Haai XD Akhirnya author bisa lanjut fic ini... Waaah ternyata ada yang review, aku terhura XD Author balas dulu reviewnya ya...

wisnataivonny: Ini udah lanjut XD terimakasih banyak atas reviewnya yaaa :')

Oke itu aja, langsung ke ceritanya aja biar gak buang buang waktu, ini dia...

Warning: OC, gaje, abal, mungkin typo, alur gaje, mungkin OOC

Genre: Family, Friendship, Action, Hurt/Comfort, Tragedy

Disclaimer: Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T READ

Angin menghembus rambutku. Suasana seperti ini, membuatku merasa nyaman. Saat termenung, tiba-tiba ada suara yang mengejutkanku.

"Ketemu!"

Aku yang terkejut pun segera menoleh ke asal suara. Saat itu juga aku baru ingat bahwa aku sedang bermain petak umpet.

"Kau kalah Izuna! Hahaha…" tawa seseorang laki-laki seumuranku yang memiliki suara tadi.

"Hei kalian! Bermainnya sudah dulu, ayo kerjakan tugas kita!" ucap seorang gadis yang seumuran denganku dari kejauhan.

"Baiklah! Ayo Izuna!" ucap laki-laki tadi sambil menarik tanganku.

Di sebuah bukit yang penuh dengan rumput, kami berempat berbaring. Di hadapan kami masing-masing terdapat sebuah buku yang berisi tugas kami. Kami mendiskusikan jawabannya bersama. Sesekali kami bercanda. Sekarang ini, aku merasa sangat bahagia. Bermain dan mengerjakan tugas bersama teman-teman ternyata sangat menyenangkan.

Tetapi, tiba-tiba muncul sekelompok shinobi. Mereka menyerang kami secara tiba-tiba. Aku melihat teman-temanku terbaring dengan darah yang mengalir keluar dari tubuh mereka. Aku sangat takut. Tubuhku seketika membeku. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Salah seorang shinobi pun menghampiriku. Ia mengeluarkan sebuah pedang dan menghunuskannya kearahku. Aku menutup mataku karena takut. Tetapi rasa sakit tidak kunjung datang. Aku malah mendengar suara yang sangat familiar memanggilku.

"Izuna! Izuna!" panggil suara itu.

Aku mencoba membuka mataku secara perlahan. Entah kenapa rasanya sangat berat untuk membukannya. Setelah kubuka, yang kulihat adalah wajah khawatir Kaa-san.

"Kamu ini! Dari tadi kamu susah sekali untuk dibangunkan. Kaa-san pikir terjadi sesuatu padamu. Ayo bangunlah! Sudah siang. Cepat mandi dan makanlah sarapanmu. Kaa-san akan menunggumu di ruang makan" ucapnya sambil meninggalkan kamarku.

"Jadi… kejadian tadi hanya mimpi?" gumamku sedih.

Aku segera bangkit untuk melaksanakan apa yang Kaa-san katakan tadi. Setelah mandi, aku segera pergi ke ruang makan. Di sana, Kaa-san sedang duduk sambil membaca beberapa lembar kertas di tangannya. Aku segera mengambil makananku dan duduk di hadapan Kaa-san. Sesekali aku melirik kearahnya, ia terlihat sangat serius saat membaca kertas-kertas itu. Tetapi tiba-tiba suara yang cukup keras memanggil Kaa-san. Kaa-san segera beranjak menuju asal suara. Ia berjalan dengan tergesa-gesa. Itu semua membuatku penasaran dengan apa yang terjadi. Karena rasa penasaran, aku mencoba mengikuti langkah Kaa-san.

"Izuna!" sebuah suara menahanku saat aku baru saja mau melangkahkan kaki. Aku menoleh ke asal suara. Di sana, Shiro-nii bersandar di tembok dengan tangan yang dibalut perban.

"Mau pergi kemana?" tanyanya datar.

"I-itu… aku…" tidak tahu mau menjawab apa, aku malah gelagapan menghadapi Aniki ku. Kalau mau menjawab yang sebenarnya, sudah pasti aku akan kena omel. Mengingat bahwa aku sudah sering dimarahi karena menguping pembicaraan Tou-san dengan anggota klan.

"Habiskan dulu makananmu!" omelnya.

Aku segera menuruti perkataannya. Aku kembali melanjutkan sarapanku.

"Nii-san, kenapa Nii-san ada di sini?" tanyaku penasaran.

