.

Terkadang, kau butuh memejamkan matamu untuk sejenak.

Merasakan apa yang tak terasa kala mata terbuka.

Terkadang, kau butuh menutup telingamu untuk sejenak.

Mendengarkan apa yang tak terdengar oleh telinga namun batinmu.

.

NAMJIN'S ONESHOOT COLLECTION

Songfict based on Baby, I love you by Tiffany Alvord.

Just enjoy everyone.

..

..

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Namjoon sedang termenung di depan layar komputernya. Ia sering berjalan atau menyendiri untuk berpikir, kalian pasti tahu itu 'kan? Karena salah satu dari trio komposer boy grup kenamaan seperti Bangtan Sonyeondan ini memang sering berjalan-jalan sendirian untuk menenangkan pikirannya yang rumit, berpikir apa saja yang telah terjadi hari ini, memikirkan kehidupannya di usia seperti ini namun satu dari sekian misi dan target kehidupannya sedang ia raih dan genggam erat. Terkadang bahkan Namjoon memikirkan hal-hal remeh seperti, bunga ini bisa memiliki arti seperti itu? Mengapa tumbuhan satu-satunya makhluk hidup yang tak memiliki gerak aktif? Setelahnya Namjoon akan terkekeh geli, karena jawabannya sudah jelas, atau bahkan tidak jelas sama sekali?

Kini Namjoon terduduk di depan layar komputernya, jemari panjangnya memainkan pensil yang sedari tadi dipegangnya dan ia membaca lagi tulisan yang telah ia tulis. Sebuah lirik, untuk seseorang.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

.

There are three words, that I've been dying to say to you.

Burn in my heart, like a fire that ain't goin' out.

There are three words, and I want you to know they are true.

I need to let you know.

.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Namjoon pernah mengatakan bahwa sebenarnya sosok itu adalah sosok yang berlawanan dengan Namjoon 'kan? Sosok yang sangat ceria seakan tiada beban di pundaknya. Sosok yang meskipun usia di atas anggota yang lain, namun ia dapat berbaur dengan baik melalui sisi kekanak-kanakkan dirinya.

Ya, Kim Seokjin.

Dulu Namjoon mana mengerti sifat Seokjin yang jauh dari sisi negatif itu. Ia terlalu bahagia, penuh senyum seakan seluruh dunia menyayanginya. Dan Namjoon mana mengerti Kim Seokjin yang hidup tanpa target yang jelas ini menjalani hidupnya layaknya air mengalir, mengikuti alur dan berlalu begitu saja.

Tapi, di suatu malam… di saat mereka berbicara menyampaikan apa yang selama ini dirasakan, Namjoon baru menyadari… kebahagiaan yang dipancarkan Seokjin selama ini telah merasuk ke dalam dirinya bahkan tanpa ia sadari.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

.

I wanna say I love you.

I wanna hold you tight.

I want your arms around me,

And I want your lips on mine.

I wanna say I love you, but…

Babe, I'm terrified.

.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Sejak saat itu juga Namjoon perlahan menyadari bahwa Seokjin sudah menempati posisi yang spesial di hatinya. Seokjin yang ceria dan penuh senyum itu membuat Namjoon turut tersenyum. Membuat Namjoon melonggarkan target yang selama ini ia letakkan untuk dirinya dan tanpa ia sadari mencekiknya. Ya, mencekiknya. Karena ini pula, Namjoon tadinya merasa iritasi melihat kelakuan Seokjin yang bahkan jauh dari sikap seharusnya pemuda seusianya. Tapi kemudian, setelah mereka saling bicara… Namjoon mengerti alasan Seokjin bersikap seperti itu.

Seokjin berasal dari keluarga yang memperlakukan dirinya penuh kasih sayang. Bukan, bukan keluarga Namjoon tak pernah menyayanginya. Namun, keluarga Namjoon merupakan keluarga yang sangat disiplin terhadap sesuatu. Di saat kau sudah menetapkan sesuatu, kau harus sukses meraihnya. Itu yang selama ini menjadi motto keluarganya, disiplin terhadap target yang mereka pajang untuk mereka raih. Keluarganya menyayanginya, buktinya mereka mendukung Namjoon berkarir sebagai musisi. Namun keluarga Seokjin tidak, Seokjin tidak dituntut untuk menetapkan targetnya seperti Namjoon. Seokjin bebas memilih dan Seokjin bebas menjalaninya. Semua kemudahan seperti sudah ditakdirkan di jalannya. Tapi… Seokjin yang seperti ini membuat Namjoon perlahan mencoba menikmati hidupnya dengan sedikit lebih santai dan tidak menekan dirinya hingga batas akhir kemampuan dirinya.

Perlahan, semakin ia memperhatikan seorang Kim Seokjin… semakin Namjoon masuk ke dalam pesona Kim Seokjin yang lembut dan hangat itu.

Dan perlahan Namjoon menjadi serakah, Namjoon ingin Seokjin untuknya. Namjoon ingin mereka saling bergenggaman tangan, Namjoon ingin Seokjin melingkarkan tangan rampingnya padanya dan Namjoon menginginkan bibir Seokjin berada di bibirnya.

Namjoon ingin mengatakannya… namun Namjoon perlahan menjadi takut.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

.

