Yosh akhirnya bisa lanjut fic ini XD Pertama, author mau balas review dulu...
Upil Akamaru: Iya dia emang ngenes *dihajar Izuna* Ini udah lanjut...
Evil Red Thorn: Madara emang galak, makanya cepet tua *dihajar* No, Izuna mainnya sama aku aja XD Oke udah lanjut :)
Achan Jung: Emang rata-rata klan Uchiha sifatnya dingin. Iya ada lima-limanya soalnya kalo Izuna ama Madara doang gak seru XD Makasih atas pujiannya, jadi malu XD Ini udah next chap...
ken: Iyalah, harus anti menstrim XD Disini ceritanya Uchiha masih pada arogan gitu soalnya mereka kan klan elit XD Pas pertama ketemu Hashirama juga dia kan galak, pas udah deket baru dia baik XD Soal sikapnya yang galak keterlaluan ama Izuna itu ada alesan tersendiri XD Ini udah lanjut...
Oke segitu aja balesannya, terimakasih buat semua reviewnya, review lagi yaa *ngarep* Biar gak kelamaan, langsung aja ke lanjutan ficnya...
Warning: OC, gaje, abal, mungkin typo, alur gaje, mungkin OOC
Genre: Family, Friendship, Action, Hurt/Comfort, Tragedy
Disclaimer: Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T READ
Keadaan semakin memburuk. Semakin banyak korban yang berjatuhan. Kerugian akibat perang pun semakin terasa. Semua pihak pun merasa lelah dengan semua ini, mereka juga merasa bahwa kemungkinan untuk menang sangat kecil.
Izuna's POV
Saat keadaan semakin mencekam, seperti biasa aku hanya bisa berdiam diri di rumah. Tetapi hari ini ada yang berbeda dari raut wajah keluargaku. Mereka terlihat begitu lelah, sedih, kesal, dan masih banyak lagi yang sulit untuk diungkapkan.
"Kaa-san apa yang terjadi dengan peperangan?" aku menanyakan hal itu kepada Kaa-san. Entah mengapa, aku merasa ada hal buruk yang sedang terjadi.
"Tidak ada apa-apa kok, tidak usah dipikirkan" ucap Kaa-san dengan senyumannya yang terlihat dipaksakan.
"Tidak usah berbohong padaku. Aku tahu pasti ada sesuatu yang terjadi kan? Ekspresi kalian terlihat lebih muram dari biasanya" balasku.
"Tidak ada yang begitu penting. Hanya musuh kita yang bertambah jumlah maupun kekuatan. Jumlah klan yang kita lawan juga semakin banyak" akhirnya Tou-san lah yang menjawab pertanyaanku.
"Klan apalagi? Apa mereka hebat?" tanyaku semakin penasaran
"Ya kekuatan mereka sih biasa saja, seperti kebanyakan klan pada umumnya. Tapi ada satu klan yang kekuatannya patut diperhitungkan. Yaitu klan Senju…" jelasnya.
"Senju? Aku belum pernah mendengarnya… Tapi, tunggu dulu… pernah tidak ya?" ucapku sambil mengingat-ingat nama klan lain selain Uchiha.
"Sebenarnya, Senju telah sejak lama menjadi musuh kita. Meskipun Senju sempat tidak dianggap sebagai klan bangsawan, tetapi berkat peningkatan kekuatan dan juga prestasi mereka, kini senju juga merupakan klan elit. Telah banyak shinobi hebat yang terlahir dari klan Senju. Mereka merupakan lawan yang sangat tangguh" ucap Tou-san sambil membaca beberapa laporan perang akhir-akhir ini.
"Klan elit? Mereka pasti hebat! Tapi mengapa orang seperti mereka harus menjadi musuh kita…" ucapku murung.
"Di era perang seperti ini, siapapun bisa menjadi musuh kita. Dan kita bisa dikhianati kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun. Karena itulah kau harus berhati-hati" ucapnya sambil sedikit melirik kearahku.
"Tou-san, bolehkah aku ikut membantu?" aku kembali melancarkan aksiku.
"Tidak perlu. Aku memberitahu mu hal seperti ini agar kau mengerti bahwa peperangan adalah hal yang berbahaya. Bagimu yang tidak bisa apa-apa lebih baik disini. Karena semua orang bisa mati kapan saja. Begitupun dengan diriku, karena itulah aku telah melatih Aniki mu dan klan Uchiha yang lain agar mereka siap saat aku mati. Keadaan yang seperti ini harusnya bisa kau mengerti. Ini adalah hal serius" ucapnya menasihatiku.
"Bagaimana… Bagaimana kalau aku tidak siap saat Tou-san mati?" tanyaku.
"Yang perlu kau lakukan hanyalah menyiapkan mental mu dan merelakanku pergi. Aku yakin kau sendiri pun bisa mempersiapkannya dari sekarang" jawabnya santai.
"B-Bukan itu maksudnya… kenapa yang lain harus pakai latihan segala? Bukankah yang perlu dilakukan mereka sama denganku? Lalu… kenapa hanya aku yang tidak dilatih?" tanyaku bertubi-tubi.
"Masih ada hal lain yang perlu mereka lakukan. Saat aku mati, klan ini membutuhkan ketua yang baru. Karena itulah aku melatih mereka semua agar mereka pantas menempati posisi sebagai ketua. Aku menginginkan pengganti yang kuat, yang melebihiku. Agar ia bisa mengakhiri peperangan panjang ini. Sementara untukmu, kau sama sekali tidak cocok dengan posisi itu" jelasnya.