"Kenapa? Kau tidak suka kalau aku di rumah?" tanyanya ketus. Uh, dia itu dari dulu tetap saja galak.

"Bu-bukan begitu maksudnya. Biasanya Tou-san mengajak latihan, kalau tidak latihan pasti perang. Aku kira Nii-san ikut berperang juga bersama Tou-san. Soalnya yang lain juga begitu kan?" jelasku gugup.

"Kau tidak lihat keadaan tanganku? Kau mau aku mati?" ia malah balik bertanya dengan aura yang menyeramkan. Ia bahkan menatapku dengan tatapan mengintimidasi.

"Bukan begitu maksudku…" gumamku pelan. Saat ini, aku benar-benar berharap Kaa-san segera kemari. Aura yang dikeluarkan Shiro-nii membuatku bergidik ngeri. Ia seperti harimau yang siap menerkamku kapan saja.

"Kami-sama, apa salahku?" batinku.

Ternyata Kami-sama mendengarkan ratapanku. Kaa-san datang dari arah ruang depan menuju kearah kami. Kedatangannya seperti seorang bidadari yang menyelamatkanku dari penderitaan―oke ini berlebihan. Tapi kini rasa takutku seakan melayang begitu saja.

"Shiro, bagaimana keadaan tanganmu?" tanya Kaa-san dengan penuh perhatian.

"Sudah lebih baik" jawabnya singkat.

"Syukurlah… kalau begitu ini makananmu, dihabiskan ya agar kau bisa cepat sembuh. Bisa menyuap sendiri? Atau perlu Kaa-san suapi?" Kaa-san benar-benar perhatian kepada Nii-san. Seingatku Kaa-san perhatian seperti itu kepada ku sekitar 3 tahun yang lalu. Itu terakhir kalinya. Aku pun jadi mulai merasa kesal.

"Tidak usah, aku bisa sendiri" Shiro-nii segera menyuap makanannya menggunakan tangannya yang tidak terluka.

"Huh, padahal sudah diperhatikan. Harusnya dia merasa bersyukur. Tapi malah ketus seperti itu. Maunya apasih?" batinku kesal sambil menatap Nii-san dengan tatapan kesal juga mungkin?

"Apa?" ucapnya ketus. Sontak aku pun terkejut.

"Bukan apa-apa" jawabku.

Aku segera mengalihkan pandanganku kearah lain. Aku melihat Kaa-san yang kembali membaca kertas-kertas yang entah apa isinya. Ekspresinya yang begitu serius membuatku menjadi penasaran.

"Itu kertas apa?" aku pun sudah tidak dapat membendung rasa penasaranku.

"Bukan apa-apa, lanjutkan saja makanmu" jawabnya tanpa mengalihkan perhatian sedikitpun dari kertas itu.

Bukannya menyerah, aku malah semakin penasaran. Tapi kalau aku memaksa untuk melihatnya pasti aku dimarahi. Karena itu aku hanya terdiam dan menuntaskan sarapanku. Lalu aku segera beranjak untuk mandi.

Setelah itu, aku membawa beberapa buku dari kamarku dan membacanya di ruang tamu. Aku hanya membaca buku nya sekilas karena semua buku itu sudah kubaca, tapi karena aku tidak memiliki pekerjaan lain jadi aku hanya mengulang-ulang saja. Sebenarnya buku yang kubaca ini tidak pantas untuk dibaca oleh anak seumuranku. Ini berisi laporan dari perang-perang klan Uchiha dari tahun ke tahun. Ini merupakan dokumen rahasia. Tapi Tou-san lebih memilih untuk memberikan buku ini kepadaku dari pada aku mengikuti latihan shinobi. Padahal menurutku, lebih wajar kalau ia membiarkanku berlatih saja.

Semakin hari aku menjadi semakin bingung, sebenarnya apa alasan orang tua ku melarangku untuk sekedar berlatih saja. Padahal aku ini anak ketua klan, harusnya aku menjalani banyak latihan. Tapi semenjak lahir, aku belum pernah latihan, tidak bahkan sekalipun. Apakah ada alasan khusus? Aku sudah sering mencari tahu alasannya tapi tidak pernah ketemu. Kalau kutanyakan pada Kaa-san ia selalu menjawab "Menjadi shinobi itu berbahaya" atau "Kau belum cukup umur" dan lain sebagainya.

