Each Tiger Has Its Tale : `Rain Gaiden`

-Memory of Rain-

.

Shakazaki-Rikou

Rate : T

Disclaimer : I don't own Sengoku Basara. Nothing but my Original Character, plot, idea, and also this account.

Warning! : Countain many OC, Dont Like Dont Read.

.

.

.

.

.

.

.

"In my hometown, Vancouver. Snow is always called with Rain.. I don't know why.. but.. I prefer called it 'Us' than that Rain dan Snow.."

.

.

.

.

.

.

.


XXX


Balesan review!

Hananami Hanajima :

UWAAAAAAH~~~ makasih Hananami-chan. Sebenarnya Mizuage tahu cuman dia ogah ngomong *dilelepin*. Anggap aja ini chapter pengobat rindu :'v.

Thanks for review.

Yamashita Aruka :

*Seret kakak*

*maso bareng kucing di pinggiran kali*

*telen buku TIK*

KAKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK! INI RIKUESNYA UDAH KELAR KAK!

AKU KANGEN KAKAK! AKU PENGEN KAKAK BALIK KESINI LAGI! *DIEM NAK*

Jadi dalang dalam penyelamatan SasuYuki adalah..

Mizuage tahu kalau SasuYuki stuck bareng Nouhime. Tapi dia lapor ke Kenshin dan sebenarnya kagak peduli amat.

Kenshin tahu dan nyuruh Mizuage buat ngantar dan selametin mereka.

Bantuan Fuyuki sebenarnya kagak akan datang kalau Yukimura enggak nyimpan kain merahnya Fuyuki. Jadi itu bisa dikatakan keberuntungan.

Sasuke masih di hati Kasuga kok.. *kebalik woy*. Makasih buat review

kuroIChio :

UDAH DILANJUUUUUUUUUUUUUUUUUUTT! (INI CUMA FILLER WOY!)

Makasih buat review-nya mbak kuroh dan mau mendengar keluh kesah saya di FB ;;;w;;;)/ makasih buanget dah.

Ryn Hanaitsuka Fuuma :

Halo Ryn-senpai! Oh.. nggak.. nggak ada kata-kata yang menyinggung kok. Saya selalu menerima semua review dengan senang hati.

MAKASIH MINNAAAAAAAAAAAAAAAAAA!


XXX


-Five Years Ago-

"Toudo.. kau lihat si kecil berambut pirang itu?"

Mizuage menoleh. Rambut birunya ditiup oleh angin dingin. Hidungnya mencium bau khas tanah basah. Hujan.

"Kenapa?"

"Ini hujan.. dia pasti kehujanan jika lawannya Takagami-sensei. Kau sendiri juga tahu kan seberapa menakutkannya si 'Guru Iblis' itu?"

"Kasihan.. kenapa dia sudah harus menghadapi guru seperti dia?"

"Katanya Takagami-sensei tidak terlalu suka dengannya."

"Bukannya perusahaan yang mengirim bocah itu?"

"Iya. Kemampuannya sih hebat, tapi kenapa dia diurus oleh 'Guru Iblis'?" tanya salah seorang yang lain. Satu ruangan itu bungkam.

"Kalian sendiri juga tahu 'kan? Takagami-sensei itu pembunuh.. kalau dia dititipkan padanya.. jangan bilang kalau gadis itu akan jadi.."

"Kalau tidak salah Toudo-san kan yang seharusnya dididik oleh Takagami-sensei.. lalu digantikan oleh bocah itu tanpa sebab?" tanya seseorang sambil melirik Mizuage. Semua mata pun mengarah pada murid terbaik akademi beladiri tersebut.

"Toudo.. apa kau tahu alasan-"

"Tidak."

Singkat. Padat. Jelas. Membuat semua anak yang seolah memojokkannya langsung mematung. Harusnya mereka tahu. Anak-anak sok tahu seperti mereka bukan tandingan seorang Mizuage Toudo. Tatapan tajam menjurus pada siapapun yang mencoba menentangnya.

Mizuage Toudo. Seorang remaja yang bahkan mampu menguasai sebuah teknik hanya dalam satu hari. Mampu bertahan di dalam air dalam kurun waktu yang sangat lama seakan-akan dia bisa bernafas di dalamnya. Si rambut biru penyendiri yang disegani banyak orang.