"Kalau begitu, setidaknya izinkan aku latihan. Kalau aku latihan, kekuatanku akan bertambah. Dengan begitu, jika aku terus menerus berlatih, suatu saat nanti…" aku terdiam sebentar sambil memikirkan kata-kataku selanjutnya.
"Suatu saat nanti aku akan membuatmu bangga! Aku akan melampaui mu sebagai shinobi!" ucapku setelah yakin dengan kata-kata yang sedari tadi kupikirkan.
"Sudahlah, berhenti berangan-angan. Semangatmu memang bagus, tetapi… sayang sekali. Mimpi mu bukanlah sesuatu yang bisa kau wujudkan. Berhentilah memimpikan sesuatu yang mustahil. Bangunlah dari mimpimu yang panjang itu dan alihkanlah pandanganmu pada dunia nyata!" balasnya dengan kata-kata yang cukup menusuk.
"Kau harus bisa menyadari batasmu sendiri. Jangan memaksakan dirimu untuk mencapai sesuatu yang mustahil" lanjutnya dengan nada yang lebih rendah.
"Mustahil? Apakah impianku ini benar-benar mustahil? Apakah aku yang sekarang ini, harapanku ini, impianku ini… hanya berada dalam dunia mimpi?" batinku sedih.
Aku hanya bisa menundukkan kepala. Aku menyadari bahwa aku tidak memiliki potensi yang hebat. Tapi selama ini aku yakin, bahwa aku bisa mewujudkan mimpiku.
"Tapi, apakah keyakinanku itu juga termasuk hal yang sia-sia? Haruskah aku membuang mimpi-mimpi itu?"
Aku kembali terdiam. Memikirkan semua hal yang telah kulakukan sampai saat ini. Perjuanganku, rencanaku, upayaku, itu semua… sudah banyak yang kulakukan untuk meraih mimpi ini.
"Apakah kau mau menyerah begitu saja setelah semua hal yang kau lewati? Itu bukanlah masa yang mudah! Kau sudah sampai sejauh ini… apakah… apakah kau akan menyerah disini?!" tanyaku pada diriku sendiri. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Menahan perasaan campur aduk ini. Aku tidak tahu apa yang harus kuputuskan. Berpikir… Berpikir…. Aku memejamkan mataku untuk menenangkan pikiran.
"Apakah kau hanya akan berdiam diri disaat keluargamu menderita?" mataku kembali terbuka saat pertanyaan itu kembali muncul dibenakku. Pertanyaan yang selalu menghantuiku.
"Tidak! Meskipun itu sebuah mimpi yang sulit sekalipun, aku sudah berjanji untuk tidak menyerah! Jika aku menyerah sekarang, semua hal akan menjadi sia-sia! Aku tidak bisa… Aku tidak bisa berhenti disini. Karena mebuat keluargaku bangga padaku adalah salah satu impianku! Dan aku tahu itu bukanlah impian yang mustahil. Pasti ada…. Pasti ada cara untuk melakukannya! Dan aku akan menemukan cara itu!" Aku yakin, kali ini aku yakin pada jawabanku. Dan aku tak akan pernah menariknya kembali. Itu adalah sumpahku!
Setelah meyakinkan diri, aku mulai mengumpulkan keberanian untuk mulai berbicara. Aku mencoba menyampaikan perasaanku ini pada Tou-san.
"Tou-san, aku memang tidak berbakat. Aku bahkan tidak memiliki potensi. Aku memang berbeda dengan keempat Aniki ku. Tapi, kalian tetaplah keluargaku. Suatu hari nanti aku akan menemukan cara untuk membantu kalian! Tou-san boleh saja menganggap mimpiku ini adalah impian yang mustahil. Tapi ada satu hal yang ingin ku katakana padamu. Aku tidak akan menyerah meskipun aku mati!" ucapku dengan yakin.
"Bagaimana jika kau mati sebelum impianmu itu terwujud?" balasnya dengan santai.
"Meskipun begitu! Meskipun aku mati sebelum cita-citaku itu tercapai, setidaknya aku sudah berusaha. Setidaknya aku bukanlah pecundang yang hanya bisa melihat keluarganya menderita! Setidaknya… meskipun hanya sedikit, perasaanku untuk membantu kalian telah tersampaikan. Dengan itu saja sudah cukup membuatku senang" aku tidak tahu apakah perkataanku ini benar, tapi aku sudah yakin dengan sumpahku, jadi aku takkan mundur.
Normal POV
Seorang pria paruh baya yang sedang berbincang dengan anak bungsu nya itu terlihat puas dengan ucapan anaknya. Ia mengeluarkan senyuman yang meskipun samar, tapi kau akan menyadarinya jika diperhatikan dengan jelas. Tetapi, senyuman itu perlahan menghilang dan digantikan dengan pandangan kesedihan. Ia menghela nafasnya, pikirannya kini benar-benar kacau. Perasaan sedih terus-menerus menusuk hatinya.
"Mengapa? Mengapa Izuna harus mengalami kenyataan pahit ini? Andaikan aku sebagai ayahnya bisa menggantikan penderitaannya, tentu aku bersedia!" batin pria itu.
