Bonus Chapter: Do You Remember Me? (END)
.
.
.
"Kau ingin aku membunuhnya dengan cara apa? Kecelakaan mobil? Bunuh diri? Ditembak? Ditusuk? Atau dibantai dan dimutilasi? Tapi kusarankan jangan memilih pilihan terakhir, aku tidak menyukainya karena terlalu banyak darah" ucap Jaejoong pada wanita yang sedang menatapnya shock.
"Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa isi kepalamu mengerikan seperti itu? Apa kau terlalu banyak menonton film thriller? Kau seperti pembunuh saja" ucap wanita yang bersama Jaejoong.
Jaejoong mengangkat bahu. "Bukankah kau memintaku untuk membunuh Jung Yunho? Jadi salahku di mana?"
"Apa kau yakin bisa membunuhnya?"
Pertanyaan terakhir wanita itu membuat Jaejoong terdiam, lalu sebuah senyum mengembang di bibirnya. "Entahlah"
"Hah? Apa yang kau katakan, Jae?"
Pertanyaan itu membuat Jaejoong tersadar dari lamunannya, dia langsung menatap wanita cantik yang sedang menatapnya bingung.
"Apa?" ucap Jaejoong bingung.
Wanita cantik itu menghela napas pelan. "Jangan katakan tadi kau sedang melamun?"
Jaejoong tersenyum. "Aku tidak sedang melamun, aku hanya teringat permintaanmu beberapa waktu lalu"
"Permintaan apa? Memangnya aku pernah meminta apa padamu?" tanya wanita itu bingung.
"Pemintaan untuk membunuh Jung Yunho. Kau tidak lupa itu kan, Boa?"
Kwon Boa, wanita yang sedang bersama Jaejoong itu membesarkan matanya. "Kau serius ingin membunuhnya?"
Jaejoong tersenyum. "Aku sudah mencoba untuk melakukannya, tapi gagal. Aku tidak bisa membunuhnya seperti yang kau inginkan"
Boa mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Aku takut, jadi tidak bisa membunuhnya" ucap Jaejoong pelan.
"Jadi kau belum membunuhnya, karena kau takut?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya.
"Sudah kuduga... melihat kecoa saja kau sampai menjerit-jerit seperti kesurupan, bagaimana bisa membunuh orang"
Ucapan menusuk Boa langsung membuat Jaejoong memajukan bibirnya kesal, apa salahnya takut dengan kecoa? Lagipula dia hanya menjerit ketakutan setiap kali melihatnya, bukankah itu wajar? Apalagi dia memiliki pengalaman buruk dengan serangga yang sering muncul dari kamar mandi itu.
Boa menghela napas pelan lalu melihat jam tangannya. "Sudah waktunya aku pergi"
"Kau akan pergi sekarang?"
Boa berdiri dari kursi yang dia duduki lalu mencium pipi Jaejoong. "Iya, aku sudah ditunggu. Kau berhati-hatilah, jangan ceroboh seperti biasanya, sampai membuat dahimu terluka"
"Aku ingin menitipkan salam untuk Yunho, katakan padanya jangan mencariku lagi" ucap Boa sebelum dia beranjak pergi.
Jaejoong hanya tersenyum mendengar ucapan Boa, setelah wanita cantik itu pergi, dengan cepat dia menghubungi seseorang.
"Yunho, ini aku Jaejoong. Temui aku di Jholic cafe di kawasan Myeongdong, ada yang ingin aku katakan" ucap Jaejoong singkat lalu menutup teleponnya sebelum mendengar jawaban Yunho.
(***)
"Jadi apa yang ingin kau katakan?"
Jaejoong menoleh dan menemukan seorang pria terlihat mencurigakan berbicara padanya, pria itu tertubuh tinggi tegap, memakai jaket berwarna biru gelap, menggunakan sebuah topi dan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
Jaejoong mengerutkan dahi curiga. "Siapa kau?"
Bukannya menjawab pertanyaan Jaejoong, pria itu memilih duduk di hadapannya dan menatapnya.
