Each Tiger Has Its Tale
Hallo minna, Shakazaki Rikou is here.
Nyebelin sumpah ngerjain FF sambil diganggu oleh sekumpulan serangga yang biasa kita kenal sebagai 'NYAMUK'.
Ditemani oleh sekaleng n*ssin wafer rasa kacang. Mari kita masuk lagi ke topik utama.
Disini saya mencoba buat Yukimura dan yang lain terlihat lebih menonjol, agar seimbang. Saya berusaha sebaik mungkin, penilaian akhirnya ditangan anda.
EDISI REVISI PADA TANGGAL 22 JUNI 2015
Rate : T
Warning! Contain Many OC. Don't Like, Don't Read.
Disclaimer : i just own my OC. This story, plot, and also this account.
XXX
Balesan review!
Hananami Hanajima :
Iya, setelah kupikir-pikir lagi. Keknya Fuyuki berguru ama Tom Sam Chong.. (_ _")
Makasih buat reviewnya!
KuroIChio :
Surat kematian? Mbak? Dirimu baik-baik saja?
Iya, emang saya merasa terbantu kok.
Terimakasih!
Io-aruka :
Buat Water Ballance Shipper mohon bersabar (Water Ballance Shipper : sebutan buat MizuYuki. Karena mereka sama-sama dua orang yang mirip air tenang dan menghanyutkan). AKU JUGA PENGEN CAPCOM BIKIN MOVIE-NYA INI KAKAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!
Makasih buat reviewnya.
MAKASIH MINNAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!
XXX
Chapter 7 : Rain Song (Part 1).
"AAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHHHHHH!"
Beberapa suara desisan ular terdengar tepat setelah teriakan tersebut terjadi. Air dingin yang biasanya menjadi pelepas kantuk justru membuatnya kesakitan.
Tak lama kemudian, suara air tumpah terdengar jelas.
Seorang wanita cantik yang merupakan pemilik rumah merasa sangat terganggu. Tapi dia tidak berani menegur.
Pasalnya dia memang lebih baik tidak diganggu.
Atau wanita itu mati konyol diserbu ribuan ular berbisa.
Pria bermanik hijau menyala, menggebrak meja kecil di dekatnya. Dia hanya bisa mengutuki orang yang telah membuatnya seperti ini..
XXX
Wanita cantik bersurai emas panjang dengan kain merah di lehernya. Tangan kanan gadis itu bersimbah darah sampai ke baju putih yang dipakainya.
"Kau... Kau!" erang pria dihadapannya.
"Maafkan aku," lanjutnya lagi. Dia mengangkat payung putih dengan ujung runcing yang berlumur darah. "Aku tak bisa membiarkanmu terus seperti ini..".
JLEB!
CRAAAT!
XXX
Pria itu menatapi segel darah yang terdapat di pergelangan tangannya. Jejak menyakitkan Si Cantik yang hanya dimilikinya seorang.
"Akan kubunuh kau... tenang saja.." gumamnya. Ular-ular yang mengelilinginya pun ikut mendesis.
XXX
-Rumah Keluarga Takeda-.
Yukimura melakukan latihan rutin seperti biasanya. Mengayunkan kedua tombak kesana kemari. Di halaman belakang Rumah Keluarga Takeda.
Masih pagi, dan udara dingin terasa begitu menusuk hari ini. Atau mungkin saja karena mereka kedatangan penghuni baru yang mirip sekali dengan yuki onna.
Shingen tampaknya menikmati waktu santainya, entah melakukan apa. Sementara Sasuke tidak diketahui batang hidungnya. Dia menghilang semenjak pagi buta. Kalau seperti ini, biasanya shinobi tersebut sedang rapat korps atau patroli diam-diam memantau wilayah lain.
Sebenarnya Yukimura sendiri sedang tidak terlalu bersemangat. Mengingat pertarungannya dengan Mizuage beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang membuat nyala api-nya sedikit redup adalah..
" ."
Perkataan sepele Mizuage akan dirinya.
Yang entah kenapa begitu membekas pada Yukimura.