Mizuage melangkah keluar. Menghiraukan hujan yang makin deras. Toh air bukan masalah baginya. Air itu bagian dari namanya. Nama yang diberikan oleh ibunya.

Terus berjalan ke pekarangan tempat berlatih. Dia menyusuri sisi-sisi tak tertembus dan jarang dilewati. Mizuage mungkin tidak tahu alasan kenapa dirinya digantikan. Tapi setidaknya dia tahu dimana bocah itu berada.

Disini. Dibalik gerbang Hutan Hoshi.

Gerbang itu memiliki sebuah sungai yang memotong bagian dalam hutannya. Jika dia berenang di dalamnya. Mizuage bisa tiba di dalam Hutan Terlarang itu tanpa ketahuan.

Hutan Hoshi adalah Hutan Terlarang. Karena hanya arwah tersesat yang hidup disana. Tapi orang setingkat Mizuage tentu saja bisa menghadapinya.

Tapi berbasa-basi. Si kepala biru membuang handuk yang dibawanya. Menyingkap rambutnya ke belakang, dan langsung terjun ke dalam air itu untuk berenang di dalamnya.

Menengok bocah berambut pirang yang selalu diasingkan oleh banyak orang.


XXX


ZRAAASSH!

"Haaah!"

Bernafas lega. Berenang selama waktu yang sangat lama memang tidak bisa dianggap remeh. Apalagi ditengah hujan. Orang biasa bisa pingsan jika melakukan hal seperti itu. Mizuage menyandarkan punggungnya ke pinggiran sungai. Lalu mengangkat wajahnya. Menikmati air hujan.

Tak peduli tubuhnya menggigil. Atau jarinya mengkerut terlalu banyak terkena air. Mizuage sangat menyukai air yang jadi bagian dari dirinya. Menghela nafas. Dia menutup mata untuk merasakan seluruh selnya mendesir. Bersatu dengan hujan.

BRUK!

Sebuah handuk mendarat cepat di kepalanya. Lelaki belasan tahun itu menggeram kesal. Dia langsung menoleh. Namun matanya membelalak saat mendapati siapa yang melakukannya.

Fuyuki Mitsukaze. Gadis berambut pirang panjang sepinggang dengan kulit pucat, bermata biru es dingin. Memandangnya dengan pandangan yang mampu membuat setiap orang membeku.

"Kau.. lagi...?"

.

.

.

.

"Kau tidak begitu baik," kata Mizuage dengan nada datar saat mendapati gadis itu berjongkok di belakangnya. Kimono putih selutut tanpa lengan itu dirembesi oleh cairan berwarna merah. Darah. Laki-laki itu menyipitkan mata. Bukan Takagami-sensei jika melakukan pelatihan tanpa luka.

Gadis itu menatapnya dengan ekspresi wajah sama datar. "Dibandingkan ini, kenapa kau kesini lagi?" tanyanya ganti. Memainkan rambut pirangnya yang basah karena air hujan.

"Kau tidak menggigil," kata Mizuage. Dirinya saja menggigil karena suhu dingin, tapi kenapa gadis itu tidak?

"Dingin tak pernah menggangguku.." kata Fuyuki singkat. Tapi tak lama kemudian, gadis itu langsung terbatuk parah. Mengatakan kalau kondisinya tidak baik-baik saja. Mizuage menatapnya sambil menghela nafas.

"Tapi luka fisik mengganggumu.." balas lelaki itu. Dia ganti melemparkan handuk ke arah gadis itu. Lalu beranjak keluar dari sungai. Tidak peduli kalau keadaannya sekarang basah kuyup. Kemeja tanpa lengan berwarna biru dengan sedikit aksen hitam itu pun sama sekali tidak kering.

"Pulang," ujarnya singkat.

Fuyuki mengangkat wajahnya. Tapi dia langsung membungkuk risih saat tahu kakak seperguruannya itu mengeringkan rambut pirangnya dengan handuk tersebut. Dia menepis tangan Mizuage. Tidak suka dengan kontak fisik.

"Pulanglah, rumahmu di tengah hutan 'kan?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih tinggi. Gadis itu menatapnya sebelah mata. Lalu mendesah pelan.

Melangkah menjauhi Mizuage untuk menuruti perintah lelaki itu.

