Journey To The Past
DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto
WARNING : Canon, OOC (?), Typo(s), GAJE, ABAL, etc.
.
.
.
.
Just enjoy the story ^.^
Don't Like? Don't Read.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2 – Rencana Sarada
Sarada merasa kepalanya berputar-putar, ia tak menyangka kalau perjalanan kembali ke masa lalu membuat kepalanya pusing seperti ini. Ia mendiamkan diri sejenak untuk menetralisir rasa pusing itu, setelah dirasa cukup reda Sarada membuka kedua kelopak matanya mencari keberadaan Shin. Alangkah terkejutnya Sarada melihat Shin duduk bersimpuh sambil memegangi dadanya, butir-butir peluh menghiasi pelipisnya, napasnya pun tak beraturan. Sarada yakin Shin benar-benar tidak berbohong kalau menggunakan jikugan ninjutsu ke masa lalu menguras banyak chakra.
Dengan sigap Sarada menghampiri rekan perjalanannya itu, lalu memberikan pertolongan dengan mengalirkan chakra medis yang ia pelajari sedikit dari ibunya untuk memulihkan tenaga Shin.
"Maaf, Shin. Aku begitu egois sampai tak memikirkan akibat dari permintaanku." Sarada menggigit bibir bawahnya, ia sangat merasa bersalah.
Shin membalasnya dengan seulas senyuman. "Aku baik-baik saja, Sarada. Memang menggunakan jutsu ruang dan waktu memakan banyak chakra, tapi 1 atau 2 hari keadaanku akan pulih kembali."
Perlahan peluh yang terus keluar di dahi Shin menghilang, nafasnya pun kembali normal. Shin memberikan isyarat pada Sarada agar menghentikan aliran chakra medisnya.
"Terima kasih." Ucap Shin pelan, dibalas anggukan oleh Sarada.
Sarada mengedarkan pandangannya, kini mereka berdua tengah berada di hutan.
"Shin, jadi kita sekarang berada ditahun berapa?" tanya Sarada penasaran.
Shin menggeleng. "Aku juga tidak tahu. Aku sendiri tidak bisa memastikan kita sedang berada dimasa hokage yang ke berapa," Shin menyingkirkan helaian daun yang jatuh dipundaknya, "Sebaiknya kita pergi ke desa untuk memastikan kita dimasa yang mana."
Sarada mengangguk setuju. Kemudian mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan.
"Sugoi, Oniisan. Kau menancapkan kunai ditiap sasarannya, bahkan yang dibalik batu!"
Mendengar suara anak laki-laki, Sarada dan Shin kompak menghentikan langkah mereka. Dengan hati-hati keduanya mendekat ke arah suara itu. Betapa terkejutnya Sarada menyadari suara itu ternyata suara ayahnya, Uchiha Sasuke. Shin sendiri juga tak kalah terkejutnya, didepannya kini tengah berdiri sosok yang menjadi idolanya, sosok yang ia kagumi, Uchiha Itachi.
"Sekarang giliranku!" seru Sasuke dengan kunai dikedua tangannya.
"Sasuke, saatnya pulang." Itachi mengingatkan.
Sasuke merengut. "Kau bilang akan mengajariku Shuriken jutsu yang baru."
Itachi mengulas senyum. "Besok aku punya misi penting dan harus membuat persiapan."
Sasuke menggembungkan pipinya, memalingkan wajahnya. "Niisan, pembohong!" gumamnya.
Itachi mendenguskan tawa, lalu memberikan isyarat pada Sasuke untuk mendekat. Sasuke tersenyum senang dan berlari ke arah Itachi.
"Maaf Sasuke, mungkin lain waktu." Itachi menjentikkan jarinya ke dahi Sasuke. Sasuke mengaduh, memegangi dahinya yang sakit.
Sasuke merengut lagi. "Niisan, perhatikan ini."
Mata Itachi melebar. "Sasuke, jangan nekat!"
Sasuke nekat mencoba latihan Itachi tadi, dan akibatnya pergelangan kakinya pun terkilir. Ia meringis kesakitan memegangi kakinya yang terkilir. Itachi menghela napas, berjalan mendekati adiknya itu.
"Sudah kubilang jangan nekat kan? Lihat akibatnya, Sasuke." Itachi mencoba memeriksa pergelangan kaki Sasuke.
Sasuke hanya mendengus. "Ini semua karenamu, Niisan." Kilahnya.
Itachi terkekeh pelan, kemudian berjongkok di depan Sasuke. Ia menoleh kebelakang.