Padahal pria bersurai biru panjang dengan rambut depan kiri dikuncir itu tidak mengatakan hal lain. Hanya 2 kata itu saja.
Penuh intimidasi, tatapan menusuk. Juga ketenangan psikopat. Sebuah metode yang sangat merusak mental Yukimura.
"Apa aku.. benar-benar lemah.." gumam Yukimura lesu. Menurunkan kedua tombaknya. Merenung sejenak.
Matanya menyapu halaman belakang. Meski tidak berputar-putar dan nyalang penuh ingin tahu.
"Loh.."
Pemuda tersebut terhenti. Menyadari sesuatu yang tampaknya sudah ada sejak awal.
"Sejak kapan tangganya diselimuti es?" gumamnya heran sambil menyentuh pegangan tangga kayu yang kini dingin. Benar. Itu benar-benar es..
BUG! BUG! BUG! BUG! BUG! BUG! BUG! BUG! BUG! BUG! BUG! GEDEBUK! BRAK!
Jantung Yukimura nyaris meloncat karena suara aneh yang datang tiba-tiba. Bahkan refleks meloncat ke belakang. Dia pun melihat ke bawah. Ada seseorang yang dalam posisi terduduk, tidak menguntung. Tak jauh darinya dengan rambut berantakan. Sebentar..
Rambut Pirang Panjang (Cek).
Agak Tinggi (Cek).
Cantik (Cek).
Ramping (Cek).
Hawa Dingin Abadi (Double Cek!).
"Mi-Mitsukaze-dono.." gumam Yukimura kaget. Melihat Fuyuki berusaha berdiri dengan rambut acak-acakan. Kemudian gadis itu dengan cepat menyisir rambutnya dengan jari.
"Ke-kenapa?" tanya Yukimura.
"Jatuh danna.." jawab gadis itu simpel. Masih merapikan rambutnya seraya menyentuh punggung yang lukanya nyaris membuka (lagi). Padahal sayatan di kulitnya baru saja sembuh.
"Bagaimana bisa?" tanya Yukimura. Dia melihat tangganya.
Wah.. tangganya banyak sekali... Tabah juga kalau tahan terjatuh dari sana..
"Tangganya licin Mitsukaze-dono?"
"Tidak kok.."
"Jadi.."
"Tadi aku menutup mataku. Kan aku tidak bisa lihat tangganya.. ya jatuh.."
Hening.
"Ya iyalah Mitsukaze-dono! Kalau jalan buka mata! Kok malah ditutup..." gumam Yukimura sweatdrop.
Heran juga kenapa Fuyuki bisa somplak. Padahal setahunya, gadis itu kalem dan tidak ceroboh.
Gadis itu berdiri setelah rambutnya rapi kembali. Dia memakai kimono putih bermotif lotus biru muda, dengan obi royal blue. Sebuah kain merah melingkari lehernya bagai syal.
"Itu.."
"Ini?" gumam Fuyuki sambil menunjuk kimono-nya sendiri. "Hadiah Mizuage.." lanjutnya.
Yukimura manggut-manggut. Sebenarnya dia tidak percaya. Tapi ada benarnya juga jika si rambut biru memberi sesuatu pada Fuyuki. Meski sulit.. untuk dipercaya tentunya..
"Anu.. sebenarnya yang kumaksud kain merah itu.." kata Yukimura dengan wajah tidak berdosa. Menunjuk kain merah yang ada di leher gadis itu.
"Oh.." gumam gadis itu sweatdrop. "Kenapa Mitsukaze-dono memakai kain merah? Tanda sebagai pasukan Takeda ya?" tanya Yukimura bersemangat.
Wanita itu mengangguk pelan sambil tersenyum lembut. Sementara wajah Yukimura semakin cerah di buatnya. "Bisa jadi.." gumam wanita itu perlahan. Seakan enggan untuk mengatakannya.
"Bisa jadi?" ulang si rambut coklat.
"Ini adalah benda yang selalu bersamaku kesana kemari.." kata Fuyuki, dia memegangi kain merah panjang di lehernya. Lalu mendekatkan ke hidung, seakan membau.
