Each Tiger Has Its Tale

Hola minna.. saya kembali ke sini. Hem.. kesannya garing sekali yawn -_-)/

Saya nggarapnya sambil ngedengerin film horror yang ditonton temen-temen (en, yu tau lah. Saya benci film horror). Jadinya agak gimana gitu kesannya. Tapi semoga tidak terlalu mengecewakan kalian. Saki akan berusaha yang terbaik untuk menjaga untuk menjaga kinerja saya.

Oh ya, kalau kalian pengen tahu fakta OC saya (Para anggota 10 Armored Knight khususnya.) kalian bisa melihatnya di Bio saya. Sementara ini saya menunjukkan fakta OC termurni saya. Fuyuki Mitsukaze.

Jika kalian pengen request faktanya Mizuage apa Hayama boleh aja. Tapi lewat review ya..

Rate : T

Disclaimer : Saya enggak punya Sengoku Basara. Mereka milik Capcom. Yang saya punya hanya ide, plot, alur, beserta OC. So, i own nothing but my OC

Silahkan menikmati cerita...


My Deepest Apologiez enggak bisa bales review TTATT


Chapter 5 : Deklarasi Hayama

Fuyuki mengeluarkan sebuah benda silver dari telapak tangannya dan melemparkannya ke udara.

Dari benda itu, muncul sebuah visual berbentuk seperti kartu. Fuyuki mulai berlari kembali ke Mizuage tanpa menunggu benda tersebut. Karena dia pasti akan menemui tuannya.

"Sebaiknya kau tidak membuatku marah.." gumam Fuyuki kesal dengan wajah epic.

'YAMATO'

'The Winter Knight, Dancing Queen'

Kartu tersebut mengikut Fuyuki di belakangnya dan melaluinya. Sesaat tubuh gadis itu ditutupi sinar berwarna putih sampai pada akhirnya tampaklah wujudnya.

Topeng iblis dan seluruh kepingan armor berwarna platina melekat di tubuh tuannya. Di bagian lengan terdapat potongan kimono putih bercorak belang harimau menjuntai berkibar. Begitu juga di bagian pinggangnya.

Kecepatan gadis itu meningkat drastis sampai yang terlihat oleh Yukimura dan Sasuke hanyalah sinar putih yang bergerak sangat cepat.

Fuyuki berhasil menendang Mizuage dengan kecepatan itu dan membuat lawannya terpental.

Tapi Mizuage berhasil mengerem pergerakannya dengan kaki. Dia menatap Fuyuki geram melihat gadis itu sungguh-sungguh ingin melawannya.

"Fuyuki.."

Fuyuki mengambil sesuatu di punggungnya. Kemudian mengarahkannya pada Mizuage.

"Payung?" tanya Sasuke tidak percaya. Ya, benda panjang yang dikeluarkan Fuyuki tadi mengembang dan membentuk sebuah benda yang biasa kita sebut payung. Payung tradisional Jepang berwarna putih. Dengan cukup banyak corak bunga sakura. Sesaat dua orang pribumi itu berpikir tentang kemustahilan kawan mereka menggunakan payung sebagai senjata. Dan Fuyuki mengetahuinya.

"Sialan.. akan kutunjukkan pada kalian betapa mengerikannya payung ini.." gumam Fuyuki bernada senyum-kesal- seraya mengayun-ngayunkan payungnya dengan pergelangan tangan kesana kemari. Seolah mengetesnya terlebih dahulu.

Sementara Mizuage hanya sweatdrop melihatnya. Sepertinya watak asli Fuyuki muncul..

"Nah.. sudah lama sekali kau tidak menari bersamaku.. senpai."

Fuyuki mengacungkan payungnya pada Mizuage sebagai pembuka utama.

"Kuharap kau tidak keberatan menjadi pasangan dansaku setelah sekian lama.." lanjutnya.

Mizuage memasang kuda-kuda menyerang dengan meletakkan tangan di pinggang sebelah kiri.

Kedua orang itu kembali melaju satu sama lain dan terdengarlah irama pertarungan dengan chorus yang sedikit berbeda.

Karena kali ini, bukan suara besi bertabrakan yang terdengar. Melainkan suara payung Fuyuki yang menahan pedang pendek Mizuage. Mereka saling menahan satu sama lain.

