Chapter 6: HERO

.

.

.

.

Yunho mengelus dahinya yang berdenyut sakit, dengan segera dia tersadar jika dia dan Jaejoong ada dalam bahaya, karena orang itu tiba-tiba saja menyerang. Dan sepertinya orang itu mengincar dirinya, sama seperti Jaejoong.

"Ayo kita pergi dari sini, orang itu sepertinya berbahaya" Yunho berusaha menarik lengan Jaejoong, tetapi laki-laki cantik itu tetap tidak bergerak, sepertinya Jaejoong shock karena lemparan pisaunya dengan mudah ditangkap.

"Si-siapa kau? Ke-kembalikan pisau Joongie" ucap Jaejoong dengan gugup.

Ya Tuhan, kenapa masih bisa bertanya di saat seperti ini? Apa dia tidak tahu situasi?

"Jaejoong... ayo kita pergi, kita bisa mati jika terus di sini. Orang itu pasti akan membunuh kita" ucap Yunho membuat Jaejoong menatapnya bingung.

"Memangnya orang itu juga akan membunuh Joongie? Bukannya orang itu cuma mau membunuhmu?" tanya Jaejoong polos.

Belum sempat Yunho menjawab, tiba-tiba saja pisau milik Jaejoong terlempar kembali ke arahnya dan menancap tepat di dinding beberapa inci dari sisi wajahnya dan seketika membuat Jaejoong gemetar, sedangkan orang yang melempar pisau hanya tersenyum, lebih tepatnya menyeringai.

Hampir saja...

"Waaaaaa... Joongie takut! Joongie mau dibunuh! Joongie tidak mau mati, Joongie belum menikah!"

Dengan tiba-tiba Jaejoong berlari kencang meninggalkan Yunho, dia berlari tanpa melihat ke belakang. Yunho yang melihat Jaejoong meninggalkannya, tanpa pikir panjang langsung menyusulnya.

Sudah kuduga dia akan melarikan diri, aku yakin dia takut mati...

Jaejoong yang berlari meninggalkan Yunho akhirnya terkejar, dengan cepat Yunho menarik tangan Jaejoong dan membawanya terus berlari, sedangkan pria berbahaya yang mengejar mereka tidak segan-segan melemparkan pisau-pisau berukuran kecil namun tajam dan lemparannya sangat akurat, beruntung mereka berada di lorong hotel yang sedikit berliku, sehingga mereka bisa menghindar dari pisau-pisau yang diarahkan ke mereka.

Yunho terus berlari sambil menarik lengan Jaejoong, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah pintu.

Saat Yunho hampir sampai di pintu, tiba-tiba saja dia bertabrakan dengan seseorang. Dia bisa menjaga tubuhnya, jadi tidak sampai terjatuh ke lantai seperti orang yang bertabrakan dengannya.

"Aduh... buttku!" erang orang yang baru saja ditabrak Yunho.

Namun Yunho juga tidak beruntung, karena ditabrak Jaejoong dari belakang, tetapi yang mengerang kesakitan malah Jaejoong.

"Dasar bodoh! Apa kau tidak melihat jalan di depan matamu sampai menabrakku?!" ucap orang yang ditabrak Yunho dengan suara melengking. "Kau pikir buttku tidak sakit saat terjatuh tadi?"

"Maaf, aku tidak sengaja, aku sedang terburu-buru. Ada orang yang mengejar kami, sepertinya dia ingin membunuh kami"

Ucapan Yunho membuat mata orang yang bertabrakan dengannya membesar.

"Ada orang yang ingin membunuh kalian? Apa jangan-jangan dia Hero?"

"Hero? Siapa dia?" tanya Yunho bingung.

"Hero adalah pembunuh yang sedang dicari pihak kepolisian, dia seorang pembunuh yang sudah lama menjadi target polisi, tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahui sosok Hero sebenarnya, jadi polisi mengalami kesulitan untuk menangkapnya" jelas orang yang bertabrakan dengan Yunho. "Akhirnya dia menampakan dirinya, aku jadi tidak sabar menangkapnya"

"Keren... pembunuh asli" ucap Jaejoong dengan mata berbinar, membuat Yunho menatapnya malas. Sebelumnya Jaejoong ketakutan dan berlari meninggalkannya, sekarang malah tampak terpesona dengan orang yang hampir membunuhnya.