Suasana hening. Hanya ada suara aliran air dan perabotan yang sedang dicuci oleh istri Tajima Uchiha, sang pria yang kini sedang bingung menanggapi anaknya. Sang anak bungsu yang terduduk di hadapan pria itu masih setia menunggu jawaban dari ayahnya. Ia benar-benar berharap untuk mendapatkan kepercayaan. Tajima tentu saja ingin memberikan kepercayaan itu. Tetapi ia tahu bahwa ia tak mampu. Ingin sekali rasanya ia mengubah takdir menyedihkan ini, tetapi ia bukanlah Tuhan yang dapat menentukan takdir. Yang bisa ia lakukan hanyalah melindungi anaknya dengan seluruh kekuatannya.
Sekali lagi ia menghela nafasnya. Kali ini ia mulai angkat bicara.
"Izuna, aku tidak ingin kau menyesal. Karena itu, aku minta tolong padamu… tolong menyerah saja. Atau kau akan menyesal begitu kau memahami kerasnya kehidupan ini" ucap pria itu dengan nada sedihnya.
Anak bungsunya terlihat kecewa dengan jawaban itu. Tapi, dia bukanlah orang yang akan menyerah begitu saja. Bahkan meskipun orang tuanya memohon padanya, ia takkan berhenti.
"Penyesalan mungkin ada. Tapi aku tahu, penyesalan itu tidak akan seberat penyesalan yang akan kualami jika aku menyerah!" ucap anak itu dengan yakin meskipun matanya secara jelas menunjukkan kesedihan.
"Sudah cukup Izuna! Jangan terus-menerus membantah. Kau sering sekali berbicara seakan-akan kau tahu segalanya! Lebih baik kau lupakan saja semua mimpi bodohmu itu!" bentak pria itu.
Jujur saja, hatinya terasa teriris saat mengatakan hal itu. Tapi ia tidak ingin membiarkan anaknya terbawa angan-angan kosongnya itu. Sungguh, ia benar-benar tidak sanggup melihat penderitaan anaknya lebih dari ini. Jika ia tetap melanjutkan mimpinya, ia akan menerima rasa sakit yang lebih besar dari ini, karena itulah Tajima takkan membiarkan itu terjadi.
"Meskipun begitu aku akan tetap-" anak itu masih belum menyerah, tetapi Tajima memotong perkataannya.
"SUDAH CUKUP!" emosinya sudah tak tertahankan. Ia segera meninggalkan anaknya dengan emosi yang meluap-luap.
Izuna lagi-lagi dikecewakan dengan respon dari keluarganya. Ia tidak mengerti mengapa ini semua terjadi. Disisi lain, sang Ibu yang sedari tadi mencuci peralatan makan hanya terdiam tak merespon. Tapi sebenarnya jika diperhatikan, ada cairan bening yang terus mengalir dari matanya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan isakannya dibalik suara aliran air. Sedari awal, hatinya telah hancur. Sejak awal ia mengetahui takdir buruk ini, ia benar-benar merasa sakit yang mendalam. Rasa sakit yang bahkan sanggup menutupi luka-luka akibat peperangan. Tentu saja, mana ada seorang ibu yang tidak hancur hatinya melihat anaknya yang harus melawan takdir buruknya setiap hari. Ditambah lagi rasa sakit akibat keempat anaknya yang lain yang harus siap menghadapi kematian kapan saja. Ia benar-benar tak bisa membendung lagi semua perasaan itu.
"Kaa-san, apakah Tou-san membenciku? Kenapa ia tak pernah menerimaku?" ucap anak itu dengan nada sedih.
Wanita itu berusaha menghentikan tangisannya. Ia menarik nafas dan mulai berbicara
"Itu tidak benar. Ayahmu sangat meyayangimu" ucap sang wanita dengan suara yang sedikit diselingi isakan.
"Lalu, kenapa ia selalu melarangku pergi keluar? Mengapa ia tak pernah menerima pendapatku? Mengapa ia tak pernah sekali saja bangga padaku? Aku tahu tak ada yang bisa dibanggakan dariku, tapi setidaknya aku ingin dia menerimaku. Kenapa ia hanya menerima keempat Anikiku? Apakah aku pernah melakukan kesalahan fatal dimasa lalu yang tidak bisa dimaafkan oleh Tou-san?" ucap Izuna yang perlahan meneteskan air mata.
"Itu tidak benar! Kau tidak melakukan kesalahan apapun! Ini semua bukan salahmu…" wanita itu tak kuat lagi meneruskan kata-katanya. Air matanya pun mengalir deras. Ia bahkan tak sanggup menahan isakkannya.
Izuna yang mendengar tangisan ibunya pun terkejut.
"Kaa-san? Ada apa? Mengapa Kaa-san menangis? Apakah aku mengatakan sesuatu yang buruk?" ucapnya penuh sesal.
"Tidak, Kaa-san tidak apa-apa. Kembalilah ke kamarmu, istirahatlah. Lebih baik kau tidur siang saja" perintah wanita itu dengan diselingi isakkan.
"Tapi aku-"
"Sudah jangan membantah!" belum selesai ia bicara, ibunya segera memotong perkataannya dengan cepat yang membuatnya terkejut.
"B-baik" ucapnya menyerah.
Akhirnya anak itu lebih memilih kembali ke kamarnya untuk melupakan masalah yang baru saja terjadi. Tetapi bukannya lupa, ia malah semakin memikirkannya. Ia mulai merasa kesal. Lalu ia membuka jendela kamarnya untuk menghirup udara segar, dan berharap masalahnya bisa hilang terbawa angin. Ya, jika saja bisa seperti itu.