Saat Fuyuki benar-benar menghilang diantara hutan luar biasa menyesatkan. Mizuage mengangkat wajahnya lagi. Merasakan air hujan mengaliri seluruh tubuhnya.

Sebuah pisau mengarah ke arah lelaki itu. Namun, tanpa bergerak sedikit pun. Perisai air kasat mata menepisnya dan membuat benda tajam itu terlempar ke sembarang arah. Mizuage membuka iris ungunya. Merasakan hawa super mengintimidasi yang datang dari samping kanan.

"Takagami-sensei.." gumamnya.

Sebuah tornado kecil membeludak tepat di belakang Mizuage. Memunculkan bayangan hitam tinggi, mengancam. Dengan rambut hitam panjang diikat tinggi ke belakang. Mata zamrud mengilat. Suara menghentak seekor elang terbang melewati lelaki belasan tahun itu. Tapi tidak menabraknya.

Burung elang berwibawa itu bertengger di bahu kiri Takagami. Menatap penuh kharisma Mizuage. Mengakui prajurit muda tersebut. Namun aura menggertaknya tidak bisa dihapuskan.

Mizuage membalikkan badannya. Menatap guru paling disegani, sekaligus ditakuti. Yang hanya bisa ditangani oleh dua murid terbaik milik akademi tersebut. Chitose Takagami.

Manik hijau Takagami menatap tajam mata amethyst milik Mizuage. Saling mengancam, menggertak, dan saling mengakui tentu saja.

Lelaki belasan tahun itu selalu siap dihukum. Ini memang salahnya. Sebuah larangan untuk memasuki Hutan Hoshi tanpa izin resmi dari akademinya. Hanya dua orang yang bisa berlalu lalang dengan bebas. Takagami, dan Fuyuki.

"Kembali, Toudo," ucap Takagami-sensei akhirnya. Menyiratkan berbagai macam makna. Masih diragukan apakah itu ucapan damai. Namun Mizuage bisa menghela nafas lega.


XXX


-Four Years Ago-

Usianya sudah delapan belas tahun. Namun Mizuage bisa berbangga diri masih mencapai umurnya yang sekarang di balik kecelakaan kapal yang menyerangnya.

Pria itu bertahan hidup dengan menyelami dasar air. Dia tahu pasti kalau kecelakaan kapal itu bukanlah sebuah peristiwa alami biasa. Ada faktor yang terus menerror ingatannya sampai tidak bisa tidur.

Mizuage suka bersentuhan dengan air. Tapi ini pertama kalinya dia merasa waspada, terancam. Seakan air itu tidak mau takluk padanya. Dipikir ratusan kali. Sepertinya logika harus dibuang.

Disinilah dia, menatap hamparan laut dari pesisir yang kering. Berusaha mencari jawaban. Kemeja biru panjang yang dimasukkan dengan celana hitam panjang. Rambutanya semakin panjang dengan ikat rambut kecil di sisi kanannya.

Gadis itu yang memberinya. Dia bilang itu cocok untuknya, begitu juga semua orang. Mizuage selalu mempercayai Fuyuki, tentu saja.

"Ada yang.. hidup.."

Pria itu menoleh. Mendapati gadis kecil berusia empat belas tahun, berambut pirang panjang. Dengan gaun putih selutut.

"Disana," ujarnya sambil menunjuk lautan. Tapi dia menunjuk sesuatu yang lebih jauh. Lebih dalam. Menerawang.

"Bisa kau jelaskan?" tanya Mizuage.

"Kesedihan, kegelapan, kehilangan, hal yang wajar untuk emosi negatif.." kata Fuyuki sambil menahan rambutnya yang diterpa angin.

"Masuklah lebih dalam. Jangan melawannya, pahami dia. Dengan begitu kau akan tahu akar permasalahannya.." lanjut gadis itu. Membalikkan badannya, sambil terus menggenggam kain merah pekat yang warnanya hanya separuh itu. Separuhnya lagi putih, belum terwarna.

Mizuage sedikit tertarik dengan kain merah itu. Namun tidak sepenuhnya mengalihkan fokus. Kain merah yang dimiliki Fuyuki bukan barang biasa. Ada aura terpancar yang sangat kuat tersimpan disana.

Dia menoleh lagi ke lautan. Menatap hamparan air. Tak lama kemudian, Mizuage berjalan dengan sendirinya ke depan. Seakan terpanggil. Meski ada sesuatu yang berteriak memperingatkannya untuk tidak menuju kesana.