"Ini aku" ucapnya sambil membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Yunho? Kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Jaejoong bingung.
"Tentu saja penyamaran, kau tahu sendiri jika aku saat ini sedang terkenal. Akan jadi masalah jika aku berkeliaran di Myeongdong yang penuh manusia tanpa penyamaran, bisa terjadi keributan nantinya"
Yunho menatap suasana di kafe itu. "Tempat yang bagus, suasanya nyaman dan interiornya bagus. Tidak sulit juga menemukan tempat ini, kau hebat bisa menemukan tempat senyaman ini"
"Terima kasih, tempat ini adalah favoritku"
Yunho mendekatkan wajahnya ke arah Jaejoong. "Lalu apa yang ingin kau katakan?"
"Jangan terlalu dekat" ucap Jaejoong tegas, membuat Yunho menjauhkan wajahnya lalu menyandarkan tubuhnya.
"Bagaimana lukamu?" tanya Yunho saat melihat perban di dahi Jaejoong yang berusaha ditutupi dengan rambutnya.
Jaejoong menyentuh dahinya. "Sudah lebih baik"
"Yang tertusuk itu?" Yunho menunjuk ke arah pinggang Jaejoong.
"Hanya luka kecil" jawab Jaejoong singkat.
"Luka kecil katamu? Tertusuk pisau dan mendapat dua jahitan seperti itu, kau bilang luka kecil? Kau itu tertusuk pisau, bukan jarum" Yunho menghela napas. "Apa orang yang ingin membunuhku, juga sama sepertimu?"
"Yifan maksudmu?"
"Yifan?" Yunho mengerutkan dahi bingung, dia tidak mengenal seseorang bernama Yifan.
"Wu Yifan, atau biasa kupanggil Kris. Dia sama sepertiku, assassin. Tapi kemampuannya masih di bawahku dan dia sangat terobsesi menjadi seperti diriku" Jaejoong tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. "Pertama kali aku bertemu dengannya saat di Paris, saat itu aku baru saja menghabisi targetku dan dia melihatku. Tapi bukannya takut padaku, dia malah mengagumiku. Aneh bukan?"
Jaejoong menghela napas, lalu melanjutkannya. "Beberapa tahun kemudian aku bertemu lagi dengannya, tapi dia sudah menjadi seperti diriku. Dia bahkan merebut targetku dan menghabisinya dengan cara yang hampir sama denganku, seakan dia meniruku. Aku pernah bertarung dengannya dan dia melukaiku dengan mainan kecilnya, lukanya cukup dalam dan membuatku beristirahat sementara waktu, dan itu membuatnya leluasa menjadi diriku. Membunuh dan membunuh, lebih banyak dan lebih kejam dengan darah di mana-mana"
Yunho terdiam mendengar cerita Jaejoong, hingga akhirnya dia membuka suara.
"Apa berita tentang aku membunuhnya akan menjadi masalah?" tanya Yunho sedikit takut.
Jaejoong tersenyum melihat ketakutan di mata Yunho. "Tenang saja, Yifan memiliki banyak musuh. Jadi saat ada yang membunuhnya, mereka tidak akan mencari pembunuhnya"
"Bagaimana bisa?" tanya Yunho penasaran.
"Karena Yifan selalu merebut target assassin lain dan menghabisinya lebih dulu, jadi mereka membencinya" jelas Jaejoong.
"Kenapa mereka tidak mencoba membunuhnya?"
"Entahlah...mungkin mereka menunggu aku membunuhnya" Jaejoong menghela napas pelan. "Sebenarnya aku bisa mengirim Max untuk melakukannya, tapi aku menyimpannya untuk kugunakan di saat penting"
Yunho mengerutkan dahi mendengar nama lain yang disebut Jaejoong. "Max? Siapa dia?"
"Adik angkatku" jawab Jaejoong singkat.
Yunho membesarkan matanya. "Kau punya adik? Apa dia assassin sama sepertimu?"