Izuna's POV
Angin lembut mengembus dan membawaku terlarut dalam lamunan. Tetapi tiba-tiba ada suara yang membuyarkan semuanya. Seorang pria dari sisi lain jendela kamarku tiba-tiba memanggil.
"Izuna-sama!" suara milik orang yang sangat kukenal itupun sukses mengagetkanku.
"Hoori?! Kupikir siapa… Kau mengaggetkanku tahu!" ucapku sebal.
"Hehehe… maaf maaf. Habisnya siang-siang begini kau malah melamun. Apa ada masalah?" tanya pria bernama Hoori itu penasaran.
"Yah, seperti biasa…. Aku tidak boleh latihan, kau tahu kan?" ucapku lesu.
"Oh soal itu lagi! Tidak perlu bersedih Izuna-sama, bukankah justru malah menyenangkan berada dirumah? Kau tidak perlu merasa lelah kan? Kalau bisa aku juga mau…" ucapnya untuk menyemangatkanku.
Tetapi kata-kata itu justru membuat perasaanku semakin tidak enak.
"Kalau aku bisa juga aku mau membuat kalian bisa merasakannya. Berkumpul bersama keluarga, bersenang-senang, bersantai, dan hal kecil lainnya yang sangat sulit didapatkan di era terkutuk ini" ucapku sebal.
Perkataanku pun sukses membuat semangatnya menghilang karena menyadari kesalahan kata-katanya.
"Kau memang orang yang baik Izuna-sama. Tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan kami. Lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri saja" ucapnya sambil tersenyum.
"Mengkhawatirkan diriku sendiri? Untuk apa? Aku kan tidak ikut perang, apa yang perlu dikhawatirkan?" tanyaku
"Yah, meskipun begitu … kau adalah anak dari Tajima-sama. Pasti ada saja musuh yang mengincarmu. Di medan perang saja, keempat Anikimu itu terutama Madara-sama, sering sekali menjadi incaran musuh. Kau juga harus mengkhawatirkan dirimu sendiri, karena masih ada kemungkinan bahwa musuh juga akan menyerang tempat ini" jawabnya.
"Kalau begitu, lebih baik aku mengkhawatirkan Aniki. Soalnya posisi mereka lebih berbahaya daripada aku" balasku
"Tapi mereka sudah bisa melindungi diri mereka sendiri. Mereka adalah orang yang sangat hebat, jadi tidak perlu khawatir" ia kembali tersenyum kepadaku.
"Jadi secara tidak langsung, kau mengatakan bahwa aku ini lemah kan?" tanyaku sebal.
"Bu-Bukan begitu maksudku!" ucapnya gelagapan.
"Lalu apa?" aku mulai mengetesnya meskipun aku tahu bahwa perkataanku sebelumnya memang benar.
"I-itu…" sesuai dugaanku ia terlihat kebingungan
"Sudahlah, akui saja. Aku tahu aku ini lemah. Sejak dulu aku tidak punya bakat, fisikku juga lemah, disuruh berlari sebentar juga aku sudah kelelahan. Itu adalah akibat karena aku sering dimanja dan tidak pernah berlatih. Karena itulah aku ingin berubah. Aku tidak mau selamanya menjadi orang lemah seperti itu" ucapku sedih
"Izuna-sama, kau tidak perlu memaksakan diri seperti ini. Tidak apa-apa kok kalau kau tidak ikut perang. Kau tunggu saja sampai kedamaian datang. Kau tidak perlu susah-susah berlatih. Yang perlu kau lakukan hanyalah percaya pada kami" ucapnya menyemangati sambil mengelus pelan kepalaku
"Menunggu? Kau menyuruhku menunggu datangnya kedamaian sambil bersantai di rumah sementara keluargaku berada dalam bahaya? Yang benar saja? Aku akan menjadi orang rendahan disini…" balasku kesal
"Kau bicara apa? Meskipun begitu kau bukan orang rendahan. Bukankah sudah jelas? Orang-orang yang mengetahui siapa dirimu sebenarnya memanggilmu dengan suffix-sama kan? Itu adalah salah satu buktinya" ia berusaha menyangkal perkataanku.
"Meskipun begitu katamu? Kalau aku hanya bisa menonton keluargaku sendiri menderita, itu sama saja seperti orang rendahan! Meskipun aku anak dari ketua klan elit sekalipun, aku akan tetap menjadi orang rendahan! Dan soal panggilan itu, aku sama sekali tidak menginginkannya…" kemarahanku semakin memuncak
"Apa maksudmu dengan tidak menginginkannya?" ia masih sabar menghadapiku
"Aku tidak suka panggilan itu! Panggilan itu memang untuk penghormatan, tetapi itu untuk penghormatan yang tidak kuinginkan. Aku dihormati karena jabatan ayahku atau prestasi kakakku, sementara keberadaanku yang sesungguhnya tidak pernah dianggap. Jika ayahku dan kakakku tidak ada, pasti aku hanyalah seorang pecundang. Padahal yang aku inginkan hanyalah kalian mengakui keberadaanku. Aku tidak butuh penghormatan, tapi aku ingin diakui berkat usahaku sendiri. Aku ingin dianggap karena aku adalah aku! Tapi pada kenyataannya, kalau bukan karena mereka aku-"
"Itu tidak benar! Izuna-sama!" Hoori seketika memotong keluhan panjangku itu.
Aku benar-benar terkejut karena ini adalah pertama kalinya ia membentakku.
"Maafkan aku. Tapi yang tadi itu sudah berlebihan" ia segera meminta maaf dan merendahkan kembali suara nya setelah melihat ekspresiku.