"Jika benar dia sehebat itu, kita bisa mati. Ayo pergi dari sini" Yunho menarik lengan Jaejoong dan berpesan pada orang yang bertabrakan dengannya. "Kau hati-hatilah, dia tadi sedang mengejar kami, mungkin sebentar lagi dia akan segera datang"

Belum sempat membalas ucapan Yunho, sebuah pisau melesat dan mengenai lengan kanan orang yang bertabrakan dengan Yunho, beruntung pisau itu hanya menggores lengannya. Tetapi serangan tiba-tiba seperti itu, membuatnya sedikit terkejut. Saat bersamaan sudut matanya melihat sebuah pot bunga dekorasi hotel, dengan cepat dia mengambilnya lalu dilemparkan ke arah pria yang mengincar Yunho. Tetapi karena tangannya licin, benda itu terjatuh dan menimpa kakinya, membuatnya meringis kesakitan dan itu membuat Yunho terdiam, shock.

Dia mengatakan ingin menangkap Hero, tapi apa yang dia lakukan sama sekali tidak meyakinkan.

Saat itu Yunho menyadari jika dia dan Jaejoong masih berada dalam bahaya. Dengan cepat dia berlari ke arah pintu, dan saat pintu itu terbuka dia melihat tangga darurat yang mengarah ke atap hotel.

Sedangkan pria yang diduga Hero mengejarnya dan membiarkan orang yang bertabrakan dengannya yang sedang meringis kesakitan, targetnya adalah Uknow.

(***)

"Junsu hyung, apa yang terjadi denganmu?" tanya pria bertubuh tinggi yang merupakan teman dari orang yang bertabrakan dengan Yunho saat melihat temannya sedang bersandar di dinding meringis kesakitan, dan memengangi lengan kanannya terluka.

"Aku baik-baik saja, hanya tertimpa pot bunga. Kau kejar saja orang itu, Min" tunjuk Junsu pada pria yang mengejar Yunho. "Dia Hero"

Changmin membesarkan matanya setelah mendengar ucapan Junsu, Hero tepat di depan matanya. Target buruan tidak boleh lepas. Dengan cepat dia belari mengejar Hero.

Changmin melihat Hero akan melemparkan pisau ke arah Yunho, dengan cepat dia mengarahkan pistol miliknya lalu suara tembakan terdengar kencang. Namun peluru yang ditembakan Changmin hanya mengenai pisau di tangan Hero, tapi cukup membuat pembunuh itu menghentikan tujuannya.

"Jangan bergerak! Angkat tanganmu dan menyerahlah, Hero!"

Hero menoleh dan mengangkat kedua tangannya, tanpa Changmin sadari pembunuh itu menyembunyikan pisau di antara jarinya, dan saat Changmin lengah, dia melemparnya. Pisau itu melesat cepat ke arah Changmin, dan mengenai dada kirinya, tepat di jantungnya. Changmin mengerang kesakitan dan roboh seketika dengan memegangi dadanya yang tertusuk pisau.

Hero kembali mengejar buruannya.

(***)

Dengan napas terengah, Yunho sampai di atap hotel. Dia menutup pintu dengan berbagai benda yang dia bisa gunakan, setidaknya bisa membuat Hero kesulitan untuk membukanya, Jaejoong sendiri sedang terengah-engah, dia bahkan tidak bisa berdiri. Berlari menaiki tangga dengan panik karena takut dibunuh membuat tenaganya seperti terkuras habis.

"Bantu aku" ucap Yunho sambil memasang penghalang di pintu.

Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, tenaga Joongie habis. Joongie sudah tidak kuat berdiri"

"Jika kau tidak membantuku, kita bisa mati" ucap Yunho kesal.

"Joongie bantu doa saja ya, lebih baik daripada tidak membantu sama sekali"

Itu sama sekali tidak membantu.

Yunho yang sudah kesal semakin bertambah kesal, hampir saja dia meluapkan kekesalannya pada laki-laki cantik itu, tapi matanya melihat bayangan Hero yang ternyata masih mengejarnya. Yunho mundur beberapa langkah.