Laut itu berbeda. Mengerikan. Selalu menenggalamkan kapal yang melewatinya, bahkan hanya digunakan sebagai jalur darurat. Mizuage menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya. Dia menggerakkan tangannya sedikit ke langit dan muncul sebuah benda di udara.

Trisula Poseidon.

Benda yang akhirnya mampu dia kuasai meski harus koma berkali-kali. Poseidon benar-benar haus tumbal. Tidak mau takluk begitu saja, bahkan sebelumnya kekuatan tersebut disegel berat.

Sebuah kebanggaan bagi pria itu berhasil menaklukkan senjata tersebut. Mengantarkan jalan mulus baginya, diterima sebagai peringkat kedua '10 Armored Knight'. Namun hal itu tak lantas membuatnya berbangga.

Sesuatu mengganjal hati Mizuage. Fuyuki, yang membantunya secara diam-diam untuk menguasai Trisula Poseidon sama sekali tidak mendapat citra baik di Bridge. Sekalipun cerdas dan berbakat.

Fuyuki punya keahlian di bidang tari, tapi dia masih sangat misterius. Bagaimana bisa seorang anak yang usianya belum genap 17 tahun sudah memiliki kepekaan spiritual yang luar biasa? Sampai bisa melihat dan merasakan jiwa-jiwa tersesat. Berkomunikasi dengan mereka. Bahkan bertahan hidup di Hutan Hoshi yang merupakan hutan terlarang? Itu yang dicurigai semua orang. Jangan-jangan gadis itu menyimpan sesuatu yang lain..

Bahkan tidak ada nama lain bermarga 'Mitsukaze' selain gadis itu di dokumen keanggotaan Bridge. Sekalipun dia bilang kalau ayah kandungnya yang sudah meninggal bekerja di perusahaan tersebut.

Lalu siapa orang tua Fuyuki?

Bukannya setelah kebakaran di rumahnya pun, gadis itu sama sekali tidak diketahui keberadaannya sampai ditemukan oleh Bridge? Diumurnya yang ketiga belas.

Lantas kemana hilangnya gadis itu selama 8 tahun?

Dari umurnya yang lima tahun sampai tiga belas tahun?

Tidak ada yang tahu. Bahkan Mizuage.

Menghela nafas, menyingkirkan semua angan muluk-muluk. Pria itu memanggil 'Tatehaya' agar melekat di tubuhnya. Lalu menyelam ke dalam air.

Disanalah Mizuage menemukannya..

Licromesia..

.

.

.

.

Kembali untuk menengok Fuyuki yang masih dalam pelatihan Takagami-sensei. Bahkan setelah satu tahun sikap pembunuh terhebat Bridge pun sama sekali tidak melunak pada muridnya. Dia haus darah.

Namun yang didapati Mizuage saat pergi kesana hanyalah Takagami yang menahan emosi. Dengan hasrat membunuh besar-besaran. Fuyuki membuatnya marah lagi.

Tidak mau cekcok dengan si pecinta burung. Lelaki bersurai biru pekat itu langsung menuju ke tempat dimana Fuyuki berada. Firasatnya tidak enak. Apalagi dia mencium bau darah.

Tidak, Mizuage tidak memiliki hidung super sensitif seperti gadis itu. Hidungnya normal, kalau sampai dari jarak segini saja darahnya sudah tercium..

Ini keterlaluan..

Oke, Mizuage mulai merasa emosinya naik ke atas. Dia tidak terima gadis itu diperlakukan lebih dari ini, hari-hari biasa saja dia sudah mendapat perlakuan kasar dari orang-orang. Belum gurunya.

Fuyuki sendirian. Dia tidak punya siapa-siapa. Setidaknya Mizuage harus membuat gadis itu merasa dianggap. Atau kemungkinannya bunuh diri karena stress akan jadi sangat besar. Dia tidak pernah bisa tidur dengan benar. Selalu terbangun, memikirkan apa yang akan terjadi besok.

Setelah menebas tanaman sesemakan dengan tidak santai. Matanya menangkap si rambut pirang itu, berdiri memandang sungai. Memunggunginya, dengan gaun putih selutut (yang selalu) bersimbah darah. Dia menggenggam sebuah gunting panjang.