"Jujur saja, kau telah mengubah pandanganku padamu sejak hari pertama saat kita bertemu" ia melanjutkan kata-katanya.
"Mengubah pandangan?" tanyaku bingung
"Ya, saat awal bertemu aku hanya menganggapmu sama seperti anak-anak lainnya. Saat itu aku memanggilmu dengan suffix-sama memang untuk menghormati ayahmu" jelasnya
Aku hanya menunduk karena aku tahu aku tidak pantas mendapatkan penghormatan itu.
"Tapi…" ia melanjutkan perkataannya
"Setelah aku berbicara padamu, setelah hubungan kita semakin dekat, dan bahkan sampai sekarang, panggilan itu sudah bukan kutujukan untuk ayahmu lagi" ucapnya dengan senyuman
"M-maksudmu?" aku masih belum bisa mencerna omongannya dengan baik
"Maksudnya, panggilan itu memang un-" sebelum ia selesai, seseorang memanggilnya
"Hoori! Pasukan selanjutnya akan segera berangkat, sebaiknya kita bergegas atau kita akan ditinggal!" teriak orang itu
"Iya! B-bisa kau tunggu sebentar?" balas Hoori kepada orang itu
"Kita sudah tidak punya waktu lagi!" ucap orang itu terburu-buru
"Hah, mau bagaimana lagi… Kalau begitu kita lanjutkan kapan-kapan ya. Sampai jumpa Izuna-sama!" ucapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Ia segera berlari bersama dengan orang yang memanggilnya tadi sampai menghilang dari pandanganku.
Aku agak kecewa. Karena aku masih belum mengerti maksud perkataannya dan tiba-tiba dipotong begitu saja. Tapi mau bagaimana lagi, pasukan saat ini lebih membutuhkannya. Ya, dia adalah shinobi yang sangat berbakat. Waktu itu aku dikenalkan padanya saat ia sedang membicarakan kondisi peperangan bersama Tou-san di rumah ini. Dilihat dari penampilannya saja ia sudah terlihat hebat, ditambah lagi dengan umurnya yang masih sangat muda, 16 tahun. Dia benar-benar berbakat. Dan dia adalah salah satu dari 'pengawal setia' yang pernah kubicarakan. Terkadang aku kesal dengan keberadaannya yang selalu mengawasiku, tapi terkadang aku juga senang karena ia sudah seperti pengganti Anikiku. Ia sering mendengarkan keluhanku, tidak seperti Anikiku yang lain yang selalu saja bersikap dingin, kecuali Hisashi-nii. Tapi sangat jarang untuk mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya. Yah karena mereka sangat sibuk. Karena itulah keberadaan Hoori terkadang membuatku senang. Tetapi tetap saja, ia sepemikiran dengan keluargaku untuk melarangku keluar rumah. Tentu saja itu karena ia adalah 'pengawal setia' ku. Memikirkan hal itu membuatku teringat kejadian beberapa tahun lalu yang terjadi padaku.
"Aku benar-benar membenci mereka" gumamku kesal
Flashback
Suasana begitu mengerikan. Rasanya aku seperti terjebak dan bisa mati kapan saja. Mayat ada dimana-mana, tanah yang sudah bercampur darah, aroma bunga-bunga sama sekali tidak tercium. Yang ada hanyalah aroma darah yang mendominasi. Merah, warna itulah yang paling banyak terlihat di siang hari ini. Aku ketakutan. Meskipun ini adalah bagian dari rencanaku, meskipun aku sudah berhasil sampai sejauh ini, entah kenapa aku sempat merasa putus asa dan ingin kembali. Tetapi aku sendiri dalam keadaan tersesat. Sekarang aku baru mengerti rasanya saat kau bisa mati kapan saja, karena ini adalah pertama kalinya untukku melihat medan perang secara langsung. Setelah berhasil kabur dari rumah aku malah tersesat. Tidak ada siapa-siapa disini.
"Haruskah aku pulang saja? Tapi bagaimana? Andai saja ada seseorang…" batinku ketakutan
Aku melihat ke sekeliling sambil memikirkan nasibku. Apa yang harus kulakukan? Apakah tindakanku ini benar? Apakah aku akan menyesal? Pertanyaan itu terus menghantuiku.
"Apa yang kupikirkan? Aku tidak boleh takut. Aku harus bisa karena pada akhirnya aku bisa memasuki medan perang. Kalau aku mundur sekarang, belum tentu aku bisa mendapat kesempatan ini lagi. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku harus bisa! Setidaknya aku harus sedikit membantu klanku" tekadku dalam hati.
Akhirnya aku mulai memberanikan diri. Aku mengambil beberapa kunai yang dijatuhkan para shinobi. Sambil berjalan terus, aku memperhatikan keadaan sekitar. Aku bersiaga kalau-kalau ada musuh.
"Aku memang belum pernah berlatih, tapi aku akan berusaha semampuku. Setidaknya aku tidak hanya duduk saja di rumah" itulah yang kupikirkan sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba seorang shinobi menghampiriku. Aku sangat terkejut. Dalam sekejap, aku benar-benar tidak bisa bergerak karena ketakutan. Ia terlihat menyeramkan, katana yang dipegangnya dan tatapan dinginnya itu berhasil membuatku takut.
"Kau seorang Uchiha ya? Tapi kau terlihat lemah. Ini kesempatanku untuk membalas klan elit seperti kalian. Hahaha…" ucap shinobi itu.