"Sepertinya itu semacam jimat," gumam Yukimura tanpa sadar. Fuyuki menoleh dengan cepat seketika itu juga. Wajahnya pucat pasi, seperti terkejut mendengar Yukimura mengatakannya.
"Ke-kenapa Mitsukaze-dono?" tanya Yukimura. Terkejut juga dengan peralihan ekspresi gadis yang signifikan.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Fuyuki ganti.
"Eh?"
"Bagaimana kau tahu kalau ini semacam jimat?" tanya gadis itu dengan nada horror.
"A-anu.. aku Cuma menebaknya.. sungguh!" balas Yukimura cepat.
Fuyuki yang tersadar dengan apa yang dilakukannya, mengembalikan ekspresi wajah seperti semula. Dia menghela nafas, nafas yang beruap. Padahal cuaca tidak dingin sama sekali.
"Jadi benar kalau itu jimat Mitsukaze-dono?" tanya Yukimura. "Ya.." jawab gadis itu singkat. Tersenyum sendiri.
"Ini benda berharga buatku.." lanjutnya. "Siapa yang memberikannya Mitsukaze-dono?" tanya pria itu refleks.
"Ayahku," ucap Fuyuki singkat. Dia menoleh ke samping, melihat ada sesosok ninja yang tiba disana.
"Yukimura-danna dan Fuyuki ojou-sama dipanggil Oyakata-sama sekarang juga," kata ninja tersebut.
Yukimura mengangguk dan mengiyakan. Lalu langsung berlari penuh semangat, sementara Fuyuki hanya menyusulnya dengan langkah kalem. Diikuti ninja tersebut.
"Maaf.." kata gadis itu. Si ninja menoleh. "Kenapa kalian memanggilku ojou-sama? Aku bukan siapapun disini," tanya Fuyuki dengan wajah polos.
"A-anu... itu.."
XXX
"HAAH!"
"EEEEEHH..."
"He?"
"DIKIRIM KE ECHIGO?" gumam ketiga orang itu bersamaan. Mereka tentu saja adalah Yukimura, Sasuke dan Fuyuki. Duduk di ruangan pribadi Shingen.
"Ya, tapi aku hanya akan mengirim Yukimura dan Sasuke saja. Fuyuki memiliki tugas sendiri.." jelas Shingen. "Ada apa Oyakata-sama? Bukannya Bishamonten adalah rival anda yang hanya akan bertemu di medan perang? Kenapa ini?" tanya Yukimura beruntun.
Shingen memandangi anak itu. Lalu menghela nafas, "Di masa yang damai ini.. aku sudah menyangka kalau akan selalu ada masalah kecil-kecilan. Tapi masalah ini jauh lebih merepotkan dari dugaanku. Sampai Dewa Perang harus meminta bantuan rivalnya sendiri," jawab Shingen sambil menutup mata.
"Masalah apa.. Oyakata-sama?" tanya Yukimura lagi.
"Kau tidak perlu tahu Yukimura," ujar pria paruh baya itu.
"Ta-tapi-"
"SUDAH LAKSANAKAN SAJAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
BUUUUUUUGGGGGGGGGHH!
BRAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!
Refleks Fuyuki melompat menghindar dari tempat duduknya karena nyaris terkena Yukimura. Yukimura yang terkena 'tonjokan mesra' Shingen tentu saja.
Kini satu pintu kertas, dan sebuah pagar tembok di luar sana menjadi korban lagi. Gadis berambut pirang yang menjadi penghuni baru hanya berusaha waras. Mengamati Yukimura yang tertancap apik disana.
Sudah berapa kerugian yang dihasilkan dua orang ini setiap harinya.. batin gadis itu sambil berbalik menatap Shingen.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu kalau seorang panglima harus melaksanakan tugasnya tanpa perlu tahu untuk apa itu?" potong Shingen secara tajam.
"Y-Ya! Oyakata-sama!" balas Yukimura kembali seperti semula. Dia sudah berdiri lagi dan berlari masuk ke dalam ruangan.