Jaejoong tersenyum. "Pekerjaan kotornya adalah menutupi pekerjaanku, dia memiliki masa depan cerah di pekerjaan bersihnya. Aku melarangnya untuk terlibat langsung dengan duniaku"
Jaejoong menatap Yunho tajam. "Apa kau ingat dua detektif yang hampir membongkar penyamaranku?"
Yunho mengganggukan kepala.
"Salah satunya adalah Max"
Seketika mata Yunho membesar. "Apa? Kau serius?"
"Kau ingat detektif bertubuh tinggi dengan wajah kekanakan bernama Shim Changmin?"
Yunho mengangguk.
"Dia adalah Max, adik angkatku"
"Dia sangat jenius, dia membantuku menutupi semua tentang diriku, itu sebabnya polisi tidak pernah bisa menemukanku atau mengetahui siapa aku yang sebenarnya" jelas Jaejoong. "Dia juga yang membuat kematian Go Ara seakan dibunuh oleh Kris"
Yunho mengerutkan dahi bingung. "Bukankah pisau yang digunakan untuk membunuh Go Ara terdapat sidik jarimu, dan aku juga sudah menyentuhnya, itu artinya..."
Jaejoong memotong ucapan Yunho, dia melihat kekhawatiran di matanya. "Aku sudah menghapusnya sebelum kulemparkan ke arah Kris, dan aku sengaja tidak mengelak saat dia melempar kembali pisau itu"
"Lalu bagaimana bisa kau menjadi pembunuh?" tanya Yunho penasaran.
"Itu rahasia. Kau tahu bukan, jika kau mengetahui rahasiaku, aku akan membunuhmu. Jadi biarkan itu tetap menjadi rahasia" ucap Jaejoong membuat Yunho terdiam.
Aku tahu itu rahasia, tapi... aku penasaran.
"Apa semua yang kau katakan padaku sebelumnya adalah kebohongan, namamu, pekerjaanmu, masa lalumu, bahkan mungkin usiamu"
Jaejoong menatap Yunho, lalu tersenyum. "Kau benar, sebagian cerita yang kau dengar dariku sebelumnya adalah kebohongan. Aku tidak pernah berurusan dengan polisi, jadi aku tidak pernah dipenjara, itu semua karena bantuan Max. Aku juga berbohong tentang usiaku, aku lebih tua darimu. Di akta kelahiranku tertulis tanggal 26 Januari sebagai hari lahirku, tapi yang sebenarnya aku terlahir tanggal 4 Februari di tahun yang sama denganmu"
Yunho membesarkan matanya. "Kau seusia denganku? Kita hanya berbeda dua hari?"
Jaejoong menggangukan kepala. "Selebihnya itu benar, aku mengenal Boa dan seperti yang sudah kau tahu, aku adalah Hero. Dan nama asliku Jaejoong, Kim Jaejoong"
"Waw" hanya itu yang terucap dari mulut Yunho, dia telalu terkejut mengetahui kebenaran tentang Jaejoong.
"Bagaimana kau bisa mengenal Boa?" tanya Yunho pelan, dia terlalu shock.
"Boa adalah sepupuku"
Yunho terkejut mendengar jawaban Jaejoong.
"Apa dia tahu jika kau Hero?"
Jaejoong tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Boa tidak tahu pekerjaanku yang lain, dia hanya mengetahui jika aku pemilik tempat ini. Pekerjaan kotor itu, adalah rahasiaku. Dia bahkan tidak tahu jika aku terlibat denganmu, dia hanya tahu jika dahiku terluka akibat terpeleset di kamar mandi dan membentur wastafel karena panik saat melihat kecoa, dia bahkan tidak tahu luka di pinggangku. Dia hanya mengetahui jika aku sering terluka akibat kecerobohanku, dia itu mudah sekali dibohongi"
"Boa menitipkan salam untukmu, dia mengatakan kau tidak perlu mencarinya" lanjutnya.
"Kau bertemu dengannya?"
Jaejoong menganggukan kepala. "Dia baru saja pergi"
"Kemana?"