"...Fuyuki..."

Gadis itu mengarahkan tangannya ke belakang. Mengumpulkan surai pirang yang tergerai berantakan itu. Lalu dengan tangannya yang satu lagi, yang menggenggam gunting. Fuyuki langsung memotong rambutnya dalam sekali hentak.

Hal itu membuat Mizuage tercekat. Membelalakkan mata, salah satu bagian tubuhnya yang paling disukai gadis itu selain kaki dan wajah adalah rambutnya. Ya, Fuyuki bangga dengan rambut pirang warisan ayahnya.

Apa ini?

Apa maksudnya ini?

Kenapa gadis itu membuang hal yang paling dia sukai?

Setelah memotong rambut pirang panjang sepinggang itu menjadi seleher. Sebuah perubahan drastis, yang membuat surai biru gelap itu merasa asing dengan Fuyuki. Gadis itu, tanpa rambut panjangnya. Itu bukanlah dirinya..

Kini kedua tangannya penuh. Satu oleh gunting, satu lagi oleh rambut pirangnya yang sudah terpotong. Panjang dan lebat, seperti memegang seikat benang sutra berwarna emas.

Tanpa suara sedikit pun, Fuyuki membuang semua helai emas yang digenggamnya ke sungai. Membiarkan mereka terhempas dicampur air. Mata Mizuage terbelalak, apalagi yang terjadi dengan adik seperguruannya?

Tidak ada lagi, benang emas itu sudah pergi dibawa arus. Helainya yang pendek tertiup angin. Merasai lehernya yang kini dingin karena bersentuhan langsung dengan alam. Gadis muda itu baru sadar kalau ada seseorang selain dirinya.

Fuyuki menoleh, mendapati siapa yang datang. Dia terdiam dengan mata membelalak seakan tertangkap basah melakukan sesuatu. Mulutnya terkatup rapat. Diam memukul suasana itu dengan dingin. Langit mendung, semuanya bisu.

Menyisakan.. pertanyaan yang belum terjawab.

"Fuyuki..Dia menyuruhmu melakukan ini kan?" tanyanya dengan nada bicara kaku. Sarat, dia menahan kemarahan. Mizuage menahan kepalan tangannya. Menggertakkan gigi.

"Dia menyuruhmu melakukan ini tapi kau sama sekali tidak memberontak. Apa kau tidak berpikir," katanya dengan nada dingin. Memandang tajam gadis dihadapannya. Membuat Fuyuki makin tersudut, tidak tahu harus bicara apa.

Tidak.

Memang tidak perlu bicara.

Kepala pirang itu terangkat sedikit, dia tersenyum.

"Aku baik-baik saja kok..."

Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan..


XXX


-Three Years Ago-

Pesta.

Ramai.

Ribut.

Banyak orang.

Bunga tembok.

Itu yang Mitsukaze pikirkan saat menghadiri pesta indoor tersebut. Umurnya baru 15 tahun dan dirinya datang tanpa pendamping, harusnya 'Bridge' tahu kalau anak gadis datang sendirian itu rasanya aneh.

Gurunya buta karena pertarungan dahsyat dan statusnya sebagai murid (secara formal) sudah dihapus. Dia akan menggantikan gurunya, bekerja sebagai salah satu anggota 'Bridge' dan mendapat posisi yang cukup menjanjikan.

Rambutnya sudah cukup panjang semenjak peristiwa tahun lalu. Meski hanya sampai dada. Mengamati gaun putih yang dikenakannya. Perasaan risih tidak bisa Fuyuki singkirkan. Dia tidak suka keramaian, dan orang yang dia lihat hanya itu-itu saja. Tidak ada yang dia kenal.

Kebanyakan membicarakan Fuyuki memang dibalik layar. Mempertanyakan kenapa seorang gadis yang masih begitu muda seperti dirinya diundang untuk menjadi anggota Bridge.

Bicara saja sepuas kalian. Memangnya aku peduli..- gumamnya dalam hati. Membuang muka.

Tidak ada yang menarik, bahkan musik klasik yang sangat dia sukai jadi terasa hambar jika disambungkan dengan kebisingan. Hal ini makin membuat hatinya mangkal. Dia benar-benar ingin pulang.

TEP.