Bunyi pecahan kaca terdengar saat Hero mendorong pintu yang membatasi dirinya dengan targetnya, lalu mendorong penghalang yang dibuat Yunho.

Dengan cepat Yunho menarik lengan Jaejoong, membuat laki-laki cantik itu terpaksa berdiri dan mengikutinya, hingga akhirnya mereka berada di pinggir atap, tidak ada lagi tempat untuk berlari dan menyelamatkan diri. Jika mereka mencoba untuk melompat ke bawah, maka mereka akan berakhir mengenaskan. Melompat dari ketinggian lima lantai cukup untuk membuat nyawa melayang, dan Yunho tidak memiliki keberanian melakukan hal itu, dia masih menyayangi nyawanya.

Yunho melepaskan tangan Jaejoong lalu menatapnya. "Tidak ada jalan lagi, kita harus melawannya"

Jaejoong sendiri hanya tersenyum. "Kau yakin mau melawannya? Kau tidak takut mati?"

"Setidaknya aku sudah mencoba bertahan, lagipula aku ingin tahu apa alasan dia ingin membunuhku"

Jaejoong tertawa. "Seorang pembunuh tidak akan mudah memberitahu alasan dia membunuh pada korbannya, kecuali jika korbannya sudah dalam keadaan sekarat dan akan mati"

Seketika Yunho merasa ada yang berbeda pada Jaejoong, laki-laki cantik itu memang tersenyum, tapi senyumnya terlihat mengerikan.

"Apa kau masih mencintai Boa? Apa di hatimu masih ada perasaan ingin bersamanya?"

Pertanyaan Jaejoong membuat Yunho mengerutkan dahi, nada bicara Jaejoong berubah. Dia bingung, kenapa tiba-tiba Jaejoong menanyakan perasaannya pada Boa di saat seperti?

"Iya, aku masih mencintainya" jawab Yunho singkat.

Jaejoong tersenyum mendengar jawaban Yunho. "Itu artinya aku harus membunuhmu, sebelum dia membunuhmu. Benar-benar membunuhmu"

Tiba-tiba Jaejoong mengulurkan kedua tangannya ke wajah Yunho, lalu menangkupkan kedua tangannya di leher Yunho. Saat itu juga dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia seakan terhipnotis oleh tatapan Jaejoong.

Sial... tubuhku tidak dapat bergerak, apa dia akan mencekikku? Atau mungkin mematahkan leherku? Aku akan mati.

Yunho bahkan tidak menyadari tindakan Jaejoong, saat laki-laki cantik itu dengan tiba-tiba menarik tengkuknya dan menciumnya, tepat di bibirnya. Ciuman itu bukan ciuman biasa yang hanya menempelkan bibir, tapi ciuman yang dalam. Jaejoong bahkan memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciumannya.

Yunho tersadar, dengan cepat dia mendorong Jaejoong hingga tautan bibir mereka terlepas dan Jaejoong menatapnya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Bukankah kau masih mencintai Boa? Tenang saja, itu hanya salam yang dia titipkan padaku" ucap Jaejoong dengan senyum manis, tapi tatapan matanya berbeda.

Yunho menyadari perubahan pada Jaejoong, tatapan matanya terlihat berbeda, bukan seperti Jaejoong yang sebelumnya dan nada bicaranyapun berubah, dia bahkan tidak menyebut dirinya sebagai Joongie.

"Aku sudah mengatakan sebelumnya, bukan? Jika aku akan membunuhmu, jadi anggap saja ciumanku sebagai hadiah sebelum kematianmu"

Tiba-tiba Yunho merasakan sakit di bagian perutnya, dia bahkan sedikit terbatuk. Jaejoong menendang perut Yunho dengan lutut, membuatnya berlutut sambil memegangi perutnya.

"Kau tahu? Bintang di langit hanya terlihat indah saat dilihat dari jauh, karena jika dari dekat, bintang hanya merupakan batu-batu hitam. Tapi itu tidak masalah, karena aku tetap menyukai bintang. Bahkan saat bintang itu jatuh, dia tetap berkilau, sama seperti dirimu saat ini"

Yunho menatap Jaejoong. "Kenapa kau ingin membunuhku? Apa hubungannya dengan Boa?"