"Kau ingin mengejarnya?" tanya Jaejoong yang mendapat anggukan dari Yunho. "Sebaiknya jangan"
Yunho mengerutkan dahi, dia benar-benar bingung dengan ucapan Jaejoong. "Kenapa?"
"Kau tahu bukan, tujuan aku membunuhmu?" Yunho menganggukan kepala. "Itu adalah permintaan Boa, dia ingin kau melupakannya"
Yunho menatap Jaejoong, seakan mencari jawaban dari pertanyaannya.
"Karena dia akan segera menikah"
Yunho membesarkan matanya. "Menikah? Boa akan menikah?"
Jaejoong menganggukan kepala. "Dia akan menikah bulan depan, jadi kuharap kau bisa melupakannya. Lagipula bukankah akan menjadi skandal jika kau masih mendekatinya, itu tidak baik untuk karirmu"
Yunho terdiam, dia terlalu terkejut mengetahui kenyataan tentang Boa, wanita yang selama ini dia cari.
Sepertinya aku harus berhenti mengejarnya.
Dia menghela napas panjang, tanpa sadar dia memperhatikan laki-laki cantik di hadapannya yang sedang menikmati latte dengan santai, seketika dia merasa pernah melihatnya di suatu tempat, namun sangat lama. Seperti sebuah kenangan yang terkubur lama di dalam ingatannya.
Entah kenapa aku seperti pernah melihat Jaejoong, tapi aku tidak ingat.
"Kenapa?"
Yunho menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum.
"Hei, Jae. Apa J dari Jholic nama kafe ini berasal dari namamu?"
Jaejoong menganggukan kepala.
"Dan sepertinya kau menyukai gajah"
Yunho menyadari logo kafe Jaejoong berbentuk seperti gajah, dengan huruf J yang menjadi belalainya, bahkan di cangkir latte Jaejoong terdapat gambar yang sama.
"Aku suka gajah. Adikku yang mendesain logo itu, dengan bayaran makan sepuasnya di kafe ini selama satu bulan penuh"
Yunho terdiam, tiba-tiba dia teringat dengan seseorang dari masa lalunya yang juga menyukai hewan besar itu.
"Saat aku kecil, aku punya teman, tapi mungkin tidak bisa disebut teman akrab, karena aku sering menjahilinya. Dia anak perempuan pendiam yang selalu membawa boneka gajah dan memakai jepit rambut Hello Kitty. Aku tidak tahu siapa namanya, tapi aku selalu memanggilnya Boo" ucap Yunho membuat Jaejoong seketika menatapnya.
"Aku penah membuatnya menangis, aku tidak sengaja mematahkan jepit rambut miliknya. Dia memintaku menggantinya karena jepit rambut itu pemberian dari seseorang, tapi aku malah menggodanya" Yunho tersenyum mengingat kenangan indahnya, lalu melanjutkan. "Setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya, sampai aku bertemu dengan Boa. Tadinya aku mengira Boa itu adalah Boo, jadi aku mendekatinya, tapi Boa tidak pernah mengingatku, dan saat aku mengatakan aku menyukainya, dia malah menjauh dariku dan menghilang seperti temanku itu"
Jaejoong menghela napas pelan. "Jadi itu alasanmu mendekati Boa? Karena dia mirip dengan seseorang di masa lalumu?"
Yunho menganggukan kepala.
"Sayangnya Boa bukanlah orang itu, dia bukanlah seseorang yang kau panggil Boo, mereka orang yang berbeda" ucap Jaejoong pelan, dia melanjutkan meminum lattenya.
Yunho menatap Jaejoong bingung, namun ekspresinya seakan bertanya. Dan saat dia memperhatikan Jaejoong dengan teliti, seketika matanya membesar.
Tidak mungkin... kenapa mirip sekali, apa jangan-jangan...
"Boo..."
"Apa?" tanpa sadar Jaejoong menjawab Yunho, dia merasa jika laki-laki di hadapannya baru saja memanggilnya.
Yunho tersenyum melihat reaksi Jaejoong yang kebingungan.