Sebuah langkah kaki dengan aura aneh berhenti di hadapannya. Gadis itu sadar kalau ada orang lain selain dirinya. Yang benar-benar lain.

Melihat setelan jas berwarna hitam pekat, dengan aroma mint pahit. Sedikit bau darah. Melihat ada tangan besar dengan kulit pucat mayat terulur padanya. Fuyuki mengangkat wajahnya. Terdiam melihat siapa yang datang.

"Mau berdansa denganku?"

.

.

.

.

Mizuage sedikit melonggarkan ikatan dasinya. Kekacauan mengenai kecelakaan yang menimpa Takagami benar-benar membuatnya harus turun tangan. Bukannya menikmati pesta dengan santai, remaja itu merasa kalau kepalanya makin penat saja. Jas biru tua dengan dasi hitam memang membuat perawakannya makin menawan. Sampai beberapa gadis mencuri pandang pada pria itu.

Entah kebetulan atau tidak, tapi hampir semua anggota 10 Armored Knight memang memiliki paras menawan dan diatas rata-rata. Sin Yao, anggota baru yang datang dari China pun juga demikian. Rambut coklat pendek dengan kacamata yang membingkai mata merahnya benar-benar membuat pria itu tampak gagah. Bahkan Takagami Chitose yang sudah kepala tiga saja masih semakin tampan saja.

Begitu juga Fuyuki, dan satu orang lagi.

"Hm?"

Matanya menangkap sesuatu yang terselip diantara ramainya kerumunan orang yang menikmati musik dan berdansa.

"Bukankah itu.."

Hayama Ichinose?

Sedikit menyipitkan matanya. Mencari kebenaran tentang sosok pria itu.

Hayama Ichinose adalah anggota yang lahir dari blacklist. Artinya orang yang memiliki kesan tidak terlalu 'normal' diantara mereka.

"Kupikir dia menolak undangannya.. ternyata pecinta ular itu datang juga.." gumamnya sambil mengedikkan bahu.

Dan harus dia akui, Hayama berdansa dengan sangat baik. Hm.. itu waltz- batin kepala biru itu dalam hati. Pasangannya pun juga bisa mengimbangi kemampuan tari milik pria itu.

Eh tidak, atau jangan-jangan justru sebaliknya?

Hayamalah yang bisa mengimbangi kemampuan tari pasangannya itu?

.

.

.

.

"Kau bau darah tuh.." gumam gadis itu tanpa menatap pasangan dansanya. Sementara Hayama hanya bisa tersenyum. "Aneh, kau bicara seolah membenci darah. Padahal kau sendiri orang yang haus darah kan?"

DEG.

Berputar satu kali, gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap iris meruncing milik si kepala raven yang berusaha menyesuaikan alunan tari mereka. Fuyuki terlalu lembut,tidak cocok dengannya yang bisa membelit seseorang. Biasanya Hayama selalu bisa mendominasi orang di dekatnya, melilit seperti ular. Lalu menyuntikkan racun yang membuat seseorang melakukan apa yang dia inginkan.

Iblis.

Mempengaruhi seseorang dengan bisikan halus, dan lembut. Memikat dengan manis, sampai lawan mainnya tidak sadar kalau mereka digigit oleh ular itu sendiri. Dan saat kesadaran mereka dibanting ke dunia nyata.

Mereka takkan bisa bergerak, sebagian terjerumus ke dalam lubang hitam yang sangat dalam.

Iblis.

Ular adalah perwujudan iblis. Hayama mengetahui itu jauh lebih dari yang lain. Dia dilahirkan dari itu. Tentu saja.

Tapi bagaimana.. jika iblis bertemu dengan malaikat?

"Menyedihkan ya?" gumamnya setelah hening yang panjang.

"Apa yang kau tahu.." balas Fuyuki dengan nada dingin. "Apa yang kau inginkan?" lanjutnya kemudian.

Tubuh Hayama dingin, seperti mayat. Kulitnya juga mengerikan, seperti orang yang dibekukan. Bahkan dengan paras yang memang bisa menjatuhkan wanita ke dalam pelukannya. Naluri orang manapun dapat kesan kalau orang ini bukan pria baik-baik.

"Aku mengetahui siapapun yang kudekati.. nona muda.." katanya dengan seringai.

Mitsukaze terkekeh ke samping. "Terserah kau bilang apa.. aku tidak peduli.." katanya dengan nada mengejek.

