Each Tiger Has Its Tale

Baiklah, karena pada dasarnya ETHI memiliki alur yang cepat. Maka saya langsung memulai pendalaman konflik. Karena nyaris semua fanfic saya on going..

Pusing juga mikirnya..

Oh ya, maaf banget kalo Saki baru bisa apdet fic ini. lagi sibuk..

Rate : T

Disclaimer : Sengoku Basara bukan punya saya, mereka milik Capcom.

Silahkan menikmati cerita..


Balesan review!

Spada... helo eperibadeh..

Hananami Hanajima :

Iya.. makasih Hana-chan . Iya.. aku tahu itu kamu Sanada Sena. Kamu udah tahu kan respon saya. Nggak papa.. yang penting ganbatte aja!

Dissa Chavalliana :

Hehe.. emang beberapa scene mirip ama Saint Seiya Legend of Sanctuary. (Pengaruh buat FF sambil liat tuh pelem). Kasus long-duration? Okeh.. Saki ngerti..

kuroIChio :

aku dah jaga kesehatan.. Cuma lagi kena magh.. (Sama aja kelles..). Pola makan Saki makin lama makin enggak teratur. Depresi kali, kedamprat WB.

MAKASIH MINNNAAAAAAAAAAAAA!


Chapter 3 : 'Yuki'

Tubuhnya serasa kaku. Tidak bisa digerakkan, setengah tersadar. Otaknya tak merespon apakah tubuhnya terikat atau tidak. Pusing, seperti baru menabrak tembok. Tapi, mau terikat ataupun tidak pasti sama saja..

Dia tidak bisa bergerak. Rasanya seperti ditidurkan di atas balok es. Hawa disini benar-benar dingin dan menusuk. Kulitnya serasa ditusuk begitu disentuh halus oleh udara yang bergerak. Dia bisa merasakan matanya seperti mata ikan. Tubuhnya serupa mayat, dan pakaiannya mengawetkan jasadnya. Kaki dan tangan yang tidak mau menerima perintah yang dikirim dari otaknya.

Air menetes mengenai wajahnya. Jatuh dari atas, langit-langit itu beku. Kristal bening yang membeku disana seperti ratusan ranjau pedang yang digantung terbalik, siap menusuk jika gadis itu bergerak sedikit saja. Langsung membunuh. Padahal tubuhnya sudah menjelaskan kalau dia 'lumpuh'.

Nafasnya membentuk kepulan asap. Pandangannya bergeser, diantara ruangan serba putih yang cukup berkabut itu ada sebuah meja..

Meja itu diisi oleh gunting, jarum suntik, pisau bedah, pengait besi dan beberapa obat-obatan yang dimasukkan ke dalam botol injeksi. Nafasnya tertahan melihat semua properti yang terpapar disana. Gadis itu juga bisa merasakan arus listrik yang mengalir dalam radius 1 meter. Semuanya basah..

Dingin..

Membeku..


XXX


"..."

Gadis itu membuka matanya. Sayu, orbs biru es beriris runcing itu seperti meleleh. Dia mencoba membuka mulutnya sedikit, memeriksa gigi taringnya masih terdapat disana. Menggerak-gerakkan jari tangannya. Mengetes apakah berfungsi dengan baik.

Gadis itu mencoba menggeser lututnya. Kekuatan di lututnya masih cukup kuat untuk menompang tubuhnya. Gadis itu memejamkan mata lagi. Memeriksa apakah ada cacat yang tersisa. Rasanya sulit percaya jika dia masih utuh. Meski kecantikannya tidak berkurang sedikit pun..

Masih ada beberapa bagian yang sakit. Pundaknya masih terasa berdarah. Luka di punggungnya belum menutup sempurna. Sementara bagian kepala sepertinya belum bisa dipercaya untuk memimpin seluruh anggota tubuhnya. Reaksinya jelas menurun, apalagi rasa sakitnya masih belum berkurang. Penuh perjuangan untuk memfokuskan diri pada satu objek saja.

Semuanya masih melebur, seperti layar yang beruap. Gadis itu mencoba mengangkat tangannya. Memegangi kepalanya, berharap mengurangi rasa sakit di bagian vital tubuh tersebut dan membantunya lebih fokus. Dia patut bersyukur rambut pirangnya masih utuh dan seperti sedia kala.

Setelah mengumpulkan cukup kesadaran. Dia mulai memikirkan..

Kenapa dia bisa terbangun dari tidur lamanya..

Oh.. bukan..

Dia sedang mengalami fase penyembuhan total..