Ternyata benar, pantas saja saat melihat pertama kali seakan aku sudah mengenalnya lama.
"Ternyata selama ini aku salah orang ya" ucap Yunho membuat Jaejoong semakin bingung.
"Boo itu kau, bukan?"
Jaejoong yang awalnya menatap Yunho bingung, langsung tersenyum. "Kau sudah ingat?"
"Jadi benar kau itu Boo"
Jaejoong menganggukan kepala. "Kau terkejut?"
"Sedikit" ucap Yunho singkat.
"Aku tidak menyangka jika kau adalah Boo, tadinya aku mengira dia adalah perempuan, ternyata aku tertipu" Yunho tersenyum sendiri menyadari kekeliruannya.
"Itu karena Boa, dia senang sekali mendandaniku seperti perempuan" Jaejoong menunjukan ekspresi kesal.
"Hei, Boo... kau pernah mengatakan tugas terakhirmu gagal, bukan?" pertanyaan tiba-tiba Yunho membuat Jaejoong menatapnya, bukan karena pertanyaan itu, tetapi panggilan yang diucapkan Yunho.
Jaejoong mengerutkan dahi. "Tugas membunuh perasaanmu pada Boa? Itu memang gagal,
kenapa?" "Kurasa kau tidak gagal"
Jaejoong menatap Yunho bingung.
"Aku memang belum bisa melupakan Boa, karena aku merasa dia adalah Boo. Tapi..." Yunho menghembuskan napas pelan. "Setelah mengetahui dia bukanlah Boo, kurasa aku bisa melupakannya. Itu artinya tugasmu berhasil"
"Dan sepertinya aku sudah jatuh cinta pada Boo yang asli" lanjutnya. Jaejoong menatap Yunho shock, dia sungguh terkejut dengan ucapan pria tampan itu.
"Ka-kau bercanda, bukan?" tanya Jaejoong dengan terbata, dia terlalu kaget dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Tidak" jawab Yunho tegas, lalu sebuah senyum terukir. "Bagaimana jika kita berpacaran saja, lagipula media sudah mengetahui jika aku memiliki pacar"
Jaejoong menatap Yunho datar. "Tapi kita berdua sama-sama pria, itu bisa menjadi skandal untukmu"
Yunho mengangkat bahu. "Aku bisa mengatasinya, tenang saja" Jaejoong menyipitkan matanya. "Hubungan sesama jenis masih tabu di negara ini, Yunho"
Yunho tersenyum lebar. "Jadi kau setuju jika kita pacaran?"
"Bagaimana dengan Boa?"
"Bukankah dia akan menikah, jadi buat apa aku berhubungan dengan wanita yang akan menikah" ucap Yunho ringan, seakan masalah Boa bukanlah hal besar baginya.
"Walaupun aku seorang pembunuh?"
Yunho menggelengkan kepala. "Aku tidak perduli, lagipula itu masa lalumu dan tidak ada orang yang mengetahuinya"
Jaejoong menghela napas pelan. "Kau benar, aku sudah tidak melakukan pembunuh lagi setelah Kris melukaiku sebelumnya dan aku menikmati kehidupan damaiku. Aku membunuhnya karena sudah waktunya dia berhenti menjadi diriku"
"Baiklah, aku bersedia. Tapi dengan satu syarat" ucap Jaejoong serius.
Yunho menahan napasnya. "Apa?"
"Jika kau berani berselingkuh dariku..."
Jaejoong mendekatkan wajahnya ke arah Yunho, dan dengan sangat cepat, dia menempelkan bibirnya ke bibir Yunho.
Jaejoong lalu menjauhkan wajahnya dan tersenyum. "Aku akan membunuhmu, benar-benar membunuhmu..."
Yunho sendiri hanya terdiam, dia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan laki-laki cantik itu, namun akhirnya sebuah senyum terukir di bibirnya.
Dia menciumku... ya Tuhan, dia benar-benar menciumku. Kurasa kami akan menjadi pasangan fenomenal di abad ini.
.
.
.
— Kelar, cuy —
Happy ending ^^
