksa melakukan ini. Aku hanya tidak mau melihatmu sedih," jawabnya dan dibalas gelengan dari Sasuke. Bukan itu jawaban yang ia minta. Sasuke mulai menangis kencang seperti anak kecil. Ia serasa baru kehilangan orangtuanya hari ini, nyatanya orangtuanya sudah lama mati. Rasanya sakit sekali ketika mendapati orangtua yang sudah mati dan dibodohi selama bertahun-tahun. Ini lebih menyakitkan dibanding apapun juga. Ditambah kebohongan yang telah dilakukan oleh sang kakak.
Itachi memeluk adiknya yang menangis. Harusnya ia lebih berpikir sebelum memutuskan sesuatu. Tapi nyatanya ia terlalu gegabah dulu.
"Tenang Sasuke. Aku berbohong padamu bukan karna maksud jahat. Aku tidak ingin menghancurkanmu, aku hanya ingin kau hidup senang. Itu saja,"
Sasuke melepas pelukannya dan menatap Itachi dengan kecewa, "Tapi aku merasa kecewa padamu kak! Bagaimana bisa kau bohong padaku dan merahasiakan semuanya dariku?!"
"Kumohon Sasuke. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain ini. Kau masih terlalu kecil untuk mengerti arti kehilangan,"
"Bukankah saat itu kau juga masih kecil Nii-san? Saat Kaa-chan dan Tou-chan mati? Kenapa kau tidak-"
"Justru karna itu!-" Itachi menutup mulutnya sendiri. Ia tidak sadar kalau tadi ia membentak adiknya sendiri. Ia menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. Ia melihat ekspresi Sasuke yang kelihatan nya terkejut oleh bentakkannya barusan. "Justru karna itu, aku tidak ingin hal serupa terjadi padamu. Saat pertama mendengarnya aku bahkan tidak bisa berhenti menangis satu hari penuh. Aku benar-benar kehilangan, dan tak tau harus apa. Dan aku ingat akan dirimu Sasuke, aku takkan membiarkan kau merasakan apa yang kurasakan dulu," ulangnya dengan suara yang bergetar. Ia tidak ingin Sasuke menjadi sedih dan depresi karna kehilangan orangtua maka dari itu ia berbohong.
"Kumohon, mengertilah Sasuke. Aku hanya ingin yang terbaik,"
"..."
End of Flashback
Sakura mendengarkan penjelasan Sasuke yang menyentuh hati. Ia tidak pernah tau menau mengenai hal ini dan rasanya ayahnya sudah mengetahui mengenai hal ini sejak lama.
"Sasuke, jangan bersedih lagi. Semuanya sudah berlalu dan sekarang yang harus kau pikirkan itu adalah kakakmu,"
"Iya Jii-san. Aku akan membatalkan olimpiadenya. Aku ingin bersama kakakku," tukasnya lalu beranjak untuk duduk disamping Itachi yang belum bangun. Sakura membulatkan matanya lalu menarik pundak Sasuke untuk melihatnya. "Tunggu dulu! Kau tidak bisa membatalkan olimpiadenya Sasuke?!"
"Hn. Aku tak peduli,"
"Itachi-nii akan sedih jika tau kau membatalkan olimpiadenya!"
Sasuke memalingkan wajahnya lalu kembali duduk seperti semula disamping sang kakak. Ia tau, sudah banyak pengorbanan yang dilakukan oleh Itachi. Dan ini adalah saatnya untuk membalas semua yang telah dilakukan olehnya. Sasuke harus bisa melupakan emosi dan kekecewaannya. Yang paling penting adalah kakaknya sekarang.
Sakura mengerucutkan bibirnya. Sasuke tidak boleh membatalkannya begitu saja. "Sasuke, aku akan selalu ada di sampingmu. Jadi kurasa sudah menjadi tugasku juga untuk menolong Itachi-nii. Dan kau, pergi saja untuk olimpiade,"
Sasuke dan Kizashi terperanjat mendengarnya. Sakura ini berkhayal? Sasuke menyembunyikan wajahnya karna memerah. Sakura berkata semudah itu? Ia jadi berpikiran lain sekarang.
"Sakura-chan... jangan marah begitu. Begini saja, Sasuke kau tetap ikut olimpiade. Paman akan memantau kakakmu dan memastikannya untuk menjalani terapi."
"Hn, tapi-" ucapan Sasuke terputus kala melihat tangannya yang digenggam oleh Itachi. Ia menggulirkan matanya untuk melihat Itachi yang tengah beranjak untuk bangun. Kizashi menaruh bantal di kepala ranjang untuk memudahkan Itachi menyandar.
"Nii-san!"