Jaejoong menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Aku tidak bisa memberitahu alasannya, karena itu rahasia"

"Siapa kau sebenarnya? Apa Jaejoong itu dirimu yang sebenarnya?"

Jaejoong tersenyum. "Kau ingin tahu siapa aku? Aku adalah..."

"Hero..."

Ucapan Jaejoong terpotong, saat dia menoleh, dia melihat orang yang sebelumnya mengejar dirinya dan Yunho, berdiri dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, lalu kembali menatap Yunho.

"Kau diamlah di sini, jangan menggangu pekerjaanku jika masih ingin hidup" Jaejoong melirik ke arah pria yang sebelumya mengejar dirinya dan Yunho. "Dia tidak akan ragu untuk membunuhmu, jadilah anak yang baik dan lakukan apa yang kukatakan"

Jaejoong membalikan tubuhnya lalu berjalan menjauh dari Yunho, dia mendekati pria yang sedang menatapnya tajam.

Jaejoong tersenyum. "Sudah lama tidak bertemu dengamu, terakhir kita bertemu saat di Praha, bukan? Apa kabarmu?"

Yunho mengerutkan dahi, dia bingung. Bagaimana bisa Jaejoong mengenal pria yang berniat membunuhnya? Pria yang dikenal sebagai pembunuh dan menjadi target kepolisian, Hero.

Hero hanya terdiam dan menatap Jaejoong.

Jaejoong menghela napas.

"Dinginnya... apa kau tidak bosan memasang wajah muram seperti itu terus, Kris? Atau kau lebih suka dipanggil Hero?" Jaejoong tertawa. "Sepertinya kau senang sekali menjadi diriku, bahkan sekarang kau menjadi terkenal dengan namaku dan menjadi Hero palsu "

Yunho membesarkan matanya. Dia meyakinkan pendengarannya, Jaejoong tadi menyebut nama Hero dan pria yang ingin membunuhnya berusaha menjadi dirinya. Mungkinkah Jaejoong adalah Hero yang sebenarnya?

"Tapi sayang caramu menghabisi 'mereka' terlalu kasar, seperti amatir yang baru belajar membunuh. Kau benar-benar merusak nama Hero, kau tidak pantas memakai nama itu. Karena itu milikku" lanjut Jaejoong dengan seringai di sudut bibirnya.

Mata Yunho membesar, tepat seperti dugaannya. Jaejoong adalah Hero yang sebenarnya.

"Kau tahu? Tugas yang kau dapat untuk membunuh Uknow, itu aku yang mengaturnya. Aku diminta seseorang untuk membunuh Go Ara, tapi aku memintanya memberikan sebuah pekerjaan untukmu. Untuk memancingmu keluar dengan menjadikan Uknow sebagai targetmu, seperti membunuh dua burung dengan satu batu. Dan aku berhasil, kau masuk dalam permainanku. Aku mengawasimu saat kau mengintai Uknow, tapi aku tahu kau tidak akan langsung menyerangnya, karena kau menunggu perintah. Itulah bedanya aku denganmu, aku mampu bergerak sendiri untuk menghabisi nyawa targetku tanpa perintah siapapun. Kau bisa meniruku, tapi kau tidak akan pernah bisa menjadi diriku. Karena aku adalah aku dan kau hanya imitasi"

Hero palsu —atau yang Jaejoong panggil Kris— menggertakan giginya dan menatap Jaejoong penuh kebencian. Tanpa ragu dia melepaskan jaket lalu mengeluarkan pisau miliknya, dia menantang Jaejoong.

Jaejoong hanya tersenyum mengejek. "Ah... kau masih bermain dengan mainan kecilmu itu, tidak masalah untukku. Aku masih bisa menghadapimu dengan tangan kosong, aku akan membunuhmu. Dengan begitu, kau akan mati sebagai Hero. Kau senang, bukan. Mati sebagai diriku?"

Kris menyerang dan mengarahkan pisaunya, namun Jaejoong menahan serangan Kris dan membalasnya dengan menendang perutnya. Kris terus mencoba menyerang Jaejoong, tapi kali ini Jaejoong berputar ke belakang tubuh Kris dan mendorongnya, tapi dengan sigap Kris membalikan tubuhnya dan berusaha menendang.