"S-Siapa kau? A-apa yang akan kau lakukan?" ucapku ketakutan saat menyadari gerak-geriknya yang tidak biasa.
"Aku adalah Aizen Hagoromo. Dan tentang yang akan aku lakukan, bukankah itu sudah jelas? Mem-bu-nuh-mu!" eja orang itu dengan tatapan mengerikan.
Aku sangat terkejut. Baru beberapa menit aku memasuki medan perang, dan aku sudah mau dibunuh?
"Medan perang semengerikan ini? Selain itu, lawanku adalah klan Hagoromo. Salah satu musuh utama klan saat ini. Yang benar saja? Pemula sepertiku, apa bisa melakukan sesuatu?" batinku takut.
"Kau terlihat putus asa bocah. Tenang saja, aku akan membuat ini mudah. Aku akan segera membunuhmu sehingga kau tidak perlu merasakan kepedihan hidupmu lebih lama lagi" ucap shinobi itu dengan seringai yang licik sekaligus menjijikkan.
"K-Kau pikir akan semudah itu?" ucapku berusaha melawan
Shinobi itu hanya menjawab dengan tawaannya. Ia benar-benar merendahkanku. Ini membuat emosiku meluap. Lalu, tatapan shinobi itu berubah menjadi tatapan serius. Ia benar-benar mau membunuhku.
"A-apa yang harus kulakukan?" pikirku dalam hati
"Ah! Aku tahu…" tiba-tiba aku teringat saat Aniki berlatih melempar kunai di halaman depan rumah.
Aku mengambil kunai-kunai yang kupungut tadi, memegangnya layaknya shinobi. Shinobi itu hanya menatapku dengan tatapan bertanya-tanya. Aku segera menentukan sasaran dan melemparkan kunai-kunai itu dengan percaya diri.
"Aniki saja selalu tepat sasaran meskipun baru pertama kali mencoba. Pasti aku juga bisa…" batinku yakin
Tapi takdir berkata lain, sejak awal aku memang berbeda dengan Anikiku. Tak ada satupun dari kunai yang kulempar mengenai sasaran. Bahkan shinobi itu tak menghindar sama sekali. Sepertinya sejak awal ia sudah tahu bahwa aku akan meleset.
"Hahaha… Ternyata kau memang seperti kelihatannya, benar-benar payah…" ucap shinobi itu diiringi tawa.
"Sepertinya tidak perlu mengeluarkan begitu banyak tenaga untuk melawanmu" ucapnya sombong.
"Sialan…" batinku semakin kesal.
Aku mengambil lagi kunai dari sakuku dan berniat untuk kembali melemparnya. Saat aku bersiap melempar, shinobi itu melesat sangat cepat. Tiba-tiba ia sudah berdiri dihadapanku dengan pedangnya yang siap menusukku kapan saja. Karena sangat terkejut, tubuhku kaku dan kunai-kunai yang kupegang terlepas begitu saja. Aku hanya bisa menatap shinobi itu dengan tatapan takut. Shinobi itu pun menyeringai.
"Selamat tinggal, Uchiha-sama yang terhormat" ucapnya sambil berusaha menusukkan pedangnya kearahku.
Aku segera memejamkan mataku. Aku sangat ketakutan.
"Apakah ini akhirnya?" batinku sedih.
"Pada akhirnya, tidak ada yang bisa kulakukan…"
Bukannya rasa sakit yang terasa, malah suara erangan seseorang yang terdengar. Aku akhirnya memberanikan diri untuk membuka mataku. Ternyata didepanku, berdiri salah seorang 'pengawal setia' ku yang melindungiku sehingga ia yang tertusuk.
"K-Kau pikir kau siapa? B-Beraninya kau me-menyerang anggota elit k-klan kami!" ucapnya dengan nada terputus-putus.
"Kashima?" panggilku pelan.
Ia sedikit melirik kearahku. Tatapan tajamnya berubah menjadi tatapan khawatir. Ia pun memberikan senyumannya.
"A-Apa kau baik-baik sa-saja, I-Izuna-sama? A-Apakah orang SIALAN ini m-melukai-mu?" ucapnya dengan senyuman dan penekanan pada kata 'sialan'
"T-tidak" ucapku diiringi gelengan cepat.
Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada shinobi itu.
"D-Dasar pecundang!" ucapnya.
Tangannya yang gemetar berusaha mencabut pedang yang menusuk dadanya. Darah terus menerus mengalir. Tetapi begitu juga dengan semangatnya. Meskipun tubuhnya benar-benar lemas, ia berusaha melawan. Ia menggunakan katana yang baru saja menusuknya itu untuk melawan. Sementara aku, apa yang pecundang seperti diriku lakukan? Aku hanya terduduk lemas sambil menatap genangan darah didepanku. Tubuhku masih terasa kaku karena takut dan juga terkejut. Sampai saat ini rasanya semua terjadi begitu saja, seperti mimpi. Aku tak percaya pada kejadian didepan mataku ini.
.
.
.
.
Shinobi yang menyerangku kini sudah terkapar tak berdaya. Sementara Kashima, orang yang baru saja menyelamatkanku, menatap lemas mayat didepannya. Tak lama kemudian, katana yang ia pegang lolos begitu saja dari tangannya. Ia pun terjatuh karena tubuhnya sudah tak kuat lagi. Selain kehabisan tenaga karena bertarung, ia juga kehabisan darah akibat tertusuk. Melihat kejadian itu, tubuhku seakan bergerak sendiri menghampirinya.
