Each Tiger Has Its Tale

Halo reader sekalian. Kembali lagi dengan saya Shakazaki Rikou yang sedang dalam keadaan darurat dalam mengurus cerita.

Benar-benar darurat. Sampai sebenarnya dimasukkan UGD tapi saya tahan (oke, mulai keluar jalur).

Baiklah.. saya baca dulu chapter lalu ya.. (buka chapter yang lalu).

Oh ya! Sampai Nouhime nongol iya-iya!

Ehem, baiklah. Semoga chapter ini bisa memuaskan reader sekalian.

Saya takut hasilnya mengecewakan.

Silahkan menikmati cerita

Rate : T

Disclaimer : I don't own Sengoku Basara. Nothing but my Original Character, plot, idea, and also this account.

Warning! : Countain many OC, Dont Like Dont Read.


XXX


Balasan review :

RynKireiFRS a.k.a AdiknyaFuuma :

Baiklah.. saya ucapkan terimakasih (lagi) untuk anda. Saya ucapkan 50 kali pun enggak masalah (digampar). Thanks for fav and favourite my stories! Hope you still like it!

p. s : maaf kalo anda kecewa.

kuroIChio :

halo mbak! Alhamdulillah rapot saya baik! (^w^)

p. s : maaf kalo anda kecewa ama chapter ini.

Io-aruka :

Mizuage muncul disini! tapi sayang belum ketemu... ama kakak cantik.. (kakak cantik masih nun jauh disana.) Iya.. dia Hayama Ichinose kakak.. si Pasien Rumah Sakit Jiwa.. (di Brutal Serpent ama Hayama).

p.s : maaf kalo action-nya jelek dan anda kecewa.

Hananami Hanajima a.k.a Sanada Sena :

Makasih buat review andaaa! Huwaaa! Saki ngeplai!

Emang Fuyuki sekeren itu kah?

(Fuyuki : Pengarang.. masa lupa sih ama konsepnya? Bukannya saya ini cool masculine woman.. *asah golok*).

Oke, Fuyuki. Turunkan goloknya.

P. s: maaf kalo kamu kecewa ama yang satu ini.. Hana-chan..

MAKASIH MINNAAAAAAAAAAAAA!


XXX


Chapter 8 : Rain Song (Part 2 : End).

"No-Nouhime.. bagaimana bisa..."

Yukimura dan Sasuke terperangah. Terpapar jelas memori mereka beberapa bulan yang lalu. Terputar kembali secara jelas dan nyata.

Mereka ingat betul setelah menghancurkan kastil Azuchi. Tidak ada satupun yang bertahan hidup disana. Semuanya terbunuh, dikubur bersama puing-puing bukti bisu runtuhnya rezim Oda. Kalaupun ada yang bertahan hidup, tidak akan bisa muncul kembali untuk membangun klan paling mematikan di Jepang tersebut.

Bagaimana bisa?

Bagaimana bisa..

Penampilan Nouhime sendiri sedikit berubah. Kimono hitamnya masih melekat, membungkus tubuhnya yang molek. Rambutnya tidak lagi dikonde. Melainkan hanya dikuncir tinggi dengan jepit bunga.

Kulitnya sangat pucat, matanya kosong. Dua pistol menggantung di tangannya.

"Harusnya anda sudah mati," lanjut Yukimura lagi. Entah dia sadar mengucapkannya atau tidak.

Nouhime hanya memalingkan wajahnya

"Memang benar.. harusnya aku sudah mati.." lanjut wanita itu.

Gemuruh mengisi hening yang terasa. Hujan nampak makin deras. Diantara panggung drama yang berdiri di sini.

Air pun membasahi tubuh istri Oda tersebut. Namun Nouhime tidak peduli. Dia mengibaskan rambutnya. Matanya tak lagi berkilat ganas dan haus darah. Melainkan begitu suram, sedih, dan menampakkan kehampaan yang luar biasa.

Dia mencengkram salah satu pistol yang ada di tangannya.

"Harusnya aku mati saja bersama Kazusanosuke-sama. Di kastil itu.. dengan begitu aku bisa menemaninya. Bersama di neraka.."

Sasuke dan Yukimura yang mendengarnya terdiam. Mereka tidak menyangka kalau cinta bisa membuat seseorang sedemikian gila. Nouhime contohnya.

"Tapi.. karena aku sudah hidup kembali disini. Aku harus membalaskan dendam Kazusanosuke-sama!" pekik Nouhime sambil menatap nyalang kedua pria dihadapannya itu.

"Kalian telah merebut suamiku! Milikku yang paling berharga! Kau Yukimura Sanada! Kau harus mati disini! Bersama dokuganryuu!" lanjutnya. Dia mulai menodongkan pistolnya. Wanita itu seperti kesetanan.

Dalam seperdetik, terciptalah hujan peluru yang memberondong Sasuke dan Yukimura tanpa ampun.

"Danna!"

Sasuke langsung menjauhkan mereka berdua ke atas pohon. Yukimura masih terlalu kaget. Selama dia bertarung. Tidak pernah dijumpainya serangan secepat dan sebesar itu.

Apa yang terjadi pada Nouhime?

Bagaimana bisa dia jadi seperti ini?

"Danna! Kita tidak diuntung untuk situasi seperti ini! sebaik-"

DORRR!

Sasuke terdiam. Mata Yukimura kaget dan membesar. Sebuah peluru menembus lengan kiri shinobi tersebut dengan begitu cepat. Sampai orang yang terkena langsung terjatuh dibuatnya.

"Sasuke!" pekik Yukimura.

Sasuke terjatuh ke tanah meski masih bisa berdiri. Yukimura langsung memasang pose siaga. Dia merasakan ada yang aneh dengan situasi ini. Meski tidak tahu apa yang terjadi.

Gawat.. hujannya mengganggu penglihatan.. gerutu Yukimura dalam hati. Tidak terkena hujan bukanlah sesuatu yang cukup. Hujan yang tercipta makin deras, meski Yukimura tidak basah terkena amarah langit. Tapi pandangannya kacau karena rintik air yang menerjang terlalu ganas.

Kemana dia pergi... gumam Yukimura lagi setelah tahu Nouhime tidak ada di tempat terakhir kali dia terlihat.