Jaejoong berguling menghindari serangan Kris. Namun Kris belum menyerah, dia berlari ke arah Jaejoong dan mengarahkan tendangan ke wajah Jaejoong, dengan sigap Jaejoong berputar. Kris menyerang dengan tinjunya, tapi Jaejoong merunduk dan memberikan tendangan tepat mengenai kepala Kris.

Kris terjatuh, tetapi dengan cepat dia bangkit dan kembali menyerang. Jaejoong menahan serangan Kris, dan berhasil mengenai wajah Kris. Namun Kris juga membalas, dan kali ini sebuah tinju mengenai wajah Jaejoong.

Kris kembali menggunakan pisaunya untuk menusuk Jaejoong, dengan sigap Jaejoong menahan tangan Kris dan memutarnya, membuat pisau di tangannya mengarah ke wajahnya sendiri. Jaejoong mendorong tangan Kris, sementara pembunuh itu berusaha menahan, hingga akhirnya dia menggunakan lengannya yang terbebas untuk mencekik Jaejoong.

Jaejoong berusaha melepaskan cekikan di lehernya, tapi cekikannya semakin kencang. Akhirnya Jaejoong menendang perut Kris dengan lututnya, dan saat cekikan di lehernya melonggar, Jaejoong menggunakan lutut Kris sebagai tumpuan sementara tangannya menarik tengkuk Kris, dengan cepat dia menjadikan tubuhnya sebagai pemberat dan membuat Kris terjatuh dengan kepala lebih dahulu.

Jaejoong berguling menjauhi Kris, tetapi ternyata usahanya masih belum bisa melumpuhkannya, pembunuh itu masih bisa berdiri dan dengan cepat dia melemparkan pisau miliknya, benda kecil yang tajam itu langsung mengenai pinggang kiri Jaejoong.

Jaejoong terjatuh ke belakang dengan memegangi pinggangnya, dia menatap Kris dengan tajam lalu mencabut pisau yang menusuknya. Saat bersamaan Kris menyerangnya, dia bermaksud menendang dan mengincar kepala Jaejoong. Tapi dengan sigap Jaejoong menghindar dan menusuk punggung Kris, lalu dengan cepat Jaejoong kembali menyerangnya.

Jaejoong berputar lalu menendang kepala Kris dengan keras, membuat pria yang mengaku sebagai dirinya mundur beberapa langkah, kemudian Jaejoong menendang perutnya dan pembunuh itu terlempar dari pingir atap hotel dengan ekspresi terkejut dan terjatuh ke tanah dengan keras.

Jaejoong berdiri di pinggir atap, dia melihat tubuh Kris tergeletak di tanah dengan bentuk tubuh yang aneh dan darah mulai keluar menggenanggi tubuh yang tampaknya sudah tidak bernyawa itu, dan jika masih bernyawa, dia pasti merasakan sakit yang luar biasa.

Jaejoong menatap dengan senyum puas terpasang di bibirnya, sementara Yunho terlihat shock dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Laki-laki cantik yang awalnya dia kira hanya orang bodoh dan ceroboh, ternyata seorang pembunuh yang hebat.

Jaejoong menoleh ke arah Yunho, lalu berjalan mendekatinya. Yunho gemetar dan ketakutan, dia seperti sedang melihat malaikat kematian yang akan mencabur nyawanya.

"Kau takut padaku?" tanya Jaejoong pelan.

Jaejoong menatap Yunho yang tampaknya sedikit takut dengan dirinya. "Apa kau takut aku akan membunuhmu? Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu, Boa memintaku untuk membunuhmu, tapi bukan menghilangkan nyawamu. Dia memintaku untuk membunuh perasaanmu padanya, perasaan bahwa kau masih mencintainya"

"Ini tugas terakhirku, tapi aku malah gagal" Jaejoong tersenyum. "Kau tahu, kau satu-satunya korbanku yang mengetahui siapa aku yang sebenarnya, tapi aku tidak bisa membunuhmu, karena aku... ah sudahlah"

Yunho melihat Jaejoong memegangi pinggangnya, dan mata sipitnya langsung membesar saat melihat cairan pekat berwarna merah keluar dari sela-sela jari Jaejoong.