"Naik ke punggung kakak." Pinta Itachi memberikan isyarat naik ke punggungnya.
Wajah Sasuke yang sedari ditekuk, berubah senang seketika. Ia naik ke punggung Itachi dan melingkarkan kedua lengannya di leher Itachi.
Sementara itu dari kejauhan Sarada yang melihat pemandangan itu tanpa disadari meneteskan air mata. Ia tak menyangka akan bertemu pamannya, yang menurut cerita dari Nanadaime juga merupakan pahlawan Konoha yang gugur. Perasaannya saat ini sulit digambarkan dengan kata-kata, jika ada kata lebih dari bahagia ia pasti menggunakannya.
Perlahan Sarada mendekat ke arah Itachi dan Sasuke, tetapi Shin mencegahnya.
"Sarada, ingat perjanjian kita kan?" Shin menepuk bahu Sarada.
"Tapi aku ingin bertemu Itachi-jiisan." Rengek Sarada, dibalas gelengan oleh Shin.
SRAK!
"Katakan padaku siapa kalian berdua?"
Bahu Sarada menegang seketika mendengar suara yang dikenalnya. Itu suara pamannya, Uchiha Itachi. Rupanya Itachi sudah menyadari keberadaan Shin dan Sarada.
"A..aku..." Sarada merasa tercekat.
"Kami dari panti asuhan Konoha, Uchiha-san." Ucap Shin cepat. Sarada menoleh ke arah Shin, dalam hati ia mendesah lega Shin bisa cepat berpikir untuk memberikan alasan logis pada pamannya.
Itachi mengalihkan pandangannya pada Shin. "Lalu apa yang kalian lakukan ditengah hutan?"
"Kami sedang latihan, lalu tidak sengaja melihat Anda disini. Maaf jika kami mengganggu." Shin menundukkan kepalanya.
Itachi berganti menatap iris gelap Sarada, entah mengapa muncul perasaan tak terdefinisi dihatinya. Perasaan dekat seperti keluarga. Sasuke sendiri menatap aneh pada Sarada, ia merasa Sarada mirip seseorang yang dikenalnya, tapi siapa? Ia sendiri juga tak tahu.
"Kalau begitu kami permisi, Uchiha-san." Pamit Shin menggandeng tangan Sarada.
"Tunggu!" sergah Sasuke.
Shin dan Sarada menoleh bebarengan menatap Sasuke yang tengah digendong Itachi. Itachi sendiri menatap bingung adiknya.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Itachi bingung.
"Niisan, aku ingin mengajak mereka makan malam dirumah kita. boleh?"
Kedua alis Itachi terangkat. Ia heran dengan sikap Sasuke yang tak seperti biasanya ini. Biasanya Sasuke malah cenderung membatasi diri dengan yang lain.
"Aku...aku hanya ingin agar mereka pernah merasakan rasanya punya keluarga." Ucap Sasuke menunduk malu. Itachi tersenyum tipis, ia senang meski kadang Sasuke lebih cenderung cuek pada teman sekelasnya, ia masih punya kepedulian pada anak yang kurang beruntung.
Itachi mengangguk. "Kalian ikutlah dengan kami, kita makan malam bersama keluargaku."
Mata Sarada melebar, lalu saling menatap dengan Shin.
"Ta..tapi itu akan merepotkan. Kami bisa makan di panti asuhan, Uchiha-san." Tolak Sarada secara halus.
Itachi mendenguskan tawa. "Tak perlu merasa tak enak hati, Sasuke sendiri yang mengajak kalian berdua." Itachi melangkahkan kaki lebih dulu, "Ayo, eh...oh ya, nama kalian siapa?"
"Aku Shin." Jawab Shin singkat. Sasuke dan Itachi mengangguk bebarengan, lalu berganti menatap Sarada.
"Aku..." Sarada memberi jeda sesaat menatap Sang ayah, Uchiha Sasuke, "...Sarada."
"Namamu bagus!" puji Sasuke.
Tentu saja, Papa. Kau yang memberikanku nama itu, batin Sarada.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
"Tadaima" seru Itachi.
Mereka berempat telah sampai dikediaman Itachi dan Sasuke. Sarada memandangi sekelilingnya, tempat ini tidak berubah dari terakhir yang Sarada lihat di masa depan. Nanadaime memang sengaja merawat tempat klan Uchiha, agar tidak sampai rusak, termasuk kediaman Sasuke sendiri.