DEG!

Perasaan apa ini..

Sesuatu yang gelap... besar.. pikir pria itu.

Ada di belakangku! Lanjutnya sambil menengok ke belakang, dan benar saja. Dia mendapati siluet istri Raja Iblis itu mengarahkan moncong pistol tepat ke dadanya. Yukimura langsung menghindar. Meski dia harus terjatuh dari dahan pohon juga.

Kakinya menghantam tanah yang becek oleh air hujan. Dengan Sasuke yang tidak terlalu jauh. Berusaha berdiri meski sempoyongan.

"Sasuke! Kau baik-baik saja!" tanya Yukimura berlari menuju shinobi-nya itu. Sedetik terasa seperti seabad. Itulah yang dirasakan Yukimura. Semua kejadian yang berjalan terasa begitu pelan dan lambat. Meski dia tahu.

Waktu masih berjalan seperti sedia kala.

Sasuke hanya bisa memasang senyum pahit. Pria itu memegangi lengan kirinya yang terkena tembakan.

"Danna.. daripada kau mengkhawatirkanku. Sebaiknya kau waspada saja pada pengantin Oda itu.." kata Sasuke.

"Apa yang kau katakan Sasuke!"

"Aku tidak yakin.. tapi.. naluriku mengatakan.."

Perkataan shinobi itu menggantung. Dia memincingkan mata, berusaha memperhatikan dahan pohon lapuk diantara ganasnya hujan, yang memiliki sebuah bekas lubang. Juga asap.

"Kalau pelurunya bisa memantul.." lanjutnya sambil menatap kembali Yukimura.

"Me-memantul.." gumam Yukimura. Dia terperangah. Tidak bisa mengatakan apapun.

Sungguh, ini sangat diluar akal sehat. Bahkan Magoichi Saika yang konon merupakan pemimpin tentara bayaran terhebat di Jepang tidak bisa membuat pelurunya seperti itu.

"Sihir macam apa ini?" desis pria itu.

Sasuke sendiri tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Memang diluar logika, tapi pria itu berani bersumpah dia merasakannya sendiri.

Beberapa menit yang lalu, semuanya berjalan seperti biasa. Tapi begitu mendapat serangan. Entah kenapa semua indra Sasuke seperti terbangun untuk pertama kalinya. Benar-benar terbangun.

Pria itu menjadi sangat sensitif. Seperti bisa merasakan semua pergerakan alam.

Dia merasakan (bahkan tanpa menoleh sedikit pun) peluru yang ditembakkan Nouhime mengarah pada mereka. Lalu Sasuke merasakannya, dan langsung mendorong Yukimura bersama dirinya ke atas dahan pohon terdekat.

Begitu kedua orang itu berhasil pindah dalam sepersekian detik. Peluru itu mengenai salah satu dahan pohon lapuk yang ada di belakang mereka dan memantul menuju mereka kembali. Kemudian mengenai Sasuke yang merupakan objek paling dekat.

"I-Ini.. tidak mungkin.."

"Sayang sekali boy.. tapi itu semua memang mungkin.." kata seseorang mengintrupsi percakapan mereka.

Yukimura dan Sasuke langsung menaikkan pandangan mereka. Mendapati Nouhime yang duduk di atas dahan pohon yang mereka naiki tadi untuk berlindung. Dengan kaki menyilang dan kimono yang berkibar.

Matanya menatap rendah kedua pria dihadapannya.

"Aku yang sekarang berbeda dengan saat suamiku masih hidup.. aku sudah mati.." kata Nouhime.

Sasuke dan Yukimura terkejut. Ada sesuatu yang bersinar di salah satu kaki istri Raja Iblis tersebut.

Ada tato ular yang melilit betis wanita itu, kecil dan bersinar kehijauan. Lalu auranya menguar ke sekeliling mereka.

Tulang punggung kedua pria itu langsung membeku. Mereka tersentak.

Nouhime mengeluarkan aura kebencian yang luar biasa. Dendam yang terpendam kini benar-benar bangkit dari kuburnya. Saat Yukimura berusaha melihat lagi ke arah wanita itu.

Yang dia dapati bukan apapun..

Melainkan iblis wanita yang haus darah dan siap menerkam mangsa.

"Apa itu.." gumam Yukimura.

"Aku telah membuat penawaran setan atas dasar kebencianku.. dendamku.. dan seluruh perasaan yang telah mengiris jantungku. Membunuhku beberapa waktu yang lalu..

Ini adalah sebuah perjanjian terlarang yang hanya bisa dijamin dengan nyawa...

Tak ada satupun yang bisa selamat.."

Sasuke sendiri hanya bisa terpaku. Indranya yang berkali lipat lebih tajam merasakan bulu kuduknya berdiri. Kebencian Nouhime seakan menusuk langsung ke seluruh pori-pori kulitnya. Menyesap secara paksa dan mematikan seluruh selnya bagai racun.

Beberapa saat kemudian, rentetan bunyi peluru yang ditembakkan mulai memenuhi indra pendengaran. Nouhime tidak kenal ampun. Dia langsung menghujani kedua orang itu dengan peluru yang bisa memantul.

Sasuke dengan sigap mendorong tuannya dan berpindah-pindah ke tempat lain meski dengan satu tangan. Kalau saja refleks Sasuke tidak sehebat itu. Tentu saja bukan hanya satu peluru yang akan menembus badan mereka. Mungkin saja ratusan. Bahkan sekalipun itu peluru nyasar.

"Dia mengerikan.." gumam Sasuke. Saat mereka berhasil mendapatkan tempat teraman di atas pohon yang lain.

Hujan semakin ganas mengguyur. Membuyarkan pikiran mereka berdua.

"Jangan lengah hanya karena kau bisa menghindari peluruku!"

Sasuke dan Yukimura tersentak. Mereka baru sadar kalau ternyata Nouhime sudah ada tepat di depan.

Sebuah tendangan mengarah ke Yukimura. Mengenainya telak sampai terjatuh kembali ke tanah. Sementara dia memukul Sasuke dengan pistol yang ada di tangannya yang lain. Tepat pada bekas luka tembak yang dideritanya.