"Kau terluka?"

Jaejoong mengikuti tatapan mata Yunho. "Ah ini... ini hanya luka kecil, hanya tertusuk pisau. Aku pernah tertusuk dengan sesuatu yang lebih besar dan lukanya lebih parah dari ini"

"Tapi kau harus segera diobati, aku akan menghubungi polisi" ucap Yunho dengan panik, seketika rasa takutnya pada Jaejoong menghilang.

Jaejoong tersenyum lalu membersihkan darah di tangannya, kemudian mengambil spray bius dari kantong jaketnya, dan mengarahkan spray itu ke wajahnya lalu menyemprotnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Yunho membuat Jaejoong menatapnya.

"Kenapa?" Jaejoong balik bertanya dengan bingung.

"Apa kau ingin membuat dirimu pingsan?"

Jaejoong menganggukan kepala. "Tentu saja, jika tidak polisi bisa menangkapku karena aku adalah Hero. Tapi sepertinya spray ini habis"

Jaejoong membuang botol spray biusnya lalu mengambil sesuatu di dekat kakinya. "Aku pakai ini saja"

Dengan keras Jaejoong memukul kepalanya dengan sebuah balok kayu, dan langsung merasakan pusing.

"Apa yang kau lakukan, bodoh?"

Jaejoong tidak menjawab pertanyaan Yunho, dia hanya tersenyum lalu kesadarannya mulai hilang dan tubuhnya terjatuh, beruntung dengan cepat Yunho memeluknya.

(***)

Dengan cepat polisi mengevakuasi para tamu hotel, termasuk Jaejoong dan Yunho.

Setelah Jaejoong tidak sadarkan diri, orang yang sebelumnya bertabrakan dengannya tiba dan langsung menghampirinya lalu menghubungi rekan-rekannya. Dan dengan cepat para polisi itu membereskan sisanya, Jaejoong sendiri langsung mendapatkan pertolongan, petugas medis datang dan membawa Jaejoong yang masih belum sadarkan diri ke rumah sakit.

Yunho tidak mengatakan yang sebenarnya, jika Jaejoong adalah Hero yang asli. Dia hanya mengatakan jika dirinya dan Jaejoong menjadi target pembunuhan oleh pembunuh berbahaya, Hero. Dia juga mengatakan jika Hero adalah orang yang bertarung dengan Jaejoong dan sudah menjadi mayat karena terjatuh dari atap, tetapi dia tidak mengatakan Jaejoonglah yang sudah membunuh orang itu. Jika dia mengatakannya, Jaejoong bisa dicurigai. Bagaimana bisa Hero yang seorang pembunuh profesional tewas dengan mudah dibunuh targetnya sendiri, mustahil. Kecuali jika yang mati itu bukanlah Hero yang asli.

Yunho yang selamat langsung menjadi sasaran para pemburu berita, mereka penasaran dengan apa yang sudah dilakukan Yunho sampai bisa selamat dari pembunuh sehebat Hero, dan mereka juga penasaran dengan seseorang yang bersamanya saat itu, hingga muncul spekulasi jika dia sedang bersama dengan kekasihnya dan menjadikan hotel untuk tempat mereka bertemu.

Yunho tidak pernah digosipkan dengan siapapun sebelumnya, karena agensi tempatnya bekerja berusaha menutupinya. Namun dengan kejadian yang baru saja terjadi, para pemburu berita menjadi penasaran. Dari informasi yang mereka dapatkan, Yunho sedang bersama seseorang yang cukup cantik, dan itu dibenarkan oleh managernya sendiri, Park Yoochun. Yang juga selamat dan tersadar dari pingsannya sesaat setelah Yunho keluar dari kamarnya.

Sementara itu...

"Kau selamat, Min? Bagaimana bisa? Bukankah kau tertusuk pisau yang dilempar Hero?" tanya Junsu bingung saat melihat rekannya masih hidup tanpa terluka sedikitpun dan tersenyum padanya, sedangkan dirinya mendapat luka di lengan kanannya yang tergores dan kakinya yang tertimpa pot bunga.