"Okaeri"
Seorang wanita berparas cantik, mengenakan apron berwarna merah maroon muncul dari dalam ruangan menyambut kedatangan Itachi dan Sasuke. Wanita itu tak lain adalah ibu dari dua bersaudara Uchiha itu, Uchiha Mikoto.
Mikoto mengernyit. "Eh, Sasuke kakimu kenapa?" Mikoto memandang Sarada dan Shin bergantian. "Mereka berdua siapa, Itachi? Teman Sasuke?" tanyanya pada Itachi.
"Kaki Sasuke terkilir saat latihan. Dan mereka anak panti asuhan Konoha, Kaa-san. Sasuke mengajak mereka berdua untuk ikut makan malam. Tidak apa-apa kan, Kaa-san?" ujar Itachi.
Mikoto tersenyum simpul, mengangguk setuju "Tentu saja. siapa namamu, nona manis?" tanya Mikoto menatap onyx Sarada.
"Sarada." Jawabnya singkat. Sarada mati-matian menahan keinginannya untuk memeluk neneknya, karena ia tak mau membuat Shin semakin sulit karena ulahnya.
"Nama yang cantik, persis seperti orangnya. Lalu siapa namamu?" Mikoto menatap Shin.
"Namaku Shin. Salam kenal Uchiha-san." Shin menundukkan badan, memberikan hormat.
Mikoto mengelus lembut puncak kepala Shin dan Sarada bergantian, "Kalian anak yang manis. Ayo kita ke ruang makan. Itachi bawa Sasuke ke kamar dulu, biar ibu obati lukanya setelah mengantar Sarada dan Shin." Itachi mengangguk.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
Kalau saja bisa, Sarada lebih memilih tinggal di masa lalu. Ia bisa berkumpul dengan semua anggota keluarganya. Ada kakek, nenek, juga pamannya. Dengan kembali ke masa lalu sedikit banyak Sarada jadi tahu bagaimana karakter dari masing-masing anggota keluarganya.
Kakeknya, Uchiha Fugaku, bukan tipikal orang yang banyak bicara. Tapi meski begitu, kakekknya tetaplah orang yang hangat dan peduli pada keluarganya. Terlihat dari caranya mendengarkan dengan seksama celotehan Sasuke, dengan senyum tipis diwajahnya. Neneknya, Uchiha Mikoto, wanita yang cantik, garis wajahnya begitu mirip dengan Sasuke. Berbeda dengan Fugaku, Mikoto sedikit lebih banyak bicara, menanggapi segala keluh kesah Sasuke yang batal latihan dengan Itachi.
Dan yang terakhir adalah pamannya, Uchiha Itachi. Sosok kakak yang penyayang dan bertanggung jawab. Juga seorang yang jenius diusianya yang masih belia. Sarada sama sekali tak menyesali keputusannya kembali ke masa lalu.
"Terima kasih atas makan malamnya, Mikoto-baasan. Sekarang kami pamit pulang, kami takut ketua panti asuhan akan kebingungan jika kami pulang terlalu larut malam." Shin mohon ijin undur diri.
Mikoto mengangguk. "Sama-sama, aku senang sekali kalian berkunjung kemari. Lain kali berkunjung kemari lagi ya?"
Shin mengangguk, lalu mengajak Sarada untuk undur diri. Tapi Sarada malah menepis tangan Shin yang akan menggandengnya.
"Sarada?"
"Mi..Mikoto-baasan, boleh aku memelukmu?" pinta Sarada ragu. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia tak bisa menahannya lagi, ia tak mau kehilangan kesempatan untuk bisa memeluk neneknya sendiri.
Shin mendelik. Sedangkan Mikoto, Sasuke, tak terkecuali Itachi sendiri cukup terkejut mendengar permintaan Sarada.
Mikoto menyejajarkan posisinya dengan Sarada, menyunggingkan senyum lembut lalu merengkuh tubuh mungil Sarada. Dan tangis Sarada pun pecah, ia balas memeluk Mikoto dengan erat. Menumpahkan segala kerinduannya pada neneknya itu.
"Apa kau merindukan ibumu?" tanya Mikoto mengelus rambut Sarada.
Sarada mengangguk dalam pelukannya. "A..aku ingin tahu bagaimana rasanya dipeluk seorang ibu." Kilahnya.
Maaf, jika aku berbohong. Aku hanya ingin dipeluk olehmu Nenek, batin Sarada.
Saat melihat itu Sasuke merasa seperti ada yang mengahantam perasaannya. Entah mengapa ia juga ikut merasa terluka, memahami keadaan Sarada yang hidup sebagai anak yatim piatu.
.
.
.
.
.
.
.
.