Gadis berambut pirang yang memiliki nama musim dingin itu jarang sekali tidur. Dia memiliki insomnia. Tapi sekali tidur, dia akan sangat sulit bangun. Ya, Mitsukaze Fuyuki hanya akan tidur saat dia mengalami luka yang sangat parah. Untuk menyembuhkan tubuhnya.

"Ah... mimpi waktu itu.." gumam gadis itu lemah. Meski suaranya merdu, tapi tetap saja akan terdengar parau dengan keadaan seperti ini. Seperti gesekan biola sendu yang dalam.

Dia mulai berpikir.

"Entah sudah berapa lama semenjak kejadian itu terjadi.." lanjutnya. Padahal sudah 12 tahun lamanya. Tapi ingatan itu masih terukir dengan jelas. Bahkan sampai membangunkannya dari tidur panjangnya.

Sekarang umurku sudah 17 tahun...

Gadis itu merasakan suhu tubuhnya tinggi. Tapi dia kedinginan, rasanya heran. Bagaimana dia bisa terkena flu parah di fase penyembuhannya. Dia masih terlalu lemah untuk menilai kondisi. Tapi gadis itu bisa merasakan kalau ada yang aneh di rumah ini.

Ada sesuatu yang terjadi...

"Baiklah.. kuharap aku tidak berteriak lagi seperti waktu itu.."

Suara seorang wanita muda yang baru berkepala dua terdengar. Fuyuki ingin menoleh, tapi lehernya seperti diikat kencang. Padahal dia tidak mengalami luka di leher. Mungkin kepalanya masih belum bisa diajak kompromi.

Lalu dia mendengar derap langkah tunggal masuk ke kamarnya. Suara pintu kertas digeser dan figur seorang wanita mendekatinya.

"Ah!"

Langkah wanita itu terhenti. Dia terpaku, melihat pemandangan yang dilihatnya. Gadis berambut pirang misterius itu telah membuka matanya setelah sekian lama. Akhirnya guratan wajah itu tergerak juga.

"Nona.. anda sudah sadar?" tanya wanita itu. Fuyuki mengedipkan matanya beberapa kali. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Syukurlah.. sebentar nona.. akan saya panggilkan majikan saya dan saya bawakan makanan!" kata wanita yang nampaknya merupakan seorang pelayan. Fuyuki tidak bereaksi apapun. Dia pasrah dan menunggu apa yang terjadi.

Sepertinya orang yang dimintainya tolong memang bisa dipercaya. Gadis itu bersyukur langkah awal sudah berjalan cukup mudah.

Rasa sakit mulai menghantam kepalanya tanpa ampun. Rasanya dia ingin langsung pingsan.

"Nona.. anda sudah sadar! Syukurlah!" kata sebuah suara yang cukup dikenalnya. Fuyuki memperluas pandangannya. Dia melihat Yukimura dan Sasuke berjalan masuk menuju ruangannya.

"Bagaimana keadaan anda? Baikan?" tanya Yukimura dengan nada ceria. Duduk di sisi kanan futon gadis itu. Fuyuki hanya tersenyum kecil, dia masih terlalu lemah untuk menjawab.

Dia mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Ninja berambut coklat itu bersemu merah begitu dia melihat wajah asli Fuyuki. Yang tanpa darah dan dalam keadaan sadar.

Ca-cantik...

Entah kenapa Sasuke baru menyadari kalau gadis dihadapannya sangat cantik. Fuyuki memasang wajah heran lalu kembali meluruskan kepalanya. Menatap langit-langit dengan tatapan lepas fokus. Mulutnya terkatup rapat. Padahal di dalam sana, taringnya saling bergesekan karena ditekan demi menahan rasa sakit. Dentuman di kepalanya membuat gadis itu enggan menjawab meski cukup kuat berbicara.

Kepalanya seperti dihantam 2 palu secara bergantian di satu area yang sama. "Bagaimana perasaan anda?" suara cerah Yukimura agaknya mengurangi suasana kaku.

Fuyuki hanya bisa tersenyum lemah. Taringnya menyentuh gusi, jika ditekan lagi. Pasti akan berdarah.

Sementara itu, pelayan wanita yang tadi memanggil Sasuke dan Yukimura meletakkan makanan di sisi kiri futon. Sasuke duduk di belakang Yukimura.

"Sebaiknya biarkan dia istirahat dulu danna.. atau kita panggilkan dokter saja?" tanya Sasuke.

"Baiklah.. kita panggilkan dokter saja.."

"Jangan..."

Deg!

Yukimura dan Sasuke menoleh ke arah gadis itu. "Kenapa nona?" tanya Yukimura. Fuyuki terkesiap.