Karena kekuatan yang seimbang. Baik Fuyuki dan Mizuage melancarkan serangan berikutnya. Gadis itu berusaha menusukkan ujung payungnya ke sisi kiri Mizuage, tapi ditahan lagi. Mizuage balas menyerang dengan dorongan kekuatan yang lebih besar tapi kecepatan Fuyuki membuatnya berhasil berkelit.

Mereka terus mengadu senjata mereka dalam jarak setipis kertas. Ini hanyalah masalah teknik, dan mereka berasal dari perguruan yang sama. Dengan kata lain. Dasar yang mereka miliki tidak akan jauh berbeda. Fuyuki cepat. Tapi Mizuage memiliki kekuatan yang lebih besar. Kestabilan pertarungan ini mendekati kekacauan meski mereka saling diam satu sama lain.

Ini adalah pertarungan antara anggota tercepat dan anggota nomer dua terkuat di 10 Armored Knight.

"Perus." Perintah Mizuage lugas.

Dia mendorong Fuyuki ke belakang, lalu membenarkan kembali posisi tubuhnya yang sedikit berubah. Fuyuki seperti menyadari sesuatu dan dia menghilang disana dalam kedipan mata.

Bayangan putih kembali melesat kesana-kemari secara zig-zag di arah yang sama. Fuyuki terlalu cepat dan semua orang mengakuinya. Bahkan Mizuage sendiri. Meski yang dia butuhkan lebih dari cukup untuk refleks yang tepat.

Semuanya bergerak cepat, tidak seperti film yang diperlambat di adegan sana-sini. Sasuke dan Yukimura melihat beberapa kejadian dalam waktu yang sama. Membuat mata mereka memiliki visual yang kacau karena tidak bisa mengikuti alur.

Fuyuki muncul lagi di udara dengan tangan kiri memegang sesuatu.

Pistol laser warna putih.

Gadis itu melesatkan beberapa tembakan sekaligus secara beruntun kepada Mizuage. Tapi, tanpa penyebab yang jelas. Tembakan Fuyuki seolah dilenyapkan oleh sesuatu.

"Ini aneh.." gumam Sasuke. Pria itu memicingkan matanya guna memastikan sesuatu.

Dia menyimpan kembali pistolnya. Gadis itu mendarat dengan sempurna di tanah dan langsung mengarahkan payungnya ke belakang karena Mizuage sudah ada disana sambil mengacungkan pedangnya. Tapi tidak bisa, tidak berhasil.

Gerakan tangan kanan Fuyuki terkunci di belakang. Padahal tidak ada apapun yang menahannya. Gadis itu meringis melirik dari sudut mata. Besi dingin dari mata pedang Mizuage sudah menyentuh lehernya. Membuat Yukimura ngeri seketika.

"Jika kulihat-lihat. Dari gerakan ojou-sama sepertinya dia dari tadi menghindari sesuatu yang tidak terlihat.." kata Sasuke.

"Sesuatu.. yang tidak terlihat?"

"Benar, dan sekarang gerakannya terkunci karena benda itu berhasil menangkapnya. Aku tidak tahu apakah ojou-sama bisa melihat benda itu atau tidak. Yang jelas sekarang dia terkena jeratnya.."

Memang benar aku sudah terkena jeratnya. Dan sebenarnya aku bisa melihatnya, tapi. Justru karena aku bisa melihatnyalah.. itu jadi semakin sulit.. gumam Fuyuki saat dia melirik Sasuke.

Sebenarnya, Fuyuki tahu kalau sejak awal ada beberapa tali air yang merambat berusaha menangkapnya. Tapi dari tadi dia berhasil menghindar mulus karena kecepatannya.

Lalu begitu Fuyuki jatuh ke tanah lagi. Mizuage menggunakan waktu yang sempit itu untuk menghadangnya dari belakang , memaksa membuat mereka saling serang. Dia memberi kesempatan pada jerat talinya untuk menangkap Fuyuki detik itu juga. Dan itu berhasil.

"Kau memang mengenalku dengan baik senpai.." kata gadis itu sambil melihat kembali pada Mizuage.