"Kalau memang itu alasannya, mengapa itu tidak berlaku pada Aniki? Kenapa hanya aku yang diperlakukan berbeda? Apa aku melakukan suatu kesalahan yang fatal? Atau karena aku tidak memiliki bakat? Tapi kan bakat akan tumbuh sendiri jika kita sering berlatih, lagipula aku belum pernah melihat bakatku sendiri…" aku masih belum menemukan jawabannya.

Saat termenung, tiba-tiba terbesit sesuatu di otakku.

"Kenapa aku tidak tunjukkan bakatku kepada Tou-san saja, kalau aku bisa membuktikan bahwa aku pantas, maka ia pasti mengizinkanku untuk berlatih sama Aniki! Tapi aku juga butuh latihan untuk memperlihatkannya. Bisa tidak ya kalau diam-diam…"

Aku terdiam sambil memikirkan jalan lain. Berbagai macam cara telah gagal. Aku harus menemukan cara yang tepat kali ini. Aku berpikir sambil berkeliling rumah untuk mendapatkan inspirasi.

.

.

.

.

"Ah! Aku tidak tahu!"

Setelah lama berpikir aku pun masih belum mendapat ide. Aku mulai frustasi dan mengacak-acak rambutku. Karena kesal, aku memukul tembok tempat ku bersandar.

"Loh, kok bunyi nya aneh?" pikirku yang merasa ganjil dengan bunyi yang dihasilkan dari pukulan tadi.

Aku mencoba mengetuk bagian tembok yang lain. Dan benar saja, bunyinya berbeda. Seperti ada ruang dibalik tembok yang pertama kupukul.

"Ah tapi tidak mungkin…" gumamku sambil mengetuk tembok itu berkali-kali untuk meyakinkan.

"Atau jangan-jangan memang ada!"

Aku mencari cara untuk membuka tembok itu. Aku sudah mencoba mendorongnya tapi tidak bisa. Meski ku coba berkali kali pun tetap tidak bisa. Aku mulai putus asa.

"Ternyata memang tidak ada…"

Tapi aku masih saja penasaran. Awalnya aku hanya coba-coba saja. Aku pun tidak yakin sama sekali bahwa ini akan berhasil. Tapi aku mencoba menggesernya seperti pintu geser. Dan…

"Terbuka!" gumamku riang.

Aku melihat kedalam. Hanya ada ruangan kecil yang gelap. Tidak ada apapun didalamnya.

"Apa ini hanya ruangan untuk sembunyi?"

Aku memutuskan untuk menutup pintu nya kembali karena aku tidak tertarik lagi. Saat mau menutup, aku melihat sesuatu dibagian bawah. Seperti sebuah kayu besar tergeletak begitu saja. Aku penasaran itu benda apa. Ukurannya cukup besar, hampir seluas ruangan kecil ini. Setelah ku perhatikan, ku sentuh, dan ku ketuk, aku menyimpulkan itu hanya kayu biasa. Tapi karena masih penasaran, aku mencoba mengeluarkan kayu itu.

"Kalau di tempat terang bisa lebih jelas terlihat kan" pikirku.

Saat mengangkatnya, aku mengurungkan niatku untuk membawanya keluar. Aku yakin ini kayu biasa. Yang menarik bukanlah kayu ini. Tapi apa yang ditutupi oleh kayu ini. Sebuah lubang yang cukup besar untuk dilewati manusia.

"Ini lubang apa ya?"

Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatku. Setelah yakin, aku perlahan masuk ke lubang tadi. Awalnya aku agak takut. Takut ada hewan atau apapun yang lainnya. Tapi aku tetap masuk. Dan ternyata itu sebuah terowongan. Aku terus mengikuti jalannya. Sampai di ujung terowongan, aku melihat ada bagian yang berbeda di bagian atas terowongan. Berbeda dengan yang lain yang merupakan tanah, bagian ini merupakan kayu. Sepertinya itu sebuah lubang. Aku mencoba mengangkat kayu itu sedikit, dan dengan berhati-hati melihat keluar.

"Ini… dimana?" aku kebingungan karena yang kulihat hanya sebuah ruangan biasa tanpa benda apapun. Karena tidak ada orang, aku akhirnya keluar dari lubang. Setelah menutup kembali lubangnya, aku berjalan menuju pintu ruangan. Aku mendengar beberapa suara keributan. Aku membuka sedikit dan melihat dari celah pintu.