Entah kenapa begitu mendengar kata dokter. Bayangan akan mimpi yang membangunkannya tadi langsung melesak ke hatinya. Dia refleks menolak..

Yukimura dan Sasuke menunggu jawaban. Meski ragu gadis itu akan menjawab atau tidak. Fuyuki menghela nafas. "Baiklah.. jika itu mau kalian.." kata gadis itu dengan suara lemah dan lirih. Tapi cukup jelas.

Yukimura dan Sasuke mengunci tatapan cemas mereka. Akhirnya mereka jadi memanggil dokter. Meninggalkan Fuyuki dan pelayan wanita tadi.

"Mau dimakan sekarang nona? Atau nanti?" tanya pelayan itu. Fuyuki tersenyum, lalu menggeleng. Dia belum yakin punggungnya sudah bisa diangkat. Luka menganga itu belum menutup sempurna. Dia masih bisa merasakan kain perban menyentuh langsung dagingnya yang berdarah. "Baik.. saya mengerti.. bagaimana keadaan anda?" tanya pelayan itu.

Entah kenapa. Begitu menerima semua perhatian dari Sasuke, Yukimura, dan si pelayan wanita. Fuyuki merasa..

Lemah..

Dia merasa sangat lemah..

Dan dia benci itu.

Terus terang Fuyuki tidak terbiasa dimanja. Dia bahkan tidak sempat melihat wajah ibunya. Sekalipun dibesarkan sebagai seorang bangsawan. Tapi gadis itu juga dibesarkan sebagai ksatria. Dia adalah wanita yang bisa 'mengalahkan' laki-laki. Itu yang dikatakan gurunya ketika masih kecil.

Karena itulah.

Dia dijuluki 'Kiseki'.

'Keajaiban'. 'The Last Wonder'.

"Nona? Anda mendengarkan saya?" tanya pelayan wanita tersebut. Fuyuki tersadar.

"Maaf.. tapi.. nanti saja.. setelah dokter memeriksa saya.." kata Fuyuki.

"Tapi wajah anda pucat sekali.." kata pelayan tersebut.

"Ijinkan saya.." pelayan itu meminta permisi pada Fuyuki. Dia mengulurkan tangannya pada gadis itu dan memegang keningnya. Memeriksa suhu tubuhnya.

Pelayan itu tersentak.

Dia tidak bisa membedakan apakah itu panas ataukah dingin. rasanya seperti melepuh karena memegang barang yang sangat beku. Ada juga rasa hangat disana.

Nafas Fuyuki terasa hangat. Gadis itu demam.

Pelayan itu memeriksa wajah si gadis secara intens. Dia bisa melihat bibirnya sangat tipis dan hanya akan terlihat begitu di bawah sinar matahari. Gadis itu jelas kekurangan darah. Meski bisa diakui dari manapun dia akan tetap dinilai cantik. Tapi keadaannya bisa dibilang..

Mengenaskan..


XXX


Yukimura dan Sasuke terdiam. Tidak ada yang mau bicara. Mereka seperti orang yang tak pernah percaya satu sama lain demi bertahan hidup di hutan belantara. Memasang ranjau dan rencana masing-masing. Memakan atau dimakan..

Tidak, pernyataan itu salah. Kedua orang itu jelas sedang dalam keadaan cemas. Mata Yukimura yang biasanya ceria sayu memikirkan nasib orang yang ditolongnya. Sendu, dan menyimpan kesedihan hati.

Sementara Sasuke menunjukkan keragu-raguan. Dia masih belum percaya, dan sangat waspada. Meski pembawaannya santai dan sedikit nakal. Tapi sekali serius. Wajahnya yang ditempa oleh garis muka tegas tentu akan lebih serius lagi.

"Danna.."

Yukimura menoleh. "Ya Sasuke?" tanya Yukimura balik. "Apa kau yakin gadis itu akan baik-baik saja?" tanya Sasuke mempercepat langkahnya. Menyamakan kedudukan yang tadinya di belakang menjadi sejajar.

"Kita harus saling percaya satu sama lain sekarang!" kata Yukimura dengan keteguhan hati. Meski polos dan agak (maaf) bodoh. Tapi, ketetapan hati Yukimura patut diacungi jempol.

Mungkin karena tempaan dari Shingen Takeda yang selalu menempatkannya di kondisi tersulit membuatnya dewasa dalam artian lain. Dia adalah harimau yang mengambil setiap langkah tanpa kegoyahan sedikit pun. Terus melaju di hutan belantara, dengan mata yang terfokus ke depan. Siap melawan apapun yang menghadang.