Fuyuki mungkin cepat, tapi dia tidak hanya cepat. Dia sangat lincah. Kelincahan berarti bisa memanfaatkan kecepatan dari 0 sampai 100 dan dari 100 ke 0. Maka incar saja jeda saat dia mengubah kecepatannya. Tidak peduli setipis apapun jaraknya. Mustahil menghentikkannya hanya seorang diri. Jebak dia. Maka dia akan masuk ke perangkapmu. Gumam Mizuage dalam hati. Sebenarnya teknik itu mustahil dilakukan oleh beberapa anggota 10 Armored Knight. Tapi Mizuage bisa melakukannya.

Mizuage merasakan ada sesuatu yang merambat di kakinya. Sasuke dan Yukimura sendiri menatapnya terkejut. Ada jalinan es yang merambat di kaki Mizuage dan melalui punggungnya.

Pria itu meringis merasakan sensasi dingin yang menusuki bagian punggungnya dan terus mengalir sampai ke tangan yang dia gunakan untuk menyerang leher Fuyuki.

Gadis itu bergerak cepat dengan tangan kirinya yang masih bebas dan meraih sesuatu di ujung bawah payungnya.

"I-itu.."

"Jadi pedangnya disembunyikan di dalam payung.. pintar sekali.. tidak ada yang berpikir sampai ke situ.." gumam Sasuke sambil tersenyum.

Suara pedang dikeluarkan dari sarung terdengar sekilas dan dia berhasil mengarahkannya ke Mizuage. Tapi Mizuage menyuruh Perus untuk memperkuat jeratannya pada Fuyuki dan itu berhasil. Pedang Fuyuki memang menggores pipi dan telinga kanan Mizuage. Namun, kini gerakan mereka sama-sama terkunci. Tidak ada yang bisa bergerak satu sama lain.

"!"

Fuyuki dan Mizuage tersentak. Ada sesuatu yang aneh merambat sekilas di area pertarungan mereka.

Mizuage yang melihat itu menghela nafas. Si rambut biru dengan mudah mematahkan es Fuyuki yang membeku di badannya dan melemaskan beberapa bagian tubuhnya. Fuyuki sendiri terduduk ke tanah setelah Mizuage melepaskan jeratan Perus, karena jurus itu menjeratnya sangat kuat.

"Sepertinya cukup sampai disini.." kata Mizuage. "Bukannya aku mau kabur karena kau memakai armor-mu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang penting dan harus kuurus. Kurasa kau juga mengetahuinya.." lanjutnya.

Dia memandang Fuyuki sejenak. Kemudian beralih pada Sasuke dan Yukimura. "Kita akan lanjutkan ini nanti.. sampai jumpa.. dan kau Fuyuki.." kata Mizuage.

"Aku akan membawamu kembali.." lanjutnya.

Fuyuki tidak membalas apapun. Dia menutup matanya. Mizuage membalikkan badannya lalu berjalan menjauhi area tersebut. Tanpa ada hambatan apapun dari Sasuke maupun Yukimura.

Setelah menghilang ditelan kegelapan malam. Dua orang pribumi Takeda menghampiri gadis berambut pirang itu.

"Nona.. anda baik-baik saja?" tanya Sasuke.

"Aku baik-baik saja.." jawab Fuyuki. "Aku mencium bau busuk.." gumam gadis itu.


XXX


"Ternyata keadaanmu jauh lebih baik dari yang kukira.. nona macan putih.." kata Shingen saat mereka menghadapnya.

"Nona macan.. putih?" gumam Fuyuki sweatdrop. Begitu juga Sasuke.

"Jadi bagaimana dengan pria berambut biru itu?" tanya Shingen.

"Dia pergi setelah bertarung dengan danna dan ojou-sama.." jawab Sasuke.

"Begitu rupanya.. baiklah.. nona.. sebelum ini. Kurasa kau pun mengerti. Aku harus tahu siapa kau dan darimana asalmu.." kata Shingen.

"Tuan Shingen Takeda. Nama saya Mitsukaze Fuyuki, dan.." Fuyuki terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Sebenarnya bukan sebuah masalah jika dia jujur. Tapi...

Bagaimana menjelaskan agar mereka percaya dia berasal dari masa depan?