"Aku memang tertusuk pisau itu, tapi aku selamat. Aku bisa selamat karena ini" Changmin mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan memberikannya pada Junsu.

Junsu mengerutkan dahinya bingung.

"Ini kan komik" Junsu melihat komik tersebut lalu matanya membesar. "Ini komik hentai! Dasar otak mesum!"

Changmin hanya memasang cengiran bodoh dan menggaruk kepalanya. "Tapi komik ini sudah menyelamatkanku, hyung"

(***)

Beberapa hari setelah kejadian itu.

"Apa dia meninggal dengan kesakitan?" tanya seorang wanita pada pria yang sedang duduk memunggunginya, namun matanya menatap ke luar jendela yang dipenuhi pemandangan kesibukan kota Seoul.

"Dia tidak merasakannya, karena dia langsung mati" jawab pria itu. "Aku sengaja mengancamnya dan membuatnya dengan mudah merebut pisauku, tapi tanpa dia sadari aku memutar arah pisau itu dan menarik tubuhnya agar jatuh menimpaku, dengan begitu pisau itu menusuknya dan dia mati"

Wanita itu tersenyum, lalu berjalan mendekati pria itu dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Mereka berada di sebuah ruangan, ruangan kerja yang terlihat besar dan mewah.

"Aku menyesalinya, aku mendukungnya saat wanita itu mengantikan posisi pamanku. Aku mengakui kemampuannya dalam mengembangkan perusahaan ini, tapi hal itu membuatnya menjadi besar kepala. Dia bahkan berani berselingkuh dari pamanku"

"Jadi perselingkuhan itu hanya alasan, sebenarnya kau ingin menyingkirkannya karena dia bisa mengembangkan perusahaan yang sekarang kau pimpin dengan baik?" tanya pria itu menarik sebuah kesimpulan.

"Tentu saja, aku tidak membiarkan wanita itu menguasai apa yang seharusnya menjadi milikku. Perusahaan ini" jawab wanita itu dengan penuh percaya diri.

"Kau benar-benar licik"

"Tapi aku tidak sehebat kau yang menggunakan salah satu artisku sebagai umpan" wanita itu menatap kagum.

"Aku mempunyai alasan tersendiri menggunakan Uknow sebagai umpan, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu"

Wanita itu mengangkat bahu. "Aku tahu, kau pasti akan membunuhku jika aku mengetahui alasannya. Aku kagum kau bisa memanfaatkan keadaan dan membuat seolah Go Ara dibunuh oleh pembunuh lain, benar-benar jenius dan penuh perhitungan"

Pria itu hanya tersenyum.

"Bukankah kematian Go Ara akibat dibunuh oleh pembunuh bayaran dan pembunuh itu juga telah mati, itu lebih baik? Dengan begitu keterlibatanmu dengan kasus ini, tidak akan diketahui siapapun" dia mengambil amplop yang tergeletak di meja di hadapannya, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. "Terima kasih karena kau sudah memakai jasaku, Nona Lee Soonkyu"

Soonkyu membalas jabatan tangan pria itu. "Terima kasih kembali, Han Jaejoon"

Setelah berjabat tangan, pria itu keluar dari ruangan Lee Soonkyu lalu memuju lift. Begitu pintu lift terbuka dia langsung masuk, tapi seseorang menahan lift tepat sebelum pintu itu tertutup.

"Maaf" ucap orang yang menahan pintu.

Pria itu hanya tersenyum dan melirik melalui sudut matanya saat pria yang menahan pintu berdiri di sampingnya, pria tampan bertubuh tegap dengan mata seperti rubah dan memiliki tatapan tajam.

Dia tidak mengenaliku...

Lift sampai di lobby, dengan cepat dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir lalu melesat meninggalkan gedung mewah yang menjadi agensi para artis terkenal di Korea Selatan.

Setelah cukup jauh dari gedung itu, dia menghentikan mobilnya di tempat yang agak sepi, lalu menatap kaca spion. Dia menutup matanya dan tangannya menyentuh rahangnya, lalu menarik sesuatu yang terlihat seperti kulit dari wajahnya.

Setelah benda yang menutupi wajahnya terlepas, dia membuka matanya dan tersenyum.

"Akhirnya aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya, kembali menjadi Kim Jaejoong" ucapnya lalu menjalankan mobilnya kembali.