-oOo-
Semenjak dari rumah Sasuke, raut wajah Sarada mendadak berubah sendu. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Shin yang tadinya ingin marah pada Sarada jadi tidak tega.
"Sarada..." panggil Shin.
Sarada menghentikan langkahnya, menoleh pada Shin "Ada apa, Shin?"
Shin mendesah."Kita harus mencari penginapan."
Sarada baru ingat kalau dia tidak sedang di masa tempatnya tinggal. Memang benar kata Shin, mereka harus segera mencari penginapan.
"Baikklah, sebaiknya kita mencarinya ke desa." Sarada mengangguk setuju.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Kebanyakan tempat penginapan di daerah Konoha sedngan penuh, karena banyaknya wisatawan yang datang dari luar Konoha. Setelah beberapa kali keluar masuk ke beberapa tempat penginapan, akhirnya mereka berdua mendapatkan tempat untuk menginap juga.
"Apa? Hanya tinggal satu kamar?" seru Shin pada pemilik penginapan. Ia memijat pelipisnya. "Apa tidak ada satu kamar lagi, Paman?"
Paman itu menggeleng. "Tidak ada anak muda. Bagaimana?"
Shin menoleh ke arah Sarada yang sedari tadi hanya diam. "Sarada, bagaimana? Ini satu-satunya penginapan yang tersisa. Dan hanya tersisa satu kamar–"
"Ambil saja, kita butuh istirahat." Potong Sarada.
Kedua mata Shin melebar. "Eh? Kau tidak keberatan?" Sarada menggeleng.
Tapi aku yang keberatan, huh!, Keluh Shin dalam hati.
"Baiklah, Paman. Aku ambil."
Pemilik penginapan itu tersenyum mengangguk puas,kemudian memberikan kunci kamar pada Shin.
Beberapa kali Shin melirik ke arah Sarada yang sedang menata pakaiannya di lemari. Ia tak habis pikir, mengapa gadis berkacamata itu sama sekali tak merasa keberatan tidur dalam satu kamar dengannya. Apa dia lupa jika Shin tetaplah anak laki-laki?
Tanpa disengaja pandangan mereka berdua bersibobok. Shin tersentak dan mengalihkan pandangannya. Sarada berjalan mendekat.
"Shin" panggil Sarada.
Betapa terkejutnya Shin melihat wajah Sarada berada tak jauh dari wajahnya.
"Sa..Sarada, apa yang kau-..." Shin memejamkan kedua matanya. Ia gugup setengah mati, tak menyangka Sarada berada dekat dengannya. Bahkan terlalu dekat.
"Matamu berubah." Potong Sarada.
Shin perlahan membuka matanya, posisi Sarada masih sangat dekat dengan wajahnya. Shin sontak memundurkan dirinya.
Sarada memiringkan kepalanya. "Kenapa Shin?" tanyanya heran.
"Aku...tidak tahu." Suara Shin lebih mirip cicitan.
"Jadi kau tidak tahu mengapa matamu berubah hitam? Kupikir mata Sharingan itu permanen dimatamu." Tanyanya lagi.
"Eh..oh itu. Aku memang bisa merubahnya sesukaku. Saat Itachi-san, menyadari keadaan kita berdua. Aku tidak mau dia sampai curiga dengan kita berdua." Jelas Shin masih sedikit gugup.
Sarada mengangguk paham. Hening kembali menyelimuti mereka.
Sarada kembali termenung, ia teringat bagaimana wajah kakek, nenek, dan juga pamannya. Ia tak habis pikir ada orang yang tega menghabisi nyawa seluruh klan Uchiha dan hanya menyisakan ayahnya saja. Rasa penasarannya semakin tak terbendung lagi, Sarada bertekad mencari tahu siapa dalang dibalik pemusnahan klan Uchiha.
"Sarada, sebenarnya apa yang ingin kau cari di masa lalu? Kalau bertemu dengan keluargamu, kau sudah bertemu dengan mereka kan?" tanya Shin memecah keheningan diantara mereka berdua.
Sarada menggeleng. "Banyak hal yang belum kutahu. Aku harus mencari tahu sendiri kebenarannya, Shin."
Shin hanya mengangkat bahu, berharap apapun yang dicari Sarada tidak akan membuatnya dalam kesulitan lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Author's Note:
Beautifullcreature: terima kasih ;)
Rhein98: ini udah lanjut. Makasih uda review ;)
Shofie Kim: Salam kenal juga. makasih udah review
Uchiha forever: Ini udah lanjut ;)
GamerShinobill: terima kasih ;)