Hayama melepaskan tangannya dari punggung gadis itu. Begitu juga tangannya, dansa mereka berhenti. Sementara pria itu menunduk. Fuyuki menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menunggu apa maksudnya.

"Kau ini menyebalkan ya.."

.

.

.

.

Pria itu mengetukkkan ujung sepatunya ke lantai. Dia sedikit mengangkat alis saat melihat Hayama dan Fuyuki menghentikkan dansa mereka. Ditambah lagi saat tahu kalau gadis itu berjalan menyingkir, menjauhi pria itu. Dengan aura yang tidak bersahabat sedikit pun.

Rambutnya sudah agak panjang..- gumamnya dalam hati. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Benar juga, ini sudah hampir setahun semenjak kedua orang itu tidak bertemu. Fuyuki akan menggantikan Takagami, lalu menjadi peringkat ketiga di Bridge.

Jalannya.. tidak akan semakin mulus..- lanjutnya kemudian. Tentu saja, Fuyuki juga tahu resiko itu.

Akan ada banyak orang yang menggunjingkannya. Konflik, dan apapun itu. Gadis itu tidak peduli. Dia ada disini untuk seseorang..

"Eh?"

Menangkap sepatu kulit mengkilap warna hitam yang nyaris ditabraknya. Lalu celana berwarna biru tua. Fuyuki merasa tidak asing. Dia menelan ludahnya sejenak. Lalu mengangkat wajahnya. Sampai pada akhirnya matanya menemukan tampang siapa itu. Fuyuki hanya bisa membeku di tempatnya.

"Hai.."


XXX


-Now.-

Hujan ya...- gumam Mizuage dalam hati. Mengamati rintikan air yang turun ganas dari langit.

Ini bukan 'hujan'nya tentu saja. Air itu benar-benar turun dari langit, dipanaskan oleh matahari, menguap, menjadi awan, lalu hujan lagi.

[Hujan itu memiliki kemampuan untuk menghipnotis seseorang pada kenangan masa lalu. Tanpa bukti ilmiah. Para ilmuwan Cuma bisa bilang, "Hujan memiliki lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu.."]

"Mungkin karena itu kau tidak bisa melupakannya.."

Pria berkuncir samping itu menoleh. Menatap Kenshin dengan suara halusnya. Tersenyum seperti biasanya.

"Kau bisa melangkah maju. Lalu mengalami waktu seperti tak terjadi apapun. Kau kuat.. tapi begitu hujan mengguyur. Waktu dalam dirimu berhenti.." kata pemilik gelar bishamonten tersebut sambil menutup mata.

"Semuanya terserah padamu.. lagipula satu-satunya musuh kita adalah 'diri' kita sendiri.." lanjutnya pelan.

Mizuage masih diam. Dia lalu menatap kembali hujan dari dalam jendela. Menatap seorang pria berambut coklat panjang dikuncir yang latihan dengan riangnya disana.

"Sasukee! Ayo nikmati hujan ini!"

"Jangan sampai masuk angin.. danna.. tugas kita saja sama sekali belum dimulai."

"Jangan khawatir! Ada api di dalam diriku yang selalu bisa menggebu berkat oyakata-sama!"

Api ya..-

Mizuage mengangkat wajahnya. Menatap angin mendung. Ini membuatnya teringat pada hujan di Vancouver. Kampung halaman ayah Fuyuki. Ketika musim salju turun.. selalu dibarengi oleh hujan es yang luluh lantak disana. Sampai orang-orang enggan keluar rumah.

...

"In my hometown, Vancouver. Snow is always called with Rain.. I don't know why.. but.. I prefer called it 'Us' than that Rain dan Snow.."

...

Dia sekarang.. mencair tidak ya..-

.

.

.

.

.

.

.

.

Each Tiger Has Its Tale : `Rain Gaiden`

-Memory of Rain-

-Complete-


XXX


Author Note :

APA INI.

APA INI.

APA INI.

APA INI.

APA-APAAN INIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII! *GEGULINGAN*

DEMI RAMBUT JIGRAK HADES. DEMI TRISULA POSEIDON. DEMI YAMATA NO OROCHI. Amberegeul.. amberegeul.

Anggap aja filler.

Semoga suka deh..

See you next chapter.