Sasuke mengerang kesakitan. Nouhime hanya menyenggol sedikit kaki pria itu dan dia pun terjatuh ke bawah. Tepat di samping Yukimura.

"Ini mustahil.." gumam Yukimura. Tidak percaya.

Rasa nyeri menjalar dari dadanya yang ditendang telak oleh Nouhime. Rasa sakitnya bahkan sama seperti saat dia dipukul Shingen pertama kali. Membuat Yukimura tidak bisa berdiri sementara, dan dia merasa sakit saat bernafas atau menggerakkan dadanya.

Nouhime hanya tersenyum remeh. "Siapa suruh membiarkan rongga dada terbuka seperti itu, ha? Boy.." kata wanita itu.

Sasuke menyetujui perkataan Yukimura. Untuk seorang wanita, itu sesuatu yang tidak mungkin. Wanita yang bahkan bisa menjatuhkan dua pria sekaligus tanpa menggunakan senjata.

Fuyuki pernah mengatakan, kalau (saja gadis itu tidak punya 'akal yang overdosis') dia paling kewalahan jika sudah dikeroyok pria dalam keadaan tanpa senjata.

"Sepertinya ini yang dia sebut sebagai hasil dari 'penawaran setan'.." gumam shinobi itu.

"Hei.. pengantin Raja Iblis.. daripada repot-repot mengurusi suami lamamu. Sebaiknya kau mencari pasangan baru.." ujar Sasuke tanpa beban.

Nouhime hanya mendesis, layaknya ular. Memandang tajam orang yang berkoar barusan.

"Kau tak tahu apa-apa tentang perasaanku.. boy.." kata Nouhime. Dia pun memutar mata. "Dua tikus sudah masuk ke perangkapku.. sekarang tinggal menunggu yang dua lagi..." gumamnya.

DEG!

Dua tikus.. perangkap? Berarti setelah kami masih ada lagi?- batin Yukimura.

"Siapa lagi yang kau incar, ha!" tanya pria itu menyadari maksudnya.

Mendengar perkataan Yukimura yang tepat sasaran. Nouhime sempat terkejut dalam diam. Dia tidak menyangka kalau kedoknya bisa terbongkar secepat itu. Meski akhirnya tersenyum.

"Siapa lagi? Tentu saja rivalmu yang berkoalisi denganmu saat membunuh suamiku.." jawab Nouhime.

DEG!

Masamune-dono!- pekik Yukimura dalam hati. Menyadari kali ini naga bermata satu itu juga diincar.

"Pasti akan menyenangkan kalau melihat kedua orang yang membunuhku kali ini tersiksa dan bertekuk lutut.. kalian akan merasakan kegelapan neraka yang mengurungku selama bermalam-malam lamanya.." kata Nouhime.

"Aku tidak bisa membiarkanmu!"

"Diam kau bocah! Kalian yang tidak pernah merasakan kehilangan takkan tahu apa-apa! Terkurunglah kalian bersama dengan kegelapan! Black Mist!" seru wanita itu sambil mengarahkan tangannya pada Yukimura dan Sasuke.

Seketika kegelapan menguar langsung dari tubuh Nouhime. Terus mengumpul dan berkumpul. Membentuk kabut yang mengelilingi mereka.

Sasuke makin tersiksa dengan hawa kegelapan. Entah sebuah kesialan atau keberuntungan dengan indra yang terbangun ini. Tapi itu membuatnya paru-parunya sesak. Seperti hawa itu langsung menusuk dadanya.

"Ugh! Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

"Sasuke!" pekik Yukimura.

Sial.. apa yang harus kulakukan.. gumam pria itu. Tidak butuh waktu lama bagi aura pekat membentuk penjara yang mengurung Yukimura dan Sasuke. Dia pun merasakan sesak yang menyelimuti dadanya.

Bahkan kegelapan si Raja Iblis Nobunaga Oda.. tidak seperti ini..

Kegelapannya memang mematikan. Tapi tidak pernah langsung membunuh.

Lengkingan tawa Nouhime seakan menggema dan terpantul di seluruh ruang penjara tersebut. Mendengung di telinga Yukimura. Membuatnya tersungkur karena tidak kuat menahan gelombang suara yang begitu besar.

"Sesak bukan..? Menyakitkan bukan...? Tapi jangan merengek padaku jika kalian merasa tersiksa dengan ini.. boy.." suara Nouhime terdengar samar. Namun begitu kuat.

Ugh... kalau terkurung begini.. aku tak bisa menghentikannya!- pekik Yukimura dalam hati. Karena bersuara membuatnya semakin sesak.

"Aku akan mengirim dokuganryuu ke sini.. dan selesai sudah.. persiapan rencanaku akan matang sempurna.."

Tidak! Jangan Masamune-dono!- geram pria itu lagi tanpa suara. Dia mencengkram kain bajunya sendiri. Menahan rasa sakit.

"Aku yakin kalian cukup kuat.. tapi jangan sampai mati sebelum temanmu datang kesini ya.. Sanada no boy..."

Tidak.. aku tidak boleh mati..- gumam Yukimura lagi.

Samar-samar dia membayangkan sosok punggung berzirah dengan helm sabit. Berdiri gagah dengan jas biru yang berkibar.

Dia tengah menunggu seseorang di padang rumput yang luas. Dengan tangan terlipat di dada. Tapi menyimpan semangat yang sebentar lagi akan meledak.

Menunggu rivalnya.

Masamune... dono.. batin Yukimura. Pria itu mengepalkan tangannya.

Sosok Masamune seakan menoleh kepadanya. Lalu tersenyum. Senyuman sombong yang selalu diperlihatkan pada siapapun. Tapi yang ini berbeda.

Dia tampak antusias. Dengan sorot mata yang hangat.

Aku tidak bisa menyeretmu ke masalah seperti ini.. tidak bisa.. lanjut Yukimura lagi. Seakan bicara dengan imajinasinya di tempat itu juga.

Masamune menutup kembali mulutnya. Masih membentuk lengkungan dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Seakan menunggu lagi apa yang akan dikatakan Yukimura.

Kita hanya akan bertemu untuk bertarung.. karena saat bertarung itulah aku bertemu denganmu..

Yukimura yang awalnya tersungkur mulai berdiri lagi. Seakan berusaha menyamai figur Masamune di kepalanya.