"Itachi, ini air untukmu. Kau merasa baik?" Ucap Kizashi cepat dan hanya dibalas anggukan singkat dari Itachi. Ia menaruh gelas kosong itu di atas nakas lalu mulai menyamankan dirinya di bantal. Sasuke menatap kakaknya dengan sedih, dia pasti sangat tertekan.
"Nii-san, kenapa kau berbohong lagi padaku?"
Itachi terdiam. Ia beralih menatap Kizashi dan Sasuke bergantian. Apakah mereka berdua sudah mengetahuinya? "Sasuke. Biarkan kakakmu istirahat, jangan banyak pertanyaan seperti ini."
"Tapi Jii-san -"
"Ayo Sasuke! Kita bereskan ruang tamu dulu setelah itu kita kemari lagi," ajak Sakura dan menarik pergelangan tangan Sasuke. Ia mengajaknya untuk keluar agar Itachi bisa sedikit beristirahat dan menenangkan pikirannya. Bukankah ini sudah menjadi tugas Sakura juga?
Pintu pun ditutup menyisakan Kizashi dan Itachi didalamnya. Pria paruh baya itu menghela napas lalu melirik Itachi yang masih terdiam seribu bahasa. "Sudah berapa lama Itachi?"
Itachi menatap Kizashi dengan sedih, "Lama sekali," jawabnya lirih. Kizashi menghela napas untuk yang kesekian kalinya. "Tak seharusnya kau menutupi ini dan berpura-pura kalau kau baik-baik saja,"
Itachi hanya bisa diam dan bingung kali ini harus apa. Ia tau ia salah dalam hal ini. Badannya cukup lemas dan tidak berdaya. Ia merasa benar-benar lemah.
"Kau harus menjalani terapi besok. Aku juga sudah mencari dokter pribadi untukmu. Dia akan melihat keadaanmu, dua kali seminggu."
"Jii-san, aku tidak mau perawatan apapun. Aku tidak menginginkannya,"
"Itachi, kali ini demi Sasuke. Dia hanya ingin kau sembuh," balas Kizashi. Ia tau Itachi pasti bisa berpikir lebih logis dan bijak. "Aku tidak bisa menjalani terapi besok. Ada rapat penting di perusahaan,"
"Demi Tuhan Itachi, apa yang kau pikirkan? Setidaknya jangan egois terhadap dirimu sendiri," titahnya lebih menekan. Itachi menggerakkan matanya melihat jendela, cuaca masih cerah hari ini. Ia juga merasakan kalau tubuhnya mulai kembali mendapatkan kekuatan untuk bergerak. Tapi saat ini dia bimbang, jika ia hanya fokus pada kesehatannya, Sasuke bagaimana? Ia takut kalau semuanya sia-sia dan pada akhirnya ia akan mati. Itulah yang ia bayangkan.
"Jika kau mau, aku akan menyuruh bawahanmu untuk menggantikannya dalam rapatnya. Jika menurutmu rapat itu sangat penting,"
Itachi menganggukkan kepalanya lalu menatap Kizashi dengan senyuman. Sekarang ia sadar, kalau yang dilakukan nya ini salah. Tak seharusnya ia mau terus membiarkan penyakit ini berkembang didalam tubuhnya. "Aku mau menjalani terapi itu. Aku mau sembuh,"
Kizashi mengembangkan senyumnya,"seharusnya kau berkata ini lebih awal. Aku akan segera pergi hari ini dan mengurusi semuanya. Kau tak perlu khawatir tentang meeting yang akan diadakan besok. Aku akan mengurusnya untukmu,"
Sasuke POV
Sial! Aku merutuki kebodohanku sendiri. Bagaimana bisa aku tidak tau menau soal sakit yang diderita Nii-san? Seharusnya aku lebih peka terhadapnya. Aku melihat Sakura yang sibuk membereskan meja kecil itu dan menaruh buku-buku yang sebelumnya kusiapkan. Selera belajarku hilang sepenuhnya. Aku terus memikirkan kakakku. Dan tidak pernah ingin percaya kalau dia sedang mengidap penyakit dan membohongiku.
"Sasuke? Jangan melamun!" Aku melihat Sakura menjentikkan jarinya di depanku dan itu sukses membuat seluruh perhatianku padanya. Mata emerald Sakura menyejukkan. Aku ingat kalau dia tadi bilang kalau dia ingin selalu ada di sampingku. Aku berpikir itu adalah hal yang benar-benar menyentuh hati. Entahlah, apa Sakura akan menepati kata-katanya?
"Aku tak melamun. Aku hanya-"
"Sudahlah. Itachi-nii baik-baik saja," ia memotong ucapanku. Aku tak suka saat ada seseorang yang menyelaku ketika berbicara tapi entah aku tak bisa marah pada Sakura. Aku seperti terpesona saja. "Maaf aku tak membantumu,"
"Tak apa. Aku tau kau sedang banyak pikiran jadi kurasa hal yang harus kau lakukan adalah mengistirahatkan pikiranmu dan berpikiran positif."