"Bagus. Nah, sekarang cepat pergi ke Echigo! Atau kau akan terlambat sampai kesana!" titah Shingen sambil berdiri. Dia menatap Sasuke seolah memberi isyarat untuk mengikuti danna-nya seperti biasa.
Fuyuki hanya terdiam sambil melihat ke bawah.
Firasatku tidak enak..
"Ba-baik Oyakata-sama!" kata Yukimura formal. Dia membungkuk hormat lalu menuju pintu keluar.
"Yukimura-danna.."
Yukimura terhenti. Dia menoleh ke belakang, pria itu langsung melompat kaget karena Fuyuki sudah ada di belakangnya.
Se-sejak kapan?
"Ini..."
Yukimura melihat ada sesuatu yang disodorkan padanya. Pria itu terdiam.
Sebuah kain merah yang dikatai Fuyuki sebagai jimat.
"Ini adalah sebuah benda yang sangat berharga.. Kupinjamkan pada danna," kata gadis itu sambil melihat kain miliknya sendiri.
Pria itu hanya menatapnya.
"Oh!" gumam Yukimura. Dia menepukkan tangannya sendiri, seolah mengerti akan sesuatu.
Fuyuki hanya menatapnya heran, begitu juga Sasuke dan Shingen. "Pasti ini adalah salah satu ujian dari oyakata-sama! Mitsukaze-dono juga ikut dalam ini. Oyakata-sama pasti menilai apakah aku pantas menjadi panglima oyakata-sama kelak kalau bisa menjaga kain Mitsukaze-dono kan!?" tanyanya bersemangat.
Sasuke dan Shingen bertukar pandang. Seolah mengatakan lewat telepati, Oyakata-sama.. apa benar begitu? Tanya Sasuke.
Shingen hanya melihatnya dengan tampang sulit diartikan. Sebenarnya bukan..
"Ambillah."
"Eh?"
Sasuke dan Shingen menoleh secara bersamaan. Tidak percaya.
"Pastikan kalau danna mengembalikannya juga," potong gadis itu sambil tersenyum. Seolah mendukung kalau prediksi Yukimura benar.
Lalu dia mengangguk tegas. "Baiklah, akan kujaga baik-baik! Mitsukaze-dono! Kupastikan dia takkan lepas dari pengawasanku!" balas pria itu. Dia mengambil kain merah dari tangan Fuyuki dan membawanya.
"Ayo Sasuke!" ujar pria itu sambil menggeser pintu.
"Baik-baik.." balas shinobi-nya yang melangkah malas dengan tangan terlipat di belakang. Mereka pun lenyap dari sana beberapa saat kemudian.
Hanya tinggal Fuyuki dan Shingen seorang.
"Padahal dia baru saja tahu kalau kain itu adalah jimat.." gumam Fuyuki sambil terkekeh pelan.
Shingen menoleh pada gadis itu.
"Ada apa Fuyuki.. sesuatu yang mengerikan akan terjadi?" tanyanya.
Tawa gadis itu berhenti sejenak. Kini ekspresinya berubah, menatap tajam pintu kertas yang didorong Yukimura tadi.
"Ya," jawab Fuyuki, alis depannya menurun.
"Semoga baik-baik saja.." lanjutnya.
Hening beberapa saat.
"Nah.. Fuyuki.."
Gadis itu menoleh, menatap wajah Shingen yang semakin serius saja. Bahkan setelah kepergian Yukimura.
"Aku punya tugas untukmu.."
XXX
"Hei.. Sasuke.."
Srek... srek..
"Ya, danna?"
Srek... srek.. srek...
"Apa Oyakata-sama aneh sekali belakangan ini?"
Srekk... srek... srekk.. srek...
"Kurasa dia seperti itu setiap hari..."
Srek... srek.. srek...
"Tapi yang kali ini berbeda.."
Srek... srek.. srek!
"Wa-wah.. danna merasakannya juga ya?"
Srek.. srek.. srek...
"Tentu saja!"
Srek..! srek..! tuing!
"Danna.. jangan banyak bergerak! Nanti talinya bisa putus!"