Tunggulah aku Masamune-dono! Aku akan menyelesaikan semua ini! kata Yukimura akhirnya. Mengakhiri halusinasi yang terbentuk. Dengan figur Masamune mulai kabur. Diselimuti oleh cahaya.

Kemudian menghilang sepenuhnya.

"REKKAAAAAAAAAAA!"

Seketika kobaran api menguar dari ujung tombak Yukimura. Terus membesar, Yukimura langsung melemparkannya ke penjara kegelapan.

Api Yukimura dan kobaran kegelapannya beradu sengit. Begitu terus sampai menciptakan hawa panas yang menyakitkan. Yukimura langsung menutup hidungnya. Begitu juga Sasuke.

"Masih mau melawan? Boy... kau ini benar-benar tidak sayang nyawa ya?"

"Justru aku tidak sayang nyawaku jika tidak melawanmu!" balas Yukimura dari dalam. Mempertahankan kobaran apinya terus membara.

"Danna.." gumam Sasuke. Meski penglihatannya memburuk karena aura di sekeliling benar-benar menyiksanya. Tapi dia bisa melihat punggung Yukimura. Sedang bertahan dan berusaha menyerang balik kabut hitam yang memenjarakan mereka.

Kabut hitam itu mulai membentuk pusaran untuk menyerang balik. Menangkis api Yukimura lebih kuat dari sebelumnya. Sampai kedua kaki Yukimura terpukul mundur dari pose bertahannya.

"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Pria itu benar-benar pantang mundur. Api yang ada di tombaknya makin membesar. Lalu berputar dengan arah yang berlawanan melawan pusaran kegelapan itu.

"Danna!"

"Terbakarlah! Terbakarlah bara semangatkuuu!"


XXX


PIK!

Gadis bersurai emas itu langsung menoleh. Mata biru esnya membesar. Mulutnya bahkan nyaris menganga.

"Sanada-danna?" gumamnya tidak percaya.


XXX


"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Yukimura masih bertarung dengan sengit. Tanah yang dipijaknya bahkan membentuk jejak dengan jelas karena kedua kakinya makin terpukul mundur. Pria itu makin tersudut. Tenggorokannya sesak karena menghirup kegelapan terlalu banyak. Rasanya seperti pedang yang langsung menusuk paru-parunya. Pandangan Yukimura pun mulai mengabur.

"Menyerahlah bocah!"

"AKU TIDAK BISA MENYERAH SEKARAANG!" balas Yukimura tajam.

'Danna... sialan..' gumam Sasuke. 'Kalau saja indraku tidak terlalu tajam..' desisnya dalam hati.

Di tengah sengitnya pertarungan. Tiba-tiba Yukimura tertegun. Dia menyadari kalau kain merah pekat yang ada di dalam tasnya langsung terjatuh ke tanah dengan sendirinya. Tepat di tengah lingkaran kegelapan itu. Seakan menjadi titik pusat.

Meski tahu ini bukan waktunya untuk kaget. Tapi mata pria dengan rambut dikuncir itu terbelalak.

Simbol crystal langsung terbentuk dengan sendirinya dari kain itu. Mengarah ke enam sisi. Persis seperti kepingan salju.

Yukimura merasakan kalau tanah yang diinjaknya menjadi dingin. Juga aura sejuk yang membuatnya nyaman. Sangat menenangkan.

Dia seperti melupakan semua hal yang terjadi. Segala keadaan yang membuatnya tersudut sampai lupa caranya bernafas. Bahkan sesaknya kegelapan pun tidak lagi dirasakan. Pedang-pedang yang menusuk paru-parunya hilang seketika. Pandangannya kembali jernih. Seperti baru bangun dari tidur yang panjang.

Sasuke yang menatap hal itu hanya bisa terpukau. Dia merasa sangat tenang. Bahkan antara halusinasi atau bukan. Pria itu seperti merasakan ada salju tipis yang turun.

Crystal itu berujung pada pilar-pilar es yang terbentuk. Menjulang ke udara. Memotong penjara kegelapan dan menghapusnya. Menggantinya dengan cahaya yang cantik.

Api Yukimura pun padam dengan damai. Seakan diolah dengan lembut. Udara dingin bercampur dengan badai api pria itu. Menghasilkan udara hangat yang makin membuat kestabilan emosi mereka kembali.

Hujan berhenti turun.

Keadaan kembali normal.

Benar-benar normal..

"Apa ini! Apa yang terjadi!" gumam Nouhime, yang figurnya terlihat kembali karena penjara kegelapannya sudah lenyap.

'Teknik ini... Mitsukaze...'

Geraman seorang pria terdengar samar-samar. Yang pasti itu bukan dari Nouhime.

"Mitsukaze-dono..." ulang Yukimura.

Sebuah salju turun perlahan. Jatuh di telapak tangan Yukimura yang menengadah keluar. Melepaskan genggaman pada tombaknya.

Angin salju memang dingin. Tapi menyegarkan karena menghapus semua kesengsaraan yang dilaluinya sampai bersih.

Benar-benar bersih. Seperti tidak terjadi apapun.

"Sepertinya kita ditolong lagi oleh ojou-sama.. danna.." kata Sasuke yang berhasil berdiri. Luka yang ada di lengannya sudah tidak menjadi masalah. Dia menghirup dalam-dalam udara yang ada di sekelilingnya. Seolah ingin benar-benar membersihkan sisa-sisa kegelapan dari area pernafasannya.

"Ya.." balas Yukimura. Dia mengangkat kepalanya. Memandangi salju yang turun.

"Entah sudah berapa kali aku melalui musim dingin selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah menikmatinya.. tapi.. ini pertama kalinya aku merasa.."

Perkataan Yukimura menggantung, dia tersenyum.

"Musim dingin itu cantik.."

Sasuke hanya bisa terkekeh geli mendengarnya.

"Sama seperti yang menciptakan musim dinginnya.." sambung shinobi itu jahil.

"Ya, kau be-EEEEHH!" gumam Yukimura baru sadar.

"Eh? 'Eh' untuk apa? ojou-sama kan memang cantik.. apa yang salah?" tanya Sasuke.

Yukimura hanya bisa sweatdrop mendengarnya. "Lupakan saja.." kata pria itu.