"Hn. Terima kasih," aku melihat Sakura menganggukkan kepalanya dan duduk di sampingku di sofa. Dia menggerakkan kakinya dan terus melirik kearah pintu kamar kakakku. Aku sebenarnya juga khawatir tentang kakakku. Entah alasan apalagi yang akan ia gunakan. Nii-san, kalau kau melakukan ini karnaku kumohon maafkan aku. Aku tau, aku hanya bisa merepotkanmu saja. Selama ini akulah yang menjadi penghalang kesembuhanmu. Maaf Nii-san... "Sasuke. Ketika dewasa nanti, aku ingin menggenggam tanganmu seperti ini," aku tersentak ketika mendapati tangan Sakura yang menggenggam erat jari-jari tanganku.
"Kenapa?"
"Kenapa? Karna aku suka berada di dekatmu Sasuke-kun..." jawab Sakura dan semakin mengeratkan genggamannya pada jemariku. Aku melihat sinar mata bahagia yang menguat dari emerald nya. Dan aku melihat sebuah senyum ketulusan yang juga melengkung di bibirnya. Sakura... aku tak pernah membayangkan kalau kita bisa sedekat ini padahal kita baru bertemu beberapa hari yang lalu.
"Kau mau kan bersamaku Sasuke-kun?" Semburat tipis kuyakini muncul di kedua pipiku. Suffix itu... ia benar-benar membuatku makin terjerat. Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban ya. Aku mau bersama Sakura.
"Kurasa lebih baik kita berada disini. Kita tak perlu mengganggu istirahat Itachi-nii,"
"Mungkin kau ada benarnya,"
"Oh ya Sasuke. Apa kau suka rambut panjang ku?"
"Sebenarnya aku lebih suka kau berambut pendek," jawabku. Dan aku jujur, aku lebih menyukai rambut pendek daripada panjang. Dan Sakura cocok memiliki rambut pendek karna wajah cantiknya akan kelihatan dan memancar. "Benarkah? Kalau begitu aku akan memotongnya untuk Sasuke-kun,"
Sekali lagi, ia menjeratku.
Siang berganti malam. Kizashi dan Sakura masih setia berada di kediaman Uchiha. Seolah ada lem perekat yang menjerat mereka. Mansion besar itu terlihat sedikit ramai karna kedatangan keduanya. Sakura tak henti-hentinya bercerita mengenai perjalanan musim panasnya tahun lalu di Osaka. Mereka tertawa lepas dan bahagia bersama. Hal ini membuat Itachi rindu akan keluarganya. Sakura dan Kizashi datang bagaikan malaikat. Membuatnya dan Sasuke tak kesepian sepanjang hari ini.
"Nah Itachi. Izumi bilang kalau jadwal terapi mu setelah makan siang. Dan ia juga bilang kalau kau harus beristirahat yang cukup," ucap Kizashi sembari menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celana. Itachi menganggukkan kepalanya mendengar itu dan tersenyum. Mungkin Kizashi ada benarnya juga, tak seharusnya ia berbuat egois dengan dirinya sendiri. Berusaha menganggap semuanya baik-baik saja padahal nyatanya tidak. Untung juga Sasuke tak membencinya karna hal ini.
"Nii-san, berjanjilah untuk sembuh. Aku akan membawa medali emas untukmu. Itu adalah janji," Ucap Sasuke. Itachi tersenyum manis dan ia akan berjanji untuk sembuh.
Ia akan menjadi yang pertama yang melihat Sasuke membawa medali itu untuknya. Ia akan ada disana.
"Sasuke-kun? Aku akan sering datang kemari untuk belajar bersamamu. Lagipula ayah bilang kalau kita akan selalu bersama di masa depan,"
"Hn. Aku senang kalau kau senang Sakura," Sasuke berujar. Ia mulai paham apa itu cinta. Eh? Apa dia mulai merasakan nya?
"Dengar Sasuke. Jangan kecewakan kami semua saat olimpiade itu,"
Sasuke mengangguk. "Tak akan,"
TBC
A/n : hai hai! Saya kembali.
Telat banget updatenya sumpah. Tapi untung hari ini bisa update. Maaf untuk alur cerita yang cepat dan gak nyambung ide jarang muncul untuk fic ini dan itu membuat saya sedikit gila.
Dan juga saya mulai ngeship ItaIzu entah kenapa, mungkin untuk beberapa chap ke depan bakalan ada moment ItaIzu nya yossha. Maaf kalau cerita ini mulai membosankan dan gak seru. Sedih ya, drafts saya hilang semua :v jadinya musti ngetik ulang.
Dan makasih buat Review.
Arigatou Minna-san salam,
AlexisBlue