Sasuke terkejut sedikit. Tapi wajahnya kembali ke ekspresi biasa.

"Tapi aku penasaran dengan apa yang ada di pikiran Oyakata-sama.." kata Sasuke.

"Hah?"

"Apakah dia.. juga... memikirkan serangan dari pria berambut biru yang sebelumnya menyerang kita dengan jurusnya?" tanya Sasuke.

Yukimura tersentak. Dia sebenarnya tidak lupa, hanya saja dia lengah.

Sudah 1 hari semenjak kejadian itu dan tidak terjadi apapun. Rasanya seperti angin berlalu.. tapi..

Keanehan yang terjadi tidak bisa dipungkiri.

"Sudah waktunya makan malam.. ayo danna.." kata Sasuke.

Yukimura mengangguk.

"kata Sasuke.

Yukimura mengangguk.

"Ya.."


XXX


Rasanya aneh jika aku bahkan sampai bisa demam di fase penyembuhanku.. tapi..

Fuyuki menatap keluar. Dia baru saja berhasil duduk dari futonnya. Ternyata punggungnya tidaklah sesakit yang dia pikirkan. Sekalipun lukanya masih menganga, setidaknya dia sudah bisa mengangkat punggungnya dan keadaan sudah jauh lebih baik.

Dokter tadi hanya bisa memasang wajah heran begitu gadis itu berkata dengan yakin dirinya pasti sembuh total setelah 1 minggu. Antara percaya atau tidak. Dokter itu Cuma bisa mengiyakan dan menyuruhnya istirahat dengan cukup.

Tidak ada obat..

Mungkin ini gila..

Gadis itu bahkan menenggak sake setelah memakan cukup kenyang. Pelayan tadi juga sudah tidak ambil pusing soal keadaannya.

Hari sudah malam dan bulan purnama naik. Fuyuki tidak bisa tidur. Kalau boleh jujur, dia mengidap insomnia seperti ayahnya. Karena itu, gadis itu terbiasa begadang semalaman sambil minum sake.

Kalau pun dia mencoba tidur. Pastinya akan bangun kurang dari 2 jam kemudian.

Tapi..

"Ah.. aku lupa. Sebaiknya aku tidak usah minum sake saat demam..." gumam gadis itu. Dia memegangi kepalanya.

"Aku jadi pusing..."

Fuyuki meratapi kelengahannya yang meminum sake disaat flu. Kepalanya semakin terasa berat. Akhirnya dia mencoba berbaring di futon lagi.

Tunggu...

Gadis itu merasakan ada yang tidak beres.

Seperti ada sepasang mata yang mengawasinya. Fuyuki langsung menoleh. Dia merasakan ada makhluk-makhluk kecil di sekelilingnya.

Begitu banyak..

Tunggu...

Ini adalah sesuatu yang tidak asing..

Tidak biasanya aku demam saat sedang fase penyembuhan..

Deg!

Tunggu..

Kenapa udara di sekitar sini lembab sekali..

Fuyuki langsung bangkit dan pergi keluar kamar. Dia berdiri di taman. Dia menutup mata dan mengkonsentrasikan sesuatu.

Begitu matanya terbuka. Tampak sekarang kedua orbs biru es itu menjadi mata dwiwarna kuning cerah dan biru es. Sama-sama memiliki pupil runcing.

Gadis itu tersentak.

Dia menutup mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sungguh mengejutkan.

Rumah keluarga Takeda yang terlihat normal sebenarnya sedang di hadang oleh seekor monster raksasa berwarna biru yang tampaknya terbuat dari air. Monster itu mengalirkan energinya melalui udara-udara yang akhirnya tercampur bersama uap air.

Pantas saja lembab sekali.

Gadis itu menggertakkan giginya. Mata kirinya yang berubah warna kembali seperti sedia kala. Dia jelas tahu siapa pelaku dari semua ini.

"Mizuage.." gumamnya yang terdengar seperti geraman.

"Nona!"

Gadis itu menoleh. Dia melihat Yukimura berdiri tak jauh darinya.

"Ah.. anda sudah bisa berdiri.." kata Yukimura senang. Berjalan menghampiri Fuyuki. Gadis itu tersenyum. Meski sebenarnya rasa pening karena minum banyak sake tadi masih bisa dirasakan.

Dia berharap Yukimura tidak mencium bau alkohol dari mulutnya.

"Jika aku boleh tahu kenapa anda keluar?" tanya Yukimura.

"Bukan apa-apa.." kata Fuyuki sambil mempertahankan senyumannya. "Aku ingin menghirup udara segar saja.." lanjutnya.