Sasuke hanya tertawa. Dia lalu memukul pelan punggung danna-nya. "Bercanda.." balasnya.

"INI BELUM SELESAI!"

Sasuke dan Yukimura terkejut. Mereka terlena dengan kenyamanan yang tadi sampai lupa.

Kalau ular yang mendesis belum mereka tangani.

Nouhime tersungkur di tanah. Tangannya mencakar-cakar tanah becek yang ada di hadapannya. Bak wanita kesetanan. Dia berkata bersama suara seorang pria yang keluar dari mulutnya.

"Aku tidak akan kalah darimu.. tidak akan.." ucap si suara pria yang keluar dari mulut Nouhime.

"Aku akan membalaskan dendam Kazusanosuke-sama! Pastii!" kata Nouhime dengan suaranya sendiri.

Mata wanita itu mengeluarkan cahaya kehijauan. Bersama dengan lambang ular di kaki dan senapannya.

Kegelapan kembali terwujud. Membentuk dua ular, melata di belakang Nouhime. Dengan bayang hitam dan mata hijau bersinar. Corak emas mengalir di tubuh mereka.

"LUNATIC CHAOOSSS!"

Seketika dua ular itu datang menerjang Sasuke dan Yukimura. Kedua orang itu tak sempat bertindak. Bahkan kali ini tubuh sepasang ular itu terpecah menjadi ular yang jauh lebih kecil. Tapi siap menggigit mereka bagai ikan piranha.

Sasuke dan Yukimura langsung mengangkat senjata mereka. Meski tahu refleks mereka terlambat.

'Mangetsu Fubuki!*'

Saat kedua orang pribumi Takeda itu berkedip. Mereka melihat ada badai salju yang memenuhi indra penglihatan mereka.

Tidak, itu bukan badai.

Itu topan salju, pusaran angin yang besar, berputar dengan gaya perusak yang sangat hebat. Dengan mereka di dalam pusaran itu. Aman dan terlindungi.

Yukimura dan Sasuke hanya bisa mengerjap saat tahu topan salju itu langsung menghapus bayang ular yang ada di depan mereka.

Begitu terus, sampai mengenai Nouhime yang tidak sempat menghindar.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!"

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...


XXX


"Sudah selesai?"

Yukimura mengerjapkan matanya beberapa kali. Melihat topan salju itu benar-benar menyapu bersih.

Semuanya.

Sampai tidak tersisa sedikit pun kecuali hutan dan jalanan yang dipenuhi oleh bongkahan es kecil.

Sasuke berjongkok dan menyentuh beberapa dari bongkahan yang tergeletak disana. Agak jauh dari Yukimura. "Bentuknya lebih besar dan tajam.. sampai bisa melukai tangan layaknya jarum.." gumam shinobi itu.

Dia menengok kembali ke Yukimura. "Bukan sesuatu yang mustahil jika ribuan jarum mematikan seperti ini membunuh seseorang secara mengenaskan. Lagipula itu badai salju yang dahsyat.." katanya.

"Membunuh.. seseorang.." gumam Yukimura.

Pria itu tersentak. Dia langsung menyapukan pandangannya ke semua arah. Mencari bayang Nouhime.

Yukimura berlari agak ke depan, dan benar. Dia tidak mendapati apapun.

Melainkan kain hitam bekas kimono istri Raja Iblis tersebut yang rusak berat. Terkoyak.

Yukimura menatap ngeri kain itu. Dia pun memungutnya secara hati-hati. Lalu membersihkannya dari sisa jarum es yang mengotorinya.

"Nouhime.. dono..." gumam Yukimura.

Dia menggenggam erat kain itu.

"Memang kecil kemungkinan dia selamat.." kata Sasuke. Berjalan mendekati Yukimura. "Tapi setidaknya, kita dapat bukti kalau dia masih hidup.. dengan kabur.." lanjutnya.

Yukimura hanya mengangguk kecil. Meski matanya memandang muram kain hitam yang ada di hadapannya.

"Fuyuki... kaukah itu.."

Suara itu mengalihkan pandangan kedua orang tersebut. Mereka mendengar suara kaki yang datang. Tidak terlalu banyak. Kira-kira 2 sampai tiga orang.

"Su-suara itu.." gumam Sasuke.

Yukimura memandang Sasuke. Begitu juga shinobi-nya. Mereka saling pandang. Seolah bertanya.

Kita tidak salah dengar kan?

"Pelan-pelan Kasuga.. jangan sampai menginjak bongkahan es itu. Kakimu bisa terluka.."

"Ha-hai! Kenshin-sama.."

'BAHKAN KASUGA DAN KENSHIN JUGA!'

Sasuke dan Yukimura melotot horror. Jangan mengatakan kalau...

Mereka pun secara bersamaan menoleh ke asal suara.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!"

...

...

...

...

...

...

...

...

...


XXX


-Kediaman Uesugi Kenshin-

"Toudo-dono ikut faksi Uesugi Kenshin!" tanya Yukimura tidak percaya.

Sementara orang yang disangkut hanya bisa mengangkat alisnya secara tegas. Kesal.

"Naze**?" tanya Mizuage. Nadanya berbahaya.

Sampai Sasuke dan Yukimura sweatdrop mendengarnya.

Dia tidak lagi memakai armor -nya. Yang meski tidak percaya juga, dibalik bungkusan besi ungu mengkilap itu yang repotnya ampun-ampunan. Mizuage memiliki figur tegap yang ideal. Tidak terlalu gagah, tapi juga tidak terkesan kurus. Dia memakai hakama hitam dengan yukata biru tua di dalamnya. Baik hakama dan yukata itu diikat oleh obi putih biasa. Dengan kain selempang yang tampak juga di pundak kanannya.

"Ya.. dia prajurit baru yang bisa diandalkan.." kata Kenshin. Sambil mengipas-ngipas kepalanya dengan kipas tradisional model uchiha. Pria itu sedang mengenakan pakaian santainya. Dengan yukata biru motif gelombang dengan kerudung putih yang masih setia melingkari kepalanya.

"Bagaimana kalian bisa bertemu dengan orang ini?" celetuk Sasuke tiba-tiba.