"B-bertahanlah! A-aku akan membantumu berjalan. Ayo kita secepatnya menuju tenda medis. Aku akan cari sesuatu untuk menutupi lukamu. Kumohon bertahanlah!" ucapku diiringi air mata yang terus menetes.
Saat ini aku kebingungan. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara menanganinya. Aku berusaha mendudukkannya, tapi tubuhku yang kecil dan tanpa tenaga ini tidak sanggup melakukannya. Semakin lama tangisanku semakin tak tertahankan.
"Aku… Aku akan cari bantuan…" aku memutuskan untuk meminta bantuan karena menyadari ketidaksanggupanku.
Saat aku bangkit, tanganku tertahan. Aku menoleh kearah Kashima. Cahaya matanya mulai meredup, tubuhnya yang lemas terus mengeluarkan darah, tapi ia berusaha menahan tanganku sekuat mungkin. Ia juga mulai berusaha keras untuk berbicara.
"Jang-an… peduli-kan…a-ku… per-gilah… cari tem-pat…yang…aman" ia terlihat bersusah payah mengatakannya.
"Ta-tapi aku harus cari bantuan dulu. Lukamu harus diobati. Aku… aku…. tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini" ucapku sambil menahan tangisan.
Melihat itu, ia berusaha tersenyum.
"A-ku…ba-ik…baik…sa-ja… Ha-nya…luka…se-perti ini… bukan…masalah" ucapnya dengan suara pelan.
"Apanya yang baik-baik saja? Tidak usah sok kuat! Aku akan mencari bantuan" ucapku sambil berusaha melepas pegangannya.
Tetapi ia malah memegangi tanganku lebih erat lagi.
"Tidak…usah…buang-buang…te-naga…mu. A-akan…percuma…sa-ja… La-lagipula… ba-gaimana ji-ka… ada yang… me-nyerang-mu…saat men-cari…bantu-an?" ucapnya sok menasihati
"Apa maksudmu percuma? D-dan kenapa kau masih memikirkan aku? Lepaskan tanganku! Sebelum terlambat… aku… harus mencari bantuan… agar bisa menolongmu. Apa kau tidak ingin selamat?!" teriakku diiringi tangisan.
"A-aku…ingin sela-mat. Ka-rena aku… harus… me-lin-dungimu. Ta-pi… ma-maaf. Maafkan…aku… A-Aku tidak …bisa…menepa-ti…jan-jiku…u-untuk se-lalu melindungi…mu, maaf… A-ku me-mang pecundang… K-kau tidak per-lu memba-hayakan…dirimu…untuk…pe-cundang seperti-ku…" ia berusaha tersenyum meskipun ia juga meneteskan air mata.
"Tak apa… lu-ka ini…sudah ti-dak terasa…sakit…" lanjutnya
"Tidak mungkin! Itu pasti sakit… lagipula seharusnya aku yang berkata seperti itu!" teriakku kesal.
"Aku…akulah yang pecundang. Kau tidak perlu membahayakan dirimu untuk pecundang sepertiku!"
"Jika saja, jika saja tadi kau biarkan aku tertusuk…kau tidak akan jadi seperti ini. Kalau seorang pecundang yang mati… itu bukan masalah. Tapi jika kau… kempampuanmu dibutuhkan klan untuk mengakhiri perang ini. Lalu kenapa? Kenapa… kau malah menyelamatkan orang sepertiku?!" aku sudah tak menahan tangisanku lagi. Bahkan aku sudah tak kuat menatapnya. Aku hanya menunduk dan menangis.
"I-itu k-karena…melindungimu…ada-lah…t-tugas-ku…k-kewa-jibanku. Aku…sama…sekali tidak…menyesal. T-terima-kasih…s-sudah mau…mengenal-ku. Maaf…aku…tak bisa lagi…melindungimu…maaf…maaf" ia menggunakan tenaganya yang tersisa untuk mengatakan hal itu padaku.
Ia terus mengulang kata maaf. Sampai mulutnya berhenti bergerak, matanya mulai menutup, tangannya pun melemas dan akhirnya pegangan tangannya pun terlepas. Tetapi, senyuman tetap terlukis di wajahnya itu.
"Ka-Kashima? Kashima-nii?! J-jawab aku!" air mataku semakin tak bisa dihentikan.
Aku terduduk lemas didekatnya. Aku meraih tangannya, terasa dingin. Ia berbeda. Rasanya berbeda. Meskipun tubuhnya tepat didepanku tapi, ia seperti sangat jauh.
"Tidak mungkin! Kau sedang bercanda kan? Kashima-nii san! Buka matamu! Aku mohon!" ucapku sambil terisak.
"A-aku jauh dari rumah. A-aku ti-tidak boleh pulang sendirian kan? Nanti aku kabur atau malah diserang orang asing… Karena itu… bangunlah! Antarkan aku sampai rumah… Seperti biasanya…"
"Biasanya… aku selalu menolak, tapi kau selalu memaksa untuk mengantarku. Tapi kenapa…kenapa sekarang saat aku yang memintanya, kenapa kau tidak melakukannya? Aku mohon… bangun… aku ingin curhat padamu… aku ingin bermain denganmu lagi… aku…aku… ingin bersamamu lagi" aku mengguncangkan tubuhnya tapi tak ada respon.
Aku terus menangis. Ini sangat menyakitkan. Selama ini aku sangat kesal dengannya. Ia selalu saja menggagalkan rencanaku untuk kabur. Ia pasti selalu mengikutiku kemana saja dan memaksaku pulang.