"Sepertinya… aku tau tempat ini… Ini kan, tempat pengungsian klan! Aku pernah melihat gambar ilustrasi dari tempat ini di dokumen perang 4 bulan lalu. Tou-san pernah bilang kalau tempat ini adalah tempat dimana pasukan perang beristirahat sementara, membuat rencana perang mendadak, atau untuk mengobati luka-luka. Dan ini juga tempat perlindungan bagi yang rumahnya sudah tidak aman. Jadi dari rumah ada jalan rahasia menuju kesini!"

Aku merasa sangat senang karena sepertinya aku mendapat ide untuk kabur. Terlebih lagi, jalan rahasia nya ada dibalik tembok di dalam kamarku sendiri. Dan sekarang merupakan kesempatan emas untuk kabur. Aku bisa membaur dengan pengungsi, mengambil senjata di penyimpanan, dan kemudian keluar berperang dengan alasan bahwa aku juga merupakan pasukan perang yang baru saja istirahat. Karena banyak anak kecil yang ikut perang, pasti aku tidak dicurigai. Dan aku juga jarang keluar rumah, sehingga orang-orang disini belum tentu mengenalku.

"Apa salahnya mencoba itu? Hehehe, semoga berhasil…" gumamku sambil tertawa kecil sendiri. Mungkin kalau ada yang melihatku, aku akan dianggap seperti orang gila ya.

Aku mulai menjalankan rencana ku. Perlahan aku keluar dari ruangan tadi menuju ruangan yang banyak pengungsinya. Sampai sejauh ini aku belum ketahuan. Orang-orang menatapku juga dengan tatapan biasa.

"Asalkan aku tidak tergesa-gesa pasti berhasil. Mereka benar-benar tidak mengenali wajahku! Mereka tenang karena lambang Uchiha di pakaianku sudah cukup menjelaskan siapa aku. Tetapi mereka hanya berpikir bahwa aku juga ikut perang. Padahal seharusnya tidak. Ah aku senang sekali…" aku mulai senyum-senyum sendiri. Tanpa kusadari, ada seorang anak laki-laki yang kira kira umurnya sebaya dengan Madara-nii. Ia memperhatikanku dengan tatapan bingung.

"Kenapa kau tertawa sendiri?" tanyanya bingung.

"Ti-tidak. Bukan apa-apa kok" ucapku dengan senyuman untuk meyakinkannya.

"Disaat seperti ini kau malah senang-senang seperti itu. Kau tidak lihat banyak orang terluka disini. Harusnya kau merasa prihatin walau sedikit!" balasnya ketus sambil meninggalkanku.

"Ish, dia galaknya seperti Madara-nii. Tapi… sepertinya Madara-nii lebih dari itu… Ah tapi aku tidak peduli. Yang lebih penting sekarang adalah rencanaku"

Aku pun pergi menuju tempat penyimpanan senjata cadangan. Di dokumen yang kubaca, harusnya tempat itu ada di ruang ketiga dari ruang tengah. Dan kalau tidak salah, ini adalah ruang tengah, jadi…

"Ah! Itu dia! Tepat seperti di buku. Ada plat bertuliskan 'Ruang Senjata Cadangan'. Ternyata membaca dokumen membosankan itu ada gunanya juga!"

Aku segera menuju kesana tanpa dicurigai. Karena sudah biasa bagi para pasukan untuk mengambil senjata dari sana. Itu yang kutahu. Harusnya sih di dalam ada penjaga nya. Dia atau mungkin mereka yang akan memilihkan senjata untuk setiap orang.

"Semoga saja siapapun itu orangnya tidak mengenalku" itulah yang kupikirkan.

Aku masuk bersama beberapa pasukan lain yang ingin mengambil senjata. Diantara mereka ada yang sudah dewasa dan ada pula yang seumurku.

"Dia saja boleh ikut perang, masa aku tidak…" batinku sebal.

Ternyata benar. Didalam ada 3 orang yang menjaga persenjataan. Mereka memegang data dari setiap senjata yang dimiliki masing masing orang. Dan sekarang tiba giliranku.

"Aku belum pernah melihatmu. Apa kau pasukan baru?" tanyanya.

"Eh, i-iya! Aku baru saja diperbolehkan ikut berperang setelah sekian lama berlatih" aku hanya mengucapkan kata-kata yang terbesit di kepalaku.

"Kalau begitu pasti aku belum memiliki datamu. Jadi, karena kau pemula, senjata yang tidak terlalu rumit yang akan cocok. Pedang pendek juga cukup"

"EH? Tidak bisa yang lebih keren lagi? Setidaknya pedang panjang…" pintaku.