XXX


Fuyuki Special P.O.V

Kurasa kalian harus menyimak ini dulu agar bisa mengerti kenapa aku tidak bisa menjelaskan darimana asalku.

Pertama-tama, namaku Mitsukaze Fuyuki. Umurku 17 tahun. Sebenarnya aku adalah remaja SMA normal di sebuah sekolah elit yang jauh dari rumahku.

Tapi aku bukanlah seorang kaya meski lahir dari keluarga bangsawan.

Ibuku meninggal ketika melahirkanku. Dan aku tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Lalu ayahku mati saat usiaku 5 tahun. Setelah itu, aku diasuh sebuah keluarga.

Kehidupanku berlangsung cukup indah. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah lamaku yang dulunya terbakar (tentunya sudah direnovasi). Waktu itu aku 15 tahun. Dan aku benar-benar harus tinggal sendirian dan menghidupi diriku sendiri.

Dan saat itu juga. Sebuah organisasi (tidak jelas) bernama 'Bridge' mengundangku untuk bergabung.

Aku sudah menjadi Armored Knight saat 13 tahun. Tapi waktu itu, aku ditawari langsung menjadi jajaran 10 Armored Knight yang paling kuat. Gaji yang mereka tawarkan cukup lumayan untuk menghidupiku seorang diri. Jadi aku tetap bertahan hidup secara mapan dengan menggunakan uang itu.

Sudahlah, itu tidak penting. Beberapa waktu kemudian, aku berhasil masuk ke sebuah SMA elit. Dengan menggunakan dana pemberian 'Bridge'. Aku membiayai sekolahku yang mahal meski hidup seorang diri.

Kabar baik menyapa saat aku berhasil menjuarai kontes 'Ratu Sekolah'. Ada sebuah agensi majalah yang tertarik menjadikanku model utama mereka. Aku pun menerima tawaran itu. Menjadi model di sebuah majalah fashion ternama menambah pemasukanku dan aku bisa hidup mapan dengan tanganku sendiri.

Baiklah, kalian tahu. Bukannya aku sombong. Tapi aku bukanlah orang biasa yang beruntung masuk ke sebuah SMA elit dan menjadi model majalah ternama. Aku juga tahu kalau sekarang ini aku ada di zaman Sengoku. Dan aku lahir di abad 20-an...


XXX


Normal P.O.V

"Soal darimana saya berasal. Saya harap anda mengerti. Saya menyesal tak bisa mengatakannya kepada anda. Tapi anda sekalian pasti akan mengerti bersama jalannya waktu.." kata Fuyuki bernada lembut.

Shingen mengusap dagunya. "Baiklah.. kau boleh tinggal disini.. tapi kurasa ada hal yang harus kau lakukan untuk membayar... sewa.." kata Shingen.

Gadis berambut emas itu tersenyum mendengarnya.

"Sepertinya anda memiliki ambisi untuk merebut kendali atas 'Negeri Matahari Terbit'.." kata Fuyuki manis. Sebagai pembuka negosiasi.

"Jika anda mau, saya bisa saja ditempatkan di barisan pasukan anda. Tapi itu terserah.." lanjut gadis berambut pirang itu.

"Ho.. ternyata kau wanita yang pemberani ya.." balas Shingen. Lalu dia tertawa tergelak-gelak. Seperti orang yang benar-benar ketawa.

Fuyuki tidak heran. Toh di dunianya ada orang seperti itu juga.

"Baiklah.. aku juga tahu kalau kau bukanlah wanita tidak mengerti bagaimana situasi perang. Aku akan melihat dulu kemampuanmu.. baru setelah itu menempatkanmu di bagian yang layak. Bagaimana? Kau setuju?" tawar Shingen.

"Sesuai keinginan anda.. Tuan.." jawab Fuyuki sambil menundukkan kepala hormat.

Tawa Shingen semakin menggelegar. Sampai akhirnya dipotong oleh suara manis Fuyuki.

"Ngomong-ngomong.. bolehkah saya memanggil anda dengan oyakata-sama?"


XXX


"Halo.."

Mizuage menghentikkan langkahnya. Dia melihat ke depan.

Sedetik kemudian tanda perempatan jalan bertengger manis di keningnya.

"Aku pulang." kata pria berambut biru panjang itu sambil membalikkan badan.