"Hm? Aku menemukannya di ujung hutan sana.. saat itu pasukanku sedang kehabisan bekal. Tidak ada satu pun yang makanan yang tersisa. Mencari sungai pun rasanya melelahkan. Sampai pria ini membuat sungai buatan yang membelah hutan menjadi dua.." kata Kenshin sambil tersenyum. Melirik Mizuage yang tidak berekspresi.

"Bukan itu saja. Dia juga bisa membuat pemandian air panas dengan mudah dan membuat udara lembab yang sejuk. Jujur saja itu sangat membantuku.." lanjutnya dengan kekehan pelan.

"Bagaimana bisa anda mempercayai seseorang hanya dalam sekali lihat saja!" potong Yukimura.

Sasuke sendiri menatap tidak percaya dengan wajah epic. Dia melirik sedikit Kasuga. Sementara wanita itu membuang muka.

Sasuke terkekeh pelan.

"Nah.. intinya.. kalian dikirim Shingen sebagai duta, ya 'kan?" tanya Kenshin.

"Ah! Benar!" jawab Yukimura cepat.

Kenshin hanya tersenyum mendengarnya. "Kau pasti lelah menempuh perjalanan dari Kai menuju Echigo berdua dengan shinobi-mu. Aku akan bermurah hati dan menganggap kalian sebagai tamu kehormatanku. Nikmati saja malam ini dengan istirahat.. oh ya.. kalian juga bisa menikmati onsen buatan Mizuage-san untuk relaksasi.."

"Kenshin-sama!" pekik Mizuage tahu namanya disebut.

"Oh ya, Kenshin-dono.. bagaimana anda bisa menemukan kami?" tanya Yukimura tiba-tiba.

Kenshin menoleh pada harimau muda itu.

"Soal itu.. kurasa Mizuage-san bisa jelaskan.." kata Kenshin. Melirik si rambut biru kuncir samping itu lagi.

Yang disinggung hanya menatap ogah-ogahan. Lalu menghela nafas.

"Asal kalian tahu saja.. aku menemukan kalian berdua itu suatu kebetulan.. kebetulan yang merepotkan.." kata Mizuage sambil menoleh kembali pada dua orang Takeda itu. Dia melipat tangan di depan dada.

"Kebe.. tulan?" ulang Sasuke.

"Ya.." kata Mizuage.

"Kalau saja bukan energi Fuyuki yang kurasakan, juga bukan perintah Kenshin-sama. Kalian pasti sudah kuhiraukan meskipun sekarat dan hampir mati.." sambung pria itu.

"He.. energi Mitsukaze-dono?" tanya Yukimura.

"Jangan bilang seolah kau tidak tahu.. Mangetsu Fubuki.. itu adalah badai salju yang memiliki daya rusak terkuat di 10 Armored Knight," ujar Mizuage.

Dia menghela nafas. "Dan satu-satunya orang yang memiliki elemen es pun hanya gadis itu seorang.." lanjutnya.

Dua orang pribumi Takeda itu ber-oh ria.

"Aku membuat hujan buatan di sekeliling Echigo untuk jaga-jaga. Sekaligus memantau keadaan atas perintah Kenshin-sama. Aku bisa mengetahui apapun di daerah apapun selama hujan itu ada. Termasuk kedatangan kalian. Aku bisa saja menyerang kalian, kalau saja kalian bukan tamu Kenshin-sama," lanjut Mizuage.

PIK!

"Tunggu.."

"Hujan.. buatan?"

"KAU YANG MEMBUAT HUJANNYA!" kata Sasuke dan Yukimura bersamaan. Membuat Kasuga tersentak kaget.

"Ya," jawab Mizuage singkat. Meski tahu telinganya nyaris tuli diteriaki dua orang itu.

"Hujan itu bukan sesuatu yang alamiah. Itu persis seperti Licromesia yang kutanam pada ninja monyet itu. Semuanya terbentuk dari energiku," sambung pria itu untuk penjelasan lebih lanjut.

"Tunggu.. itu bukan sesuatu yang alamiah.. berarti benar jika hujan itu bukan hujan sungguhan.." gumam Sasuke.

Yukimura tertegun. Pikirannya mulai berjalan.

"Sepertinya itu semacam jimat,"

"Bagaimana kau tahu?"

"Jadi benar kalau itu jimat Mitsukaze-dono?"

"Ya..", "Ini benda berharga buatku.."

"AAAAAH!"

Yukimura menepukkan tangannya sendiri. Baru paham. Dia pun langsung merogoh tas-nya. Mencari-cari sekelebat kain merah pekat yang selama ini terus dijaganya.

"Anu.. Toudo-dono.. anda tahu sesuatu tentang ini?" tanya Yukimura sambil menarik kain merah pekat Fuyuki keluar. Lalu menunjukkannya pada Mizuage.

Sesaat pria itu melotot. Kaget.

"I-itu.."

Perkataan Mizuage menggantung. Beberapa saat kemudian, ekspresinya kembali normal.

"Katakan.. bagaimana bisa Fuyuki menyerahkannya padamu?" tanya Mizuage dengan nada tajam.

"Eh?"

"Bagaimana bisa gadis itu menyerahkan salah satu benda paling berharga dalam hidupnya?" tanya pria itu lebih jelas.

"Be-benda.. paling berharga?" gumam Yukimura. "Ini jimat kan?" tanyanya.

Mizuage menatapnya. "Bukan sekedar jimat.." kata pria itu.

"Itu adalah benda yang menjadi salah satu faktor terbesar keselamatan Fuyuki. Pertarungannya pun ditentukan oleh benda itu, mampu menangkal setiap kekuatan jahat dalam radius 50 meter jika digunakan oleh pemilik aslinya. Entah bagaimana untuk kalian," kata Mizuage.

"Eh..."

Pria bersurai biru itu melirik kain merah pekat dihadapannya. "Bahkan hujan buatanku yang bisa menyerang semua orang pun mampu ditangkal oleh benda itu.. begitu juga Licromesia.. dengan kata lain. Fuyuki tidak bisa disentuh oleh sembarang kutukan," lanjutnya.

Yukimura terdiam. Begitu rupanya.. karena itu kami tidak basah oleh hujannya. Karena pada dasarnya hujan itu adalah kekuatan jahat..