"Tubuhmu saja kecil" ucapnya. Aku hanya bisa pundung.

"Ayolah, aku mohon…" pintaku sekali lagi.

"Ya baiklah terserah. Tapi pedang yang ringan saja ya" sekali lagi dia memberiku syarat.

"Ya, yasudah itu saja" ucapku pasrah.

"Ini, coba kau ayunkan dulu" ucapnya sambil menyodorkan sebuah pedang.

"Gawat! Aku lupa kalau aku belum pernah memegang senjata selain kunai. Kalau sampai aku tidak berhati-hati, dia bisa meragukanku kalau aku pasukan perang" batinku.

"Tunggu apa lagi? Masih banyak yang mengantri, cepat lah!" perintahnya.

"Iya iya, maaf" ucapku sambil mencoba mengayunkan pedangku perlahan.

"Hah, sudahlah. Bawa saja pedang itu, cepat sana. Masih banyak yang mengantri" ucapnya bosan.

"Kenapa sih klan Uchiha rata-rata sikapnya begitu. Ah, sebal. Mungkin Kaa-san yang paling baik" batinku sembari meninggalkan ruangan.

Aku melihat beberapa orang berkumpul. Mereka memegang senjata mereka masing-masing.

"Sepertinya mereka pasukan yang akan segera berangkat. Kalau begitu aku bergabung saja"

Saat sampai dikerumunan, aku bertemu dengan orang yang tadi memergoki ku sedang senyum sendiri.

"Oh, kau ikut perang juga. Kupikir kau cuma pengungsi yang kehilangan rumahnya. Habis nya kau terlihat lemah" ucapnya ketus.

"Enak saja! Rumahku itu masih aman. Sangat aman! Dan aku… tidak… lemah" aku tidak yakin dengan kalimat terakhir.

"Tapi kelihatannya seperti itu" ucapnya dingin.

"Kau ini benar-benar menyebalkan" ucapku kesal.

"Kau lah yang menyebalkan. Seenaknya tersenyum bahagia disaat orang menderita. Terlebih lagi kau terlalu percaya diri. Kau bahkan tidak terlihat seperti pasukan perang. Kau lebih mirip pangeran yang biasa dimanja" ia membuatku semakin dan semakin kesal.

"Jangan bicara seenaknya! Itu tidak benar. Kau bahkan tidak tahu siapa aku" balasku.

"Memangnya penting? Kau lah yang seharusnya tau aku ini siapa. Hampir seluruh klan mengenalku. Meskipun aku masih anak-anak, aku sudah menjadi komandan divisi 5. Jadi kau anak kecil lemah tidak usah sok" ucapnya sambil menatapku sinis.

"Komandan? HEBAT!" batinku terkejut.

"Kenapa? Pandanganmu berubah. Kau kagum ya" ucapnya sombong.

"Sial, dia malah bangga" aku pun mulai kesal kembali.

"Kau itu yang sok. Mentang-mentang sudah mendapat jabatan tinggi, kau sombong seperti itu. Aku tadi memang senyum-senyum bahagia, tapi aku tidak bermaksud untuk bahagia diatas penderitaan orang lain. Aku bahagia karena akhirnya aku bisa ikut perang menyelamatkan klanku dan melindungi orang yang kusayangi. Meskipun mungkin sekarang aku belum bisa, tapi aku akan terus berusaha. Aku tau aku hanya pemula yang tidak bisa dibandingkan denganmu. Kalau dibandingkan aku bukan apa-apa. Tapi, perang itu bukan tentang jabatan! Ini tentang tentang melindungi hak yang dirampas! Apa kau tidak mengerti itu? Kau kan komandan, seharusnya kau bisa mengerti" jelasku kesal.

"Kau, tidak usah berteriak!" ucapnya ikut kesal.

"Kenapa kau mengalihkan pembicaraan? Kau sudah kalah telak dengan ucapanku tadi?" balasku.

"Enak saja, mana mungkin aku kalah dengan orang sepertimu" ucapnya dengan meninggikan nada.

"Itu mungkin saja kok" ucapku ikut meninggikan nadaku.

"Tidak itu tidak mungkin!" ucapnya kesal.

"Mungkin"

"Tidak"

"Mungkin"

"Tidak"

"Mu―"

"KALIAN BERISIK!" tiba-tiba ada suara teriakan dari depan yang memotong perkataanku.