"HEI! TUNGGU! MAU KEMANA KAU!"

"Menghindari pemandangan yang merusak mata."

"Kembali kesini! Kita belum bicara!"

"Disini banyak sekali pohon. Kau bisa bicara dengan mereka kalau kau mau.."

"Hiddoi.. mulutmu itu kejam seperti biasa.. Toudo-kun.." kata lawan bicaranya dengan nada yang dibuat-buat. Dan entah kenapa hal itu cukup manjur menghentikan laju langkah pria berambut biru dihadapannya.

Mizuage yang tadinya memunggungi mulai menampakkan wajahnya sedikit kepada lawan bicaranya.

"Nah.. begitu baru bagus. Kau memang pengertian.."

"Aku tak punya cukup waktu untuk basa-basi. Katakan sekarang atau kau pulang dengan satu kaki!" Kata Mizuage tegas.

Mendengar hal itu, lawan bicaranya terdiam sejenak. Seluruh tubuhnya menegang mendengar ancaman dari Mizuage. Mau bagaimanapun juga. Pria itu adalah terkuat kedua diantara mereka. Salah satu dari kasta tertinggi dan paling dihormati sekaligus dibenci.

Incarnation of Poseidon..

Mizuage Toudo.

"Heh.. kuakui ancamanmu cukup mengerikan.. nomer 2.." kata pria itu dengan nada serius dan terkesan jengkel.

Dia turun dari dahan pohon dengan lompatan ringan dan mendarat sempurna.

"Bahkan anak kecil pun akan menangis bila mendengar namamu. Kau terkuat kedua. Tegas, kaku, mengerikan. Tapi apakah kau bisa melakukan semua itu di hadapan adik kecilmu?" tanya Hayama.

Mizuage menggertakkan giginya. "Sudah kuduga kau pasti akan membicarakan dia.." gumamnya.

"Aku tahu kau berbahaya. Tapi apa kau bisa mengancam adik kecilmu.. yang sangat kau sayangi? Bahkan sampai nyaris membunuh orang yang membuatnya menangis?" ucap Hayama mengulang pertanyaannya. Dia berjalan mendekati Mizuage.

Suara desisan ular mengiringi malam ini. Sudah tiga perempat malam.

"Apollo akan segera datang.." gumam Mizuage.

"Kau mengalihkan pembicaraan.." kata pria berambut hitam itu sambil menyeringai lebar. Memperlihatkan deratan giginya. Dia semakin mendekati Mizuage. Lalu berhenti saat dia sejajar dengannya. Hayama menyentuh pundak lawan bicaranya yang sama tinggi.

"Aku berani bertaruh kalau kau akan bunuh diri jika sampai berhasil membuat ADIK KECILMU menangis.." ujar Hayama. Dia memberi penekanan pada kata 'adik kecilmu' secara menyebalkan.

Mizuage mendesis mendengarnya.

"Menjauh dariku brengsek!" kata Mizuage kesal. Berusaha menepis pegangan Hayama tapi dihentikkan oleh yang bersangkutan.

"Wah.. wah... jangan dibawa amarah.. kita dipihak yang sama.. kau tahu kan?" tanya Hayama. Mempererat pegangannya pada pundak Mizuage. Sementara sang empunya memendam kekesalan yang mengerikan.

Hayama sendiri mengacuhkannya. Dia sudah membawa senjata untuk jaga-jaga kalau Mizuage berniat menghabisinya detik itu juga. Selebar apapun jarak kekuatan mereka. Mizuage tidak cukup hebat untuk bisa membunuh Hayama sebelum musuhnya berkedip.

"Sebentar lagi.. tinggal masalah waktu Toudo.. kita akan menghancurkan adik kecilmu suatu saat nanti.." kata Hayama masuk ke inti permasalahan.

"Aku takkan segan-segan. Karena ini satu-satunya kesempatanku untuk menghancurkan dia. Tapi jangan khawatir.. aku akan melakukannya dengan lembut dan perlahan.. agar kau bisa melihat dengan jelas. Wajah menderita Mitsukaze yang kau sayangi!" kata Hayama tergelak dengan ucapannya sendiri.

"KH! Kurang ajar kau!"