Tuing! Tuing!
"LAGIPULA KENAPA KITA HARUS BERGELANTUNGAN SEPERTI INI!"
Yukimura hanya bisa mendesah keras, lalu menggembungkan pipinya. Tanda pria itu sedang kesal.
Saat ini mereka sedang bergelantung secara terbalik di sebuah tali. Dengan kaki mengait erat pada tali tambang yang kencang. Persis seperti monyet, Sasuke yang menyarankan mereka seperti itu. Dasar ninja monyet..
"Ini cara teraman dan tercepat agar sampai ke Echigo dengan selamat," kata Sasuke sambil mempercepat gerakan kakinya.
"Kenapa kita tidak pakai kuda atau jalan kaki saja!" protes Yukimura sambil berusaha menyusul Sasuke, menggunakan kedua lutut yang diseret-seret. Oh, itu sakit pasti.
"Kuda di istal kebetulan sedang dibawa untuk perawatan. Sepertinya Oyakata-sama benar-benar kalang kabut hari ini sampai tidak memeriksa fasilitas yang harusnya dia berikan.." kata Sasuke dengan santai.
"Lalu kalau jalan kaki.. bisa-bisa.."
Sasuke menghentikkan pergerakannya. Membuat Yukimura yang dibelakangnya juga berhenti. Pria yang memakai pakaian serba merah itu hanya melongok heran. Tak lama kemudian, Sasuke mengeluarkan senyuman isengnya pada danna-nya itu. Dia mengambil sebuah koin. Lalu menjatuhkannya ke bawah.
DUAAAAAAAAAARRR!
"UWAAAAAAAHH!"
Yukimura nyaris kehilangan keseimbangan dari tali. Dia langsung menggenggam talinya dengan erat. Pria itu memandang bagian tanah dengan pandangan ngeri.
Koin tadi jelas lenyap, dengan bekas ledakan dan lubang yang besar di atas tanah.
"Kasuga yang memasangnya," jawab Sasuke enteng.
"Be-benarkah.." gumam Yukimura nyaris gemetaran.
"Ya.. ya.. santai saja danna.. semuanya akan aman," kata Sasuke kalem. Dia pun bergerak maju kembali.
"Disana sudah ada pohon. Kita bisa istirahat dan turun ke bawah kalau ranjaunya tidak terlalu banyak," lanjut pria itu sambil menunjuk pohon besar dihadapan mereka.
Kedua orang itu pun langsung bergerak cepat menuju pohon terdekat. Setelah sampai disana, Sasuke turun dari tali duluan dan berdiri di atas dahan pohon yang paling besar. Dia kembali melempar koin ke tanah.
Trek... trek.. cling!
Tidak ada apapun.
Koin itu jatuh ke bawah dengan selamat.
"Baiklah, ayo danna.." kata Sasuke sambil memegangi Yukimura yang sudah sempoyongan. Lututnya mati rasa.
XXX
-Di Kai-
"Oshuu.." gumam gadis itu pelan. Dia berjalan di samping Shingen, sambil terus berusaha menyamakan langkahnya."Benar. Kau harus mengawalku untuk pergi ke tempat dokuganryuu.." jawab Shingen sambil terus melangkah.
Koridor itu terasa begitu panjang bagi mereka berdua. Meskipun Shingen sudah berusaha memanjangkan langkah-langkahnya. Sampai Fuyuki kerepotan agar bisa menyusulnya. Tapi
"Kenapa tidak Yukimura-danna saja? Bukannya soal mengawal-"
"Fuyuki,"
DEG!
"Kalau aku mengirim Yukimura bersamaku ke Oshuu, bisa-bisa terjadi hal merepotkan. Makanya aku ingin kau yang datang bersamaku, aku juga ingin melihat kemampuanmu. Jangan sampai membuat dokuganryuu kecewa," kata Shingen.
Fuyuki berusaha mencerna kata-kata Shingen. Sepertinya ada maksud tersembunyi yang tersirat di ucapan pria itu. Dia mencari helaian rambut emasnya dengan jari. Lalu kembali menyisirinya sambil berpikir.