'Aku sendiri juga tidak paham.. bagaimana bisa kain itu memiliki penangkal sekuat ini.. kutukanku.. bahkan Licromesia.. kaki tanganku yang handal. Tidak bisa menyentuh Fuyuki karena benda itu. Sejengkal pun.. bahkan dia pun takut padanya..' pikir Mizuage.

Dia memincingkan mata, 'sebenarnya dari apa kain itu berasal.. aku pun tidak pernah diberi tahu olehnya..'

"Sudah-sudah! Kalian berdua ini!" kata Kasuga tiba-tiba. Dia menepukkan tangannya di tengah ruangan. Seolah memecah kembali suasana yang kaku.

Tampak Kenshin berdehem. Membersihkan tenggorokannya.

"Nah, baiklah.. aku akan mengurus hal lain. Kalian akan ditunjukkan sebuah kamar oleh pelayan-pelayanku. Beristirahatlah.. jangan sampai kalian sakit. Macan muda.." kata Kenshin sambil berdiri.

Kasuga dan Mizuage pun ikut berdiri. Mengikuti penguasa Echigo itu keluar dari ruangan. Begitu beberapa pelayan datang untuk menjemput tamu kehormatan Uesugi tersebut.


XXX


"Berarti kain ini kuat sekali..." gumam Yukimura. Pria itu kini sedang rebahan di atas tatami nyaman di kamarnya. Dia menatap langit-langit kamar. Dengan tubuh yang telentang.

Di dekat pria itu ada sebuah perapian, membuat malam yang dingin itu terasa hangat. Dia menikmati istirahatnya tanpa Sasuke, karena shinobi itu (katanya) sedang ada urusan dengan Kasuga.

"Kira-kira ini dari apa ya.." lanjutnya. Memainkan kain merah itu dengan mengangkatnya ke atas. Mengamatinya perlahan.

Kain itu memiliki warna yang sangat pekat. Seperti dicelup darah di seluruh sisinya. Apa jangan-jangan..

Memang menggunakan darah sebagai pewarna merahnya...

Yukimura menggelengkan kepala. Membuang jauh-jauh pikirannya yang tadi. "Memangnya darah siapa yang akan digunakan Mitsukaze-dono? Dia wanita yang baik.." gumamnya.

Pria itu terdiam lagi.

"Siapa yang memberikannya Mitsukaze-dono?"

"Ayahku,"

"..."

Yukimura menatap langit-langit lagi. Kondisi yang tenang membuatnya bisa berpikir jernih.

"Barangkali dengan tahu seperti apa ayahnya. Aku mengira sedikit dari apa kain ini.." kata Yukimura.

Dia membalikkan tubuhnya ke samping. Masih memandangi kain yang sama.

"Coba saja aku bisa tahu.. siapa ayah Mitsukaze-dono.." gumam pria itu.

DEG!

Yukimura terkejut. Dia seperti dihipnotis.

Entah sadar atau tidak. Kain itu seperti menyeretnya ke dimensi yang merah pekat. Bersama dengan memori lampau.

Yang terputar, seperti yang diminta Yukimura tadi..


XXX


[Fuyuki's Memory : Special P.O.V].

Ini sudah beberapa hari semenjak aku kehilangan rumahku. Aku tidak menjumpai siapapun. Di hutan yang luas ini.

Barangkali pria itu benar. Aku akan mati jika sendirian.

Saat aku mengangkat wajahku, ada harimau buas yang menghadang di depan.

Dia kelihatan lapar. Barangkali karena hutan ini terlalu sepi. Jadi tidak ada yang mengenyangkan perutnya. Lagipula dia tidak mungkin makan dahan pohon.

Sayang sekali.

Aku sudah tidak punya tenaga untuk lari. Aku sudah lelah untuk lari lagi. Aku lelah dengan hidup ini.

Lebih baik selesai semuanya.

Aku tidak perlu merasakan apapun. Dengan begini seluruh beban di pundakku akan terlepas.

Aku hanya menunggunya. Sambil memejamkan mataku.

Lagipula ini hari yang bagus.

Untuk pindah dunia..

...

...

...

...

...

...

"Betapa teganya meninggalkan seorang gadis kecil di hutan seperti ini.."

Aku merasakan sesuatu yang hangat, dan nyaman.

Seperti semua bebanku benar-benar terlepas.

Semuanya terlihat begitu cerah, dan menenangkan.

Kubuka mataku dengan hati-hati. Barangkali surganya sudah menanti.

Aku melihat seorang pria dengan rambut putih panjang diikat tinggi seperti samurai (barangkali dia memang samurai). Berbaju putih dengan senyuman di wajahnya. Dia terlihat tua. Tapi tubuhnya berkata lain.

Masih sangat kekar dan gagah perkasa.

Senyumannya menenangkan. Apa dia malaikat surga?

Aku mengedarkan pandanganku. Melihat surga apa yang menanti. Tapi tidak, semuanya seperti sedia kala.

Hanya saja hutan ini terlihat lebih cerah. Aku melihat lagi ke samping. Harimau tadi duduk dengan tenang di atas batu. Terlihat jinak dan menurut seperti kucing baik. Aku terdiam. Kutatap lagi wajah malaikat itu.

Senyuman sendunya masih merekah. Dia mengulurkan tangannya yang besar ke arahku.

"Mau tinggal bersamaku gadis kecil?"

...

...

...

...

...

...

Yang kutahu sekarang dia bukan malaikat. Tapi seorang pria tua yang hidup sendirian di hutan ini. Benar-benar sendirian semenjak ayahku mati.

Aku tidak tahu apakah dia pernah tinggal dengan orang lain sebelumnya. Tapi pria itu menyayangiku sama seperti ayahku. Dia merawatku, tertawa bersamaku, mengajariku membaca, memberi buku-buku bagus, mengomeliku saat aku memecahkan salah satu vas antiknya. Atau mungkin menggeleng-gelengkan kepala melihatku iseng bermain dengan kompor, meski pada akhirnya aku bisa menghasilkan masakan sederhana yang enak.

Aku memikirkan ini setiap malam. Di samping rumah kami yang ada di tengah hutan. Pria itu menyayangiku, meski aku tak pernah tahu siapa dia. Aku rasa dia harus mendapat lebih dari sekedar pengasuh. Aku ingin dia mendapatkan status yang lebih layak..