(***)

Jaejoong duduk di sudut sebuah kafe, dia sibuk menatap tablet di hadapannya, matanya sibuk melihat berita yang membahas tentang kasus beberapa hari yang lalu, kasus yang cukup membuat kehebohan di masyarakat. Karena berita itu melibatkan seorang pembunuh yang sudah lama dicari polisi dan seorang aktor yang terkenal.

Ketika sedang terfokus pada salah satu berita, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal menghubunginya.

"Halo"

"Apa kabarmu?"

Jaejoong mengerutkan dahi mendengar pertanyaan itu.

"Siapa kau?"

"Ini aku...Yunho"

"Kau Yunho? Bagaimana kau tahu nomor ponselku?" tanya Jaejoong menyelidik.

"Bukankah saat memberikan laporan di polisi kau memberikan data pribadimu, aku tahu nomor ponselmu dari data itu, dengan sedikit akting tentunya"

Jaejoong menghela napas pelan.

"Kau tahu, sekarang popularitasmu nampaknya semakin meningkat. Aku melihat banyak berita tentangmu di internet" Jaejoong menatap tablet miliknya. "Mereka memujimu sebagai pahlawan, tapi aku heran mereka bisa tertipu semudah itu"

"Media memang seperti itu, selalu membesar-besarkan masalah tanpa mengetahui dengan pasti kebenarannya, mereka melakukan hal itu agar orang-orang tertarik dengan berita yang mereka suguhkan, bahkan tidak sedikit berita yang ditambahkan sesuka mereka agar menarik dan terkadang memberikan judul yang terlalu berlebihan"

Jaejoong mengerutkan dahi membaca sebuah headline berita.

Uknow selamat dari usaha pembunuhan terhadap dirinya, dia berhasil mengalahkannya dan menyelamatkan kekasihnya.

"Bagaimana bisa mereka percaya jika kau yang mengalahkan Hero?" tanya Jaejoong bingung.

"Sebenarnya aku ini menguasai Hapkido, jadi cukup ahli dalam berkelahi. Kau tahu bukan, jika film terbaruku bergenre action dan aku tidak menggunakan pemeran pengganti di setiap adegannya? Ya, aku cukup hebat"

Jaejoong memutar matanya.

"Lalu apa maksud berita kau menyelamatkan kekasihmu saat bertarung dengan Hero? Jangan katakan jika kekasihmu yang dimaksud itu adalah aku" ucap Jaejoong dengan nada curiga.

"Bukankah lebih baik mereka tahu jika kau adalah kekasihku, bukankah kau juga mengatakan hal yang sama pada dua orang detektif yang memburu Hero dan juga Go Ara? Jadi apa masalahnya? Bukankah lebih baik seperti itu daripada identitas aslimu terbongkar?"

"Kurasa lebih baik aku membunuhmu saja, dengan begitu rahasiaku akan mati bersamamu" ucap Jaejoong serius.

"Kau tidak serius akan membunuhku, kan? Ayolah...lagipula bagaimana bisa kau menemukanku"

Jaejoong tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. "Kau lupa siapa aku? Aku bisa melacakmu melalui GPS di ponselmu, aku bisa menemukanmu dengan sangat mudah dan aku bisa segera datang ke tempatmu lalu membunuhmu"

"Kau tidak serius, kan?"

"Aku serius, saat ini aku sudah mengetahui tempatmu berada. Jadi kau ingin mati dengan cara seperti apa? Mati perlahan dan menyakitkan atau cepat?"

"Apa? Tidak!"

Sambungan diputuskan sepihak oleh Yunho setelah dia berteriak ketakutan.

Jaejoong menatap ponselnya. "Dasar bodoh, aku kan cuma bercanda. Mana mungkin aku membunuhmu"

Jaejoong meletakan ponselnya lalu menatap ke arah luar, matanya menatap pemandangan lalu lalang keramaian kota Seoul. Dan sebuah senyum terselip di bibirnya.

Senang rasanya kembali menjadi diri sendiri...

.

.

.

END ya, Cuy—

Wkwkwkwkwkwk

Kurang puas sama endingnya? Tenang... masih ada bonus chapter.