Shingen menghentikan langkahnya. Refleks Fuyuki juga berhenti.
Keadaan hening, juga tegang. Terdengar suara guntur dengan kilatan cahaya yang mengagetkan mata. Koridornya menggelap.
Dengan suasana seperti itu, Shingen menoleh kepada Fuyuki dengan gerakan pelan. Siluet tercipta, membuat sebagian wajah paruh baya itu gelap tak terlihat. Dia menatap wanita itu tajam.
Juga heran.
"Kenapa kau memakai topeng?"
Fuyuki tersadar, dia menyentuh topeng besi yang saat ini menutupi wajahnya itu. Topeng iblis dengan dua tanduk di kening, berwarna perak mengkilap. 3 garis hitam masing-masing di pipinya seolah membentuk loreng. Dengan mulut yang terisi taring dan 2 taring di masing-masing pinggir mulut. Sama-sama memotong dengan arah berlawanan.
Shingen mengamati topeng itu, ada sebuah retakan kecil yang ada di pinggir bagian atas. Dia pernah melihat topeng itu..
..
..
"Apa ini?" gumam Shingen. Dia mengamati kotak kayu berukuran kecil di hadapannya. Di dalamnya, ada sebuah topeng perak.
Sebuah topeng iblis.
"Ini adalah benda yang ada bersama nona itu saat dia ditemukan.." kata Sasuke.
"Kenapa kau membawanya kemari Sasuke?" tanya Shingen.
"Barangkali kita bisa mengetahui dia berasal dari mana dengan melihat topeng yang dipakainya. Beberapa kalangan memiliki topeng khusus untuk menandai golongannya," balas Sasuke. Dia ikut mengamati topeng yang ada di dalam kotak itu.
"Tapi aku belum pernah melihat topeng ini sebelumnya.." lanjut pria itu.
"Aku juga," gumam Shingen tidak sadar.
"Wah, Oyakata-sama juga?" tanya Sasuke. Shingen mengangguk. "Lalu apa yang akan kita lakukan pada ini?" lanjut shinobi itu akhirnya.
"Simpan saja benda itu. Barangkali berguna.."
..
..
"Kau bisa menemukan topengmu kembali. Bahkan saat aku menyuruh Sasuke menyimpannya di gudang rahasia?" tanya Shingen.
"Sasuke-san memberikanku ini beberapa hari setelah aku bangun. Dia bilang lebih baik kalau aku menyimpannya," kata Fuyuki tenang.
Dia menatap Shingen, sangat tajam. Sekalipun ditutupi oleh sebuah topeng sekalipun. Tapi yang bersangkutan bisa merasakan kalau dirinya ditatap sangat tajam.
"Oyakata-sama.." panggilnya.
"Karena aku akan mengawal anda. Saya meminta satu hal," lanjut gadis itu. Dia kembali menyentuh topeng di bagian pelipisnya dengan jari.
"Tolong jangan bertanya tentang apapun yang kulakukan. Apapun itu.."
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
XXX
--Back To Sasuke Yukimura-
"Sepertinya cuacanya tidak mendukung danna.." kata Sasuke. Mereka tengah berjalan kaki di tengah hujan dan juga dedaunan yang jatuh. Tanahnya becek, membuat Sasuke meringis merasakan ada lumpur yang terciprat ke arahnya.
"Anu.. bukannya keadaan seperti ini justru berbahaya jika bergerak sembarangan?" tanya Yukimura. Masih memijat samar lututnya yang mati rasa akibat bergelantungan tadi. Dia melihat kesana kemari. Mengecek kalau ada ranjau Kasuga yang barangkali tersingkap oleh hujan.
"Tidak.. justru bagus kalau begini.." jawab Sasuke enteng.
"Loh.. kenapa?"
"Ranjau Kasuga akan mati dengan sendirinya oleh air hujan,"
Hening..
"KALAU BEGITU KENAPA TIDAK DARITADI SAJA KAU MEMATIKANNYA!" kata Yukimura dengan background berapi-api.
Sasuke hanya bisa terdiam melihat danna-nya itu.