"Oh ya.. kita sama sekali belum berkenalan.. Nama saya Sanada Genjirou Yukimura.." kata Yukimura dengan nada bersemengat seperti biasanya.

Fuyuki mempertajam garis alisnya. Dia sebenarnya terkejut, tapi kemampuannya menyembunyikan ekspresi tentunya jauh lebih baik dari Yukimura.

Sanada Genjirou Yukimura.. bukannya itu salah satu ksatria Takeda yang berperan di jaman Sengoku?

"Nona?"

"Ah.. bukan apa-apa.." kata Fuyuki. "Maaf belum pernah mengenalkan nama saya selama ini.. saya Mitsukaze Fuyuki.." kata gadis itu. Menunduk sopan.

"Ah.. nama kita ternyata hampir sama.." kata Yukimura. Fuyuki tersenyum.

Tapi dalam hati mereka sama-sama berkata.

Tapi sayang kita berbeda jauh..

"Ho.. sudah kuduga kau ada disana.."

Deg!

Kedua orang itu langsung menoleh ke asal suara. Yukimura memasang pose bertahan. Begitu juga Fuyuki.

"Kiiro-chan..." lanjutnya.

Seorang pria menutupi silluet bulan menghampiri kedua orang dengan nama 'salju' itu. Pria berambut biru yang tidak asing bagi Fuyuki maupun Yukimura.

"Mizuage.. mau apa kau disini?" tanya Fuyuki.

Dia mengeluarkan taring dari salah satu sudut mulutnya.

"Mau apa kau disini? jadi itu caramu menyambut kakakmu?" tanya Mizuage sambil melempar senyum angkuh. Dia terjun dari pohon tempatnya duduk dan mendarat dengan sempurna.

"Anu... Mitsukaze-dono.. anda mengenalnya?" tanya Yukimura.

"Tentu saja.." jawab Fuyuki.

Dia meruncingkan matanya. "Dia adalah orang yang menyebabkan semua keanehan ini.." kata Fuyuki.

"Oi.. kiiro-chan.. apa kau serius mau melawanku dengan kondisi seperti itu?" tanya Mizuage.

"Aku tidak pernah mau melawan.."

Fuyuki memberi jeda ucapannya. Dia sebenarnya berat hati mengatakan hal itu.

"Kakak seperguruanku.." kata Fuyuki.

Yukimura tersentak.

"Kau adalah junior yang sangat kusayangi... tapi sayang cara pikir kita berbeda jauh.." kata Mizuage.

"Tapi... kalau kau ingin kita bertempur sekarang juga. Aku akan melawanmu dengan sungguh-sungguh.. senpai.."

TBC


Author Note :

Saya enggak akan curcol disini. Ini mengenai para OC saya.

Pertama, Mitsukaze Fuyuki. Dia adalah anggota bayangan (baca : tidak resmi) '10 Armored Knight' yang seharusnya menjadi peringkat 3. Tapi karena penuh dengan kontroversi. Maka pengangkatannya pun ditunda beberapa waktu kemudian. Fuyuki memiliki armor bernama 'Yamato' yang memegang tema 'Harimau Putih'. Dia memiliki elemen es. Diantara para Armored Knight. Fuyuki adalah satu dari sedikit orang yang memiliki 2 armor (armor berikutnya masih rahasia). Oh ya, panggilan Fuyuki. Kiiro-chan cuma (berani) digunakan oleh teman dekatnya saja. (kiiro-chan berarti pirang atau kuning. maksudnya rambutnya).

Kedua, Mizuage Toudo. Dia diketahui sebagai kakak seperguruan Fuyuki. Mizuage, sesuai namanya memiliki elemen air. Menduduki peringkat 2. Mizuage memiliki armor bernama 'Tatehaya' yang diambil dari 'Tatehaya Sosano wo no Mikoto' yang merupakan nama lain dari Susano'o. Dewa laut dan badai Jepang. Mengangkat tema dewa-dewi air (dari Poseidon sampai Nyi Roro Kidul mungkin -_-a). Sebenarnya Mizuage memiliki senjata, hanya saja itu terlihat memalukan dan (mungkin) merupakan aib baginya. Senjata Mizuage mirip dengan trisula Poseidon yang sering diejek oleh Peringkat Kelima '10 Armored Knight' sebagai garpu raksasa. Meski sekilas terlihat sangat jantan. Pria ini menyenangi bunga - _-a.

Baiklah, itu sekilas mengenai 2 OC saya. Fuyuki dan Mizuage memiliki seorang guru yang dulunya menduduki peringkat 2 '10 Armored Knight'. Lalu digantikan Mizuage. Jaa ne!