Bagaimana dengan.. keluarga?

"Fuyuki! Cepat masuk ke kamarmu!"

Aku tersentak kaget. Pria itu datang. Saat aku menoleh. Dia sudah ada di sampingku. Dengan pandangan tegasnya.

"Ini sudah malam. Bisa-bisa kau dimangsa harimau lagi seperti 3 tahun lalu.. Kau mau?" katanya.

Tapi aku tidak menjawab apapun. Hanya tersenyum polos.

Dengan gerakan yang cepat. Aku langsung memeluk kakinya yang besar. Sangat erat, seolah tidak ingin melepaskannya.

"He-hei! Apa yang kau lakukan!" tanyanya heran melihatku. Aku memang tidak pernah manja seperti ini. Tapi kan seharusnya dia tahu aku ini masih anak-anak!

Aku mengangkat kepalaku. Menatap wajahnya. Wajah tampan yang tidak dimakan oleh garis-garis ketuaan.

"Aku punya ide bagus!" kataku bersemangat.

Pria itu menatapku, dia menghela nafas. Biasanya kalau aku mengatakan punya ide bagus. Pasti hasilnya membuat pusing tujuh turunan.

"Apalagi sekarang? Ini sudah terlalu malam itu bermain.. tidurlah dan besok kau bisa melakukan apapun maumu dengan kompor atau kebun di belakang sana,"

"Tapi yang ini berbeda!" rajukku.

"Bagaimana kalau mulai sekarang aku memanggilmu 'Ayah'!" kataku sambil tersenyum hangat.

Pria itu terdiam.

Dia menatapku, sangat dalam. Dengan tatapan yang tak kumengerti.

Aku memiringkan kepalaku. "Kenapa? tidak boleh ya?" tanyaku dengan nada sedih. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca.

Aku ingin merasakan lagi. Bagaimana memiliki seorang ayah..

Apa itu keinginan yang salah?

Dia tertawa, keras sekali. Seperti orang yang betul-betul ketawa. Aku hanya mengerjap bingung. Apa yang lucu?

"Tidak.. tentu saja boleh.. anakku.." katanya sambil mengelus lembut kepalaku. Aku hanya menatapnya sambil terdiam. Kuamati wajahnya yang tersenyum lembut seperti sedia kala.

Ada sesuatu di ekor matanya.

Air mata haru..


XXX


"Jadi itu ayahnya Mitsukaze-dono.." gumam Yukimura. "Atau bisa dikatakan ayah angkat?" lanjutnya lagi.

"Ada apa danna?" tanya Sasuke. Pria itu melongokkan kepalanya ke dalam.

"Ah.. ti-tidak ada apa-apa! Sasuke!" kata Yukimura, dia mengibas-ngibaskan tangannya. Mendukung ucapannya tersebut.

Sasuke yang melihatnya cuma bisa tersenyum. Dia pun masuk ke dalam.

"Loh? Kenapa? sudah selesai melihat bintangnya?" tanya Yukimura. "Ya.. lagipula di luar dingin. Sedingin sikap Kasuga padaku.." balas Sasuke. Shinobi berambut coklat itu pun duduk di depan perapian. Berhadapan dengan Yukimura.

Pria yang berambut lebih panjang berpikir sejenak. Dia melirik sedikit ke Sasuke, lalu membuang wajahnya lagi.

"Kenapa danna?" tanya Sasuke, sadar dirinya diperhatikan tadi.

"Anu.. Sasuke.. apa.. kau tahu siapa orang tuanya Mitsukaze-dono?" tanya Yukimura pada akhirnya.

To Be Continue


XXX


Author Note :

Hm.. tampak awal kagak ada masalah..

Tampak tengah beres..

Tampak akhir lumayan..

Tampaknya tidak usah kukasih omake..

[DIGAMPAR].

Oh ya, buat yang tadi. Ini dia..

Mangetsu Fubuki* : Seperti yang dikatakan Mizuage tadi. Jurus ini adalah badai salju dengan daya rusak terbesar di antara semuanya. Kalau dibahasa inggriskan jadi 'Fullmoon Blizzard' (Topan Salju Purnama). Topan ini memutar ribuan (bahkan jutaan) kepingan es tajam yang bentuknya mirip jarum menjadi badai topan yang akan melebar terus ke seluruh penjuru. Jika Fuyuki menggunakannya langsung. Dia harus melakukan beberapa gerakan gemulai... (namanya juga penari..). Ini adalah serangan yang amat efektif. Karena bisa digunakan untuk menyerang dan melindungi pengguna sekaligus.

Dengan catatan si pengguna harus ada di dalam titik pusat Mangetsu Fubuki.

Naze** : artinya Kenapa? untuk bahasa jutek.

Oh ya, penasaran dengan Lunatic Chaos dan juga Black Mist?

Itu adalah serangan kegelapan dari orang yang mengendalikan Nouhime.

Belakangan ini saya kan pengen tinggi reader-san. Tapi daku ini pemalas. Entah kenapa sambil ngerjain ETHI belakangan ini. Saya sering kepikiran Thanatos ngomelin saya buat sepedahan.

["Heh serangga! Udah sana sepedahan! Keburu siang kepanasan! Kamu pengen tinggi enggak!"]

Oke, Thanatos bawelnya kumat.

[Thanatos : "Saya enggak bawel!"]

Sama OC Fuyuki yang koar-koarin buat enggak malas-malasan (soalnya dia itu tingginya 173 cm. Maklumlah, model. Fuyuki itu orangnya juga super disiplin loh. Pokoknya figur siswa teladan dah, pas ditanya kenapa koar-koar. Dia Cuma bilang, "Saya kan tinggi bak tiang listrik, model lagi. Pasti tubuh saya terjamin ideal. Pengarang memang ideal badannya, sama kayak saya. Tapi masa tingginya kagak nambah-nambah?")

Oke Fuyuki, itu terlalu nge-jleb.

Baiklah. Kembali lagi, saya rasa cerita ini muter-muter. Tapi biarin.. [DIGAMPAR EDISI 2].

Ditunggu review anda..

See you next chapter!