"Yuzuki! Kau memalukan! Sebagai komandan perang, malah bertengkar dengan anak kecil dan membanggakan posisimu! Posisi mu itu belum ada apa-apanya!" bentak orang yang entah siapa itu dari depan. Sepertinya ia mengenali orang menyebalkan disampingku hanya dari suaranya saja.

"Maafkan aku Madara-sama, ia yang mulai duluan"

"Tidak, itu dia yang mulai duluan, Madara… -sama? APA?!" aku terkejut.

"K-KAU, TADI KAU PANGGIL DIA APA? SI-SIAPA?" Tanyaku pada orang menyebalkan itu.

"Madara-sama. Madara Uchiha-sama. Dia anak ketua. Dia komandan divisi 1. Kenapa? Kau tertegun mendapat kesempatan berbicara dengan Madara-sama yang terhormat?" ucapnya sambil menyeringai.

"Ti-tidak bukan itu tapi…"

"Siapa yang tadi berteriak? Apa-apaan kau meneriaki namaku hah? Ada masalah?" suara itu tiba-tiba sudah sangat dekat. Ia tepat dibelakangku. Sekarang aku bisa mendengar jelas. Ini memang suara Madara-nii.

"Anak ini yang berteriak Madara-sama" ucap orang menyebalkan yang sepertinya bernama Yuzuki itu sambil menunjuk kearahku.

Aku masih membelakangi Aniki dan tidak berani menatapnya. Dia pasti marah besar kalau tahu aku disini.

"Ahhh hancur sudah rencanaku. Tamat sudah… Aku harus bagaimana?" batinku panik.

"Kenapa? Kau terlihat ketakutan? Dimana semangatmu tadi?" Tanya Yuzuki memanas-manasi keadaan.

"B-bukan begitu... I-itu…" aku tidak tahu harus menjawab apa.

"Haha, sekarang kau mendapat balasannya anak kecil sok" balasnya.

"Berisik kau Yuzuki!" omel Madara-nii.

"M-maaf Madara-sama" ucapnya gugup.

"Hei kau anak kecil, kalau diajak bicara itu tatap wajahnya! Kau tidak tahu sopan santun?" sekarang dia mengomeliku.

"Hah, kau itu anak baru dan tidak tau apa-apa. Cepat balik badanmu!" Yuzuki-san mulai mengomeli ku juga.

"Ma-maaf, a-aku tidak be-bermaksud seperti itu. Aku aku…" aku kehabisan kata-kata. Aku hampir tidak pernah bisa mengelak setiap Madara-nii mengomeli ku. Apalagi dalam keadaan seperti ini.

"Oh jadi kau pasukan baru ya. Tapi…sepertinya aku mengenali suaramu…" ucap Nii-san dengan nada serius.

"Tamat. Tentu saja dia mengenali suaraku. Meskipun jarang dirumah, untuk shinobi hebat seperti Nii-san, mengenali suara adiknya sendiri pasti mudah" kepanikanku mulai bertambah.

"Hei, kau dengar tidak? Jangan membelakangi orang yang mengajakmu bicara! Kau tidak tahu aku ini siapa?" omelnya.

"A-aku tahu kok. Kau adalah anak tertua dari ketua klan Uchiha, yaitu Uchiha Tajima. Kau adalah yang paling hebat dan berbakat diantara anak-anaknya. Kau sudah diberi kepercayaan untuk ikut berperang sejak berumur 5 tahun. Kau juga sangat cepat menguasai jutsu yang diajarkan padamu. Kau lebih sering berada diluar rumah untuk latihan dan berperang. Posisimu sebagai anak ketua sudah membuat mu dihormati, ditambah dengat bakatmu posisimu menjadi semakin terhormat. Kau diangkat menjadi komandan divisi 1 diumur 7 tahun. Awalnya kau hanya berlatih sendiri atau bersama ketua. Tapi akhir-akhir ini kau juga mengajarkan adik adik mu yang ikut berperang kan? Dan masih banyak lagi yang kutahu tentangmu, terutama saat kau dirumah" jelasku sambil terus membelakangi nya.

"Lumayan juga pengetahuanmu, melebihi pengetahuanku. Kau fans Madara-sama ya, anak baru? Tapi kau tidak sopan dengan menyebutkan nama ketua kita tanpa suffix -sama" sambung Yuzuki-san.

"Bagaimana kau bisa mengetahui itu? Cepat balik badanmu!" omel Nii-san lagi.