"Kau bilang kalau kau takkan pergi sampai memastikan bahwa aku sampai dirumah dengan selamat… Tapi kenapa… sekarang kau malah meninggalkanku seperti ini…"
Tapi meskipun aku kesal dengannya, ia sudah seperti kakakku sendiri. Ia selalu menjagaku, menghiburku dan tersenyum padaku, terkadang ia membawa makanan untukku, membelikanku buku cerita yang seru, mendengarkan curhatanku dan menyemangatiku. Karena itulah, saat-saat seperti ini, aku benar-benar tidak menginginkannya.
"Kenapa kau harus menyelamatkanku? Aku tidak butuh itu! AKU TIDAK MENGINGINKAN ITU!" teriakku sangat kesal.
Aku terus menerus menangisinya, sampai-sampai aku tidak tahu kalau ada beberapa orang yang mendekatiku. Aku baru menyadarinya saat mereka menepuk pundakku. Aku segera menoleh kearahnya karena terkejut.
"Izuna-sama?! A-apa yang terjadi?" ternyata ia adalah Hoori, orang yang sangat kukenal.
"K-Kashima-nii, dia.. dia…" aku tak sanggup meneruskan kata-kataku.
Hoori segera memelukku. Ia mengusap pelan punggungku dan berusaha menenangkanku.
"Apa dia melindungimu?" tanyanya dengan lembut.
"Dia itu bodoh… harusnya biarkan saja aku yang tertusuk… dengan begitu dia pasti baik-baik saja. Jika saja aku tidak selemah ini…" ucapku diiringi isakan.
"Jangan berkata begitu. Kau lihat, ia tersenyum disaat terakhirnya. Itu artinya ia tidak menyesal telah melindungimu. Kau juga jangan jadi menyalahkan dirimu sendiri…" ucapnya.
Aku tak membalasnya, aku terus menangis untuk mengurangi rasa sakit di hatiku.
"Aku tahu kau begitu dekat denganya. Aku tahu itu pasti menyakitkan untukmu. Tapi ini semua bukan salahmu" ia terus berusaha menenangkanku.
Tiba-tiba terdengar banyak langkah kaki. Lalu Hoori berbicara pada mereka.
"Bawa mayat Kashima-senpai" ucapnya dengan tenang.
Sepertinya mereka adalah klan Uchiha juga.
"Apa yang terjadi?" tiba-tiba ada suara yang sangat kukenal.
Aku segera melepas pelukan Hoori dan menoleh keasal suara.
"Shiro-sama! Kashima-senpai baru saja mengorbankan nyawanya. Ia termasuk pahlawan klan. Hanya saja adikmu masih belum bisa merelakannya" lapornya pada Anikiku.
"Izuna! Kenapa kau ada disini?" ucapnya dengan nada kesal
"Maafkan aku, aku kabur karena ingin ikut berperang…" ucapku sambil menundukkan kepalaku.
"Lihat perbuatanmu! Untuk apa kau menangis? Kalau kau berada dirumah, hal ini mungkin tidak akan terjadi. Dan sekarang apa kau akan menyalahkannya karena telah mengorbankan diri untukmu?" ia sangat marah padaku.
"Shiro-sama jangan menyalahkannya. Ia juga sangat terpukul atas kejadian ini" ucap Hoori berusaha membelaku.
"Tidak bisa! Dia itu harus diperingatkan terus! Mau sampai kapan dia begini? Selama ini dia sudah sering diberitahu agar tidak pergi ke medan perang. Dan sekarang lihat akibatnya!" Hoori hanya bisa terdiam mendengar omelan Anikiku itu.
Sementara itu, Anikiku segera menarik tanganku dengan kasar.
"Ayo pulang sekarang" ucapnya.
Aku hanya menunduk dan menuruti perkataannya.
"Kalian segera urus pemakamannya beserta para korban yang lain" ucap Shiro-nii pada klan Uchiha yang lain.
"Baik!" jawab mereka.
Shiro-nii berjalan meninggalkan lokasi dengan tergesa-gesa. Dan tangannya juga tetap menarik tanganku dengan erat. Aku hanya mengikuti saja karena aku sedang tidak mood untuk melawan.
End of Flashback
Semenjak kejadian itu aku selalu memikirkannya. Kata-kata terakhirnya itu.
"I-itu k-karena…melindungimu…ada-lah…t-tugas-ku…k-kewa-jibanku"
Itu membuatku menyadari sesuatu.
"Jadi selama ini sudah jelas. Mereka semua para 'pengawal setia' melindungiku karena ada yang memerintah mereka. Mungkin itu Tou-san. Seperti kata Kashima, melindungiku adalah tugas mereka dan kewajiban mereka. Ya, TUGAS dan KEWAJIBAN" gumamku.
"Karena itulah aku benar-benar membenci mereka! Kenapa mereka mau saja disuruh melakukan hal ini? Untuk apa melindungi orang sepertiku? Untuk apa harus mati demi pecundang? Apakah karena mereka tak bisa menolaknya? Mengapa dalam klan ini begitu banyak paksaan? Aku… Aku benci klan ini!" batinku dalam hati.
~To be continued~
Author's note:
Maafkan author yang udah membuat fic ini makin gaje X'D Makasih banyak ya buat yang udah mau baca sampe sini, makasih buat yang udah follow dan fav, makasih buat yang udah review, dan juga buat yang silent reader, makasih XD See you next chap...