Mizuage mengarahkan tangannya ke Hayama. Berniat mencengkram wajahnya. Tapi Hayama juga cepat. Menghindar dari serangan Mizuage tanpa kesulitan berarti.

Tapi lawannya takkan berhenti semudah itu. Dia mengambil sesuatu dari pinggangnya dan mengarahkannya pada Hayama.

Hayama bertindak cepat dan ikut mengarahkan sesuatu pada Mizuage sampai membuat pria itu terdiam.

Ular..

Ya.

Hayama mengeluarkan ular.

Ular king-cobra berwarna hitam dengan motif emas di sekujur tubuhnya. Keluar dari lengan baju Hayama. Berjarak seinci dengan pedang pendek yang akan dikeluarkan Mizuage untuk menebas orang dihadapannya.

Raut wajah Mizuage yang awalnya menggeram sedikit demi sedikit kembali normal. Dia menarik nafas. Lalu menyimpan kembali pedangnya.

"Kau akan tahu akibat jika membunuhku sekalipun.." kata Hayama dengan tenang. Ular itu tertarik kembali, masuk ke dalam lengan baju dan lenyap keberadaannya.

Pria berambut hitam pendek itu menatap Mizuage sebentar. Kemudian manik hijaunya mengarah pada benda hitam di genggamannya.

"Apa kau akan bertindak secara 'bersih'?" tanya Mizuage ikut melihat benda di tangan Hayama.

"Itu masalahku.." balas Hayama. Memainkan benda itu di telapak tangannya.

"Aku akan membunuhmu jika-"

"Jika aku melakukan sesuatu pada Mitsukaze?"

Mizuage terdiam.

"Sepertinya kau mulai terkena 'itu'.." kata Hayama sambil tersenyum.

"Entahlah.." jawab pria itu acuh.

"Adik kecilmu memiliki sesuatu yang berbahaya.." jelas Hayama. "Makanya tidak ada satupun dari kita yang menyukainya.. kau juga tahu itu kan?" tanyanya.

Mizuage memutar matanya. Dia mulai bosan berbicara dengan pria dihadapannya.

"Jangan mengatakan hal yang kukatakan padamu." Kata Mizuage.

Hayama dan Mizuage boleh saja tampan. Tapi Mizuage akan terlihat mengerikan jika sudah mengeluarkan amukannya dan Hayama bisa membuat roma tubuh manapun bergidik dengan seringaiannya.

Seperti Fuyuki yang cantik.

"Aku akan bergerak mulai sekarang.. kita berpisah dari sini. Agaknya beberapa waktu kemudian kau akan tahu apa yang akan kulakukan. Sayonara ja.. Toudo-niisan~~.." kata Hayama sambil membalikkan badan dan melambaikan tangan. Memberi ucapan selamat tinggal.

Setelah berjalan cukup lama dan benar-benar menghilang. Mizuage hanya bisa menghela nafas. "Sekarang aku tahu kenapa Kiiro begitu membenci si brengsek itu.."


XXX


"Danna.."

.

.

.

"Danna..."

.

.

.

"Danna.."

.

.

.

"Sanada Genjirou Yukimura..." gumam Sasuke sweatdrop melihat seseorang didepannya melamun tanpa ujung.

Namun, Yukimura tidak juga beranjak dari alam mimpi. Dia masih duduk di taman belakang dengan wajah yang menunduk. Ninja tersebut Cuma bisa menghela nafas.

"Danna.." geram Sasuke sambil menghampirinya. Lalu mengarahkan pundak Yukimura agar dia menatapnya.

Pria itu tercekat, dia terdiam. Matanya membesar, lalu perlahan-lahan dilepaskannya tangan dari pundak Yukimura. "I-ini.."

To Be Continue


Author Note :

Yep, holla semua. Shakazaki is here!

Wah.. sepertinya adegan action saya benar-benar parah. (lirik adegan action yang ancur). Tapi semoga anda puas ya. Oh ya, satu pertanyaan untuk semua orang yang membaca fic saya yang satu ini.

Apakah karakter saya, Mitsukaze Fuyuki ini adalah chara yang 'sue'?

Saya dihantui itu sepanjang pengerjaan fanfic dan itu membuat saya terus menanyai beberapa orang. Kalau mau jawab, bisa lewat review dan PM. See you next chapter!