"Ah, i-itu bagaimana ya? A-aku melihatnya j-jadi aku tahu, hehehe…" ucapku sambil perlahan membalikan badan dan memberanikan diri untuk menatapnya.

Setelah melihat wajahku, Madara-nii tidak berkata apapun. Ia hanya membulatkan matanya dan membuat ekspresi terkejut.

"T-Tamat sudah…" batinku.

"Hehe… h-hai. Se-selamat pagi…" ucapku dengar cengiran untuk mendinginkan suasana.

"K-kau?!" ia tidak melanjutkan kata-katanya karena terkejut.

Aku sudah siap saat dia meneriaki ku. Kapan saja…

"Madara-sama, kau kenal dia?" Tanya Yuzuki-san.

"Iya, dia itu… IZUNA! KENAPA KAU DISINI?!" teriaknya. Sudah kuduga.

"I-itu. Ba-baiklah a-aku bisa jelaskan. Ki-kita bisa membicarakannya baik-baik kan. Jangan marah-marah, nanti cepat tua, hehe…" aku berkata dengan gugup dan dengan tawa yang dipaksakan. Sejujurnya aku ingin sekali lari dari sini. Tapi itu akan memperburuk suasana.

"Pantas saja kau tahu tentangku meskipun kau baru bergabung dengan pasukan. Aku juga mengenali suara mu. Suara ADIK CEREWET yang setiap hari merengek pada Kaa-san. Mana mungkin aku lupa" omelnya dengan menekankan kata 'adik cerewet'.

"Adik? DIA ADIKMU?" Yuzuki-san pun ikut terkejut.

"Ya, dia adik bungsu ku. ADIK YANG PALING CEREWET DAN TIDAK BISA DIATUR! KENAPA KAU DISINI HAH?" ia malah semakin mengamuk.

"Nii-san, aku bisa jelaskan. T-tapi jangan marah-marah begitu. K-kau seram saat marah, seperti Tou-san. Hahaha…" sepertinya aku salah bicara.

"INI BUKAN WAKTUNYA BERCANDA IZUNA! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? CEPAT JAWAB!"

"Ikut perang" jawabku dengan cengiran.

"Dari mana kau mendapat pedang itu?" Tanya nya dengan nada yang sedikit lebih rendah dari yang tadi.

"D-dari ruang cadangan senjata" jelasku.

"Lalu kau mau apa?" tanyanya seperti mengejek.

"Ya berperang lah! Tadi aku sudah bilang kan?" ucapku mulai memberanikan diri.

"Memang kau bisa? Melempar kunai saja tidak bisa" skak mat. Ia benar-benar menyebutkannya, kelemahanku. Aku kan tidak pernah latihan, jadi wajar saja…

"Yah, kan kalau belum dicoba kita tidak tahu. Jadi aku ikut saja" jawabku santai.

"ENAK SAJA KAU BICARA SEPERTI ITU! PULANG SEKARANG!" perintah Nii-san seenaknya.

"Tapi aku mau ikut! Di barisan belakangpun juga tak masalah, pokoknya aku ikut!" aku mencoba memohon.

"Tidak, pulang sekarang!" perintahnya.

"Sekali saja. Nii-san tahu kan, aku selalu dikurung di rumah. Padahal aku ingin juga pergi latihan sama Nii-san, tapi tidak pernah boleh. Karena itu, sekali ini saja, aku mohon, tolong perbolehkan aku. Nii-san… aku mohon… aku… aku juga mau melindungi orang yang kusayangi" ucapku sambil menitikkan air mata.

"Tidak, kau bukannya melindungi yang ada kau malah mati. Dengar ya, Tou-san mengurungmu di dalam rumah agar kau aman. Rumah kita lebih aman daripada tempat ini. Lebih baik kau pulang ke rumah dan lakukanlah apa yang kau suka, seperti hobi atau apalah…" ucap Nii-san dengan nada yang serius.

"Yang aku suka itu berlatih dan ikut perang" ucapku sebal.

"Kau benar-benar keras kepala! Memangnya kau tahu apa tentang perang! Perang itu bukan untuk dijadikan hobi! Orang-orang bersusah payah menghentikan perang tapi kau malah menjadikannya hobi. Apa-apaan itu? Cepat pulang! Kalau sudah begini, terpaksa. Ayo, kuantar sampai rumah" ajak Madara-nii.

"Tidak. Setidaknya aku mau pulang sendiri…" ucapku.