"Kakiku sakit karena bergelantungan terus di atas tali! Apa kau pikir itu sesuatu yang mudah untukku!" lanjutnya. Dia sangat kesal.
"He-hei! Tenang! Tenang danna! Ini.. ini bagian dari.. ujian! Iya.. ujian! Ujian dari Oyakata-sama!" kata Sasuke. Dia memasang senyum lima jari.
"Eh.. ujian.." gumam Yukimura. Dia mengelus dagunya, "Oh iya. Benar juga!" ujar pria itu akhirnya.
"Ka-kalau begitu.. bagaimana dengan kain merah.. Fuyuki ojou-sama?" tanya Sasuke.
"Oh.. kain merah Mitsukaze-dono?" tanya Yukimura. Dia menarik sesuatu dari tas yang dibawanya. Sebuah kain merah pekat, bak dicelup darah.
"Dia baik-baik saja.." kata pria itu. "Oh.. Syukurlah.." kata Sasuke.
Hampir saja.. pikir shinobi itu.
"Oh ya.. danna.."
"Hm?"
"Kenapa kita tidak terkena air hujan?" tanya Sasuke.
"Loh, kita kan berjalan di bawah pohon. Makanya hujannya tidak sampai kesini.." jawab Yukimura polos.
"Tapi.. danna.."
"Hm?"
"Sudah tidak ada pohon lagi disini.."
DEG!
"Oh ya! Benar juga! Kita terus berjalan selama bicara sampai tidak sadar kalau tidak berjalan di bawah pohon lagi!" kata Yukimura. Dia menebarkan pandangan kesana kemari secara brutal. Memastikan ucapannya benar.
Sasuke yang melihat danna-nya hanya bisa berpikir.
Dia mengarahkan tangannya agak jauh ke depan. Sebuah air hujan turun dan membasahi telapak tangannya. Sasuke menarik tangannya kembali.
"Aneh.." gumamnya pelan. Dia ganti menatap Yukimura yang masih panik dan berusaha berteduh di bawah pohon.
Kenapa kami tidak basah.. pikirnya.
CTIK!
BLEDAAAAAAAAAAAAAAAAAARRR!
Kedua orang itu terdiam. Sasuke langsung menengok ke belakang. Beberapa kubangan tanah ada di tempat mereka berpijak tadi.
"Sa-sasuke.. apa yang terjadi?" tanya Yukimura. Dia berlari menuju shinobi -nya itu.
"Ranjaunya.. meledak..." gumam Sasuke. Tidak percaya, matanya membelalak.
"Ke-kenapa bisa?" tanya Yukimura.
Ranjau yang dipasang Kasuga akan mati otomatis jika terkena air. Tapi ranjau itu meledak.. pikir Sasuke.
Dia pun melihat kembali telapak tangannya yang basah akan air.
Kemungkinannya hujan ini bukan 'hujan' yang sebenarnya.. lanjut pria itu.
Atau.. Bukan Kasuga yang membuat dan memasang ranjau ini..
"Ceroboh dan lengah seperti biasanya ya.."
DEG!
PIK!
Sasuke dan Yukimura langsung menoleh ke asal suara.
Siluet seorang yang ramping. Berpakaian hitam, sebuah tato kupu-kupu di paha.
Dia berdiri, dengan ujung kimono yang tertiup oleh angin.
"Seorang pembuat dan perakit bom sejati.. sekaligus istri Raja Iblis.." gumam Yukimura.
"Nouhime!" ujar mereka berdua.
Wanita itu menyipitkan matanya, dia mengangkat pistolnya bersama-sama.
"Hati-hati terbakar.. boy.."
To Be Continue
XXX
Omake :
"Guuurrrrrruuuuuuuuuu! Gurrruuuuuuuuuuu!"
Seorang gadis kecil berambut emas panjang lari terbirit-birit di padang rumput. Nyaris saja dia menubruk tubuh pria besar yang tinggal selangkah lagi kalau tidak di rem. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya membiru, matanya hampir menangis.