My hands are shaking.

My heart is racing.

Cause it's something I can't hide.

It's something I can't deny.

So here I go…

Baby… I love you.

.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Tangan Namjoon bergetar parah saat itu. Hatinya bertalu begitu kencang. Ia ingin serakah, namun ia juga tak takut untuk serakah. Ia takut melukai Seokjin dengan keserakahannya untuk memiliki Seokjin seorang diri.

Tapi ini… ini sesuatu yang Namjoon tak bisa sembunyikan. Karena mau bagaimanapun keadaannya, Namjoon akan memandangi Seokjin bagai fokus kehidupannya hanyalah milik Seokjin.

Namjoon juga tak bisa menyangkalnya. Karena… pancaran cinta itu meluap begitu besar untuk Seokjin.

Jadi… "Seokjin hyung… aku mencintaimu."

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

.

I've never said these words to anyone, anyone at all.

Never got this close cause I was always afraid I would fall.

But now I know that I'll fall right in to your arms.

Don't ever let me go…

.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Namjoon tak pernah menceritakan apa yang ia rasakan ini pada orang lain. Namjoon juga tak pernah mengungkapkan kata cinta ini untuk orang lain. Karena Namjoon… hanya pandai merangkai kata menjadi sebuah lirik tanpa berani mengungkapkannya. Karena Namjoon takut ia akan jatuh terlalu dalam untuk mencintai.

Tapi Namjoon tahu, jika kali ini hatinya mendamba sosok yang tepat. Jadi Namjoon berharap Seokjin takkan pernah melepasnya seperti Namjoon yang takkan pernah melepas seorang Kim Seokjin, kekasihnya.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

.

Take it in, breathe the air.

What is there to really fear.

I can't contain, what my heart's sayin'

I gotta say it out loud.

I wanna say I love you.

So here I go…

Baby… I love you.

.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Namjoon juga mengingat bagaimana ia menarik nafasnya, menenangkan dirinya. Apa itu takut? Bukannya selama ini keluarganya mendisiplinkannya untuk tidak merasa takut ketika meraih targetnya?

Ya, menjadikan Kim Seokjin belahan jiwanya adalah target hidup terbesar seorang Kim Namjoon saat ini.

Jadi saat ia mengatakan cinta pada Seokjin, yang berkata bukan pikiran logisnya. Namun hatinya yang begitu mendamba Seokjin untuk mengetahui bahwa Namjoon mencintainya. Dan Namjoon mengucapkannya dengan kencang pada Seokjin.

"Seokjin hyung, aku mencintaimu!"

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Sejumput rambut berwarna merah muda itu terlihat kala kepala itu mengintip masuk ke dalam studio milik Namjoon. Kim Seokjin, dia Kim Seokjin yang datang mencari kekasihnya dan yang ia dapatkan adalah bagaimana kekasihnya tertidur dengan manisnya berbantalkan lengannya di atas meja.

"Joon ah." Panggil Seokjin pelan sembari menepuk bahu tegap Namjoon.

"Mmh…" dan lenguhan terganggu itu terdengar dari mulut Namjoon.

CHUP.

Seokjin mengecup singkat bibir yang mengerucut kesal itu. "Bangun, Joon ah." Panggil Seokjin sekali lagi.

Namun Namjoon tak mengindahkan dan masih asik menutup matanya.

"Namjoonie, ba—waaah!" Belum sempat Seokjin melanjutkan panggilannya Seokjin berteriak saat Namjoon menariknya dan membuat dirinya entah bagaimana mendarat di atas pangkuan Namjoon.

"Hyung, Jin ah, Jinseok ah, Seokjinie… kau tahu aku mencintaimu?" Namjoon membuka matanya untuk memandang wajah memerah Seokjin dan tersenyum senang karena wajah Seokjin begitu memukau saat sedang merona seperti itu. Namjoon menyandarkan kepalanya di perut Seokjin dan bergumam senang merasakan kehangatan Seokjin.

Seokjin menepuk pelan pundak Namjoon, memberikan sedikit ketenangan untuk Namjoonnya yang kelelahan. "Sepuluh menit, dan kita kembali ke dorm." Putus Seokjin membiarkan Namjoon bermanja-manja seperti ini padanya.

"Hmm!" gumam Namjoon menyetujui.

Seokjin terkekeh melihat sisi lain Namjoon yang seperti ini. Namjoon yang bersandar padanya dan membiarkan Seokjin melihat sisinya yang seperti ini.

"Bodoh, aku juga mencintaimu." Bisik Seokjin pelan sembari mengusap helaian rambut Namjoon.

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

END

..

..monjin..

..monjin..

..

..monjin..

..monjin..

..

Wkwkkw, gas terus~ Namjin aka Monjin gas terus momen dimana manaaaaaaa! Fokus video apa, jadinya kemana! Monjin buat salpok mulu yatuhaaaan! Kenapa mereka bisa semanis itu? Kenapa mereka harus tebar pesona gitu? Kenapa mereka jadi clingy gitu? Kenapa aku mau cuddling-an ke mereka? Wkwkwk.

Jangan-jangan… jangan-jangan… kuki mau dapet dedek? Aaaaa! Monjin akutuh gakuat diginiin! Wkwkwkw.