"Kalau kau pulang sendiri, bukannya pulang kau malah ikut perang. Dan kemudian mati. Ayo cepat jangan banyak bicara! Aku juga memiliki pasukan yang harus kuurus, bukan hanya kau saja! Merepotkan" aku jadi merasa tidak enak sudah merepotkan Nii-san.

"Maafkan aku Nii-san" ucapku sambil tertunduk.

"Sudah cepat, ayo pulang" ucapnya sambil menarik tanganku.

"I-iya" aku pun akhirnya pasrah meninggalkan rencana hebatku yang telah hancur berantakan.

Selama di perjalanan aku menundukkan kepalaku. Sementara Nii-san terus menarikku ke rumah.

"Kenapa semua nya begitu membenciku. Apakah aku melakukan kesalahan? Aku cuma melakukan apa yang kuanggap benar. Kalau memang salah, mereka bisa memberitahu ku kan. Tidak perlu melarangku sampai mengurungku begini"

Akhirnya aku sampai di rumah. Dan saat di rumah dua Aniki ku langsung menyemprotku dengan omelan. Ditambah lagi Kaa-san yang mendengar keributan langsung menemuiku dan menanyakan masalahnya. Dan lagi-lagi aku diomeli. Aku mengaku salah karena aku kabur. Tapi kalau bukan karena dikurung, aku tidak akan kabur seperti ini. Padahal aku akan mengikuti peraturannya jika aku diperbolehkan ikut perang. Meskipun aku berada dibarisan paling belakang sekali pun, itu bukan masalah. Asalkan yang aku lakukan bukan hanya duduk duduk di rumah saja.

"Padahal mereka selalu mengajarkanku untuk tidak berbahagia diatas penderitaan orang lain"

"Padahal mereka selalu mengajarkanku untuk melindungi satu sama lain"

"Tapi kenapa kalau aku mau melakukannya malah tidak diperbolehkan"

"Apa yang salah?"

"Apa yang salah dariku?"

"Aku hanya ingin… melindungi orang yang kusayangi. Kadang aku melihat Aniki pulang kerumah dengan luka-luka. Atau Tou-san pulang dengan cedera. Aku ingin menolong mereka. Dan dari dokumen perang yang kubaca, semakin hari semakin meningkat jumlah korban jiwa. Aku mau membantu menguranginya. Aku bukannya menyukai perang. Aku membencinya. Sangat membencinya. Karena itu… Karena itu aku mau mengakhirinya. Tetapi tidak ada yang mempercayaiku. Mereka selalu berkata bahwa aku akan mati. Aku lebih baik mati karena latihan atau karena perang dari pada menjadi pecundang yang hanya bisa duduk dirumah disaat orang lain, bahkan keluarga nya sendiri mempertaruhkan nyawanya dalam medan perang"

Aku mulai terbawa emosi dan menitikkan air mataku. Aku mencoba untuk tidur untuk menenangkan diri. Tapi tetap saja hal itu terus terbayang di otakku. Kaa-san selalu berkata padaku bahwa di rumah lebih menyenangkan. Karena disini tidak ada perang. Tidak ada pertumpahan darah. Tidak ada kekejaman. Yang ada hanya kedamaian. Tapi itu HANYA di rumah ini. Dan kurasa di klan ini hanya aku yang merasakannya. Karena pada kenyataannya aku sangat dimanja oleh orang tua ku. Aku melihat anak lain sampai menangis karena dipaksa oleh orang tuanya untuk berperang. Aniki dulunya juga dipaksa. Tapi aku malah tidak diperbolehkan sama sekali. Padahal aku pikir mereka akan bangga padaku karena aku tidak melawan jika disuruh ikut perang. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Sikapku yang seperti ini malah dianggap sebagai anak yang menyukai peperangan. Padahal bukan begitu maksudku. Kaa-san selalu bilang bahwa kedamaian itu lebih baik. Aku tahu itu. Tapi aku tidak mau merasakannya sendirian. Aku ingin yang lain juga ikut merasakannya. Meskipun harus mempertaruhkan nyawaku sekalipun. Aku ingin bersenang-senang BERSAMA yang lainnya. Bukannya sendirian.

.

.

.

.

"Aku bukannya tidak ingin hidup bahagia, aku hanya ingin orang lain bahagia bersamaku"

~To be continued~

Author's note:

Makin gaje aja fic ini XD Maaf kalo alurnya kecepetan, typo dan konflik gak jelas. Author gak tau mau nulis apa lagi, jadi sampai jumpa di chapter selanjutnya...