"Fu-Fuyuki? Kenapa?" tanya pria itu. Dia langsung berjongkok dan mengamati wajah murid kesayangannya. Pria yang ketampanannya tak luput dimakan garis-garis ketuaan itu hanya bisa mengernyit.
"Kau mengalami halusinasi lagi saat latihan pemberkatan?" tanyanya. Rambut putihnya diikat kuda.
"Se-sebenarnya.." gadis kecil itu berusaha menahan tangis. "Aku.. tidak apa-apa.." lanjut gadis itu. Tidak jadi mengatakan.
Pria itu menghela nafas, sorot matanya menajam. "Jangan pernah berbohong kecuali dalam keadaan darurat Fuyuki. Kau takkan bisa menggunakan 'Light Armor' jika hatimu diliputi kebohongan seperti itu," katanya tegas.
"Guru.. maaf.."
"Maaf untuk?"
"Aku selama ini berbohong.."
"Hah?" gumamnya pelan. Muridnya ini bikin masalah apa lagi? Sungguh. sekalipun kelihatannya kalem dan bisa diatur. Mengurus Fuyuki tidak segampang yang dikira semua orang. Kadang-kadang gadis ini mengalami halusinasi dadakan yang bisa membuatnya pingsan seketika.
"Aku.. aku tak pernah latihan pemberkatan.." lanjutnya pelan.
BLAAAAAARRR!
Petir seolah menyambar ubun-ubun pria berumur 112 tahun itu. Dia bisa merasakan kalau emosinya naik dari ujung sampai bagian atas. Saat mencapai tenggorokan. Pria itu nyaris membuka mulut untuk menceramahi gadis ini. Tapi ditahan, 'Light Armor' takkan suka pada orang yang gampang marah.
"Kenapa?" tanyanya. Nada bicaranya dibuat sejelas mungkin, tersirat kalau sebenarnya dia memendam amarah yang mengerikan. Fuyuki tahu akan hal itu, dan membuat gadis kecil tersebut bagai dijatuhkan ke Tartarus.
"Aku membebaskanmu berlatih sesukamu karena kau gadis yang jenius. Tak ada yang lebih mengerti dirimu daripada kau sendiri. Aku percaya kau akan lebih baik dengan metode itu. Tapi, apa yang guru dapatkan?" tanya pria tersebut.
Dia menghela nafas panjang berulang-ulang. Sungguh, dia tak menyangka gadis ini akan membuatnya begitu kecewa. Padahal, dia adalah satu-satunya harapan bagi para 'Sage'.
"Katakan, apa masalahmu sampai tidak bisa berlatih pemberkatan seperti itu?" tanya pria itu pada akhirnya.
"Aku.. Aku.."
Pria itu menunggu dengan sabar.
"Aku takut hantu.."
Hening.
"Bisa-bisa harga diri guru sebagai 'Sage Legendaris' tercemar karena aku. Aku murid yang payah.."
"Fuyuki,"
"Seorang 'Sage' harus memiliki mental yang kuat untuk memberkati roh jahat kelas atas. Aku menggunakan semua waktuku untuk mengatasi hal ini. Tapi tidak bisa!"
"Fuyuki!"
"Guru, aku akan berhenti menjadi murid anda. Aku tidak pantas menjadi 'Sage', ataupun pengguna 'Light Armor'.."
"Tutup saja matamu saat kau berjalan atau memberkati roh-roh jahat. Beres kan?"
...
...
...
Fuyuki hanya bisa terkekeh mengingat hal itu. Dia tangga itu lagi.
"Seandainya tangga ini tidak ada di depan kamar penuh jiwa tersesat itu.."
XXX
Author Note :
Edisi revisi. Maaf, saya plin-plan soal kostum dan desain kakak cantik. Jadinya kujadikan dia yukki onna saja.
YANG UDAH REVIEW TIDAK PERLU REVIEW LAGI '-')/ (woles aja napa)
Author lagi sensi karena PMS nungguin rapot nih.. #geregetan_sambil_gigit_bantal.
Semoga rapot Shakazaki bisa bagus. Amin..
See you next chapter!
